Pada bagian dikemukakan indikator kinerja SKPD yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.
BAB II. GAMBARAN PELAYANAN SKPD
2.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organsiasi SKPD
Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati Musi Rawas melalui Sekretaris Daerah. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Musi Rawas Nomor 02 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Musi Rawas serta berdasarkan Peraturan Bupati Musi Rawas Nomor 58 tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas, tugas pokok Dinas Kehutanan adalah membantu Bupati dalam menyelenggarakan Pemerintahan Daerah dibidang Kehutanan.
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Dinas Kehutanan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
a. Penyusunan perencanaan bidang kehutanan; b. Perumusan kebijakan teknis bidang kehutanan;
c. Pelaksanaan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang kehutanan;
d. Pembinaan, koordinasi, pengendalian dan fasilitasi pelaksanaan kegiatan bidang rehabilitasi dan pengelolaan hutan, sarana dan prasarana kehutanan, perlindungan dan pengamanan hutan, serta produksi dan bina usaha kehutanan;
e. Pelaksanaan kegiatan penatausahaan Dinas Kehutanan; f. Pembinaan terhadap Unit Pelaksana Teknis Dinas Kehutanan;
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati, sesuai bidang tugas dan fungsinya.
Susunan Organisasi Dinas Kehutanan terdiri dari : 1. Kepala Dinas.
2. Sekretariat, membawahkan :
b) Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan; c) Sub Bagian Perencanaan dan Pengendalian.
3. Bidang Inventarisasi dan Tata Guna Hutan, membawahkan: a) Seksi Inventarisasi, Pengukuran dan Perpetaan;
b) Seksi Data Base dan Informasi Kehutanan; c) Seksi Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan. 4. Bidang Rehabilitasi Hutan dan Lahan, membawahkan :
a) Seksi Rehabilitasi Hutan;
b) Seksi Reklamasi dan Penghijauan; c) Seksi Monitoring dan Evaluasi DAS.
5. Bidang Bina Produksi Hasil Hutan, membawahkan : a) Seksi Iuran dan Pengujian Hasil Hutan;
b) Seksi Pemanfaatan Hutan; c) Seksi Peredaran Hasil Hutan.
6. Bidang Perlindungan Hutan, membawahkan : a) Seksi Pengamanan Hutan;
b) Seksi Pembinaan Flora/Fauna dan Pengendalian Hama/ Penyakit; c) Seksi Hukum dan Perundang-undangan.
7. Unit Pelaksana Teknis Dinas. 8. Kelompok Jabatan Fungsional.
Adapun Struktur Organisasi Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas seperti terdapat pada Gambar 3. berikut ini.
Gambar 2.1. Struktur Organisasi Dinas Kehutanan
2.2 Sumber Daya SKPD
a. Sumber Daya Manusia dan Sarana Prasarana
Kondisi Sumber Daya Manusia pada Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas sampai dengan sekarang adalah sebanyak 69 orang. Sedang berdasarkan tempat kerja PNS di lingkup Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas sebanyak 61 orang, di UPT Dinas Kehutanan sebanyak 8 orang yang tersebar di 3 UPT.
Sedangkan keadaan PNS berdasarkan golongan terdiri dari golongan IV sebanyak 7 orang, Golongan III sebanyak 47 orang, Golongan II sebanyak 14 orang dan Golongan I sebanyak 1 orang. Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan formal, untuk S2 sebanyak 2 orang, S1 sebanyak 38 orang, D3 sebanyak 2 orang, SLTA sebanyak 26 dan SLTP sebanyak 1 orang. Sedangkan sarana dan prasarana yang ada di Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas yang dipergunakan dalam rangka memperlancar pelaksanaan kegiatan terdiri dari :
Kendaraan Roda 4 : 3 Unit Kendaraan Roda 2 : 33 Unit
GPS : 28 Unit Komputer : 19Unit Laptop : 24 Unit Handytalkie : 10 unit Kompas : 5 unit Altimeter : 1 unit Rangefinder : 2 unit Tabung Damkar : 10 unit
Tangga : 2 unit
Handycam : 1 unit
Senjata api : 22 pucuk, terdiri dari senjata genggam sebanyak 3 pucuk, senjata api pinggang sebanyak 19 pucuk.
