• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN INDEKS KEBUGARAN DENGAN TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA SD.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUBUNGAN INDEKS KEBUGARAN DENGAN TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA SD."

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

i

HUBUNGAN INDEKS KEBUGARAN DENGAN TINGKAT

KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA SD

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta

untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Disusun oleh:

Nama : Jaka Fitriyanta NIM : 13308141057

PROGRAM STUDI BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v MOTTO DAN PERSEMBAHAN

A. Motto

1. Keberhasilan itu tidak dicari, melainkan kita ciptakan sendiri..

2. Sebuah kesuksesan terwujud karena diikhtiarkan melalui perencanaan yang matang, keyakinan, kerja keras, keuletan, dan niat

B. Persembahan

1. Untuk kedua orang tua yang sangat saya sayangi, Bapak Ponija dan (Almh) ibu Kasilah.

2. Untuk saudara dan sekaligus sahabat terbaik saya, Agung Candra Wijaya. 3. Teman-teman prodi biologi angkatan 2013 terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada saya dari proses pengerjaan sampai terselesaikannya skripsi ini.

(6)

vi

HUBUNGAN INDEKS KEBUGARAN DENGAN TINGKAT

KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA SD

Oleh

Jaka Fitriyanta NIM 13308141057

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kebugaran, tingkat konsentrasi belajar, dan hubungan faktor tersebut pada siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim yang berjumlah 32 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan desain studi cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling yaitu responden harus memenuhi kriteria inklusi meliputi sehat, ditemui saat penelitian dan bersedia sebagai responden untuk diukur indeks kebugaran dan konsentrasi belajarnya. Instrumen pada penelitian ini adalah Tes Kebugaran Jasmani (TKJI) umur 7-9 tahun untuk mengukur indeks kebugaran, tes Bourdon Wiersma untuk mengukur konsentrasi belajar, dan angket untuk mengetahui jumlah aktivitas olahraga anak. Teknik analisis data indeks kebugaran dan tingkat konsentrasi belajar dengan analisis deskriptif sedangkan hubungan faktor tersebut menggunakan program SPSS yaitu uji korelasi non parametrik Spearman.

Hasil penelitian menunjukkan indeks kebugaran paling banyak pada kategori sedang, konsentrasi belajar paling banyak adalah lebih dan r = 0,004 artinya P < 0,05 dan nilai output koefisien korelasi (correlation coeficient) sebesar -0,494 yang berarti adanya hubungan signifikan antara kebugaran dengan konsentrasi belajar pada anak SD usia 7-9 tahun.

(7)

vii KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Indeks Kebugaran dengan Tingkat Konsentrasi Belajar pada

Siswa SD” dengan lancar.

Dalam Penyusunan skripsi ini pastilah penulis mengalami kesulitan dan kendala. Dengan segala upaya, skripsi ini dapat terwujud dengan baik berkat uluran tangan dari berbagai pihak, teristimewa pembimbing. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Rohmat Wahab, M.A., M.Pd., Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Bapak Hartono, M.Si, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, yang telah memberikan izin dalam melaksanakan penelitian.

3. Ibu Ixora Sartika Mercuariani,M.Si, Dosen Pembimbing Akademik, yang telah memberikan bimbingan dalam akademik.

4. Ibu dr. Tutiek Rahayu, M.Kes, yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulisan skripsi ini

5. Bapak drh. Tri Harjana, M.S, yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulisan skripsi ini

(8)

viii 7. Rekan-rekan mahasiswa FMIPA dan FIK yang telah bekerja sama

dalam pengambilan data skripsi.

8. Dosen FMIPA UNY yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kelengkapan skripsi ini. Penulis berharap semoga hasil karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan khusunya dan bagi semua pihak pada umumnya, dan penulis berharap skripsi ini mampu menjadi salah satu bahan bacaan untuk acuan pembuatan skripsi selanjutnya agar menjadi lebih baik.

(9)

ix DAFTAR ISI

halaman

ABSTRAK ...vi

KATA PENGANTAR ...vii

DAFTAR ISI ...viii

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ...xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Identifikasi Masalah ...6

C. Pembatasan Masalah ...6

D. Perumusan Masalah ...7

E. Tujuan Penelitian ...7

F. Manfaat Penelitian ...7

(10)

x BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori dan Penelitian yang Relevan ...9

1. Indeks Kebugaran ...9

2. Tes Kebugaran Jasmani Indonesia ...23

3. Konsentrasi Belajar ...27

4. Bourdon Test ...34

B. Kerangka Berpikir ...36

C. Hipotesis Penelitian ...37

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ...38

B. Waktu dan Tempat Penelitian ...38

C. Populasi dan Sampel ...38

D. Variabel Penelitian ...39

E. Teknik Sampling ...40

F. Teknik Pengumpulan Data ...40

G. Prosedur Kerja ...43

H. Alat dan Bahan ...44

I. Instrumen ...45

(11)

xi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ...46

1. Gambaran Umum Tempat Penelitian ...46

2. Karakteristik Subyek Penelitian ...47

B. Analisis Data dengan Uji Normalitas dan Korelasi ...49

C. Pembahasan ...52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...63

B. Saran ...63

DAFTAR PUSTAKA ...64

(12)

xii DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Penilaian Lari 30 Meter TKJI Anak Usia 6-9 Tahun ...24

Tabel 2. Penilaian Gantung Siku Tekuk TKJI Anak Usia 6-9 Tahun ...24

Tabel 3. Penilaian Baring Duduk/Sit Up 30 detik TKJI Anak Usia 6-9 Tahun ...25

Tabel 4. Penilaian Loncat tegak/ Vertical Jump TKJI Anak Usia 6-9 Tahun ...25

Tabel 5. Penilaian Lari 600 meter TKJI Anak Usia 6-9 Tahun ...26

Tabel 6. Formulis Tes Kesegaran Jasmani Indonesia ...26

Tabel 7. Norma Tes Kesegaran Jasmani Indonesia ...27

Tabel 8. Intepretasi kualitatif ...36

Tabel 9. Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ...46

Tabel 10. Distribusi Frekuensi dan Persentase Indeks Kebugaran ...48

Tabel 11. Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Konsentrasi ...49

Tabel 12. Hasil Uji Normalitas ...50

Tabel 13. Hasil Uji Korelasi Spearman ...51

(13)

xiii DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Skema kerangka berpikir ...36

Gambar 2. Diagram Data Berat Badan ...47

Gambar 3. Diagram Data Tinggi Badan ...48

Gambar 4. Diagram Indeks Kebugaran ...53

(14)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Data Penelitian………...68

Lampiran 2. Analisis Deskriptif………...71

Lampiran 3. Uji Normalitas………...72

Lampiran 4. Uji Korelasi………...73

Lampiran 5. Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani…………...74

Lampiran 6. Daftar Nama Penguji dalam Penelitian………...81

Lampiran 7. Daftar Pertanyaan Angket …...………...82

Lampiran 8. Data Angket ...………...84

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak-anak berusia 7-9 tahun berada di kelas 1, 2, dan 3 SD. Masa tersebut merupakan waktu yang tepat untuk diletakkannya landasan yang kokoh untuk tahap-tahap periode belajarnya. Kelompok anak usia tersebut baru mengalami masa adaptasi perilaku, yaitu dari masa bermain yang dominan pada Taman Kanak-kanak (TK) memasuki masa belajar dan bermain pada tingkat SD. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah faktor subyek-subyek belajar, guru dan teknologi pembelajaran. Peningkatan kesiapan belajar subyek belajar dari segi kondisi fisikpun sangat penting berupa promosi derajat kesehatan.

(16)

kurang bersemangat, baik di dalam kelas maupun di luar kelas sampai proses pembelajaran selesai.

Peningkatan kesegaran jasmani siswa di sekolah perlu dibina untuk menunjang tercapainya proses belajar mengajar yang optimal, karena siswa yang mempunyai kesegaran jasmani yang baik akan dapat melaksanakan tugas belajar dengan baik (Engkos Kosasih, 1985: 10). Pembinaan haruslah dilakukan sedini mungkin, mulai pendidikan dasar, baik di sekolah maupun di rumah agar kesegaran jasmani tetap terjaga. Kesegaran jasmani di sekolah dasar dapat meningkatkan daya pikir, konsentrasi belajar yang tinggi, dan pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Siswanto (2007: 65) menyebutkan bahwa yang dimaksud konsentrasi yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi. Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Slameto (2010: 87), menurutnya konsentrasi belajar besar pengaruhnya terhadap belajar. Seseorang yang mengalami kesulitan berkonsentrasi, maka jelas belajarnya akan sia-sia, karena hanya membuang tenaga, waktu dan biaya saja.

