Indeks kekeringan harian dihitung dari data iklim Propinsi Jambi tahun
2000-2004. Nilai indeks kekeringan dikaitkan dengan waktu (tanggal)
terjadinya titik panas.
Tabel 3. Contoh Tabel Sebaran Titik Panas di Propinsi Jambi tahun 2000-2004
Bulan Tahun Jumlah Rata-rata
2000 2001 2002 2003 2004
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
Jumlah
IV. KONDISI UMUM PROPINSI JAMBI
A. Letak Geografis
Propinsi Jambi terletak di Pantai Timur Pulau Sumatera berhadapan
dengan Laut Cina Selatan, pada alur lalu lintas Internasional dan Regional. Secara
geografis Propinsi Jambi terletak diantara 0º 45’ – 2
o45’ Lintang Selatan dan
antara 101
o10’ – 104
o44’ Bujur Timur. Luas wilayah Propinsi Jambi 53.435,72
km
2, luas daratan 51.000 km
2, luas lautan 425,5 km
2dan panjang pantai 185
km. Batas-batas Wilayah Propinsi Jambi adalah sebagai berikut :
• Sebelah Utara dengan Propinsi Riau
• Sebelah Selatan dengan Propinsi Sumatera Selatan
• Sebelah Barat dengan Propinsi Sumatera Barat
• Sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan
Propinsi Jambi termasuk dalam kawasan segi tiga pertumbuhan Indonesia-
Malaysia-Singapore (IMS-GT) dan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT).
Waktu tempuh dari Jambi ke Singapura melalui jalur laut melalui Batam dengan
menggunakan kapal cepat (jet-foil) ± 5 jam ( Bappeda Jambi, 2005 dan
Pemerintah Kota Jambi, 2005 ).
B. Topografi
Kondisi lahan di Propinsi Jambi bervariasi dari daratan rendah sampai
daratan tinggi yaitu ( Bappeda Jambi, 2005 ):
• Kemiringan 0– 3% = 14.576 km
2(29,0%)
• Kemiringan 3–12%= 14.381 km
2(28,6%)
• Kemiringan 12–40%= 9.306 km
2(18,5%)
• Kemiringan >40% = 12.000 km
2(23,9%)
Jumlah luas areal menurut ketinggian tempat di Propinsi Jambi:
- 0 - 100 meter = 34.738 km
2(53,2%)
- 101-500 meter = 17.981 km
2(24,5%)
- 500-1.000 meter = 9.127 km
2(13,9%)
- > 1.000 meter = 5.437 km
2( 8,4%)
C. Iklim
Dari sisi iklim, Propinsi Jambi termasuk beriklim tropis. Musim hujan
jatuh pada bulan Oktober sampai April (dipengaruhi oleh Musim Tenggara) dan
musim kemarau pada bulan April sampai Oktober (dipengaruhi oleh Musim
Barat). Jumlah curah hujan di Propinsi Jambi tercatat sebesar 201,5 mm/bulan dari
hari hujan 13,5 hari per bulan. Pada siklus 30 tahunan terjadi curah hujan yang
lebih besar sehingga terjadi banjir. Iklim Propinsi Jambi bertipe A (Schmidt and
Ferguson) dengan curah hujan rata-rata 1.900 – 3.200 mm/tahun dan rata-rata hari
hujan 116 – 154 hari per tahun. Suhu maksimum sebesar 31
oC ( Bappeda Jambi,
2005 dan BMG, 2005 ).
D. Flora dan Fauna
1. Flora
Di Propinsi Jambi terdapat beberapa tipe ekosistem hutan hujan dataran
rendah sampai ekosistem sub alpin serta beberapa ekosistem yang khas (rawa
gambut, rawa air tawar, dan danau). Selain itu terjadi pendominasian oleh
beberapa jenis famili seperti Dipterocarpaceae, Leguminosae, Lauraceae,
Myrtaceae, Bombacaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Myristicaceae,
Euphorbiaceae dan Meliaceae. Dari penelitian Biological Science Club pada
tahun 1993 ditemukan 115 jenis tumbuhan etnobotani yang digunakan oleh
masyarakat untuk keperluan sehari-hari.
2. Fauna
Beberapa jenis fauna yang ada seperti Badak Sumatera, Gajah Sumatera,
Macan dahan, Tapir, Kambing Hutan, Katak bertanduk, Siamang,Wau-wau
Hitam, Beruk, Kera ekor panjang, Tiung Sumatera masih mendominasi pada
beberapa taman nasional yang ada di Propinsi Jambi (Forest Watch Indonesia,
2004).
