MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
KEPEMIMPINAN TINGKAT IV
Hak Cipta Pada : Lembaga Administrasi Negara Edisi Tahun 2008
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110
Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188
Konsep dan Indikator Pembangunan
Jakarta – LAN – 2008 96 hlm: 15 x 21 cm
ISBN: 979 – 8619 – 51 - x
iii
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SAMBUTAN
Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian menegaskan bahwa dalam rangka usaha mencapai
tujuan nasional, diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang
berkemampuan melaksanakan tugas secara profesional. Untuk
mewujudkan profesionalisme PNS ini, mutlak diperlukan
peningkatan kompetensi, khususnya kompetensi kepemimpinan bagi para pejabat dan calon pejabat Struktural Eselon IV baik di lingkungan pemerintah pusat maupun daerah. Sebagai pejabat struktural yang berada pada posisi paling depan atau ujung tombak, pejabat struktural eselon IV memainkan peran yang sangat penting karena bertanggung jawab dalam mensukseskan pelaksanaan kegiatan-kegiatan secara langsung, sehingga buah karyanya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran sampai
pada pengadministrasian penyelenggaranya. Dengan proses
standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni dapat lebih terjamin.
Salah satu unsur penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV yang mengalami proses standarisasi adalah modul untuk para peserta (participants’ book). Disadari sejak modul-modul tersebut diterbitkan, lingkungan strategis khususnya kebijakan-kebijakan nasional pemerintah juga terus berkembang secara dinamis. Di samping itu, konsep dan teori yang mendasari substansi modul juga mengalami perkembangan. Kedua hal inilah yang menuntut diperlukannya penyempurnaan secara menyeluruh terhadap modul-modul Diklatpim Tingkat IV ini.
Oleh karena itu, saya menyambut baik penerbitan modul-modul yang telah mengalami penyempurnaan ini, dan mengharapkan agar peserta Diklatpim Tingkat IV dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali kedalaman substansinya di antara sesama peserta dan para Widyaiswara dalam berbagai kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. Semoga modul hasil perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.
Kepada Drs. Irawan Kadiman, MA selaku penulis serta seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi, kami ucapkan terima kasih atas kesungguhan dan dedikasinya.
Jakarta, Juli 2008
KEPALA
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SUNARNO
v
KATA PENGANTAR
Sejalan dengan upaya mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang profesional melalui jalur pendidikan dan pelatihan (Diklat), pembinaan Diklat khususnya Diklat Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat IV ke arah Diklat berbasis kompetensi, terus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil. Salah satu upaya pembinaan yang telah ditempuh adalah melalui penerbitan modul Diklat.
Kehadiran modul Diklatpim Tingkat IV ini memiliki nilai strategis karena menjadi acuan dalam proses pembelajaran, sehingga
kebijakan pembinaan Diklat yang berupa standarisasi
penyelenggaraan Diklat dapat diwujudkan. Oleh karena itu, modul ini dapat membantu widyaiswara atau fasilitator Diklat dalam mendisain pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta Diklat; membantu pengelola dan penyelenggara Diklat dalam penyelenggaraan Diklat; dan membantu peserta Diklat dalam mengikuti proses pembelajaran. Untuk maksud inilah maka dilakukan penyempurnaan terhadap keseluruhan modul Diklat Kepemimpinan Tingkat IV yang meliputi substansi dan format.
peserta Diklat juga dibutuhkan. Kongkritnya, widyaiswara dapat melakukan penyesuaian dan pengembangan terhadap isi modul, sedangkan peserta Diklat dapat memperluas bacaan yang relevan dengan modul ini, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dinamis, interaktif dan aktual.
Selamat memanfaatkan modul Diklat Kepemimpinan Tingkat IV ini. Semoga melalui modul ini, kompetensi kepemimpinan bagi peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat IV dapat tercapai.
Jakarta, Juli 2008
DEPUTI BIDANG PEMBINAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
APARATUR
NOORSYAMSA DJUMARA
vii
DAFTAR ISI
SAMBUTAN ... iii
KATA PENGANTAR... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Deskripsi Singkat... 2
C. Hasil Belajar ... 2
D. Indikator Hasil Belajar ... 3
E. Materi Pokok ... 3
F. Manfaat... 4
BAB II ARTI PEMBANGUNAN ... 5
A. Pendahuluan ... 5
B. Beberapa Arti Pembangunan ... 7
C. Pengaruh Sistem Nilai Pada Arti Pembangunan . 17 D. Arti Pembangunan di Indonesia ... 21
E. Rangkuman... 28
F. Latihan... 29
BAB III BEBERAPA KONSEP PEMBANGUNAN ... 30
A. Pendahuluan ... 30
C. Konsep Kependudukan dan Ketenagakerjaan ... 34
D. Konsep Pembangunan Yang Menyangkut Kemisikinan... 45
E. Rangkuman ... 47
F. Latihan ... 48
BAB IV INDIKATOR PEMBANGUNAN... 49
A. Indikator Ekonomi Makro ... 49
B. Indikator Kesempatan Kerja ... 50
C. Indikator Pemerataan ... 68
D. Indikator Kemiskinan ... 78
E. Latihan ... 83
F. Rangkuman ... 84
BAB V PENUTUP... 85
A. Kesimpulan ... 85
B. Tindak lanjut ... 86
DAFTAR PUSTAKA... 87
DAFTAR DOKUMEN... 88
1
BAB I
P E N D A H U L U A N
A. Latar Belakang
Ruang lingkup materi pembelajaran ini meliputi pembahasan tentang arti pembangunan, beberapa konsep pembangunan yang
lazim dipakai dalam pembahasan teori dan masalah
pembangunan, beberapa indikator pembangunan yang
berhubungan dengan beberapa konsep pembangunan terdahulu untuk sampai pada pembahasan masalah pembangunan.
Bagi aparatur negara (baik di pusat maupun di daerah) yang telah secara rutin terlibat dalam berbagai proyek pembangunan maupun dalam penyusunan berbagai kebijaksanaan, terdapat kecenderungan untuk mengartikan pembangunan dalam arti sempit sehingga kehilangan perspektif pembangunan dalam arti yang utuh dan menyeluruh (holistik).
Aparatur negara sebagai praktisi pembangunan bertugas untuk mengikuti perkembangan pelaksanaan pembangunan, sehingga perlu menguasai berbagai indikator pembangunan agar dapat mengidentifikasi masalah-masalah pembangunan dan dapat merumuskan berbagai alternatif jalan keluarnya.
B. Deksripsi Singkat
Mata Diklat Konsep dan Indikator Pembangunan membahas tentang arti pembangunan, beberapa konsep pembangunan yang
lazim dipakai dalam pembahasan teori dan masalah
pembangunan, beberapa indikator pembangunan yang
berhubungan dengan beberapa konsep pembangunan di dalam perkembangan pembangunan di Indonesia mulai dari akhir abad ke-20 sampai memasuki abad ke-21, dari mulai krisis ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia sejak akhir tahun 1997; sampai dampak trend globalisasi pada negara-negara berkembang; pergeseran pendekatan pembangunan paska reformasi 1998; dan
pentingnya pembangunan berlandaskan SANKRI dalam
membentuk sikap penyelenggara negara dalam konteks pembangunan.
Jangka waktu pembelajaran mata Diklat ini adalah 6 jam pelatihan dan dilaksanakan dengan metode ceramah dan tanya
jawab.
C. Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, para peserta secara umum
diharapkan mampu mengkaji berbagai masalah pembangunan melalui pemahaman arti pembangunan, konsep, indikator
pembangunan, aneka permasalahan berkaitan dengan
pembangunan dan tuntutannya terhadap penyelenggara negara di Indonesia.
D. Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami:
Pergeseran pendekatan pembangunan yang dimulai sejak merebaknya trend globalisasi, krisis ekonomi, dan reformasi
1998;
Berbagai perspektif dari arti pembangunan; Makna dari berbagai konsep pembangunan;
Masalah-masalah pembangunan menurut konsep-konsep dan indikator pembangunan;
Arti penting SANKRI dalam pelaksanaan tugas pembangunan
aparatur negara.
E. Materi Pokok
Dalam mata pendidikan dan pelatihan ini diupayakan dapat
mencakup seluruh konsep dan indikator pembangunan yang meliputi:
1. Krisis ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia sejak akhir tahun 1997;
2. Trend globalisasi yang menyebabkan perubahan konsentrasi pembangunan dari dimensi jangka pendek ke dimensi jangka
panjang;
3. Pergeseran pendekatan pembangunan setelah reformasi tahun 1998;
4. Beberapa Arti Pembangunan;
5. Pengaruh Sistem Nilai Pada Arti Pembangunan;
7. Beberapa Konsep Pembangunan;
8. Konsep Ekonomi Makro;
9. Konsep Kependudukan dan Ketenagakerjaan;
10.Konsep Pembangunan Yang Menyangkut Kemiskinan; 11.Indikator Pembangunan;
12.Indikator Kesempatan Kerja; 13.Indikator Pemerataan;
14.Indikator Kemiskinan.
