• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis, Penelitian ini merupakan tugas akhir penulis sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi strata satu (S1). Selain itu, penelitian ini juga menjadi media penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat selama perkuliahan.

2. Bagi Akademisi, Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai instrumen-instrumen investasi berprinsip syariah terutama sukuk (obligasi syariah).

3. Bagi Masyarakat, Penelitian ini diharapkan dapat membuat masyarakat mengenal berbagai macam instrumen investasi keuangan terutama yang berprinsip syariah sehingga dapat mendorong masyarakat untuk berinvestasi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori

1. Obligasi

a. Definisi Obligasi

Selain saham, obligasi merupakan produk investasi yang cukup familiar bagi masyarakat. Obligasi menjadi alternatif investasi bagi para investor dan cukup diminati karena menawarkan pendapatan tetap (bunga tetap) dan juga capital gains. Obligasi bisa dibilang sebagai suatu kontrak hutang diantara pemberi pinjaman dengan pihak yang diberi pinjaman.

Surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberikan pinjaman kepada yang diberi pinjaman melalui sebuah kontrak, dan akibat adanya kontrak tersebut pemberi pinjaman memiliki hak untuk dibayar kembali pada waktu dan dengan jumlah tertentu pula (Sarwiji Widoatmodjo, 2005 dalam Hadi, 2013:107).

Menurut Hulwati (2009:148), obligasi adalah surat pengakuan atau perjanjian hutang dari perusahaan penerbit kepada masyarakat investor, dimana hutang ini akan dibayar pada waktu jatuh tempo. Atas jasa tersebut investor kepada perusahaan diberi imbalan, ini merupakan janji untuk membayar sejumlah uang dan bunga pada tanggal yang telah ditentukan dalam perjanjian.

Obligasi termasuk dalam jenis efek berpendapatan tetap yang berjangka waktu panjang. Menurut Robert Ang (2005) dalam Hadi (2013:108), definisi obligasi adalah efek utang pendapatan tetap yang diperdagangkan di masyarakat dimana penerbitnya setuju untuk membayar sejumlah bunga tetap untuk jangka waktu tertentu dan akan membayar kembali jumlah pokoknya pada jatuh tempo. Sebagai efek berpendapatan tetap, obligasi memiliki ciri-ciri umum yaitu:

1) Surat berharga yang mempunyai kekuatan hukum

2) Memiliki batas periode atau jangka waktu tertentu 3) Adanya pendapatan tetap

4) Memiliki nilai nominal

b. Keuntungan Investasi pada Obligasi

Obligasi merupakan produk investasi yang menawarkan keuntungan yang tidak kalah menarik dari produk investasi lainnya.

Menurut Hadi (2013:112), keuntungan dari investasi pada obligasi secara umum terdiri dari tiga komponen yaitu:

1) Pendapatan Bunga

Bunga adalah keuntungan utama yang ditawarkan obligasi.

Bunga inilah yang membuat obligasi termasuk produk investasi berpendapatan tetap. Bunga dibayarkan secara periodik selama obligasi

belum jatuh tempo. Hal ini berlaku pada obligasi jenis coupun bond.

Sedangakan untuk jenis obligasi zero coupon bond, bunga tidak dibayarkan secara periodik tetapi dibayarkan sekaligus pada saat pembelian obligasi. Bunga yang akan diperoleh dihitung berdasarkan nilai nominal obligasinya, bukan berdasarkan harga pasar obligasi.

2) Capital Gain

Saat obligasi diterbitkan di pasar perdana, nilai nominal obligasi berarti harga obligasi pada waktu ditawarkan, yang berarti juga jumlah hutang yang harus dibayar oleh penerbit saat obligasi jatuh tempo. Jadi saat penawaran umum, investor harus membayar obligasi dengan harga yang sesuai dengan nilai nominalnya. Namun apabila mulai diperdagangkan di pasar sekunder, harga obligasi tidak selalu sama dengan nilai nominalnya akan tetapi menyesuaikan dengan harga pasar. Obligasi yang diperdagangkan dengan harga nilai nominalnya disebut obligasi dengaan harga pari (at par bond). Jika harga pasar obligasi diatas nilai nominalnya disebut obligasi dengan premiun (at premium bond), sedangkan jika harga pasar obligasi dibawah nilai nominalnya disebut dengan obligasi dengan diskon (at discount bond).

