• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Deskripsi Teori dan Penelitian yang Relevan

1. Indeks Kebugaran

600 meter (Depkes RI, 1994: 23-26).

2. Tingkat Konsentrasi belajar adalah tingkatan suatu pemusatan perhatian sehingga dapat memahami setiap materi pelajaran (Diana Aprilia, dkk., 2014: 2). Tingkt konsentrasi belajar terbagi dalam kategori lebih, sesuai, dan kurang. Konsentrasi belajar diukur dengan tes Bourdon Wiersma (Joko Susetyo, dkk., 2012: 35).

3. Anak-anak siswa SD yang dimaksud dalam penelitian ini adalah anak kelompok umur 7-9 tahun yang pada waktu penelitian ini berlangsung terdaftar sebagai siswa SDIT Luqman Al Hakim kelas 3 dengan kondisi tubuh sehat dan tidak sedang melakukan diet makanan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori dan Penelitian yang Relevan

1. Indeks Kebugaran

a. Pengertian Indeks Kebugaran

Kebugaran jasmani sering disebut juga dengan istilah kesegaran jasmani atau physical fitness. Semua orang memerlukan tingkat kebugaran jasmani tertentu sesuai dengan fungsinya dalam proses kehidupan, untuk mengembangkan kesanggupan dan kemampuannya. Kebugaran jasmani adalah kemampuan jasmani untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih sanggup melakukan aktivitas yang sifatnya mendadak atau keadaan emergency (Margono, 2012: 36).

Menurut Engkos Kosasih (1995: 10) kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan mudah tanpa merasa lelah dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggang atau keperluan yang sewaktu-waktu dapat digunakan, dengan demikian kebugaran jasmani merupakan wujud dari loyalitas fungsional seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan secara tertentu dengan hasil baik atau memuaskan tanpa kelelahan yang berarti.

Menurut Sumintarsih (2007: 26) kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa menimbulkan

kelelahan yang berlebihan, sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya. Menurut Nurhasan (2005: 2) yang dimaksud kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan fisik tertentu yang sesuai dengan bidang tugasnya yang memerlukan usaha otot.

Menurut Yunusul Hairy (2002: 17) kebugaran jasmani adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan giat dan dengan penuh kewaspadaan, tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Seseorang dapat menikmati waktu senggangnya dan menghadapi hal-hal yang darurat atau dengan kata lain dapat menghadapi hal-hal yang tidak terduga sebelumnya dengan energi yang cukup.

Kebugaran jasmani secara umum sering diartikan sebagai derajat kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas berikutnya. Definisi ini memang lebih menggambarkan kemampuan biologis dan proses fisiologis bahwa seluruh organ tubuh manusia berfungsi secara normal.

Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 7) untuk menunjang kesegaran jasmani meliputi tiga upaya, yakni:

1) Makan

Untuk mempertahankan hidup manusia memerlukan makan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas, yakni memenuhi syarat makanan sehat, berimbang, cukup energi, dan nutrisi.

2) Istirahat

Tubuh manusia tersusun atas organ, jaringan, dan sel yang memiliki kemampuan kerja terbatas. Kelelahan merupakan indikator keterbatasan fungsi tubuh manusia, untuk itu istirahat diperlukan agar tubuh melakukan pemulihan.

3) Berolahraga

Merupakan cara salah satu alternatif paling efektif dan aman untuk memperoleh kesegaran, sebab berolahraga mempunyai multi manfaat fisik, psikis, maupun manfaat sosial.

Pendapat selanjutnya yang dikemukakan oleh Sumaryanto yang dikutip oleh Tutiek R. (2004: 47) olahraga memberikan kesempatan yang tepat untuk menyalurkan tenaga yang kita miliki dengan jalan yang baik menuju kehidupan yang selaras, seimbang, dan serasi demi mendapat manfaat meraih kebahagiaan hidup yang sejati. Kita dalam berolahraga harus memperhatikan beberapa hal seperti :

a) Intensitas latihan : setiap latihan hendaknya mencapai training zone berupa 80% dari denyut nadi maksimal (DNM), sedangkan untuk mengetahui denyut nadi maksimal menggunakan rumus 220 – umur ( dalam tahun).

b) Lamanya latihan : lama atau durasi latihan yaitu selama 40 – 45 menit harus dipertahankan masuk training zone.

c) Frekuensi latihan : setiap minggu idealnya latihan sebanyak 3 kali, namun lebih baik lagi jika latihan 4- 5 kali perminggunya.

