BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
65
4.2 PDRB atas Dasar Harga Konstan 2000 di Provinsi Banten tahun 2008 – 2013
67
4.3 Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Provinsi Banten tahun 2008 - 2013
68
4.4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Banten tahun 2008 - 2013
69
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Keterangan Halaman
1 Data 100
2 Data setelah di Interpolasi 102
3 Uji Chow 106
4 Uji Hausman 106
5 Fixed Effect Model 107
6 Uji Normalitas 108
7 Uji Multikolinearitas 108
8 Uji Heteroskedastisitas 109
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Pembangunan merupakan proses yang dapat ditelisik dengan menggabungkan dua dimensi kehidupan. Dimensi pembangunan berjumlah dua sebab tersusun atas manusia dan alam (Sagir, 2009:53). Pembangunan ekonomi pada hakekatnya merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat karena diukur tidak hanya melalui besarnya Produk Domestik Bruto (PDB) suatu Negara saja tetapi juga diukur dari berbagai aspek lain seperti pendidikan, perkembangan teknologi, peningkatan dalam kesehatan, peningkatan dalam infrastruktur serta peningkatan dalam pemerataan pendapatan. Dalam pembangunan ekonomi Indonesia, kesempatan kerja masih menjadi masalah utama. Pokok dari permasalahan ini diakibatkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan jumlah tenaga kerja dengan ketersediaan lapangan pekerjaan di berbagai sektor ekonomi. Ketimpangan antara ketersediaan lapangan kerja dengan banyaknya tenaga kerja yang ada berdampak pada masalah baru yang juga dihadapi Negara-negara berkembang termasuk Indonesia yaitu masalah tingkat pengangguran yang tinggi. Apabila masalah tersebut tidak segera diatasi, maka akan berpotensi menambah tingkat kemiskinan di Indonesia.
Istilah Pengangguran menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja yang selama periode
tertentu tidak bekerja, dan bersedia menerima pekerjaan, serta sedang mencari pekerjaan. Masalah pengangguran memang merupakan masalah yang sulit dipecahkan hingga saat ini. Jumlah penduduk yang bertambah setiap tahunnya mengakibatkan jumlah angkatan kerja meningkat namun tidak disertai dengan meningkatnya kesempatan kerja. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Indonesia pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 mengalami penurunan. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa angka pengangguran sudah berkurang, namun jumlah angka pengangguran yang ada masih cukup besar yaitu sebesar 7.429.598 juta jiwa. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah guna mengurangi jumlah pengangguran. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pihak Kementerian Tenaga Kerja dan Transportasi (Kemenakertrans) adalah dengan memfasilitasi perluasan dan kesempatan kerja, melalui pemagangan dalam negeri dan luar negeri, program padat karya produktif, padat karya inovatif dan wirausaha baru.
Masalah pengangguran terdapat di hamper seluruh provinsi di kepualan Indonesia. Hal itu pun terjadi pula di beberapa Provinsi di Pulau Jawa diantaranya Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I.Yogyakarta, dan Jawa Timur. Berikut tabel prosentase tingkat pengangguran di 6 Provinsi di Pulau Jawa:
Tabel 1.1
Prosentase Tingkat pengangguran di 6 Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2010 – 2013 Provinsi 2010 2011 2012 2013 Banten 13.9 13.28 10.43 10.43 DKI Jakarta 11.18 10.81 10.3 10.3 Jawa Barat 10.45 9.83 9.43 9.43 Jawa Tengah 6.53 6 5.75 5.75 DI Yogyakarta 5.85 4.72 4.03 4.03 Jawa Timur 4.58 4.17 4.12 4.12 Sumber : BPS, 2012 (diolah)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa meskipun tingkat pengangguran di 6 Provinsi di Pulau Jawa mengalami tren menurun, namun tingkat pengangguran pada Provinsi Banten terbilang masih cukup tinggi dibandingkan dengan Provinsi lain yaitu sebesar 10,43% pada tahun 2012. Prosentase tingkat pengangguran di Provinsi Banten apabila dilihat menurut kabupaten/kota juga mengalami tren menurun. Pun begitu, prosentasenya masih cukup besar.
PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan penduduk di suatu wilayah. PDRB merupakan nilai bersih barang dan jasa-jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai tingkat kegiatan ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode (Roby, 2011: 5). Pada kenyataannya, PDRB mempunyai pengaruh terhadap jumlah angkatan kerja yang bekerja dengan asumsi apabila nilai PDRB suatu wilayah meningkat, maka jumlah output dalam seluruh
unit ekonomi di suatu wilayah akan meningkat. Output yang jumlahnya meningkat akan menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan tenaga kerja. Berikut merupakan perbandingan jumlah nilai PDRB dari 6 Provinsi di Pulau Jawa.
Tabel 1.2
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Provinsi Tahun 2010-2013 (Milyar Rupiah)
Provinsi 2010 2011 2012 2013 Banten 88552 94207 100000 105856 DKI Jakarta 395622 422237 449821 477285 Jawa Barat 322224 343111 364405 386838 Jawa Tengah 186993 198270 210848 223099 DI. Yogyakarta 21044 22132 23309 24567 Jawa Timur 342281 366983 393666 419428 Sumber : BPS, 2012 (diolah)
Dari tabel 1.3 dapat dilihat bahwa PDRB di 6 Provinsi di Pulau Jawa terus mengalami peningkatan dari tahun 2010 sampai 2013. Meskipun mengalami tren meningkat, nilai PDRB di Provinsi Banten adalah yang terendah kedua setelah Provinsi D.I Yogyakarta. Peningkatan nilai PDRB yang terjadi di Provinsi Banten selaras dengan berkurangnya tingkat pengangguran di Provinsi tersebut, tetapi dengan jumlah PDRB sebesar 10 triliun pada tahun 2013, tingkat pengangguran di Provinsi Banten masih terbilang cukup tinggi yakni sebesar 10,43% pada tahun 2012.
Selain nilai PDRB suatu wilayah, tingkat upah minimum Kabupaten/Kota (UMK) juga merupakan salah satu faktor yang memengaruhi tingkat pengangguran. Menurut Alghofari (2010) setiap kenaikan tingkat upah akan diikuti oleh turunnya tenaga kerja yang diminta, yang berarti akan menyebabkan meningkatnya pengangguran. Begitu pula sebaliknya apabila tingkat upah turun maka akan diikuti oleh meningkatnya penyerapan tenaga kerja, sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tenaga kerja yang terserap mempunyai hubungan timbal balik dengan tingkat upah. Upah mempunyai pengaruh terhadap jumlah angkatan kerja yang bekerja. Semakin tinggi tingkat upah yang ditetapkan, maka biaya produksi juga semakin meningkat. Sehingga dilakukanlah efisiensi oleh perusahaan dengan cara pengurangan tenaga kerja dan berakibat pada meningkatnya pengangguran. Berikut ini merupakan tingkat UMK di Provinsi Banten:
Tabel 1.3
Perkembangan Upah Minimum Kabupaten/Kota di 6 Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2010-2013 (Dalam Ribuan Rupiah)
Provinsi Tahun 2010 2011 2012 2013 Banten 955,300 1,000,000 1,042,000 1,170,000 DKI Jakarta 1,118,000 1,290,000 1,529,150 2,200,000 Jawa Barat 671,500 732,000 780,000 850,000 Jawa Tengah 660,000 675,000 765,000 830,000 DI Yogyakarta 745,690 808,000 829,660 947,110 Jawa Timur 630,000 705,000 745,000 866,250 Sumber : BPS, 2012 (diolah)
Dari tabel 1.3 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan upah minimum pada setiap Provinsi di Pulau Jawa. Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dapat diukur melalui besarnya PDRB di setiap Provinsi. Dengan meningkatnya tingkat upah minimum Kabupaten/Kota akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dimasa yang akan datang. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan turunnya tingkat pengangguran di Provinsi Banten seperti yang digambarkan tabel 1.1.
