• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Dasar Sosial Ekonomi

2.2.2 Tingkat Ekonomi

a. Geimar dan Lesorte (1964) dalam Friedman (2004) membagi keluarga terdiri dari 4 tingkat ekonomi:

1) Adekuat

Adekuat menyatakan uang yang ada dibelanjakan atas dasra suatu permohonan bahwa pembiayaan adalah tanggung jawab kedua orang tua. Keluarga menganggarkan dan mengatur biaya secara realistis.

2) Marginal

Pada tingkat marginal sering terjadi ketidaksepakatan dan perselisihan siap yang seharusnya mengontrol pendapatan dan pengeluaran.

3) Miskin

Keluarga tidak bisa hidup dengan caranya sendiri, pengaturan keuangan yang buruk akan menyebabkan didahulukannya kemewahan. Diatas kebutuhan pokok, manajemen keuangan yang sangat buruk atau tidak membahayakan kesejahteraan anak, tetapi pengeluaran dan kebutuhan keuangan melebihi penghasilan.

4) Sangat miskin

Manajemen keuangan yang sangat jelek, termasuk pengeluaran saja dan berhutang terlalu banyak, serta kurang tersedianya kebutuhan dasar.

b. Friedman (2004) membagi status sosial ekonomi seseorang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

1) Pengahasilan tipe kelas atas : > Rp. 1.000.000

2) Pengahasilan tipe kelas menengah : Rp.500.000-Rp.1.000.000 3) Penghasilan tipe kelas bawah : < Rp. 500.000

c. Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi 3 kelas atau golongan terdiri atas:

1) Golongan sangat kaya, merupakan kelompok kecil dalam masyarakat, terdiri dari pengusaha, tuan tanah, dan bangsawan.

2) Golongan kaya, merupakan golongan yang cukup banyak terdapat dalam masyarakat, terdiri dari para pedagang, dll

3) Golongan miskin, merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat, kebanyakan dari rakyat biasa.

d. Karl Marx membagi masyarakat menjadi 3 golongan, yaitu:

1) golongan kapitalis dan borjuis, yaitu golongan yang menguasai tanah dan alat produksi

2) golongan menengah, yaitu golongan yang terdiri dari para pegawai pemerintahan

3) golongan proletar, yaitu golongan yang tidak mempunyai atau memiliki tanah dan alat produksi termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.

e. Tahapan keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan menurut Suprajitno (2004) :

1) Keluarga prasejahtera

Keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, yaitu kebutuhan pengajaran agama, pangan, sandang, dan kesehatan atau keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator keluarga sejahtera tahap I.

2) Keluarga sejahtera tahap I

Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologinya, yaitu kebutuhan pendidikan,

keluarga berencana (KB), interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.

Indikator keluarga sejahtera tahap I:

a) Makan dua kali sehari atau lebih

b) Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan c) Lantai rumah bukan dari tanah

d) Kesehatan (anak sakit dibawa ke tenaga kesehatan) 3) Keluarga sejahtera tahap II

Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal serta telah memenuhi kebutuhan dasar secara minimal serta telah memenuhi seluruh kebutuhan sosial psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan, yaitu kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.

Indikator keluarga sejahtera tahap II:

a) Makan dua kali sehari atau lebih

b) Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan c) Lantai rumah bukan dari tanah

d) Kesehatan (anak sakit dibawa ke tenaga kesehatan)

e) Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu.

f) Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir

g) Keluarga yang berumur 15 tahun ke atas mempunyai penghasilan tetap

h) Anak usia sekolah (7-15 tahun) bersekolah 4) Keluarga sejahtera tahap III

Keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis, dan kebutuhan pengembangan, tetapi belum dapat memberikan sumbangan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat secara teratur (dalam waktu tertentu) dalam bentuk material dan keuangan untuk sosial kemasyarakatan, juga berperan serta secara aktif dengan menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan sosial, keagamaan, kesenian, olahraga, pendidikan, dan lain sebagainya.

