• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

5. Pernyataan tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion)

2.4 Pengembangan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai dapat dibuktikan melalui data-data yang telah dikumpulkan. Berdasarkan kerangka hipotesis tersebut, maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:

2.4.1 Skeptisisme Profesional Auditor berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

Menurut Shaub dan Lawrence (1996) menyebutkan adanya hubungan antara skeptisisme profesional auditor dengan ketepatan pemberian opini auditor, diperkuat dengan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi skeptisisme

profesional auditor tersebut seperti yang terdapat dalam penelitian ini, antara lain: independensi, keahlian, etika profesi, pengalaman, dan situasi audit. Teori

auditing yang dikemukakan oleh Mautz dan Sharaf (1961) menjelaskan bahwa seorang auditor harus memiliki sifat kehati-hatian dalam proses pemeriksaannya dan selalu mengindahkan norma-norma profesi dan norma moral yang berlaku. Sama halnya dengan skeptisisme profesional auditor yang memiliki arti bahwa seorang auditor harus memiliki sifat curiga terhadap klien, agar dapat mengajukan pertanyaan untuk diperoleh bukti secara kompeten, sehingga bukti tersebut

nantinya akan memperkuat dasar pengambilan kesimpulan yang tertuang dalam pendapat auditor. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suraida (2005) dan Gusti dan Ali (2008) membuktikan secara empiris bahwa skeptisisme profesional auditor memiliki pengaruh secara signifikan terhadap ketepatan pemberian opini

auditor. Berdasarkan uraian tersebut dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :

H1 = Skeptisisme Profesional Auditor berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

2.4.2 Independensi berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

Elder, dkk. (2012) mengartikan independensi sebagai pandangan yang tidak memihak dalam proses pemeriksaan. Sama halnya dengan konsep independensi dan konsep penyajian atau pengungkapan yang wajar yang terdapat dalam teori auditing yang menyatakan bahwa informasi laporan keuangan yang bebas (tidak memihak), tidak bias, dan mencerminkan posisi keuangan, hasil operasi, dan aliran kas perusahaan yang wajar.Hal ini dimaksudkan agar hasil pemeriksaan nantinya yang berupa opini atas kewajaran laporan keuangan dapat bersifat tepat sesuai dengan kondisi laporan keuangan klien. Penelitian yang telah dilakukan Kautsarrahmelia (2013) membuktikan bahwa independensi tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor.

Sedangkan penelitian yang telah dilakukan oleh Alim dkk. (2007) membuktikan bahwa independensi memiliki pengaruh secara signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor. Berdasarkan uraian tersebut dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :

H2 = Independensi berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

2.4.3 Keahlian berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

Sesuai dengan landasan teori yang telah dipaparkan pada landasan teoritis, theory planned of behavior mampu menjelaskan bagaimana keahlian audit dapat mempengaruhi ketepatan pemberian opini auditor. Teori ini mengasumsikan bahwa manusia biasanya akan berperilaku pantas dengan dasar tiga fungsi dasar determinan, yaitu: (1) attitude, (2) subjective norm, (3) behavior control. Fungsi dasar determinan attitude dan subjective norm mampu menjelaskan sikap dari diri seseorang, sesuai dengan lingkungan dan norma-norma yang diyakini orang-orang disekitarnya. Orang lain akan menilai seseorang yang berkeahlian tinggi pasti akan berperilaku baik, oleh karena itu setiap individu dengan keahlian tertentu biasanya akan bersikap sesuai dengan bagaimana persepsi orang lain terhadap dirinya. Keahlian audit mencakup seluruh pengetahuan auditor akan dunia audit itu sendiri, tolak ukurnya adalah tingkat sertifikasi pendidikan dan jenjang pendidikan sarjana formal (Gusti dan Ali, 2008). Dengan menggunakan

kemahirannya untuk membuat pertimbangan dan menggunakan sikap skeptisnya dengan baik sehingga dapat memperoleh dan mengevaluasi bukti yang memadai untuk ditariknya kesimpulan audit. Penelitian yang telah dilakukan oleh

Kausarrahmelia (2013) menunjukkan bahwa keahlian tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor. Sedangkan

penelitian yang telah dilakukan oleh Suraida (2005) membuktikan bahwa keahlian memiliki pengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor.

