BAB VI. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN SERTA PENDANAAN BAB VII. KINERJA PENYELENGGARAAN BIDANG URUSAN
A. Indikator kinerja sesuai tugas dan fungsi perangkat daerah
1.
Jumlah dokumen tata ruang yang sudah diperdakan
- 3 3 3 4 4 - 2 2 2 2 3 - 33,33 33,33 33,33 50 75
2. Persentase cakupan
pengendalian tata ruang - 71 72 75 77 80 - 71 72 71,93 77 80 - 100 100 95,91 100 100 3 Cakupan Sertifikasi
Tanah - 84 88 92 96 100 - 84 93,16 99,37 100 100 - 100 105,86 108,01 104,17 100
IKU dokumen tata ruang yang sudah diperdakan target yang ditetapkan untuk akhir periode Renstra adalah 4 dokumen dengan realisasi 2 dokumen perda tata ruang meliputi RDTR Kecamatan Kasihan dan RDTR Kecaman Sewon yang yang telah disahkan tahun 2018, melalui Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2018 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Bagian Wilayah Perkotaan Sewon dan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2018 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Bagian Wilayah Perkotaan Kasihan.
Faktor penghambat capaian yang rendah dari IKU dokumen tata ruang yang sudah diperdakan disebabkan proses penyusunan yang secara teknis cukup kompleks dan harus melalui tahapan yang panjang serta waktu yang dibutuhkan untuk satu perda tata ruang selalu melebihi satu tahun anggaran.
Kebutuhan untuk melegalkan dokumen tata ruang dalam bentuk perda yang memilki kekuatan hukum menemui kendala dan permasalahan dalam pencapaian sasaran ini karena prosesnya harus mendapat persetujuan dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dan persetujuan substansi dari Gubernur DIY dan Kementerian ATR/BPN yang memerlukan waktu dan proses lama.
Untuk menangani hal tersebut solusi dan langkah strategis adalah menjadi lebih pro aktif dalam berkoordinasi dengan Badan Informasi Geospasial dan Kementerian ATR/BPN. Namun demikin faktor pendukung dalam pencapaian IKU ini adalah adanya bantuan program pendampingan percepatan dari DIY serta program Lintas Sektor dari Kementerian ATR/BPN.
IKU cakupan pengendalian tata ruang diperhitungkan melalui jumlah lokasi yang sesuai dengan peruntukan tata ruang / total lokasi yang dilakukan pengawasan. Pencapaian target kinerja secara garis besar telah mencapai target. Faktor pendorong adalah komitmen dari stakeholder terkait dengan faktor penghambat pelaksanaan di lapangan masih menemui kendala antara lain respon masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang yang belum optimal, kawasan pengawasan yang belum menyeluruh karena pelaksana pengendalian pemanfaatan atau SDM intern serta sarana prasarana IT (aplikasi informasi kemasyarakatan) dan sumber dana terbatas.
IKU cakupan sertifikasi tanah dengan target capaian akhir Renstra sebesar 100% telah tercapai di 2020. Faktor pendorong keberhasilan dalam pencapaian sasaran ini karena Pemerintah Kabupaten Bantul dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) serta stakeholder yang terkait sangat mendukung program Persertifikatan Tanah di Kabupaten Bantul. Selain itu adanya kebersamaan dan soliditas antara Polres Bantul, Kejari Bantul, Pemda Bantul dan Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, Pamong Desa dan Tokoh Masyarakat serta antusiasme masyarakat terkait Program PTSL. Namun demikian pelaksanaannya masih menemui faktor penghambat seperti data sumber perolehan tanah yang memperlambat proses pendaftaran tanah.
Formulasi capaian IKU cakupan sertifikasi tanah sebenarnya kurang tepat untuk tugas pokok, fungsi Dinas Pertanahan dan Tata Ruang karena program PTSL adalah program milik pemerintah pusat melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang melakukan pendaftaran/sertifikasi tanah
milik warga. Namun pada awal berdirinya, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bantul juga memiliki andil dalam pensertifikatan tanah warga masyarakat melalui kegiatan Proda (Proyek Operasi Daerah Agraria) yang merupakan kelanjutan dari Program Nasional (Pronas yang berkaitan dengan pensertifikatan tanah pekarangan. Sedangkan ketugasan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang secara khusus menangani penatausahaan tanah kasultanan (tanah Sultan Ground, tanah desa) serta tanah Pemerintah Kabupaten Bantul.
Hal ini kemudian yang mendasari penyesuaian perumusan target kinerja untuk periode Renstra mendatang.
2.3.2.Kinerja Keuangan Perangkat Daerah
Tabel 2.6. Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bantul.
