• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Kelompok Referensi

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh: DOLESMAN SITANGGANG (Halaman 33-102)

BAB II KERANGKA TEORI

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Brand Switching

2.2.2 Kelompok Referensi

2.2.2.3 Indikator Kelompok Referensi

Dapat dilihat dari kecenderungan individu untuk selalu menyamakan perilakunya dengan kelompok referensi/acuan sehingga dapat terhindar dari celaan dan keterasingan/dikucilkan dalam kelompok. Menurut Sari et al (2014:

4), kelompok referensi dapat diukur dengan 5 (lima) indikator, yaitu:

1. Pengamatan terhadap kelompok 2. Rekomendasi teman

3. Bujukan teman

4. Sikap untuk dapat diterima 5. Keselarasan dalam kelompok 2.2.3 Fitur Produk

2.2.3.1 Pengertian Fitur Produk

Menurut Tjiptono (2001:25), fitur adalah karakteristik produk yang melengkapi produk tersebut. Fitur produk dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong (2012:273), fitur adalah sarana kompetitif untuk mendefinisikan produk perusahaan dari produk pesaing. Menjadi produsen pertama yang memperkenalkan fitur baru yang bernilai adalah salah satu cara paling efektif untuk bersaing. Fitur menjadi unsur penting karena dapat memberikan keunggulan keistimewaan dibanding produk lain yang sejenis.

Menurut Amir (2005:145), fitur berperan menambah manfaat utama sebuah produk. Dengan demikian, fitur juga bisa berfungsi membedakan sebuah produk dengan produk sejenis, tergantung sejauh mana fitur yang ditawarkan dapat memenuhi harapan konsumen, dapat menjadi penentu menangnya sebuah produk

dalam persaingan. Hal yang penting adalah tambahan biaya yang kita korbankan untuk sebuah fitur selalu memberikan manfaat yang lebih baik di mata konsumen sehingga ia rela mengeluarkan uang tambahan.

Dari beberapa defenisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa fitur produk adalah sarana kompetitif untuk mendefinisikan produk sebagai karakteristik produk dan dapat menjadi penentu menangnya sebuah produk dalam persaingan.

2.2.3.2 Indikator Fitur Produk

Dalam menciptakan suatu fitur baru ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah berapa banyak konsumen yang membutuhkan fitur tersebut, berapa lama waktu yang diperlukan untuk memperkenalkan fitur tersebut, dan apakah fitur yang telah diciptakan akan mudah ditiru oleh pesaing.

Kotler dan Armstrong (2009:8), menjelaskan bahwa perusahaan harus secara cermat dan teliti memprioritaskan fitur-fitur yang tercakup dan menemukan cara yang tepat untuk memberikan informasi kepada konsumen bagaimana menggunakan dan memanfaatkan fitur tersebut.

Menurut Thom W. A. Isliko (Sari, 2016:49), fitur produk diukur melalui 3 (tiga) indikator, yaitu:

1. Keragaman fitur

2. Fitur sesuai dengan harapan 3. Fitur memiliki keunggulan

Sedangkan menurut Mullins et al 2005 (Puteri, 2015:35), apabila perusahan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan haru mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen

untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan pesaing.

Dimensi fitur terdiri dari:

1. Kinerja produk, dan 2. Pelengkap produk.

2.3 Kerangka Berpikir

Menurut Uma Sekaran (Sugiyono, 2012:88), Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah di identifikasi sebagai masalah yang penting.

Berdasarkan teori maka dapat dilihat kerangka berpikir yang menggambarkan hubungan dari variabel independen, dalam hal ini adalah lifestyle (gaya hidup) (X1), kelompok referensi (X2), dan fitur produk (X3) terhadap variabel dependen yaitu keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi.

Variabel-variabel tersebut akan dianalis dalam penelitian sehingga diketahui seberapa besar masing-masing variabel tersebut dapat mempengaruhi keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone. Kerangka berpikir dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Sumber : Diolah peneliti, 2016 Lifestyle (Gaya Hidup) (X1)

Fitur Produk (X3)

Kelompok referensi (X2) Keputusan Brand Switching (Perpindahan

Merek) (Y)

2.4 Hipotesis

Menurut Sugiyono (2012:93), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.

Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban empirik. Berdasarkan kerangka berpikir, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H1 : Lifestyle (gaya hidup) berpengaruh terhadap keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi pada Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara.