Setiap sesi latihan terdiri dari (1) latihan pemanasan selama 5 sampai dengan 10 menit, (2) latihan inti selama 15 sampai 60 menit dan (3) pendinginan selama 5-10 menit. Pemanasan dirancang untuk meningkatkan tingkat metabolisme. Latihan inti dapat dilakukan secara kontinyu maupun diskontinyu yang meliputi aktivitas aerobik dan melibatkan otot-otot besar serta menaikkan frekuensi denyut jantung. Latihan pendinginan meliputi latihan yang membantu adaptasi tubuh dalam menurunkan kapasitas latihan sampai latihan dihentikan. Latihan ini baik untuk memulihkan sirkulasi tubuh secara perlahan-lahan. Aliran darah yang semula terutama didistribusikan pada otot secara perlahan dialihkan pula agar merata keseluruh bagian tubuh.

b. Komponen Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani terdiri atas beberapa komponen. Mengetahui dan memahami komponen kesegaran jasmani sangatlah penting, karena komponen tersebut penentu baik buruknya kondisi fisik atau tingkat kesegaran jasmani seseorang.

Menurut Wahjoedi (2000: 59-61) kebugaran jasmani terdiri atas dua, yaitu kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan dan kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.

1) Kesegaran Jasmani yang Berhubungan dengan Kesehatan

Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan terdiri atas lima komponen dasar yang saling berhubungan antara yang satu dan yang lainnya (Emi Rachmawati. 2005. “Tingkat Kesegaran Jasmani Anggota Paguyuban Lansia Sehat. Diakses dari http://digilib.unnes.ac.id gsdl/ collect/ skripsi/archives/HASH915c/9d25fce3.dir/doc.pdf. pada tanggal 26 November 2016, pukul 16.45). Komponen dasar itu adalah:

a) Daya tahan jantung-paru (kardiorespirasi)

Komponen ini menggambarkan kemampuan dan kesanggupan melakukan kerja dalam keadaan aerobik, artinya kemampuan sistem peredaran darah dan pernapasan untuk mengambil dan menyediakan oksigen yang dibutuhkan seseorang.

Latihan fisik akan mempengaruhi konsumsi oksigen dan produksi karbon dioksida. Kadar oksigen dalam jumlah yang besar akan terdifusi dari alveoli ke dalam darah vena kembali ke paru-paru.. Oleh itu, ventilasi akan meningkat untuk memungkinkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Permulaan aktivitas fisik ini disertai dengan peningkatan dua tahap ventilasi. Hampir segera dapat terlihat peningkatan pada inspirasi dan kenaikan bertahap pada kedalaman dan tingkat pernapasan. Kedua tahap penyesuaian menunjukkan bahwa kenaikan awal dalam ventilasi diproduksi oleh mekanisme gerakan tubuh setelah latihan dimulai, namun sebelum

rangsangan secara kimia, korteks motor menjadi lebih aktif dan mengirimkan impuls stimulasi ke pusat inspirasi, yang akan merespon dengan meningkatkan respirasi juga. Secara umpan balik proprioseptif dari otot rangka dan sendi aktif memberikan masukan tambahan tentang gerakan ini dan pusat pernapasan dapat menyesuaikan kegiatan itu berdasarkan kesesuaiannya. (Guyton, 2006: 250).

Tahap kedua lebih bertahap dengan kenaikan respirasi yang dihasilkan oleh perubahan status suhu dan kimia dari darah arteri. Sambil latihan berlangsung, peningkatan proses metabolisme pada otot menghasilkan lebih banyak panas, karbon dioksida dan ion hidrogen. Semua faktor ini meningkatkan penggunakan oksigen dalam otot, yang meningkatkan oksigen arteri juga. Akibatnya, lebih banyak karbon dioksida memasuki darah, meningkatkan kadar karbon dioksida dan ion hidrogen dalam darah. Hal ini akan dirasakan oleh kemoreseptor, yang sebaliknya merangsang pusat inspirasi, dimana terjadi peningkatan dan kedalaman pernapasan. Beberapa peneliti telah menyarankan bahwa kemoreseptor dalam otot juga mungkin terlibat iaitu dengan meningkatkan ventilasi dengan meningkatkan volume tidal. (Willmore, 1999: 179).

Menurut Wahjoedi (2000: 59) daya tahan jantung adalah kapasitas sistem jantung-paru, dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan kardiorespirasi yaitu

kemampuan paru mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam jangka waktu lama (Djoko Pekik Irianto, 2004: 4).

