• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persentase penduduk miskin

C. Komoditas Jagung

2.5 KEMANDRIRIAN DAERAH

2.5.1 Indeks Pembangunan Desa (IPD)

Dengan telah disahkannya UU No. 6 tahun 2014 tentang desa, maka desa menjadi prioritas pembangunan yang diawali dengan Nawacita ke-tiga Pemerintah pusat. Pembangunan perdesaan adalah konsep pembangunan yang berbasis perdesaan dengan memperhatikan ciri khas social dan budaya masyarakat yang tinggal di kawasan perdesaan yang umumnya masih memiliki dan melestarikan kearifan lokal. Pembangunan perdesaan diharapkan menjadi solusi bagi perubahan social masyarakat desa, dan menjadikan desa sebagai basis perubahan.

Saat ini pembangunan desa yang dilaksanakan pada seluruh desa di Indonesia belum didasarkan pada suatu acuan baku berupa standar pelayanan minimal desa (Bappenas, 2014). Standar Pelayanan Minimal Desa (SPM Desa) merupakan hak masyarakat desa terhadap pelayanan-pelayanan sebagai warga yang harus disediakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah Provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan pemerintah desa di desa.

Dalam rangka menilai tingkat kemajuan atau perkembangan desa, maka Desa dibagi menjadi 3 (tiga) klasifikasi yaitu: Desa Mandiri, Desa Berkembang, dan Desa Tertinggal. Desa Mandiri adalah Desa yang telah terpenuhi SPM Desa mencakup beberapa aspek yaitu: kebutuhan social dasar, infrastruktur dasar sarana dasar, pelayanan umum, dan penyelenggaraan pemerintahan desa, serta kelembagaan desa yang berkelanjutan. Desa Berkembang adalah Desa yang sudah terpenuhi SPM Desa pada semua aspek tetapi pengelolaannya belum menunjukkan keberlanjutan. Desa Tertinggal adalah Desa yang belum terpenuhi SPM Desa pada aspek kebutuhan social dasar, infratruktur dasar, sarana dasar, pelayanan umum, dan penyelenggaraan pemerintahan. IPD merupakan suatu ukuran yang disusun untuk menilai tingkat kemajuan atau perkembangan desa di Indonesia dengan unit analisisnya adalah Desa. Pengukuran IPD bersifat village specific.

Dalam proses penilaiannya, IPD memiliki 5 dimensi yang dijabarkan ke dalam 42 indikator. Kelima dimensi tersebut adalah: (1) Pelayanan Dasar, (2) Kondisi Infrastruktur, (3) Aksesibilitas/Transportasi, (4) Pelayanan Umum, dan (5) Penyelenggaraan Pemerintah.

Pelayanan dasar

Pelayanan dasar mewakili aspek pelayanan dasar untuk mewujudkan bagian dari kebutuhan dasar, khusus untuk pendidikan dan kesehatan. Variabel yang termasuk sebagai komponen penyusunnya meliputi ketersediaan dan akses terhadap fasilitas pendidikan seperti TK, SD, SMD, dan SMA; serta ketersediaan dan akses terhadap fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, rumah sakit bersalin, puskesmas/pustu, tempat praktek dokter,

poliklinik/balai pengobatan, tempat praktek bidan, poskedes, polindes, dan apotek.

Kondisi Infrastruktur

Mewakili kebutuhan dasar ; Sarana; Prasarana; Pengembangan Ekonomi Lokal; dan Pemanfaatan Sumberdaya Alam secara berkelanjutan dengan memisahkan aspek aksesibilitas/transportasi. Variabel-variabel penyusunnya mencakup ketersediaan infrasturktur ekonomi seperti: kelompok pertokoan, minimarket, maupun took kelontong, pasar, restoran, rumah makan, maupun warung/kedai makanan, akomodasi hotel atau penginapan, serta bank; ketersediaan infrastruktur energy seperti: listrik, penerangan jalan, dan bahan bakar untuk memasak; ketersediaan infrastruktur air bersih dan sanitasi seperti: sumber air minum, sumber air mandi/cuci, dan fasilitas buang air besar; serta ketersediaan dan kualitas infrastruktur komunikasi dan informasi seperti: komunikasi menggunakan telepon seluler, internet, dan pengiriman pos/barang

Aksesibilitas/Transportasi

Aksesibilitas/transportasi dipisahkan sebagai dimensi tersendiri dalam indicator pembangunan desa dengan pertimbangan sarana dan prasarana transportasi memiliki kekhususan dan prioritas pembangunan desa sebagai penghubung kegiatan social ekonomi alam desa. Variabel-variabel penyusunnya meliputi ketersediaan dan akses terhadap sarana transportasi seperti: lalu lintas dan kualitas jalan, aksesibilitas jalan, ketersediaan dan operasional angkutan umum; dan aksesibilitas transportasi seperti: waktu tempuh per kilometer transportasi ke kantor camat, biaya per kilometer transportasi ke kantor camat, waktu tempuh per kilometer transportasi ke kantor bupati/walikota, biaya per kilometer transportasi ke kantor bupati/walikota.

