• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.2. Independensi

Definisi independensi dalam The CPA Handbook menurut E.B. Wilcox (Alim dkk, 2007) adalah merupakan suatu standar auditing yang penting karena opini akuntan independen bertujuan untuk menambah kredibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Jika akuntan tersebut tidak independen terhadap

auditenya, maka opininya tidak akan memberikan tambahan apapun.

Dalam buku Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) Standar Auditing (SA) Seksi 220, Pernyataan Standar Auditing (PSA) No. 04 Alinea 2 (2001), dijelaskan bahwa “Independensi itu berarti tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan dalam hal berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bilamana tidak demikian halnya, bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru paling penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya”.

Independensi diatur dalam Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan aturan moral yang diantaranya mengatur tentang independensi. Dalam aturan tersebut dinyatakan bahwa anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam SPAP yang ditetapkan oleh IAPI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam kenyataan (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance).

Independensi dalam kenyataan akan ada apabila pada kenyataannya auditor mampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaan auditnya. Sedangkan independensi dalam penampilan adalah hasil interpretasi pihak lain mengenai independensi ini. Apabila auditor independen dalam kenyataan, tetapi pihak-pihak yang berkepentingan yakin bahwa dia adalah penasihat dari auditenya, maka sebagian besar hasil dari fungsi auditnya akan sia-sia saja.

Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Apabila auditor adalah seorang penasihat audite, seorang bankir atau yang lainnya, dia tidak dapat dikatakan independen. Independensi harus dipandang sebagai salah satu ciri auditor yang paling penting. Alasan mengapa begitu banyak pihak yang menggantungkan kepercayaan mereka terhadap kelayakan laporan keuangan berdasarkan laporan auditor adalah karena harapan mereka untuk mendapatkan suatu pandangan yang tidak memihak.

Kepercayaan masyarakat atas independensi sikap auditor independen sangat penting. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor berkurang, bahwa kepercayaan masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan yang dianggap dapat mempengaruhi sikap independen tersebut. Untuk menjadi orang yang independen, auditor harus bebas dari setiap kewajiban terhadap auditenya dan tidak mempunyai suatu kepentingan dengan auditenya. Masyarakat akan menduga bahwa kesimpulan dan langkah yang diambil oleh auditor independen selama pelaksanaan audit dipengaruhi oleh ada tidaknya hubungan dan kepentingan dengan pihak yang diaudit.

Independensi pada auditor BPK sedikit berbeda dengan auditor yang bekerja pada KAP. Selain berpedoman pada SPAP, independensi auditor BPK berpedoman pada SPKN. Dalam pernyataan standar umum kedua SPKN mengenai independensi dinyatakan: “Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya”.

Organisasi pemeriksa dan pemeriksanya bertanggung jawab untuk dapat mempertahankan independensinya sedemikian rupa sehingga pendapat, simpulan, pertimbangan atau rekomendasi dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tidak memihak dan dipandang tidak memihak oleh pihak manapun. Pemeriksa harus menghindari situasi yang menyebabkan pihak ketiga mengetahui kenyataan dan

keadaan yang relevan menyimpulkan bahwa pemeriksa tidak dapat mempertahankan independensinya.

Menurut SPKN pemeriksa perlu mempertimbangkan tiga macam gangguan terhadap independensi, yaitu gangguan pribadi, ekstern, dan/atau organisasi. Apabila salah satu atau lebih dari gangguan independensi tersebut mempengaruhi kemampuan pemeriksa secara individu dalam melaksanakan tugas pemeriksaannya, maka pemeriksa tersebut harus menolak penugasan pemeriksaan. Dalam keadaan pemeriksa yang karena suatu hal tidak dapat menolak penugasan pemeriksaan, gangguan dimaksud harus dimuat dalam bagian lingkup pada laporan hasil pemeriksaan.