Sementara itu pembangunan suatu daerah juga dapat dilihat melalui besaran nilai indeks pembangunan manusia (IPM). Tinggi rendahnya nilai IPM juga menentukan kualitas dari sumber daya manusia di suatu wilayah. Menurut Todaro (1999) dalam jurnal Muhammad Shun (2013), pendidikan memainkan
kunci dalam membentuk kemampuan sebuah Negara berkembang untuk menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Berikut ini merupakan tabel perbandingan jumlah indeks pembangunan manusia di 6 Provinsi di Pulau Jawa:
Tabel 1.4
Indeks Pembangunan Manusia di 6 Provinsi di Pulau Jawa 2010-2013
Provinsi Tahun 2010 2011 2012 2013 Banten 70,48 70,95 71,49 71,90 DKI Jakarta 77,6 77,97 78,33 78,59 Jawa Barat 72,29 72,73 73,11 73,58 Jawa Tengah 72,49 72,94 73,36 74,05 Yogyakarta 75,77 76,32 76,75 77,37 Jawa Timur 71,62 72,18 72,83 73,54 Sumber : BPS RI, 2012
Dari tabel 1.8 diatas dapat dilihat bahwa nilai IPM secara keseluruhan mengalami peningkatan di setiap Provinsi di Pulau jawa dari tahun 2010 sampai 2013. Meskipun mengalami tren meningkat, namun nilai indeks pembangunan manusia di Provinsi Banten merupakan yang terendah di antara Provinsi lain di Pulau Jawa. Hal ini menunjukka bahwa kualitas SDM di Provinsi Banten belum cukup baik. Angka harapan hidup merupakan salah satu komponen untuk mengukur indeks pembangunan manusia di suatu Negara atau wilayah. Besar nilai angka harapan hidup berpengaruh pada nilai indeks pembangunan manusia dan
merepresentasikan keadaan sumber daya manusia yang ada di suatu Negara atau wilayah. Berikut merupakan perbandingan angka harapan hidup pada 6 Provinsi di Pulau Jawa:
Tabel 1.5
Angka Harapan Hidup di 6 Provinsi di Pulau Jawa 2010-2013 Provinsi Tahun 2010 2011 2012 2013 Dki Jakarta 73.20 73.35 73.49 73.56 Jawa Barat 68.20 68.40 68.60 68.84 Jawa Tengah 71.40 71.55 71.71 71.97 D I Yogyakarta 73.22 73.27 73.33 73.62 Jawa Timur 69.60 69.86 70.09 70.37 Banten 64.90 65.05 65.23 65.47 Sumber : BPS RI, 2012
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa angka harapan hidup di 6 Provinsi di Pulau Jawa mengalami peningkatan dari tahun 2010 sampai tahun 2013. Meskipun terjadi peningkatan, angka harapan hidup di Provinsi Banten merupakan yang terendah diantara 6 Provinsi lain. Rendahnya angka harapan hidup merupakan akibat dari banyaknya kasus gizi buruk yang terjadi. Menurut wakil gubernur Banten Rano Karno, salah satu kota di Provinsi Banten yaitu Kota Serang termasuk salah satu daerah yang belum berhasil dalam penanganan gizi buruk. Rendahnya angka harapan hidup ini berdampak pada rendahnya indeks pembangunan manusia di Provinsi Banten.
Berdasarkan data dan uraian diatas mengenai adanya pengaruh pada Produk Domestik Regional Bruto, upah minimum Kabupaten/Kota dan indeks pembangunan manusia terhadap tingkat pengangguran di seluruh Kabupaten/kota di Provinsi Banten, maka penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK),dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap Tingkat Pengangguran di Provinsi Banten Periode 2008-2013”.
B. Perumusan Masalah
Pengangguran merupakan salah satu tolak ukur kondisi sosial ekonomi dalam menilai keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah di suatu daerah. Banyak sekali masalah-masalah yang timbul mengakibatkan naiknya tingkat pengangguran. Tingkat pengangguran di Provinsi Banten dari tahun 2008 hingga tahun 2013 mengalami periode yang relatif baik karena tren yang menurun. Meskipun mengalami penurunan, tingkat pengangguran di Provinsi Banten masih yang paling tinggi dibanding dengan Provinsi lain di pulau Jawa. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap tingkat pengangguran di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Banten agar diketahui faktor-faktor apa saja yang perlu di dukung dan ditingkatkan guna mengurangi tingkat pengangguran. Besarnya tingkat pengangguran dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya PDRB, UMK, dan indeks pembangunan manusia. Oleh karena itu dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara parsial?