H2 : Kelompok referensi berpengaruh terhadap keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi pada Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara.

H3 : Fitur produk berpengaruh terhadap keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi pada Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara.

H4 : Lifestyle (gaya hidup), Kelompok Referensi, dan Fitur Produk terhadap keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi pada Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan faktor pendukung bagi sebuah penelitian.

Demikian penelitian ini juga dibuat dengan dukungan penelitian terdahulu diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Putri Rahmadani (2016), “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Perpindahan Merek pada Konsumen Kartu Perdana Internet (Studi Kasus Mahasiswa Admninistrasi Bisnis FISIP USU)”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Promosi berpengaruh secara signifikan terhadap perpindahan merek pada konsumen kartu perdana internet. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden menjawab kartu perdana internet memiliki jangkauan area yang luas sehingga mampu memberikan akses internet cepat dimanapun, fitur yang ditawarkan dapat mempermudah akses internet dan harga kartu perdana internet terjangkau.

b. Harga dan kualitas produk tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perpindahan merek pada konsumen perdana internet. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden menjawab suatu produk dengan harga yang mahal berarti mempunyai kualitas yang baik, sedangkan apabila harga yang murah mempunyai kualitas yang kurang baik.

c. Secara simultan atau bersama-sama harga, kualitas produk dan promosi berpengaruh secara signifikan terhadap perpindahan merek pada konsumen kartu perdana internet dengan kriteria pengujian hipotesis jika f hitung > f tabel dan tingkat signifikannya (0.000) < 0.05.

2. Diana Eva Sipayung (2011), ”Pengaruh Ketidakpuasan Konsumen dan Kebutuhan Mencari Variasi Terhadap Keputusan Perpindahan Merek Merek Handphone dari Nokia ke Blackberry pada Mahasiswa Fakultas Hukum S-1 USU”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Kriteria yang paling dominan mempengaruhi brand switching handphone dari Nokia ke Blackberry adalah kriteria komunitas dengan persentase nilai prioritas sebesar 34,90%, dimana dalam kriteria komunitas unsur yang paling mempengaruhi perilaku perpindahan merek ini adalah unsur komunitas messenger sebesar 15,19%.

b. Atribut produk mempengaruhi brand switching handphone sebesar 30,20%, selanjutnya diikuti oleh kriteria kebutuhan mencari variasi sebesar 21,80%. Kriteria harga merupakan kriteria yang paling kecil pengaruhnya dalam brand switching handphone yaitu hanya sebesar 13,92%.

3. Nanda Amelia (2016), “Pengaruh Citra Merek, Harga, dan Gaya Hidup Terhadap Keputuan Pembelian Produk Fashion Imitasi (Studi pada Mahasiswa Strata I FISIP USU)”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Secara serentak citra merek, harga dan gaya hidup, berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion imitasi. Hal ini dilihat dari nilai f hitung (14,834) > f tabel (2,14) dan signifikan (0,000)

< 1.

b. Berdasarkan hasil analisis data secaara parsial harga dan gaya hidup berpengarug signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion imitasi. Hal ini berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Sedangkan citra

merek tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion imitasi. Hal ini berarti Ha ditolak dan H0 diterima.

c. Nilai Adjusted R Square =0.295, berarti citra merek, harga dan gaya hidup mempengaruhi keputusan pembelian produk fashion imitasi sebesar 29,5%

dan sisanya 70,5% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4. Hutami Permita Sari (2016), “Pengaruh Citra Merek, Fitur, dan Persepsi Harga Terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Konsumen Smartphone Xiaomi di DIY)”. Hasil penelitin ini adalah:

a. Terdapat pengaruh positif citra merek terhadap keputusan pembelian. Hal ini dibuktikan dari nilai t hitung sebesar 5,763 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05, dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,687.

b. Terdapat pengaruh positif fitur produk terhadap keputusan pembelian. Hal ini dibuktikan dari nilai t hitung 2,481 dengan nilai signifikan sebesar 0,014 < 0,05 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,210.

c. Terdapat pengaruh positif persepsi harga terhadap keputusan pembelian.

Hal ini dibuktikan dengan nilai t hitung sebesar 6,393 dengan nilai signifikan sebsar 0,000 < 0,005 dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,528.

d. Citra merek, fitur dan persepsi harga secara simultan berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengujian diperoleh nilai f hitung sebesar 68,04443 dengan signifikan sebesar 0,000

< 0,05.