Pergerakan harga pasar pada obligasi ini, memungkinkan investor untuk menjual ataupun membeli obligasi dengan harga tertentu lainnya. Kondisi ini yang membuat investor dapat memperoleh capital gains. Ini karena capital gains sendiri merupakan selisih antara harga jual dan harga beli obligasi dimana selisihnya positif. Investor juga

berpotensi mengalami kerugian apabila ternyata selisih antara harga jual dan harga beli nilainya negatif yang disebut dengan capital loss.

3) Special Feature Gain

Special feature gain merupakan keuntungan khusus yang melekat pada obligasi yang ditawarkan emiten. Keuntungan ini merupakan bentuk pemanis yang ditawarkan emiten untuk merangsang investor agar tertarik untuk membeli obligasi. Salah satu hak yang diberikan sebagai pemanis tersebut adalah waran yang dapat digunakan untuk menebus saham perseroan dengan harga tertentu (execire price).

c. Risiko Investasi Obligasi

Selain menawarkan keuntungan, berinvestasi pada obligasi juga akan menghadapi risiko. Menurut Hadi (2013:113), beberapa risiko saat berinvestasi obligasi antara lain:

1) Risiko Tingkat Bunga Pasar (Market Interest Rate Risk)

Risiko ini terjadi saat tingkat bunga pasar mengalami kenaikan.

Risiko ini melekat pada produk investasi berpendapatan tetap seperti obligasi. Perubahan tingkat bunga pasar selalu memicu ketidakstabilan harga obligasi. Tingkat bunga pasar dengan harga obligasi memiliki hubungan yang berlawanan arah. Jika tingkat bunga naik, harga obligasi akan turun dan sebaliknya ketika tingkat bunga turun, harga obligasi akan naik.

2) Risiko Daya Beli (Purchasing Power Risk)

Risiko ini terjadi ketika tingkat inflasi naik yang membuat harga barang dan jasa naik, sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

Pada tingkat inflasi yang rendah return obligasi akan baik pula. Saat inflasi tinggi, kemungkinan returnya akan menjadi habis ataupun negatif karena terserap oleh tingkat inflasi tinggi tersebut.

3) Risiko Wanprestasi (Default Risk)

Risiko ini terjadi saat issuer tidak mampu membayar kewajibannya baik dalam pembayaran bunga maupun pelunasan, atau karena kelalaian serta keterlambatan pembayaran. Perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang baik tentunya dapat mengurangi risiko wanprestasi ini. Risiko wanprestasi juga disebut dengan financial risk (risiko keuangan).

4) Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Risiko ini terjadi saat investor kesulitan untuk menjual obligasinya pada saat membutuhkan uang. Risiko ini membuat obligasi menjadi tidak liquid, sehingga proses pencairan menjadi uang akan terhambat.

5) Risiko Jangka Waktu (Maturity Risk)

Risiko yang dihadapi karena semakin panjang jangka waktu jatuh tempo, obligasi akan makin labil harganya di pasar. Karena

dengan maturity (jatuh tempo) yang semakin panjang, berarti proyeksi terhadap suatu komponen tertentu akan semakin panjang pada gilirannya memberikan tingkat kesalahan proyeksi yang besar, sehingga harga pasar pun menjadi labil karenanya.

6) Risiko Mata Uang (Currency Risk)

Risiko ini ada pada obligasi yang berdenominasi mata uang asing. Risiko tersebut muncul karena terdapat perbedaan nilai tukar mata uang asing dengan mata uang lokal. Investor berpotensi mengalami kerugian apabila perbedaan nilai tukar mata uang asing dan nilai tukar mata uang lokal mengalami fluktuasi.

7) Risiko Call (Call Risk)

Risiko call adalah risiko yang dihadapi oleh investor obligasi karena penerbit obligasi dapat melaksanakan haknya untuk menebus obligasi tersebut sesuai dengan aturan yang digariskan dalam kontrak.

Risiko ini terdapat pada obligasi yang bersifat callable. Bagi investor, pelunasan lebih awal dari waktu jatuh tempo ini akan menggangu cash-flow investor serta akan mengurangi return yang akan diterima investor.

8) Risiko Politik (Political Risk)

Risiko ini terjadi akibat ketidakstabilan politik tempat obligasi diterbitkan. Politik yang tidak stabil berpotensi membuat kinerja

perusahaan menurun. Kinerja perusahaan yang tidak baik pada akhirnya berpotensi menimbulkan default risk.

