• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kekayaan Jenis Anggrek

17 Trixspermum Trixspermum centipede 7

4.3 Struktur Vegetasi Anggrek

4.3.1 Indeks Nilai Penting Anggrek Teresterial.

Indeks nilai penting anggrek teresterial pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 7. Indeks Nilai Penting Anggrek Teresterial pada Ketinggian 1200-1300 m dpl Ketinggian 1200-1300 m dpl No Jenis KR (%) FR (%) INP (%) 1 Anoectochillus longicalcaratus 16.67 22.22 38.89 2 Apostasia sp. 2.08 11.11 13.19 3 Calanthe chrysoglossoides 4.17 11.11 15.28 4 Liparis rhedii 25.00 22.22 47.22 5 Liparis nervosa 22.92 11.11 34.03 6 Phaius sp. 7.29 11.11 18.40 7 Spathoglottis apendicula 21.88 11.11 32.99

Total 100% 100% 200%

KR : Kerapatan Relatif (%) FR : Frekuensi Relatif (%) INP: Indeks Nilai Penting (%)

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa Indeks Nilai Penting (INP) anggrek terrestrial pada ketinggian 1200-1300 m dpl berkisar antara 13,19–47,22 %. Pada ketinggian 1200- 1300 m dpl, INP tertinggi ditempati oleh spesies Liparis rhedii dengan nilai sebesar 47,22 % sedangkan INP terendah ditempati oleh spesies Apostasia sp. dengan nilai sebesar 13,19 %.

Tingginya nilai INP jenis tertentu menunjukkan bahwa jenis tersebut dapat beradaptasi pada lokasi ini tepatnya dibawah naungan jenis-jenis pohon yang terdapat pada lokasi ini, terutama jenis yang dominan. Keadaan lingkungan seperti suhu udara yang berkisar 20,10C, intensitas cahaya berkisar 900 lux dengan kelembaban rata-rata 92,6% sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jenis tersebut. Dalam hal ini keadaan lingkungan pada ketinggian 1200-1300 m dpl sangat mendukung bagi pertumbuhan jenis Liparis rhedii. Menurut Suin (2002) faktor lingkungan sangat menentukan penyebaran dan pertumbuhan suatu organisme dan tiap jenis hanya dapat hidup pada kondisi abiotik tertentu yang berada dalam kisaran toleransi tertentu yang cocok bagi organisme tersebut. Selanjutnya Ewusie (1990), menyatakan bahwa cahaya, temperatur dan air secara ekologis merupakan faktor lingkungan yang penting bagi pertumbuhan jenis anggrek teresterial ini. Menurut Latif (1960), Anggrek genus Liparis tumbuh baik pada suhu 20-24°

Untuk mengetahui nilai INP anggrek teresterial pada ketinggian 1300-1400 m dpl dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.

C dan kelembaban udara rata- rata 60-90.

Tabel 8. Indeks Nilai Penting Anggrek Teresterial pada Ketinggian 1300-1400 m dpl Ketinggian 1300-1400 m dpl No Jenis KR (%) FR (%) INP (%) 1 Apostasia sp. 73.333 50 123.333 2 Liparisrhedii 26.667 50 76.667 33

KR : Kerapatan Relatif (%) FR : Frekuensi Relatif (%) INP: Indeks Nilai Penting (%)

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa Indeks Nilai Penting (INP) anggrek terrestrial pada ketinggian 1300-1400 m dpl berkisar antara 76,67–12,33 %. Pada ketinggian 1300- 1400 m dpl, INP tertinggi ditempati oleh spesies Apostasia sp. dengan nilai sebesar 123,33 % sedangkan INP terendah ditempati oleh spesies Liparis rhedii dengan nilai sebesar 76,67 %.

Pada ketinggian ini cahaya lebih sedikit sampai pada lantai hutan. Pada ketinggian ini kisaran suhu berada pada 22,330 C dengan kelembaban udara 75,67 % dan inte nsitas cahaya 530 lux. Keadaan ini menyebabkan hanya beberapa jenis anggrek terrestrial yang dapat tumbuh, khususnya jenis Apostasia sp. yang diketahui memiliki kisaran toleransi yang cukup luas. Menurut Heddy & Kurniati (1996), anggrek dari jenis Apostasia dapat hidup pada daerah yang ternaungi dengan kelembaban udara yang tidak terlalu lembab, berkisar antara 60-80 % dengan suhu udara antara 18-220 C. Keadaan lingkungan pada ketinggian ini sangat cocok bagi pertumbuhan jenis Apostasia sp. sehingga jenis ini banyak ditemukan pada ketinggian 1300-1400 m dpl.

Untuk mengetahui nilai INP anggrek teresterial pada ketinggian 1400-1500 m dpl dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini.