Indikator keluarga sejahtera tahap III:

a) Makan dua kali sehari atau lebih

b) Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan c) Lantai rumah bukan dari tanah

d) Kesehatan (anak sakit dibawa ke tenaga kesehatan)

e) Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu.

f) Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir

g) Keluarga yang berumur 15 tahun ke atas mempunyai penghasilan tetap

h) Anak usia sekolah (7-15 tahun) bersekolah i) Keluarga mempunyai tabungan

j) Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi k) Rekreasi bersama paling kurang dalam 6 bulan

l) Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi dan majalah 5) Keluarga sejahtera tahap III plus

Keluarga yang telah memenuhi seluruh kebutuhannya, baik yang bersifat dasar, sosial psikologis, maupun pengembangan, serta telah mampu memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Indikator keluarga sejahtera tahap III plus:

a) Makan dua kali sehari atau lebih

b) Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan c) Lantai rumah bukan dari tanah

d) Kesehatan (anak sakit dibawa ke tenaga kesehatan)

e) Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu.

f) Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir

g) Keluarga yang berumur 15 tahun ke atas mempunyai penghasilan tetap

h) Anak usia sekolah (7-15 tahun) bersekolah i) Keluarga mempunyai tabungan

j) Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi k) Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi dan majalah l) Rekreasi bersama paling kurang dalam 6 bulan

m) Memberikan sumbangan secara teratur n) Aktif sebagai pengurus yayasan/panti

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Status Ekonomi:

Menurut Friedman (2004) faktor yang mempengaruhi status ekonomi seseorang adalah:

a) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah dalam memperoleh pekerjaan, sehingga semakin banyak pula penghasilan yang diperoleh. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang nilai-nilai yang baru dikenal.

b) Pekerjaan

Pekerjaan adalah symbol status seseorang di masyarakat.

Pekerjaan jembatan untuk memperoleh uang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapat tempat pelayanan kesehatan yang diinginkan.

c) Keadaan Ekonomi

Kondisi ekonomi keluarga yang rendah mendorong kurangnya perhatian terhadap pemilihan alat kontrasepsi.

d) Latar Belakang Budaya

Kultur universal adalah unsur kebudayaan yang bersifat universal, ada di dalam semua kebudayaan di dunia, seperti pengetahuan bahasa dan khasanah dasar, cara pergaulan sosial, adat-istiadat, penilaian umum. Tanpa disadari, kebudayaan telah

menanamkan garis pengaruh sikap terhadap berbagai masalaah.

Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pulalah yang member corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya.

Hanya kepercayaan individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominasi kebudayaan dalam pembukaan sikap individual.

e) Pendapatan

Pendapatan adalah hasil yang diperoleh dari kerja atau usaha yang yelah dilakukan. Pendapatan akan mempengaruhi gaya hidup seseorang. Orang atau keluarga yang mempunyai status ekonomi atau pendapatan tinggi akan mempraktikkan gaya hidup yang mewah misalnya lebih konsumtif karena mereka mampu untuk membeli semua yang dibutuhkan bila dibandingkan dengan keluarga yang kelas ekonominya ke bawah.

2.3 Konsep Dasar IUD 2.3.1 Pengertian

AKDR (Alat Kontrsepsi Dalam Rahim) alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang snagat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif (Handayani, 2010).

AKDR (Alat Kontrsepsi Dalam Rahim) merupakan kontrasepsi yang terbaik bagi sebagian besar wanita, alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil (Proverawati, 2010).

Akseptor adalah orang yang menjalani kontrasepsi (Manuaba, 2005).

2.3.2 Jenis-Jenis IUD

Menurut Suratun (2008) dalam bukunya yang berjudul Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi, jenis-jenis IUD yang beredar sebagai berikut :

a. IUD Generasi pertama : disebut Lippesloop, berbentuk spiral atau huruf S ganda terbuat dari plastic.

b. IUD Generasi kedua :

1) Cu T 200 B : Berbentuk T yang batangnya dililit tembaga (Cu) dengan kandungan tembaga.

