Gambar 1.7 Persentase Penduduk Wanita Berumur 15-49 Tahun yang Pernah Kawin Tidak ber-KB dan Tidak Segera Ingin Punya Anak Menurut Alasan Utama Tidak
ber-KB, Provinsi Bengkulu Tahun 2009
Alasan Alat/ Cara KB; 5,54 Kurang Pengetahuan; 2,46 Menentang untuk Memakai; 2,95 Alasan Fertilitas; 27,55 Tidak Tahu; 11,04 Lainnya; 50,46
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
BAB II
PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang berperan meningkatkan kualitas hidup. Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu masyarakat, semakin baik kualitas sumberdayanya. Dalam pengertian sehari-hari pendidikan adalah upaya sadar seseorang untuk meningkatkan pengetahuan ketrampilan serta memperluas wawasan.
Pada dasarnya pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Secara nasional pendidikan yang menekankan pengembangan sumberdaya manusia menjadi tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional. Strategi pembangunan pendididkan dijabarkan melalui empat sendi pokok yaitu pemerataan kesempatan, relevansi pendidikan dengan pembangunan, kualitas pendidikan dan efisiensi pengelolaan.
Pemerataan kesempatan pendidikan diupayakan melalui penyediaan sarana dan prasarana belajar seperti gedung sekolah baru dan penambahan tenaga pengajar mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Relevansi pendidikan merupakan konsep “link and match”, yaitu pendekatan atau strategi meningkatkan relevansi sistem pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Kualitas pendidikan adalah menghasilkan manusia terdidik yang bermutu dan handal sesuai dengan kebutuhan jaman. Sedangkan efisiensi pengelolaan pendidikan dimaksudkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Karena terbatasnya data yang tersedia maka dalam uraian singkat ini hanya dapat dilihat rasio murid terhadap guru dan sekolah menurut tingkat pendidikan, tingkat pendidikan yang ditamatkan dan partisipasi sekolah.
2.1. Tingkat Pendidikan
Ukuran yang sangat mendasar dari tingkat pendidikan pada tingkat makro adalah kemampuan baca tulis penduduk dewasa. Dengan kata lain indikator ini menggambarkan mutu sumberdaya manusia yang diukur dalam aspek
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
pendidikan.Semakin tinggi nilai indikator ini semakin tinggi mutu sumberdaya suatu masyarakat. Pada tahun 2009 angka melek huruf penduduk Provinsi Bengkulu telah mencapai 95,17 persen. Dengan demikian masih terdapat4,46 persen penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf.
4,46 1,36 4,9 4,59 5,2 6,02 3,83 6,91 3,91 3,36 0 1 2 3 4 5 6 7 Prov. Bengkulu Kota Bengkulu Kepahiang Lebong Mukomuko Seluma Kaur Bengkulu Utara Rejang Lebong Bengkulu Selatan
Gambar 2.1 Angka Buta Huruf Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Bengkulu Tahun 2009
Ukuran lain dari tingkat pendidikan adalah rata-rata lama sekolah. Secara umum indikator ini menunjukkan jenjang pendidikan yang telah dicapai oleh penduduk dewasa. Pada tahun 2009 rata-rata lama sekolah penduduk Provinsi Bengkulu adalah 8,23 tahun, terus meningkat dibandingkan pada tahun 2004 yang hanya 7,8 tahun.
Pendidikan yang ditamatkan merupakan indikator pokok kualitas penduduk karena kualitas sumberdaya manusia secara spesifik dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk berumur 10 tahun ke atas. Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan
yang ditamatkan memberikan gambaran tentang keadaan kualitas sumberdaya manusia. 7,8 8 8 8 8 8,23 7,4 7,6 7,8 8 8,2 8,4 2004 2005 2006 2007 2008 2009
Gambar 2.2 Rata-rata Lama Sekolah Propinsi Bengkulu Tahun 2004 - 2009
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
Tabel 2.1 Persentase Penduduk 10 tahun Keatas Menurut Tingkat Pendidikan dan Daerah Tempat Tinggal, 2008-2009
Tingkat Pendidikan Tertinggi 2008 2009 (1) (4) (5) Belum Tamat SD 28,67 26,27 SD 27,20 26,29 SLTP 18,90 19,06 SM 19,49 21,02 Diploma +Akademi 2,06 2,17 Universitas 3,68 4,57 Jumlah 100,00 100,00 Sumber: BPS, Susenas 2008-2009
Tabel 2.1 menunjukkan bahwa pada tahun 2008 persentase penduduk yang belum tamat SD dan yang berpendidikan SD ada sekitar 55,87 persen dan terjadi penurunan pada tahun 2009, dimana penduduk yang belum tamat SD dan yang berpendidikan SD hanya mencapai 52,56 persen. Untuk jenjang pendidikan SLTP keatas terjadi peningkatan, hal ini karena perhatian pemerintah pada pendidikan sudah cukup besar.
