• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator kinerja sesuai keputusan Mendagri

F. Penyesuaian tarif

4.6 Pengukuran kinerja perusahaan .1 Dasar pengukuran kinerja

4.6.1.2 Indikator kinerja sesuai keputusan Mendagri

Selain itu dalam menilai kinerja PDAM, manajemen dapat menggunakan tolok ukur yang terdapat dalam pedoman penilaian kinerja PDAM sesuai dengan SK Menteri Dalam Negeri no 47 tahun 1999. Perangkat penilaian ini dapat meningkatkan motivasi manajemen untuk melakukan penyempurnaan sehingga dapat dicapai hasil yang optimal melalui cara kerja yang efektif dan berazas hemat.

Penilaian kinerja PDAM berdasarkan SK Mendagri no 47 tahun 1999 meliputi aspek-aspek (i) keuangan, (ii) operasional, dan (iii) administrasi. Indikator keberhasilan dari setiap aspek tersebut adalah sebagai berikut:

1.

Indikator-indikator dalam kinerja keuangan dimaksudkan untuk dapat dilakukan analisis yang tajam terhadap berbagai aktivitas keuangan yang relevan untuk menilai tingkat keuangan perusahaan. Secara umum penilaian kinerja keuangan mencakup pengukuran terhadap keseimbangan struktur permodalan, pendayagunaan aset yang tertanam, profitabilitas, efisiensi dalam pengelolaan dana, serta kemampuan untuk membayar kewajiban yang jatuh tempo.

Aspek keuangan.

Secara rinci kinerja keuangan dijabarkan ke dalam indikator-indikator berikut: a. Rasio laba terhadap aktiva produktif.

Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari jumlah aset produktif yang dikelola. Rendahnya rasio ini dapat disebabkan oleh pendayagunaan aset yang belum optimal, ketidakseimbangan dalam struktur pembiayaan aset, sehingga mengakibatkan tingginya beban bunga serta pengelolaan kegiatan yang tidak efisien.

= Laba sebelum pajak Aktiva produktif

b. Rasio laba terhadap penjualan.

Digunakan untuk mengukur laba yang dapat dihasilkan dari jumlah penjualan dalam tahun berjalan. Ketidakseimbangan dalam struktur pembiayaan aset yang secara signifikan bertumpu pada hutang sehingga mengakibatkan tingginya beban bunga, serta pemborosan dalam membiayai kegiatan operasional akan menurunkan rasio ini.

= Laba sebelum pajak Penjualan

x 100 %

c. Rasio aktiva lancar terhadap utang lancar.

Merupakan tolok ukur untuk menilai ketersediaan aset-aset liquid untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dalam rangka membiayai kegiatan operasi maupun pembayaran hutang dan bunga yang jatuh tempo jika ada.

=

Hutang lancar Aktiva lancar

d. Rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas.

Dimaksudkan untuk menilai keseimbangan diantara dua sumber pendanaan yang digunakan untuk membiayai aset perusahaan, yaitu modal dan hutang. Penggunaan sumber dana pinjaman dalam jumlah yang melampaui keseimbangan dibandingkan dengan modal sendiri akan berdampak pada tingginya beban bunga yang harus ditanggung dan akan berakibat rendahnya kemampuan untuk menghasilkan laba.

=

Ekuitas

Utang jangka panjang

e. Rasio total aktiva terhadap total utang (solvabilitas).

Merupakan tolok ukur untuk menilai tingkat kecukupan dari seluruh aset yang tersedia dibandingkan dengan seluruh hutang perusahaan, yang sekaligus mencerminkan jumlah aktiva neto yang tersedia. Rasio ini dapat memberikan informasi terhadap dua hal penting, yaitu (i) indikasi tentang perlunya suntikan dana oleh pemilik perusahaan dalam aktiva neto bilamana perusahaan sudah berada di ambang batas untuk dapat mempertahankan azas keseimbangan usaha (going concern), dan (ii) untuk mengukur posisi tawar perusahaan pada saat ikut menarik sektor swasta ikut sebagai pemegang saham.

f. Rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi.

Merupakan tolok ukur untuk menilai efisiensi/kehematan dalam penggunaan sumber dana dan daya dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan.

=

Pendapatan operasi Biaya operasi

g. Rasio laba operasi sebelum biaya penyusutan terhadap angsuran pokok dan bunga jatuh tempo.

Digunakan untuk mengukur potensi dari laba yang dihasilkan dapat memenuhi kewajiban pembayaran angsuran pokok dan bunga yang jatuh tempo. Tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana pengembangan investasi yang dibiayai dengan sumber dana pinjaman dapat menghasilkan laba untuk memenuhi kewajiban yang terkait dengan penarikan pinjaman tersebut.

=

(Angsuran pokok + bunga) jatuh tempo Laba operasi sebelum biaya penyusutan

h. Rasio aktiva produktif terhadap penjualan air.