E. Penutupan Lahan
Tabel 4. Penutupan Lahan Propinsi Jambi tahun 2002 dan tahun 2003
Kode Keterangan Luas tahun 2002
(Ribu Ha)
Luas tahun 2003
(Ribu Ha)
A. Hutan
2001 Hutan Lahan Kering Primer 378 111
2002 Hutan Lahan Kering Sekunder 624 879
2005 Hutan Rawa Primer 125 147
20051 Hutan Rawa Sekunder 237 132
2004 Hutan Mangrove Primer 0 0
20041 Hutan Mangrove Sekunder 2 5
2006 Hhutan Tanaman 96 108
Jumlah Hutan 1463 1380
B. Non Hutan
2007 Belukar 66 180
20071 Belukar Rawa 133 308
3000 Savana 0 0
2010 perkebunan 288 421
20091 Pertanian Lahan Kering 65 162
20092 Pertanian Lahan Kering Campur 1447 1496
20093 Sawah 298 52
20094 Tambak 0 2
20121 Pelabuhan Udara/ Laut 0 0
20122 Transmigrasi 28 11
2014 Tanah Terbuka 27 65
5001 Pemukiman 17 30
50011 Tubuh Air 5 0
Rawa 1 20
Jumlah Non Hutan 2377 2747
C. Tidak Ada Data / Awan
2500 Awan 970
Tidak Ada Data 0 687
Jumlah Tidak Ada Data 970 687
Jumlah Total 4810 4814
( Sumber : Departemen Kehutanan )
Pada tabel 4 dapat terlihat kondisi penutupan lahan dari tahun 2002-2003.
Pada areal kawasan hutan terjadi pengurangan luas kawasan hutan dari tahun
2002-2003, sedangkan untuk areal luar kawasan hutan terjadi penambahan luas
kawasan. Hal ini menandakan dari tahun 2002-2003 terjadi pengkonversian areal
kawasan hutan menjadi areal bukan kawasan hutan.
F. Sebab-sebab Terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan
Penyebab terjadinya kebakaran dibagi menjadi 2 bagian yaitu alami dan
buatan. Penyebab alami dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari penyimpangan
iklim seperti El Nino maupun osilasi atmosfer di atas Samudera Hindia yang
menyebabkan kondisi cuaca yang ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia
termasuk di Propinsi Jambi (SSFMP, 2004). Penyebab buatan kebanyakan
dilakukan oleh masyarakat dan pengelola HTI untuk pembukaan lahan (WARSI,
2003). Selain itu juga karena adanya illegal logging, degredasi lahan, pembukaan
lahan untuk pemukiman dan pertanian serta perkebunan oleh masyarakat setempat
dengan jalan membakar hutan (FFPMP, 2000 dan Syaipul Bakhori, 2004).
Problem tersebut merupakan problem utama yang ada dan berkembang di
masyarakat sekitar hutan di Propinsi Jambi. Problem utama yang kedua adalah
kurang adanya kerjasama antara instansi pemerintah, Departemen Kehutanan dan
Perkebunan, tentara dan organisasi massa dalam hal menanggulangi bahaya
kebakaran yang nantinya akan terjadi.
G. Upaya-upaya Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan
Salah satu upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Propinsi Jambi
adalah mengadakan kerja sama antara pemerintah daerah dengan Direktorat
Penanggulangan Kebakaran Hutan Departemen Kehutanan, Balai Konservasi
Sumber Daya Alam (BKSDA) dan JICA (Japan International Co-operation
Agency) dalam program FFPMP 2 (Forest Fire Project Management Prevention
tahap ke dua). Tujuan dari proyek tersebut adalah melaksanakan kegiatan
pencegahan dan pemadaman dini kebakaran hutan dan lahan yang berkelanjutan,
layak dan dapat dijadikan proyek percontohan yang baik, sesuai dengan sumber
daya alam Indonesia, guna melindungi taman nasional. Ada 4 macam kegiatan
utama, yaitu sistem deteksi dini dan peringatan dini, pemadaman dini kebakaran
hutan, kegiatan penyuluhan dan humas, dan pencegahan kebakaran hutan secara
partisipatif (Workshop FFPMP 2, 2006).
