BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.2. Indeks Harga Saham
Dengan adanya indeks, maka dapat diketahui trend pergerakan harga saham saat ini apakah sedang naik, stabil atau turun. Misal, sebelum suatu jenis saham mulai diperdagangkan untuk pertama kalinya, saham tersebut diberi nilai indeks dasar sebesar 100 poin. Beberapa waktu kemudian sejak perdagangan dimulai dalam hitungan detik, menit dan seterusnya harga pasar baru akan terus terbentuk dan berfluktuasi. Di suatu waktu saat perdagangan, indeks berubah menjadi 160 poin, maka dapat dikatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 60%. Semakin tinggi indeks harga saham dari indeks harga dasarnya maka semakin baik rata-rata kinerja perusahaan tersebut, namun jika indeks harga pasar
berada dibawah indeks dasar 100 poin atau semakin mendekati 0 poin maka kondisi ini mencerminkan rata-rata perusahaan tersebut berkinerja jelek.
Samsul (2006: 194) menyatakan bahwa: “Indeks harga saham merupakan cermin dari fluktuasi harga saham di pasar yang dinyatakan dalam suatu angka dan didasarkan pada angka dasar tertentu. Angka dasar merupakan angka indeks awal sebelum harga pasar terbentuk. Angka dasar diterapkan oleh masing-masing bursa efek yaitu: 100, 500 atau 1.000”.
Fluktuasi pergerakan indeks harga saham merupakan informasi penting dalam mengambil keputusan di bursa saham. Adapun informasi yang terkandung pada fluktuasi pergerakan indeks harga saham adalah data historis yang mencerminkan seluruh kejadian yang dapat mempengaruhi investor dan fund manager perusahaan untuk melakukan aksi jual, beli atau menahan saham. Adapun data historis dapat berbentuk indeks harian maupun indeks rata-rata (rata-rata: mingguan, bulanan, kwartalan, enam bulanan dan tahunan).
Indeks rata-rata tentunya terbentuk dari indeks harian, dan dalam perkembangan pergerakan indeks harga saham pada setiap hitungan waktu baik harian ataupun rata-rata, pada dasarnya indeks harga saham dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok data perdagangan, yaitu: (1) Indeks harga saham terendah (2) Indeks harga saham tertinggi dan (3) Indeks harga saham penutupan/pembuka.
Dari uraian di atas, dan untuk lebih menekankan pentingnya indeks harga saham bagi investor dan fund manager di bursa saham, maka perlu diketahui fungsi dari indeks harga saham.
Lubis (2008:157) menyatakan bahwa, sebuah indeks diharapkan memiliki lima fungsi, yaitu:
1. Sebagai indikator trend pasar
2. Sebagai indikator tingkat keuntungan
3. Sebagai tolak ukur (benchmark) kinerja suatu portofolio 4. Memfasilitasi pembentukan portofolio dengan srategi pasif 5. Memfasilitasi berkembangnya produk derivative
Informasi yang terkandung dalam fungsi indeks harga saham tersebut di atas kemudian dikembangkan menjadi indeks harga saham berdasarkan sektoral, misal: industri: pertambangan, pertanian, perkebunan, perbankan, kimia dan lain-lain. Selanjutnya, informasi fungsi indeks harga saham tersebut dimanfaatkan oleh organisasi yang bertujuan komersil, dimana indeks harga saham dikelompokkan berdasarkan metodologi tertentu sehingga memiliki nilai jual.
Fabozzi (1999:52) mengelompokkan indeks bursa saham menjadi tiga kategori:
1. Indeks saham yang dihasilkan oleh system perdagangan berdasarkan seluruh saham yang diperdagangkan pada system tersebut
2. Indeks yang dihasilkan oleh organisasi yang memilih saham secara subyektif untuk dimasukkan dalam indeks
3. Indeks saham dimana pemilihan saham didasarkan pada ukuran obyektif, seperti kapitalisasi pasar perusahaan.
Setiap bursa saham memiliki kategori indeks harga saham tertentu dan secara umum memproduksi IHSG. Di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdapat tujuh kategori indeks harga saham, antara lain: (1) Indeks individual (2) Indeks harga saham sektoral (3) Indeks LQ45 (4) Indeks syariah atau JII (Jakarta Islamic index) (5) Indeks papan utama dan papan pengembangan (6) Indeks KOMPAS100 (7) Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (Composite Stock Price Index).