2) Cu 7 : berbentuk angka 7 yang batangnya dililit tembaga.

3) ML Cu 250 : berbentuk 3/3 lingkaran elips yang bergerigi yang batangnya batangnya dililit tembaga.

c. IUD Generasi Ketiga :

1) Cu T. 380 A : Berbentuk huruf T dengan lilitan tembaga dan lebih banyak dan perak.

2) MI Cu 375 : Batangnya dililit tembaga berlapis perak.

3) Nova T. Cu 200 A : Batang dan lengannya dililit tembaga.

d. IUD Generasi Keempat

Genetik, merupakan IUD tanpa rangka, terdiri dari benang polipropilen monofilament dengan enam butir tembaga.

2.3.3 Cara Kerja IUD

Menurut Proverawati (2010) cara kerja dari alat kontrasepsi IUD adalah sebagai berikut :

a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba fallopi.

b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.

c. IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

2.3.4 Persyaratan Pemakaian IUD

a. Menurut Handayani (2010) Wanita yang dapat menggunkan IUD adalah : 1) Usia reproduktif.

2) Keadaan nulipara.

3) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.

4) Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi.

5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya.

6) Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi.

7) Resiko rendah dari IMS.

8) Tidak menghendaki metode hormonal.

9) Tidak menyukai unutk mengingat-ingat minum pil setiap hari 10) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama.

b. Menurut Handayani (2010) wanita yang tidak diperkenankan menggunakan IUD adalah :

1) Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).

2) Perdarahan vagina yang tiadak diketahui (sampai dapat dievaluasi) 3) Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis).

4) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik.

5) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri.

6) Penyakit trofoblas yang ganas.

7) Diketahui menderita TBC pelvik.

8) Kanker alat genital.

9) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

2.3.5 Efektivitas IUD

Menurut Handayani (2010) efektifitas dati bermacam-macam IUD tergantung pada :

a. IUD-nya : Ukuran, Bentuk dan mengandung Cu atau Progesteron.

b. Akseptor.

1) Umur : makin tua usia,makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran IUD.

2) Paritas : makin muda usia, terutama pada multigravida, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran IUD.

3) Frekuensi senggama.

Sebagai kotrasepsi, efektiitasnya tinggi. Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-70 kehamilan).

2.3.6 Keuntungan Dan Kerugian IUD

a. Menurut Handayani (2010) keuntungan IUD adalah : 1) Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi.

Sangat efektif : 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan).

2) IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.

3) Metode jamgka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti).

4) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.

5) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.

6) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.

7) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu IUD (CuT-380A).

8) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.

9) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi).

10) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)

11) Tidak ada interaksi dengan obat-obat.

Menurut Handayani (2010) kerugian IUD adalah : 1) Efek samping yang umum terjadi :

a. Perubahan siklus haid (umumnya pada tiga bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan).

b. Haid lebih lama dan banyak.

c. Perdarahan (spotting) antar menstruasi.

d. Saat haid lebih sakit.

2) Komplikasi lain :

a. Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.

b. Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebabkan anemia.

c. Pervorasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar).

3) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.

4) Tidak baik digunakan pada perempuan denga IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan.

5) Penyakit Radang Panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai IUD.PRP dapat memicu infertilitas.

6) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan IUD. Sering kali perempuan takut dalam pemasangan.

7) Sedikit nteri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan IUD. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.

8) Klien tidak dapat melepas IUD oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang harus melepaskan IUD.

9) Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila IUD dipasang segera sesudah melahirkan).

10) Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi IUD untuk mencegah kehamilan normal.

11) Perempuan harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu.

Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya kedalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.

2.3.7 Indikasi dan Kontra Indikasi IUD

a. Menurut Handayani (2010) indikasi IUD adalah : 1) Usia reproduksi.

2) Keadaan multipara.

3) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.

4) Perempuan menyusui yang ingin menggunakan kontrasepsi.