Pelayanan Umum

Pelayanan umum merupakan upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administrative dengan tuuan memperkuat demokrasi, kohesi social, perlindungan lingkungan, dan sebagainya. Karena kekhususannya, variable pelayanan administrative dinyatakan sebagai dimensi tersendiri (Penyelenggaraan Pemerintahan). Begitupun dengan variable pendidikan, kesehatan, transportasi, dan lainnya menjadi dimensi tersendiri yang telah dijelaskan sebelumnya. Pelayanan dalam dimensi ini mewakili aspek lingkungan dan aspek pemberdayaan masyarakat serta mengacu pada ketersediaan potensi desa. Aspek lingkungan dalam hal ini terkait dengan kesehatan lingkungan masyarakat, sedangkan aspek pemberdayaan masyarakat diwakili dengan keberadaan kelompok kegiatan masyarakat. Oleh karena itu, variable-variabel penyusun dimensi ini mencakup penanganan kesehatan masyarakat seperti : penanganan kejadian luar biasa (KLB), dan penanganan gizi buruk; serta

ketersediaan fasilitas olah raga seperti ketersediaan lapangan olah raga dan kelompok kegiatan olah raga.

Penyelenggaraan pemerintah

Penyelenggaraan pemerintahan mewakili indikasi kinerja pemerintahan desa merupakan bentuk pelayanan administrative ang diselenggarakan penyelenggara pelayanan bagi warga yang dalam hal ini adalah pemerintah. Variable-variabel penyusunnya meliputi kemandirian seperti: kelengkapan pemerintahan desa, otonomi desa, dan asset/kekayaan desa; serta kualitas sumber daya manusia seperti: kualitas SDM kepala desa dan sekretaris desa.

Berdasarkan data 2014 maka nilai IPD untuk desa-desa di pulau Kalimantan sebesar 52,41 masih berada di bawah rata-rata nasional sebesar 55,71. Nilai tersebut menggambarkan bahwa secara umum desa-desa di pulau Kalimantan dalam status desa berkembang.

Gambar 2-35

Nilai IPD Antar Pulau di Indonesia

Sumber: Bappenas, 2014

Bila dilihat lebih dalam pada pulau Kalimantan, maka Provinsi Kalimantaan Timur menduduki IPD tertinggi kedua (56,37) setelah Provinsi Kalimantan Selatan (56,44) 32,05 46,89 52,41 52,46 55,71 55,87 56,38 65,03

Papua Maluku Kalimantan Nusa Tenggara

Gambar 2-36

Nilai IPD Provinsi Kalimantan Timur dibanding Provinsi lain di Pulau Kalimantan

Sumber: Bappenas, 2014

Berdasarkan dimensinya maka pada Provinsi Kalimatan Timur nilai IPD yang paling tinggi adalah adalah Aksesibilitas/transportasi (67,76) sedangkan yang paling rendah adalah Kondisi Infrastruktur (40,17). Untuk melihat lebih jauh lagi, posisi IPD Kabupaten Kutai Timur dibanding dengan nilai rata-rata IPD Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten/kota lain sebagai berikut:

Gambar 2-37

Nilai IPD Kabupaten Kutai Timur dibandingkan dengan kabupaten/kota se Kalimantan Timur Sumber: Bappenas, 2014 42,63 49,85 51,32 52,41 56,37 56,44 0 10 20 30 40 50 60 KALIMANTAN UTARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN SELATAN 43,29 53,23 53,99 56,37 56,94 58,14 60,91 65,68 0 10 20 30 40 50 60 70 MAHAKAM HULU KUTAI BARAT BERAU KALIMANTAN TIMUR KUTAI TIMUR PASER KUTAI KARTANEGARA PENAJAM PASER UTARA

Nilai rata-rata IPD Kabupaten Kutai Timur sebesar 56,94 masih berada di atas rata-rata IPD Provinsi Kalimantan Timur yang sebesar 56,37. Akan tetapi nilai ini masih kalah jauh dari beberapa daerah seperti Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara dan Paser. Secara umum nilai IPD kutim sebagai berikut:

Tabel 2-113

Nilai IPD seluruh kabupaten se Kalimantan Timur

No Kab 2014 IPD Dasar Pel. Infrastruktur Kondisi Aksesibilitas/ Transportasi Pelayanan Umum Penyelenggaraan Pemerintahan Tertinggal Berkembang Mandiri Jumlah Desa

1. Paser 58,14 62,33 41,91 71,12 55,82 61,26 17,27 79,14 3,60 139 2. Kubar 53,23 54,71 34,58 67,98 54,73 62,93 31,58 67,37 1,05 190 3. Kukar 60,91 63,39 48,23 71,29 57,85 66,48 12,44 82,90 4,66 193 4. Kutim 56,94 60,97 43,41 63,28 57,62 63,69 16,42 80,60 2,99 134 5. Berau 53,99 59,66 33,25 65,29 58,40 59,47 29,90 70,10 0,00 97 6. PPU 65,68 66,94 50,63 80,98 64,12 69,75 0,00 96,67 3,33 30 7. Mahakam Ulu 43,29 45,36 23,94 52,83 44,12 63,27 68,00 32,00 0,00 50 Kaltim 56,37 59,46 40,17 67,76 56,23 63,46 23,17 74,31 2,52 833

