BAB I PENDAHULUAN
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Konsep Dasar IUD
2.3.7 Indikasi dan Kontraindikasi
a. Menurut Handayani (2010) indikasi IUD adalah : 1) Usia reproduksi.
2) Keadaan multipara.
3) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.
4) Perempuan menyusui yang ingin menggunakan kontrasepsi.
5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya.
b. Menurut Handayani (2010) Kontra Indikasi IUD adalah : 1) Kehamilan.
2) Gangguan perdarahan yang tidak diketahui sebabnya.
3) Peradangan pada alat kelamin, endometrium dan pangkal panggul.
4) Kecurigaan tumor ganas di alat kelamin.
5) Tumor jinak rahim dan kelainan bawaan rahim.
2.3.8 Faktor-Faktor yang mempengaruhi rendahnya pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD).
1. Pengatahuan
Kurangnya pengetahuan pada calon akseptor sagat berpengaruh terhadap pemakaian kontrasepsi IUD, pengetahuan dari wanita yang kurang maka penggunaan kontrasepsi terutama IUD juga menurun (Proverawati, 2010).
2. Persepsi
Persepsi akseptor yang benar tentang pemakaian kontrasepsi IUD.
Adanya pandangan bahwa KB urusan wanita atau istri (BKKBN, 2004).
3. Sikap
Sikap ini juga berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan seseorang. Banyak mitos tentang IUD seperti dapat mengganggu hubungan suami istri, mudah terlepas jika bekerja terlalu keras, menimbulkan kemandulan, dan lain sebagainya (proverawati, 2010).
4. Pendidikan
Sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang maka akan semakin berpengaruh dalam membantu untuk memilih alat kontrasepsi yang diinginkan, pendidikan pasangan suami yang rendah akan menyulitkan proses pengajarn dan pemberian informasi, sehingga pengetahuan tentang IUD juga terbatas (Proverawati, 2010).
5. Pekerjaan
Jenis pekerjaan dan tingkat ekonomi seseorang akan berpengaruh pada pemilihan alat kontrasepsi, karena semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang maka akan semakin berpengaruh pada pemilihan dan pemakaian alat kontrasepsi terutama pemakaian alat kontrasepsi IUD (Handayani, 2010).
6. Sosial Budaya
Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi (Handayani, 2010).
7. Konseling
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi. Konseling disini dapat diartikan sebagai tatap muka, dimana ada satu pihak yang membantu pihak lain sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dan bertindak sesuai dengan keputusan yang telah dibuat. Dengan melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan dan sesuai dengan kebutuhan. Pemberian informasi yang benar tentang kontrasepsi IUD dapat menambah pengetahuan para calon akseptor dan mengurangi rasa bingung dan tidak tahu yang mereka hadapi. Sehingga akan timbul kesadaran untuk memilih IUD sebagai alat kontrasepsi (Handayani, 2010).
2.3.9 Efek Samping, Komplikasi dan Penanganan
Tabel 2.1 : Efek Samping, Komplikasi dan Penanganan
Sumber (Meilani, 2010).
Efek Samping/
Permasalahan
Penanganan
Amenorea Periksa apakah sedang hamil,apabila tidak, jangan lepas IUD, lakukan konseling danselidiki penyebab amenore apabila dikehendaki. Apabila hamil, jelaskan dan sarankan untuk melepas IUD apabila talinya terlihat dan kehamilan kurang dari 13 minggu.
IUD jangan dilepaskan. Apabila klien sedang hamil dan ingin mempertahankan kehamilannya tanpa melepaskan IUD, jelaskan adanya resiko kemungkinan terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilan harus lebih diamati dan dipertahankan.
Kejang Pastikan dan tegaskan adanya Penyakit Radang Panggul dan penyebab lain dari kekejangan. Tanggulangi penyebabnya apabila ditemukan. Apabila tidak ditemukan penyebabnya beri analgesik untuk sedikit meringankan. Apabila klien mengalami kejang yang berat,lepaskan IUD dan bantu klien menentukan metode kontrasepsi lain.
Perdarahan vagina yang hebat dan tidak teratur
pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik.
