• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Keluarga

2. Indikator-Indikator dalam Aspek Keluarga

Indikator-indikator dalam aspek keluarga, antara lain peranan keluarga, pola atau tipe keluarga, fungsi keluarga, gaya pengasuhan, ukuran keluarga, kondisi yang mempengaruhi hubungan antar saudara kandung, status sosial keluarga, pekerjaan orang tua, fasilitas tempat tinggal dan suasana keluarga.

a. Peranan Keluarga

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat. Menurut Wikipedia (2010, Sugeng:2003) berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :

1) Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

2) Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

3) Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

b. Pola/tipe Keluarga

Elisabeth B.Hurlock (1989:199), mengungkapkan beberapa pola/tipe keluarga di Amerika masa kini, antara lain:

1) Keluarga inti

Keluarga inti yang terdiri dari orang tua dan anak untuk sebagian besar telah menggantikan keluarga besar, yaitu keluarga inti ditambah sanak saudara yang tinggal di bawah satu atap.

2) Keluarga kecil

Keluarga kecil dengan tiga anak atau kurang, lebih umum dari keluarga besar dengan enam anak atau lebih.

3) Keluarga tanpa anak

Keluarga tanpa anak berdasarkan pilihan sendiri menjadi lebih populer di antara pria dan wanita yang berpendidikan tinggi yang sering lebih berorientasi pada karir daripada keluarga.

4) Keluarga dengan orang tua yang muda

Keluarga dengan orang tua di bawah 30 tahun ketika anak terakhir lahir lebih umum daripada keluarga dengan orang tua diatas 30 tahun ketika anak terakhir lahir.

5) Keluarga dengan ibu yang bekerja

Keluarga dengan ibu yang bekerja di luar rumah dan menyerahkan tugas rumah tangga dan pengasuhan anak kepada pengasuh lebih meningkat dalam semua kelompok sosioekonomi.

6) Keluarga dengan orang tua tunggal

Dalam keluarga dengan orang tua tunggal, orang tua inti mungkin ibu, mungkin ayah yang bertanggung jawab atas anak setelah

kematian pasangannya, perceraian atau karena kelahiran anak di luar nikah.

7) Keluarga dengan komposisi baru

Dalam keluarga yang terbentuk kembali setelah kematian atau perceraian, salah satu orang tua adalah orang tua sebenarnya dan yang lainnya merupakan orang tua tiri.

8) Keluarga orang tua asuh

Orang tua asuh dibayar, biasanya oleh pemerintah untuk memegang peran orang tua sebenarnya. Mereka tidak bertanggung jawab secara hukum untuk mengongkosi anak, demikian pula anak tidak memperoleh nama orang tua asuh.

9) Keluarga komunal

Beberapa keluarga inti bersatu dan berbagi tanggung jawab untuk pengasuhan anak dan rumah tangga.

10) Keluarga angkat

Dalam keluarga angkat sebagian atau semua anak tidak mempunyai hubungan darah dengan orang tuanya, walaupun orang tua mempunyai tanggung jawab hukum bagi mereka dan memberinya nama keluarga, seperti halnya dengan anak sendiri.

11) Keluarga antar ras

Ayah dan ibu dalam keluarga antar ras berasal dari berbagai kelompok ras.

12) Keluarga antar agama

Dalam keluarga antar agama, kedua orang tua menganut agama berbeda walaupun mereka sering berasal dari kelompok ras yang sama.

c. Fungsi Keluarga

Fungsi yang dijalankan keluarga menurut google (1978, dalam WHO:2011)

1) Fungsi Biologis

a) Untuk meneruskan keturunan b) Memelihara dan membesarkan anak c) Memenuhi kebutuhan gizi kleuarga

d) Memelihara dan merawat anggota keluarga 2) Fungsi Psikologis

a) Memberikan kasih sayang dan rasa aman

b) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga c) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga d) Memberikan identitas keluarga

3) Fungsi Sosialisasi

a) Membina sosialisasi pada anak

b) Membina norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkah perkembangan anak

4) Fungsi Ekonomi

a) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi ke-butuhan keluarga

b) Pengaturan dan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga

c) Menabung untuk memenuhi kebutuhah keluarga di masa yang akan datang. Misalnya : pendidikan anak, jaminan hari tua.