F. Manfaat
Peserta diharapkan dapat lebih memperluas wawasan konsep dan
indikator pembangunan lain yang belum terliput terutama dari sisi multidimensional pembangunan spesifik lokal di masing-masing daerah di Indonesia.
5
BAB II
ARTI PEMBANGUNAN
A. Pendahuluan
Makna pembangunan bagi para penyelenggara negara perlu terus untuk diingatkan kembali terutama mengingat akan adanya
beberapa perkembangan yang dihadapinya sejak akhir abad ke 20 dan memasuki abad ke 21 ini. Pertama, krisis ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia sejak akhir tahun 1997 telah menyebabkan upaya penyelenggaraan negara menjadi lebih terkonsentrasi pada upaya pemulihan ekonomi yang mengandung dimensi waktu jangka pendek, dengan risiko adanya
kecenderungan kehilangan perspektif pembangunan yang mengandung dimensi waktu jangka panjang. Kedua, trend globalisasi nampaknya semakin memandang negara-negara yang sebelumnya didefinisikan sebagai negara-negara yang sedang membangun (developing nations) menjadi hanya sebagai
"emerging markets" sehingga terdapat risiko akan pudarnya makna pembangunan sebagai upaya multi dimensi dan bukan hanya sebagai pengembangan pasar baik sebagai obyek ekonomi maupun sebagai institusi ekonomi. Ketiga, setelah adanya reformasi sejak tahun 1998, maka para penyelenggara negara
harus dapat mengkaji masalah-masalah pembangunan secara lebih realistis, dalam arti harus meninggalkan pendekatan yang
Setelah membaca Bab ini, peserta Diklat diharapkan mampu menjelaskan arti, pengaruh, dan menilai arti pembangunan
hanya menonjolkan keberhasilan yang telah dicapai tetapi juga
masalah-masalah yang harus dilihat secara jernih dan obyektif demi berlangsungnya proses pembangunan secara berkelanjutan. Keempat, walaupun para penyelenggara negara melaksanakan tugasnya dalam rangka pembangunan negara, dalam kegiatan rutinitasnya sehari-hari akan terdapat kecenderungan para aparatur negara untuk berpikir secara terkotak dengan kehilangan
dimensi tugasnya dalam konteks pembangunan secara
keseluruhan. Dalam pada itu, penyelenggaraan negara dalam wadah SANKRI (Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia) harus "berinteraksi dengan sistem-sistem yang terdapat di dalam berbagai bidang kehidupan, seperti sistem
sosial budaya, politik, ekonomi, hukum, pertahanan keamanan, dan sebagainya" 1
Sistematika dari bab tentang arti pembangunan ini adalah sebagai berikut: Pada bagian B bab ini, akan dibahas arti pembangunan
secara holistik, untuk selanjutnya sebagai perbandingan akan disentuh arti pembangunan sebagai upaya untuk menghilangkan ketidaksempurnaan mekanisme pasar dan pembangunan sebagai industrialisasi, dalam mana kedua definisi terakhir ini merupakan arti pembangunan yang parsial, yaitu tidak holistik. Meskipun
hasil akhir dari proses pembangunan ini terjelma dalam bentuk peningkatan pendapatan nasional, proses ini juga melibatkan berbagai faktor ekonomi. Termasuk dalam faktor
1 Lembaga Administrasi Negara, 2003, Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, cetakan pertama, halaman 24
ekonomi ini adalah sistem nilai (yang akan dibahas lebih lanjut
pada Bagian C).
Setelah memperoleh suatu perspektif tentang makna
pembangunan secara umum, pengukurannya, serta pengaruh sistem nilai, maka pertanyaan berikut yang timbul adalah bagaimana arti pembangunan dalam konteks Indonesia. Hal ini
akan dibahas pada Bagian E.
B. Beberapa Arti Pembangunan
1. Pembangunan Adalah Proses Yang Holistik
Suatu pengertian yang holistik memandang pembangunan sebagai proses dalam jangka panjang yang menyangkut keterkaitan timbal balik antara faktor-faktor ekonomi dan non-ekonomi untuk dapat meningkatkan pendapatan nasional
(mencapai pertumbuhan ekonomi) secara berkelanjutan. Dalam definisi ini terdapat dua kata kunci, yaitu proses dan jangka panjang:
a. Proses
Proses di sini mengandung arti adanya hubungan kausal antara berbagai aspek ekonomi dan non ekonomi.
Dalam proses ini yang penting adalah tekanan pada aspek non-ekonomi. Berbeda dengan pengertian berikutnya (definisi ke-2 dan ke-3), yang memberi tekanan terutama ataupun hanya pada aspek ekonomi, disini proses pembangunan secara fundamental ditentukan oleh aspek non-ekonomi meskipun muaranya adalah aspek ekonomi.
institusional, seperti pola perilaku (behavioral pattern)
dari para pelaku ekonomi, dan aspek sosial-budaya, hukum dan politik, yang pada dasarnya menyangkut norma-norma yang mengatur perilaku manusia tersebut.
b. Jangka panjang
Sebagai suatu proses yang melibatkan hubungan sebab akibat antara berbagai aspek ekonomi dan non-ekonomi,
maka pelaksanaannya tidak mungkin terselesaikan dalam pendek (satu tahun) ataupun dalam jangka-menengah (lima tahun). Proses ini diperkirakan akan memakan waktu jangka-panjang yang dapat meliputi paling tidak dua sampai tiga dasawarsa.
Dalam hal proses pembangunan itu akhirnya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, maka proses ini secara kumulatif menunjang tercapainya pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang ("sustained secular trend" dan bukan yang hanya "cyclical"). 2
Dalam modul ini, pengertian pembangunan yang bila salah satu saja dari kedua kata kunci di atas kurang, maka merupakan arti pembangunan yang tidak holistik (parsial).
Dalam definisi ini terkandung secara implisit dua konsep, yaitu "pertumbuhan" (G = Growth) dan "pembangunan" (D = Development), yang satu sama lain berbeda dan sekaligus saling terkait. Dalam hal ini, G adalah sub-set dari D.
2 Gerarld M. Meier, 1964, Leading Issues in Development Economics, Oxford University Press, halaman 7
Kalau pertumbuhan menunjukkan adanya peningkatan output,
maka pembangunan mencakup peningkatan output yang terkait dengan perubahan tatanan teknis dan institutional. Dengan demikian, pembangunan mengandung pengertian yang jauh lebih luas daripada pertumbuhan.
Konsep pertumbuhan (G) saling terkait dengan pembangunan
(D). Bahkan pertumbuhan harus berjalan bersama-sama dengan pembangunan. Meskipun pada tahap awalnya pembangunan (D) tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya pertumbuhan (G), pada tahap-tahap berikutnya tanpa adanya pembangunan (D) maka pertumbuhan (G) akan tersendat dan akhirnya terhenti. Pada
tahap yang telah lanjut, yang sedang dialami oleh berbagai negara yang telah maju pembangunannya, maka persoalannya menjadi bagaimana dapat mempertahankan pertumbuhan. Tiga tahapan yang menunjukkan hubungan relatif dari pertumbuhan dan pembangunan adalah sebagai berikut:
a. Pada tahap awal, diperlukan pertumbuhan terlebih dahulu agar tersedia suatu jumlah output yang melebihi kebutuhan kelangsungan hidup masyarakat. Tanpa adanya output lebih ini, maka masyarakat tak dapat membiayai kegiatan lain yang tercakup dalam proses pembangunan.
b. Pada tahap berikutnya, pertumbuhan hanya dapat terus berjalan secara berkelanjutan jika berlangsung kegiatan pembangunan untuk menunjang pertumbuhan.
c. Pada tahap yang telah lanjut, ketika hampir semua ruang gerak pembangunan telah terpenuhi, dan seluruh tatanan di segala
keamanan ketertiban dan sebagainya) telah berjalan secara
mapan, maka masalahnya tinggal menyangkut upaya untuk mempertahankan pertumbuhan.
2. Pembangunan Adalah Menghilangkan Ketidaksem-purnaan Mekanisme Pasar
Suatu ilustrasi dari arti pembangunan yang tidak holistik (parsial) adalah pengertian pembangunan sebagai upaya untuk
menghilangkan, atau paling tidak mengurangi,
ketidaksempurnaan mekanisme pasar (market imperfections) dari suatu perekonomian. Ketidaksempurnaan pasar adalah segala hambatan yang membuat pasar tidak dapat secara
sempurna mengalokasikan sumber-sumber ekonomi secara efisien. Beberapa dari hambatan ini adalah:
- Informasi tidak sempurna. Mekanisme pasar
mengasumsikan bahwa para pelaku pasar mempunyai
informasi yang sempurna dalam mengambil keputusan ekonomi secara rasional. Dalam realitanya, tidak semua pelaku ekonomi mempunyai informasi yang demikian. - Faktor ekonomi yang menyangkut tidak dapatnya
faktor-faktor produksi bergerak secara bebas dan cepat (factor immobility). Mekanisme pasar mengasumsikan bahwa faktor-faktor ekonomi, seperti tenaga kerja, akan secara
cepat bergerak kepenggunaannya yang memberi daya tarik lebih baik (gaji yang lebih menarik). Dalam kenyataannya, terutama di negara-negara yang sedang berkembang, tenaga kerja di daerah pedesaan misalnya di mana penghasilannya relatif kecil, tidak akan segera pindah ke tempat kerja di
perkotaan yang memberi penghasilan yang lebih tinggi.