2. Bagaimana pengaruh Upah Minimun Kabupaten/Kota (UMK) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara parsial?
3. Bagaimana pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara parsial?
4. Bagaimana pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Upah Minimun Kabupaten/Kota (UMK),dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara simultan?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan dari penelitian ini antara lain:
a. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara parsial.
b. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Upah Minimun Kabupaten/Kota (UMK) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara parsial.
c. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara parsial.
d. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Upah Minimun Kabupaten/Kota (UMK),dan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten secara simultan.
2. Manfaat yang ingin dicapai dari penulisan skripsi ini diantaranya ialah: a. Bagi Penulis
Merupakan suatu pembelajaran yaitu usaha untuk menganalisis pengaruh dari PDRB, UMK, dan IPM terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten. Sehingga penulis dapat mengaplikasikan teori yang didapat selama masa kuliah dengan menganalisa serta menyelesaikan masalah.
b. Bagi Pihak Lain
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna untuk pemerintah sebagai saran untuk pengambil kebijakan agar terciptanya kemajuan dalam pembangunan ekonomi. Selain itu penulis juga berharap penelitian ini menambah ilmu ekonomi khususnya ekonomi pembangunan bagi para pembaca.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori1. Pengangguran
a. Definisi Pengangguran
Pengangguran merupakan suatu ukuran yang dilakukan jika seseorang tidak memiliki pekerjaan tetapi mereka sedang melakukan usaha secara aktif untuk mencari pekerjaan. Pengangguran merupakan suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi mereka belum dapat memperoleh pekerjaan tersebut (Sukirno, 1997).
Menurut Sukirno (1997) dalam skripsi Cholili (2014), pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai penganggur.
Sedangkan dalam ilmu kependudukan (demografi), orang yang mencari kerja masuk dalam kelompok penduduk yang disebut angkatan kerja. Berdasarkan kategori usia, usia angkatan kerja adalah 15-64 tahun. Tetapi tidak semua penduduk yang berusia 15-64 tahun dihitung sebagai angkatan kerja. Yang dihitung sebagai angkatan kerja adalah penduduk berusia 15-64 tahun yang bekerja dan sedang mencari kerja. Tingkat
pengangguran merupakan persentase angkatan kerja yang tidak/belum mendapatkan pekerjaan (Rahardja, 2008 : 376).
Ada dua dasar utama klasifikasi pengangguran, yaitu pendekatan angkatan kerja (labour force approach) dan pendekatan pemanfaatan tenaga kerja (labour utilization approach) (Rahardja, 2008 : 378).
1. Pendekatan Angkatan Kerja (Labour Force Approach)
Pendekatan ini mendefinisikan penganggur sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja.
2. Pendekatan Pemanfaatan Tenaga Kerja (Labour Utilization Approach) Dalam pendekatan ini, angkatan kerja dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a) Menganggur (Unemployed), yaitu mereka yang sama sekali tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Kelompok ini sering disebut juga pengangguran terbuka (open employment).
b) Setengah Menganggur (Underemployed), yaitu mereka yang bekerja, tetapi belum dimanfaatkan secara penuh. Artinya, jam kerja mereka dalam seminggu kurang dari 35 jam.
c) Bekerja penuh (Employed), yaitu mereka yang bekerja penuh atau jam kerjanya mencapai 35 jam per minggu.
b. Jenis-jenis Pengangguran
Menurut Sukirno (1997), pengangguran biasanya dibedakan atas 3 jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya, antara lain:
1. Pengangguran friksional, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya.
2. Pengangguran struktural, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian.
3. Pengangguran konjungtur, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat.
c. Biaya Sosial dari Pengangguran
Pengangguran akan menimbulkan dampak negatif jika sifat pengangguran sudah sangat struktural dan atau kronis (Rahardja, 2008 : 378).