Selama latihan, permintaan oksigen di otot aktif meningkat, lebih banyak nutrisi digunakan dan proses metabolisme dipercepatkan serta menghasilkan sisa metabolisme. Jadi, untuk memberikan lebih banyak nutrisi dan untuk menghilangkan sisa metabolisme, sistem kardiovaskuler harus beradaptasi untuk memenuhi tuntutan sistem muskuloskeletal selama latihan. Respon akut atau langsung yang terlihat sewaktu latihan adalah peningkatan kontraktilitas miokard, peningkatan curah jantung, peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan respon perifer termasuk vasokonstriksi umum pada otot-otot dalam keadaan istirahat, ginjal, hati, limpa dan daerah splanknikus ke otot-otot kerja dan juga ada peningkatan tekanan darah sistolik akibat curah jantung yang meningkat. Dengan pelatihan yang ada akan ditandai penurunan denyut nadi dan pengurangan tekanan darah saat istirahat dengan peningkatan volume darah dan hemoglobin. (Guyton, 2006: 690)

Selama tenaga digunakan, akan masih terjadi penurunan denyut nadi, peningkatan stroke volume, peningkatan curah jantung dan peningkatan ekstraksi oksigen oleh otot bekerja karena perubahan enzimatik dan biokimia pada otot serta peningkatan konsumsi oksigen maksimal untuk setiap intensitas latihan yang diberikan.

Jantung di bagian ventrikel kiri memompakan darah masuk ke aorta. Darah aorta disalurkan masuk kedalam aliran yang terpisah secara

progressive memasuki arteri sistemik yang membawa darah tersebut ke organ ke seluruh tubuh kecuali paru-paru yang disuplay oleh sirkulasi pulmonal. Arteri bercabang menjadi arteriol yang berdiameter lebih kecil yang akhirnya masuk ke bagian yang lebar dari kapiler sistemik. Pertukaran nutrisi dan gas terjadi melalui dinding kapiler yang tipis, darah melepaskan oksygen dan mengambil CO2 pada sebagian besar kasus darah mengalir hanya melalui satu kapiler dan kemudian masuk ke venule sistemik. Sel tubuh yang dituju termasuk sel-sel tubuh yang berada di tubuh bagian atas dimana terdapat sel- sel otak. Otak merupakan bagian sistem koordinasi pusat yang berfungsi memproses kegiatan fisiologis tubuh meliputi berjalan, makan, dan berfikir.

Sel-sel otak seperti sel umumnya membutuhkan oksigen dan bahan makanan untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk kegiatan sel tersebut. Respirasi selular adalah proses di mana sel-sel kita mendapatkan energi untuk menjalankan fungsi mereka. Ada dua jenis respirasi selular: aerobik dan anaerobik. Selama respirasi aerobik, oksigen, dan ini menghasilkan jumlah energi yang lebih besar. Respirasi selular aerobik menggunakan oksigen dan menghasilkan lebih banyak molekul ATP dari respirasi sel anaerob, yang tidak menggunakan oksigen, dan hanya menghasilkan 2 molekul ATP. Ada tiga tahap dalam proses transformasi glukosa menjadi ATP: glikolisis, siklus asam sitrat, dan rantai transpor elektron. Sebagian besar proses berlangsung di pembangkit tenaga listrik sel, mitokondria. Hasil akhir dari respirasi selular aerobik maksimal 38 molekul ATP, energi yang dibutuhkan oleh sel untuk melakukan fungsi yang

diperlukan yang memungkinkan kita untuk hidup. Proses kehidupan yang dimaksud dalam hal ini menghasilkan energi untuk memproses impuls syaraf sehingga tercipta konsentrasi yang baik.

b) Kekuatan Otot

Kekuatan adalah komponen yang sangat penting guna untuk meningkatkan kondisi fisik seseorang secara keseluruhan. Kekuatan otot adalah kemampuan badan dalam menggunakan daya, serabut otot yang ada dalam otot akan memberikan respons apabila dikenakan beban dalam latihan (Rusli Lutan, 1999: 66).

Kekuatan otot juga dapat didefinisikan kontraksi maksimal yang dihasilkan oleh otot, merupakan suatu kemampuan untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan. Kekuatan otot penting untuk meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan. Kekuatan otot dipengaruhi oleh: usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu otot (Depkes, 1996: 35).

Peningkatan aliran darah ke otot-otot yang bekerja memberikan oksigen tambahan. Ekstraksi oksigen lebih banyak dari sirkulasi darah dan penurunan pO2 jaringan lokal dan peningkatan pCO2. Latihan daya tahan mengakibatkan peningkatan aktivitas enzim mitokondria pada kedua serat lambat dan cepat tanpa mengubah kecepatan kontraksi serat. Latihan meningkatkan kemampuan kedua jenis serat untuk menyediakan energi selama latihan berkepanjangan. Kegiatan intensitas tinggi mengakibatkan perbaikan besar dalam kekuatan otot dan kapasitas aerobik tinggi dan akan terjadi peningkatan

ukuran otot-otot yang terlibat yaitu hipertrofi setelah mengikuti latihan kekuatan.

c) Daya Tahan Otot

Daya tahan otot adalah kemampuan dan kesanggupan otot untuk kerja berulang-ulang tanpa mengalami kelelahan. Daya tahan dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau kondisi tubuh yang mampu bekerja dalam waktu yang cukup lama (Rusli Lutan, 1999: 71).