Sebabnya antara lain adalah hambatan sosial budaya, dalam hal ini tenaga kerja ini lebih mementingkan kenyamanan sosial budaya yang telah langgeng di pedesaan meskipun penghasilannya jauh lebih kecil.
- Praktek monopolistik. Mekanisme pasar mengasumsikan adanya persaingan sempurna sehingga harga yang tercipta
merupakan harga ekuilibrium yang akan menyeimbangkan permintaan dengan penawaran (clear the market). Dalam kenyataannya sering ditemui kegiatan ekonomi yang monopolistik sehingga terbentuk harga yang bukan harga equilibrium.
- Penetapan harga oleh pemerintah. Sehubungan dengan hal di atas, mekanisme harga mengasumsikan bahwa harga ditentukan semata-mata oleh keseimbangan permintaan dan penawaran. Mekanisme ini diibaratkan ditentukan oleh suatu "invisible hand", yang mengimplikasikan bahwa tak
boleh ada campur tangan pemerintah dalam penentuan harga. Realitanya adalah bahwa untuk tujuan-tujuan yang umumnya non-ekonomi, seperti menjamin keterjangkauan oleh kelompok berpenghasilan rendah, harga dapat ditetapkan oleh pemerintah.
suatu kurva kemungkinan produksi (production possibility curve/PPC), seperti ditunjukkan pada Diagram II.1.
Diagram II.1
Kurve Kemungkinan Produksi (PPC)
sepeda
PPC2 PPC1
y *
x2 z
* * x1
*
beras
Kurva kemungkinan produksi, misalnya PPC 1 pada Diagram II.1, adalah kurva yang menunjukkan jumlah optimum kombinasi dua barang (misalnya sepeda dan beras) yang dapat dihasilkan karena semua faktor produksi yang tersedia
digunakan secara efisien dan penuh. Penuh dalam arti tak ada yang menganggur, dan efisien dalam arti tak yang digunakan secara boros. Hal ini terlihat misalnya pada titik y dan z dan di titik manapun pada kurva PPC1.
Di lain pihak, berbeda dengan titik-titik pada kurva PPC1,
maka kombinasi produksi dalam realitanya sering terjadi pada titik-titik di bawah PPC1, misalnya pada titik x1. Karena titik x1 merupakan titik di bawah optimum PPC1, maka tingkat produksi perekonomian ini dapat ditingkatkan (misalnya dari x1 ke x2) hanya dengan meningkatkan efisiensi penggunaan faktor produksi yang ada. Hal ini dapat dicapai dengan
mengurangi penyebab tingkat produksi di bawah PPC 1, yaitu berbagai unsur ketidaksempurnaan pasar seperti dibahas di atas.
Namun, dalam hal produksi telah mencapai PPC1 maka
peningkatan selanjutnya hanya dapat dicapai melalui pergeseran (shift) ke kurva kemungkinan produksi yang lebih tinggi, misalnya dari PPC1 ke PPC2 (lihat Diagram II.1). Pergeseran ini terjadi jika ditemui sumber-sumber ekonomi baru (sumber alam ataupun jumlah tenaga kerja, modal)
ataupun teknologi baru. Jadi berbeda dengan peningkatan produksi dari x1 ke x2, yang dicapai melalui peningkatan efisiensi alokasi, maka peningkatan produksi melalui pergeseran keseluruhan medan produksi (PPC) disebabkan oleh faktor-faktor yang lebih struktural dan bahkan lebih
bersifat eksogen, yaitu ditetapkan dari luar.
Pemahaman pembangunan sebagai upaya mengurangi ketidaksempurnaan pasar, sangat tegas sebagai upaya peningkatan produksi melalui peningkatan efisiensi faktor
dijelaskan bagaimana terjadinya pergeseran PPC ke tingkat
yang lebih tinggi, maka penjelasannya lebih banyak berupa sebab-sebab yang ditentukan dari luar (eksogenous) daripada dari dalam (endogenous). Meskipun demikian, penjelasan eksogenous ini dapat dimodifikasi menjadi endogenous dalam konteks suatu proses. Untuk ini diperlukan suatu definisi pembangunan yang lebih holistik yang akan diuraikan berikut
ini.
3. Pembangunan adalah Industrialisasi
Suatu ilustrasi lain dari arti pembangunan yang tidak holistik
(parsial) adalah definisi pembangunan sebagai upaya untuk
mengatasi ciri-ciri pokok dari perekonomian yang
terbelakang, khususnya ketergantungannya pada produksi bahan primer termasuk pertanian. Karena itu pembangunan dianggap identik dengan industrialisasi. Anggapan ini diperkuat oleh pengamatan bahwa negara-negara yang telah
maju umumnya adalah negara industri.
Di lain pihak, timbul tanggapan bahwa arti pembangunan hanya sebagai industrialisasi dapat memberi pengertian yang keliru, karena beberapa alasan berikut ini:
- Produksi bahan primer bukan penyebab dari
terbelakangnya suatu negara. Penyebab yang lebih mendasar terletak pada rendahnya produktivitas dari produksi bahan primer dan pertanian tersebut.
- Sehubungan dengan alasan terdahulu, dikemukakan bahwa
produksi bahan primer dan pertanian bukan faktor
penyebab tetapi merupakan faktor asosiatif dari
keterbelakangan. Sebagai faktor asosiatif dari
keterbelakangan, produksi bahan primer lebih dapat dianggap sebagai akibat dari keterbelakangan.
- Selain itu, pembangunan menjadi terlalu sempit apabila disamakan dengan pembangunan beberapa jenis industri saja. Selain industri, maka pembangunan tentunya juga
meliputi sektor-sektor ekonomi lainnya, bahkan
nampaknya juga harus meliputi berbagai faktor non-ekonomi.
Dengan demikian, arti pembangunan ini meskipun secara selintas menarik, tetapi secara konsepsional masih mengandung berbagai kelemahan. Definisi ini terlalu parsial, yang belum menggambarkan pembangunan sebagai suatu konsep yang utuh dan belum menggambarkan adanya
hubungan sebab akibat yang tegas.
4. Pembandingan ketiga Arti Pembangunan
Kalau ketiga definisi pembangunan dibandingkan, maka
definisi ke-1 dapat dianggap sebagai yang paling dapat diterima secara umum, karena alasan sebagai berikut:
a. definisi ke-1 seperti halnya definsi ke-2, lebih maju daripada definisi ke-3 karena menunjukkan hubungan kausatif daripada sekedar asosiatif; lebih dari itu, definisi ke-1 lebih maju lagi daripada definisi ke-2 dalam hal hubungan kausal di definisi ke-1 sangat menekankan aspek
b. definisi ke-2 lebih banyak menyangkut perubahan marjinal
untuk menghilangkan ketidaksempurnaan pasar sedangkan definisi ke-1 banyak memperhatikan perubahan struktural; c. definisi ke-1 mencakup proses pembangunan secara
keseluruhan dalam mana pertumbuhan menjadi bagian daripadanya, sedangkan definisi ke-2 lebih banyak, ataupun hanya, mementingkan pertumbuhan;
d. definisi ke-1 dapat dengan tegas menjelaskan hal yang di definisi ke-2 masih "menggantung", khususnya bagaimana proses terjadinya pergeseran (shift) suatu PPC ke PPC yang lebih tinggi. Pada definisi ke-1 ini keterkaitan antara aspek ekonomi dan non-ekonomi memungkinkan penjelasan
perubahan yang di definisi ke-2 merupakan aspek eksogen
menjadi aspek endogen (proses internalisasi/
endogenization). Sebagai illustrasi, pada definisi ke-2 ditemukannya teknologi baru dianggap sebagai ditentukan dari luar. Di definsi ke-1 adanya teknologi baru yang
memungkinkan proses produksi yang lebih produktif dijelaskan oleh adanya perubahan sosio-kultural yang menghasilkan kelompok "entrepreneur" yang bersikap rasional, berwawasan jauh ke depan dan bersedia untuk menanggung risiko jangka panjang. Adanya "economic
man" yang demikian di definisi ke-2 dianggap sebagai suatu "given". Konteks definisi ke-2 ini tentunya lebih berlaku bagi negara-negara yang telah maju yang masalah pembangunannya sebagian besar telah terselesaikan. e. dengan demikian definisi ke-1 mengandung pengertian
tentang pembangunan yang lebih holistik daripada definisi
ke 2 sehingga dapat dianggap sebagai definisi yang secara
umum paling dapat diterima.
