BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA
A. Pharmaceutical Care
2. Indikasi tanpa obat
4) Dosis terlalu rendah? 5) Dosis terlalu tinggi?
2. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran pustaka yang telah dilakukan oleh peneliti, sebelumnya sudah pernah dilakukan penelitian lain mengenai evaluasi Drug Related Problems:
a. Drug Related Problems pada pasien rawat inap dengan gangguan pada gastrointestinal di rumah sakit Panti Rini Yogyakarta tahun 2012 (Pang, 2012). Penelitian ini mengkaji Drug Related Problems pada pasien Peptic Ulcer Disease. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam hal obyek yang diteliti, usia tidak dibatasi dan mencakup seluruh aspek pharmaceutical caresehingga memberikan gambaran yang lebih detail mengenai evaluasi penggunaan obat pada semua rentang usia, dan dilakukan pada tahun yang berbeda dengan pola perkembangan penyakit yang berbeda, sehingga hasil mungkin berbeda.
b. Drug Related Problems pada pasien dengan penyakit Peptic Ulcer Disease di Tertiary Care Hospital Pakistan tahun 2013, yang mengkaji Drug Related Problems dari segi demografi penyebab pasien dirawat inap, dan keamanan farmakoterapi dari segi Drug Interaction (Abidullah, Hussain, Ahmad, Kamal,dan Ullah, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini mengkaji seluruh aspek pharmaceutical care karena Drug Related Problems bukan saja mengenai drug interaction, dan karena penelitian ini dilakukan di Indonesia dengan kebiasaan dan kondisi demografi yang berbeda, menyebabkan hasil dan perkembangan penyakit yang berbeda.
c. Polypharmacy and Unnecessary Drug Therapy on Geriatric Hospitalized Patient in Yogyakarta Hospitals, Indonesia tahun 2009 yang mengkaji Drug Related Problems dari segi unnecessary drug therapy pada pasien geriatri rawat inap dengan komplikasi penyakit dan menerima obat dalam jumlah banyak (polifarmasi), yang memungkinkan terjadinya adverse drug reaction, pada penelitian ini penyakit tidak dibatasi (Rahmawati, Pramantara, Rohmah, Sulaiman, 2009), sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengkaji seluruh aspek Drug Related Problems, pada pasien Peptic Ulcer Disease dengan atau tanpa penyakit penyerta pada semua umur penyakit pada penelitian ini lebih spesifik sehingga analisis DRP juga lebih spesifik.
3. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi mengenai Drug Related Problems (DRPs) pada pengobatan penyakit Peptic Ulcer Disease, serta dapat menambah pengetahuan tenaga kesehatan mengenai profil penyakit dan penggunaan obat dalam peberian terapi pasien dengan penyakit gangguan gastrointestinal.
b. Manfaat praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan efektivitas proses terapi pada pasien dengan penyakit gangguan gastrointestinal di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, serta memberikan informasi dan referensi sebagai bahan pertimbangan umtuk meningkatkan keamanan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan.
B. Tujuan Penelitian Tujuan dilakukan penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
Mengevaluasi Drug Related Problems pada terapi pasien Peptic Ulcer Disease yang dirawat di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. 2. Tujuan Khusus
a. Mengevaluasi pola penggunaan obat pada pengobatan pasien dengan Peptic Ulcer Disease,
b. Mengevaluasi terjadinya Drug Related Problems (DRPs) pada pasien Peptic Ulcer Disease di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito dengan membandingkan lembar rekam medis dengan pustaka acuan.
7 BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA A. Pharmaceutical Care
Pharmaceutical care adalah praktek pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien, dimana praktisi mengambil tanggung jawab untuk kebutuhan pasien terkait dengan obat (Cipolle, 2004).