(17)

untuk mengingat, merekam, dan mengembangkan materi pelajaran yang baik memungkinkan anak memperoleh prestasi yang optimal. Konsentrasi belajar adalah kemampuan untuk memusatkan perhatian pada sesuatu yang berkaitan dengan memori atau ingatan pada saat menerima informasi.

Konsentrasi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain faktor jasmaniah dan faktor rohaniah. Hal ini dapat dilihat dari kondisi jasmani seseorang yang meliputi kesehatan badan secara menyeluruh. Kondisi rohani seseorang setidak-tidaknya harus memenuhi hal berikut untuk dapat melakukan konsentrasi yang efektif misalnya kondisi kehidupan sehari-hari cukup tenang. Beberapa faktor eksternal yang mendukung konsentrasi efektif yaitu lingkungan, udara, penerangan, dan orang-orang sekitar lingkungan (Thursan Hakim. 2003: 6-9).

Kemampuan konsentrasi akan berkembang sesuai dengan usia dan pada anak-anak kemampuan konsentrasi terbatas bila dibandingkan dengan orang dewasa (Djamarah, 2008: 23). Anak akan lebih memusatkan perhatian pada sesuatu yang baru dan menarik perhatian. Berbeda bila yang diperhatikan sudah sering dilihat maka anak-anak akan malas untuk memperhatikan. Ketrampilan berkonsentrasi pada anak seperti orang dewasa, konsentrasi ini amat tergantung pada suatu pemikiran.

(18)

memiliki 6 kelas dengan 4 subkelas sehingga jumlah total 24 kelas. Indeks kebugaran dan tingkat konsentrasi belajar siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim belum diketahui. Indeks kebugaran dan konsentrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor namun hal tersebut belum diketahui pula di SDIT Luqman Al Hakim. Hubungan indeks kebugaran dengan tingkat konsentrasi belajarpun belum diketahui.

(19)

Kabupaten Bantul. Hasil koefisien (R2) diperoleh sebesar 0,05 berarti kesegaran jasmani memberikan sumbangan sebesar 41,8% terhadap prestasi belajar pada anak, dan sisanya sebesar 58,2% dipengaruhi faktor lain.

Pengamatan mengenai konsentrasi belajar dilakukan oleh Amalia pada tahun 2014 dengan melakukan observasi dan wawancara di SD Negeri 2 Karangcegak. Peneliti mengamati perilaku siswa kelas VI di saat proses belajar mengajar berlangsung. Kondisi siswa di kelas tersebut kurang kondusif dan dapat dikatakan siswa belum mampu berkonsentrasi belajar dengan baik karena terdapat siswa yang melamun saat diberikan materi pelajaran (9,7%), bermain-main ketika pelajaran (19,4%), tidak memperhatikan guru (16,1%), dan beberapa juga ada yang mengobrol dengan teman sebangkunya (12, 9%). Jika dihitung secara keseluruhan, terdapat 58,1% siswa yang bermasalah ketika proses belajar berlangsung. Hal ini menunjukan bahwa masih rendahnya tingkat konsentrasi belajar siswa ketika mereka melakukan kegiatan belajarnya.

(20)

B. Identifikasi Masalah

Beberapa masalah dapat kita identifikasi berdasarkan latar belakang diatas sebagai berikut:

1. Belum diketahuinya indeks kebugaran siswa kelas III yang berusia 7-9 tahun di SDIT Luqman Al-Hakim.

2. Belum diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi indeks kebugaran siswa kelas III yang berusia 7-9 tahun di SDIT Luqman Al-Hakim. 3. Belum diketahuinya tingkat konsentrasi belajar siswa kelas III yang

berusia 7-9 tahun di SDIT Luqman Al-Hakim.

4. Belum diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsentrasi belajar siswa kelas III yang berusia 7-9 tahun di SDIT Luqman Al-Hakim.

5. Belum diketahuinya hubungan indeks kebugaran dengan tingkat konsentrasi belajar siswa kelas III yang berusia 7-9 tahun di SDIT Luqman Al Hakim.

6. Belum ada kajian langsung mengenai hubungan indeks kebugaran dengan tingkat konsentrasi belajar.

C. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada hubungan indeks kebugaran dengan tingkat konsentrasi belajar siswa kelas III yang berusia 7-9 tahun di SDIT Luqman Al Hakim.

(21)

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah indeks kebugaran anak siswa SD usia 7-9 tahun ? 2. Bagaimanakah tingkat konsentrasi belajar anak siswa SD usia 7-9 tahun

?

3. Apakah ada hubungan antara indeks kebugaran dengan konsentrasi belajar anak siswa SD usia 7-9 tahun ?

E. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui indeks kebugaran anak siswa SD usia 7-9 tahun 2. Mengetahui konsentrasi belajar anak siswa SD usia 7-9 tahun.

3. Mengetahui adanya hubungan antara indeks kebugaran dengan konsentrasi belajar anak siswa SD usia 7-9 tahun.

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi para guru SD, khususnya guru yang mendapatkan tugas tambahan sebagai Tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), diharapkan memperoleh informasi untuk data dasar dalam penyusunan program UKS di wilayah kecamatan SD tersebut berada.

2. Bagi orang tua, diharapkan mendapatkan informasi tentang tingkat konsentrasi belajar siswa.

(22)

konsentrasi belajar anak dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM).

G. Definisi Operasional

1. Indeks kebugaran adalah total perolehan nilai dari kegiatan lari 30 meter, jantung siku tekuk, baring-duduk 30 detik, loncat tegak dan lari 600 meter (Depkes RI, 1994: 23-26).

2. Tingkat Konsentrasi belajar adalah tingkatan suatu pemusatan perhatian sehingga dapat memahami setiap materi pelajaran (Diana Aprilia, dkk., 2014: 2). Tingkt konsentrasi belajar terbagi dalam kategori lebih, sesuai, dan kurang. Konsentrasi belajar diukur dengan tes Bourdon Wiersma (Joko Susetyo, dkk., 2012: 35).

(23)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori dan Penelitian yang Relevan

1. Indeks Kebugaran

a. Pengertian Indeks Kebugaran

Kebugaran jasmani sering disebut juga dengan istilah kesegaran jasmani atau physical fitness. Semua orang memerlukan tingkat kebugaran jasmani tertentu sesuai dengan fungsinya dalam proses kehidupan, untuk mengembangkan kesanggupan dan kemampuannya. Kebugaran jasmani adalah kemampuan jasmani untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih sanggup melakukan aktivitas yang sifatnya mendadak atau keadaan emergency (Margono, 2012: 36).

Menurut Engkos Kosasih (1995: 10) kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan mudah tanpa merasa lelah dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggang atau keperluan yang sewaktu-waktu dapat digunakan, dengan demikian kebugaran jasmani merupakan wujud dari loyalitas fungsional seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan secara tertentu dengan hasil baik atau memuaskan tanpa kelelahan yang berarti.

(24)

kelelahan yang berlebihan, sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya. Menurut Nurhasan (2005: 2) yang dimaksud kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan fisik tertentu yang sesuai dengan bidang tugasnya yang memerlukan usaha otot.

Menurut Yunusul Hairy (2002: 17) kebugaran jasmani adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan giat dan dengan penuh kewaspadaan, tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Seseorang dapat menikmati waktu senggangnya dan menghadapi hal-hal yang darurat atau dengan kata lain dapat menghadapi hal-hal yang tidak terduga sebelumnya dengan energi yang cukup.

Kebugaran jasmani secara umum sering diartikan sebagai derajat kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas berikutnya. Definisi ini memang lebih menggambarkan kemampuan biologis dan proses fisiologis bahwa seluruh organ tubuh manusia berfungsi secara normal.

Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 7) untuk menunjang kesegaran jasmani meliputi tiga upaya, yakni:

1) Makan

(25)

2) Istirahat

Tubuh manusia tersusun atas organ, jaringan, dan sel yang memiliki kemampuan kerja terbatas. Kelelahan merupakan indikator keterbatasan fungsi tubuh manusia, untuk itu istirahat diperlukan agar tubuh melakukan pemulihan.

3) Berolahraga

Merupakan cara salah satu alternatif paling efektif dan aman untuk memperoleh kesegaran, sebab berolahraga mempunyai multi manfaat fisik, psikis, maupun manfaat sosial.