Apabila tidak ada kelainan patologis, perdrahan berkelanjutan serta perdarahan hebat, lakukan konseling dan pemantauan. Beri ibuprofen (800 mg, 3x sehari selama seminggu) untuk mengurangi perdarahan dan berikan tablet besi (1 tablet setiap hari selama 1 sampai 3 bulan).
IUD memungkinkan dilepas apabila klien menghendaki. Apabila klien telah memakai IUD selama lebih dari 3 bulan dan diketahui menderita anemia (Hb < 7 g%) anjurkan untuk melepas IUD dan bantulah untuk memilih metode lain yang sesuai.
Benang yang hilang Pastikan adanya kehamilan atau tidak. Tanyakan apakah IUD terlepas. Apabila tidak hamil dan IUD tidak terlepas, berikan kondom. Periksa talinya didalam saluran endoserviks dan kavum uteri (apabila memungkinkan adanya peralatan dan tenaga terlatih) setelah masa haid berikutnya. Apabila tidak ditemukan rujuklah ke dokter. Lakukan x-ray atau pemerikasaan ultrasound. Apabila tidak hamil dan IUD yang hilang tidak ditemukan, pasanglah IUD baru atau bantulah klien menentukan metode lain.
Adanya pengeluaran
cairan dari
vagina/dicurigai adanya (PRP)
Pastikan pemeriksaan untuk IMS. Lepaskan IUD apabila ditemukan menderita atau sangat dicurigai menderita gonorhoe atau infeksi klamidial, lakukan pengobatan yang memadai. Bila PRP, obati dan lepaskan IUD setelah 48 jam. Apabila IUD dikeluarkan, beri metode lain sampai masalahnya teratasi.
2.3.10 Waktu penggunaan IUD
Menurut Handayani (2010) waktu penggunaan IUD adalah :
a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid.
c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL). Perlu diingat angka ekspulsi tinggi pada
pemasangan segera atau selama 48 jam pascapersalinan.
d. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada jalan infeksi.
e. Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.
2.3.11 Petunjuk Bagi Klien
Menurut Handayani (2010) petunjuk bagi klien setelah menggunakan IUD adalah :
a. Kembali memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu pemasangan IUD.
b. Selama bulan pertama menggunakan IUD, periksalah benang IUD secara rutin terutama setelah haid.
c. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memerikasa keberadaan benang setelah setelah haid apabila mengalami :
1) Kram/kejang di perut bagian bawah.
2) Perdarahan spotting diantara haid atau setelah senggama.
3) Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual.
d. Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilakukan lebih awal apabila diinginkan.
e. Kembali ke klinik apabila : 1) Tidak dapat meraba benang IUD.
2) Merasakan bagian yang keras dari IUD.
3) IUD terlepas.
4) Siklus terganggu atau meleset.
5) Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan.
6) Adanya infeksi.
f. Informasi Umum
1. IUD bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan.
2. IUD dapat keluar dari uterus secara spontan, khusunya selama bulan pertama.
3. Kemungkinan terjadi perdarahan atau spotting beberapa hari setelah pemasangan.
4. Perdarahan menstruasi biasanyan akan lebih lama dan lebih banyak.
5. IUD mungkin dilepas setiap saat atas kehendak klien.
6. Jelaskan pada klien jenis IUD apa yang digunakan, kapan akan dilepas dan berikan kartu tentang semua informasi ini.
7. IUD tidak dapat melindungi diri dari IMS termasuk virus AIDS. Apabila pemasangannya beresiko, mereka harus menggunakan kondom.
2.2.13. Langkah-langkah pemasangan IUD Copper-T 380A Tabel 2.2 : Langkah-langkah Pemasangan IUD Copper-T 380A
Langkah Alasan Uraian
Langkah 1
Jelaskan kepada klien apa yang akan memudahkan pemasangan serta mengurangi rasa sakit.
Hindari percakapan seperti ”Ini tidak sakit” – pada saat melakukan langkah yang mungkin menimbulkan rasa sedikit sakit atau “hamper akan diberitahu bila sampai pada langkah tersebut.
Hal ini untuk menambah kepercayaan dan percaya diri.
Ajaklah klien bercakap-cakap sepanjang pemasangan.
Pastikan klien telah mengosongkan kandung kencingnya.
