BAB IV INDIKATOR PEMBANGUNAN
B. Indikator Kesempatan Kerja
Suatu indikator pembangunan penting adalah indikator yang menyangkut perkembangan kesempatan kerja ataupun yang memberi gambaran tentang tingkat pengangguran. Meskipun indikator kesempatan kerja berhubungan positif dengan pertumbuhan PDB, hubungan ini ternyata tidak selalu seiring. Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tidak selalu disertai oleh pertumbuhan kesempatan kerja yang sama tingginya. Perbedaan antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan
kesempatan kerja ini disebabkan oleh faktor peningkatan produktivitas tenaga kerja yang pada gilirannya disebabkan oleh penggunaan teknologi yang lebih tinggi, khususnya teknologi yang lebih padat modal. Tidak samanya pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan kesempatan kerja akan tercermin pada keadaan ketika pertumbuhan ekonomi lebih dipengaruhi oleh proporsi industri yang bertambah besar dibanding dengan proporsi pertanian yang semakin kecil dalam PDB walaupun proporsi kesempatan kerja di sektor industri lebih kecil daripada di pertanian. Selama RPJM 2004-2009, kesempatan kerja di sektor industri sebesar rata-rata 12%, sehingga pertumbuhan industri sebesar rata-rata 7,8% 9 hanya akan menampung kesempatan kerja sekitar 9,4% setahun. Masalah kesempatan kerja (ataupun pengangguran) dalam hubungannya dengan masalah kemiskinan akan dibahas pada Bab V tentang Masalah Pembangunan.
Tabel IV.6 menyajikan data pengangguran terbuka untuk setiap provinsi di Indonesia selama periode 2000, 2001 dan 2002. Beberapa perkembangan yang dapat diketahui dari tabel ini adalah:
-Pengangguran terbuka terus meningkat dari 4,33% pada tahun 2000, menjadi 4,99% pada tahun 2001 dan 6,98% pada tahun 2002. Peningkatan ini sejalan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi dari 4,9% pada tahun 2000, 3,8% pada tahun 2001 dan menjadi 4,3% pada tahun 2002.
-Peningkatan pengangguran ini sejalan dengan pertumbuhan kesempatan kerja (sebesar masing-masing 1,1% pada tahun 2001 dan 0,9% pada tahun 2002) yang lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja (sebesar masing-masing 3,8% pada tahun 2001 dan 1,2% pada tahun 2002 (Diolah dari data Tabel 34.2 RPJM 2004-2009, halaman V.34-18).
-Tingkat pengangguran terbesar terdapat di DKI Jakarta antara 9,5% dan 11,5%. Fenomena ini terkait dengan tingkat urbanisasi yang tinggi di daerah ini, sedangkan kemampuan industri untuk menampungnya terbatas;
-Walaupun hampir seluruh Provinsi mengikuti kecenderungan nasional dalam hal peningkatan pengangguran, terdapat satu pengecualian, yaitu penurunan di Jawa Timur dari 7,66% pada tahun 2001 menjadi 5,37% pada tahun 2002. Sementara itu, data pengangguran terbuka di Maluku dan Papua menunjukkan perkembangan yang kurang masuk akal, yaitu masing-masing meningkat besar dari 5,57% dan 2,79% pada tahun 2001 menjadi masing-masing 21,22% dan 21,76% pada tahun 2002. Diduga peningkatan yang terlalu besar ini lebih banyak berhubungan dengan kesulitan mengumpulkan data di kedua daerah ini yang ketika itu menghadapi gejolak konflik sosial.
Dalam pada itu, mengkaji data ketenagakerjaan di atas perlu memperhatikan beberapa masalah yang menyangkut konsep angkatan kerja dan pengangguran yang berbeda antara negara-negara yang telah maju dengan negara-negara-negara-negara yang sedang membangun (meskipun sudah ada kecenderungan standardisasi, lihat Bab III tentang Konsep Pembangunan).