5) Fungsi Pendidikan

a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.

b) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi perannya sebagai orang dewasa.

c) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

Menurut Friedman (1998, dalam google:2011) fungsi yang dijalankan keluarga, yaitu:

1) Fungsi Afektif

a) Menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan sehat secara mental saling mengasuh, menghargai, terikat dan berhubungan.

c) Rasa aman 2) Fungsi Sosialisasi Peran

a) Proses perubahan dan perkembangan individu untuk menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan.

b) Fungsi dan peran di masyarakat.

c) Sasaran untuk kontak sosial didalam atau di luar rumah. 3) Fungsi Reproduksi

Menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup masyarakat.

4) Fungsi Ekonomi

a) Memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga

b) Menambah penghasilan keluarga sampai dengan pengalokasian dana

5) Fungsi Perawatan Kesehatan a) Konsep sehat sakit keluarga

b) Pengetahuan dan keyakinan tentang sakit: tujuan kesehatan keluarga dan keluarga mandiri.

Berdasarkan para ahli di atas ada persamaan pendapat tentang definisi fungsi yang dijalankan keluarga adalah fungsi biologis, fungsi psikologis, sosialisasi, biologis dan ekonomi.

d. Gaya Pengasuhan

Orang tua ingin anak mereka bertumbuh menjadi individu yang dewasa secara sosial, dan mereka seringkali merasa putus asa

dalam peran mereka sebagai orang tua. Menurut Santrock (2003:185) pandangan yang paling dikenal adalah pandangan Diana Baumrind (1971, 1990, 1991a, 1991b), yang meyakini bahwa orang tua seharusnya tidak bersifat menghukum maupun menjauhi remaja, tetapi sebaiknya membuat peraturan dan menyayangi mereka. Diana menekankan tiga jenis cara menjadi orang tua, yang berhubungan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam perilaku sosial remaja: authoritarian, autoritatif, dan permisif.

1) Pengasuhan autoritarian (authoritarian parenting)

Gaya yang membatasi dan bersifat menghukum yang mendesak remaja untuk mengikuti petunjuk orang tua dan untuk menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang bersifat authoritarian membuat batasan dan kendali yang tegas terhadap remaja dan hanya melakukan sedikit komunikasi verbal. Pengasuhan ini berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang tidak cakap. Remaja yang orang tuanya otoriter seringkali merasa cemas akan perbandingan sosial, tidak mampu memulai suatu kegiatan, dan memiliki kemampuan komunikasi yang rendah. (Santrock, 2003:185)

2) Pengasuhan autoritatif (authoritative parenting)

Mendorong remaja untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan mengendalikan tindakan-tindakan mereka. Komunikasi verbal timbale balik bisa berlangsung denagn bebas,

dan orang tua bersikap hangat dan bersifat membesarkan hati remaja. Pengasuhan ini berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang komponen. Remaja yang orang tuanya bersifat autoritatif akan sadar diri dan bertanggung jawab secara sosial. (Santrock, 2003:186)

3) Gaya pengasuhan permisif tidak peduli (permissive-indifferent parenting), menurut Maccoby dan Martin (1983, dalam Santrock:186) adalah suatu pola dimana orang tua sangat tidak ikut campur dalam kehidupan remaja. Hal ini berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang tidak cakap, terutama kurangnya pengendalian diri. Remaja yang orang tuanya permisif-tidak peduli biasanya tidak cakap secar sosial: mereka menunjukkan pengendalian yang buruk dan tidak bisa menangani kebebasan dengan baik.

4) Pengasuhan permisif-memanjakan (permissive-indulgent parenting) adalah suatu pola dimana orang tua sangat terlibat dengan remaja tetapi sedikit sekali menuntut atau mengendalikan mereka. Pengasuhan ini berkaitan dengan ketidakcakapan sosial remaja, terutama kurangnya pengendalian diri. (Santrock, 2003:186)

Walaupun pengasuhan yang konsisten biasanya disarankan, orang tua yang bijak dapat merasakan pentingnya bersikap lebih

permisifdalam situasi tertentu, dan lebih bersifat otoriter pada situasi yang lain, namun lebih autoritatif di situasi yang lain lagi.

e. Pengaruh Ukuran Keluarga pada Hubungan Keluarga

Ukuran keluarga, bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas hubungan yang berkembang di antara anggota suatu keluarga. Hubungan ini bergantung pada sejumlah faktor, yaitu: jumlah sistem interaksi dalam keluarga, susunan keluarga, sikap orang tua terhadap keluarga, jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran lain.