Pharmaceutical care merupakan tanggung jawab dari tenaga kesehatan, khususnya farmasis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan menjamin keamanan, kerasionalan dan ketepatan pemberian terapi supaya tercapai efek terapi yang optimal dengan risiko yang seminimal mungkin (Siregar, 2004). Fokus pharmaceutical care antara lain drug related probems; yaitu masalah-masalah yang timbul terkait penggunaan obat. Drug Related Probems meliputi: 1. Obat tanpa indikasi
Obat tanpa indikasi (unnecessary drug therapy)merupakan poin Drug Related Problems yang terjadi karena pada pemberian suatu obat dimana obat tidak memiliki indikasi klinis yang valid dan sesuai dengan kondisi pasien, terdapat lebih dari satu obat yang memiliki indikasi yang sama, dan terapi diberikan untuk mencegah efek samping dari obat lain, serta penyalahgunaan obat.
2. Indikasi tanpa obat
Indikasi tanpa obat (needs additional drug therapy) merupakan poin Drug Related Problems yang terjadi karena dalam pemberian terapi pasien perlu diberikan tambahan obat untuk mengobati atau mencegah perkembangan
penyakit semakin buruk. Obat tambahan diberikan kepada pasien yang: dengan kondisi klinis tertentu dan membutuhkan terapi inisiasi, obat diperlukan unuk mengurangi resiko dari perkembangan suatu keadaan klinis. 3. Obat salah
Obat salah (ineffective drug) merupakan poin Drug Related Problems yang terjadi karena dalam pemberian terdapat obat yang tidak sesuai dengan kondisi pasien sehingga tidak memberikan efek yang diharapkan, kondisi medis yang sukar disembuhkan dengan obat tersebut, dan bentuk sediaan tidak tepat.
4. Dosis terlalu rendah
Dosis terlalu rendah (dosage too low) adalah Drug Related Problems yang terjadi karena dosis pemberian obat terlalu rendah, sehingga respon yang diharapkan tidak tercapai. Dosis terlalu rendah dapat dipengaruhi oleh interaksi obat dan durasi obat yang terlalu singkat.
5. Interaksi dan efek samping obat
Interaksi dan efek samping obat (adverse drug reaction) yaitu terjadinya reaksi yang tidak diinginkan karena pemberian suatu obat yang terjadi pada dosis terapi, terjadi interaksi obat yang menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan, dan obat dikintraindikasikan karena faktor resiko tertentu.
6. Dosis terlalu tinggi
Dosis terlalu tinggi (dosage too high) adalah poin Drug Related Problems yang terjadi karena dosis pemberian obat terlalu tinggi sehingga timbul efek yang tidak diinginkan. Dosis terlalu tinggi dapat disebabkan oleh
durasi obat yang terlalu lama, interaksi obat, dan pemberian dosis obat terlalu cepat.
7. Ketidaktaatan pasien
Non compliance atau ketidaktaatan pasien adalah salah satu poin Drug Related Problems disebabkan oleh ketidakmampuan pasien mengikuti dan mentaati instruksi terapi obat. Beberapa hal yang menyebabkan ketidaktaatan pasien antara lain: pasien tidak memahami instruksi, pasien tidak minum obat, pasien memilih tidak mengambil pengobatan, dan obat terlalu mahal.
(Cipolle, Strand dan Morley, 2004). B. Peptic Ulcer Disease
1. Definisi
Peptic Ulcer Disease (PUD) adalah luka yang terdapat pada lapisan lambung atau duodenum. Duodenum merupakan bagian pertama dari usus kecil. Apabila peptic ulcer ditemukan di lambung maka disebut gastric ulcer dan apabila dijumpai pada duodenum disebut duodenal ulcer (NIDDK, 2004).
Peptic ulcer merupakan luka yang sifatnya kronik, biasanya merupakan luka tunggal yang dapat muncul pada di seluruh bagian gastrointestinal yang terpejan efek getah asam atau pepsin. Peptic ulcer biasa dijumpai di tempat-tempat berikut: Pangkal duodenum, lambung, biasanya pada bagian antrum, taut gastroesofagus, refluks gastroesofagus atau pada esofagus Barrett, pada bagian tepi gastro jejunostomi, duodenum, lambung, dan/atau jejunum pada pasien dengan sindrom Zollinger-Ellison (Robbins and Cotran, 2005).