Selain perlu diperhatikan konsep pengangguran antara negara maju dan negara yang sedang berkembang, juga perlu disadari bahwa terdapat beberapa keterbatasan pada data statistik angkatan kerja dan pengangguran di negara yang sedang membangun, termasuk Indonesia, yaitu antara lain:
-Data angkatan kerja dilandasi oleh batasan jumlah penduduk di atas 15 tahun dan sedang bekerja ataupun sedang aktif mencari kerja. Dilain pihak, dalam keadaan ekonomi ketika lapangan kerja sangat terbatas, suatu keadaan yang lebih banyak ditemui di negara yang sedang membangun, banyak penduduk yang berumur di atas 15 tahun yang sudah putus asa dalam usahanya mencari kerja. Dalam situasi ini, ketika yang bersangkutan yang sedang tidak bekerja ditanya petugas survei/sensus tentang hal ini maka jawabannya adalah negatif. Keadaan ini cenderung menyebabkan jumlah angkatan kerja di negara yang
sedang membangun tidak tercatat secara penuh
(underestimated). Sehubungan dengan ini, suatu indikator angkatan kerja yang dapat dihitung dalam pengkajian masalah ketenagakerjaan adalah perkembangan rasio antara jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja, yang disebut Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK):
Angkatan Kerja TPAK =---
-Dalam mengadakan pengkajian masalah ketenagakerjaan, perlu diperhatikan juga keterbandingan antara data statistik berbagai tahun yang mungkin menggunakan metode pengumpulan yang tidak sama ataupun konsep dasarnya berbeda. Misalnya, dalam data statistik angkatan kerja Indonesia dari berbagai publikasi, ada data, khususnya sebelum tahun 1994, yang didasarkan atas pengertian bahwa penduduk usia kerja adalah yang berumur 10 tahun ke atas. Selain itu, statistik angkatan kerja/pengangguran yang berasal dari metode pengumpulan yang berbeda (antara Survey Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas dengan Survei Penduduk Antar Sensus atau Supas dan Sensus Penduduk) tidak selalu sama dasarnya, kecuali yang telah disesuaikan. Masalah statistik ini menunjukkan pentingnya standardisasi pengumpulan data statistik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah pusat maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam rangka otonomi daerah, meskipun menyangkut wewenang yang berada di luar dekonsentrasi, standardisasi ini tetap harus diperhatikan agar koordinasi kebijaksanaan dapat terjamin melalui "bahasa pembangunan" yang sama.
-Mengkaji data statistik angkatan kerja dalam hubungannya dengan tingkat kegiatan ekonomi (seperti pertumbuhan PDB),
perlu pula diperhatikan aspek institusional dari
ketenagakerjaan di negara yang sedang membangun yang berbeda dari negara yang sudah maju, yaitu tidak serta mertanya terjadi penurunan kesempatan kerja karena kesulitan
iklim ekonomi yang dihadapi perusahaan. Hal ini
menyebabkan sulit untuk mengkaji misalnya korelasi antara
tingkat kegiatan ekonomi dengan tingkat pengangguran pada suatu saat.
-Dalam konsep "angkatan kerja yang bekerja" meliputi komponen "berusaha sendiri". Di negara maju berusaha sendiri lebih banyak menunjuk pada pengusaha kecil yang kegiatan usahanya, sebagai pengacara, dokter ataupun berbentuk toko kecil dan sejenisnya. Di lain pihak, di negara yang sedang berkembang "berusaha sendiri" banyak meliputi usaha penjual tukang rokok di pinggir jalan, tukang becak. Dengan demikian, upaya penyelesaian masalah yang menyangkut angkatan kerja akan berbeda antara negara maju dan negara yang sedang berkembang, (yang akan dibahas lebih lanjut pada Bab V tentang Masalah Pembangunan).