Djoko Pekik Irianto (2004: 35) mengartikan daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama.

d) Kelenturan

Kelenturan dalah luas bidang gerak tubuh pada persendian, yang selain dipengaruhi oleh jenis sendi itu sendiri juga dipengaruhi oleh jaringan-jaringan disekitar sendi, seperti oleh otot, tendon, dan ligamen. Kelenturan tubuh yang baik dapat mengurangi terjadinya cedera olahraga (Depkes, 1996: 55). Faktor fisiologis yang mempengaruhi kelenturan antara lain: usia dan aktivitas. Kelenturan dapat berkurang sebagai akibat menurunnya elastisitas otot karena kurang latihan pada usia lanjut.

Kelenturan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan persendian melalui gerak yang luas. Jangkau gerak alami tiap sendi pada tubuh

bergantung pada pengaturan tendon-tendon, ligamen, jaringan penghubung, dan otot-otot (Rusli Lutan, 1999: 75).

e) Komposisi Tubuh

Komposisi tubuh berhubungan dengan pendistribusian otot dan lemak di seluruh tubuh. Pengukuran komposisi tubuh ini memegang peranan penting, baik untuk kesehatan tubuh maupun untuk berolahraga. Kelebihan lemak tubuh dapat menyebabkan kegemukan atau obesitas dan meningkatkan risiko untuk menderita berbagai macam penyakit. Kelebihan lemak dapat memperburuk kinerja, karena tidak memberikan sumbangan tenaga yang dihasilkan oleh kontraksi otot, bahkan memberikan bobot mati yang menambah beban, karena memerlukan energi tambahan untuk menggerakkan tubuh.

2) Kesegaran Jasmani yang Berkaitan dengan Keterampilan

Komponen kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan meliputi:

a) Keseimbangan

Keseimbangan adalah komponen yang berhubungan dengan sikap mempertahankan keadaan seimbang ketika sedang diam atau bergerak.

b) Daya Ledak

Daya ledak adalah komponen yang berhubungan dengan laju ketika seseorang melakukan kegiatan, atau daya ledak merupakan hasil dari daya kali percepatan.

c) Kecepatan

Kecepatan adalah komponen yang berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan gerakan dalam waktu yang sangat singkat. Menurut Munajir (2005: 6) kecepatan adalah kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 58) kecepatan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

d) Koordinasi

Koordinasi adalah komponen yang berhubungan dengan kemampuan untuk menggunakan pancaindra, seperti penglihatan dan pendengaran bersama-sama dengan tubuh tertentu di dalam melakukan kegiatan motorik dengan harmonis dan ketepatan tinggi.

e) Kelincahan

Kelincahan adalah komponen yang berhubungan dengan kemampuan dengan cara mengubah arah posisi tubuh dengan kecepatan dan ketepatan tinggi.

f) Kecepatan Reaksi

Kecepatan reaksi adalah komponen yang berhubungan dengan kecepatan waktu yang digunakan antara mulai adanya rangsangan dan mulainya reaksi. Kecepatan reaksi adalah waktu yang digunakan untuk menanggapi suatu rangsangan yang diberikan. Misalnya, kecepatan reaksi berupa penglihatan (Emi Rachmawati. 2005. “Tingkat Kesegaran Jasmani Anggota Paguyuban Lansia Sehat Di Kecamatan Candisari Semarang. Diakses dari http://digilib.unnes.ac.id gsdl/ collect/ skripsi/archives/HASH915c/9d25fce3.dir/doc.pdf. pada tanggal 26 November 2016, pukul 16.45).

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani adalah sebagai berikut :

1) Umur

Kesegaran jasmani anak-anak meningkat sampai mencapai maksimal pada usia dewasa, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas fungsional dari seluruh tubuh, kira-kira sebesar 0,8-1% per tahun, tetapi bila rajin berolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya. Anak usia 6-9 tahun sedang mengalami masa pertumbuhan sehingga memiliki kondisi kebugaran yang relatif baik ( Sola. 2012. “Kesegaran Jasmani”. Diakses dari

2) Jenis Kelamin

Kesegaran jasmani anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan selama masa pubertas, tapi setelah pubertas anak laki-laki biasanya mempunyai nilai yang jauh lebih besar.

3) Genetik

Berpengaruh terhadap kapasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas, haemoglobin, sel darah dan serat otot.

4) Makanan

Untuk mempertahankan hidup manusia memerlukan makan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas, yakni memenuhi syarat makanan sehat, berimbang, cukup energi, dan nutrisi (Afandi Kusuma. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani. Diakses dari http://afand.abatasa.com/post/detail/6966/faktor-faktor pada tanggal 17 November 2016, pukul 14.24).

Dokumen terkait