5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya.

b. Menurut Handayani (2010) Kontra Indikasi IUD adalah : 1) Kehamilan.

2) Gangguan perdarahan yang tidak diketahui sebabnya.

3) Peradangan pada alat kelamin, endometrium dan pangkal panggul.

4) Kecurigaan tumor ganas di alat kelamin.

5) Tumor jinak rahim dan kelainan bawaan rahim.

2.3.8 Faktor-Faktor yang mempengaruhi rendahnya pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD).

1. Pengatahuan

Kurangnya pengetahuan pada calon akseptor sagat berpengaruh terhadap pemakaian kontrasepsi IUD, pengetahuan dari wanita yang kurang maka penggunaan kontrasepsi terutama IUD juga menurun (Proverawati, 2010).

2. Persepsi

Persepsi akseptor yang benar tentang pemakaian kontrasepsi IUD.

Adanya pandangan bahwa KB urusan wanita atau istri (BKKBN, 2004).

3. Sikap

Sikap ini juga berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan seseorang. Banyak mitos tentang IUD seperti dapat mengganggu hubungan suami istri, mudah terlepas jika bekerja terlalu keras, menimbulkan kemandulan, dan lain sebagainya (proverawati, 2010).

4. Pendidikan

Sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang maka akan semakin berpengaruh dalam membantu untuk memilih alat kontrasepsi yang diinginkan, pendidikan pasangan suami yang rendah akan menyulitkan proses pengajarn dan pemberian informasi, sehingga pengetahuan tentang IUD juga terbatas (Proverawati, 2010).

5. Pekerjaan

Jenis pekerjaan dan tingkat ekonomi seseorang akan berpengaruh pada pemilihan alat kontrasepsi, karena semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang maka akan semakin berpengaruh pada pemilihan dan pemakaian alat kontrasepsi terutama pemakaian alat kontrasepsi IUD (Handayani, 2010).

6. Sosial Budaya

Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi (Handayani, 2010).

7. Konseling

Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi. Konseling disini dapat diartikan sebagai tatap muka, dimana ada satu pihak yang membantu pihak lain sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dan bertindak sesuai dengan keputusan yang telah dibuat. Dengan melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan dan sesuai dengan kebutuhan. Pemberian informasi yang benar tentang kontrasepsi IUD dapat menambah pengetahuan para calon akseptor dan mengurangi rasa bingung dan tidak tahu yang mereka hadapi. Sehingga akan timbul kesadaran untuk memilih IUD sebagai alat kontrasepsi (Handayani, 2010).

2.3.9 Efek Samping, Komplikasi dan Penanganan

Tabel 2.1 : Efek Samping, Komplikasi dan Penanganan

Sumber (Meilani, 2010).

Efek Samping/

Permasalahan

Penanganan

Amenorea Periksa apakah sedang hamil,apabila tidak, jangan lepas IUD, lakukan konseling danselidiki penyebab amenore apabila dikehendaki. Apabila hamil, jelaskan dan sarankan untuk melepas IUD apabila talinya terlihat dan kehamilan kurang dari 13 minggu.

IUD jangan dilepaskan. Apabila klien sedang hamil dan ingin mempertahankan kehamilannya tanpa melepaskan IUD, jelaskan adanya resiko kemungkinan terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilan harus lebih diamati dan dipertahankan.

Kejang Pastikan dan tegaskan adanya Penyakit Radang Panggul dan penyebab lain dari kekejangan. Tanggulangi penyebabnya apabila ditemukan. Apabila tidak ditemukan penyebabnya beri analgesik untuk sedikit meringankan. Apabila klien mengalami kejang yang berat,lepaskan IUD dan bantu klien menentukan metode kontrasepsi lain.

Perdarahan vagina yang hebat dan tidak teratur

pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik.

Apabila tidak ada kelainan patologis, perdrahan berkelanjutan serta perdarahan hebat, lakukan konseling dan pemantauan. Beri ibuprofen (800 mg, 3x sehari selama seminggu) untuk mengurangi perdarahan dan berikan tablet besi (1 tablet setiap hari selama 1 sampai 3 bulan).