5. Deasy Purnama Sari, Wahyu Hidayat, dan Widiartanto (2014), “Pengaruh Lifestyle, Efek Komunitas, dan Fitur Produk Terhadap Keputusan Brand Switching Smartphone Blackberry ke Merek Lain”. Hasil Penelitian ini adalah:

a. Pengkajian pada variabel lifestyle dalam menentukan keputusan brand switching dari Blackberry ke smartphone lain pada mahasiswa aktif program S-1 FISIP UNDIP, sebagian besar responden menyatakan bahwa lifestyle sebagai pendorong mereka untuk melakukan perpindahan merek Blackberry ke smartphone lain. Dari hasil uji statistik dan uji t diketahui bahwa lifestyle beepengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan brand switching, dimana pengaruh yang diberikanpada variabel lifestyle terhadap keputusan brand switching adalah 17,3%. Dengan demikian hipotesis diterima.

b. Pengkajian pada variabel efek komunitas dalam menentukan keputusan brand switching, sebagian besar responden menyatakan bahwa efek komunitas sebagai pendorong mereka melakukan perpindahan merek dari Blackberry ke smartphone lain. Dari hasil uji statistik dan uji t diketahui bahwa efek komunitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand switching dimana pengaruh yang diberikan variabel efek komunitas terhadap keputusan brand switching adalah sebesar 10,7%. Dengan demikian hipotesis kedua pada variabel ini diterima.

c. Pegkajian pada variabel fitur produk dalam menentukan keputusan brand switching, sebagian besar responden menyatakan bahwa fitur produk sebagai pendorong mereka untuk melakukan perpindahan merek. Dari

hasil uji statistik dan uji t diketahui bahwa fitur produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan brand switching, dimana pengaruh yang diberikan variabel fitur produk terhadap keputusan brand switching adalah sebesar 16,7%. Dengan demikian hipotesis ketiga pada penelitian ini diterima.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Adapun bentuk penelitian ini termasuk penelitian lapangan yang merupakan jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2012:100). Adapun yang dihubungkan dalam penelitian ini adalah variabel independen yaitu lifestyle (gaya hidup), kelompok referensi, dan fitur produk terhadap variabel dependen yaitu keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012:13), penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data tentang keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi pada Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di FISIP Universitas Sumatera Utara di Jalan Prof. Dr. A. Sofian No. 1 Kampus USU Padang Bulan Medan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2016 sampai bulan Februari 2017.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, populasi bukan hanya orang, tetapi objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek/subjek itu (Sugiyono, 2012:115).

Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara yang masih aktif kuliah dan telah melakukan keputusan (brand switching) smartphone ke merek Xiaomi.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili) (Sugiyono, 2012:116). Pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel nonprobability dengan teknik sampling yang digunakan adalah Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2012:122). Menurut Purba (Sujarweni, 2015:155) jika jumlah populasi tidak diketahui, maka jumlah sampel minimal ditentukan dengan rumus Rao Purba, yaitu:

Keterangan:

n : Ukuran Sampel

Z : Tingkat distribusi normal pada taraf signifikan 5% = 1,96

moe : Margin of Error Max, yaitu tingkat kesalahan maksimal yang ditolerir sebesar 10%

Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh perhitungan sebagai berikut:

= 96,04 atau 96 responden

Berdasarkan rumus di atas, maka jumlah sampel 96 responden. Namun, karena ada unsur pembulatan dan untuk memudahkan perhitungan maka peneliti mengambil sebanyak 100 responden.

3.4 Defenisi Konsep

Defenisi konsep merupakan istilah khusus untuk menggambarkan secara tepat fenomena yang diteliti. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan secara abstrak yang dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu yang khas. Defenisi konsep ini dilakukan agar ada batasan terhadap masalah variabel yang diteliti dan menyederhanakan pemikiran sehingga tujuan dan arah penelitian jelas dan tidak menyimpang.

Defenisi konsep dalam penelitian ini adalah:

1. Lifestyle (gaya hidup)

Menurut Kotler (1996:241), Lifestyle (gaya hidup) adalah keseluruhan pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opini.

2. Kelompok Referensi

Menurut Kotler dan Keller (2009:170), kelompok referensi seseorang adalah semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.