Hubungan keluarga dalam berbagai ukuran keluarga menurut Hurlock (1989 : 208), antara lain:

1) Keluarga satu anak mempunyai ciri-ciri:

a) Sering lebih kecil dari yang diinginkan orang tua

b) Hubungan orang tua-anak yang erat menghasilkan kematangan perilaku anak, yang berpengaruh baik pada hubungan dengan teman sebaya.

c) Perlindungan secara berlebihan dari orang tua. d) Pendidikan anak secara demokratis atau permisif.

e) Perselisihan keluarga minimal karena tidak adanya rasa iri dan persaingan antar saudara kandung.

f) Kemauan dan kemampuan orang tua untuk memberi berbagai fasilitas dan lambang status pada anak.

g) Tekanan orang tua untuk mencetak prestasi akademik, olahraga, dan sosial yang tinggi.

h) Anak didorong untuk memegang peran yang dipilihnya sendiri.

2) Keluarga ukuran sedang mempunyai ciri-ciri:

a) Biasanya direncanakan, oleh karena itu memenuhi keinginan orang tua dalam jumlah dan perbedaan usia anak.

b) Pengawasan yang kurang demokratis dan bertambah otoriter dengan meningkatnya ukuran keluarga.

c) Orang tua menentukan peran masing-masing anak.

d) Anak-anak sering tidak diberi kesempatan mencari sahabat di luar karena diharuskan membantu di rumah.

e) Tekanan orang tua untuk prestasi biasnya terpusatkan pada anak yang lahir pertama.

f) Rasa iri hati dan persaingan yang hebat antar saudara kandung umumnya sering terjadi.

g) Kemampuan orang tua yang terbatas untuk member fasilitas dan lambang status.

h) Kecenderungan orang tua untuk membandingkan prestasi anak dengan prestasi saudaranya yang lain.

3) Keluarga kecil mempunyai ciri-ciri:

a) Biasanya direncanakan dan karenanya sesuai dengan keinginan orang tua dalam ukuran dan perbedaan usia anak. b) Orang tua mampu mencurahkan waktu dan perhatian yang

c) Umumnya menerapkan pengendalian yang demokratis terhadap perilaku anak.

d) Persaingan dan iri hati antar saudara sering terjadi.

e) Orang tua memiliki kecenderungan untuk membanding-kan prestasi satu anak dengan prestasi saudaranya.

f) Kemauan dan kemampuan orang tua untuk memberi tiap anak fasilitas dan lambang status yang sama.

g) Tekanan orang tua untuk prestasi akademis, olahraga, dan sosial yang baik.

h) Orang tua menentukan peran dan tugas tiap anak. 4) Keluarga besar mempunyai ciri-ciri:

a) Sering tidak terencana dan karenanya menimbulkan penolakan orang tua.

b) Perselisihan antar suami-isteri karena mereka harus melakukan pengorbanan pribadi dan finansial.

c) Peran tiap anak ditentukan oleh orang tua agar keluarga dapat berfungsi dengan efisien dan harmonis.

d) Pendidikan otoriter perlu untuk menghindarkan kekacauan atau anarki.

e) Anak-anak sering tidak diberi kesempatan mencari sahabat di luar karena bantuan mereka dibutuhkan di rumah atau karena tidak tersedia uang untuk ikut serta dengan kegiatan teman sebaya.

f) Persaingan dan perselisihan antar saudara sedikit karena pengendalian orang tua yang ketat tetapi diekspresikan secara tidak langsung dengan mengganggu, membentak, dan mengejek.

g) Seringkali orang tua tidak mampu memberi anak fasilitas dan lambang status yang sama dengan teman sebaya mereka. h) Sedikit tekanan orang tua untuk berprestasi kecuali pada anak

pertama.

i) Sedikit perlindungan yang berlebihan kecuali untuk anak pertama.

f. Kondisi yang Mempengaruhi Hubungan Antar Saudara Kandung Kondisi yang mempengaruhi hubungan antar saudara kandung menurut Hurlock (1989: 207-210), antara lain dikarenakan:

1) Sikap orang tua

Sikap orang tua terhadap anak dipengaruhi oleh sejauh mana anak mendekati keinginan dan harapan orang tua. Sikap orang tua juga dipengaruhi oleh sikap dan perilaku anak terhadap anak yang lain dan terhadap orang tuanya. Bila terdapat rasa persaingan dan permusuhan, sikap orang tua terhadap semua anak kurang menguntungkan dibandingkan bila mereka satu sama lain bergaul cukup baik.

Anak yang lahir pertama, sebagai akibat pendidikan awal dan asosiasi yang erat dengan orang tuanya, cenderung lebih

memenuhi harapan orang tua daripada anak yang lahir kemudian. Jadi orang tua sering lebih menyukai anak yang pertama. Sebaliknya, anak yang ditengah sering merasa tidak dihiraukan dibandingkan anak pertama dan anak terakhir. Mereka merasa bahwa orang tua pilih kasih dan mereka membenci saudara mereka. Sikap demikian menumbuhkan rasa iri hati dan permusuhan yang mempengaruhi hubungan antar saudara kandung secara negatif, dan kemudian juga mempengaruhi hubungan keluarga secara merugikan.