Dari penjelasan indeks harga saham tersebut di atas dan untuk mencapai sasaran penelitian, maka rumus yang disajikan berikut ini hanya difokuskan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan nama internasional Composite Stock
Price Index. Berikut adalah rumus yang digunakan oleh bursa saham untuk
menghasilkan IHSG, Samsul (2006: 184)
N ∑ (kapitalisasi pasar) i = 1 IHSG = x N ∑ (nilai dasar) i = 1 Keterangan :
N : Total emiten di bursa saham
Kapitalisasi pasar : Jumlah saham beredar dikali harga pasar per unit saham
Total nilai dasar : Jumlah saham beredar dikali nilai dasar per unit : Angka dasar
Perkembangan perdagangan saham yang membentuk IHSG dengan menggunakan rumus di atas dan interaksinya terhadap saham individu atau kelompok/parsial dapat berasosiasi positif maupun negatif.
Samsul (2006: 186) menyatakan bahwa: “Naiknya IHSG tidak berarti seluruh jenis saham mengalami kenaikan harga, tetapi sebagian yang mengalami kenaikan sementara sebagian lagi mengalami penurunan. Demikian juga, turunnya IHSG dapat diartikan bahwa sebagian saham mengalami penurunan dan sebagian lagi mengalami kenaikan. Jika satu jenis saham naik harganya dan IHSG juga naik, maka berarti saham tersebut berkorelasi positif dengan kenaikan IHSG. Jika suatu jenis saham naik harganya tetapi IHSG turun, maka berarti saham tersebut berkorelasi negatif terhadap IHSG”.
Dari pernyataan Samsul (2006:186) di atas dapat diambil analogi antara IHSG di masing-masing negara terhadap IHSG global, dan dapat dilihat bahwa, naiknya IHSG global tidak berarti seluruh IHSG bursa efek negara-negara mengalami
kenaikan harga, tetapi sebagian mengalami kenaikan sementara sebagian lagi mengalami penurunan. Demikian juga, turunnya IHSG global dapat diartikan bahwa sebagian IHSG bursa efek negara-negara mengalami penurunan dan sebagian lagi mengalami kenaikan. Jika IHSG bursa efek satu negara naik harganya dan IHSG global juga naik, berarti IHSG bursa efek negara tersebut berkorelasi positif dengan kenaikan IHSG global. Jika IHSG bursa efek satu negara naik harganya tetapi IHSG global turun, berarti IHSG bursa efek negara tersebut berkorelasi negatif terhadap IHSG global. Untuk memperjelas uraian ini, disajikan Tabel II.1 yang menunjukkan korelasi IHSG beberapa bursa saham dengan indeks global, sebagai berikut:
Tabel II.1. IHSG Beberapa Bursa Saham dan Indeks Global Selasa, 18 April 2006
Negara IHSG Pembukaan
(Poin) Penutupan (Poin) Perubahan Dalam Persen (%) Indonesia IHSG 1387.89 1417.38 2.206 Singapura Straits Times 2555.66 2559.25 0.349
Malaysia KLSE 940.650 940.570 0.088
Pilipina PSE Composite 2232.61 2225.72 -0.163
Thailand SET Index Na Na Na
Hong Kong Hang Seng 16534.9 16637.5 1.267
Jepang Nikkei-225 16971.8 17232.9 1.368
Inggris FTSE 100 FTI 6029.40 6044.10 0.244 Jerman DAX 30-DA 5915.11 5902.58 -0.270 Amerika Serikat S&P 500 1285.33 1307.28 1.708 China Shanghai Cp 1379.81 1385.11 0.471 Global S&P Global 1200
stock issue Na 1494.61 1.420
Sumber: http://www.econstats.com/eqty/eqem_mi_0.htm dan http://www.econstats .com/eqty/
eqem_ap_0.htm
Pada Tabel II.1. di kolom perubahan dalam persen (%) tersebut di atas, dapat dilihat bahwa, IHSG: Indonesia, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Jepang, Inggris, Amerika Serikat dan China, berkorelasi positif terhadap Indeks Global (S&P Global
1200 stock issue). Sedangkan IHSG: Pilipina dan Jerman berkorelasi negatif dengan
Indeks Global.