Pendapat selanjutnya yang dikemukakan oleh Sumaryanto yang dikutip oleh Tutiek R. (2004: 47) olahraga memberikan kesempatan yang tepat untuk menyalurkan tenaga yang kita miliki dengan jalan yang baik menuju kehidupan yang selaras, seimbang, dan serasi demi mendapat manfaat meraih kebahagiaan hidup yang sejati. Kita dalam berolahraga harus memperhatikan beberapa hal seperti :

a) Intensitas latihan : setiap latihan hendaknya mencapai training zone berupa 80% dari denyut nadi maksimal (DNM), sedangkan untuk mengetahui denyut nadi maksimal menggunakan rumus 220 – umur ( dalam tahun).

(26)

c) Frekuensi latihan : setiap minggu idealnya latihan sebanyak 3 kali, namun lebih baik lagi jika latihan 4- 5 kali perminggunya.

Setiap sesi latihan terdiri dari (1) latihan pemanasan selama 5 sampai dengan 10 menit, (2) latihan inti selama 15 sampai 60 menit dan (3) pendinginan selama 5-10 menit. Pemanasan dirancang untuk meningkatkan tingkat metabolisme. Latihan inti dapat dilakukan secara kontinyu maupun diskontinyu yang meliputi aktivitas aerobik dan melibatkan otot-otot besar serta menaikkan frekuensi denyut jantung. Latihan pendinginan meliputi latihan yang membantu adaptasi tubuh dalam menurunkan kapasitas latihan sampai latihan dihentikan. Latihan ini baik untuk memulihkan sirkulasi tubuh secara perlahan-lahan. Aliran darah yang semula terutama didistribusikan pada otot secara perlahan dialihkan pula agar merata keseluruh bagian tubuh.

b. Komponen Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani terdiri atas beberapa komponen. Mengetahui dan memahami komponen kesegaran jasmani sangatlah penting, karena komponen tersebut penentu baik buruknya kondisi fisik atau tingkat kesegaran jasmani seseorang.

(27)

1) Kesegaran Jasmani yang Berhubungan dengan Kesehatan

Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan terdiri atas lima komponen dasar yang saling berhubungan antara yang satu dan yang lainnya (Emi Rachmawati. 2005. “Tingkat Kesegaran Jasmani Anggota Paguyuban Lansia Sehat. Diakses dari http://digilib.unnes.ac.id gsdl/ collect/ skripsi/archives/HASH915c/9d25fce3.dir/doc.pdf. pada tanggal 26 November 2016, pukul 16.45). Komponen dasar itu adalah:

a) Daya tahan jantung-paru (kardiorespirasi)

Komponen ini menggambarkan kemampuan dan kesanggupan melakukan kerja dalam keadaan aerobik, artinya kemampuan sistem peredaran darah dan pernapasan untuk mengambil dan menyediakan oksigen yang dibutuhkan seseorang.

Latihan fisik akan mempengaruhi konsumsi oksigen dan produksi karbon dioksida. Kadar oksigen dalam jumlah yang besar akan terdifusi dari alveoli ke dalam darah vena kembali ke paru-paru.. Oleh itu, ventilasi akan meningkat untuk memungkinkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

(28)

rangsangan secara kimia, korteks motor menjadi lebih aktif dan mengirimkan impuls stimulasi ke pusat inspirasi, yang akan merespon dengan meningkatkan respirasi juga. Secara umpan balik proprioseptif dari otot rangka dan sendi aktif memberikan masukan tambahan tentang gerakan ini dan pusat pernapasan dapat menyesuaikan kegiatan itu berdasarkan kesesuaiannya. (Guyton, 2006: 250).

Tahap kedua lebih bertahap dengan kenaikan respirasi yang dihasilkan oleh perubahan status suhu dan kimia dari darah arteri. Sambil latihan berlangsung, peningkatan proses metabolisme pada otot menghasilkan lebih banyak panas, karbon dioksida dan ion hidrogen. Semua faktor ini meningkatkan penggunakan oksigen dalam otot, yang meningkatkan oksigen arteri juga. Akibatnya, lebih banyak karbon dioksida memasuki darah, meningkatkan kadar karbon dioksida dan ion hidrogen dalam darah. Hal ini akan dirasakan oleh kemoreseptor, yang sebaliknya merangsang pusat inspirasi, dimana terjadi peningkatan dan kedalaman pernapasan. Beberapa peneliti telah menyarankan bahwa kemoreseptor dalam otot juga mungkin terlibat iaitu dengan meningkatkan ventilasi dengan meningkatkan volume tidal. (Willmore, 1999: 179).

(29)

kemampuan paru mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam jangka waktu lama (Djoko Pekik Irianto, 2004: 4).

Selama latihan, permintaan oksigen di otot aktif meningkat, lebih banyak nutrisi digunakan dan proses metabolisme dipercepatkan serta menghasilkan sisa metabolisme. Jadi, untuk memberikan lebih banyak nutrisi dan untuk menghilangkan sisa metabolisme, sistem kardiovaskuler harus beradaptasi untuk memenuhi tuntutan sistem muskuloskeletal selama latihan. Respon akut atau langsung yang terlihat sewaktu latihan adalah peningkatan kontraktilitas miokard, peningkatan curah jantung, peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan respon perifer termasuk vasokonstriksi umum pada otot-otot dalam keadaan istirahat, ginjal, hati, limpa dan daerah splanknikus ke otot-otot kerja dan juga ada peningkatan tekanan darah sistolik akibat curah jantung yang meningkat. Dengan pelatihan yang ada akan ditandai penurunan denyut nadi dan pengurangan tekanan darah saat istirahat dengan peningkatan volume darah dan hemoglobin. (Guyton, 2006: 690)

Selama tenaga digunakan, akan masih terjadi penurunan denyut nadi, peningkatan stroke volume, peningkatan curah jantung dan peningkatan ekstraksi oksigen oleh otot bekerja karena perubahan enzimatik dan biokimia pada otot serta peningkatan konsumsi oksigen maksimal untuk setiap intensitas latihan yang diberikan.

(30)

progressive memasuki arteri sistemik yang membawa darah tersebut ke organ ke seluruh tubuh kecuali paru-paru yang disuplay oleh sirkulasi pulmonal. Arteri bercabang menjadi arteriol yang berdiameter lebih kecil yang akhirnya masuk ke bagian yang lebar dari kapiler sistemik. Pertukaran nutrisi dan gas terjadi melalui dinding kapiler yang tipis, darah melepaskan oksygen dan mengambil CO2 pada sebagian besar kasus darah mengalir hanya melalui satu kapiler dan kemudian masuk ke venule sistemik. Sel tubuh yang dituju termasuk sel-sel tubuh yang berada di tubuh bagian atas dimana terdapat sel- sel otak. Otak merupakan bagian sistem koordinasi pusat yang berfungsi memproses kegiatan fisiologis tubuh meliputi berjalan, makan, dan berfikir.

(31)

diperlukan yang memungkinkan kita untuk hidup. Proses kehidupan yang dimaksud dalam hal ini menghasilkan energi untuk memproses impuls syaraf sehingga tercipta konsentrasi yang baik.

b) Kekuatan Otot

Kekuatan adalah komponen yang sangat penting guna untuk meningkatkan kondisi fisik seseorang secara keseluruhan. Kekuatan otot adalah kemampuan badan dalam menggunakan daya, serabut otot yang ada dalam otot akan memberikan respons apabila dikenakan beban dalam latihan (Rusli Lutan, 1999: 66).

Kekuatan otot juga dapat didefinisikan kontraksi maksimal yang dihasilkan oleh otot, merupakan suatu kemampuan untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan. Kekuatan otot penting untuk meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan. Kekuatan otot dipengaruhi oleh: usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu otot (Depkes, 1996: 35).

(32)

ukuran otot-otot yang terlibat yaitu hipertrofi setelah mengikuti latihan kekuatan.

c) Daya Tahan Otot

Daya tahan otot adalah kemampuan dan kesanggupan otot untuk kerja berulang-ulang tanpa mengalami kelelahan. Daya tahan dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau kondisi tubuh yang mampu bekerja dalam waktu yang cukup lama (Rusli Lutan, 1999: 71).

Djoko Pekik Irianto (2004: 35) mengartikan daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama.

d) Kelenturan

Kelenturan dalah luas bidang gerak tubuh pada persendian, yang selain dipengaruhi oleh jenis sendi itu sendiri juga dipengaruhi oleh jaringan-jaringan disekitar sendi, seperti oleh otot, tendon, dan ligamen. Kelenturan tubuh yang baik dapat mengurangi terjadinya cedera olahraga (Depkes, 1996: 55). Faktor fisiologis yang mempengaruhi kelenturan antara lain: usia dan aktivitas. Kelenturan dapat berkurang sebagai akibat menurunnya elastisitas otot karena kurang latihan pada usia lanjut.

