TINJAUAN PUSTAKA
6. Indikator dampak (Impacts). Indikator yang menunjukan pengaruh baik positif
maupun negatif yang ditimbulkan pada setiap pelaksanaan
kebijakan/program/kegiatan dan asumsi yang telah ditetapkan.
Ekonomi Keterkaitan
Keterkaitan atau interaksi antar wilayah dalam konteks perekonomian
daerah merupakan mekanisme yang dapat menggambarkan dinamika
perekonomian yang terjadi di suatu wilayah dikarenakan aktivitas yang dilakukan oleh manusia di dalam wilayah tersebut. Aktivitas yang dimaksud adalah yang mencakup diantaranya mobilitas kegiatan, pergerakan manusia serta arus informasi dan komoditas dalam sistem perekonomian antar daerah.
Menurut Saefulhakim (2008), Pembangunan merupakan perubahan kearah kemajuan yang terencana (planned changes). Dimana suatu perubahan tanpa perencanaan tidak dapat dikatakan pembangunan karena proses perencanaan berperan dalam memberikan kontribusi penting terhadap perubahan tersebut. Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, perubahan berpangkal dari adanya berbagai bentuk kekhasan substansial (unique substances) dan keterkaitan fungsional (functional interaction) yang berlangsung pada ruang dan waktu yang tepat (Gambar 5). Kekhasan tersebut dapat dilihat antara lain dalam bentuk
keanekaragaman sumberdaya, institusi pelaku (produsen, konsumen dan pemerintah) dan aktivitas ekonomi yang tersebar secara spasial antar daerah. Sedangkan keterkaitan dapat dilihat dalam perspektif alamiah, sistem pasar, dan sistem eksternalitas.
Gambar 5 Segitiga Pembangunan (Saefulhakim 2008).
Kemudian Saefulhakim (2008) juga menyebutkan bahwa nilai-nilai ekonomi yang lahir dari berbagai bentuk keterkaitan ini berakar dari tiga dimensi yaitu: (1) nilai ekonomi kekhasan (economies of uniqueness); (2) nilai ekonomi skala/ukuran (economies of scale); dan (3) nilai ekonomi cakupan (economies of
scope). Dalam perspektif teori lokasi (location theory), semua ini terkait dengan
adanya tiga pilar konfigurasi ruang, yaitu: (1) ketaksempurnaan mobilitas faktor produksi (imperfect factor mobility); (2) ketaksempurnaan pemilahan/pemisahan antar faktor produksi (imperfect factor divisibity); dan (3) ketaksempurnaan mobilitas barang dan jasa (imperfect factor mobility of good and services) (Gambar 6). Dengan demikian, untuk mengoptimalkan ketiga dimensi nilai-nilai ekonomi tersebut diperlukan adanya ekonomi keterkaitan melalui ketiga pilar konfigurasi ruang. Ketaksempurnaan pemilahan/pemisahan antar faktor produksi berimplikasi pada peningkatan biaya-biaya produksi, sehingga dibutuhkan kerjasama antar institusi pemilik/penguasa faktor produksi yang berbeda untuk dapat menekan biaya-biaya tersebut.
KEMAJUAN
KEKHASAN KETERKAITAN
SEGITIGA PEMBANGUNAN
Gambar 6 Nilai Ekonomi Keterkaitan (Saefulhakim 2008). Pemodelan Keterkaitan antar Variabel Spasial Model Regresi Berganda
Secara umum bentuk persamaan regresi dari model Cobb-Douglas (Saefulhakim, 2008) yang menghubungkan antara beberapa variabel penjelas (explanatory variables) x, dan satu variabel terikat (independent variable) y, dinotasikan sebagai berikut:
0 ,
ln i j ln i j
j
y b b x ...(1)
atau dalam notasi vektor dapat ditulis: 0
ln 1n jln j
j
y b b x ...(2)
yi : nilai variabel tujuan untuk individu sampel ke-i
xj,i : nilai variabel penjelas ke-j untuk individu sampel ke-i
b0 : parameter konstanta (intercept)
bj : parameter koefisien untuk variabel penjelas ke-j
lny : vektor ukuran (n 1) berisi logaritma natural dari nilai variabel tujuan untuk individu sampel ke-1 sampai dengan ke-n
1n : vektor ukuran (n 1) berisi angka 1 sebanyak n buah
lnxj : vektor ukuran (n 1) berisi logaritma natural dari nilai variabel penjelas ke-j untuk individu sampel ke-1 sampai dengan ke-n
EKONOMI CAKUPAN EKONOMI KEKHASAN EKONOMI SKALA EKONOMI INTERAKSI Imperfect Factor Mobility Imperfect Factor Divisibility Imperfect Mobility of Goods & service
Model Durbin Spasial
Kinerja pembangunan ekonomi pada suatu daerah tertentu, tidak hanya ditentukan oleh karakteristik lingkungan dan manajemen pembangunan yang dilakukan di daerah tersebut. Kinerja pembangunan ekonomi, karakteristik lingkungan, serta manajemen pembangunan yang dilakukan di daerah-daerah sekitarnya yang terkait dalam satu sistem ekologi-ekonomi juga ikut mempengaruhi (Saefulhakim, 2008).
Untuk dapat mengakomodasikan fenomena keterkaitan antara suatu lokasi dengan lokasi-lokasi lain yang terkait tersebut sehingga bentuk model pada kedua persamaan regresi dari model Cobb-Douglas sebelumnya, dirubah menjadi sebagai berikut: , 0 , , ln k n kln 1n jln j j k n kln j k j j k y a W y b b x c W x ...(3) atau 1 , 0 , , ln n k n k 1n j n j k n k ln j k j k y I a W b b I c W x ...(4) Keterangan,
In : matriks identitas ukuran (n n)
Wn,k : matriks ukuran (n n) yang menyatakan pola interaksi spasial tipe ke-k antar n buah daerah (disebut: kontiguitas spasial tipe ke-k). Pada situasi di mana fenomena interaksi spasial tidak nyata berpengaruh yaitu ak=0 untuk semua tipe k dan cj,k=0 untuk semua j dan tipe k, maka model yang ditulis pada Persamaan (4) akan kembali ke bentuk konvensional seperti pada Persamaan (2). Artinya pendekatan regresi konvensional cukup realistik. Namun, pada situasi di mana minimal untuk satu tipe k parameter ak 0 dan minimal untuk satu tipe k dan satu variabel penjelas j parameter cj,k 0, maka pendekatan regresi konvensional menjadi tidak realistik. Model yang ditulis seperti pada Persamaan (4) dalam literatur ekonometrika spasial disebut sebagai Model Durbin Spasial (Spatial Durbin Model) (Upton dan Fingleton, 1985; LeSage, 1999).
Sumber:Model Pemetaan Potensi Ekonomi untuk Perumusan Kebijakan Pembangunan Daerah (Saefulhakim 2008).
Matriks Kontiguitas Spasial
Suatu variabel yang diamati pada suatu titik lokasi sampel, memiliki hubungan keterkaitan dengan variabel yang sama pada titik-titik lokasi sampel
lainnya. Dalam teori Ilmu Wilayah (Saefulhakim, 2008) fenomena
keterkaitan/ketergantungan antar lokasi seperti ini diformalisasikan dalam berbagai konsep antara lain: (1) interaksi spasial (spatial interaction), (2) difusi spasial (spatial diffusion), (3) hirarki spasial (spatial hierarchies) dan (4) aliran antar daerah (interregional spillover). Kekuatan-kekuatan pengendali (driving
forces) dari berbagai fenomena keterkaitan ini bisa terdiri atas beberapa faktor,
antara lain: (1) sistem geografi fisik sumberdaya alam dan lingkungan, (2) sistem ekonomi, (3) sistem sosial budaya dan (4) sistem politik. Variabel yang diamati pada dua lokasi yang bertetangga, berdekatan, terkait atau bermitra dapat memiliki keterkaitan secara spasial (Spatial Autocorrelationship) yang lebih kuat dibandingkan dengan variabel yang diamati pada dua lokasi yang tidak pada kondisi-kondisi tersebut. Matriks kontiguitas spasial dibangun untuk mengakomodasikan berbagai fenomena keterkaitan secara spasial seperti ini dalam pemodelan sistem keterkaitan.
Pada dasarnya matriks kontiguitas spasial dibangun atas dasar logika interaksi spasial. Secara matematis prosedur perhitungannya dapat ditulis dalam bentuk model umum sebagai berikut:
1,2 1, 2,1 2, ,1 ,2 0 0 0 n n n n w w w w W w w L L M M O M L ...(5) , , , i j i j i j j w a a ...(6) , , untuk 0 untuk lainnya i j i j c i j a ...……….(7)
W = matriks kontiguitas spasial
wi,j = kontiguitas antara daerah ke-i dengan daerah ke-j setelah dibakukan ai,j = kontiguitas antara daerah ke-i dengan daerah ke-j sebelum dibakukan ci,j = fungsi perhitungan kontiguitas spasial ai,j.
Kerangka Berpikir
Secara umum kebijakan pembangunan daerah dapat memberikan kontribusi terhadap fenomena-fenomena yang bersifat aktual dan mendasar. Fenomena-fenomena tersebut akan mempengaruhi pelaksanaan pembangunan wilayah secara langsung maupun tidak langsung melalui mekanismenya masing-masing yang akan berimplikasi pada konsep atau kerangka analisis pembangunan wilayah. Pentingnya perencanaan pembangunan daerah yang akan dijadikan sebagai kebijakan umum pembangunan oleh pemerintah daerah, harus didasarkan pada kerangka logika keilmuan serta kondisi dan potensi daerah yang terjadi di lapangan, dan bukan pada pendugaan-pendugaan yang tanpa dasar.
Selain itu, pemahaman mengenai struktur perekonomian wilayah sangat
penting dilakukan dalam pengambil kebijakan pembangunan daerah.
Pengembangan wilayah yang berbasis ilmu pengetahuan akan semakin mengarahkan pengelolaan pembangunan (khususnya dalam penganggaran) kepada pencapaian kinerja yang lebih maju sesuai dengan yang dicita-citakan (Saefulhakim 2008).
Pola kebijakan anggaran yang akan menjadi acuan dalam pelaksanaan program/kegiatan pembangunan tahunan tersebut harus berdasarkan potensi dan kondisi daerah yang aktual. Selain dengan memperhatikan keterbatasan segala sumberdaya yang tersedia, pola kebijakan anggaran juga harus memperhatikan keterkaitan sektoral dan daerahnya dalam suatu wilayah tertentu. Hal ini penting dilakukan agar dalam pengelolaan segala sumberdaya yang ada dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat secara efektif, efisien dan saling menguntungkan (mutualism simbiosis).
Atas dasar berbagai literatur pada uraian sebelumnya serta pemahaman tersebut maka dibangun kerangka pemikiran penelitian seperti yang terlihat pada Gambar 7 berikut.
Gambar 7 Kerangka Umum Pemikiran Penelitian.
KETERKAITAN ANTAR DAERAH KAB/KOTA DI WILAYAH PROVINSI BANTEN
EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI
POTENSI DAN KONDISI DAERAH SUMBER DAYA ALAM
SUMBER DAYA MANUSIA SUMBER DAYA SOSIAL SUMBER DAYA BUATAN SUMBER DANA DAERAH JEJARING ANTAR DAERAH
KETERKAITAN ANTAR SEKTOR