Hal ini akan membantu klien merasa tenang dan pemeriksaan panggul menjadi lebih mudah.
Untuk memeriksa adanya ulkus, pembengkakan kelenjar getah bening.
Untuk memeriksa adanya pembengkakan kelenjar Bartolin dan kelenjar Skene.
Untuk memeriksa adanya cairan vagina, servisitis dan pemeriksaan mikroskopis bila diperlukan.
Untuk menentukan besar, posisi, konsistensi, dan mobilitas uterus.
Untuk memeriksa adanya nyeri goyang servikis dan tumor pada adneksa atau kavum Douglasi.
Pakai sarung tangan. Setelah dipakai sarung tangan harus didekontaminasi, cuci dan DTT atau sterilisasi.
Spekulum setelah dipakai harus didekontaminasi, cuci dan DTT atau sterilisasi.
Jangan lakukan pemasangan bila ada infeksi atau hamil.
Langkah 3
Lakukan pemeriksaan mikroskopik bila tersedia dan ada indikasi
Untuk memeriksa adanya jamur, trikomonas, bacterial vaginosis (preparat basah Saline dan KOH serta pemeriksaan pH)
Untuk memeriksa adanya Gonorea atau Klamidia
Bila ada vaginitis harus diobati dulu sebelum dipasang IUD.
Bila dicurigai gonorea (diplokokus gram negatif intraseluler) atau klamidia beri pengobatan (dan periksa kembali setelah selesai pengobatan). IUD jangan dipasang.
Langkah 4 diperlukan bila memasukkan lengan IUD didalam kemasan sterilnya.
Jangan memasukkan lengan IUD lebih dari 5 menit sebelum pemasangan, karena lengan IUD tidak kembali seperti bentuk semula (lurus) setelah dipasang.
Tenakulum untuk stabilisasi uterus dan mengurangi resiko perforasi.
Usap seluruh vagina dan serviks dengan larutan antiseptic (2x atau lebih). Pemberian anestesi local hanya bila diperlukan.
Pasang tenakulum secara hati-hati pada posisi vertical (jam 10 atau jam 2) jepit dengan pelan
Untuk menentukan posisi uterus dan kedalaman kavum uteri.
Memasukkan sonde sekali masuk (tehnik tanpa sentuh) dimaksudkan untuk mengurangi resiko infeksi.
Masukkan secara perlahan-lahan dan hati-hati.
Jangan menyentuh dinding vagina atau bibir speculum, inserter sesuai dengan kedalaman kavum uteri. Hati-hati memasang tabung inserter sampai leher biru menyentuh fundus atau sampai terasa ada tahanan.
Lepas lengan IUD dengan menggunakan tehnik menarik (withdrawal technique). Tarik keluar pendorong.
Setelah lengan IUD lepas, dorong secara perlahan-lahan tabung inserter ke dalam kavum uteri sampai leher biru menyentuh serviks.
Tarik keluar sebagian tabung inserter, potong benang IUD kira-kira 3-4 cm panjangnya.
Cara lain, tarik keluar seluruh tabung inserter, jepit benang IUD dengan menggunakan forcep kira-kira 3-4 cm dari serviks dan potong benang IUD pada tempat tersebut.
Jangan memaksa pemasangan jika terdapat tahanan.
Pergunakan tenakulum untuk menahan saat melepas benang IUD.
Pastikan IUD telah terpasang sampai di fundus.
Pastikan sisa benang IUD yang telah terpotong berada didalam tabung inserter, untuk memudahkan pembuangannya.
Mengurangi resiko IUD tercabut keluar (kemungkinan benang terjepit pada gunting, bila guntingnya tumpul dan benang tidak terpotong dengan benar).
Memperkecil resiko penularan Hepatitis B dan HIV/AIDS pada petugas.
Taruh bahan-bahan habis pakai (kapas atau kasa) yang terkontaminasi (darah atau vagina) kedalam kantong plastik yang tidak bocor dan kemudian dibakar.
Bersihkan permukaan yang terkontaminasi.
Memperkecil resiko penularan Hepatitis B dan HIV/AIDS pada petugas.
Jangan terlalu hemat memakai larutan klorin 0,5%.