(33)

bergantung pada pengaturan tendon-tendon, ligamen, jaringan penghubung, dan otot-otot (Rusli Lutan, 1999: 75).

e) Komposisi Tubuh

Komposisi tubuh berhubungan dengan pendistribusian otot dan lemak di seluruh tubuh. Pengukuran komposisi tubuh ini memegang peranan penting, baik untuk kesehatan tubuh maupun untuk berolahraga. Kelebihan lemak tubuh dapat menyebabkan kegemukan atau obesitas dan meningkatkan risiko untuk menderita berbagai macam penyakit. Kelebihan lemak dapat memperburuk kinerja, karena tidak memberikan sumbangan tenaga yang dihasilkan oleh kontraksi otot, bahkan memberikan bobot mati yang menambah beban, karena memerlukan energi tambahan untuk menggerakkan tubuh.

2) Kesegaran Jasmani yang Berkaitan dengan Keterampilan

Komponen kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan meliputi:

a) Keseimbangan

(34)

b) Daya Ledak

Daya ledak adalah komponen yang berhubungan dengan laju ketika seseorang melakukan kegiatan, atau daya ledak merupakan hasil dari daya kali percepatan.

c) Kecepatan

Kecepatan adalah komponen yang berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan gerakan dalam waktu yang sangat singkat. Menurut Munajir (2005: 6) kecepatan adalah kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 58) kecepatan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

d) Koordinasi

Koordinasi adalah komponen yang berhubungan dengan kemampuan untuk menggunakan pancaindra, seperti penglihatan dan pendengaran bersama-sama dengan tubuh tertentu di dalam melakukan kegiatan motorik dengan harmonis dan ketepatan tinggi.

e) Kelincahan

(35)

f) Kecepatan Reaksi

Kecepatan reaksi adalah komponen yang berhubungan dengan kecepatan waktu yang digunakan antara mulai adanya rangsangan dan mulainya reaksi. Kecepatan reaksi adalah waktu yang digunakan untuk menanggapi suatu rangsangan yang diberikan. Misalnya, kecepatan reaksi berupa penglihatan (Emi Rachmawati. 2005. “Tingkat Kesegaran Jasmani Anggota Paguyuban Lansia Sehat Di Kecamatan Candisari Semarang. Diakses dari http://digilib.unnes.ac.id gsdl/ collect/ skripsi/archives/HASH915c/9d25fce3.dir/doc.pdf. pada tanggal 26 November 2016, pukul 16.45).

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani adalah sebagai berikut :

1) Umur

(36)

2) Jenis Kelamin

Kesegaran jasmani anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan selama masa pubertas, tapi setelah pubertas anak laki-laki biasanya mempunyai nilai yang jauh lebih besar.

3) Genetik

Berpengaruh terhadap kapasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas, haemoglobin, sel darah dan serat otot.

4) Makanan

Untuk mempertahankan hidup manusia memerlukan makan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas, yakni memenuhi syarat makanan sehat, berimbang, cukup energi, dan nutrisi (Afandi Kusuma. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani. Diakses dari http://afand.abatasa.com/post/detail/6966/faktor-faktor pada tanggal 17 November 2016, pukul 14.24).

2. Tes Kebugaran Jasmani Indonesia (TKJI)

(37)

TKJI untuk anak usia 6-9 Tahun yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Tahun 2010, yaitu :

a.Lari/Sprint 30 meter

Sprint atau lari cepat bertujuan untuk mengukur kecepatan jarak yang ditempuh untuk siswa putra dan putri adalah sama, yakni 30 meter sedangkan penilaiannya dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1. Penilaian Lari 30 Meter Anak TKJI Usia 6-9 Tahun No. Putra (detik) Putri (detik) Nilai

1. ≤ 5,5 ≤5,8 5

2. 5,6 – 6,1 5,9 – 6,6 4

3. 6,2 – 6,9 6,7 – 7,8 3

4. 7,0 – 8,6 7,9 – 9,2 2

5. ≥ 8,7 ≥ 9,3 1

b.Gantung siku tekuk/ Pull-Up

(38)

Tabel 2. Penilaian Gantung Siku Tekuk TKJI Anak Usia 6-9 Tahun

No Putra (detik) Putri (detik) Nilai

1. ≥ 40 ≥ 33 5

2. 22 – 39 18 – 32 4

3. 9 – 2 9 – 17 3

4. 3 – 8 3 – 8 2

5. 0 – 2 0 – 2 1

c.Baring Duduk/Sit Up 30 detik

Baring duduk atau Sit-up bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut. Kelompok umur 6-9 tahun melakukan selama 30 detik dengan kriteria penilaian, sebagai berikut :

Tabel 3. Penilaian Baring Duduk/Sit Up 30 detik TKJI Anak Usia 6-9 Tahun

No Putra Putri Nilai

1. ≥ 17 ≥ 17 5

2. 13 – 16 11 – 14 4

3. 7 – 12 4 – 10 3

4. 2 – 6 2 – 3 2

(39)

d.Loncat Tegak/ Vertical Jump

Tes ini bertujuan untuk mengukur daya ledak (eksplosif) otot tungkai, penilaiannya dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini :

Tabel 4. Penilaian Loncat tegak/Vertical Jump TKJI Anak Usia 6-9 Tahun

No Putra Putri Nilai

1. ≥ 38 ≥ 38 5

2. 30 – 37 29 – 37 4

3. 22 – 29 22 – 28 3

4. 13 – 21 13 – 21 2

(40)

e.Lari 600 Meter

Lari jarak sedang dilakukan untuk mengukur daya tahan paru, jantung, dan pembuluh darah, pada usia 6-9 tahun jarak yang digunakan adalah 600 meter dengan ketentuan penilaian sebagai berikut :

Tabel 5. Penilaian Lari 600 meter TKJI Anak Usia 6-9 Tahun

No Putra Putri Nilai

1. sd- 2’39” sd- 2’53” 5

2. 2’40”–3’00” 2’54”–3’23” 4

3. 3’01”–3’54” 3’24”–4’08” 3

4. 3’46”–4’48” 4’00”–5’30” 2

(41)

Pengumpulan data dicatat dalam formulir TKJI, sebagai berikut : Tabel 6. Formulis Tes Kesegaran Jasmani Indonesia

No. Jenis Tes Hasil Nilai Keterangan

1. Lari 30 meter ... detik

2. Gantung Siku Tekuk ... detik

3. Baring Duduk 30 detik ... kali

4. Loncat Tegak

a. Tingkat raihan : .... cm

b. Loncatan I : ... cm

c. Loncatan II : ... cm

d. Loncatan III : .... cm

... cm

5. Lari 600 meter ... menit

6. Jumlah nilai

7. Klasifikasi

Sumber Kemendiknas (2010:30)

(42)

Tabel 7. Norma Tes Kesegaran Jasmani Indonesia

3. Konsentrasi Belajar

a. Definisi konsentrasi belajar

Konsentrasi adalah pemusatan atau pengerahan (perhatiannya ke pekerjaannya atau aktivitasnya) (Hornby dan Siswoyo, 1993: 205). Menurut Slameto (2003: 87) konsentrasi merupakan pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan mengenyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Konsentrasi berarti pemusatan pikiran terhadap mata pelajaran dengan mengenyampingkan semua hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran.