C. Pengaruh Sistem Nilai Pada Arti Pembangunan
Ketika pembangunan diukur dengan pendapatan riil per kapita, tanggapan yang lumrahnya segera timbul adalah: bukan ukuran
rata-rata, meskipun lebih baik daripada ukuran total, tidak memberi gambaran tentang distribusi pendapatan tersebut? Di lain pihak, apabila pembangunan mulai diukur dari segi distribusinya maka pertanyaan berikut yang muncul adalah: distribusi pendapatan yang bagaimanakah yang ingin dicapai oleh pembangunan? Pertanyaan terakhir ini sulit mendapat
jawaban yang dapat diukur secara obyektif. Hal ini karena segera setelah pembahasan arti pembangunan bersentuhan dengan tujuan yang ingin dicapai, maka tak terelakan untuk mengakomodasi arti positif dari pembangunan ke arti yang normatif. Sedangkan hal-hal yang normatif terkait dengan suatu
sistem nilai yang sedang berkembang. Dengan lain perkataan, arti pembangunan harus pula dilihat dari sudut sistem nilai yang sedang dianut oleh suatu negara pada suatu saat.
Mengakomodasi arti pembangunan kepada sistem nilai bukanlah
- Peningkatan pendapatan (total ataupun per kapita) selain
tidak langsung identik dengan distribusi yang dianggap baik, juga tidak langsung sama artinya dengan peningkatan kemakmuran (economic welfare). Peningkatan pendapatan baru menggambarkan peningkatan total output, belum komposisi barang dan jasa yang dihasilkan. Karena kemakmuran tergantung pada komposisi (termasuk kualitas)
barang dan jasa yang disukai oleh masyarakat, sedangkan "kesukaan" ataupun preferensi masyarakat tergantung pada sistem nilai yang berkembang suatu saat di masyarakat, maka
peningkatan total output belum dapat menentukan
peningkatan "kemakmuran" masyarakat tersebut. Ilustrasi
ini, menegaskan betapa arti pembangunan yang diukur oleh pendapatan nasional tergantung pada sistem nilai yang berkembang.
- Peningkatan pendapatan juga belum tentu meningkatkan "kemakmuran" (economic welfare) kalau cara menghasilkan
output tersebut menyangkut pengorbanan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan yang dianggap baik oleh masyarakat. Berbagai aspek kehidupan yang dapat dipengaruhi cara produksi itu antara lain adalah keadaan keselamatan dan kenyamanan kerja.
- Kalau tujuan pembangunan juga meliputi terpeliharanya hubungan sosial yang serasi di masyarakat, maka pembangunan akan semakin tidak sederhana untuk dapat mengakomodasi tujuan sosial ini. Hal ini karena terlebih dahulu harus disepakati apa yang dimaksud dengan
"hubungan sosial yang serasi". Dan hal ini menyangkut
sistem nilai masyarakat.
Dengan demikian, setelah pada Bagian B telah dapat didefinisikan arti pembangunan yang paling sesuai, dan di bagian C dibahas bagaimana mengukur pembangunan, maka di Bagian D ini, masih ditemui unsur yang potensial menimbulkan
ambiguitas baru yang ringkasnya sebagai berikut:
- arti pembangunan tergantung pada tujuan pembangunan; - tujuan pembangunan ditentukan oleh sistem nilai;
- sistem nilai di masyarakat sangat beragam dan terus berkembang;
- sehingga arti pembangunan tidak mudah dapat ditentukan kecuali ada kesepakatan (konsensus) di masyarakat tentang tujuan yang ingin dicapai.
Hal yang terakhir inilah yang menyebabkan berbagai pakar
pembangunan meragukan dapatnya arti pembangunan
didefinsikan secara mudah oleh suatu negara. Dua kutipan mengenai hal ini adalah sebagai berikut:
"My discussion of value judgments implies that there can be no objective definition of development and therefore no universally
acceptable indicator. The best one might hope for would be to get some rough consensus on objectives and hence on how progress toward these objectives can be measured. But I very much doubt whether this can be achieved" 3
"… value premises, however carefully disguised, are an integral
component of both economic analysis and economic policy. … Once these subjective values have been agreed on by a nation or, more specifically, by those who are responsible for national decision making, specific development goals… based on "objective" theoretical and quantitative analyses can be
pursued. However, when serious value conflicts and disagreements exist among decision makers, the possibility of a consensus about desirable goals or appropriate policies is considerably diminished…" 4
Dari dua kutipan dari dua pakar pembangunan itu, ada dua hal yang perlu ditonjolkan, yaitu :
1) kedua pakar tersebut menyetujui diperlukannya konsensus; 2) kedua pakar tersebut menyetujui bahwa konsensus itu sulit
dicapai.
Sehubungan dengan pembahasan ini, pertanyaannya selanjutnya adalah: bagaimana halnya di Indonesia? Hal ini akan dibahas berikut ini pada Bagian D sebagai penutup Bab II.
D. Arti Pembangunan Di Indonesia
5Kekhawatiran Little dan Todaro akan sangat sulitnya tercapai konsensus tentang nilai-nilai yang berkembang yang
4 Michael Todaro, 2000, Economic Development, Addison Wesley, halaman 12 5 Konteks Indonesia disini mengacu pada sistem ketatanegaraan RI yang berdasarkan UUD 45 sebelum Amandemen 1,2,3 dan 4. Khususnya pada UUD 45 yang masih memuat Pasal 3 tentang Kewenanagan MPR untuk menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara
mempengaruhi tujuan pembangunan dan selanjutnya memberi
arti pada pembangunan pada suatu saat di suatu negara, sebenarnya lebih merupakan suatu pengamatan umum yang belum tentu berlaku secara khusus di suatu negara. Kalau diamati secara umum memang sulit dibayangkan bagaimana dari keragaman nilai dalam suatu negara yang berasaskan demokrasi (yang harus dikontraskan dari negara otokrasi) dapat
diupayakan konsensus tentang masalah pembangunan yang ruang lingkupnya (ekonomi dan non-ekonomi) demikian luasnya. Dilain pihak, pengamatan Little dan Todarao itu tentunya tidak ditujukan secara spesifik pada suatu negara tertentu untuk mana konsensus itu memang dapat tercapai. Di
sini akan dikemukakan bahwa khususnya bagi Indonesia, yang konstitusinya adalah Undang Undang Dasar 1945, terdapat mekanisme politik yang sangat memungkinkan terbentuknya konsensus tersebut. Dalam UUD 45 ini sendiri pada hakekatnya telah termuat beberapa kesepakan tentang nilai-niali dasar yang
harus dipatuhi dalam penyelenggaraan negara, termasuk dalam pelaksanaan pembangunan bangsa. Sistem nilai ini dimuat pada alinea empat dari Preamble UUD 45 yang mengatakan antara lain bahwa Pemerintahan Negara Indonesia : "…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesaia
… memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…". Dalam batang tubuhnya juga terkandung berbagai nilai yang telah disepakati dalam kehidupan berbangsa dan
"…cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara…".
Dalam pada itu, diketahui bahwa UUD45 telah mengalami perubahan melalui Amandemen 1, 2, 3 dan 4. (dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2002). Sehubungan dengan ini, walaupun keempat amandemen ini tidak merubah nilai-nilai dasar, serta
upaya pencapaian konsensus masih dimungkinkan, ada satu amandemen yang merubah mekanisme pengakomodasian aspirasi (baca: nilai) yang berkembang di masyarakat dari waktu ke waktu. Di bawah ini akan dibahas dua mekanisme penampungan aspirasi, yaitu yang belaku sebelum amandemen
UUD45 dan yang berlaku sekarang, yaitu setelah berlakunya amandemen UUD45.
1. Mekanisme Sebelum Amandemen UUD45
Sebelum diamandemen, maka mekanisme pencapaian
konsensus tentang arah pembangunan diatur dalam Pasal 3 yang mengatakan bahwa : "Majelis Permusyawaratan Rakyat menetapkan ..garis-garis besar dari pada haluan negara. Penjelasan dari Pasal 3 ini mengatakan bahwa : " ..mengingat dinamika masyarakat, sekali dalam lima tahun Majelis
memperhatikan segala yang terjadi dan segala aliran-aliran pada waktu itu dan menentukan haluan-haluan apa yang hendaknya dipakai untuk dikemudian hari". Dengan demikian, kalau pembukaan UUD45 telah menetapkan tujuan dasar dari negara sebagai dasar filosofis (nilai dasar)
dalam melaksanakan kegiatan pembangunan sepanjang masa,
maka GBHN merupakan penyesuaian setiap lima tahun dari
tujuan pembangunan itu dengan memperhatikan "aliran-aliran" (baca: aspirasi ataupun sistem nilai) yang berkembang pada waktu itu. GBHN ini tak lain adalah konsensus umum tentang pembangunan yang akan dilaksanakan pada periode yang akan datang. Dengan lain perkataan, secara khusus pada sistem ketatanegaraan Indonesia ini, ada mekanisme politik
untuk pembentukan konsensus yang secara umum
dikuatirkan Little dan Todaro mungkin tercapai.