Tabel IV.6
Pengangguran Terbuka Menurut Provinsi dan Indonesia 2000-2002 (persen) Pengangguran Terbuka No. Provinsi 2000 2001 2002 1 Nanggroe Aceh Darussalam - - 16,35 2 Sumatra Utara 3,76 4,65 6,72 3 Sumatra Barat 3,44 4,16 6,06 4 Riau 5,94 5,42 8,22 5 Jambi 2,95 4,51 5,93 6 Sumatra Selatan 2,79 4,33 5,82 7 Bengkulu 1,68 2,88 4,29 8 Lampung 2,37 3,62 5,53 9 Bangka Belitung - 3,56 5,20 10 DKI Jakarta 9,55 9,02 11,53 11 Jawa Barat 6,95 7,06 9,87 12 Jawa Tengah 4,22 4,01 6,25 13 DI Yogyakarta 3,55 3,24 4,70 14 Jawa Timur 3,02 7,66 5,37 15 Banten - 8,15 10,32 16 Bali 2,27 2,46 3,51
17 Nusa Tenggara Barat 3,40 4,87 5,15
18 Nusa Tenggara Timur 1,34 2,20 2,82
19 Kalimantan Barat 2,98 3,98 4,81 20 Kalimantan Tengah 2,54 3,96 5,67 21 Kalimantan Selatan 2,57 3,08 4,44 22 Kalimantan Timur 4,37 6,60 8,89 23 Sulawesi Utara 5,35 8,12 10,47 24 Sulawesi Tengah 2,14 3,58 5,54 25 Sulawesi Selatan 3,23 4,50 7,12 26 Sulawesi Tenggara 3,07 3,73 6,04 27 Gorontalo - 7,96 9,28 28 Maluku - 5,58 21,22 29 Maluku Utara - 9,05 15,81 30 Papua 1,83 2,79 21,76 I N DO N E S I A *) 4,33 4,99 6,98
*) Angka ini agak berbeda dengan yang di RPJM (dengan angka 6,1%, 8,1% dan 9,1% selama tiga tahun tersebut) meskipun trendnya lebih kurang sama.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Perkembangan pengangguran terbuka menurut provinsi dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 ditunjukkan pada Tabel IV.7 berikut ini.
Tabel IV.7 Pengangguran Terbuka
Menurut Provinsi Tahun 2004 –2006
(dalam satuan anggota angkatan kerja)
PROVINSI 2004 2005 2006
(1) (2) (3) (4)
Nanggroe Aceh Darussalam 156.960 220.241 211.356
Sumatera Utara 610.540 636.980 847.579 Sumatera Barat 258.224 225.860 257.937 Riau 364.594 355.568 211.159 Jambi 73.108 103.149 92.772 Sumatera Selatan 282.255 287.188 408.010 Bengkulu 48.312 49.509 56.407 Lampung 249.690 229.131 335.931 Bangka Belitung 33.960 39.340 28.446 Kepulauan Riau - - 61.478 DKI Jakarta 602.741 615.917 590.022 Jawa Barat 2.319.715 2.527.807 2.539.252 Jawa Tengah 1.299.220 1.446.404 1.422.256 DI Yogyakarta 113.560 93.507 117.024 Jawa Timur 1.447.263 1.629.882 1.502.903 Banten 549.593 549.995 636.847 Bali 89.640 81.748 103.830
Nusa Tenggara Barat 149.156 174.996 182.462
Nusa Tenggara Timur 91.722 117.821 104.907
Kalimantan Tengah 48.168 45.262 53.642 Kalimantan Selatan 99.975 99.547 137.315 Kalimantan Timur 120.715 111.180 149.884 Sulawesi Utara 107.008 143.752 135.459 Sulawesi Tengah 60.692 78.145 93.830 Sulawesi Selatan 603.220 516.622 370.309 Sulawesi Tenggara 85.455 79.081 66.694 Gorontalo 45.360 37.993 36.758 Sulawesi Barat - - 19.840 Maluku 58.986 58.631 77.555 Maluku Utara 28.623 34.496 34.648
Irian Jaya Barat - - 33.546
Papua 99.432 92.778 45.581
Jumlah 33 Provinsi 10.251.351 10.854.254 11.104.693