9) Risiko Sektor Industri (Industry Sector Risk)

Risiko ini muncul karena pertumbuhan sektor industri melambat dan mengalami kelesuan. Pertumbuhan industri yang lesu akan berpengaruh pada kinerja perusahaan sehingga mempengaruhi harga obligasi yang diterbitkan perusahaan tersebut.

d. Rate of Return Obligasi

Perdagangan obligasi di pasar sekunder memungkinkan investor untuk memperoleh keuntungan tambahan akibat selisih perubahan harga obligasi di pasar. Sehingga, suatu obligasi yang diperdagangakan di pasar sekunder akan menawarkan tingkat keuntungan yang berubah-ubah.

Menurut Hulwati (2009:154), berkaitan dengan ini, perlu diketahui bagaimana penentuan keuntungan obligasi (rate of return). Di antaranya adalah:

1) Bunga Yield

Bunga yield adalah bunga tetap yang dibayarkan secara periodik oleh perusahaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Bunga yang dibayarkan secara tetap disebut dengan bunga yield tetap, dan bunga ini mempunyai nilai nominal dengan bunga tetap. Berdasarkan bunga yield ini, investor dapat membandingkan investasi obligasi

terhadap instrumen lain yang serupa dan memberikan keuntungan tetap.

2) Current Yield

Current Yield berbeda dengan bunga yield, yaitu mempunyai bunga yang tidak tetap. Informasi tentang current yield perlu diketahui oleh investor ketika membuat keputusan dalam membeli obligasi di pasar. Jika current yield sama banyak dengan bunga yield, maka investor tidak mendapat keuntungan, karena pada waktu pembelian bunga obligasi sama dengan harga nominal. Sebaliknya apabila current yield lebih banyak dari bunga yield, maka investor akan mendapat keuntungan dari harga pembelian, sebab tingginya current yield dari bunga yield menjelaskan bahwa harga obligasi berada di bawah harga nominal, dan pada jatuh tempo investor obligasi mendapat capital gain.

3) Yield To Maturity

Yield to Maturity adalah pengembalian yang akan diterima investor obligasi jika investor menahan obligasi sampai jatuh tempo.

Maka, penghitungan ukuran keuntungan dilakukan dengan menambah semua pembayaran bunga sampai jatuh tempo. Perhitungan yield to maturity adalah dengan menambah perbedaan harga nominal dengan harga pembelian. Dengan kata lain bahwa yield to maturity merupakan nilai yang paling sempurna dengan syarat obligasi tersebut dapat

dipertahankan sampai jatuh tempo, karena penghitungan yield to maturity mesti ditambahkan dengan capital gain yang dibayarkan penerbit pada saat jatuh tempo.

4) Discount Yield

Dasar perhitungan discount yield tidak berbeda dengan current yield dan digunakan harga pasar. Apablia obligasi dibeli dengan harga nominal (premium), maka discount yield dapat dihitung dengan membagi bunga dengan harga premium. Jika hal ini terjadi discount yield akan lebih tinggi dibanding dengan bunga yield. Sebaliknya, jika obligasi dibeli dibawah harga nominal (dibeli dengan harga diskon), maka discount yield lebih kecil dari bunga yield.

2. Sukuk (Obligasi Syariah) a. Definisi Sukuk

Dalam bahasa arab, sukuk merupakan bentuk jamak dari kata ‘sakk’

yang berarti dokumen, sertifikat, perjanjian atau instrumen hukum. Sukuk merupakan surat berharga jangka panjang syariah yang disetarakan dengan obligasi, sehingga sukuk biasa disebut sebagai obligasi syariah.

Berdasarkan Fatwa DSN-MUI No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang obligasi syariah, sukuk atau obligasi syariah didefinisikan sebagai surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi

hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Menurut Rodoni (2009:107), karakteristik dan istilah sukuk merupakan pengganti dari istilah sebelumnya yang menggunakan istilah bond, dimana istilah bond mempunyai makna loan (hutang), dengan menambahkan Islamic maka sangat kontradiktif maknanya karena biasanya yang mendasari mekanisme hutang (loan) adalah interest (bunga), sedangkan dalam Islam interest tersebut termasuk riba yang diharamkan. Untuk itu, sejak tahun 2007 istilah bond ditukar dengan istilah sukuk sebagaimana disebutkan dalam peraturan di Bapepam Lembaga Keuangan (LK).