Selain itu, dalam mekanisme politik ini, dari waktu ke waktu, "dinamika masyarakat" dan "aliran-aliran pada waktu itu"
telah dapat tertampung pada GBHN yang tekanan nuansanya terus berevolusi. Hal ini dapat dilihat pada perkembangan nuansa GBHN sejak tahun 1973, sebagai berikut:
- Meskipun GBHN 1973 dalam memperhatikan
pertumbuhan tidak mengabaikan pemerataan, baru pada
GBHN 1978 muncul penekanan yang lebih menonjol pada segi pemerataan dengan penggunaan konsep "Trilogi Pembangunan" yang mengharuskan adanya keserasian hubungan antara pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas. - Kalau dibandingkan GBHN 1993 dengan GBHN 1988,
maka kelihatan adanya pemekaran jumlah Bidang dari empat menjadi tujuh. Pembagian Bidang tahun 1988 terdiri atas: Bidang Ekonomi, Bidang Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Sosial Budaya, Bidang Politik, dan Bidang Pertahanan dan Keamanan.
adalah: Bidang Ekonomi, Bidang Kesejahteraan Rakyat,
Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Bidang Hukum, Bidang Politik, Aparatur Negara, Penerangan, Komunikasi dan Media Massa, dan Bidang Pertahanan dan Keamanan. Adanya tiga Bidang baru ini (Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi, Hukum, Kesejahteraan Rakyat, Pendidikan dan Kebudayaan) menunjukkan bahwa "aliran-aliran pada waktu itu" memandang perlu mengangkat tiga hal ini menjadi Bidang, yang sebelumnya tenggelam di dalam sektor. Perubahan nuansa ini dapat ditafsirkan sebagai
perubahan tekanan pembangunan yang sebelumnya pada peningkatan "jumlah output" menjadi pada peningkatan "kualitas input". Hal ini tercermin pada perbedaan perumusan prioritas pembangunan. Pada GBHN 1988, prioritas pembangunan dirumuskan sebagai: "
pembangunan bidang ekonomi dengan titik berat pada sektor pertanian..sektor industri.. dalam rangka mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang..".
Sedangkan GBHN 1993 merumuskan prioritas
pembangunan sebagai: ".. pembangunan sektor-sektor di
bidang ekonomi.. dan peningkatan kualitas sumber daya manusia..; ..pembangunan sumber daya manusia agar semakin meningkat kualitasnya … melalui peningkatan produktivitas.. serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi..".
- Pada GBHN 1999, perubahan nuansa yang besar terjadi
sesuai dengan iklim reformasi. Hal ini tercermin pada perumusan dasar pemikirannya, yaitu bahwa: ".. pembangunan yang terpusat dan tidak merata yang dilaksanakan selama ini ternyata hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi serta tidak diimbangi kehidupan sosial, politik, ekonomi yang demokratis dan berkeadilan.
.." Nuansa seperti ini merupakan perubahan besar dari yang termuat di GBHN periode-periode sebelumnya, sesuai dengan "aliran-aliran.. dan dinamika masyarakat pada waktu itu"..
2. Mekanisme Setelah Amandemen UUD45
Dari amandemen pertama, kedua, ketiga dan keempat pada Undang-Undang Dasar 1945, yang dilakukan pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2002, yang merubah mekanisme pencapaian konsensus tentang arah pembangunan adalah
sebagai berikut:
- Dihilangkannya Pasal 3 (UUD45 sebelum diamandemen) yang mengatakan bahwa"MPR menetapkan … Garis Garis Besar Haluan Negara".
- Diamandemennya Pasal 6 yang sebelumnya mengatakan
bahwa "..Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR dengan suara yang terbanyak", sesudah amandemen (Pasal 6A ayat (1), mengatakan bahwa "Presiden dan Wakil Presiden dipilih…secara langsung oleh rakyat".
- Konsekuensi dari amandemen di atas adalah bahwa
melaksanakan mandat MPR yang ditetapkan dalam GBHN.
Presiden sekarang (setelah amandemen), menerima mandatnya langsung dari rakyat yang telah memilihnya berdasarkan Visi dan Misi yang telah disampaikannya dalam kampanye Pemilu.
- Terpilihnya Presiden juga berarti bahwa rakyat telah secara konsensus menyetujui Visi dan Misi Presiden menjadi
tujuan pembangunan yang akan diupayakan Presiden selama masa jabatannya. Visi dan Misi Presiden ini dengan demikian telah mencerminkan dan telah mengakomodasi aspirasi dan nilai yang berkembang di masyarakat Indonesia.
- Visi dan Misi Presiden, yang selanjutnya menjadi dasar perumusan arah pembangunan selama lima tahun kedepan, khususnya Renaca Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. Hal ini tertuang di dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, khususnya Pasal 2, ayat (1) yang mengatakan bahwa "RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi, misi dan
program Presiden hasil Pemilihan Umum yang
dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004."
- Mekanisme pengakomodasian aspirasi (nilai-nilai) yang berkembang juga terjamin dalam prosedur penyusunan rencana pembangunan (baik jangka panjang, menengah maupun tahunan), sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional. Mekanisme ini
secara khusus dilakukan melalui penyelenggaraan
musyawarah perencanaan pembangunan pada tingkat pusat (Musrenbangpus), tingkat provinsi (Musrenbangprop), tingkat kabupaten/kota (Musrenbangda), dan pada tingkat nasional (Musrenbangnas).
- Undang-Undang No. 17 tahun 2007 telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, yang
merupakan penjabaran dari aspirasi (nilai) yang terkandung di dalam alinea keempat Mukadimah UUD 45.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa arti pembangunan di Indonesia telah mengakomodasi berbagai nilai yang
berkembang, dan pengakomodasian ini dimungkinkan oleh adanya mekanisme politik berdasarkan UUD45 sebelum diamandemen maupun setelah diamandemen.
Setelah membahas arti pembangunan secara konsepsional
maupun kontekstual, maka selanjutnya masih diperlukan wawasan tentang perkembangan teori pembangunan. Hal ini akan dibahas pada Bab III.
E. Rangkuman:
1. Pembangunan yang holistik memberi arti kepada
pembangunan sebagai proses jangka panjang yang
2. Pembangunan sering diartikan dalam konteks menghilangkan
ketidaksempurnaan mekanisme pasar atau dalam konteks industrialisasi saja akan cenderung memberi pengertian yang
parsial tentang pembangunan sehingga mempunyai
keterbatasan dibandingkan dengan pengertian yang holistik. 3. Keragaman sistem nilai mempengaruhi arti pembangunan di
suatu negara sehingga dibutuhkan tercapainya suatu
konsensus, walaupun dalam suatu negara yang demokratis, konsensus ini dianggap akan sangat sulit untuk dapat dicapai. 4. Dalam konteks Indonesia yang berdasarkan UUD 45, sebelum
di amandemen, konsensus ini dapat dicapai melalui penetapan GBHN oleh MPR, meskipun masih dapat dipertanyakan
seberapa jauh GBHN selama itu telah benar-benar mencerminkan perkembangan aspirasi seluruh lapisan masyarakat. Setelah UUD45 diamandemen, konsensus ini dapat dicapai terutama melalui visi dan misi Presiden yang terpilih langsung oleh rakyat.
F. Latihan:
1. Apa yang dimaksud dengan pembangunan secara holistik?
2. Uraikan pernyataan bahwa: sekedar identifikasi gejala pembangunan tidak dapat memberi arti yang utuh dari pembangunan.
3. Jelaskan bagaimana sistem nilai dapat mempengaruhi arti pembangunan.
4. Keragaman sistem nilai menyebabkan tidak mungkin
30
BAB III
BEBERAPA KONSEP PEMBANGUNAN
A.
Pendahuluan
Dalam mengkaji berbagai masalah pembangunan diperlukan konsep-konsep pembangunan yang sudah standar. Konsep-konsep yang demikian diperlukan untuk menciptakan bahasa pembangunan yang sama antara berbagai akademisi maupun
praktisi pembangunan. Berbagai konsep ini sebenarnya telah merupakan bagian dari berbagai teori ekonomi pada umumnya dan secara khusus oleh berbagai teori pembangunan yang telah berkembang selama ini.
Karena tidak mungkin membahas semua konsep pembangunan
maka pada Bab III ini hanya akan dibahas beberapa konsep yang dianggap paling strategis, dalam arti yang minimal harus diketahui setiap penyelenggara negara, yang menyelenggarakan tugas negara di bidang ataupun sektor manapun.
