BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
6. Indeks Saham
a. Definisi Indeks Saham
Indeks harga saham merupakan satu parameter yang dijadikan rujukan bagi investor, analis bahkan masyarakat awam sekalipun. Hampir banyak kejadian baik yang terkait ekonomi maupun non ekonomi selalu dikaitkan dengan indeks harga saham. Indeks harga saham adalah indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks harga saham merupakan tren pasar yaitu menggambarkan kondisi pasar suatu saat apakah pasar sedang aktif atau lesu (Darmadji Tjiptono dan Fakhruddin Hendy, 2011). Dengan demikian, indeks harga saham menggambarkan kinerja saham baik individual maupun komulatif (kinerja pasar), sehingga dapat diketahui kontek yang terjadi, bagaimana sesungguhnya perilaku investor dan saluran dana secara makro lewat mekanisme pasar modal (Hadi, 2013:184).
Menurut Hadi (2013:185), struktur yang membentuk atau mempengaruhi indeks harga saham paling tidak meliputi:
1) Indeks harga saham sangat ditentukan oleh harga saham yang listing di bursa efek. Sementara, harga saham sangat ditentukan kepercayaan investor domestik maupun asing.
2) Indeks harga saham yang merupakan representasi kepercayaan investor sangat ditentukan oleh kondisi ekonomi suatu negara.
3) Indeks harga saham juga mencerminkan kondisi iklim ekonomi politik suatu negara.
4) Indeks harga saham juga mencerminkan keamanan suatu negara.
5) Indeks harga saham mencerminkan profesionalitas dan integritas para pelaku pasar serta penegakan etika profesi di pasar modal suatu negara.
6) Indeks harga saham menunjukkan infrastruktur yang ada dalam memberikan fasilitas trading.
b. Jakarta Islamic Index (JII)
Perkembangan sistem keuangan syariah juga mendorong pada pasar modal dengan membentuk pasar modal berbasis syariah. Dalam pasar modal syariah, saham-saham yang diperdagangkan harus memenuhi ketentuan syariah. Dalam rangka mempermudah investor dibentuklah indeks saham yang terdiri dari kumpulan saham-saham yang sudah sesuai
dengan ketentuan syariah. Salah satu indeks untuk saham syariah yaitu Jakarta Islamic Index (JII).
Jakarta Islamic Index (JII) merupakan indeks terakhir yang dikembangkan oleh BEJ yang bekerjasama dengan Danareksa Investment Management untuk merespons kebutuhan informasi yang berkaitan dengan investasi syariah. Jakarta Islamic Index (JII) merupakan subset dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diluncurkan pada tanggal 3 Juli 2000 dan menggunakan tahun 1 Januari 1995 sebagai base date (dengan nilai 100). JII melakukan penyaringan (filter) terhadap saham yang listing. Rujukan dalam penyaringannya adalah fatwa syariah yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Berdasarkan fatwa inilah BEJ memilah emiten yang unit usahanya sesuai dengan syariah.
(Rodoni, 2009:72).
Menurut Rodoni (2009:73), perbedaan mendasar antara indeks konvensional dengan indeks Islam adalah indeks konvensional memasukan seluruh saham yang tercatat dibursa dengan mengabaikan aspek halal haram, yang penting saham emiten yang terdaftar (listing) sudah sesuai aturan yang berlaku. Adapun syarat suatu saham yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat dikatakan syariah adalah sebagai berikut:
1) Jenis usaha, produk barang, jasa yang diberikan dan akad serta cara pengelolaan perusahaan yang mengeluarkan saham (emiten) atau
perusahaan publik yang menerbitkan saham syariah tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
2) Emiten atau perusahaan publik yang menerbitkan saham syariah wajib untuk menandatangani dan memenuhi ketentuan akad yang sesuai dengan syariah atas saham syariah yang dikeluarkan.
3) Emiten atau perusahaan publik yang menerbitkan saham syariah wajib menjamin bahwa kegiatan usahanya memenuhi prinsip-prinsip syariah dan memiliki syariah Compliance Officer. (fatwa DSN No. 40, 2003)
Saham syariah yang menjadi konstituen JII terdiri dari 30 saham yang merupakan saham-saham syariah paling likuid dan memiliki kapitalisasi pasar yang besar. BEI melakukan review JII setiap 6 bulan, yang disesuaikan dengan periode penerbitan DES oleh OJK. Setelah dilakukan penyeleksian saham syariah oleh OJK yang dituangkan ke dalam DES, BEI melakukan proses seleksi lanjutan yang didasarkan kepada kinerja perdagangannya. Adapun proses seleksi JII berdasarkan kinerja perdagangan saham syariah yang dilakukan oleh BEI adalah sebagai berikut:
1) Saham-saham yang dipilih adalah saham-saham syariah yang termasuk ke dalam DES yang diterbitkan oleh OJK.