IUD memungkinkan dilepas apabila klien menghendaki. Apabila klien telah memakai IUD selama lebih dari 3 bulan dan diketahui menderita anemia (Hb < 7 g%) anjurkan untuk melepas IUD dan bantulah untuk memilih metode lain yang sesuai.

Benang yang hilang Pastikan adanya kehamilan atau tidak. Tanyakan apakah IUD terlepas. Apabila tidak hamil dan IUD tidak terlepas, berikan kondom. Periksa talinya didalam saluran endoserviks dan kavum uteri (apabila memungkinkan adanya peralatan dan tenaga terlatih) setelah masa haid berikutnya. Apabila tidak ditemukan rujuklah ke dokter. Lakukan x-ray atau pemerikasaan ultrasound. Apabila tidak hamil dan IUD yang hilang tidak ditemukan, pasanglah IUD baru atau bantulah klien menentukan metode lain.

Adanya pengeluaran

cairan dari

vagina/dicurigai adanya (PRP)

Pastikan pemeriksaan untuk IMS. Lepaskan IUD apabila ditemukan menderita atau sangat dicurigai menderita gonorhoe atau infeksi klamidial, lakukan pengobatan yang memadai. Bila PRP, obati dan lepaskan IUD setelah 48 jam. Apabila IUD dikeluarkan, beri metode lain sampai masalahnya teratasi.

2.3.10 Waktu penggunaan IUD

Menurut Handayani (2010) waktu penggunaan IUD adalah :

a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.

b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid.

c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL). Perlu diingat angka ekspulsi tinggi pada

pemasangan segera atau selama 48 jam pascapersalinan.

d. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada jalan infeksi.

e. Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.

2.3.11 Petunjuk Bagi Klien

Menurut Handayani (2010) petunjuk bagi klien setelah menggunakan IUD adalah :

a. Kembali memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu pemasangan IUD.

b. Selama bulan pertama menggunakan IUD, periksalah benang IUD secara rutin terutama setelah haid.

c. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memerikasa keberadaan benang setelah setelah haid apabila mengalami :

1) Kram/kejang di perut bagian bawah.

2) Perdarahan spotting diantara haid atau setelah senggama.

3) Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan seksual.

d. Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilakukan lebih awal apabila diinginkan.

e. Kembali ke klinik apabila : 1) Tidak dapat meraba benang IUD.

2) Merasakan bagian yang keras dari IUD.

3) IUD terlepas.

4) Siklus terganggu atau meleset.

5) Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan.

6) Adanya infeksi.

f. Informasi Umum

1. IUD bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan.

2. IUD dapat keluar dari uterus secara spontan, khusunya selama bulan pertama.

3. Kemungkinan terjadi perdarahan atau spotting beberapa hari setelah pemasangan.

4. Perdarahan menstruasi biasanyan akan lebih lama dan lebih banyak.

5. IUD mungkin dilepas setiap saat atas kehendak klien.

6. Jelaskan pada klien jenis IUD apa yang digunakan, kapan akan dilepas dan berikan kartu tentang semua informasi ini.

7. IUD tidak dapat melindungi diri dari IMS termasuk virus AIDS. Apabila pemasangannya beresiko, mereka harus menggunakan kondom.

2.2.13. Langkah-langkah pemasangan IUD Copper-T 380A Tabel 2.2 : Langkah-langkah Pemasangan IUD Copper-T 380A

Langkah Alasan Uraian

Langkah 1

Jelaskan kepada klien apa yang akan memudahkan pemasangan serta mengurangi rasa sakit.

Hindari percakapan seperti ”Ini tidak sakit” pada saat melakukan langkah yang mungkin menimbulkan rasa sedikit sakit atau “hamper akan diberitahu bila sampai pada langkah tersebut.

Hal ini untuk menambah kepercayaan dan percaya diri.