Digunakan untuk mengukur produktivitas / pendayagunaan dari aset yang tertanam, apakah dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan pendapatan dalam rangka pengembalian investasi bagi pemegang saham dan pembayaran bunga kepada kreditor.

=

Penjualan air Aktiva produktif

i. Jangka waktu penagihan piutang.

Merupakan tolok ukur untuk menilai efektivitas dari upaya manajemen dalam pengendalian piutang, yaitu menilai lamanya waktu rata-rata piutang tertagih menjadi kas. Semakin sedikit waktu yang dibutuhkan dalam penagihan piutang menjadi kas, akan semakin dinamis cash flow perusahaan.

=

Jumlah penjualan per hari . Piutang usaha

j. Efektivitas penagihan.

Merupakan tolok ukur untuk menilai efektivitas dari upaya manajemen dalam pengendalian piutang, yaitu menilai berapa persen piutang tertagih menjadi kas. Keberhasilan dalam pengendalian piutang ini akan mendukung ketersediaan likuiditas perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional dan kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo.

=

Penjualan air Rekening tertagih

2. Aspek operasional.

Indikator dalam aspek ini dimaksudkan untuk menilai keberhasilan manajemen dalam mengoperasionalkan kegiatan dalam rangka pemenuhan penyediaan air minum kepada masyarakat.

a. Cakupan pelayanan.

Menggambarkan kemampuan PDAM untuk menjalankan fungsi pelayanannya, yaitu seberapa banyak penduduk yang dilayani PDAM.

= Jumlah penduduk terlayani Jumlah penduduk

x 100%

b. Kualitas air distribusi.

Pemenuhan syarat kualitas air minum pada air yang didistribusikan. c. Kontinuitas air.

Adalah kesinambungan air mengalir di rumah pelanggan selama 24 jam. d. Produktivitas pemanfaatan instalasi produksi.

Digunakan untuk mengukur kemampuan instalasi untuk berproduksi sesuai dengan kapasitas perencanaannya. Ketidakmampuan beroperasi sesuai kapasitas rencana/terpasang menunjukkan adanya kelemahan operasional.

= Kapasitas produksi Kapasitas terpasang

x 100%

e. Tingkat kehilangan air.

Digunakan untuk mengukur manajemen sistem jaringan distribusi. = Volume air yang didistribusikan – volume air terjual Volume air yang didistribusikan

x 100%

f. Peneraan meter air.

Meter air adalah alat ukur yang harus baik dan akurat, untuk menjamin ketepatan pencatatan meter. Umur teknis meter air diperkirakan sekitar 5 tahun, sehingga tiap meter air yang dipasang harus diganti atau sekurang-kurangnya direkondisi setelah 5 tahun.

= Jumlah pelanggan yang meter airnya ditera Jumlah seluruh pelanggan

g. Kecepatan penyambungan baru.

Penyambungan baru berarti penambahan langganan yang selanjutnya menjadi sumber pendapatan, dan juga memperluas cakupan pelayanan PDAM. Sebaiknya dapat dilayani maksimal dalam 6 hari.

h. Kemampuan penanganan pengaduan rata-rata per bulan.

Menunjukkan kecepatan dan baik tidaknya koordinasi dalam internal perusahaan. Bagian hubungan pelanggan menerima pengaduan, menyampaikan ke bagian teknik, atau bagian lain, atau dapat diselesaikan sendiri. Semua pengaduan harus dicatat ketika masuk dan setelah diselesaikan.

= Jumlah pengaduan yang telah selesai ditangani Jumlah seluruh pengaduan

x 100%

i. Kemudahan pelayanan.

Menunjukkan apakah PDAM telah berupaya memberikan kemudahan bagi masyarakat, bukan saja untuk membayar rekening tetapi juga untuk menyampaikan pengaduan atau akan menjadi pelanggan baru. Bagi masyarakat, faktor waktu dan transportasi sangat berpengaruh. Oleh karenanya PDAM seharusnya membuka unit pelayanan (service point) selain di kantor pusat, yaitu di tempat yang dipandang perlu dan mudah dijangkau oleh pelanggan dan calon pelanggan.

j. Rasio karyawan per 1000 pelanggan.

Digunakan untuk mengukur efisiensi, dimana penilaian ini dibedakan antara PDAM yang mengelola di wilayah kota dan PDAM yang mengelola di wilayah kabupaten.

= Jumlah karyawan Jumlah pelanggan

x 1000

3.

Kinerja keuangan dan operasi pada dasarnya merupakan hasil akhir dari suatu proses manajemen. Peningkatan kinerja kedua aspek ini harus didukung melalui penyempurnaan proses manajemen terlebih dahulu. Indikator dalam aspek administrasi ini secara garis besar berkaitan dengan aspek perencanaan dan pengendalian.

Aspek administrasi.