Berdasarkan uraian tersebut dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:

H3 = Keahlian berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

2.4.4 Etika Profesi berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

Pelaksanaan pekerjaan auditor tidak terlepas dari etika profesi, dimana etika dibutuhkan untuk menjadi pedoman dalam setiap pelaksanaan profesi. Etika dapat diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam suatu hal dan etika inilah yang menjadikan seseorang memiliki akhlak yang baik sesuai norma-norma yang berlaku. Hal ini diperkuat dengan adanya theory planned of behavior yang didalamnya terdapat unsur norma subyektif dan adanya konsep mengenai etika perilaku yang terdapat dalam teori auditing yang menyebutkan bahwa adanya keyakinan mengenai suatu norma atau standar yang mengikat antar masyarakat, sehingga seseorang yang telah berpedoman pada norma dan etika akan lebih bersikap terbuka terhadap ketentuan profesi yang telah diatur.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Kushasyandita (2012) membuktikan bahwa etika tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor. Sedangkan penelitian yang telah dilakukan oleh Wahyudi dkk. (2006) membuktikan bahwa etika profesi berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor. Berdasarkan uraian tersebut dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:

H4 = Etika Profesi berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

2.4.5 Pengalaman berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

Theory planned of behavior menyatakan pada dasarnya sikap adalah kepercayaan postif atau negatif untuk menampilkan suatu perilaku tertentu, sehingga intensi untuk berperilaku ditentukan dari sikap. Fungsi dasar determinan perceived behavioral control berkaitan dengan pengalaman masa lalu dan

persepsi seseorang untuk menentukan perilakunya. Fungsi determinan ini berkaitan dengan pengalaman masa lalu dan persepsi seseorang mengenai seberapa sulit untuk melakukan suatu perilaku (Kushasyandita, 2012).

Pengalaman yang didapat oleh seorang auditor menjadikan auditor bersifat lebih berhati-hati saat berhadapan dengan kasus atau temuan audit. Auditor dengan pengalaman yang cukup, kinerjanya akan lebih baik dibandingkan denganmasih sedikit pengalaman. Pengalaman sebagai riwayat yang dialami oleh suatu

organismepada saat lampau atau persepsi yang sedang dialami dari situasi ketidaksadaran yang ada. Sehingga auditor yang telah memiliki pengalaman yang banyak akan lebih tau bagaimana ia harus menghadapi kasus-kasus yang telah dialami sehingga lebih bersifat hati-hati agar tidak mengulangi kesalahan yang sama pada kedepannya. Penelitian yang telah dilakukan oleh Kushasyandita (2012) membuktikan bahwa pengalaman auditor tidak berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini auditor. Sedangkan penelitian yang telah dilakukan oleh Winantyadi dan Waluyo (2014) membuktikan secara empiris bahwa pengalaman auditor dapat berpengaruh secara positif terhadap ketepatan

pemberian opini auditor. Berdasarkan uraian tersebut dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:

H5 = Pengalaman berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

2.4.6 Situasi Audit berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

Seorang auditor di dalam melakukan audit biasanya dihadapkan pada situasi yang memiliki resiko rendah(situasi regularities) dan situasi yang memiliki resiko tinggi (situasi irregularities). Di dalam situasitertentu, resiko terjadinya

kesalahan dan penyajian yang salah dalam akun dan dalam laporan keuanganjauh lebih besar dibandingkan dengan situasi yang biasa (Gusti dan Ali, 2008). Theory of planned behavior menyebutkan bahwa adanya kontrol perilaku yang ia rasakan bergantung dari situasi dan variasi persepsi tersebut yang dapat menghasilkan berbagai pengendalian perilaku yang bergantung dari situasi yang ada. Sehingga dalam hal ini, auditor akan lebih mempertimbangkan mengenai opini apa yang nantinya akan diberikan sesuai dengan situasi yang terjadi dalam pemeriksaan. Penelitian yang telah dilakukan oleh Suraida (2005) dan Wahyudi dkk. (2006) membuktikan bahwa situasi audit memiliki pengaruh secara signifikan terhadap ketepatan pemberian opini auditor. Berdasarkan uraian tersebut dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:

H6 = Situasi Audit berpengaruh positif terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor

BAB III

Dokumen terkait