Gangguan pribadi dari pemeriksa secara individu meliputi, antara lain:

a. Memiliki hubungan pertalian darah dengan pejabat atau pegawai entitas yang dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap entitas yang diperiksa.

b. Memiliki kepentingan keuangan pada entitas atau program yang diperiksa.

c. Pernah bekerja atau memberikan jasa kepada entitas atau program yang diperiksa. d. Terlibat dalam kegiatan obyek pemeriksaan, seperti asistensi, jasa konsultasi,

pengembangan sistem, dan menyusun laporan keuangan.

e. Adanya kecenderungan untuk memihak pada pejabat atau pegawai entitas, karena keyakinan politik atau social.

f. Mencari pekerjaan pada entitas yang diperiksa selama pelaksanaan pemeriksaan. Apabila terjadi gangguan pribadi terhadap independensi dalam pemeriksaan, harus diselesaikan secepatnya. Dalam hal gangguan pribadi hanya melibatkan seorang pemeriksa, dapat dilakukan dengan meminta pemeriksa menghilangkan

gangguan pribadi tersebut. Misalnya, pemeriksa melepas keterkaitan dengan entitas yang diperiksa, atau tidak ikut serta dalam pemeriksaan yang terkait dengan entitas tersebut.

Gangguan ektern dari pemeriksa dapat membatasi pelaksanaan pemeriksaan atau mempengaruhi kemampuan pemeriksa dalam pelaksanaan pemeriksaan. Independensi dan obyektivitas suatu pemeriksaan dapat dipengaruhi apabila terdapat: a. Campur tangan pihak ekstern yang membatasi atau mengubah lingkup

pemeriksaan.

b. Pembatasan waktu pemeriksaan yang tidak wajar untuk menyelesaikan pemeriksaan.

c. Pembatasan terhadap sumber daya yang disediakan bagi organisasi pemeriksa, yang berdampak negatif terhadap pelaksanaan pemeriksaan.

d. Ancaman penggantian petugas pemeriksa atas ketidak setujuan dengan isi laporan hasil pemeriksaan, simpulan pemeriksaan, atau penerapan kriteria lainnya.

e. Pengaruh yang membahayakan kelangsungan pemeriksa sebagai pegawai, berhubungan dengan kecakapan pemeriksa.

Selain itu, independensi organisasi pemeriksa dapat dipengaruhi oleh kedudukan, fungsi dan struktur organisasinya. Dalam hal melakukan pemeriksaan, organisasi pemeriksa harus bebas dari hambatan independensi. Pemeriksa dapat dipandang bebas dari gangguan terhadap independensi secara organisasi, apabila melakukan pemeriksaan di luar entitas tempatnya bekerja.

Sekalipun dapat dilakukan tindakan yang ekstrim untuk mengeliminasi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi independensi (baik dalam kenyataan maupun dalam penampilan) untuk mendapatkan respek masyarakat setinggi-tingginya, namun tidak dapat dipastikan bahwa hal tersebut dapat mengatasi persoalan yang ada. Tindakan untuk mengeliminasi gangguan independensi secara ekstrim dapat membatasi pelayanan yang dapat diberikan kepada audite, independensi para akuntan publik dalam menjalankan praktik secara tradisional, dan kemampuan kantor akuntan publik untuk mempekerjakan staf yang kompeten.

Carey (Trisnaningsih, 2007) mendefinisikan independensi akuntan publik dari segi integritas dan hubungannya dengan pendapat akuntan atas laporan keuangan. Independensi meliputi: (1) Kepercayaan terhadap diri sendiri yang terdapat pada beberapa orang profesional. Hal ini merupakan bagian integritas profesional. (2) Merupakan istilah penting yang mempunyai arti khusus dalam hubungannya dengan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan. Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan kenyataan dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

Sementara dalam penelitian Alim dkk (2007) mengindikasi terdapat lima indikator penilaian independensi auditor yaitu (1) lama penugasan audit, (2) pengungkapan kecurangan audite, (3) besarnya fee audit, (4) pemberian fasilitas dari audite, (5) penggantian auditor, dan (6) penggunaan jasa non audit.

Dokumen terkait