Sumber: Bappenas Tahun 2014

Bila dilihat tiap kecamatan maka akan terlihat sebagai berikut:

Tabel 2-114

Jumlah Desa Mandiri, Berkembang, dan Tertinggal tiap kecamatan di Kabupaten Kutai Timur

No Kecamatan Jumlah Desa Status

Mandiri (%) Berkembang (%) Tertinggal (%)

1. BatuAmpar 6 0 0 3 50,00 3 50,00 2. Bengalon 11 0 0 7 63,64 4 36,36 3. Busang 6 0 0 4 66,67 2 33,33 4. Kaliorang 7 0 0 7 100,00 0 0,00 5. Karangan 7 0 0 6 85.71 1 14,29 6. Kaubun 8 0 0 8 100.00 0 0,00 7. Kombeng 7 0 0 7 100,00 0 0,00 8. Long Mengsangat 7 0 0 6 85,71 1 14,29 9. MuaraAncalong 8 0 0 5 62,50 3 37,50 10. MuaraBengkal 6 0 0 6 100,00 0 0,00 11. MuaraWahau 10 0 8 80,00 2 20,00 12. RantauPulung 8 0 0 8 100,00 0 0,00 13. Sandaran 7 0 0 5 71,43 2 28,57 14. Sangatta Selatan 4 1 25 3 75,00 0 0,00 15. Sangatta Utara 3 3 100 0 0,00 0 0,00

No Kecamatan Jumlah Desa Status

Mandiri (%) Berkembang (%) Tertinggal (%)

16. Sangkulirang 15 0 0 13 86,67 2 13,33

17. Telen 7 0 0 4 57,14 3 42,86

18. TelukPandan 6 0 0 6 100,00 0 0,00

Total Desa 133 4 3,01 106 79,70 23 17,29

Sumber: Bappenas Tahun 2015, Data diolah

Kabupaten Kutai Timur memiliki 133 desa yang tersebar pada 18 kecamatan. Dari 133 desa terdapat 4 desa (3,01%) berstatus Mandiri, 106 Desa (79,70%) berstatus Berkembang, dan 23 desa (17,29%) berstatus Tertinggal.

Gambar 2-38

Persentase status desa di Kabupaten Kutai Timur

Sumber: Bappenas,2015 (data diolah)

Dari 3,01% atau 4 desa Mandiri, 3 berada di Kecamatan Sangatta Utara, dalam hal ini hanya kecamatan Sangatta Utara yang seluruh desanya berstatus Mandiri. Satu desa Mandiri lainnya terletak di kecamatan Sangatta Selatan. [CATEGORY NAME] 3,01% [CATEGORY NAME] 79,70% [CATEGORY NAME] 17,29% Mandiri Berkembang Tertinggal

Gambar 2-39

Perbandingan jumlah Desa Mandiri, Desa Berkembang dan Desa Tertinggal antar Kecamatan di Kabupaten Kutai Timur

Sumber: Bappenas,2015 (data diolah)

Terdapat 10 kecamatan di wilayah Kabupaten Kutai Timur yang memiliki desa tertinggal di wilayahya masing-masing yaitu: 1. Kecamatan Muara Ancalong, 2. Kecamatan Busang, 3. Kecamatan Long Mengsangat, 4. Kecamatan Muara Wahau, 5. Kecamatan Telen, 6. Kecamatan Batu Ampar, 7. Kecamatan Bengalon, 8. Kecamatan Sangkulirang, 9. Kecamatan Sandaran, 10. Kecamatan Karangan. Selanjutnya terdapat 6 kecamatan yang seluruh desanya merupakan desa berkembang yaitu: 1. Kecamatan Kombeng, 2. Kecamatan Muara Bengkal, 3. Kecamatan Teluk Pandan, 4. Kecamatan Rantau Pulung, 5. Kecamatan Kaliorang, dan 6. Kecamatan Kaubun. Kecamatan Sangatta Selatan desanya adalah gabungan antara desa berkembang dan desa Mandiri. Dan kecamatan terakhir adalah kecamatan Sangatta Utara, yang seluruh desanya adalah desa Mandiri.

Dari 10 kecamatan, terdapat dua kecamatan dengan persentase jumlah desa tertinggalnya diatas 40% yaitu Kecamatan Batu Ampar dan Kecamatan Telen. Sebanyak 50% desa di Kecamatan Batu Ampar adalah desa tertinggal, sedangkan sisanya adalah desa berkembang. Selanjutnya 42,86% desa di Kecamatan Telen adalah desa tertinggal sedangkan sisanya adalah Desa Berkembang. 0 20 40 60 80 100 120

Analisis tiap Kecamatan

Dokumen terkait