Pada bagian B akan dibahas konsep yang menyangkut ekonomi
makro yang dilanjutkan oleh pembahasan konsep pembangunan yang berhubungan dengan kependudukan dan ketenagakerjaan. Setelah membaca Bab ini, peserta Diklat diharapkan mampu menjelaskan beberapa konsep pembangunan terutama konsep Ekonomi Makro, konsep kependudukan, ketenagakerjaan, dan
konsep pembangunan yang menyangkut kemiskinan
Bab III akan ditutup pada bagian D dengan pembahasan konsep
kemiskinan.
B.
Konsep Ekonomi Makro
Karena hasil akhir proses pembangunan adalah adanya
pertumbuhan ekonomi maka diperlukan suatu konsep yang menggambarkan adanya peningkatan kegiatan ekonomi secara menyeluruh (ekonomi makro) yang meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Konsep ekonomi makro ini disebut pendapatan nasional.
Dilain pihak, dalam menggunakan konsep pendapatan nasional sebagai ukuran pertumbuhan ekonomi dan sekaligus sebagai salah satu ukuran pembangunan, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
- Konsep "pendapatan nasional" dapat mengandung arti yang beragam. Khususnya pendapatan nasional harus ditegaskan di
antara berbagai gradasi konsep ini yang antara lain dapat berupa Pendapatan Nasional Bruto (PNB) dan Produk Domestik Bruto (PDB). PNB adalah PDB ditambah NFIA (Net Factor Income From Abroad, yaitu netto dari penghasilan faktor-faktor produksi, yaitu tenaga kerja dan
- Konsep pendapatan nasional juga harus membedakan
pendapatan nasional nominal dan pendapatan nasional riil. Pendapatan nasional riil cenderung lebih kecil daripada yang nominal sebab yang riil telah disesuaikan dengan laju inflasi.6 Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi maka yang digunakan adalah pendapatan nasional riil.
- Suatu kelemahan dari konsep pendapatan nasional (PNB,
PDB) sebagai pengukur kesejahteraan ekonomi masyarakat adalah bahwa PNB dan PDB ini hanya mencakup kegiatan ekonomi yang dilakukan melalui pasar. Kegiatan yang membawa manfaat ekonomi yang tidak diperdagangkan di pasar, misalnya kegiatan memperbaiki rumah sendiri
termasuk kegiatan yang dilakukan ibu rumah tangga seperti memasak untuk keluarga sendiri, tidak dimasukkan dalam
ukuran pendapatan nasional. Dalam hal di suatu
perekonomian, ditemui proporsi kegiatan ekonomi yang
informal ini, maka besaran pendapatan nasional
perekonomian ini akan cenderung diukur secara terlalu kecil (underestimated). Selain itu konsep pendapatan nasional ini tidak memperhitungkan akibat kerusakan lingkungan dari
kegiatan peningkatan produksi tertentu. Misalnya
penebangan hutan yang menambah produksi kayu bulat
maupun ekspor kayu, yang akan meningkatkan pendapatan
nasional tidak memperhitungkan dampak kerusakan
lingkungannya yang dapat menyebabkan peningkatan bahaya banjir yang akan menurunkan kesejahteraan masyarakat.
6 Laju inflasi dalam hal ini adalah yang diukur oleh Deflator PDB, yang harus dibedakan dari laju inflasi yang diukur oleh Indeks Harga Konsumen.
- Dalam memakai pendapatan nasional sebagai ukuran, perlu
dibedakan antara tingkat (level) dan laju pertumbuhan (rate of change) dari pendapatan nasional itu. Meskipun pendapatan nasional berbeda antara negara A dan B (A lebih tinggi daripada B), kalau laju pertumbuhan B jauh lebih tinggi daripada A maka tingkat (level) pendapatan nasional A dapat disalib oleh B setelah beberapa waktu (jangka
waktunya tergantung pada perbedaan tingkat pada waktu awal dan seberapa besar perbedaan laju pertumbuhannya). - Selain itu perlu juga dibedakan antara konsep pendapatan
nasional total dan pendapatan nasional rata-rata. Ada dua pendapat tentang mana yang lebih sesuai sebagai ukuran,
meskipun perbedaan ini lebih merupakan masalah tekanan. Di satu pihak, ada pendapat yang mengatakan bahwa yang harus dilihat terlebih dahulu adalah real income (total) daripada real income per capita, yaitu total pendapatan nasional riil dibagi total penduduk. (Meier&Baldwin, hal.
5). Hal ini karena untuk menghasilkan pendatapan riil per kapita terlebih harus dihasilkan peningkatan pendapatan riil total. Selain itu, jika ukurannya adalah pendapatan riil per kapita maka ini membuka kemungkinan diambil
kesimpulan keliru bahwa suatu negara kurang
berkembang walaupun pendapatan nasional riilnya meningkat dalam hal penduduknya juga meningkat pada tingkat pertumbuhan yang sama. Misalnya apabila pertumbuhan pendapatan nasional dan pertumbuhan penduduk adalah sama di dua negara, tetapi pertumbuhan
sedangkan di negara lainnya hanya satu persen maka
kiranya kurang tepatlah untuk tidak mengakui bahwa pembangunan di negara yang pertama tidaklah lebih maju daripada di negara kedua.
Di lain pihak pendapat yang berbeda mengatakan bahwa pendapatan riil per kapita (rata-rata) harus lebih diperhatikan (Kindleberger, hal. 5). Hal ini karena kalau
dipakai ukuran total maka suatu negara dianggap telah tumbuh apabila total pendapatan nasional (riil) telah tumbuh walaupun penduduknya juga telah tumbuh dengan laju peningkatan yang sama.
C.
Konsep Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Selain konsep ekonomi makro, maka beberapa konsep
pembangunan penting lainnnya menyangkut konsep
kependudukan. Bagi setiap penyelenggara negara, pemahaman konsep pembangunan tentang kependudukan sangat penting
karena pengkajian masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang, seperti di pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur lainnya perlu berangkat dari pemahaman tentang profil kependudukan yang menyangkut persebaran geografis penduduk, pengelompokan penduduk berdasarkan kelompok
umur, dan sebagaianya. Misalnya di bidang pendidikan, perlu diketahui profil kependudukan untuk mengetahui kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang masih harus dibangun sesuai dengan kebutuhan yang berbeda-beda antara berbagai kelompok penduduk yang bersangkutan.
Di sini akan dibahas konsep-konsep kependudukan dalam
hubungannya dengan ketenagakerjaan yang akan dikaitkan dengan konsep tentang pengangguran. (lihat Diagram III.1). Setelahnya akan dibahas konsep-konsep kependudukan yang menyangkut transisi demografi dan struktur umur.
Diagram III.1
Keterkaitan Konsep Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Penduduk
Penduduk Penduduk bukan usia kerja usia kerja
Angkatan Bukan angkatan
Kerja (AK) kerja
AK yang AK yang menganggur bekerja
Yang perlu dikaji misalnya perkembangan besaran di atas dalam
kurun waktu tertentu. Misalnya kecenderungan besaran penduduk usia kerja yang memasuki angkatan kerja, ataupun sebaliknya berapa yang merupakan penduduk usia kerja untuk dikaji lebih dalam sebab-sebabnya. Sebab-sebab ini dapat merupakan alasan ekonomi, seperti krisis ekonomi, ataupun alasan non ekonomi, seperti kemungkinan adanya diskriminasi
gender, dan sebagainya yang kesemuanya mempunyai implikasi kebijakan publik yang perlu ditempuh.
Di Indonesia, perkembangan dari besaran di atas dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2002, disampaikan pada Tabel III.1 dan
dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 disampaikan pada Tabel III.2
Tabel III. 1
Perkembangan Besaran Kependudukan Indonesia 2000-2002
(dalam juta orang)
2000 2001 2002
Total Penduduk 206 209 211
Bukan Usia Kerja 65 65 62
Usia Kerja 141 144 149
Bukan Angkatan Kerja 46 45 48
Angkatan Kerja 95 99 101
Ak Yg Menganggur 6 8 9
Ak Yg Bekerja 89 91 92
Ak Yg Bekerja Penuh 58 63 63
Ak Yg Tidak Bekerja Penuh 31 28 29 Sumber: Badan Pusat Statistik
Kalau diasumsikan bahwa rasio penduduk usia kerja dengan
total penduduk dan rasio angkatan kerja dengan penduduk usia kerja adalah konstan, maka semakin besar laju pertumbuhan penduduk akan semakin besar jumlah kesempatan kerja yang harus diciptakan agar jumlah yang menganggur dapat semakin kecil atau sedikitnya tidak akan menjadi semakin besar. Ketidakberhasilan untuk menciptakan kesempatan kerja yang
cukup besar ini bahkan dapat lebih memperburuk tingkat kemiskinan, suatu masalah yang dihadapi negara-negara yang sedang berkembang, yang akan disinggung pada Bab IV tentang Indikator Pembangunan dan pada Bab V ketika membahas Masalah Pembangunan.