1) Terganggunya Stabilitas Perekonomian
Pengangguran struktural dan atau kronis akan mengganggu stabilitas perekonomian dilihat dari sisi permintaan dan penawaran agregat.
2) Terganggunya Stabilitas Politik
Saat ini pengangguran bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga masalah politik. Sebab dampak social dari pengangguran sudah jauh lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Pengangguran yang tinggi akan meningkatkan
kriminalitas. Biaya ekonomi yang dikeluarkan untuk mengatasi masalah-masalah social ini sangat besar dan sulit diukur tingkat efisiensi dan efektivitasnya.
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
a. Definisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Pengertian PDRB menurut Badan Pusat Statistik (2004:8) yaitu jumlah nilai tambah yang dihasilkan untuk seluruh wilayah usaha dalam suatu wilayah atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. Menurut departemen statistik ekonomi dan moneter dari Bank Indonesia (2004:85), PDRB terdiri dari PDRB atas dasar harga berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar.
Perhitungan Produk Domestik Regional Bruto secara konseptual menggunakan tiga macam pendekatan, yaitu: pendekatan produksi, pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
Produk Domestik Regional Bruto adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi dalam penyajian ini dikelompokkan dalam 9 lapangan usaha (sektor), yaitu: (1) pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, (2) pertambangan dan penggalian, (3) industri pengolahan, (4) listrik, gas dan air bersih, (5) konstruksi, (6) perdagangan, hotel dan restoran, (7) pengangkutan dan komunikasi, (8) keuangan, real estate dan jasa perusahaan, (9) jasa-jasa (termasuk jasa pemerintah).
2) Pendekatan Pengeluaran:
Produk Domestik Regional Bruto adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari : (1) Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, (2) konsumsi pemerintah, (3) pembentukan modal tetap domestik bruto, (4) perubahan inventori dan (5) ekspor neto (merupakan ekspor dikurangi impor).
3) Pendekatan Pendapatan:
Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa yang dimaksud adalah
upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini, PDRB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi). 3. Upah
a. Definisi Upah
Di dalam sistem Ricardo, upah memainkan peranan aktif dalam menentukan pendapatan antara modal dengan buruh. Tingkat upah meningkat bila harga barang yang dibutuhkan buruh meningkat. Barang yang diproduksi buruh sebagian besar adalah hasil pertanian. Karena itu untuk menghasilkan satu unit produk dibutuhkan buruh lebih banyak. Sehingga apabila permintaan terhadap buruh mulai meningkat maka akan menaikkan upah (Jhingan, 2012: 90).
Menurut Mill, elastisitas penawaran tenaga kerja sangat tinggi dalam menanggapi kenaikan upah. Upah pada umumnya melebihi tingkat penghidupan minimum. Upah dapat naik karena peningkatan cadangan modal yang berputar dengan penduduk yang dipakai untuk mengupah tenaga kerja atau karena pengurangan jumlah tenaga kerja. Jika upah naik, penawaran tenaga kerja akan naik. Persaingan antara pekerja tidak hanya akan menurunkan upah tetapi juga sebagian buruh akan kehilangan pekerjaan. (Jhingan, 2012: 106).
Menurut teori upah efisiensi, perusahaan bersedia membayar lebih tinggi daripada gaji ekuilibrium agar mendorong para pekerja
untuk menghindari kelalaian atau mengulur-ngulur waktu kerja. (Schaum’s, 2006:264). Mankiw (2006) dalam Skripsi Anggrainy (2013) menjelaskan bahwa teori upah-efisiensi mengajukan penyebab ketiga dari kekakuan upah selain undang-undang upah minimum dan pembentukkan serikat pekerja. Teori upah-efisiensi yang pertama menyatakan bahwa upah yang tinggi membuat para pekerja lebih produktif. Pengaruh upah terhadap efisiensi pekerja dapat menjelaskan kegagalan perusahaan untuk memangkas upah meskipun terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja. Meskipun akan mengurangi tagihan upah perusahaan, (jika teori ini benar) maka pengurangan upah akan memperendah produktivitas pekerja dan laba perusahaan.