a. Duodenal ulcer
Hipersekresi asam lambung merupakan salah satu faktor penyebab duodenal ulcer, selain itu ulcer dapat terbentuk karena adanya respon abnormal terhadap rangsangan submaksimal dari sel-sel sekretori dengan jumlah normal atau respon dari sel-sel parietal dengan jumlah lebih besar dari normal. Pasien dengan duodenal ulcer memiliki jumlah sel-sel sekretori yang lebih besar dari orang normal. Pada duodenal ulcer rasa nyeri muncul 2 jam setelah makan, dan semakin parah dengan adanya makanan asam, alkohol, dan kopi, oleh karena itu penderita duodenal ulcer dapat terbangun pada pukul 1-2 pagi. Mulanya terjadi kerusakan mukosa berkaitan dengan reaksi peradangan. Banyak terjadi pada usia muda terutama pada pria.
b. Gastric ulcer
Pada gastric ulcer rasa nyeri muncul 30 menit sampai 1 jam setelah makan, rasa nyeri dapat diredakan dengan pemberian antasida atau dengan memuntahkan makanan. Sama halnya dengan duodenal ulcer, gastric ulcer terjadi karena reaksi peradangan. Gejala yang timbul sulit dibedakan dengan duodenal ulcer dan perlu dilakukan endoskopi untuk memastikannya. Banyak terjadi pada usia pertengahan atau lebih tua, terutama pada masyarakat tingkat ekonomi rendah dan perokok. Perubahan ketahanan mukosa dan terjadinya refluks empedu dapat mempengaruhi terjadinya gastric ulcer.
c. Stress ulcer
Terjadinya tekanan pada lambung dan atau erosi pada lambung karena luka bakar hebat, sepsis, cedera kepala, atau trauma. Pada Stress ulcer melibatkan
perdarahan saluran cerna yang fatal. Perdarahan harus diatasi dengan pemberian antasida atau obat antipeptik yang lain, apabila perdarahan tetap terjadi dengan pemberian profilaksis maka vagotomi dan gastrektomi perlu dilakukan.
d. Gastritis erosif
Gastritis erosif sering kali terjadi karena pemberian obat-obat seperti NSAID, aspirin, kortikosteroid dapat menimbulkan erosi pada mukosa lambung. Alkohol juga berperan dalam semakin buruknya kondisi penyakit. Pemberian obat-obat tersebut juga dapat memperparah prognosis duodenal ulcer.
e. Refluks esofagitis
Adalah terjadinya refluks isi lambung ke dalam esophagus, dapat terjadi pada berbagai jenis usia dan jenis kelamin. Gejala yang timbul seperti nyeri epigastrik, heartburn, dan regurgitasi. Faktor-faktor yang dapat menurunkan tonus sfingter esophagus seperti makanan, coklat, alkohol, dan rokok dapat memperberat gejala yang dialami.
(Ilse Truter, 2009)
2. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, kurang lebih sebanyak 4 juta orang menderita Peptic Ulcer Disease pada bagian duodenum dan lambung, ditemukan 350.000 kasus baru, dengan 180.000 pasien rawat inap dan sekitar 5000 orang meninggal setiap tahunnya. Berdasarkan data penelitian, kemungkinan untuk menderita Peptic Ulcer Disease (PUD) adalah 10% pada pria dan 4% untuk wanita (Robbins and Cotran, 2005).
Menurut Brashers (2001) dan Matfin dan Porth (2009) usia puncak terjadinya PUD yakni pada rentang 55 tahun hingga 65 tahun dan sangat jarang terjadi sebelum usia 40 tahun. Sebesar 10% dari populasi diketahui mengidap peptic ulcer, dengan angka kejadian duodenal ulcer adalah lima kali lipat besarnya dibanding gastric ulcer.
Penyebab utama Peptic Ulcer Disease (PUD) adalah bakteri H. pylori dan penggunaan obat NSAID, penyebab lainnya bervariasi yakni tipe ulkus (ulcer), umur, jenis kelamin, lokasi geografis, ras, perubahan genetik, pekerjaan dan faktor sosial (Dipiro, Talbert, Yee, Matzke, Wells, and Posey, 2008).