Tabel III. 2 Besaran Kependudukan
2005-2007 *)
Kelompok Penduduk 2005 2006 2007 - Berusia 15 Tahun Keatas 155549724 159257680 162352048 - Angkatan Kerja 105802372 106281795 108131058 - Pengangguran Terbuka 10854254 11104693 10547917 - Bukan Angkatan Kerja 49747352 52975885 54220990 - Sekolah 12919459 13978352 14320491 - Ibu Rumah Tangga 29245027 30806003 31133071 - Lainnya 7582866 8191557 8767428 Sumber : Badan Pusat Statistik
Berikut ini pembahasan lebih lanjut tentang konsep
pengangguran diikuti oleh pembahasan konsep kependudukan yang menyangkut transisi demografi dan struktur umur.
1. Konsep Pengangguran
Konsep pengangguran (dalam Diagram III.1 = AK Yang Menganggur) yang berlaku di negara-negara yang sedang
berkembang perlu dibedakan dari yang berlaku di negara-negara yang telah maju. Di negara-negara yang sedang berkembang konsep AK Yang Bekerja dapat meliputi mereka yang sebenarnya tidak bekerja secara penuh (underutilized). Kalau angka mereka yang setengah menganggur ini dimasukkan
maka angka pengangguran di negara-negara yang sedang berkembang akan jauh lebih besar daripada angka yang mewakili pengangguran yang berlaku di negara-negara yang telah maju.
Todaro (yang mengutip Edgar O. Edwards) membedakan
beberapa konsep pengangguran yang berlaku di negara-negara yang sedang berkembang, yaitu:
a. Pengangguran terbuka (open unemployment) yang terdiri dari yang sukarela dan yang bukan sukarela. Pengangguran terbuka yang sukarela menunjuk pada
angkatan kerja yang tidak mau memanfaatkan suatu
kesempatan kerja walaupun mereka mempunyai
ketrampilan yang memenuhi syarat. Sedangkan
pengangguran terbuka yang bukan sukarela menunjuk pada angkatan kerja yang mencari kerja serta mau
bekerja tetapi tak ada kesempatan kerja yang tersedia
untuk mereka.
b. Underemployment, yang menunjuk pada angkatan kerja yang bekerja dalam waktu yang kurang dari waktu untuk mana mereka bersedia bekerja. Kelompok ini terdiri antara lain dari pekerja bangunan yang bekerja hanya secara musiman jika ada proyek bangunan.
c. Disguised underemployment, yang menunjuk pada angkatan kerja yang nampaknya bekerja penuh namun hasil kerjanya kurang dari jam kerjanya.
Menurut Todaro, di negara yang sedang berkembang pada umumnya angka pengangguran terbuka yang sekitar 15%
dapat disertai oleh angka underemployment sebesar 70%, lebih kurang lima kali lipat yang terbuka (Todaro: halaman 269). Sedangkan di Indonesia, menurut Sensus Penduduk tahun 2000, angka pengangguran terbuka adalah 6 juta sedang pengangguran terselubung adalah 31 juta orang.
Dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja tahun 2000 sebesar 95 juta orang maka pengangguran terbuka adalah 6.3%, sedangkan pengangguran terselubung adalah 32.6%, sehingga pengangguran total adalah 38.9 %.
Sementara itu, sejak tahun 2001, telah digunakan definisi
pengangguran terbuka yang berlaku secara internasional. Sejak tahun 2001, definisi pengangguran mencakup empat kelompok, yaitu: (1) penduduk usia kerja yang mencari pekerjaan; (2) penduduk usia kerja yang mempersiapkan usaha; (3) penduduk usia kerja yang tidak mencari pekerjaan
penduduk usia kerja yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi
belum mulai bekerja. Sebelum tahun 2001, pengangguran terbuka hanya mencakup kategori (1) dan kategori (2), sedangkan kategori (3) dimasukkan ke dalam kelompok penduduk usia kerja bukan angkatan kerja dan kelompok (4) dimasukkan ke dalam kategori angkatan kerja yang bekerja. Dengan demikian angka pengangguran terbuka di Indonesia
akan menjadi lebih besar karena perluasan cakupan ini. Pada Tabel III.3 berikut ini disampaikan perbandingan angka pengangguran terbuka berdasarkan kriteria sebelum dan sesudah 2001.
Tabel III. 3
Perbandingan Angka Pengangguran Terbuka Menurut Kriteria Sebelum dan Sesudah 2001
1998-2003
Definisi Pengang- guran Terbuka
1998/ juta orang
1999/ juta orang
2000/ juta orang
2001/ juta orang
2002/ juta orang
2003/ juta orang Sebelum 2001 5,06 6,03 5,81 5,49 6,02 5,75 Sesudah 2001 6,07 8,90 8,44 8,01 9,13 9,53 Sumber: BPS
2. Konsep Transisi Demografi
Transisi demografi adalah suatu konsep yang menunjukkan adanya suatu proses pertumbuhan penduduk yang berubah polanya dari tahap awal ke tahap transisi menuju ke tahap
ketiga. Ketiga tahap itu adalah:
tahap pertama, ketika laju pertumbuhan relatif stagnan
karena tingginya angka kelahiran yang disertai tingginya angka kematian, yang diikuti oleh;
tahap kedua, ketika laju pertumbuhan penduduk relatif cepat yang disebabkan oleh angka kelahiran tinggi yang disertai angka kematian rendah, untuk menuju ke; tahap ketiga, ketika laju pertumbuhan penduduk
mencapai kestabilan pada tingkat yang rendah dan dicirikan oleh rendahnya baik angka kelahiran maupun angka kematian.
Semua negara diketahui mengalami proses transisi kependudukan ini meskipun intensitas perbandingan angka
kelahiran dan angka kematian tidak selalu sama antar negara maupun antar kelompok negara. Pada kelompok negara industri, laju pertumbuhan penduduk tinggi pada tahap ke dua tidak pernah lebih dari 1% sedangkan pada kelompok negara yang sekarang sedang berkembang (termasuk
Indonesia) laju pertumbuhan penduduk pada tahap kedua dapat mencapai sekitar 2,5%. Di antara negara berkembangpun dapat terjadi variasi pola pada tahap ketiga antara negara-negara yang berhasil menurunkan baik angka kelahiran dan angka kematiannya dengan negara-negara yang
angka kematiannya menurun tidak terlalu besar namun angka kelahirannya tetap tinggi. Perbedaan pola ini berhubungan dengan tingkat kemajuan kesejahteraan ekonomi yang dicapai maupun dengan berbagai faktor non-ekonomi seperti adat istiadat yang berlaku di suatu masyarakat. Bagi para
berapa besarnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang harus
dicapai pada suatu periode agar minimal tidak menurunkan tingkat pendapatan per kapita.
3. Konsep Struktur Umur
Untuk mengkaji masalah kependudukan, suatu konsep yang sangat penting adalah pengertian tentang "struktur umur".
Struktur umur merupakan gambaran tentang komposisi penduduk menurut umur yang umumnya dibagi atas kelompok umur yang paling muda sampai dengan yang paling tua dengan interval setiap lima tahun. Dalam mengkaji masalah pembangunan konsep ini sangat penting
mengingat struktur umur di negara-negara yang sedang membangun mempunyai karakteristik yang berbeda dengan negara-negara yang telah maju. Karakteristik ini mempunyai beberapa implikasi permasalahan yang menyangkut proporsi penduduk usia kerja dengan proporsi penduduk di bawah usia
kerja, laju pertumbuhan penduduk yang tetap tinggi walaupun angka kelahiran telah sangat menurun, dan permasalahan pertumbuhan angkatan kerja yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang telah maju.