Tabel 9. Indeks Nilai Penting Anggrek Teresterial pada Ketinggian 1400-1500 m dpl Ketinggian 1400-1500 m dpl No Jenis KR (%) FR (%) INP (%) 1 Calanthe chrysoglossoides 28 25 53 2 Corybas stenotribonos 24 12.5 36.5 3 Paphiopedilum tonsum 4 12.5 16.5 4 Phaius sp. 36 37.5 73.5 5 Spathoglottis sp. 8 12.5 20.5

KR : Kerapatan Relatif (%) FR : Frekuensi Relatif (%) INP: Indeks Nilai Penting (%)

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa Indeks Nilai Penting (INP) anggrek terrestrial pada ketinggian 1400-1500 m dpl berkisar antara 16,5–73,5 %. Pada ketinggian 1400-1500 m dpl, INP tertinggi ditempati oleh spesies Phaius sp. dengan nilai sebesar 73,5 % sedangkan INP terendah ditempati oleh spesies Paphiopedillum tonsum dengan nilai sebesar 16,5 %.

Pada ketinggian ini kisaran suhu berada pada 20,670 C dengan kelembaban udara 71,33 % dan intensitas cahaya 438,67 lux. Keadaan ini sangat mendukung bagi pertumbuhan anggrek Phaius sp. Menurut Heddy & Kurniati (1996), Phaius sp. Merupakan anggrek teresterial yang umum ditemukan pada ketinggian 1500 m dpl di daerah pegunungan Jawa. Jenis ini dapat hidup pada daerah yang ternaungi dengan kelembaban udara yang tidak terlalu lembab, berkisar antara 75-92 % dengan suhu udara antara 17-210

Untuk mengetahui nilai INP anggrek teresterial pada ketinggian 1500-1600 m dpl dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini.

C. Keadaan lingkungan pada ketinggian ini sangat cocok bagi pertumbuhan jenis Phaius sp. sehingga jenis ini banyak ditemukan pada ketinggian 1400-1500 m dpl.

Tabel 10. Indeks Nilai Penting Anggrek Teresterial pada Ketinggian 1500-1600 m dpl Ketinggian 1500-1600 m dpl No Jenis KR (%) FR (%) INP (%) 1 Anoectochillus longicalcaratus 13.158 12.5 25.658 2 Apostasia sp. 60.526 50 110.526 3 Calanthechrysoglossoides 18.421 25 43.421 4 Corybasstenotribonos 7.895 12.5 20.395

KR : Kerapatan Relatif (%) FR : Frekuensi Relatif (%) INP: Indeks Nilai Penting (%)

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa Indeks Nilai Penting (INP) anggrek terrestrial pada ketinggian 1500-1600 m dpl berkisar antara 20,395–110,526 %. Pada ketinggian 1500-1600 m dpl, INP tertinggi ditempati oleh spesies Apostasia sp. dengan nilai sebesar 110,526 % sedangkan INP terendah ditempati oleh spesies Corybas stenotribonos dengan nilai sebesar 20,395 %.

Pada ketinggian ini kisaran suhu berada pada 210 C dengan kelembaban udara 80,3 % dan intensitas cahaya 563,3 lux. Keadaan ini sangat mendukung bagi pertumbuhan anggrek Apostasia sp. Menurut Heddy & Kurniati (1996), anggrek dari jenis Apostasia dapat hidup pada daerah yang ternaungi dengan kelembaban udara yang tidak terlalu lembab, berkisar antara 60-80 % dengan suhu udara antara 18-220

Untuk mengetahui nilai INP anggrek teresterial pada ketinggian 1600-1700 m dpl dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini.

C.

Tabel 11. Indeks Nilai Penting Anggrek Teresterial pada Ketinggian 1600-1700 m dpl Ketinggian 1600-1700 m dpl No Jenis KR (%) FR (%) INP (%) 1 Lepidogynelongifolia 50 40 90 2 Phaius sp. 38.89 40 78.89 3 Spathoglottisaurea 11.11 20 31.11

KR : Kerapatan Relatif (%) FR : Frekuensi Relatif (%) INP: Indeks Nilai Penting (%)

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa Indeks Nilai Penting (INP) anggrek terrestrial pada ketinggian 1600-1700 m dpl berkisar antara 31,11–90 %. Pada ketinggian 1600-1700 m dpl, INP tertinggi ditempati oleh spesies Lepidogyne longifolia dengan nilai sebesar 90 % sedangkan INP terendah ditempati oleh spesies Spathoglottis aurea

dengan nilai sebesar 31,11 %.

Pada ketinggian ini kisaran suhu berada pada 19,50 C dengan kelembaban udara 94,3 % dan intensitas cahaya 426,6 lux. Pada ketinggian naungan tajuk relatif cukup rapat namun pada beberapa tempat terdapat rumpang yang memungkinkan cahaya menembus lantai hutan. Anggrek Lepidogyne longifolia yang cukup mendominasi pada ketinggian ini dianggap memiliki toleransi yang cukup baik pada keadaan lingkungan seperti ini.

Menurut Heddy & Kurniati (1996), anggrek dari jenis Lepidogyne longifolia

dapat hidup pada daerah yang ternaungi dengan kelembaban udara berkisar antara 70- 90 % atau lebih dengan suhu udara antara 18-220 C sehingga jenis ini umum ditemukan pada ketinggian ini.

Dokumen terkait