BAB III
KESEHATAN
Penduduk mempunyai peranan yang penting dalam pembangunan. Oleh karena itu, perhatian terhadap penduduk tidak hanya dari segi jumlah, tetapi juga kualitasnya. Untuk itu, prioritas pembangunan harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut yang antara lain dapat dilakukan melalui peningkatan taraf pendidikan, dan kesehatan.
Faktor kesehatan memberikan peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Usaha – usaha peningkatan derajat kesehatan penduduk secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas penduduk, yang harus terus dikelola agar sumber daya manusia khususnya di Provinsi Bengkulu ini mampu bersaing dengan sesama saudaranya di seluruh tanah air, bahkan mungkin bisa ikut bersaing di dunia internasional. Derajat kesehatan penduduk dapat dinilai melalui berbagai indikator kesehatan salah satunya melalui angka kematian bayi (infant mortality rate).
Dalam bab ini akan dibahas mengenai kondisi kesehatan di Provinsi Bengkulu yang diambil dari data Susenas dan dari data SDKI. Beberapa data penting hasil Susenas yang terkait dalam bidang kesehatan mencakup keluhan kesehatan, keluhan kesehatan terbanyak, penduduk yang berobat jalan, penolong persalinan dan pemberian ASI. Selain itu untuk menambah gambaran kita tentang kondisi kesehatan di Provinsi Bengkulu, juga ditampilkan angka kematian bayi, dan angka kematian anak yang berasal dari data SDKI. Selain itu juga ada perkiraan angka harapan hidup. Dalam bab ini ada beberapa yang akan disajikan dalam bentuk tren data selama kurun waktu 6 tahun terakhir.
3.1. Status Kesehatan
Prioritas dalam pembangunan kesehatan adalah peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, namun demikian dari data Susenas selama kurun waktu 6 tahun terakhir memperlihatkan adanya peningkatan persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan. Pada tahun 2004 persentase penduduk yang
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
mengalami keluhan kesehatan sekitar 20 persen dan dalam tiga tahun terakhir persentasenya menunjukkan peningkatan mencapai angka 30 persen.
Namun demikian kalau diamati selama tiga tahun terakhir terlihat bahwa persentasenya relatif tidak
berubah. Sedangkan
menurut tipe daerah pada tahun 2004 sampai dengan 2009 relatif juga tidak ada
perbedaan persentase
penduduk yang
mengalami keluhan
kesehatan di perkotaan dan pedesaan.
Diketahui bahwa jenis keluhan kesehatan yang sama bisa mengindikasikan penyakit yang berbeda, misalnya keluhan panas dapat mengindikasikan penyakit demam berdarah, typus, malaria atau penyakit lainnya. Data mengenai jenis keluhan kesehatan juga dikumpulkan dalam Susenas. Dari survei ini diketahui bahwa tiga jenis keluhan kesehatan yang sering dialami oleh penduduk adalah panas, batuk dan pilek. Berikut perkembangan dari tiga keluhan kesehatan tersebut selama 6 tahun terakhir.
Dari tahun 2004
sampai dengan
2009, persentase
penduduk dengan
keluhan pilek dan batuk cenderung selalu di atas persentase penduduk
dengan keluhan
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
antara persentase batuk dan pilek tidak terlihat adanya perbedaan pola. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kedua keluhan ini sering dialami secara bersamaan.
Pembangunan di bidang kesehatan mencakup peningkatan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Tujuan penyediaan fasilitas kesehatan adalah tersedianya fasilitas kesehatan yang mudah dan murah bagi semua lapisan masyarakat terutama bagi masyarakat miskin. Data hasil Susenas selama 6 tahun terakhir menunjukkan perubahan pola penduduk yang berobat jalan. Dari tahun
2004 sampai dengan tahun 2009 terlihat bahwa persentase penduduk yang berobat jalan berada di kisaran angka 30 persen. Tetapi persentase penduduk yang berobat jalan tersebut sempat mengalami penurunan di tahun 2005 yang hanya sebesar 25 persen.
Dilihat menurut tipe daerah dari tahun 2004 dan 2005 relatif tidak ada perbedaan persentase penduduk yang berobat jalan di perkotaan dan pedesaan. Namun sejak tahun 2006 terlihat persentase penduduk yang berobat jalan di perkotaan cenderung lebih tinggi bila dibandingkan dengan pedesaan, kecuali pada tahun 2008 yang terlihat relatif sama persentasenya.
3.2. Kesehatan Balita
Tujuan pembangunan kesehatan khususnya yang terkait dengan kesehatan balita adalah menurunkan angka kematian bayi dan menurunkan angka kematian ibu melahirkan. Berbagai program yang dilaksanakan pemerintah untuk mewujudkan tujuan tersebut antara lain program posyandu, bidan di desa, dan
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
pekan imunisasi nasional. Data hasil Susenas yang akan disajikan terkait program tersebut adalah data penolong persalinan khususnya penolong persalinan terakhir dan pemberian ASI bagi anak usia 2 sampai 4 tahun.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kematian balita dan ibu melahirkan adalah proses persalinan yang tidak aman. Penanganan proses persalinan sampai dengan pasca persalinan yang berkualitas dan tepat waktu diharapkan akan mengurangi resiko kematian bayi dan ibu. Penolong persalinan balita oleh tenaga kesehatan meliputi dokter, bidan dan tenaga kesehatan lain tidak termasuk dukun beranak.