Karakteristik yang sangat menonjol dari struktur penduduk di
negara-negara yang sedang berkembang adalah bahwa proporsi penduduk yang berumur di bawah 15 tahun relatif besar dibanding dengan negara-negara maju dengan beberapa implikasi seperti disinggung di atas. Pertama, karakteristik ini menyebabkan "dependency ratio" yaitu rasio antara proporsi penduduk di bawah 15 tahun dengan proporsi
penduduk usia kerja (15 sampai dengan 64 tahun) sangat
besar. Di negara-negara yang telah maju keadaannya terbalik, di mana proporsi penduduk usia kerja adalah sekitar 65% yang mempunyai tanggungan hanya sekitar 19% penduduk yang berumur di bawah 15 tahun. Dalam pada itu, perlu juga dicatat bahwa dependency ratio yang cenderung lebih besar di negara yang sedang membangun dibandingkan dengan di
negara maju, perkembangan yang sewajarnya menunjukkan dependency ratio yang cenderung menurun ketika negara yang sedang membangun menjadi semakin maju cenderung relatif kecil saja. Hal ini karena meningkatnya kemajuan suatu negara biasanya akan diikuti oleh meningkatnya
kelompok umur di atas enampuluh lima tahun. Dalam hal ini, walaupun kelompok umur 0-15 tahun cenderung mengecil, dan kelompok umur 15-64 cenderung membesar, namun kelompok umur 65+ juga akan membesar, sehingga hasil akhirnya, dependency ratio meskipun akan membaik
(mengecil) tetapi perbaikannya tidak akan relatif besar. Tabel III.2 menunjukkan bahwa dependency ratio membaik dari 54,7 menjadi 45,6 pada tahun 2025, penurunan ini agak tertahan oleh meningkatnya kelompok umur 65+ yang proporsinya sebesar 4,7% pada tahun 2000 menjadi 8,5%
Tabel III.2
Perkembangan Dependency Ratio (%) 2000-2025
Komposisi Umur dan Dependency Ratio (%)
2000 2005 2010 2015 2020 2025
0-14 30,7 28,3 26,0 25,0 23,9 22,8
15-64 64,6 66,7 68,6 69,1 69,1 68,7
65+ 4,7 5,0 5,3 5,9 7,0 8,5
Dependency Ratio 54,7 49,8 45,7 44,7 44,7 45,6 Sumber : Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025, BPS, Bappenas,
UNFPA
Kedua, besarnya proporsi penduduk di bawah 15 tahun akan menyebabkan laju pertumbuhan penduduk akan menjadi tetap tinggi walaupun angka kelahiran telah sangat menurun.
Fenomena ini dikenal sebagai masalah "momentum terselubung" (hidden momentum) karena pertumbuhan penduduk telah terjamin akan terus bergelinding ketika kelompok umur ini mencapai usia reproduksi, walaupun program keluarga berencana telah berhasil. Ketiga, besarnya kelompok usia muda
ini akan menyebabkan semakin besarnya jumlah penduduk yang memasuki kelompok angkatan kerja yang menimbulkan masalah penyediaan kesempatan kerja yang lebih besar dibandingkan dengan di negara-negara yang telah maju. Permasalahan ini semakin menonjol dalam hal suatu angka pertumbuhan
penduduk merupakan hasil dari angka kelahiran dan angka
kematian tinggi daripada yang rendah. Misalnya, pertumbuhan
penduduk sebesar 2% yang dihasilkan oleh angka kelahiran dan angka kematian masing-masing sebesar 60 per 1000 dan 40 per 1000 akan menimbulkan permasalahan pertumbuhan angkatan kerja yang lebih besar daripada yang masing-masing sebesar 30 dan 10 per 1000 penduduk.
D.
Konsep Pembangunan Yang Menyangkut
Kemiskinan
Dalam aspek kemiskinan ada tiga konsep yang saling berkaitan yaitu konsep kemiskinan absolut, konsep garis kemiskinan dan konsep kesenjangan kemiskinan. Kemiskinan absolut adalah
suatu konsep pembangunan yang menunjuk pada jumlah penduduk yang tingkat kesejahteraannya masih berada di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan adalah suatu tolok ukur tentang jumlah penghasilan minimum yang diperlukan seseorang
untuk dapat sekedar bertahan hidup.
Dalam proses pembangunan, upaya mengentaskan kemiskinan umumnya memakai ukuran kemiskinan absolut sebagai sasaran untuk mengetahui seberapa besar jumlah maupun proporsi penduduk yang berhasil ditingkatkan penghasilannya di atas garis kemiskinan dalam suatu periode tertentu. Kemiskinan
Garis kemiskinan sebagai batas penghasilan minimum dapat
ditentukan sesuai dengan keadaan setempat tentang kebutuhan pokok dari masyarakat bersangkutan. Suatu ukuran tentang kebutuhan pokok ini adalah biaya yang diperlukan untuk dapat mengkonsumsi 2100 kalori per orang per hari dari sumber bahan makanan karbohidrat tertentu yang dikalikan dengan harga bahan makanan yang bersangkutan.
Di lain pihak, setelah menentukan suatu ukuran garis kemiskinan, jumlah ataupun proporsi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan ini belum sepenuhnya menggambarkan tingkat kemiskinan yang berada di bawah garis ini. Misalnya
setelah ditentukan garis kemiskinan sebesar Rp 100.000 per orang per bulan maka gambaran kemiskinan akan berbeda antara berbagai kelompok di bawah garis ini yang mempunyai penghasilan hanya Rp 10,000 dengan yang berpenghasilan Rp 99.000. Untuk mengatasi ketidaklengkapan gambaran ini maka
dipakai ukuran kesenjangan kemiskinan. Kesenjangan
kemiskinan mengukur jumlah penghasilan yang diperlukan untuk meningkatkan penghasilan seluruh penduduk di bawah garis kemiskinan untuk mencapai garis ini.
Sementara itu, telah berkembang paradigma baru dalam penanganan kemiskinan. Kalau sebelumnya penanganan kemiskinan lebih banyak bertumpu pada pemberdayaan ekonomi, maka sekarang tekanan diberikan pada pemberdayaan non-ekonomi. Hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa
masyarakat miskin tidak dapat secara efektif diberdayakan
kemampuan ekonominya jikalau tidak terlebih dahulu ataupun
bersamaan ditingkatkan keberdayaan non-ekonominya, dalam hal ini hak-haknya dalam mengakses berbagai sumber daya ekonomi. Hal ini tertuang dalam RPJM 2004-2009 yang mengatakan bahwa kemiskinan didefinisikan sebagai "kondisi di mana seseorang atau kelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan
mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. … Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan
memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat." 7
E. Rangkuman
1. Pemahaman berbagai konsep pembangunan penting agar terbentuk bahasa pembangunan yang sama antara para akademisi maupun antara para praktisi pembangunan. 2. Salah satu konsep pembangunan adalah konsep transisi
demografi yang menunjukkan bahwa sebelum tercapai
konvergensi maka akan terjadi divergensi antara angka kelahiran dan angka kematian.
3. Konsep kependudukan lain yang penting adalah konsep momentum terselubung, yang menunjukkan bahwa dalam hal
struktur umur penduduk mempunyai komposisi penduduk di
bawah 15 tahun yang besar, maka walaupun pada saat yang sama angka kelahiran berhasil diturunkan secara berarti, laju pertumbuhan penduduk ini akan terus melaju beberapa periode kedepan.
4. Konsep pengangguran yang dikenal di negara maju hanya menjelaskan sebagian dari permasalahan pengangguran di
negara yang sedang berkembang.
F. Latihan
1. Apakah perbedaan antara konsep Produk Nasional Bruto
(PNB) dengan konsep Produk Domestik Bruto? Mengapa suatu negara cenderung memakai salah satu konsep daripada yang lainnya ?
2. Uraikan hubungan antara konsep jumlah penduduk dengan konsep angkatan kerja suatu negara.
3. Uraikan perbedaan antara konsep kemiskinan absolut dengan
konsep kemiskinan relatif .
tentang Penanggulangan Kemiskinan, 49
BAB IV
INDIKATOR PEMBANGUNAN
Setelah melihat beberapa konsep pembangunan pada bab terdahulu, pada bab ini akan dibahas beberapa indikator pembangunan yang
terkait dengan konsep-konsep tersebut. Perbedaan antara konsep dan indikator di sini adalah bahwa indikator lebih mengoperasionalkan konsep sesuai dengan keadaan empiris. Karena itu sejauh mungkin diupayakan agar pada Bab IV ini, disajikan data statistiknya.
Berturut-turut akan di bahas indikator tentang ekonomi makro (bagian A), indikator kesempatan kerja (bagian B), indikator pemerataan (bagian C) serta indikator kemiskinan (bagian D).
Urutan indikator pada bab ini selain sesuai dengan pembahasan konsep pembangunan pada Bab III juga akan terkait dengan masalah pembangunan yang akan dibahas pada Bab V.
A.
Indikator Ekonomi Makro
Indikator pembangunan menyangkut ekonomi makro yang utama adalah Produk Domestik Bruto (PDB) dalam harga berlaku/nominal maupun dalam harga konstan/riil. PDB dalam
Setelah membaca bab ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan beberapa indikator pembangunan terutama
harga berlaku biasanya digunakan untuk menghitung pangsa
setiap sektor terhadap total PDB dan untuk menghitung pendapatan per kapita. PDB dalam harga konstan/riil biasanya dipakai untuk menghitung pertumbuhan antar periode dari total maupun sektor. PDB sebagai ukuran pendapatan secara nasional juga dapat dirinci menurut daerah yang dinamakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pada Tabel IV.1 dan Tabel
IV.2 disajikan data PDRB per provinsi masing-masing dalam harga konstan dan harga berlaku untuk tahun 2000, 2001 dan 2002. Beberapa pesan yang dapat dipetik dari kedua tabel ini adalah sebagai berikut:
- Pada tahun 1998, ketika ekonomi nasional mengalami
pertumbuhan negatif yang cukup besar (sekitar -11%), berbagai daerah yang basis ekonominya sangat dipengaruhi oleh sektor industri mengalami pertumbuha