b. Persemaian Permanen
Persemaian permanen yang dimilik terletak di Desa Babat Kecamatan STL Ulu Terawas seluas + 0,8 Ha dengan kapasitas produksi 100.000 batang/th. Produksi bibit selain untuk memenuhi kebutuhan bibit Dinas Kehutanan sendiri, juga untuk memenuhi permintaan instansi lainnya.
c. Hutan Adat Bulian
Hutan Adat Bulian seluas + 34 Ha terletak di Desa Beliti jaya 3E Kecamatan Muara Kelingi yang didominasi jenis Eusideroxylon swageri dengan nama daerah bulian/ulin.
d. Kondisi Hutan dan Kehutanan Saat Ini 1. Luas Kawasan dan Fungsi Hutan
Kabupaten Musi Rawas dengan luas wilayah Kabupaten seluas + 635.727,66 ha mempunyai kawasan hutan seluas + 277.274,98 ha
(43,61%) dari luas wilayah kabupaten sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 822/Kpts-II/2013 Penunjukan Kawasan Hutan dan
Perairan di Wilayah Sumatera Selatan dengan perincian fungsi kawasan hutan di wilayah Kabupaten Musi Rawas sebagai berikut :
a. Kawasan Budidaya
o Hutan Produksi : 175.702,64 ha
o Hutan Produksi Terbatas (HPT) : 4.487,46 ha o Hutan Produksi yang dapat dikonversi : 25.487,94 ha
Jumlah a……… 205.678,04 ha
b. Kawasan Non Budidaya
o Hutan Konservasi (TNKS) / HSA : 70.726,71 ha
o Hutan Lindung : 870,23 ha
Jumlah b……… 71.596,94 ha
Tabel 2.1 Rincian Luas Kawasan Hutan di Kabupaten Musi Rawas
No Jenis Luas (Ha) Lokasi
1. Hutan Konservasi/ TNKS 70.726,71 Kec. Terawas dan Kec. Selangit
2. Hutan Lindung 870,23
- HL Bukit Cogong I 285,56 Kec. STL Ulu Terawas - HL Bukit Cogong II 563,58 Kec. STL Ulu Terawas - HL Bukit Botak 21,09 Kec. STL Ulu Terawas 3. Hutan Produksi 175.702,64
- HP Lakitan Utara I 7.750,20 Kec. Megangsakti - HP Lakitan Utara II 1.356,92 Kec. Megangsakti - HP Lakitan Selatan 21.256,75 Kec. Megangsakti
- HP Benakat Semangus 138.838,21 Kec. BTS Ulu, Muara Lakitan - HP Kungku 6.500,56 Kec. Jayaloka, Sukakarya 4. Hutan Produksi Terbatas 4.487,46
- HPT Bk. Hulu Tumpah 4.029,59 Kec. Selangit - HPT Lakitan Utara 457,87 Kec. Megang Sakti 5. Hutan Produksi Konversi 25.487,93
- HPK. Kelingi 9.785,03 Kec. Ma. Kelingi, Ma. Lakitan - HPK. Semangus 13.789,14 Kec. Ma. Kelingi, Ma. Lakitan - HPK. Air Balui 1.913,76 Kec. Ma. Lakitan
2. Tata Hidrologi
Kabupaten Musi Rawas merupakan wilayah hulu dari kawasan lainnya dalam satu kesatuan Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi yang terbagi ke dalam Sub DAS Baung, Musi Hulu, Kikim, Semangus, Rawas, Lakitan, Kelingi, Deras, Lematang, Medak. Yang kondisinya terdiri dari sungai besar dan anak sungai dengan masyarakat rata-rata menempati daerah sekitar sungai tersebut. Sehingga sungai memiliki peranan yang penting dalam roda kehidupan masyarakat baik sebagai pemenuhan kebutuhan air, jalan transportasi maupun sumber mata pencaharian.