Langkah 9 Lakukan
dekontaminasi alat-alat dan sarung tangan dengan segera setelah selesai dipakai.
Memperkecil resiko penularan Hepatitis B dan HIV/AIDS pada petugas.
Rendam alat-alat kedalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebeum dicuci dan didesinfektan.
Celupkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%
kemudian lepas sarung tangan dengan membalik sehingga bagian dalam menjadi bagian luar dan rendam larutan klorin
Untuk mengurangi resiko kehamilan akibat IUD yang hilang.
Untuk mengamati bila terjadi rasa sakit yang amat sangat pada perut, mual atau muntah sehingga IUD perlu dicabut bila dengan analgesik ringan (aspirin atau ibuprofen) rasa sakit tersebut tidak hilang.
Bila secara pribadi dan budaya tidak menjadi masalah, klien dapat mempraktekkan cara memeriksa benang tersebut, sebelum meninggalkan klinik.
Keadaan ini walaupun jarang, bisa terjadi bila dipasang IUD berkandungan tembaga dengan ukuran kecil dan pada perempuan yang sudah melahirkan.
Sumber : Prawirohardjo, 2006
2.4 Kerangka Konseptual
Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang diinginkan diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005). Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah. Dibawah ini merupakan rangkaian kerangka konsep yang menjadi penyebab masalah:
Keterangan: : Diteliti
: Tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
(Modifikasi, proverawati 2010, Handayani 2010, Friedman 2004) 1. Pengetahuan
2. Persepsi 3. Motivasi 4. Sikap 5. Pendidikan 6. Sosial Budaya 7. Sosial Ekonomi Tingkat Pendidikan
Luas pengatahuan
Informasi
Perilaku
Jenis pekerjaan
Pendapatan
Perilaku Faktor-Faktor
Penggunaan IUD
Berdasarkan kerangka konseptual diatas, dapat diketahui cakupan akseptor kontrasepsi IUD dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal yang meliputi pengetahuan, persepsi, motivasi, sikap, pendidikan.
Sedangkan faktor eksternal yaitu sosial budaya dan sosial ekonomi. Dari beberapa faktor tersebut maka yang diteliti oleh peneliti adalah Hubungan antara tingkat pendidikan dan sosial ekonomi pada penggunaan IUD.
2.5 Hipotesa Penelitian
Hipotesa adalah jawaban sementara penelitian, patokan, dugaan, dalil sementara yang kebenaranya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2005). Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawabannya yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data (Sugiyono, 2011). Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian yaitu hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Hipotesis nol (Ho) menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y. atau adanya perbedaan antar dua kelompok (Arikunto, 2006 ).
Hipotesis pada penelitian ini adalah:
Ha : Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan penggunaan IUD (Intra Uterine Device).
Ha : Ada hubungan antara sosial ekonomi dengan penggunaan IUD (Intra Uterine Device).
BAB 3
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah sebagai suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah (Notoatmodjo, 2005). Metode penelitan merupakan penerapan prinsip-prinsip logis terhadap pengetahuan dan penjelasan (Notoatmodjo, 2005).Pada bab ini akan dibahas mengenai desain penelitian, kerangka kerja, identifikasi variabel,definisi operasional, sampling desain, pengumpulan data, masalah etika penelitian, keterbatasan, serta waktu dan tempat penelitian.
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian, yang memungkinkan pemaksimalan kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi akurasi suatu hasil (Nursalam, 2003). Desain penelitian merupakan suatu vital dalam penelitian yang memungkinkan memaksimalkan kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi vadilitas suatu hasil. Desain penelitian sebagai petunjuk peneliti dalam perencanaan dan pelksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan.
Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik yaitu yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi (Notoatmodjo, 2005), kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena, baik karena faktor resiko dengan faktor
efek, antar faktor resiko maupun antar faktor efek ( Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan waktu penelitiannya menggunakan cross sectional.