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Sebaran Titik Panas Tahunan
Berdasarkan data satelit NOAA-AVHRR (Gambar 2), maka jumlah titik
panas pada tahun 2004 memiliki jumlah lebih banyak dari pada jumlah titik panas
tahun 2000, tahun 2001, tahun 2002, dan tahun 2003. Pada tahun 2000, tahun
2001, tahun 2002, dan tahun 2003 hanya terdapat secara berurutan 220 titik, 468
titik, 1577 titik, dan 2608 titik, sedangkan pada tahun 2004 terdapat sebanyak
3178 titik.
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 J u m lah T it ik P an a s
Jumlah Titik Panas 220 468 1577 2608 3178 Tahun 2000 Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004
Gambar 2. Jumlah Titik Panas di Propinsi Jambi Tahun 2000-2004 (Sumber data
titik panas: Satelit NOAA, FFMP2-PHKA / JICA).
Jumlah titik panas meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini memberi indikasi
bahwa pengendalian kebakaran di Propinsi Jambi belum efektif atau belum
berhasil menurunkan jumlah kejadian kebakaran. Kebijakan pemerintah seperti
Kebijakan Tanpa Pembakaran (Zero Burning Policy) di Propinsi Jambi belum
diterapkan secara penuh yang mengakibatkan jumlah titik panas dari tahun ke
tahun terus meningkat.
0 100 200 300 400 500 600
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des
Bulan
Jumlah Titik Panas Curah Hujan (mm)
B. Sebaran Titik Panas Bulanan Tahun 2000-2004
Jumlah curah hujan bulanan mempengaruhi jumlah titik panas bulanan
(Gambar 3) dalam kurun waktu tahun 2000-2004. Rata-rata jumlah titik panas
yang rendah terdapat pada bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, November
dan Desember. Bulan-bulan tersebut memiliki rata-rata jumlah curah hujan
bulanan yang tinggi. Bulan Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober memiliki
rata-rata jumlah curah hujan bulanan yang kecil dan rata-rata jumlah titik panas
yang tinggi. Rata-rata jumlah titik panas tertinggi bulanan sebesar 533,4 titik
terjadi pada bulan Agustus dengan rata-rata jumlah curah hujan sebesar 133,68
mm. Rata-rata jumlah titik panas terendah pada bulan Desember sebesar 1 titik
dengan rata-rata curah hujan sebesar 185,54 mm. Curah hujan tahunan di Propinsi
Jambi periode tahun 2000-2004 sebesar 1950,9 mm/tahun.
Gambar 3. Jumlah Titik Panas Bulanan dan Jumlah Curah Hujan Bulanan di
Propinsi Jambi Tahun 2000-2004 (Sumber data titik panas dan curah
hujan: Satelit NOAA, FFMP2-PHKA / JICA, Badan Meteorologi dan
Geofisika).
Gambar 3 menunjukkan frekuensi terjadinya kebakaran yang tinggi pada
bulan Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober. Pada bulan-bulan tersebut
sangat perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya kebakaran. Rata-rata
jumlah hari hujan bulanan tertinggi sebesar 16,8 hari per bulan adalah bulan
Februari. Rata-rata jumlah hari hujan terendah sebesar 12,2 hari per bulan adalah
bulan Juli. Pada setiap bulannya, rata-rata jumlah hari hujan pada setiap bulan
selama periode tahun 2000-2004 cukup tinggi, namun yang membedakan adalah
rata-rata curah hujan. Bulan Maret dan bulan Desember memiliki rata-rata jumlah
hari hujan sama sebesar 16,2 hari per bulan, namun rata-rata curah hujan pada
bulan Maret 174,7 mm dan bulan Desember 185,54 mm. Jumlah rata-rata hari
hujan tahunan Propinsi Jambi periode tahun 2000-2004 sebesar 170,2 hari per
tahun.
Tabel 5. Curah Hujan dan Hari Hujan Bulanan Propinsi Jambi Tahun 2000-2004
Bulan
Rata-rata
(Hari)
Curah Hujan
(mm)
Jan 13.8 226.56
Feb 16.8 328.26
Mar 16.2 174.7
Apr 13.8 96.52
May 14 138.32
Jun 12.4 110.26
Jul 12.2 122.14
Aug 13.2 133.68
Sep 11.8 103.3
Oct 14.6 160.34
Nov 15.2 171.3
Dec 16.2 185.54
Jumlah 170.2 1950.9
Waktu terjadinya titik panas (Lampiran 6) adalah pada pukul 07.00-pukul
12.00 WIB. Terjadinya titik panas dimungkinkan adanya radiasi maksimum
matahari pada hari sebelumnya atau juga adanya pembakaran oleh masyarakat
sekitar hutan dengan tujuan membuka lahan untuk perladangan.
