• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Pemberian Remisi Kepada

3. India

Ketentuan mengenai pemberian remisi juga dianut di India. Ketentuan ini ditujukan sebagai sarana pembinaan supaya narapidana berupaya untuk selalu berbuat/ berkelakuan baik selama menjalani masa pidananya, yang mana hal ini merupakan suatu tahap akhir dari kerangka besar proses pemidanaan yang dikenal dalam hukum pelaksanaan pidana di India.

Ketentuan pemberian remisi tersebut diatur dalam Section 432 : (1) The Code Of Criminal Procedure, 1973:

Section 432 : (1)

When any person has been sentenced to punishment for an offence, the

appropriate Government may, at any time, without Conditions or upon any

conditions which the person sentenced accepts, suspend the execution of his

sentence or remit the whole or any part of the punishment to which he has

been sentenced.

Berdasarkan ketentuan tersebut diketahui bahwa setiap orang yang dijatuhi pidana atas suatu kejahatan atau tindak pidana yang dilakukannya,

103

Pemerintah dapat memberi remisi kepada narapidana yang telah menjalani masa pidananya tanpa melihat jenis tindak pidana yang dilakukannya.

Berdasarkan ketentuan dari Article 72 : 1Constitution Of India, bahwa Article 72 : 1

The President shall have the power to grant pardons, reprieves, respites or remissions of punishment or to suspend, remit or commute the sentence of any person convicted of any offence

(a) in all cases where the punishment or sentence is by a Court Martial; (b) in all cases where the punishment or sentence is for an offence against

any law relating to a matter to which the executive power of the Union extends;

(c) in all cases where the sentence is a sentence of death

Ketentuan di atas menjelaskan bahwa presiden mempunyai kekuasaan untuk memberikan grasi, remisi serta pengampunan terhadap narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana di dalam lingkup :

a) Setiap kejahatan yang dilakukan dibawah naungan pengadilan militer b) Setiap kejahatan hukum yang berhubungan dengan kekuasaan eksekutif

di wilayah India secara menyeluruh

c) Setiap kejahatan yang diancam dengan hukuman mati

Dalam uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa wewenang penuh dimiliki oleh Presiden dalam pemberian remisi kepada narapidana tanpa ada

104

campur tangan lembaga – lembaga pemerintah lainnya. Dalam tradisi hukum di India, remisi diberikan berdasarkan klasifikasi lamanya seseorang ditahan. Hal ini berbeda dengan di Indonesia yang mana pemberian remisi didasarkan pada jenis remisi yang diterima. Akan tetapi pemberian remisi di India dan Indonesia memiliki filosofi yang sama yakni sebagai hadiah (reward) kepada narapidana agar senantiasa berbuat baik serta mensukseskan tujuan dari pemidanaan itu sendiri yakni pembinaan.

Berdasarkan uraian tersebut penulis berkesimpulan bahwa pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana umum/biasa dan pelaku tindak pidana korupsi di India tetap diberikan tanpa ada perbedaan/ pengklasifikasian. Pemberian remisi yang diberikan secara langsung oleh presiden di India juga patut diapresiasi sebagai suatu cerminan usaha dalam mensukseskan tujuan utama pembinaan itu sendiri.

Berdasarkan kajian perbandingan terhadap negara – negara pembanding di atas yang berkaitan dengan pemberian remisi kepada narapidana, menurut penulis kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi di masa mendatang, hendaknya menempatkan arah hukum pelaksanaan pidana (penitensier) menyatakan bahwa remisi merupakan suatu hak yang harus diberikan kepada narapidana terlepas dari kejahatan apa yang dilakukan oleh narapidana itu sendiri. Hal tersebut

105

didasarkan pada filosofi pemidanaan itu sendiri yang menekankan pada sisi preventif (mencegah terjadinya tindak pidana) serta pembinaan narapidana itu sendiri, yang berarti filosofi pemidanaan ditujukan untuk masa yang akan datang sebagai upaya menanggulangi kejahatan. Dalam mana dilakukan pembedaan terhadap ketentuan pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana biasa/ umum dengan pelaku tindak pidana luar biasa hendaklah melihat tujuan utama dari pemidanaan serta batasan – batasan yang jelas terhadap pemberian remisi dan juga diatur dalam sebuah aturan yang dapat diberlakukan secara universal sehingga tidak menciderai filosofi dan tujuan dari pemidanaan serta rasa keadilan masyarakat.

Indonesia dapat merujuk atau mengadopsi ketentuan pemberian remisi yang dianut di negara pembanding sebagaimana diuraikan di atas. Bahwa pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi harus mempertimbangkan “kualitas” kejahatan atau suatu tindak pidana yang dilakukan, dalam arti untuk diperberat baik dari sisi kriteria pemberian maupun besaran remisi itu sendiri. Hal ini dilakukan mengingat korupsi itu sendiri merupakan suatu kejahatan luar biasa sehingga diperlukan pula upaya yang luar biasa dalam usaha pemberantasannya tanpa menciderai rasa keadilan dalam masyarakat.