3.2 Kerangka Kerja
Gambar 3.1 Kerangka Kerja Populasi
336 Akseptor
Besar Sampel 25% dari populasi
Pengumpulan Data
Variabel Independen : Tingkat Pendidikan : Kuesioner
Sosial Ekonomi : Kuesioner
Variabel Dependen : Penggunaan Kontrasepsi IUD : Kuesioner
Pengolahan Data Pengolahan Data : Editing
Coding Analisa Data : Univariat
Bivariat Tabulasi Silang
Pengambilan kesimpulan dan penentuan hasil
3.3 Identifikasi Variabel
Variabel merupakan konsep dari bebagai konsep abstrak yang didefinisikan sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran atau manipulasi suatu penelitian (Nursalam, 2003).
3.3.1 Variabel Independen (bebas)
Variabel Independen adalah variable yang nilai menentukan variabel lain. Suatu kegiatan stimulus yang manipulasi oleh penelitian menciptakan suatu dampak pada variabel dependen. Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk diketahui hubungan atau pengaruhnya terhadap variabel lain. (Nursalam, 2003). Adapun variabel Independen dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan dan sosial ekonomi.
3.3.2 Variabel Dependen (tergantung)
Variabel dependen adalah variable yang nilainya ditentukan oleh variable lain. Dalam ilmu ini tingkah laku, variable tergantung adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu organisme yang dikenai stimulus. Dengan kata lain, variable terikat adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variable bebas. (Nursalam, 2003). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah penggunaan alat kontrasepsi IUD.
3.4 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasakan karateristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat pada suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2008).
Tabel 3.1 Definisi Operasional Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Sosial Ekonomi Dengan Penggunaan IUD.
No Variabel Definisi operasional Alat ukur Skala pengukuran
Kuesioner Ordinal 1.Pendidikan Dasar 2.Pendidikan Menengah 3.Pendidikan Tinggi
2 Sosial Ekonomi Kedudukan seseorangatau
keluarga di
masyarakat berdasarkan
pendapatan per bulan.
Status ekonomi dapat dilihat dari
Kuesioner Ordinal 1.Kelas bawah 2.Kelas
menengah 3. Kelas atas
3) Pengahasilan tipe kelas atas:
> Rp. 1.000.000 3. Variabel
adependen Penggunaan kontrasepsi IUD
Suatu alat atau benda yang dimasukkan kedalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat digunakan oleh semua perempuan usia reproduktif, untuk menjarakkan kehamilan.
Kuesioner Nominal 1.IUD 2.Non IUD
3.5 Desain Sampling
3.5.1 Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini populasinya adalah akseptordi wilayah kerja Puskesmas Konang yaitu sebanyak 336 Akseptor.
3.5.2 Besar Sampel
Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel, jika jumlah subyek besar (lebih dari 100) dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% (Arikunto, 2006). Besar populasi dalam penelitian ini adalah 336 maka besar sampel yang diambil 25% dari total populasi sebanyak 84responden.
3.5.3 Teknik Sampling
Tehnik sampling merupakan suatu proses seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili keseluruhan populasi yang ada, secara umum ada dua jenis pengambilan sampel yakni probability sampling dan nonprobabilitysampling. Pada penelitian ini tehnik sampling yang
digunakan adalah probality sampling dengan cara cluster sampling yaitu suatu cara pengambilan sampel bila objek yang diteliti atau sumber data yang sangat luas atau besar, yakni populasinya heterogen da terdiri atas kelompok yang masing-masing heterogen, maka caranya adalah berdasarkan daerah dari populasinya yang telah ditetapkan. Cluster samplingdilakukan dengan cara melakukan randomisasi dalam dua tahap
yaitu randomisasi untuk cluster/ menentukan orang/ unit yang ada diwilayahnya/ dari populasi cluster yang terpilih (Hidayat, 2010).
3.6 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Konang Kabupaten Bangkalan. Waktu yang akan digunakan pada penelitian ini selama kurang lebih 1 bulan. Rencana penelitian ini dilaksanakan pada bulanDesember 2013.
3.7Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2011). Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, dimana responden tinggal memberikan tanda-tanda tertentu (Notoatmodjo, 2005). Peneliti mengadakan pendekatan kepada akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Konang untuk mendapatkan persetujuan menjadi responden sebagai subyek penelitian dengan memberikan kuesioner kepada responden.