Data hasil Susenas tahun 2009 seperti yang terlihat pada grafik 3.4 di atas memperlihatkan bahwa di Kabupaten Seluma dan Kabupaten Lebong persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga bukan medis berkisar antara 25 persen, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi di kabupaten lainnya. Sedangkan keseluruhan di Provinsi Bengkulu pada tahun 2009 yang menggunakan penolong kelahiran dari tenaga bukan medis berkisar 20 persen. Kabupaten/Kota yang mempunyai persentase di bawah persentase provinsi adalah kabupaten Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Kepahiang dan Kota Bengkulu. Sedangkan kelima kabupaten lainnya mempunyai persentase di atas persentase provinsi.
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
Air Susu Ibu (ASI) merupakan mikronutrien penting bagi balita. Pemberian ASI dalam waktu yang cukup pada balita dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Lamanya balita diberi ASI yang terbaik adalah sampai usia 2 tahun (24 bulan). Sejak lahir sampai usia enam bulan bayi sebaiknya diberi ASI saja dan setelah enam bulan bayi mulai dapat diberikan makanan tambahan pendamping ASI sampai usia dua tahun. dan setelah menginjak usia dua tahun, bayi sudah siap untuk disapih.
Persentase balita usia 2-4
tahun yang
diberi ASI
selama 24
bulam atau lebih
dari hasil
pengolahan data Susenas terlihat pada grafik 3.5 di samping ini. Terlihat bahwa persentase terendah terletak di Kabupaten Bengkulu Selatan. Sedangkan Kabupaten Rejang Lebong mempunyai persentase tertinggi dibandingkan kabupaten/kota yang lainnya yaitu sekitar setengah dari jumlah balita usia 2 – 4 tahun yang pernah mendapat ASI, diberi ASI selama 24 bulan atau lebih.
3.3. Angka Harapan Hidup
Salah satu indikator yang mencerminkan keberhasilan pembangunan, khususnya pembangunan di bidang kesehatan adalah menurunnya angka kematian bayi dan meningkatnya Angka Harapan Hidup (e0 = AHH). Peningkatan angka harapan hidup terjadi dengan membaiknya kondisi sosial ekonomi penduduk, kesehatan dan lingkungan. AHH adalah rata-rata jumlah tahun hidup yang dapat dijalani seseorang hingga akhir hayatnya. Estimasi Angka Harapan Hidup
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
Provinsi Bengkulu dari data SDKI 2001-2002 adalah 65,4 tahun, kemudian mengalami peningkatan menjadi 68,8 tahun berdasarkan data SUPAS 2005, 3 tahun kemudian mengalami kenaikan menjadi 69,40 tahun (grafik 3.6). Tahun 2007 dari hasil penghitungan SDKI 2007 terlihat bahwa angka harapan hidup tidak terlalu berubah dibanding data sebelumnya yaitu masih di sekitar 69 tahun. Walaupun angka harapan hidup bisa ditingkatkan dari 65 tahun menjadi 69 tahun, namun masih jauh dari target MDGs yang hendak dicapai. Seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, jumlah penduduk lanjut usia semakin meningkat. Oleh karena itu, upaya peningkatan angka harapan hidup ini harus juga diiringi dengan upaya peningkatan derajat kesehatannya, supaya penduduk tersebut dapat hidup lebih lama dengan kondisi tubuh yang sehat. Karena walaupun dapat hidup lama, tetapi dengan kondisi tubuh yang kurang sehat, dapat menyebabkan penduduk tersebut tidak produktif. Yang pada akhirnya akan membebani penduduk lainnya.
3.4. Angka Kematian Bayi
Angka kematian bayi menggambarkan proporsi bayi meninggal setelah dilahirkan dan belum cukup mencapai umur satu tahun. Sedangkan angka kematian anak menggambarkan proporsi anak meninggal antara satu sampai dengan umur lima tahun. Estimasi angka kematian bayi berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 1994-2007 menunjukkan penurunan yaitu dari 74 per 1000 kelahiran menjadi 46 per seribu kelahiran atau turun 37,92 persen. Sementara angka kematian anak untuk periode 1994-2007 turun sebesar 63,10 persen. Namun angka ini harus diupayakan lagi untuk turun, sehingga dapat mencapai target MDGs yaitu dapat menurunkan angka kematian bayi sebesar dua pertiganya, antara tahun 1990-2015.
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
Tabel 3.1 Perkembangan Angka Kematian Bayi dan Angka kematian Anak Provinsi Bengkulu Tahun 1994-2007
Indikator derajat kesehatan 1994 1997 2007
Angka Kematian Bayi 74,1 73,3 46,0
Angka Kematian Anak 54,2 46,2 20,0
Sumber: BPS, SDKI 1994-2007
Penurunan angka kematian bayi secara tidak langsung akan membantu menurunkan kemiskinan. Penurunan kematian bayi akan menghilangkan keraguan orang tua untuk mempunyai jumlah anak sedikit dan memilih keluarga kecil. Dengan tercapainya keluarga kecil diharapkan keadaan ekonomi rumah tangga akan membaik, karena rata – rata jumlah anggota rumah tangga menjadi lebih kecil.