No Uraian
Anggaran Realisasi Anggaran Rasio Realisasi dan Anggaran
2016 2017 2018 2019 2020 2021 2016 2017 2018 2019 2020 2021 201
6 2017 2018 2019 2020 2021 1 Belanja tidak
langsung - 3.000.0
32.100
2.836.0 79.569
2.875.6 89.221
3.001.2
86.689 - - 2.689.1
39.545
2.656.7 14.455
2.741.6 48.736
2.562.2
08.797 - - 89,64 93,67 95,34 85,37 - 2 Belanja langsung - 3.407.9
62.700
5.923.7 17.006
4.686.4 87.043
6.590.3 66.012
11.234.9
26.401 - 2.919.5 32.732
5.409.7 74.243
4.207.1 55.139
5.936.8 24.695
11.234.9
26.401 - 85,68 91,32 89,77 90,08 100 3 Total Belanja - 6.407.9
96.817
8.759.7 98.593
7.562.1 78.283
9.591.6 54.721
11.234.9
26.401 - 5.608.6 74.294
8.066.4 90.716
6.948.8 05.894
8.499.0 35.512
11.234.9
26.401 - 87,53 92,08 91,89 88,61 100
Secara umum rata-rata capaian realisasi belanja langsung kegiatan tahun anggaran 2017-2021 cukup baik pada angka 89%
dengan capaian tertinggi sebesar 91,32% pada tahun 2018 dan terendah sebesar 85,68% pada tahun 2017. Capaian tahun 2017 karena beberapa faktor penghambat seperti permasalahan teknis pendaftaran tanah, penetapan anggaran perubahan yang mundur, keterbatasan uang persediaan sehingga belanja tidak bisa direalisasikan. Selain itu SDM pelaksana yang terbatas menyebabkan pelaksanaan kegiatan dan belanja tidak optimal.
Capaian kinerja keuangan untuk tahun 2018 khususnya belanja langsung mencapai 91,32%. Faktor penghambat dalam pelaksanaan adalah kendala pelaksanaan administrasi oleh pihak ketiga mitra kerja Dinas Pertanahan dan Tata Ruang dalam kegiatan pendaftaran tanah yang menyebabkan SPJ tidak dapat dilaksanakan.
Pendaftaran tanah warga pada kegiatan PTSL dan Proda tahun 2017 dan 2018 menjadikan tumpuan kegiatan bersamaan di desa sehingga proses pemberkasan tanah yang melibatkan batas saksi yang ada di desa menjadi terbatas, selain itu berkas tidak lengkap ahli waris di luar jawa atau tidak diketahui tahu keberadaannnya juga menjadi kendala selain SDM penanganan permasalahan pertanahan masih kurang juga menjadi kendala pelaksanaan realisasi belanja langsung kegiatan. Dalam hal pemberkasan pendaftaran tanah Pemerintah Daerah terkendala data dan dokumen perolehan tanah Pemda yang akan didaftarkan ke BPN menyebabkan terhambatnya proses pendaftaran dan realisasi belanja kegiatan.
Capaian kinerja keuangan untuk tahun 2019 khususnya belanja langsung mencapai 89,77%. Faktor penghambat dalam pencapaian target kinerja keuangan adalah keterlambatan administrasi SPJ, kesulitan penentuan jadwal konsultasi perjalanan dinas luar daerah karena berhubungan dengan jadwal pihak lain (BIG dan Kementerian ATR) serta pembatalan pengadaan aplikasi karena edaran pengampu di Dinas Kominfo. Capaian kinerja keuangan terhambat juga disebabkan pembayaran kepada pihak Panitikismo menunggu serat kekancingan yang keluar. Capaian kinerja keuangan untuk tahun 2020 khususnya belanja langsung mencapai 90,08% akibat adanya pandemi covid 19 menyebabkan kegiatan tidak maksimal dilaksanakan.
2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Perangkat Daerah Adapun dari hasil analisis Renstra Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul dan KLHS RPJMD Kabupaten Bantul Tahun 2021-2026 berimplikasi sebagai tantangan dan peluang bagi pengembangan pelayanan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bantul.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, tantangan yang dihadapi oleh Dinas Pertanahan dan Tata RuangKabupaten Bantul dalam pengembangan pelayanan Perangkat Daerah pada lima tahun mendatang adalah sebagai berikut:
1. Adanya konflik kepentingan dari berbagai pihak;
2. Perubahan regulasi yang dinamis;
3. Proses pembangunan yang dinamis membuat tingginya kebutuhan pemanfaatan ruang untuk pembangunan dan masyarakat
4. Kurangnya koordinasi lintas sektoral
5. Administrasi pertanahan di Kabupaten Bantul yang belum tertib (tanah SG, tanah desa dan tanah milik Pemerintah Kabupaten Bantul).
Sedangkan peluang bagi Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bantul dalam menjalankan tugas dan fungsinya adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang memudahkan akses informasi dan pelayanan perijinan
2. Partisipasi masyarakat dalam permohonan rekomendasi pemanfaatan tanah desa/tanah SG dan rekomendasi kesesuaian aspek tata ruang
3. Adanya dukungan dari Kementerian, lembaga, instansi terkait
4. Peran kalurahan dan masyarakat dalam pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang di lapangan
BAB III