(43)

b. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar

Menurut Thursan Hakim (2003: 6-9) faktor pendukung tersebut meliputi faktor internal dan faktor eksternal, berikut akan dijelaskan secara rinci :

1) Faktor Internal Pendukung Konsentrasi Belajar

Faktor internal merupakan faktor pertama dan utama yang sangat menentukan apakah seseorang dapat melakukan konsentrasi secara efektif atau tidak.Secara garis besar, faktor-faktor ini meliputi faktor jasmaniah dan faktor rohaniah.

a) Faktor Jasmaniah

(44)

irama napas berjalan baik. Sama halnya dengan jantung, irama napas juga sangat mempengaruhi ketenangan.

b) Faktor Rohaniah

(45)

2) Faktor Eksternal Pendukung Konsentrasi Belajar

Faktor eksternal adalah segala hal-hal yang berada di luar diri seseorang atau lebih tepatnya segala hal yang berada di sekitar lingkungan.Hal-hal tersebut juga menjadi pendukung terjadinya konsentrasi yang efektif. Beberapa faktor eksternal yang mendukung konsentrasi efektif yaitu (a) lingkungan, (b) udara, (c) penerangan, (d) orang-orang sekitar lingkungan, (e) suhu, (f) fasilitas. Lingkungan sekitar harus cukup tenang, bebas dari suara-suara yang terlalu keras yang mengganggu pendengaran dan ketenangan. Sebagai contoh, suara bising dari pekerja bangunan, suara mesin kendaraan bermotor, suara keramaian orang banyak, suara pesawat radio, dan televisi yang terlalu keras. Selain itu udara sekitar harus cukup nyaman, bebas dari polusi dan bau-bauan yang mengganggu rasa nyaman.Sebagai contoh, bau bangkai dan kotoran binatang, bau sampah, bau WC, atau keringat.

(46)

menunjang kegiatan belajar, seperti ruangan yang bersih, kursi, meja, dan perlatan untuk keperluan belajar.

Menurut Tonienase (2007: 55) konsentrasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti di bawah ini:

a. Lingkungan

Lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan dalam berkonsentrasi, siswa akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasi. Jika siswa dapat mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasi, siswa mampu menggunakan kemampuan siswa pada saat dan suasana yang tepat. Faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah suara, pencahayaan, temperatur, dan desain belajar.

1) Suara.

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap suara, ada yang menyukai belajar sambil mendengarkan musik, belajar ditempat ramai, dan bersama teman. Tetapi ada yang hanya dapat belajar ditempat yang tenang tanpa suara, atau ada juga yang dapat belajar ditempat dalam keadaan apapun.

2) Pencahayaan.

(47)

yang mempengaruhi tingkat kenyamanan di dalam ruangan maupun bangunan.

3) Temperatur.

Temperatur sama seperti faktor pencahayaan, merupakan faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar ditempat dingin, atau senang belajar ditempat yang hangat, dan juga senang belajar ditempat dingin maupun hangat.

4) Desain Belajar.

Desain belajar merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh juga, yaitu sebagai media atau sarana dalam belajar, misalnya terdapat seseorang yang senang belajar ditempat santai sambil duduk di kursi, sofa, tempat tidur, maupun di karpet. Cara mendesain media dan sarana belajar merupakan salah satu cara yang dapat membuat kita lebih dapat berkonsentrasi.

b. Modalitas Belajar

(48)

Semakin banyak informasi yang diterima dan diserap oleh siswa, maka kemampuan berkonsentrasi pun harus semakin baik dan fokus dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Banyak cara yang ditawarkan oleh para ahli dalam meningkatkan konsentrasi belajar siswa, misalnya dengan cara meningkatkan gelombang alfa agar setiap siswa dapat berkonsentrasi dengan baik, kemudian dapat juga dengan mengatur posisi tubuh pada saat belajar, dan mempelajari materi (informasi) sesuai dengan karakteristik siswa itu sendiri.

c. Pergaulan

Pergaulan juga dapat mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran, perilaku dan pergaulan mereka, dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yang dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, seperti faktor teknologi yang berkembang saat ini contohnya televisi, internet, dll hal ini sangat berpengaruh pada sikap dan prilaku siswa.

d. Psikologi

(49)

Nugroho (2007: 68) mengungkapkan aspek – aspek konsentrasi belajar sebagai berikut :

a. Pemusatan pikiran : Suatu keadaan belajar yang membutuhkan ketenangan, nyaman.

b. Motivasi : Keinginan atau dorongan yang terdapat dalam diri individu untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.

c. Rasa kuatir : Perasaan yang tidak tenang karena seseorang merasa tidak optimal dalam melakukan pekerjaannya.

d. Perasaan tertekan : Perasaan seseorang yang bkan dari individu melainkan dorongan / tuntutan dari orang lain maupun lingkungan.

e. Gangguan pemikiran : Hambatan seseorang yang berasal dari dalam individu maupun orang sekitar. Misalnya : masalah ekonomi, keluarga, masalah pribadi individu.

4. Bourdon-Test

(50)

semuanya berjumlah 30 baris), formulir pencatatan waktu, pensil, dan stopwatch. Hal yang dinilai dalam tes ini adalah kecepatan yaitu rata-rata waktu yang dipakai oleh 25 baris (perhitungan mulai baris 3 sampai baris 27), ketelitian adalah jumlah kesalahan kerja (banyak kelompok 4 titik yang terlewati atau salah coret), konstansi yaitu perbandingan rasio antara jumlah kuadrat dari deviasi dan rata-rata waktu. Makin kecil perbedaan jumlah kuadrat dari deviasi dan waktu rata-rata, makin konstan hasil kerja seseorang. Sebaliknya makin besar jumlah kuadrat dari deviasi dan waktu rata, makin tidak konstan hasil kerja seseorang (Joko Susetyo dkk, 2012: 35).

(51)

Tabel 8. Intepretasi kualitatif

B. Kerangka berpikir

Gambar 1 Skema Kerangka Berpikir Faktor mempengaruhi

konsentrasi belajar 1. Kesehatan Jasmani

Dengan parameter

( Indeks Kebugaran)

dilakukan TKJI

2. Rohani

3. Lingkungan

Tingkat Konsentrasi Belajar

(52)

C. Hipotesis Penelitian

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan desain penelitian yang digunakan adalah desain studi cross sectional. Desain studi cross sectional adalah desain penelitian yang mengukur semua variabel (dependen dan independen) yang diteliti pada waktu yang sama/ pada saat pemeriksaan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu dan tempat dalam penelitian ini adalah pada Juni-September 2016 bertempat di SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono 2009: 80). Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak siswa SD usia 7-9 tahun di SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta.

2. Sampel

(54)

dari populasi yang diteliti (Suharismi, 2002: 109). Secara umum, untuk penelitian korelasional jumlah sampel minimal untuk memperoleh hasil yang baik adalah 30, sedangkan dalam penelitian eksperimen jumlah sampel minimum 15 dari masing-masing kelompok dan untuk penelitian survey jumlah sampel minimum adalah 100. Sampel penelitian ini adalah anak siswa SD SD usia 7-9 tahun di SD I Luqman Al Hakim Yogyakarta yang sehat dan bersedia diteliti, tidak sedang melakukan diet makanan dan hadir pada waktu penelitian ini dilaksanakan yang berjumlah 32 siswa.

D. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas dan variabel terikat yaitu : 1. Variabel Bebas :

Indeks kebugaran 2. Variabel Terikat :

(55)

E. Teknik Sampling

Teknik sampling menggunakan purposive sampling yaitu penelitian responden harus memenuhi kriteria inklusi yaitu sehat, ditemui saat penelitian dan bersedia sebagai responden untuk diukur indeks kebugaran dan konsentrasi belajarnya. Teknik sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2010: 124). Kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah penderita sakit, sedang melakukan diet makanan dan tidak sanggup mengikuti kegiatan.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan tes pengukuran dan dokumentasi. Pengumpulan data tinggi dan berat badan dilakukan di ruang kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim menggunakan timbangan untuk mengukur berat badan dan microtois untuk mengukur tingggi badan. Pengumpulan data kebugaran jasmani dengan pengukuran dilakukan di beberapa tempat yaitu di halaman SDIT Luqman Al Hakim, gedung olahraga SDIT Luqman Al Hakim, dan lapangan Balai Kota Yogyakarta dengan menggunakan Tes Kesegaran Jasamani Indonesia untuk umur 7-9 tahun. Pengambilan beberapa tempat diatas dilakukan karena keterbatasan halaman SD Islam Luqman Al Hakim untuk melakukan tes kebugaran jasmani yang memerlukan lintasan lari yang panjang. Pengukuran Indeks kebugaran responden dilakukan secara berkelompok kecil yaitu tiap gelombang tes fisik dapat diikuti 4 orang anak sekaligus tes fisik dilakukan oleh observer ahli olah raga dari FIK UNY. Teknik pengumpulan data konsentasi belajar dengan Tes Bourdon Wiersma yang dikerjakan oleh siswa kelas 3 SD Islam Luqman Al Hakim.