Aspek perencanaan ditekankan pada kemampuan untuk (i) menyusun perencanaan jangka menengah yang mencerminkan visi dan misi perusahaan sekaligus

menentukan arah pengembangan perusahaan di masa mendatang, (ii) menyusun struktur organisasi yang mencerminkan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang seimbang serta interaksi saling berpengaruh antar bagian dengan efisien.

Aspek pengendalian meliputi penetapan standar operasi kerja dan pedoman-pedoman penilaian yang berfungsi sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan, menilai hasil kegiatan, serta tingkat ketaatan manajemen dalam melaksanakan kegiatan. Sejauh mana implementasi dari perangkat pengendalian yang telah ditetapkan sebagai kebijakan perusahaan.

Secara terinci, kinerja administrasi meliputi: a. Rencana jangka panjang (corporate plan).

Untuk melihat sampai sejauh mana perencanaan jangka panjang PDAM (corporate plan) dipedomani. Perencanaan jangka panjang (corporate plan) adalah rencana strategis yang mencakup rumusan mengenai tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dalam jangka waktu 5 tahun mendatang.

b. Rencana organisasi dan uraian tugas.

Pelaksanaan rencana organisasi dan uraian tugas, sejauh mana dipedomani. Rencana organisasi dan uraian tugas adalah struktur organisasi dan tata cara kerja organisasi yang dimiliki oleh PDAM dan disahkan oleh kepala daerah. Menggambarkan adanya pengelompokkan dari beberapa kegiatan yang perlu dilakukan secara terarah dan terpimpin untuk mencapai tujuan perusahaan. Mencakup urutan pembagian pekerjaan, wewenang dan tanggung jawab masing-masing tingkatan perusahaan, dan setiap karyawan harus memiliki uraian tugas yang jelas.

c. Prosedur operasi standar.

Pelaksanaan prosedur operasi standar, sejauhmana dipedomani. Prosedur operasi standar adalah panduan (manual) yang mencakup prosedur penanganan operasi perusahaan baik di bidang teknik maupun di bidang administrasi.

d. Gambar nyata laksana (as built drawing).

Untuk melihat sampai sejauh mana gambar nyata laksana disediakan dan dipedomani sebagai alat manajemen. Misal, gambar nyata laksana (as built

drawing) untuk seluruh sistem distribusi adalah ukuran pelaksanaan

manajemen distribusi secara baik. Gambar harus terkini (up to date) dan akurat, dimana setiap ada perubahan di lapangan maka disesuaikan juga pada gambar

e. Pedoman penilaian kerja karyawan.

Pelaksanaan pedoman penilaian kerja karyawan dalam rangka penentuan karir dan gaji, sejauhmana dipedomani. Pedoman penilaian kerja karyawan adalah alat/media untuk menilai prestasi kerja karyawan perusahaan, guna meningkatkan produktivitas karyawan.

f. Rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).

Pelaksanaan RKAP sejauh mana dipedomani. RKAP adalah penjabaran dari rencana jangka panjang yang dituangkan secara tahunan yang mencakup rencana kerja dan anggaran perusahaan.

g. Tertib laporan internal.

Dilaksanakannya pelaporan di bidang keuangan, administrasi, dan operasi secara berkala dari pelaksana kepada pengambil keputusan. Meliputi laporan harian, bulanan dan tahunan yang harus disiapkan/disajikan tepat pada waktu yang diperlukan, agar informasi yang dihasilkan tidak kehilangan relevasinya, serta dapat memenuhi kegunaannya secara efektif untuk kepentingan analisa, pengendalian, dan pengambilan keputusan.

h. Tertib laporan eksternal.

Penyampaian laporan-laporan untuk pihak eksternal dilaksanakan secara periodik dan tepat waktu. Laporan tersebut antara lain adalah: laporan keuangan tahunan kepada badan pengawas, laporan untuk keperluan pajak. i. Opini auditor independen.

Opini pemeriksa independen mengenai kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Pendapat auditor ini mencerminkan tingkat keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji material.

Jenis-jenis opini auditor independen:

Wajar tanpa pengecualian: bahwa laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara wajar.

Wajar dengan kualifikasi: bahwa laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara wajar, kecuali untuk pos-pos yang tidak dapat diyakini kewajarannya.

Tidak memberikan pendapat: bahwa auditor tidak memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

Pendapat tidak wajar: bahwa laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara tidak wajar.

j. Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun terakhir.

Untuk melihat sejauhmana hasil pencapaian upaya tindak lanjut temuan/rekomendasi oleh instansi pemeriksa. Karena rekomendasi dari instansi pemeriksa merupakan saran yang harus dilakukan, berdasarkan hasil temuan pemeriksa berupa penyimpangan dan kondisi yang tidak lazim dari ketentuan yang baku yang menyangkut operasi dan keuangan.

Dokumen terkait