Teori upah-efisiensi yang kedua, menyatakan bahwa upah yang tinggi menurunkan perputaran tenaga kerja. Dengan membayar upah yang tinggi, perusahaan mengurangi frekuensi pekerja yang keluar dari pekerjaan, sekaligus mengurangi waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk menarik dan melatih pekerja baru. Teori upah-efisiensi yang ketiga menyatakan bahwa kualitas rata-rata tenaga kerja perusahaan bergantung pada upah yang dibayar kepada karyawannya. Jika perusahaan mengurangi upahnya, maka pekerja terbaik bisa mengambil pekerjaan di tempat lain, meninggalkan perusahaan dengan pekerja yang tidak terdidik yang memiliki lebih sedikit alternatif. Teori upah-efisiensi yang keempat menyatakan
bahwa upah yang tinggi meningkatkan upaya pekerja. Teori ini menegaskan bahwa perusahaan tidak dapat memantau dengan sempurna upaya para pekerja, dan para pekerja harus memutuskan sendiri sejauh mana mereka akan bekerja keras. Semakin tinggi upah, semakin besar kerugian bagi pekerja bila mereka sampai dipecat. Dengan membayar upah yang lebih tinggi, perusahaan memotivasi lebih banyak pekerja agar tidak bermalas-malasan dan dengan demikian meningkatkan produktivitas mereka.
Teori upah subsitensi (hukum besi) oleh David Ricardo (1772-1823) yaitu upah ditentukan oleh interaksi penyediaan dan permintaan akan buruh. Lebih lanjut berasumsi bahwa bila pendapatan penduduk bertambah di atas tingkat subsisten, maka penduduk akan bertambah lebih cepat dari laju pertambahan makanan dan kebutuhan lain. Angkatan kerja bertambah maka akan bertambah pula angkatan kerja yang memasuki pasar kerja dan mencari kerja. Penawaran tenaga kerja menjadi lebih besar dari permintaan. Teori upah besi adalah upah riil dalam jangka panjang cenderung terhadap upah minimum yang diperlukan untuk menyokong kehidupan pekerja. Upah tidak dapat jatuh di bawah tingkat subsistensi karena tanpa subsisten, buruh tidak akan mampu bekerja. Teori iron wage ini cenderung merugikan kepentingan pengusaha dan pekerja yang belum mendapatkan pekerjaan. Kenaikan upah akan menurunkan permintaan tenaga kerja sehingga para penganggur akan semakin sulit
mendapatkan pekerjaan dan para pengusaha akan disulitkan dengan kenaikan biaya produksi. Kegagalan upah dalam melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya merupakan indikasi adanya kekakuan upah (wage rigidity) (Devi, 2011 :4-5).
b. Penetapan Upah Minimum Kota
Pengertian upah minimum dalam pasal 1 ayat 1 dari Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 1 tahun 1999, upah minimum didefinisikan sebagai upah bulanan terendah yang meliputi gaji pokok dan tunjangan tetap. upah minimum provinsi adalah upah bulanan terendah yang meliputi gaji pokok dan tunjangan tetap yang ditetapkan oleh gubernur. Kebijakan upah minimum di dalam Undang Undang No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang isinya antara lain:
1) Pemerintah menetapkan upah berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
2) Upah Minimum dapat diterapkan:
(a) berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota;
(b) berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota. Upah minimum sektoral dapat ditetapkan untuk kelompok lapangan usaha beserta pembagiannya menurut klasifikasi lapangan usaha Indonesia untuk kabupaten/kota, provinsi, beberapa provinsi
atau nasional dan tidak boleh lebih rendah dari upah minimum regional daerah yang bersangkutan.
3) Upah minimum ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Bupati/Walikota.
4) Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum.Bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum dapat dilakukan penangguhan. Penangguhan pelaksanaan upah minimum bagi perusahaan yang tidak mampu dimaksudkan untuk membebaskan perusahaan yang bersangkutan melaksanakan upah minimum yang berlaku dalam kurun waktu tertentu.
4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
a. Definisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM)