• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

2.2 Indikator dan Penilaian Kinerja

membantu petani dalam berusaha tani, agar pertanian mereka dapat maju dan berkembang.

2.2 Indikator dan Penilaian Kinerja

Defenisi indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan (BPKP, 2000). Sementara menurut Mahsun (2009), indikator kinerja (key performance) adalah suatu variabel yang digunakan untuk mengekspresikan

secara kuantitatif efektivitas dan efesiensi proses atau operasi dengan berpedoman pada target - target dan tujuan organisasi. Jadi jelas bahwa indikator kinerja merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai keberhasilan pencapaian tujuan organisasi yang diwujudkan dalam ukuran-ukuran tertentu.

Departemen pertanian menyatakan ada sembilan indikator kinerja (patokan kerja) penyuluhan pertanian dalam memotivasi dan membangun profesionalisme penyuluh pertanian. Kesembilan indikator kinerja (patokan kerja) penyuluhan pertanian tersebut, yaitu:

1. Tersusunnya programa penyuluhan pertanian ditingkat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan sesuai dengan kebutuhan petani.

2. Tersusunnya kinerja penyuluh pertanian diwilayah kerja masing-masing.

3. Tersusunnya peta wilayah komoditas unggulan spesifik lokasi.

4. Terdiseminasinya informasi dan teknologi pertanian secara merata dan sesuai dengan kebutuhan petani.

5. Tumbuh kembangnya keberdayaan dan kemandirian petani, kelompok tani, usaha/asosiasi petani dan usaha formal (koperasi dan kelembagaan lainnya).

23 6. Terwujudnya kemitraan usaha antara petani dengan pengusaha yang saling menguntungkan.

7. Terwujudnya akses petani kelembaga keuangan, informasi, sarana produksi pertanian dan pemasaran.

8. Meningkatnya produktivitas agribisnis komoditi unggulan dimasing-masing wilayah kerja.

9. Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani dimasing-masing wilayah kerja. (Buku Kerja THL TBPP, 2009).

Indikator kinerja (performance indicator), sering disamakan dengan ukuran kinerja, meskipun keduannya merupakan sama-sama dalam kriteria pengukuran kinerja tetapi terdapat perbedaan arti dan maknanya. Pada indikator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung yaitu hal-hal yang bersifat indikasi kinerja saja sehingga bentuknya cenderung kualitatif, sedangkan ukuran kinerja adalah kriteria yang mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung sehingga lebih bersifat kuantitatif. Dalam keberhasilan utama organisasi atau disebut critical success factor (CFS) adalah area yang mengindikasikan kesuksesan kinerja unit kerja. Faktor penting yang berkaitan dengan keberhasilan jangka panjang (Moehirono, 2009).

Organisasi adalah kemampuannya dalam mengukur seberapa baik karyawan berkarya dan menggunakan informasi tersebut guna memastikan bahwa pelaksanaan memenuhi standar sekarang dan meningkat sepanjang waktu.

Penilaian kinerja adalah suatu alat yang bermanfaat tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dari karyawan, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi karyawan (Sofyandi, 2008).

24 Menurut Amstrong dan Baron (1998), Penilaian kinerja merupakan kegiatan yang di fokuskan pada usaha mengungkapkan kekurangan dalam bekerja untuk diperbaiki dan kelebihan bekerja untuk dikembangkan, agar setiap karyawan mengetahui tingkat efesiensi dan efektivitas pekerjaannya guna mencapai tujuan organisasi.

Penilaian kinerja yang dikemukakan diatas tidak semata-mata didasarkan pada penilaian buruk tidaknya karyawan melaksanakan tugasnya untuk kemudian diambil tindakan organisasi. Tetapi penilaian kinerja dapat menjadi proses pembelajaran bagi organisasi dan pihak manajemen agar dapat menentukan langkah – langkah strategis untuk mengarahkan aktivitas organisasi, memperbaiki tindakan – tindakan manajemen, dan terus melaksanakan penilaian untuk melakukan adaptasi terhadap proses manajemen dan mengarahkannya kepada tujuan penting organisasi.

2.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian Kinerja penyuluh pertanian (performance) merupakan respon atau prilaku individu terhadap keberhasilan kerja yang dicapai oleh individu secara aktual dalam suatu organisasi sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya yang dilaksanakan secara efektif dan efesien berdasarkan priode waktu tertentu dalam mencapai tujuan organisasi (Amstrong dan Baron, 1998).

Bagi seorang penyuluh pertanian, kinerja merupakan perwujudan diri atas sejauh mana tugas pokoknya dapat dilaksanakan sesuai dengan patokan yang telah ditetapkan. Berdasarkan keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 19

25 Tahun 1999, terdapat empat tugas pokok penyuluh pertanian, yaitu: menyiapkan, melaksanakan, mengevaluasi dan melaporkan, serta mengembangkan kegiatan penyuluhan, yang mana setiap tugas pokok masing-masing terdapat dibidang-bidang kegiatan. (Surat Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara, 1999).

Peranan lembaga penyuluhan pertanian dimaksudkan untuk mempengaruhi perilaku petani atau meningkatkan kemampuan petani untuk mengambil keputusan sendiri mengenai cara-cara mencapai tujuan mereka. Petani menggunakan informasi yang didapat dari penyuluh maupun sumber-sumber lain.

Penyuluhan pertanian bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian yang merupakan tujuan utama dari pembangunan pertanian yang dicapai melalui cara merangsang petani untuk memanfaatkan teknologi produksi modern dan ilmiah yang dikembangkan melalui penelitian (Van Den Ban, 1999).

Program penyuluhan pertanian merupakan rencana yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan. Program penyuluhan pertanian yang disusun setiap tahun membuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran pada masing-masing tingkatan dengan cakupan pengorganisasian, pengelolaan sumberdaya sebagai pelaksanaan penyuluhan (YST, 2001).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian menurut Yusri (1999), ada dua faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian dalam bekerja secara professional, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor Internal Penyuluh Pertanian

26 Kinerja penyuluh dipengaruhi oleh faktor-faktor dari penyuluh itu sendiri inilah yang disebut faktor internal yang terdiri dari:

1. Pendidikan formal penyuluh pertanian.

Telah ditetapkan basis pendidikan formal pertanian minimal Diploma III atau memperoleh sertifikat pendidikan dan latihan fungsional dibidang penyuluhan pertanian. Tingkat pengetahuan mempengaruhi keterampilan dan keahlian yang dimiliki untuk melaksaanakan tugasnya mengimbangi dinamika masyarakat petani.

2. Umur Penyuluh Pertanian

Semakin bertambah umur dan golongan penyuluh, persepsi penyuluh pertanian tentang jabatan fungsional dalam pengembangan karier dan profesi penyuluh semakin rendah.

3. Masa Kerja Penyuluh Pertanian

Semakin lama masa kerja, penyuluh akan semakin menguasai bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sehingga akan semakin matang dan pekerja lebih produktif dan bersaamaan dengan kemampuan kerja menentukan kinerja kerja.

a. Faktor Eksternal

Beberapa faktor eksternal penyuluh yang dipertimbangkan berhubungan dengan kinerja penyuluh pertanian adalah:

1. Ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan.

Dengan adanya sarana dan prasarana seperti teknologi pertanian, pelatihan, transportasi, computer, OHP dan lain-lain sangat diperlukan penyuluh dalam pelaksanaan tugasnya.

27 2. Sistem penghargaan

Hal ini biasanya terkait dengan perbaikan sistem penggajian, tunjangan fungsional dan dana operasional serta jabatan atau kepangkatan.

3. Komoditas dominan diwilayah binaan

Kebiasaan pola tanam yang dilakukan oleh petani secara turun temurun telah memberikan pengetahuan teknologi usaha tani dan pengalaman berharga kepada petani untuk dapat dikembangkan kearah yang lebih maju dan rasional dalam interaksinya bersama-sama penyuluh.

Menurut Kusmiyati dan Maryani (2010) menyatakan bahwa terdapat faktor – faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu:

- Faktor internal yang terdiri dari: umur, pendidikan dan motivasi, sedangkan

- Faktor eksternal terdiri dari: Ketersediaan sarana seperti informasi, intensitas penyuluhan, dan kebijakan pemerintah.

Sedangkan Nova dan Olive (2011) faktor –faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu:

- Faktor internal terdiri dari: umur, tingkat pendidikan, masa kerja, jumlah tanggungan.

- Faktor Eksternal terdiri dari: Ketersediaan sarana dan prasarana informasi, sistem penghargaan, intensitas penyuluh, tempat tinggal penyuluh.

Pendapat lain di kemukakan oleh Nani dan Amri (2008) faktor –faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu:

- Faktor internal terdiri dari: umur, tingkat pendidikan, masa kerja, jabatan.

28 - Faktor Eksternal terdiri dari : Tipe institusi sekolah, pelatihan, komoditas

dominan wilayah binaan penyuluh.

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, maka peneliti akan mengkaji lebih dalam 3 faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu :

1. Sistem Penghargaan

2. Ketersediaan sarana dan prasarana 3. Komoditas dominan wilayah binaan.

2.3.1 Penghargaan

Sebagaimana diketahui bahwa setiap orang yang bekerja baik pada perusahaan swasta maupun instansi pemerintah, tentunya mengharapkan adanya balas jasa atau imbalan yang diberikan atas sumbangan kerja, pikiran dan waktu yang diberikannya. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan diberikannya penghargaan kepada karyawan. Penghargaan yang diberikan bisa berupa insentif.

insentif merupakan salah satu bentuk rangsangan yang sengaja diberikan oleh perusahaan kepada segenap pekerjanya agar para pekerja tersebut termotivasi dan mau bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

a. Jenis-jenis insentif

Menurut pendapat Garry Dessler terjemahan Agus Dharma, insentif terdiri dari : Finansial insentif, Non finansial insentif, Sosial insentif.

1. Finansial Insentif

Meliputi beberapa sistem penghargaan berupa finansial yang diberikan dalam bentuk uang sebagai alat utama yang dapat membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka. Dalam pemberian insentif ini terdapat perbedaan, hal

29 ini disebabkan adanya tingkat atau golongan yang berbeda dari setiap karyawan dalam suatu perusahaan, berupa: bonus, komisi, profit sharing, pensiun.

Dokumen terkait