Ajaklah klien bercakap-cakap sepanjang pemasangan.

Pastikan klien telah mengosongkan kandung kencingnya.

Hal ini akan membantu klien merasa tenang dan pemeriksaan panggul menjadi lebih mudah.

Untuk memeriksa adanya ulkus, pembengkakan kelenjar getah bening.

Untuk memeriksa adanya pembengkakan kelenjar Bartolin dan kelenjar Skene.

Untuk memeriksa adanya cairan vagina, servisitis dan pemeriksaan mikroskopis bila diperlukan.

Untuk menentukan besar, posisi, konsistensi, dan mobilitas uterus.

Untuk memeriksa adanya nyeri goyang servikis dan tumor pada adneksa atau kavum Douglasi.

Pakai sarung tangan. Setelah dipakai sarung tangan harus didekontaminasi, cuci dan DTT atau sterilisasi.

Spekulum setelah dipakai harus didekontaminasi, cuci dan DTT atau sterilisasi.

Jangan lakukan pemasangan bila ada infeksi atau hamil.

Langkah 3

Lakukan pemeriksaan mikroskopik bila tersedia dan ada indikasi

Untuk memeriksa adanya jamur, trikomonas, bacterial vaginosis (preparat basah Saline dan KOH serta pemeriksaan pH)

Untuk memeriksa adanya Gonorea atau Klamidia

Bila ada vaginitis harus diobati dulu sebelum dipasang IUD.

Bila dicurigai gonorea (diplokokus gram negatif intraseluler) atau klamidia beri pengobatan (dan periksa kembali setelah selesai pengobatan). IUD jangan dipasang.

Langkah 4 diperlukan bila memasukkan lengan IUD didalam kemasan sterilnya.

Jangan memasukkan lengan IUD lebih dari 5 menit sebelum pemasangan, karena lengan IUD tidak kembali seperti bentuk semula (lurus) setelah dipasang.

Tenakulum untuk stabilisasi uterus dan mengurangi resiko perforasi.

Usap seluruh vagina dan serviks dengan larutan antiseptic (2x atau lebih). Pemberian anestesi local hanya bila diperlukan.

Pasang tenakulum secara hati-hati pada posisi vertical (jam 10 atau jam 2) jepit dengan pelan

Untuk menentukan posisi uterus dan kedalaman kavum uteri.

Memasukkan sonde sekali masuk (tehnik tanpa sentuh) dimaksudkan untuk mengurangi resiko infeksi.

Masukkan secara perlahan-lahan dan hati-hati.

Jangan menyentuh dinding vagina atau bibir speculum, inserter sesuai dengan kedalaman kavum uteri. Hati-hati memasang tabung inserter sampai leher biru menyentuh fundus atau sampai terasa ada tahanan.

Lepas lengan IUD dengan menggunakan tehnik menarik (withdrawal technique). Tarik keluar pendorong.

Setelah lengan IUD lepas, dorong secara perlahan-lahan tabung inserter ke dalam kavum uteri sampai leher biru menyentuh serviks.

Tarik keluar sebagian tabung inserter, potong benang IUD kira-kira 3-4 cm panjangnya.

Cara lain, tarik keluar seluruh tabung inserter, jepit benang IUD dengan menggunakan forcep kira-kira 3-4 cm dari serviks dan potong benang IUD pada tempat tersebut.

Jangan memaksa pemasangan jika terdapat tahanan.

Pergunakan tenakulum untuk menahan saat melepas benang IUD.

Pastikan IUD telah terpasang sampai di fundus.

Pastikan sisa benang IUD yang telah terpotong berada didalam tabung inserter, untuk memudahkan pembuangannya.

Mengurangi resiko IUD tercabut keluar (kemungkinan benang terjepit pada gunting, bila guntingnya tumpul dan benang tidak terpotong dengan benar).

Memperkecil resiko penularan Hepatitis B dan HIV/AIDS pada

Memperkecil resiko penularan Hepatitis B dan HIV/AIDS pada