3.8Pengolahan Data
Data yang terkumpul dari kuesioner yang telah diisi oleh respoden kemudian diolah dengan tahap sebagai berikut:
3.8.1 Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data
yang diperoleh atau dikumpulkan (Hidayat, 2010). Langkah ini dilakukan dengan maksud mengantisipasi kesalahan dari data yang dikumpulkan juga memonitor jangan sampai terjadi kekosongan dari data yang dibutuhkan.
3.8.2 Coding
Coding merupakan kegiatan memberikan kode numeric atau angka
terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori (Hidayat, 2010).
Sehingga data hasil dari kuesioner dimasukkan dengan cara memberikan kolom yang sudah disediakan pada setiap pertanyaan dalam kuesioner sehingga lebih memudahkan dalam pengolahan data.
a. Tingkat Pendidikan :
Pendidikan Dasar (SD, MI, SMP, MTS) diberi kode 1.
Pendidikan Menengah (SMA, MA, SMK, MAK) diberi kode 2.
Pendidikan Tinggi (DIII, SI, Megister dll) diberi kode 3.
b. Tingkat Sosial Ekonomi : Tipe kelas bawah diberi kode 1.
Tipe kelas menengah diberi kode 2.
Tipe kelas atas diberi kode 3.
c. Penggunaan IUD : IUD diberi kode 2.
Non IUD diberi kode 1.
3.8.3 Skoring.
Untuk memudahkan dalam pengolahan data, maka setiap jawaban dari kuesioner diberi skor dengan karakteristik masing-masing.
a. Tingkat Pendidikan :
Pendidikan Dasar (SD, MI, SMP, MTS) diberi nilai 1.
Pendidikan Menengah (SMA, MA, SMK, MAK) diberi nilai 2.
Pendidikan Tinggi (DIII, SI, Megister dll) diberi nilai 3.
b. Tingkat Sosial Ekonomi : Tipe kelas bawah diberi nilai 1.
Tipe kelas menengah diberi nilai 2.
Tipe kelas atas diberi nilai 3.
c. Penggunaan IUD : IUD diberi nilai 1.
Non IUD diberi nilai 2.
3.8.4 Tabulating
Tabulating adalah memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan
mengatur angka-angka sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori. Dalam penelitian ini, pada proses tabulating menggunakan bantuan program system komputer.
3.8.5 Analisa Data
Setelah data terkumpul, peneliti melakukan analisa data dengan menggunakan teknik analisa univariat pada masing-masing variabel kemudian dilanjutkan dengan teknik analisa bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel yaitu tingkat pendidikan dan tingkat sosial
ekonomi (variabel independen) dan penggunaan IUD (variabel dependen).
1) Analisa Univariat
Analisa univariatbertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam penelitian ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Analisis ini digunakan untuk menginterpretasikan hasil perhitungan dari kuesioner tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi.
2) Analisa Bivariat
Analisa bivariatdilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010).
Data yang diperoleh akan diklasifikasi dan dianalisis secara prosentase yang artinya data dibagi dalam beberapa kelompok dan diukur dalam prosentase. Dari data yang sudah ditabulasi, dianalisis dengan menggunakan cross tabs yaitu suatu metode penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi (Notoadmodjo, 2005).
3.9 Masalah Etika Penelitian
Penelitian dilaksanakan setelah mendapatkan rekomendasi dari Akademi Kebidanan Ngudia Husada Madura dan permohonan ijin kepala Puskesmas Konang Bangkalan, kemudian melakukan penelitian kuesioner pada subjek penelitian dengan kuesioner pada subjek dengan memperhatikan masalah etika lain sebagai berikut :
3.9.1 Lembar persetujuan menjadi responden (infomed concent)
Sebelum pengambilan sampel terlebih dahulu meminta ijin kepada responden yang akan diteliti, baik lisan maupun melalui lembar persetujuan atas kesediaan dijadikan objek penelitian dengan tujuan agar responden mengetahui maksud dan tujuan peneliti.
a. Tanpa Nama (Anonimity)
Responden tidak perlu mencantumkan nama dalam kuesioner untuk menjaga privasi dan kerahasiaan identitas, untuk mengetahui keikutsertaan responden peneliti memberi kode pada masing-masing lembar pengumpulan data.
b. Kerahasiaan
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden peneliti
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden peneliti