Rangkaian tes kesegaran jasmani antara lain:

(56)

b. Baring duduk (sit up), ambil sikap berbaring dengan kedua lutut diangkat ke atas. Kedua tangan ditaruh dibelakang kepala. Bangkitlah dengan tangan masih memegang kepala bagian belakang ke posisi duduk hingga mengentuh ke. Lakukan dua lutut, lalu berbaring kembali. Lakukan secara berulang-ulang sesuai dengan kekuatanmu sebanyak-banyaknya. Latihan ini menggunakan durasi waktu 30 detik, baik putra maupun putri. c. Gantung siku tekuk (pull up), untuk melatih kekuatan. Caranya berpeganglah/menggantunglah pada palang tunggal. Posisi kedua tangan dibuka selebar bahu, badan lurus, kaki lurus dan rapat. Angkat badan sampai dagu menyentuh palang. Turunkan kembali badan dengan meluruskan siku. Lakukan secara berulang-ulang sesuai dengan kekuatanmu sebanyak-banyaknya. Latihan ini menggunakan durasi waktu 30 detik, baik putra maupun putri.

d. Loncat tegak, yaitu anak diminta meloncat tegak dengan tangan berusaha meraih raihan tertinggi. Loncat tegak ini dilakukan di gedung olahraga SD Islam Luqman Al Hakim. Kertas yang sudah terdapat tulisan meteran di dinding sekolah dipasang. Siswa melakukan loncat tegak sebanyak tiga kali dan mencari raihan tertinggi.

(57)

G. Prosedur Kerja

PELAKSANAAN

 Pengukuran TB/BB/IMT.

 Pengukuran kecukupan gizi makan pagi dengan perhitungan rekam diet berupa food record selama 7 hari.

 Pengukuran konsentrasi belajar dengan tes Bourdon Wiersma.

 Pengukuran indeks kebugaran.

ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis statistik deskriptif dan uji korelasi

PERSIAPAN

 Pengurusan ijin ke Bapeda.

 Survey Populasi dan Sampling.

 Membagi sampel dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang.

 Menyiapkan instrumen untuk mengukur kecukupan gizi, status gizi dan konsentrasi belajar.

 Melakukan peminjaman alat-alat untuk pengukuran indeks kebugaran ke FIK UNY.

(58)
(59)

H. Alat dan Bahan

1. Alat

a. Timbangan berat badan

b. Microtois.

c.Stopwatch

d.Matras

e.Meteran roll

f. Cone

g.Kertas karton berskala

h.Plester

i. Tiang pull up

j. Tensimeter

k.Stetoskop

l. Alat tulis

m.Kalkulator

n. Kamera

2. Bahan

a. Model tes Bourdon Wiersma untuk mengukur konsentrasi belajar

b. Tepung terigu.

(60)

Instrumen pada penelitian ini adalah

1. Tes Kebugaran Jasmani (TKJI) meliputi lari 30 meter, gantung siku tekuk/ pull-up, loncat tegak/ vertical jump, baring duduk/ sit up, lari 600 m untuk mengukur indeks kebugaran.

2. Tes Bourdon Wiersma untuk mengukur konsentrasi belajar.

3. Angket untuk mengetahui jumlah aktivitas olahraga anak.

J. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian dianalisis. Analisis data merupakan bagian terpenting dalam sebuah penelitian. Analisis data dilakukan untuk mengetahui jawaban dari permasalahan yang telah dirumuskan.

1. Data indeks kebugaran dan tingkat konsentrasi belajar dianalisis dengan analisis deskriptif.

(61)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta terletak di Muja Muju, Umbulharjo, Yogyakarta, memiliki 24 kelas, yang masing – masing kelas terdiri dari kelas A, B, C dan D. Penelitian ini sampel kelas dipilih secara acak yaitu kelas 3 D yang berjumlah 36 siswa. Kelas 3 D dibersamai oleh 2 guru kelas. Siswa yang memenuhi sebagai subyek penelitian berjumlah 32 siswa. Kegiatan belajar – mengajar di SDIT berlangsung dari pukul 07.15 – 14.00 WIB setiap senin – jum’at sedangkan di hari sabtu diisi kegiatan ekstrakulikuler. Jam pelajaran olahraga dalam seminggu berjumlah 2 jam.

2. Karakteristik Subyek Penelitian

Tabel 9 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin F Persentase (%)

1. Laki – laki 17 53

2. Perempuan 15 47

(62)

Subyek dalam penelitian ini memiliki persentase jumlah siswa laki-laki yang lebih banyak daripada siswa perempuan dengan jumlah keseluruhan 32 siswa. Jumlah siswa berjenis kelamin laki-laki sebanyak 17 anak atau bernilai 53% dan jumlah siswa berjenis kelamin perempuan sebanyak 15 anak atau bernilai 47%.

Data berat badan dalam bentuk diagram dapat dilihat pada gambar di berikut ini

Gambar 2 Diagram Data Berat Badan

(63)

Gambar 3 Diagram Tinggi Badan

Berdasarkan tinggi badan, siswa dengan tinggi badan kategori lebih memiliki persentase terbesar yaitu 93,75% atau sebanyak 30 anak, sedangkan tinggi badan kategori cukup memiliki persentase terendah yaitu 6,25% atau sebanyak 2 anak, dan tidak ada siswa yang memiliki tinggi badan kategori cukup. Kita dapat mengatakan bahwa siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim mayoritas memiliki tinggi badan kategori lebih.

Tabel 10. Distribusi Frekuensi dan Persentase Indeks Kebugaran 0

No Frekuensi Persentase (%) Jumlah Nilai Kategori

(64)

Tabel indeks kebugaran menunjukan bahwa siswa dengan indeks kebugaran kategori sedang memiliki persentase tertinggi yaitu 53% atau sebanyak 17 anak, sedangkan persentase paling rendah didapat pada kategori kurang sekali yaitu 3% atau sebanyak 1 anak. Tidak ada siswa yang memiliki indeks kebugaran dengan kategori baik sekali. Siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim memiliki indeks kebugaran bervariasi meliputi baik, sedang, kurang dan kurang sekali.

Tabel 11. Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Konsentrasi

Tabel tingkat konsentrasi menunjukan bahwa persentase siswa dengan kategori lebih memiliki persentase lebih tinggi yaitu 50% atau sebanyak 16 anak sedangkan persentase paling rendah didapat pada kategori sesuai yaitu 3,1% atau sebanyak 1 anak. Siswa kategori tingkat konsentrasi lebih berjumlah lebih banyak daripada kategori kurang, dan hanya terdapat satu siswa yang memiliki kategori sesuai.

B. Analisis Data dengan Uji Normalitas dan Korelasi

Analisis data dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui hubungan indeks kebugaran dengan tingkat konsentrasi belajar siswa SD di

No. Kategori F Persentase (%)

1. Kurang 15 46,9

2. Sesuai 1 3,1

3. Lebih 16 50

(65)

kelas III SDIT Luqman Al Hakim Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Uji normalitas dan homogenitas sebagai uji prasyarat dilakukan sebelum uji korelasi. Hasil analisis data dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Uji Normalitas

Kriteria yang digunakan untuk mengetahui normal tidaknya suatu sebaran adalah jika p > 0,05 (5 %) sebaran dinyatakan normal, dan jika p < 0,05 (5 %) sebaran dikatakan tidak normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 12. Hasil Uji Normalitas

(66)

2. Uji Korelasi

Uji prasyarat yang menunjukkan data tidak terdistribusi normal membuat pemilihan uji selanjutnya adalah menggunakan uji korelasi non parametrik Spearman. Uji korelasi non parametrik Spearman digunakan untuk menguji hubungan antara indeks kebugaran dengan tingkat konsentrasi belajar yang hasilnya seperti dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 13. Hasil Uji Korelasi Spearman

Hasil perhitungan menggunakan analisis statistik non parametrik Spearman’s rho menggunakan SPSS 16.0 adalah diketahui bahwa data

(67)

http://setabasri01.blogspot.co.id/2012/04/uji-korelasi-spearman-dengan-spss-dan.html. pada tanggal 24 Desember 2017, pukul 16.30) di bawah ini

Tabel 14. Intepretasi Koefisien korelasi

C. Pembahasan

Subyek penelitian berdasarkan tabel dan gambar terdiri dari 32 siswa terdiri dari 53 % siswa laki-laki dan 47% perempuan. Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan dokter pada awal pengambilan data penelitian, sejumlah anak sehat dan dapat mengikuti tes kebugaran jasmani.

(68)

Data antropometri berat badan dan tinggi badan lebih paling tinggi dimungkinkan asupan gizi harian sejak balita sampai saat ini berlebihan. Hal ini sesuai dengan penelitian Atmarita dan Robert Tilden (2002: 565) gizi lebih dilihat dari berat badan atau umur cenderung meningkat di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia, walaupun lebih banyak di daerah perkotaan. Bayi, anak-anak, dan remaja dalam masa pertumbuhan, menu seimbang akan menghasilkan pertumbuhan fisik (Tien Tirtawinata. 2006: 255).