Prevalensi PUD di Amerika Serikat menunjukkan penurunan jumlah pada pria muda, namun meningkat pada wanita yang lebih tua. Hal ini disebabkan karena menurunnya kebiasaan merokok pada pria muda dan meningkatnya penggunaan NSAID pada kelompok geriatri. Penggunaan NSAID meningkatkan angka kematian pada kelompok geriatri diatas 75 tahun. Diketahui pasien dengan gastric ulcer memiliki angka kematian lebih besar daripada pasien dengan duodenal ulcer (Dipiro, et al., 2008).
3. Etiologi
H. pylori dan penggunaan Non Steroidal Anti Inflammation Drug (NSAID) merupakan dua hal yang sangat umum menyebabkan Peptic Ulcer Disease (PUD) kronis dan mempengaruhi tingkat keparahan penyakit. Penyebab PUD yang kurang umum meliputi hipersekresi, infeksi virus, radiasi dan kemoterapi, kecenderungan genetik; terutama pada duodenal ulceration, penggunaan obat kortikosteroid, dan alkohol. Alkohol dapat memicu timbulnya
ulkus karena alkohol merupakan senyawa yang memicu sekresi asam lambung (Hardman, Limbird, and Gilman, 2001), selain itu merokok, diet, dan stres, konsumsi NSAID, dan penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, sirosis hati, penyakit paru-paru kronis, dan Crohn’s disease juga berperan dalam menyebabkan ulkus (Ilse Truter, 2009).
4. Patofisiologi
a. Asam lambung dan pepsin
Faktor yang berpotensial untuk merusak membran mukosa adalah sekresi asam lambung (asam klorida) dan pepsin. Asam lambung disekeresi oleh sel-sel parietal yang mengandung reseptor histamin, gastrin, dan asetilkolin. Asam lambung merupakan faktor independen yang berkontribusi pada gangguan membran mukosa. Pada pasien dengan gastric ulcer biasanya asam lambung disekresi dalam jumlah normal atau kurang (hipokloridia) (Dipiro, Talbert, Yee, Matzke, Wells, Posey, 2005).
Sekresi asam dikeluarkan dalam jumlah yang sama dengan asam yang disekresi di bawah basal atau kondisi puasa, basal acid output (BAO); setelah setelah stimulasi maksimal, maximal acid output (MAO); atau respons setelah makan. Basal, maximal, dan makanan akan menstimulasi sekresi asam dan dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis, usia, umur, dan kondisi kesehatan (Dipiro, 2008).
Dipiro (2005) mengatakan pepsin diaktivasi oleh pH asam (pH optimal antara 1,5-3,8), inaktivasi revesibel pepsin pada pH 4, dan inaktivasi irreversibel pada pH 7. Pepsin berperan dalam aktivitas proteolitik dalam pembentukan ulkus.
Perbaikan mukosal berkaitan dengan pergantian sel epitel, pertumbuhan dan regenerasi yang dimediasi oleh prostaglandin. Perubahan pada mukosa pertahanan yang disebabkan H. pylori dan NSAID merupakan kofaktor yang menyebabkan peptic ulcer (Dipiro, et al., 2008).
b. Helicobacter pylori dan NSAID
Helicobacter pylori adalah bakteri gram negatif dengan bentuk spiral merupakan penyebab paling umum selain NSAID, infeksi H. pylori seringkali disebarkan melalui rute oral. H. pylori ditemukan dalam lingkungan asam. Mekanisme patogenik H. pylori meliputi (a) kerusakan mukosa secara langsung, (b) perubahan dalam respon imun,dan (c) hipergastrinemia menyebabkan sekresi asam meningkat. H. pylori menempel membentuk molekul adhesi pada permukaan sel epitel lambung. Di duodenum, H. pylori menempel hanya pada area yang mengandung sel epitel dan meningkatkan sekresi asam lambung pada mukosa duodenum. Kerusakan mukosa secara langsung disebabkan oleh faktor virulensi (vacuolating cytotoxin, cytotoxin-associated protein gene, dan faktor penghambat pertumbuhan) akan menguraikan enzim bakteri (lipase, protease, dan urease). H. pylori dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang tidak sesuai karena memproduksi enzim urease yang mengubah urea menjadi ammonia (Golan, Tashjian, Armstrong, Armstrong, 2012).
Urease dapat merusak host, agen perusak lainnya adalah lipopolisakarida (endotoksin). Keberadaan H. pylori dapat ditelusuri sebagian dari abnormalitas respon imun yang muncul, bahkan respon imunitas mukosal TH2 yang mengontrol infeksi luminal dengan mensekresi antibody IgA, H. pylori
memunculkan respon TH1, sitokin yang terasosiasi TH1 memicu inflamasi dan kerusakan sel epithelial (Golan, et al, 2012).H. pylori menimbulkan kerusakan mukosa lambung dan duodenum melalui pelepsan faktor kemotaktik, platelet activating factor, leukotrien, dan eukosanoid lain yang berasal dari asam arakidonat, dan sitotoksin seperti protease, lipase fosfolipase A2, fosfolipase C dan vacuolating cytotoksin (Dipiro, et al., 2008).
Kerusakan mukosa lambung karena endotoksin yang dibentuk oleh Helicobacterpylori memicu pembentukan leukosit, dimana leukosit akan menuju ke daerah yang mengalami kerusakan, sehingga cytokines tambahan dilepaskan. Derajat infeksi H.pylori dan beratnya kerusakan mukosa berbanding lurus dengan luasnya infiltrasi leukosit. Endotoksin H. pylori meningkatkan inflamasi mukosa melalui peningkatan adhesi lekosit pada sel-sel endotelium. H. pylori merangsang faktor-faktor dalam tubuh manusia untuk meningkatkan produksi interleukin 8 (IL-8) mRNA epitel dan IL-8 imunoreaktif (Dipiro, et al., 2008).
Mekanisme lain yaitu kenaikan gastrin. Meningkatnya sekresi gastrin dipicu oleh dua mekanisme, yaitu: (1) Ammonia yang dihasilkan membentuk lingkungan basa dekat sel G dan memicu pelepasan gastrin, (2) jumlah sel D antral dibawah normal pada pasien terinfeksi H. pylori, sehingga menurunkan produksi somatostatin dan meningkatkan pelepasan gastrin. H. pylori juga menurunkan sekresi bikarbonat duodenal dan melemahkan mekanisme perlindungan mukosa duodenal (Golan, et al, 2012).
Respon antibodi lambung memicu pelepasan IgA dan IgG. Sekresi IgA dapat melindungi mukosa tanpa aktivasi komplemen, sedangkan IgG dengan
mengaktivasi komplemen yang menyebabkan kerusakan epitel immune complex mediated dan penurunan sitoproteksi. Pada strain H.pylori yang virulen ditemukan lebih banyak adhesi antara H. pylori dengan permukaan mukosa lambung. H. pylori dapat meningkatkan gastrin plasma melalui perangsangan sel G lambung dan menurunkan sekresi somatostatin melalui inhibisi sel G lambung, akibatnya terjadi hipersekresi gastrin (Dipiro, et al., 2008).
Gambar 1. Mekanisme infeksi H. Pylori (sumber : http://www.nobelprize.org.html)
Efek merugikan NSAID yang menimbulkan terjadinya ulkus peptik diakibatkan oleh penghambatan COX-1 dan COX-2. COX atau prostaglandin H
sintase (PGHS) berfungsi sebagai katalis pada tahap pertama proses biosintesis prostaglandin, tromboksan dan prostasiklin. Ada dua bentuk isoform dari enzim siklooksigenase, yaitu COX-1 dan COX-2. COX-1 adalah bentuk enzim utama yang ditemukan dibanyak jaringan dan bertanggung jawab dalam menjaga fungsi normal tubuh termasuk keutuhan mukosa lambung dan pengaturan aliran darah ginjal. Sebaliknya, COX-2 tidak ditemukan di jaringan pada kondisi normal, tetapi diinduksi oleh berbagai stimulus, seperti endotoksin, sitokin, mitogen dan dikaitkan dengan produksi prostaglandin selama proses inflamasi, nyeri, dan respon piretik (Dipiro, 2008).