C. Sebaran Titik Panas Menurut Areal Penutupan Lahan Tahun 2000-2004
Pola sebaran titik panas di dalam kawasan hutan di Propinsi Jambi dalam
kurun waktu tahun 2000-2004 (Gambar 4), menunjukkan rata-rata jumlah titik
panas paling tinggi pada areal hak pengusahaan hutan (HPH), yaitu sebesar 371,6
titik per tahun, kemudian diikuti areal hutan tanaman industri (HTI) sebanyak 82,6
titik per tahun, areal hutan suaka alam dan hutan wisata sebanyak 44,8 titik per
tahun dan jumlah titik panas paling rendah terdapat di areal hutan lindung, yaitu
sebanyak 11,8 titik per tahun. Di luar kawasan hutan, jumlah titik panas paling
tinggi terdapat pada areal lahan milik sebesar 815,4 titik per tahun, kemudian
diikuti areal transmigrasi (TRA) sebesar 156,8 titik per tahun dan paling rendah
pada areal perkebunan (KUB) sebesar 127 titik per tahun.
Adanya sejumlah titik panas yang terjadi pada areal lahan milik, TRA,
KUB, dan HTI mungkin merupakan kegiatan adanya pembakaran dalam rangka
penyiapan lahan untuk areal pertanian atau kehutanan. Pada areal HPH, HSA-W
dan HL, terjadinya titik panas kemungkinan oleh adanya pembukaan areal hutan
untuk areal perladangan atau mungkin juga kebakaran biasa (bukan pembakaran).
Pembakaran dalam rangka pembukaan lahan dalam kegiatan perkebunan lebih
banyak disebabkan oleh pertimbangan ekonomis dari pada ekologis (Hadisuparto,
2003). Untuk membersihkan lahan hutan menjadi lahan yang siap dijadikan
perkebunan atau HTI, pengusaha menggunakan sistem tebas bakar (Slash and
Burn), suatu cara pembersihan lahan yang murah. Saharjo (2002), menyatakan
bahwa timbulnya kebakaran besar dan beraturan dalam suatu wilayah HPH
tertentu merupakan indikasi telah terjadi sesuatu yang terencana dan sistematis,
yaitu pembakaran limbah vegetasi sisa tebangan untuk tujuan komersial seperti
penyiapan lahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan telah berkali-kali terjadinya
kebakaran, namun yang sesungguhnya adalah pembakaran yang disengaja ataupun
karena kelalaian. Dapat dikatakan bahwa penyebab timbulnya kebakaran hutan
yang hampir terjadi pada setiap tahun adalah akibat dari kebijakan konversi lahan
yang dikeluarkan oleh pemerintrah yang bertujuan untuk mengkonversi hutan
(primer maupun sekunder) menjadi hutan tanaman maupun perkebunan.
Gambar 4. Jumlah Titik Panas Menurut Areal Penutupan Lahan Propinsi Jambi
Tahun 2000-2004 (Sumber data titik panas: Satelit NOAA,
FFMP2-PHKA / JICA).
Rata-rata Jumlah Hotspot
0 150 300 450 600 750 900 Rata-rata Jumlah
Jumlah Titik Panas per Tahun
Jumlah Titik Panas per tahun 371.6 82.8 44.8 11.8 127 156.8 815.4
D. Sebaran Titik Panas Pada Setiap Kabupaten Tahun 2000-2004
Sebaran titik panas pada setiap kabupaten di Propinsi Jambi (Gambar 5)
menunjukkan bahwa rata-rata jumlah titik panas tertinggi terdapat di Kabupaten
Tanjung Jabung, yaitu sebesar 853 titik per tahun. Diikuti Kabupaten Batanghari
terdapat 430,6 titik per tahun, Kabupaten Sarolangun Bangko sebanyak 194,2 titik
per tahun, Kabupaten Bungo Tebo sebanyak 141,2 titik per tahun, dan Kabupaten
Kerinci sebanyak 27,2 titik per tahun. Jumlah titik panas terendah, terdapat di
pada Kodya Jambi sebanyak 1,6 titik per tahun. Kabupaten Tanjung Jabung
merupakan daerah yang paling rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Kemungkinan kebakaran hutan dan lahan di kabupaten ini terjadi akibat kegiatan
perladangan di dalam dan di sekitar kawasan hutan dimana penerapan Zero
Burning sulit dilaksanakan bagi masyarakat umum.
Gambar 5. Jumlah Titik Panas Tahunan Pada Setiap Kabupaten di Propinsi Jambi
Tahun 2000-2004 (Sumber data titik panas: Satelit NOAA,
FFMP2-PHKA / JICA).