Data indeks kebugaran dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 4 Diagram Indeks Kebugaran

Distribusi frekuensi indeks kebugaran menunjukkan bahwa indeks kebugaran paling tinggi adalah tingkat sedang. Kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari tanpa pengeluaran energi yang cukup besar guna memenuhi kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta untuk memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan (Sajoto, 1988 cit Herianto dan Chusla RD, 2012: 20). Menurut Sumintarsih (2007: 26) kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang

(69)

melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan, sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya.

Data kuesioner aktivitas olahraga siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim menunjukkan bahwa dari 32 siswa terdapat 31 siswa yang melakukan aktivitas olahraga baik di luar intrakulikuler pelajaran olahraga maupun ekstrakulikuler olahraga. Satu siswa tidak melakukan aktivitas olahraga karena tidak suka berolahraga. Aktivitas olahraga yang paling banyak dilakukan siswa adalah bersepeda dengan jumlah 10 siswa atau sebanyak 32%. Aktivitas olahraga yang paling sedikit dilakukan siswa adalah renang dengan jumlah 6 siswa atau sebanyak 19%. Siswa melakukan aktivitas olahraga baik di luar intrakulikuler pelajaran olahraga maupun ekstrakulikuler olahraga sebanyak satu kali dalam seminggu dengan kecenderungan durasi waktu selama 30 menit.

Data kuesioner siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim juga menunjukkan bahwa dari 32 siswa terdapat 29 siswa yang mengikuti ekstrakulikuler olahraga sedangkan 3 siswa tidak mengikuti ekstrakulikuler olahraga tersebut. Ekstrakulikuler yang paling banyak diikuti siswa adalah renang dengan jumlah 21 siswa atau sebanyak 72%, diikuti ekstrakulikuler futsal sebanyak 6 siswa atau sebanyak 21% dan terakhir ekstrakulikuler karate sebanyak 2 siswa atau sebanyak 7%.

(70)

pertemuan, ekstrakulikuler sekali pertemuan, dan sekali aktivitas olahraga diluar olahraga intrakulikuler dan ekstrakulikuler. Hal ini membuat indeks kebugaran siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim lebih banyak berada dalam kategori sedang.

Kondisi sedang banyak terjadi pada anak tersebut karena olahraga rata-rata pada anak tersebut 3 kali per minggu dengan durasi olahraga rata-rata-rata-rata selama 30 menit. Pendapat ahli menyatakan bahwa untuk hidup sehat dan bugar olahraga dilakukan 3x per minggu (Sumaryanto, 1996: 32). Setiap sesi latihan terdiri dari (1) latihan pemanasan selama 5 sampai dengan 10 menit, (2) latihan inti selama 15 sampai 60 menit dan (3) pendinginan selama 5-10 menit. Pemanasan dirancang untuk meningkatkan tingkat metabolisme. Latihan inti dapat dilakukan secara kontinyu maupun diskontinyu yang meliputi aktivitas aerobik dan melibatkan otot-otot besar serta menaikkan frekuensi denyut jantung. Latihan pendinginan meliputi latihan yang membantu adaptasi tubuh dalam menurunkan kapasitas latihan sampai latihan dihentikan. Latihan ini baik untuk memulihkan sirkulasi tubuh secara perlahan-lahan. Aliran darah yang semula terutama didistribusikan pada otot secara perlahan dialihkan pula agar merata keseluruh bagian tubuh.

(71)

a) Intensitas latihan : setiap latihan hendaknya mencapai training zone berupa 80% dari denyut nadi maksimal (DNM), sedangkan untuk mengetahui denyut nadi maksimal menggunakan rumus 220 – umur ( dalam tahun).

b) Lamanya latihan : lama atau durasi latihan yaitu selama 40 – 45 menit harus dipertahankan masuk training zone.

c) Frekuensi latihan : setiap minggu idealnya latihan sebanyak 3 kali, namun lebih baik lagi jika latihan 4- 5 kali perminggunya.

Olahraga terdiri atas olahraga kesehatan dan olahraga prestasi. Olahraga kesehatan adalah olahraga bagi orang sehat agar dapat memelihara kesehatannya dan meningkatkan kebugaran jasmaninya (Tien Tirtawinata. 2006: 10). Jenis olahraga yang dilakukan oleh siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim adalah jenis olahraga kesehatan. Hal ini membuat kondisi fisik siswa menjadi sehat dan indeks kebugaran jasmani siswa tersebut dalam kondisi cukup.

(72)

tidak langsung akan menunjang konsentrasi belajar (Elyas S. 2013: 47). Hal tersebut sesuai dengan kondisi siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim yang tidak mudah mengalami kelelahan berupa gangguan psikis mengantuk atau malas. Siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim terlihat semangat ketika mengikuti pelajaran terutama saat proses pengambilan data.

Menurut Harsuki yang dikutip oleh Emi Rachmawati (2005: 17) kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan di antaranya daya tahan jantung-paru (kardiorespirasi) dan kekuatan otot. Komponen ini menggambarkan kemampuan dan kesanggupan melakukan kerja dalam keadaan aerobik, artinya kemampuan sistem peredaran darah dan pernapasan untuk mengambil dan menyediakan oksigen yang dibutuhkan seseorang.

Menurut Wahjoedi (2000: 59) daya tahan jantung adalah kapasitas sistem jantung-paru, dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan kardiorespirasi yaitu kemampuan paru mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam jangka waktu lama (Djoko Pekik Irianto, 2004: 4).

(73)

(Ahmad Syarif. Fisiologi Kesehatan Respirasi. Diakses dari

http://ariittonk.blogspot.co.id/2014/12/fisiologi-olahraga-mengegenai-paru-paru.html pada 14 Februari 2017 pukul 13.59).

Latihan fisik juga akan mempengaruhi konsumsi oksigen dan produksi karbon dioksida. Kadar oksigen dalam jumlah yang besar akan terdifusi dari alveoli ke dalam darah vena kembali ke paru-paru. Sebaliknya, kadar karbon dioksida yang sama banyak masuk dari darah ke dalam alveoli. Oleh itu, ventilasi akan meningkat untuk mempertahankan konsentrasi gas alveolar yang tepat untuk memungkinkan peningkatan pertukaran oksigen dan karbon dioksida (Ahmad Syarif. Fisiologi Kesehatan Respirasi. Diakses dari

http://ariittonk.blogspot.co.id/2014/12/fisiologi-olahraga-mengegenai-paru-paru.html pada 14 Februari 2017 pukul 13.59).

(74)

hipertrofi setelah mengikuti latihan kekuatan. (Dewi S. Pengaruh Olahraga terhadap Sistem Kardiovaskuler. Diakses dari

http://dewisitoresmi.blogspot.co.id/2012/07/pengaruh-olahraga-pada-sistem.html pada 14 Februari 14.06).

Data tingkat konsentrasi dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 5. Diagram Tingkat Konsentrasi

(75)

kehidupan sehari-hari cukup tenang, (b) memiliki sifat baik, terutama sifat sabar dan konsisten, (c) taat beribadah sebagai penunjang ketenangan dan daya pengendalian diri, (d) tidak dihinggapi berbagai jenis masalah yang terlalu berat, (e) tidak emosional. Faktor eksternal adalah segala hal-hal yang berada di luar diri seseorang atau lebih tepatnya segala hal yang berada di sekitar lingkungan. Hal-hal tersebut juga menjadi pendukung terjadinya konsentrasi yang efektif. Beberapa faktor eksternal yang mendukung konsentrasi efektif yaitu (a) lingkungan, (b) udara, (c) penerangan, (d) orang-orang sekitar lingkungan, (e) suhu, (f) fasilitas. Lingkungan sekitar harus cukup tenang, bebas dari suara-suara yang terlalu keras yang mengganggu pendengaran dan ketenangan (Thursan Hakim. 2003: 6-9).

Siswa kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim paling banyak memiliki tingkat konsentrasi kategori lebih. Tingkat konsentrasi kategori lebih memiliki banyak manfaat diantaranya siswa tersebut menjadi lebih fokus dalam mengikuti pelajaran dan mengerjakan soal. Hal ini akan menunjang pemahaman siswa terhadap pelajaran yang diikuti. Dampak jangka panjang yang terjadi pada siswa adalah dapat menaikan capaian hasil belajar berupa nilai yang baik.