2) Urutan posisi

Dalam semua keluarga, kecuali keluarga satu anak, semua anak diberi peran menurut urutan kelahiran dan mereka diharapkan memerankan peran tersebut. Jika anak menyukai peran yang diberikan padanya, semua berjalan dengan baik. Tetapi peran itu peran yang diberikan dan bukan yang dipilih sendiri, maka kemungkinan terjadi perselisihan besar sekali. 3) Jenis kelamin saudara kandung

Anak laki-laki dan perempuan bereaksi sangat berbeda terhadap saudara laki-laki dan perempuannya. Misalnya, dalam kombinasi perempauan-perempuan, terdapat lebih banyak iri hati daripada dalam kombinasi laki-perempuan atau laki-laki. Seorang kakak perempuan kemungkinan lebih cerewet dan suka mengatur terhadap adik perempuannya daripada adik laki-lakinya. Anak

laki-laki lebih banyak berkelahi dengan kakak laki-laki daripada dengan kakak perempuannya, untuk sebagian karena orang tua tidak akan membiarkan agresivitas yang berlebihan terhadap kakak perempauan.

4) Perbedaan usia

Perbedaan usia antar saudara kandung mempengaruhi cara mereka bereaksi satu terhadap yang lain dan cara orang tua memperlakukan mereka. Bila perbedaan usia antar saudara itu besar, baik jika anak berjenis kelamin sama maupun berlawanan, hubungan yang lebih ramah, kooperatif, dan kasih-mengasihi terjalin daripada bila usia mereka berdekatan. Jika perbedaan usia antar saudara besar, hubungan antara orang tua dan anak secara keseluruhan berbeda dari hubungan dengan perbedaan usia antar saudara yang kecil. Bila anak-anak berdekatan usia, orang tua cenderung memperlakukan mereka dengan cara yang sama. Tetapi orang tua cenderung mengharapkan anak yang lebih tua menjadi model yang baik dan mereka mengecamnya bila ia gagal melakukan hal itu. Sebaliknya, anak yang lebih muda, diharapkan meniru anak yang lebih tua dan mematuhinya. Harapan orang tua ini ikut memperburuk hubungan antar saudara kandung.

5) Jumlah saudara

Jumlah saudara yang kecil cenderung menghasilkan hubungan yang lebih banyak perselisihan daripada jumlah saudara

yang besar. Untuk itu terdapat dua alasan. Pertama, bila hanya ada dua atau tiga anak dalam keluarga, mereka lebih sering bersama daripada jika jumlahnya besar. Karena perbedaan usia juga mungkin sekali kecil, orang tua mengharapkan mereka bermain dan melakukan berbagai hal bersama-sama. Dengan perbedaan usia yang akan ada bila terdapat banyak anak, frekuensi kontak antar saudara kandung berkurang.

Kedua, bila ada banyak anak, disiplin cenderung otoriter. Bahkan bila ada antagonisme dan permusuhan, ekspresi terbuka perasaan ini dikendalikan dengan ketat. Hal ini, biasanya tidak terjadi pada keluarga sedikit anak. Pengawasan orang tua yang santai, permisif terhadap perilaku anak, memungkinkan antagonism dan permusuhan ini dinyatakan terbuka, sehingga tercipta suasana yang diwarnai perselisihan.

6) Jenis disiplin

Hubungan antar saudara kandung tampak jauh lebih rukun dalam keluarga yang menggunakan disiplin otoriter dibandingkan dengan keluarga yang mengikuti pola permisif. Bila anak dibiarkan bertidak sesuka hati, hubungan antar saudara sering tidak terkendalikan lagi. Disiplin yang demokratis dapat mengatasi sebagian kekacauan akibat disiplin permisif, tetapi dampaknya tidak sebesar dampak disiplin otoriter. Tetapi secara

keseluruhan disiplin demokratis menciptakan hubungan antar saudara yang lebih menyenangkan dan sehat dari disiplin otoriter. 7) Pengaruh orang luar

Terdapat tiga cara orang luar keluarga langsung mempengaruhi hubungan antar saudara: kehadiran orang luar di rumah, tekanan orang luar pada anggota keluarga, dan perban-dingan anak dengan saudaranya oleh orang luar. Jika sanak saudara atau tamu berada di rumah, untuk bertamu atau sebagai anggota tetap keluarga, sebagaimana halnya pada keluarga luas, jumlah sistem interaksi meningkat. Hal ini mungkin sekali akan menimbulkan perselisihan baru atau memperhebat perselisihan antar saudara yang sudah ada.

g. Status Sosial Keluarga

Pola kehidupan keluarga berbeda dari satu kelompok sosial dengan yang lain. Terdapat perbedaan dalam mengatur rumah tangga, hubungan suami-isteri; dalam konsep peran orang tua, anak, dan keluarga; dalam penggunaan uang dalam penyesuaian sosial;dalam pendidikan anak dan sikap terhadap disiplin dan dalam sikap terhadap kehidupan keluarga.