Secara terminologi shak (sukuk) adalah sebuah kertas (buku) atau catatan yang padanya terdapat perintah dari seseorang untuk pembayaran uang dengan jumlah tertentu pada orang lain yang namanya tertera pada kertas tersebut. Kata sukuk berasal dari bahasa Persia yaitu jak, lalu masuk dalam bahasa Arab dengan nama shak. Goitien menyebutkan bahwa shak adalah asal kata dari kata cek atau cheque yang terdapat bahasa Inggris dimana ia pada dasarnya adalah surat hutang. Obligasi syariah (sukuk) pada prinsipnya adalah pendanaan jangka panjang yang berarti modal atau principal dari sukuk itu harus kembali kepada investor, disamping tambahan keuntungan yang diharapkan. (Rodoni, 2009:108-109)

Beberapa lembaga regulator internasional seperti Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI), International Islamic Financial Market (IIFM), dan Islamic Financial Services Broad (IFSB) memberikan definisi mengenai sukuk. Menurut AAOIFI, sukuk didefinisikan sebagai sertifikat bernilai sama yang merupakan bukti atas bagian kepemilikan yang tak terbagi terhadap suatu aset, hak manfaat, dan jasa-jasa, atau atas kepemilikian suatu proyek atau kegiatan investasi tertentu.

Menurut IIFM, sukuk didefinisikan sebagai surat berharga yang memberikan investor hak kepemilikan atas suatu aset yang menjadi underlying penerbitan sukuk. Surat tersebut merupakan sertifikat beragun aset yang membuktikan kepemilikan atas suatu aset atau hak manfaat.

Surat tersebut memberikan pendapatan tetap dan telah memenuhi prinsip-prinsip syariah. Berbeda dengan obligasi konvensional, sukuk didasari oleh transaksi aset berwujud baik dalam bentuk pengalihan kepemilikan maupun perjanjian sewa. (Safari dkk., 2014:20)

Menurut IFSB, sukuk (bentuk jamak sakk), atau sering disebut

‘obligasi syariah’, merupakan sertifikat yang mewakili bagian kepemilikan yang tak terpisahkan atas suatu aset nyata, atau sekumpulan aset yang sebagian besar termasuk aset nyata, atau proyek bisnis (seperti mudharabah). Aset ini dapat berbentuk suatu proyek spesifik atau aktivitas investasi tertentu yang sesuai dengan prinsip dan aturan syariah. (Safari dkk., 2014:20)

b. Jenis-Jenis Sukuk

Menurut Rodoni (2009:116) terdapat berbagai macam sukuk yang diterbitkan pada masa kontemporer, diantaranya;

1) Sukuk Ijarah

Sukuk Ijarah adalah suatu sertifikat yang memuat nama pemiliknya dan melambangkan kepemilikan terhadap aset yang bertujuan untuk disewakan, atau kepemilikan manfaat, dan atau kepemilikan jasa sesuai jumlah efek yang dibeli dengan harapan mendapatkan keuntungan dari hasil sewa yang berhasil direalisasikan berdasarkan transaksi ijarah. Suatu kontrak sewa menyewa akan memberikan return yang lebih besar jika terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Harta yang diinvestasikan dalam akad ijarah tidak mudah dikembalikan karena bisa mengakibatkan berkurang pendapatan, namun masalah likuiditas ini dapat diatasi dengan memakai akad ijarah melalui mekanisme modern. Jika pemegang efek sukuk memerlukan dana tunai, ia dapat menjual efek tersebut pada orang lain dalam kerangka penjualan manfaat karena manfaat dapat diperjualbelikan. Sedangkan secara hukum, keadaan kepemilikan aset secara bersama tidak akan menghalangi perpindahan kepemilikan secara individu atau sebagian investor.

Sukuk ijarah dianggap instrumen investasi jangka panjang yang ideal karena ia lebih mudah dipasarkan pada pasar sekunder dan

memberikan return yang diketahui oleh investor. Terdapat dua macam bentuk sukuk ijarah, yaitu:

a) Sukuk Ijarah dengan pendapatan tetap (fixed rate ijarah certificate), dimana sewa yang didapatkan bersifat tetap selama masa kontrak.

b) Sukuk Ijarah dengan pendapatan tidak tetap (floating rate ijarah certificate), dimana tingkat sewa bersifat tidak tetap karena ia kembali ditetapkan (diperbaharui) secara periodik sesuai dengan gerakan tingkat sewa pasar yang dipatok berdasarkan kontrak persetujuan akad ijarah.