Gambar 2. Mekanisme efek NSAID (sumber : http://www.nobelprize.org.html)
Aspirin dan NSAID non selektif menghambat COX-1 dan COX-2 yang mengakibatkan toksisitas pada saluran cerna. Selain itu, aspirin dan NSAID non
aspirin menghambat aktivitas platelet pada COX-1 yang mengakibatkan menurunnya agregasi platelet dan terjadi perdarahan berkepanjangan sehingga meningkatkan perdarahan saluran cerna. NSAIDmenyebabkan kerusakan mukosa lambung melalui dua mekanisme: (a) iritasi langsung maupun topikal pada epitel lambung dan (b) penghambatan sistemik sintesis prostaglandin mukosa endogen (Dipiro, et al., 2008).
Gambar 3. Mekanisme pembentukan ulkus (Price and Wilson, 1984)
5. Manifestasi Klinik
Sebagian besar peptic ulcer menimbulkan rasa nyeri, panas, bahkan sensasi sakit pada abdomen bagian atas dan epigastrium. Sebagian pasien mengalami komplikasi anemia defisiensi besi, perdarahan atau perforasi. Rasa nyeri biasa muncul sekitar 2 jam sesudah makan dan reda dengan pemberian antasida atau makanan, namun terdapat banyak pengecualian, manifestasi ini
menyebabkan pasien sulit tidur di malam hari (Mc. Phee and Ganong, 2007). Gejala dapat timbul dalam rentang waktu minggu hingga bulanan dan hilang selama waktu yang tidak dapat ditentukan (Price and Wilson, 1984).
Manifestasi lainnya ialah mual, muntah, kembung, bersendawa, dan penurunan berat badan yang nyata (dikhawatirkan terjadi keganasan penyakit). Pada penderita ulkus, rasa nyeri terasa pada bagian ulu hati bahkan hingga punggung kuadran kiri atas, atau dada. Gejala nyeri ini dapat diduga gangguan jantung (Robbins and Cotran, 2005).
6. Diagnosis
Ulkus peptik dapat didiagnosa menggunakan endoscopy atau dengan contrast radiographyun barium untuk melihat lubang ulkus, apabila pasien dengan usia muda terdiagnosis PUD dan tidak ditemukan simptom yang mengkhawatirkan, dapat dipastikan penyebabnya ialah infeksi H. Pylori, tetapi pada pasien diatas 50 tahun, endoscopy sangat berguna untuk menentukan penyebab ulkus peptik. Tanda-tanda yang mengindikasi keganasan penyakit atau komplikasi ulkus yakni anemia, penurunan berat badan, haematemesis dan melena, dan muntah. Selain dengan endoskopi infeksi H. pylori dapat didiagnosis dengan deteksi urease, breath urease test, dan stool test untuk mendeteksi antigen yang spesifik H. pylori (Enaganti, 2006).
7. Strategi Terapi
Tujuan terapi pada Peptic Ulcer Disease (PUD) adalah menghilangkan keluhan gejala, menyembuhkan ulkus yang timbul, dan mencegah komplikasi. Sasaran dari pemberian terapi ialah mengatasi penyebab terjadinya ulkus peptik
yakni sekresi asam lambung yang berlebih dan bakteri Helicobacter pylori. Perbaikan pertahanan mukosa lambung juga merupakan sasaran terapi. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan beberapa strategi terapi. Strategi terapi yang dilakukan dapat berupa non-farmakologi dan farmakologi sebagai berikut :
a. Terapi Non Farmakologi
Pasien yang terdiagnosa dengan PUD dan sedang menggunakan obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) harus menghentikan penggunaan NSAID jika memungkinkan. Mengurangi konsumsi beberapa makanan tertentu (seperti makanan pedas, alkohol, dan kopi) serta menjalani diet. Diet dilakukan dengan cara makan dengan porsi kecil dan berulangkali. Pasien dengan PUD juga sebaiknya menjalankan perubahan gaya hidup, yakni dengan mengurangi stress, istirahat yang cukup, dan mengurangi atau bahkan berhenti merokok.