3. Fitur Produk

Menurut Tjiptono (2001:25), fitur adalah karakteristik produk yang melengkapi produk tersebut.

4. Brand Switching (Perpindahan Merek)

Menurut Djan dan Ruvendi (Rahmadani, 2016:9), perpindahan merek adalah saat dimana seorang konsumen atau sekelompok konsumen berpindah kesetiaan dari satu merek sebuah produk tertentu ke produk lainnya.

3.5 Defenisi Operasional

Menurut Sujarweni (2015:77), defenisi operasional adalah penelitian dimaksudkan untuk memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis instrumen serta sumber pengukuran berasal darimana. Adapun defenisi operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dalam penelitian ini adalah Lifestyle (gaya hidup) (X1).

2. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dalam penelitian ini adalah Kelompok referensi (X2).

3. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dalam penelitian ini adalah Fitur Produk (X3).

4. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen, dalam penelitian ini adalah Brand Switching (perpindahan merek) (Y).

Tabel 3.1 Defenisi Operasional

Variabel Definisi Indikator Skala

Pengukuran pola hidup seseorang yang diekspresikan dijadikan acuan oleh seorang dalam membentuk

pandangan tentang nilai tertentu, sikap

atau pedoman

Tabel 3.1 Lanjutan

Variabel Definisi Indikator Skala

Pengukuran

Sumber: Kotler (1996), Sari et al (2014:4), Isliko (Sari, 2016), Nitisusastro (2013:210), diolah peneliti (2016).

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data-data ataupun informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan 2 (dua) teknik pengumpulan data, yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang berasal langsung dari responden (objek penelitian) (Sunyoto, 2013:10). Data responden sangat diperlukan untuk mengetahui tanggapan responden mengenai keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi. Dalam hal ini data diperoleh secara langsung dengan membagi kuesioner kepada Mahasiswa yang telah melakukan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui data yang diteliti dan dikumpulkan oleh pihak lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian (Sunyoto, 2013:10). Data sekunder juga sifatnya melengkapi atau mendukung data primer. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari jurnal, buku-buku, penelitian terdahulu, serta tulisan-tulisan yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti.

3.7 Skala Pengukuran

Skala pengukuran data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2012:132). Skala yang digunakan untuk mengukur respon subjek ke dalam 5 (lima) poin skala dengan jumlah interval yang sama.

Tabel 3.2

Instrumen Skala Likert

No Keterangan Skor

1 Sangat Setuju 5

2 Setuju 4

3 Netral 3

4 Tidak Setuju 2

5 Sangat Tidak Setuju 1

Sumber: Sugiyono, (2012:133) 3.8 Teknik Analisis Data

Data penelitian yang terkumpul akan dianalisis melalui pendekatan kuantitatif dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

3.8.1 Uji Instrumen

Untuk memastikan apakah instrumen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan alat ukur yang akurat dan dapat dipercaya, maka digunakan dua macam pengujian, yaitu: uji validitas dan uji reliabilitas.

3.8.1.1 Uji Validitas

Validitas atau kesahihan menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang ingin diukur (valid measure if it successfully measure the phenomenon) (Siregar, 2016:162). Uji validitas adalah tingkat keandalan alat ukur yang digunakan. Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir-butir dalam suatu daftar pertanyaan atau pernyataan dalam mendefinisikan variabel. Langkah selanjutnya adalah secara statistik, angka korelasi yang diperoleh dengan melihat tanda bintang pada hasil skor total, atau membandingkaan dengan angka bebas korelasi nilai r yang menunjukkan valid.

(Statistical Package for Social Sciences). Untuk menentukan nomor-nomor item yang valid dan yang gugur, perlu dikonsultasikan dengan tabel r produk momen.

Kriteria penilaian uji validitas adalah:

1. Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner tersebut valid.

2. Apabila r hitung< r tabel, maka dapat dikatakan item kuesioner tidak valid.

3.8.1.2 Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama pula (Siregar, 2016:173). Untuk mengetahui kuesioner tersebut sudah reliabel akan dilakukan pengujian reliabilitas kuesioner dengan bantuan program SPSS. Kriteria penilaian uji reliabilitas adalah:

1. Apabila hasil koefisien Alpha lebih besar dari taraf signifikan 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut reliabel.