E. Indeks Kekeringan dan Terjadunya Titik Panas di Propinsi Jambi Tahun
2000-2004
Berdasarkan data suhu maksimum, kelembaban udara dan curah hujan
harian tahun 2000-2004 pada stasiun pengamat cuaca di Propinsi Jambi, maka
didapatkan nilai Indeks Kekeringan Keetch-Byram (KBDI) Propinsi Jambi tahun
2000-2004. Pada Gambar 6, Gambar 7, Gambar 8, Gambar 9, dan Gambar 10
0 150 300 450 600 750 900
Jumlah Titik Panas per Tahun
Jumlah Titik Panas per Tahun 430.6 141.2 27.2 1.6 194.2 815.4 Batanghari Bungo Tebo Kerinci Kodya Jambi Sarolangun
terlihat pola dari indeks kekeringan di Propinsi Jambi. Pada setiap gambar
diplotkan pula waktu terjadinya titik panas. Secara umum terlihat bahwa terjadi
titik panas pada saat nilai indeks mencapai kelas Sedang (1000-1499) dan kelas
Tinggi (> 1500). Titik panas yang terjadi pada waktu kelas Rendah (0-999)
dimungkinkan dapat terjadi karena karena ada perubahan dalam rangka persiapan
lahan, atau terjadi radiasi matahari maksimum yang mengakibatkan keringnya
bahan bakar.
Sebaran titik panas pada setiap kelas indeks kekeringan di Propinsi Jambi
tahun 2000-2004 (Tabel 6), menunjukkan bahwa sebaran titik panas paling tinggi
pada kelas Sedang (1000-1499) sebesar 5714 titik, kemudian diikuti kelas Tinggi
(>1500) sebesar 1897 titik, dan sebaran titik panas paling rendah pada kelas
Rendah (0-999) sebesar 440 titik. Adanya titik panas pada kelas Rendah
kemungkinan terjadi adanya pembakaran dalam rangka penyiapan lahan atau
kebakaran biasa yang juga bisa diakibatkan adanya pengeringan bahan bakar pada
hari-hari sebelumnya.
Tabel 6. Jumlah Titik Panas Pada Setiap Kelas Indeks Kekeringan di Propinsi
Jambi Tahun 2000-2004
Kelas Indeks
Kekeringan
Jumlah Titik Panas
Jumlah
Tahun
2000
Tahun
2001
Tahun
2002
Tahun
2003
Tahun
2004
Rendah (Low) 216 6 168 7 43 440
Sedang
(Moderate) 4 423 514 2507 2266 5714
Tinggi (High) 0 39 895 94 869 1897
Jumlah 220 468 1577 2608 3178 8051
0 500 1000 1500 2000 01/01/00 01/02/00 01/03/00 01/04/00 01/05/00 01/06/00 01/07/00 01/08/00 01/09/00 01/10/00 01/11/00 01/12/00 Date KBDI
KBDI Kejadian Titik Panas
HIGH
MODERATE
Gambar 6.Grafik KBDI Tahun 2000
Gambar 7.Grafik KBDI Tahun 2001
0 500 1000 1500 2000 01/01/01 01/02/01 01/03/01 01/04/01 01/05/01 01/06/01 01/07/01 01/08/01 01/09/01 01/10/01 01/11/01 01/12/01 Date KBDIDI today Kejadian Titik Panas
HIGH
MODERATE
Gambar 8.Grafik KBDI Tahun 2002
0 500 1000 1500 2000 01/01/02 01/02/02 01/03/02 01/04/02 01/05/02 01/06/02 01/07/02 01/08/02 01/09/02 01/10/02 01/11/02 01/12/02 Date KBDIDI today Kejadian Titik Panas
HIGH
MODERATE
Gambar 9.Grafik KBDI Tahun 2003
0 500 1000 1500 2000 01/01/03 01/02/03 01/03/03 01/04/03 01/05/03 01/06/03 01/07/03 01/08/03 01/09/03 01/10/03 01/11/03 01/12/03 Date KBDIDI today Kejadian Titik Panas
HIGH
MODERATE
Gambar 10.Grafik KBDI Tahun 2004
0 500 1000 1500 2000 01/01/04 01/02/04 01/03/04 01/04/04 01/05/04 01/06/04 01/07/04 01/08/04 01/09/04 01/10/04 01/11/04 01/12/04 Date KBDIDI today Kejadian Titik Panas
HIGH
MODERATE