Pemberian probiotik yang mengandung bakteri Lactobacillus dan Bifidobacterium dan makanan yang mengandung senyawa bioaktif dikombinasikan dengan regimen eradikasi H.pylori dapat mengurangi inflamasi mucosal. Pada beberapa pasien yang mengalami komplikasi (seperti perdarahan, perforasi, atau obstruksi saluran cerna) membutuhkan operasi.
b. Terapi Farmakologi
Berikut adalah golongan obat antipeptik yang digunakan serta mekanismenya dalam menghambat sekresi asam lambung:
1) Proton Pump Inhibitors (PPI)
Proton Pump Inhibitor merupakan supresor yang paling efektif dari sekresi asam lambung adalah H+, K+-ATPase inhibitors. Merupakan obat yang paling efektif dalam pengobatan peptic ulcer dan mudah didapatkan. Banyak jenis PPI yang digunakan dalam penggunaan klinis, contohnya: omeprazole, lanzoprazole, rebeprazole, danpantoprazole; yang merupakan α -pyrydylmethylsulfinylbenzimidazoles. Obat golongan PPI merupakan prodrug yang membutuhkan suasana asam untuk aktif. Obat golongan PPI pada dasarnya digunakan untuk mempercepat penyembuhan dari ulkus lambung dan duodenum dan mengobati gastric esophageal reflux disease (GERD) yang salah satunya tidak berespon untuk pengobatan apabila diberikan dengan H2-Receptor Antagonists (Hardman, Limbind, dan Gilman, 2001).
2) Histamine H2-Receptor Antagonists
Terdapat empat jenis H2-Receptor Antagonists :cimetidine, ranitidine, famotidine, dan nizatidine. H2-Receptor Antagonists menghambat sekresi asam lambung dengan berkompetisi secara reversibel dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada membran basolateral dari sel parietal. Efek menonjol dari H2-Receptor Antagonists adalah menghambat sekresi asam basal, dan cukup efektif menekan sekresi asam pada malam hari (Hardman, et al, 2001).
3) Prostaglandin Analogs : Misoprostol
Prostaglandin (PG) E2 dan PGI2 adalah prostaglandin yang banyak dihasilkan oleh mukosa lambung; obat ini menghambat produksi asam dengan berikatan pada reseptor EP3 pada sel parietal sehingga menghambat adenylyl
cyclase dan menurunkan siklus intraseluluer AMP. PGE dapat menghambat cedera lambung dengan efek sitoprotektif: stimulasi sekresi mucin dan bikarbonat, perbaikan aliran darah mukosa sehingga mengakibatkan penghambatan sekresi asam (Wolfe et al.,1999). Contoh obat: Misoprostol (Hardman, et al, 2001).
4) Sucralfate
Dalam terapi pemeliharaan jangka panjang, sucralfate merupakan obat yang bersifat sitoprotektif yang memiliki efek meningkatkan ketahanan mukosa lambung yang dapat mengurangi peradangan dan menyembuhkan ulkus. Sucralfate dapat menghambat hidrolisis yang termediasi pepsin dari protein mukosa yang menyebabkan ulserasi dan erosi mukosa. Sulfacrate mengikat asam empedu,karena diaktivasi oleh asam, sulfacrate sebaiknya digunakan dalam keadaan lambung kosong. Penggunaan dengan antasida tidak disarankan, contoh obat: Carafate (Hardman, et al, 2001).
5) Antacids
Antasida diberikan untuk memberikan suasana basa pada lambung yang terlalu asam. NaHCO3 sangat larut air dengan cepat dapat dibersihkan dari lambung dan menghasilkan basa dan natrium. CaCO3 dapat menetralkan HCl dengan cepat, selain itu terdapat antasida dengan kandungan Mg(OH)2 dan Al(OH)3 yang lama diserap dan memberikan efek sustained dengan efek seimbang dengan motilitas usus(Hardman, et al, 2001).
Algoritma penatalaksanaan terapi dan evaluasi pasien yang teerdiagnosis atau menunjukkan gejala ulkus peptik seperti yang ditunjukkan Gambar 4. (Dipiro,et al., 2008)
Gambar 4. Algoritma Penatalaksanaan Terapi Ulcer Disease(Dipiro,et al., 2008)
Terapi lini pertama pada PUD karena H. pylori ialah obat-obat golongan PPI dengan regimen tiga obat selama minimal 7 hari, namun disarankan untuk