2. Apabila hasil koefisien Alpha lebih kecil dari taraf signifikan 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut tidak reliabel.

3.8.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik digunakan untuk melihat atau menguji model yang termasuk layak atau tidak layak digunakan dalam penelitian. Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

3.8.2.1 Uji Normalitas

Menurut Suliyanto (2011:69), uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah nilai residual yang telah distadarisasi pada model regresi berdistribusi normal atau tidak. Nilai residual dikatakan berdistribusi normal jika nilai residual

terstandarisasi tersebut sebagian besar mendekati nilai rata-ratanya. Pengambilan kesimpulan untuk menentukan apakah suatu data mengikuti distribusi normal atau tidak adalah dengan menilai signifikannya. Menurut Ghozali (Sujarweni, 2015:225), jika signifikan > 0,05 maka variabel berdistribusi normal dan sebaliknya jika signifikan < 0,05 maka variabel tidak berdistribusi normal.

3.8.2.2 Uji Multikolonieritas

Menurut Kurniawan dan Yuniarto (2016:185), uji multikolonieritas diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya variabel independen yang memiliki hubungan antar variabel independen dalam suatu model. Hubungan antar variabel independen akan mengakibatkan korelasi yang sangat kuat. Selain itu, uji ini juga untuk menghindari kebiasaan dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengaruh uji parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Untuk multikolonieritas dapat dilakukan dengan melihat nilai TOL (Tolerance) dan VIF (Variance Inflation Factor) dari masing-masing variabel bebas dan variabel terikatnya. Jika nilai VIF tidak lebih dari 10 dan nilai TOL lebih dari 0,1 maka model dinyatakan tidak terdapat gejala multikolonier.

3.8.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Menurut Kurniawan dan Yuniarto (2016:186–187), heteroskedastisitas menguji terjadinya perbedaan variance residual suatu periode pengamatan ke periode yang lain. Cara memprediksi ada tidaknya heteroskedastisitas pada suatu model dapat dilihat dengan pola scatter plot, regresi yang tidak terjadi heteroskedastisitas, jika:

1. Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0.

2. Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja.

3. Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali.

4. Penyebaran titik-titik data tidak berpola.

Jika titik-titik data tidak terdapat pola yang jelas dan menyebar di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, dapat disimpulkan bahwa tidak ada heteroskedastisitas.

3.8.3 Analisis Regresi Linier Berganda

Metode analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode analisa kuantitatif. Dimana mencapai tujuan pertama yaitu menganalisis pengaruh lifestyle (gaya hidup), kelompok referensi, fitur produk terhadap keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi adalah dengan menggunakan analisis regresi berganda (Multiple regresional analisis). Pada penelitian ini menggunakan alat bantu program SPSS untuk mempermudah proses pengolahan data-data penelitian dari program tersebut akan didapatkan output berupa hasil pengolahan dari data yang telah dikumpulkan, kemudian output hasil pengolahan tersebut di interpretasikan akan dilakukan analisis terhadapnya.

Setelah dilakukan analisis barulah kemudian diambil sebuah kesimpulan sebagai hasil dari penelitian.

Regresi berganda dilakukan untuk mengetahui sejauh mana variabel bebas mempengaruhi variabel terikat. Pada regresi berganda terdapat satu variabel terikat dan lebih dari satu variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi, sedangkan yang menjadi variabel bebas adalah lifestyle (gaya hidup), kelompok referensi, fitur produk. Model hubungan

keputusan brand switching (perpindahan merek) dengan variabel-variabel tersebut dapat disusun dalam fungsi atau persamaan sebagai berikut:

Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + e Dimana:

Y : Keputusan brand switching (perpindahan merek) smartphone ke merek Xiaomi.

a : Konstanta b : Koefisien

X1 : Lifestyle (gaya hidup) X2 : Kelompok referensi X3 : Fitur produk

e : Error term 3.8.4 Uji Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini diuji dengan regresi linier berganda. Adapun cara yang digunakan untuk menganalisis, yaitu:

3.8.4.1 Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Menurut Ghozali (Sujarweni, 2015:229), uji t menunjukkan seberapa jauh pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Apabila nilai probabilitas signifikan lebih kecil dari 0,05 (5%) maka suatu variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Adapun kriteria adalah:

1. Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.

2. Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.

2. Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh: DOLESMAN SITANGGANG (Halaman 33-102)

Dokumen terkait