(76)

diukur dengan tes Bourdon Wiersma menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi belajar paling banyak adalah tingkat lebih.

Hasil penelitian di atas sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa konsentrasi dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang terdiri dari aspek jasmani dan rohani. Faktor internal pada penelitian ini berupa kebugaran jasmani yang menentukan kesehatan jasmani seseorang. Tingkat konsentrasi siswa berada pada kategori tinggi walaupun indeks kebugaran berada pada kategori sedang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mendukung tingginya konsentrasi belajar yang tidak diteliti pada kajian ini. Faktor tersebut meliputi faktor eksternal dan faktor internal rohani.

(77)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah :

1. Indeks kebugaran anak sekolah usia 7-9 tahun paling banyak pada kategori sedang dan paling sedikit pada kategori baik sekali.

2. Tingkat konsentrasi belajar pada anak siswa SD usia 7-9 tahun paling banyak adalah lebih dan paling sedikit adalah kurang.

3. Adanya hubungan signifikan antara kebugaran dengan tingkat konsentrasi belajar pada anak SD usia 7-9 tahun.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran untuk penelitian ini adalah :

(78)

1

DAFTAR PUSTAKA

Afandi Kusuma. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran

Jasmani. Diakses dari

http://afand.abatasa.com/post/detail/6966/faktor-faktor pada tanggal 17 November 2016, pukul 14.24.

Ahmad Syarif.-. Fisiologi Kesehatan Respirasi. Diakses dari

http://ariittonk.blogspot.co.id/2014/12/fisiologi-olahraga-mengegenai-paru-paru.html pada 14 tanggal Februari 2017, pukul 13.59

Djoko Pekik Irianto. 2004. Bugar & Sehat dengan Berolahraga. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Depkes RI. 1994. Pedoman Pengukuran Kesegaran Jasmani. Jakarta: Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Depkes RI.

-. 1996. Pedoman Pengukuran Kesegaran Jasmani. Jakarta: Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Depkes RI.

Dewi S. Pengaruh Olahraga terhadap Sistem Kardiovaskuler. Diakses dari

http://dewisitoresmi.blogspot.co.id/2012/07/pengaruh-olahraga-pada-sistem.html pada tanggal 14 Februari 2017 pukul 14.06. Djamarah & Bahri. 2008. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Elyas S. 2013. Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani dengan Prestasi Belajar

Siswa Kelas VI SDN Potorono Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.

Emi Rachmawati. 2005. “Tingkat Kesegaran Jasmani Anggota Paguyuban Lansia Sehat Di Kecamatan Candisari Semarang. Diakses dari http://digilib.unnes.ac.id gsdl/ collect/ skripsi/archives/HASH915c/9d25fce3.dir/doc.pdf. pada tanggal 26 November 2016, pukul 16.45.

Engkos Kosasih. 1985. Olahraga Tekhnik Dan Prasarana Latihan. Jakarta : CV Akademika Pressindo.

Hasbulloh Thabrany. 1995. Rahasia Sukses Belaar: Bagaimana Memilih dan Belajar di Perguruan Tinggi Amerika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cetakan Pertama.

Herianto dan Chusla RD. 2012. Analisis dan Profil Tingkat Kebugaran Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin dan Industri Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Yogyakarta: FT UGM.

(79)

2

Joko Susetyo,dkk. 2012. Pengaruh Shift Kerja Terhadap Kelelahan dengan Metode Bourdon Weirsman dan 30 Rating of Ratingscales. Vol 5 No. 1.Hlm 32-39.

Margono. 2012. Dasar-Dasar Kepelatihan. Jakarta: Citra Merdeka.

Mochamad Sajoto. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Jakarta: Depdikbud.

Nugroho. 2007. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Surabaya: Prestasi Pustaka.

Nurhasan. 2005. Aktivitas Kebugaran. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.

Rusli Lutan. 1999. Dasar-Dasar Kepelatihan. Jakarta: Depdiknas.

Seta Basri. 2012. Uji Korelasi Spearman dengan SPSS dan Manual. Diakses dari http://setabasri01.blogspot.co.id/2012/04/uji-korelasi-spearman-dengan-spss-dan.html. pada tanggal 24 Desember 2017, pukul 16.30. Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka

Cipta.

Sumaryanto. 1996. Pemasyarakatan Hidup Sehat dan Penyiapan Regenerasi yang Tepat Menuju Terjadinya Sumber Daya Manusia yang Berkualitas. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Sumintarsih. 2007. Kebugaran Jasmani untuk Lanjut Usia. Olahraga. Vol. 13, Th. XIII, No. 1. Hlm. 26-40.

Sunawan. 2009. Diagnosa Kesulitan Belajar (Handout). Semarang : UNNES. Tien Tirtawinata. 2006. Makanan dalam Perspektif Alquran dan Ilmu Gizi.

Jakarta: Universitas Indonesia.

Thursan Hakim. 2003. Mengatasi Gangguan Konsentrasi. Jakarta : Puspa Swara.

Tutiek Rahayu. 2004. Hidup Sehat sebagai Wahana Penyiapan Sumber Daya Manusia Berkualitas. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Wahjoedi. 2001. Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani. Jakarta: PT Raja

Grafind Persada.

(80)

3

(81)

4

(82)
(83)

6

No. Nama Data Konsentrasi

Mean Median Konstansi Kategori

(84)

7

(85)

8

(86)

9

(87)

10

Lampiran 5 Petunjuk Tes Kebugaran Jasmani Indonesia 1. Lari 30 meter

a. Tujuan

Tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan. b. Alat dan Fasilitas

1) Lintasan lurus, datar, rata, tidak licin, mempunyai lintasan lanjutan, berjarak 30 meter.

2) Pengukur waktu merangkap pencatat hasil tes. d. Pelaksanaan

1) Sikap permulaaan

Peserta berdiri di belakang garis start. 2) Gerakan

(88)

11

b) Pada aba- aba “YA” peserta lari secepat mungkin menuju garis finish. 3) Lari masih bisa diulang apabila peserta:

a) Mencuri start.

b) Tidak melewati garis finish. c) Terganggu oleh pelari lainnya. 4) Pengukuran waktu

Pengukuran waktu dilakukan dari saat bendera start diangkat sampai pelari melintasi garis finish.

5) Pencatat hasil

a) Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 40 meter dalam satuan detik.

b) Waktu dicatat satu angka dibelakang koma.

2. Tes Gantung Siku Tekuk/ Pull-up a. Tujuan

Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan bahu. b. Alat dan Fasilitas

1) Lantai rata dan bersih.

2) Palang tunggal yang dapat diatur ketinggiannya yang disesuaikan dengan ketinggian peserta. Pipa pegangan terbuat dari besi ukuran ¾ inchi.

3) Stopwatch.

Gambar

Tabel 1. Penilaian Lari 30 Meter Anak TKJI Usia 6-9 Tahun
Tabel 3. Penilaian Baring Duduk/Sit Up 30 detik TKJI Anak Usia 6-9 Tahun
Tabel 5. Penilaian Lari 600 meter TKJI Anak Usia 6-9 Tahun
Tabel 6. Formulis Tes Kesegaran Jasmani Indonesia
+7

Referensi

Dokumen terkait

kemampuan seseorang untuk menunaikan tugasnya sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk

Kesimpulan-kesimpulanyang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa Tingkat Kebugaran Jasmani (Physical Fitness) dan Kesehatan Mental (Mental Hygiene) memiliki

Kebugaran jasmani merupakan kondisi tubuh seseorang yang mempunyai peran penting dalam kegiatan atau aktivitas sehari-hari.Pada dasarnya setiap individu memiliki tingkat

Kebugaran jasmani merupakan kondisi tubuh seseorang yang mempunyai peran penting dalam kegiatan atau aktivitas sehari-hari.Pada dasarnya setiap individu memiliki tingkat

Kebugaran jasmani menurut Djoko Pekik Irianto (2000: 5) menyatakan bahwa kebugaran jasmani yang baik merupakan modal dasar bagi seseorang untuk melakukan aktifitas fisik

a) Frekuensi adalah seberapa sering seseorang melakukan aktivitas fisik yang berkaitan dengan kesehatan. Frekuensi aktivitas jasmani yang disarankan untuk

Kebugaran jasmani didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti sehingga masih dapat

Kebugaran jasmani adalah kemampuan dan daya tahan fisik atau tubuh seseorang dalam melakukan berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, tanpa mengalami kelelahan yang berarti.. Istilah