Dari segi objek akad sukuk ijarah terdapat tiga macam bentuk sukuk ijarah yaitu:

a) Sukuk ijarah yang melambangkan kepemilikan atas manfaat dari aset (bukan wujud aset itu sendiri). Sukuk jenis ini disebut dengan sukuk Ijarah Manafi’ al-A’yan al Musta’jarah atau Certificates of ownership of usufruct of existing assets.

b) Sukuk Ijarah yang melambangkan kepemilikan atas asset yang bertujuan untuk disewakan (investor adalah pemilik atas aset dan tentu saja berikut manfaatnya). Sukuk jenis ini disebut dengan sukuk Ijarah Milkiyah al-A’yan al Mu’jarah atau Certificates of ownership in leased assets.

c) Sukuk Ijarah yang melambangkan kepemilikan atas jasa pelayanan (bukan wujud itu sendiri). Sukuk ini disebut sukuk Ijarah Milkiyah al-A’mal al-Mu’jarah atau Certificates of ownership of services of a specifield supplier.

2) Sukuk al-Musyarakah

Sukuk Musyarakah mempunyai persamaan dengan sukuk mudharabah, namun berbeda dari segi hubungan antara investor dengan pengelola. Pada sukuk mudharabah, investor tidak ikut campur dengan kebijakan perusahaan (kecuali dalam bidang pengawasan) karena modal biasanya hanya berasal dari satu pihak (investor), sedangkan praktek sukuk musyarakah, investor ikut campur dalam hal pengelolaan karena modal berasal dari kedua belah pihak. Oleh karena itu, secara umum semua kriteria usaha yang diisyaratkan dalam praktek sukuk mudharabah juga diisyaratkan pada sukuk musyarakah.

3) Sukuk Murabahah

Murabahah adalah menjual barang sesuai dengan harga pembelian ditambah dengan harga tambahan yang disepakati oleh kedua belah pihak. Sedangkan sukuk murabahah yaitu suatu sertifikat yang melambangkan kepemilikan terhadap hutang yang berakibat dari pembiayaan murabahah. Ciri utama sukuk murabahah adalah bahwa ia tidak boleh diperjualbelikan pada pasar sekunder dan harga serta keuntungannya sudah bersifat tetap (fixed) sehingga tidak dapat

dilakukan re-pricing atau merujuk pada fluktuasi standar bunga LIBOR sebagaimana yang dilakukan oleh berbagai sistem sukuk internasional.

4) Sukuk Istisna’

Sukuk Istisna’ adalah suatu setifikat yang melambangkan kepemilikan terhadap hutang yang diakibatkan dari pembiayaan istisna’. Sukuk istisna’ melambangkan suatu jual beli dari suatu komoditi dengan basis selisih antara penyerahan komoditi yang ditangguhkan dengan pembayaran tunai. Komoditi yang ditangguhkan tersebut adalah hutang atas penyedia (supplier) sesuai pesan dari pemesan (pedagang, ataupun konsumen). Pemegang sukuk istisna’

tidak dapat diperjualbelikan pada pasar sekunder, karena hutang tidak boleh diperjualbelikan dalam syariat Islam dan dapat diperjualbelikan pada saat jatuh tempo.

5) Sukuk Salam

Sukuk salam adalah sukuk yang mengandung nilai sama yang diterbitkan untuk mobilisasi modal saham dan barang yang akan diserahkan berdasarkan akad salam adalah milik dari pemegang sukuk salam. Dana yang sudah terkumpul dari para investor dibayarkan secara tunai kepada pengusaha, sedangkan komoditi yang menjadi objek akad masih bersifat hutang dan ia dapat diserahkan secara berangsur-angsur. Oleh karena itu, sertifikat sukuk salam yang dipegang oleh investor mencerminkan hutang atas perusahaan. Dalam

sukuk salam, investor berharap bahwa komoditi salam akan mengalami kenaikan harga pada saat tanggal jatuh tempo, yang akan menjadi keuntungan efek. Sukuk salam ini tidak dapat diperdagangkan selama aset yang mendasarinya merupakan hutang. Hutang tersebut hanya dapat diubah menjadi aset nyata pada saat jatuh tempo ketika subjek salam diserahkan.

c. Perbedaan Karakteristik Sukuk dengan Obligasi Konvensional

Sukuk merupakan instrumen investasi yang sering disetarakan dengan obligasi. Sehingga, banyak pula yang menyebutkan sukuk sebagai obligasi syariah. Meskipun begitu, sukuk dan obligasi konvensional memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel perbandingan antara sukuk dan obligasi dibawah ini:

Tabel 2.1.

Perbandingan Karakteristik Sukuk dengan Obligasi Konvensional

Deskripsi Sukuk Obligasi

dengan prinsip syariah.