2.2. Partisipasi Sekolah
Partisipasi kasar kelompok umur 7-12 tahun untuk yang sekolah di SD pada tahun 2009 yaitu sebesar 110,46 persen. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk yang masih sekolah di SD pada tahun 2009 jumlahnya melebihi dari jumlah penduduk kelompok umur 7-12 tahun. Berbeda keadaannya pada APK untuk tingkat pendidikan SLTP dan SLTA. Partisipasi kasar kelompok umur 13-15 tahun yang sekolah di SLTP pada tahun 2009 sebesar 84,22 persen dan partisipasi kasar untuk tingkat SLTA tahun 2009 sebesar 66,94 persen. Dari gambaran diatas dapat dilihat semakin tinggi tingkat pendidikan maka tingkat partisipasi sekolah makin kecil. Hal ini dapat disebabkan antara lain kurangnya fasilitas sehingga mempersulit akses,
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
keterbatasan kemampuan ekonomi sehingga terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan intelektual.
Tabel 2.2. Angka Partisipasi Kasar Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2009
Jenjang Pendidikan Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) SD 109,24 111,83 110,46 SLTP 83,12 85,34 84,22 SLTA 64,71 69,54 66,94 Sumber: BPS, Susenas 2009
Jika dilihat menurut jenis kelamin terlihat bahwa pada tahun 2009 di Provinsi Bengkulu angka partisipasi kasar anak perempuan lebih tinggi bila dibandingkan dengan anak laki-laki.
Tabel 2.3. Angka Partisipasi Murni Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2009 Jenjang Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) SD 94,79 95,20 94,98 SLTP 67,85 71,70 69,76 SLTA 47,92 50,25 48,99 Sumber: BPS, Susenas 2009
Angka partisipasi murni menurut jenjang pendidikan mengukur banyaknya penduduk usia sekolah yang bersekolah tepat waktu dalam suatu jenjang pendidikan dari setiap 100 penduduk usia sekolah, yaitu SD 7-12 tahun, SLTP 13-15 tahun, dan SM 16-18 tahun. Pada tahun 2009 angka partisipasi untuk jenjang SD, SLTP dan SMA masing-masing adalah sebesar 94,98 persen, 69,76 persen dan 48,99 persen.
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
2.3. Fasilitas Pendidikan
Indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan peningkatan mutu dan relevansi pendidikan diantaranya adalah rasio murid-sekolah serta rasio murid-guru. Jumlah murid per sekolah merupakan salah satu indikator input yang sangat penting dalam kaitannya untuk menentukan bahwa suatu sekolah baru harus dibangun di suatu wilayah. Sedangkan rasio murid-guru digunakan untuk menggambarkan beban guru dalam mengajar. Angka ini juga dapat digunakan untuk melihat mutu pengajaran di kelas karena semakin tinggi nilai rasio ini berarti semakin berkurang tingkat pengawasan atau perhatian guru terhadap murid sehingga mutu pengajaran cenderung semakin rendah.
Tabel 2.4 Perkembangan Rasio Murid-Guru dan Rasio Murid-Sekolah 2007/2008-2009/2010
Tahun
Rasio Murid-Guru Rasio Murid-Sekolah SD SLTP SM SD SLTP SM (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 2007/2008 20,27 15,81 14,35 170,32 265,03 331,95 2008/2009 16.47 16.23 14.59 171.09 202.39 366.02 2009/2010 16,36 11,05 12,80 173,88 149,81 245,94
Sumber : Dinas Pendidikan Nasional, Provinsi Bengkulu
Meningkatnya partisipasi penduduk dalam pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah seharusnya sejalan dengan peningkatan fasilitas pendidikan. Tabel 2.4 menunjukkan perkembangan fasilitas pendidikan 3 tahun terakhir. Tampak di sini bahwa untuk jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) rasio murid-sekolah mengalami peningkatan selama periode 2007/2008-2009/2010, yaitu dari 170,32 menjadi 173,88 Hal ini mencerminkan bahwa penyediaan sarana pendidikan kurang dapat mengimbangi pertambahan murid.
Indikator Kesejahteraan Rakyat 2009
Jumlah guru SD selama tahun ajaran 2007/2008-2009/2010 mengalami penurunan menyebabkan rasio murid terhadap guru mengalami perubahan, dari 20,27 menjadi 16,36 yang artinya setiap satu guru mengawasi lebih kurang 16 murid.