Bila anak cukup besar untuk memahami status sosial keluarganya, status ini mempunyai pengaruh yang nyata pada sikap anak terhadap orang tua, terutama terhadap ayah sebagai pencari nafkah. Jika status sosial keluarga anak sekurang-kurangnya sama

dengan status keluarga teman sebaya, anak merasa bangga terhadap ayah mereka. Bila mereka melihat bahwa status keluarga mereka lebih rendah, mereka merasa malu dan bersikap sangat kritis terhadap ayah mereka.

h. Pekerjaan Orang tua

Pekerjaan ayah penting bagi anak yang lebih kecil hanya bila pekerjaan ini mempunyai akibat langsung pada kesejahteraan si anak. Tetapi bagi anak yang lebih besar, pekerjaan ayah mempunyai arti budaya, sebab pekerjaan ayah mempengaruhi gengsi sosial anak.

Anak sekolah dasar membagi masyarakat atas tingkat-tingkat berdasarkan pekerjaan dan mengambil alih sikap dan nilai orang tua terhadap berbagai pekerjaan. Bila seorang anak merasa malu akan pekerjaan ayahnya, karena tingkat pekerjaan itu atau jenis pakaian kerja, sikap anak akan dipengaruhi secara merugikan.

Pekerjaan ayah mempengaruhi anak secara tidak langsung dalam arti bahwa pekerjaan itu mempengaruhi standar yang ditentukan ayah bagi anaknya. Dari pengalaman kerjanya, ayah mengetahui sikap, kecakapan dan kualitas apa saja yang perlu untuk keberhasilan. Kemudian ia mencoba memupuk sikap dan sifat itu pada anaknya. Jadi standar dunia pekerjaan mempengaruhi rumah dan mempengaruhi peran ayah.

Pengaruh ibu yang bekerja pada hubungan ibu-anak sebagian besar bergantung pada usia anak pada waktu ibu mulai bekerja. Jika ia

mulai bekerja sebelum anak telah terbiasa selalu bersamanya, sebelum suatu hubungan tertentu terbentuk pengaruh-nya akan minimal. Tetapi jika hubungan mesra telah terbentuk, anak itu akan menderita, kecuali sorang pengganti ibu yang memuaskan tersedia, seorang pengganti yang disukai anak dan yang mendidik anak dengan cara yang tidak akan menyebabkan kebingungan atau kemarahan di pihak anak.

Perasaan anak yang lebih tua menghadapi ibu yang bekerja bergantung sebagian pada betapa seriusnya pekerjaan ibu meng-ganggu pola kehidupan keluarga, sebagian pada apa yang dilakukan ibu teman-temannya, sebagian pada stereotip yang telah dipelajari-nya mengenai seorang ibu dan banyak faktor lain. Bila ibu bekerja di luar rumah, kesempatan untuk kehidupan sosial dan rekreasi dengan keluarga biasanya terbatas, dan tiap anak harus mengerjakan lebih banyak tugas rumah dari yang lazim.

i. Fasilitas Tempat Tinggal

Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2004:303) fasilitas tempat tinggal, antara lain:

1) Letak rumah dan keadaan di dalam rumah: keadaan fisik daerah di sekitar rumah, ukuran rumah, perlengkapan di dalam rumah, sumber penerangan dan sebagainya.

2) Fasilitas belajar yang tersedia bagi siswa: ruang belajar, meja belajar, macam sumber penerangan, aneka sumber gangguan.

j. Suasana keluarga

Suasana keluarga yang mencakup kesesuaian keluarga dan perasaan anak di tempat tinggal saat ini. Suasana keluarga merupakan corak hubungan antara orang tua dan anak (akrab atau tidak). Kesesuaian (synchrony) merujuk pada interaksi yang terkoordinasi secara hati-hati antara orang tua dan anak atau remaja, yang saling menyelaraskan perilaku, yang seringkali secara tidak sadar (Santrock, 2003:175).

Dokumen terkait