2) Dari saham-saham syariah tersebut kemudian dipilih 60 saham berdasarkan urutan kapitalisasi terbesar selama 1 tahun terakhir.
3) Dari 60 saham yang mempunyai kapitalisasi terbesar tersebut, kemudian dipilih 30 saham berdasarkan tingkat likuiditas yaitu urutan nilai transaksi terbesar di pasar reguler selama 1 tahun terakhir.
(www.idx.co.id diakses 02 Februari 2016).
c. Hubungan Indeks Saham Syariah dengan Yield Sukuk
Dalam berinvestasi, investor akan melakukan berbagai strategi agar mencapai keuntungan yang optimal. Pada umumnya strategi yang akan dilakukan investor yaitu dengan melakukan diversifikasi atas investasinya sehingga membentuk suatu portofolio investasi. Dalam membentuk suatu portofolio investasi, investor akan berinvestasi pada berbagai jenis aset investasi diantaranya seperti saham dan obligasi. Investor akan mengalokasikan dana investasi pada saham dan obligasi dengan proporsi tertentu yang dapat mengoptimalkan tingkat keuntungan dan risiko.
Menurut Venkateshwarlu dan Ramesh (2011:93), menganalisa pergerakan harga saham dan bunga obligasi merupakan hal penting bagi investor institusi maupun individu dalam mengatur portofolio investasi mereka. Dengan berfokus pada risiko dan keuntungan dan mengasumsikan hubungan diantara aset keuangan bersifat tetap/konstan, maka ketika investor khawatir atas suatu risiko, investor akan mengatasinya dengan memilih aset keuangan yang aman dalam portofolio investasinya. Dengan demikian, ketika pasar saham mengalami kejatuhan, investor akan memilih mengalokasikan investasinya pada obligasi. Permintaan obligasi
menjadi meningkat sehingga harganya pun ikut meningkat. Peningkatan harga ini yang akan membuat yield obligasi menjadi turun. Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja saham yang tercermin pada nilai indeks saham memiliki pengaruh yang positif terhadap yield obligasi.
Dalam beberapa hasil penelitian, antara kinerja saham dengan yield obligasi juga dapat menunjukkan pengaruh yang negatif. Penelitian Muharam (2013) menunjukkan bahwa antara return saham dengan yield obligasi pemerintah di Indonesia menunjukkan hubungan negatif. Hal ini karena hubungan saham dan obligasi dalam portofolio bersifat komplementer. Obligasi dianggap pelengkap atas saham. Jika return saham meningkat, selain menambah investasinya pada saham, investor juga akan menambahkan investasinya pada obligasi. Hal ini membuat kinerja saham dengan kinerja obligasi berhubungan positif. Disaat kinerja pasar saham meningkat, maka kinerja pada pasar obligasi juga akan meningkat yang ditandai dengan peningkatan harga atau penurunan yield.
Kemudian, penelitian yang dilakukan Kim dan Francis In (2005) menunjukkan hasil bahwa harga saham dan yield obligasi cenderung memiliki hubungan negatif di hampir semua negara G-7, kecuali Jepang yang menunjukkan hubungan positif. Perbedaan tersebut terindikasi karena hampir semua negara G-7 memiliki pergerakan harga saham yang lebih berfluktuasi, kecuali Jepang yang pergerakan yield obligasinya justru lebih berfluktuasi.
Dalam lingkup investasi syariah, penelitian tentang hubungan antara saham syariah dengan sukuk (obligasi syariah) juga telah dilakukan.
Penelitian yang dilakukan oleh Aloui, dkk (2015), menunjukkan bahwa hubungan indeks saham syariah dengan indeks sukuk dibedakan berdasarkan karakteristik data variabel tersebut. Saat periode dimana data menunjukkan volatilitas tinggi dengan return yang negatif, antara indeks saham syariah dengan indeks sukuk menunjukkan hubungan yang negatif.
Sedangkan saat periode dimana data menunjukkan volatilitas yang rendah dan return yang tinggi, antara indeks saham syariah dengan indeks sukuk menunjukkan hubungan yang positif. Hal tersebut mengindikasikan pergeseran perilaku investor muslim yang bermain aman saat kondisi sedang tidak stabil. Dimana, saat return saham syariah mengalami kejatuhan, investor cenderung menghindari risiko. Investor akan menarik dana investasinya pada saham syariah dan memindahkannya pada instrumen yang lebih aman seperti sukuk.