106

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Kebijakan hukum pidana dalam formulasi pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) telah dirumuskan secara berbeda dari pelaku tindak pidana lainnya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 juntco Peraturan Pemerintah No 32 Tahun 1999. Terhadap koruptor dapat memperoleh remisi setelah menjalani sepertiga dari masa pidananya dan harus berkelakuan baik. Ketentuan ini hadir sebagai bentuk perwujudan rasa keadilan dalam penegakan hukum. Terkait dengan kebijakan moratorium pemberian remisi kepada koruptor yang dilakukan oleh Kementerian Hukum dan HAM patut diapresiasi dari segi semangat pemberantasan korupsi, namun ditinjau dari segi filosofi pemidanaan dan dasar hukumnya pemberlakuan moratorium tersebut harus ditinjau kembali agar kebijakan tersebut memiliki dasar hukum yang kuat serta sejalan dengan filosofi pemidanaan yang ada dalam konsep pemasyarakatan.

107

2. Ketentuan pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi di negara lain berbeda dengan di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan negara pembanding di dalam penulisan hukum ini disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan filosofi pemidanaan untuk memperoleh remisi baik antara pelaku tindak pidana yang merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) dengan pelaku tindak pidana biasa atau umumnya akan tetapi perbedaan jelas terdapat dalam besarnya remisi yang diterima setiap narapidana. Di negara pembanding yang diteliti secara keseluruhan, remisi diberikan sesuai dengan besarnya pidana penjara yang diberikan, hal tersebut berbeda dengan di Indonesia yang mana besaran remisi diberikan secara sama sesuai dengan jenis remisi yang diterima oleh narapidana. Namun ditinjau dari segi filosofi pemidanaannya negara-negara tersebut memiliki kesamaan dengan Indonesia, bahwa pemidanaan tidak diarahkan pada sarana balas dendam tetapi diarahkan pada sarana preventif, rehabilitatif, dan integrasi sosial.

B. SARAN

1. Ketentuan pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi adalah bagian dari kerangka besar sistem pemidanaan di Indonesia yang diarahkan pada proses pembinaan narapidana dengan tujuan preventif, rehabilitatif dan integratif. Oleh sebab itu menurut penulis, remisi kepada

108

pelaku tindak pidana korupsi tetap harus diberikan dengan tetap memperhatikan terwujudnya keadilan hukum.

2. Ketentuan pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi tetap harus diatur berbeda dengan pelaku tindak pidana pada umumnya. Pengaturan yang berbeda tersebut harus diterjemahkan sebagai ketentuan yang memperberat syarat bagi pelaku tindak pidana korupsi untuk memperoleh remisi. Hal ini didasarkan pada terwujudnya keadilan hukum.

3. Kebijakan yang terkait dalam usaha pemberantasan tindak pidana korupsi utamanya dalam ranah hukum pelaksanaan pidana (penitensier) harus memiliki landasan hukum yang kuat serta tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.

4. Ketentuan pemberian remisi kepada koruptor di masa yang akan datang hendaknya mempertimbangkan masa pidana seseorang sebagaimana yang dianut oleh negara – negara pembanding di atas dengan kata lain disesuaikan berat ringannya sanksi pidana dengan besar remisi yang dapat diperoleh. Sehingga ke depannya diharapkan tercapai tujuan dari pemasyarakatan yakni pembinaan narapidana serta terciptanya keadilan dalam masyarakat.

109

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Hartanti, Evi, Tindak Pidana Korupsi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008) Keraf, Gorys, Komposisi, (Semarang: Bina Putera, 2004)

Marlina, Hukum Penitensier, (Medan: PT. Refika Aditama, 2011)

Muladi dan Barda Nawawi Arief, “Teori-Teori dan Kebijakan Pidana”, (Bandung: Alumni, 2005)

Nawawi, Barda Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008)

, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung: Penerbit Alumni, 2003)

, Perkembangan Sistem Pemidanaan Di Indonesia, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2009)

, Tujuan dan Pedoman Pemidanaan, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2009)

, Perbandingan Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010) P.A.F. Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, (Bandung : Armico, 1984)

Priyatno, Dwidja, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009)

Serikat, Nyoman PJ., “Remisi dan Pembebasan Bersyarat dalam Perspektif Tujuan Pemidanaan dan Kebijakan Hukum Pidana”, Seminar Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2011

110

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1984)

, Pengantar Penelitian Hukum, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006)

Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana (Bandung, Alumni, 1981)

, Hukum Pidana I, (Semarang: Yayasan Sudarto a/n FH. Undip Semarang,1990)

Sularto,R.B dan Budi Hermidi, Dasar – Dasar Teknik Keterampilan Non Litigasi (Bidang Hukum Penitensier), (Semarang: Badan Penerbit UNDIP, 2007)

Sularto,R.B, Beberapa Aspek Kemahiran Non Litigasi Bidang Hukum Pidana, (Semarang: Badan Penerbit UNDIP, 2011)

Syamsuddin, Aziz, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011)

Zulfa, Eva Achjani dan Indriyanto Seno Adji, Pergeseran Paradigma Pemidanaan, (Bandung: Lubuk Agung, 2011)

111

PERUNDANG - UNDANGAN

Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM)

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Ratifikasi United Nations Convention against Corruption (UNCAC), 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa – Bangsa Anti Korupsi)

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 juntco Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Masyarakat

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 174 Tahun 1999 Tentang Remisi

SUMBER LAIN Internet :

www.google.co.id www.metrotvnews.com www.antaranews.com

Dalam dokumen KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN R (Halaman 114-123)

Dokumen terkait