Jenis Penghasilan Imbalan, bagi hasil,

margin, capital gain. Bunga/kupon, capital gain.

Underlying Asset Perlu. Tidak Perlu.

Sumber: Sekolah Pasar Modal Syariah Level 1, 2015.

d. Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Penerbitan Sukuk

Menurut Hadi dan Mujiburrahman (2011:244), pihak-pihak yang terlibat pada penerbitan sukuk terdiri dari:

1) Obligor, adalah pihak yang bertanggung jawab atas pembayaran imbalan dan nominal sukuk yang diterbitkan sampai dengan sukuk jatuh tempo. Dalam hal sovereign sukuk, obligornya adalah pemerintah. Sedangkan dalam sukuk korporasi, obligornya adalah perusahaan.

2) Special Purpose Vehicle (SPV), adalah badan hukum yang didirikan khusus untuk penerbitan sukuk dengan fungsi: (i) sebagai penerbit sukuk, (ii) menjadi counterpart pemerintah dalam transaksi pengalihan aset, dan (iii) bertindak sebagai wali amanat (trustee) untuk mewakili kepentingan investor.

3) Investor, adalah pemegang sukuk yang memiliki hak atas imbalan, margin, dan nilai nominal sukuk sesuai partisipasi masing-masing.

3. Sukuk Negara

a. Definisi Sukuk Negara

Sukuk Negara pada dasarnya merupakan sukuk yang diterbitkan oleh pemerintah/negara yang digunakan untuk kepentingan pembiayaan negara. Di Indonesia jenis sukuk negara lebih dikenal dengan nama Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Berdasarkan UU. No. 19 Tahun 2008 tentang SBSN, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) adalah Surat Berharga Negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Tujuan penerbitan SBSN adalah untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk membiayai pembangunan proyek (seperti proyek infrastruktur dalam sektor energi, telekomunikasi, perhubungan, pertanian, industri manufaktur dan perumahan rakyat). Sejalan dengan tujuan utama penerbitan SBSN yaitu untuk membiayai APBN, penerbitan SBSN oleh pemerintah diperlukan antara lain untuk:

1) Memperluas basis sumber pembiayaan anggaran negara.

2) Mendorong pertumbuhan dan pengembangan pasar keuangan syariah di Indonesia.

3) Memperkuat dan meningkatkan peran sistem keuangan berbasis syariah di dalam negeri.

4) Menciptakan benchmark instrumen keuangan syariah baik di pasar keuangan syariah domestik maupun internasional.

5) Memperluas dan mendiversifikasi basis investor.

6) Mengembangkan alternatif instrumen investasi.

7) Membiayai pembangunan proyek infrastruktur.

8) Mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN).

(Direktorat Pembiayaan Syariah, 2010) b. Jenis-Jenis Sukuk Negara

Menurut Direktorat Pembiayaan Syariah (2013), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang telah diterbitkan oleh Pemerintah terbagi menjadi enam seri yang terdiri dari:

1) Seri IFR (Islamic Fixed Rate), merupakan seri sukuk negara yang diterbitkan pemerintah di pasar perdana dalam negeri yang ditujukan bagi investor dengan nominal pembelian cukup besar. Seri ini memiliki jangka waktu menengah sampai panjang. Akad yang digunakan pada seri ini yaitu Ijarah Sale and Lease Back. Seri ini telah diterbitkan sejak tahun 2008, dengan cara bookbuilding dan dengan cara lelang sejak tahun 2009. IFR bersifat tradable (dapat diperdagangkan) dengan tingkat imbal hasil tetap. Sejak tahun 2011, seri IFR ini sudah tidak diterbitkan lagi oleh pemerintah dan digantikan oleh sukuk negara seri PBS (Project Based Sukuk).

2) Seri Sukuk Ritel, merupakan seri sukuk negara yang diterbitkan pemerintah dengan cara bookbuilding di pasar perdana dalam negeri yang ditujukan khusus bagi investor individu atau orang perorangan Warga Negara Indonesia (WNI). Seri ini mulai diterbitkan pada tahun 2009, bersifat tradable dengan imbal hasil tetap. Sejak tahun 2009

2) Seri Sukuk Ritel, merupakan seri sukuk negara yang diterbitkan pemerintah dengan cara bookbuilding di pasar perdana dalam negeri yang ditujukan khusus bagi investor individu atau orang perorangan Warga Negara Indonesia (WNI). Seri ini mulai diterbitkan pada tahun 2009, bersifat tradable dengan imbal hasil tetap. Sejak tahun 2009