Gambar 2.2. Peta Kawasan Hutan Kab. Musi Rawas
2.3. Kinerja Pelayanan SKPD
Berdasarkan hasil-hasil pelaksanaan pembangunan selama periode 2011 sd. 2015 terdapat Indikator kinerja yang tercapai namun juga ada beberapa target kinerja yang tidak tercapai. Lebih lengkap, kinerja pelayanan SKPD dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. Capaian kinerja Renstra yang lalu
No. Misi Indikator Kinerja Target Realisasi Keterangan
1. Mewujudkan Pemantapan dan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan dalam mendukung Perekonomian Daerah
Persentase jumlah kawasan hutan yang mantap dan baik fungsi, batas maupun luasannya
minimal 50% luas
kawasan hutan 87,43% Sisa kawasan hutan yang belum ditata batas adalah kelompok HP Benakat Semangus dan HP Kungku Kawasan hutan tersedia data dan
informasinya
50 % kawasan hutan tersedia data dan informasinya
20% Dari 21 Kelompok Hutan sd. Tahun 2010 baru 4 kawasan hutan yang telah diinventarsaisasi Persentase peningkatan jumlah
produktivitas hasil hutan dalam peningkatan perekonomian daerah berupa Retribusi, Sumbangan Pihak Ketiga dan PSDH
sebesar 10 % per
tahun. 10 % Apabila dilihat dari realisasi dari tahun 2008 sd. 2010 kenaikan 10% tercapai namun apabila dilihat dari awal pelaksanaan Renstra terjadi penurunan PAD Sektor kehutanan sebesar 55,8% hal ini disebabkan oleh menurunnya produksi kayu
2. Meningkatan Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan sebagai Penyangga Wilayah Agraris
Berkurangnya kerusakan sumber
daya hutan sebesar 10 % per tahun 10 %
Terjaganya hutan adat bulian Seluas 34 Ha 34 Ha Hutan Adat Bulian tetap terjaga melalui pembangunan pos jaga kehutanan, jalan pengawasan dan penempatan petugas pengamanan di sekitar areal kawasan hutan adat jumlah penambahan perlindungan
daerah tangkapan air seluas
25 ha per tahun - 3. Meningkatkan Upaya Rehabilitasi
Sumber Daya Hutan dan Lahan Adanya rehabilitasi lahan dengan luasan minimal 10 % dari lahan kritis prioritas 1 dan 2 di luar TNKS
- Kegiatan rehabilitasi yang dilaksanakan pada lahan di luar kawasan hutan, sedangkan di dalam kawasan hutan dilakansakan melalui program Hutan Tanaman Industri yang sampai dengan tahun 2010 terdapat 5 (lima) unit ijin 4. Meningkatkan Peran Serta
Masyarakat dalam Pengelolaan dan Pembangunan Kawasan Hutan
Penambahan kegiatan masyarakat
di dalam dan di luar kawasan hutan 5 paket 5 paket Untuk memenuhi target tersebut dilaksanakan berbagai kegiatan yaitu : 1) Pengolahan Kelapa 2)Jasa wisata alam 3) Reboisasi 4) Hutan Rakyat dan 5) KBD dan KBR
Selain capaian kinerja di atas, beberapa capaian pembangunan di bidang kehutanan yang berhasil dicapai sebagai berikut :
a. Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Rakyat
Hutan Tanaman di Kabupaten Musi Rawas terdapat di Kelompok Hutan Benakat Semangus yang dikelola oleh PT. Musi Hutan Persada dengan jenis Acacia mangium, sedangkan Hutan Rakyat yang dikelola oleh pihak swasta yaitu oleh PT. Xylo Indah Pratama dengan komoditi kayu pulai, sedangkan hutan rakyat yang lainnya merupakan bantuan dari dana pemerintah yang diberikan kepada masyarakat. Adapun Pembangunan Hutan Tanaman sampai dengan tahun 2010 secara rinci seperti terdapat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.3. Hutan Tanaman di Kabupaten Musi Rawas
No. Nama Perusahaan Penetapan Luas (Ha) Kelompok Hutan 1. PT. Musi Hutan Persada SK. No :
38/Kpts-II/1996 70.000 HP. Benakat Semangus 2. PT. Sumatera Prima Fibreboard SK. No. : 379/Menhut-II/2009 7.055 HP. Benakat Semangus 3. PT. Paramitra Mulia Langgeng SK. No. : 378/Menhut-II/2009 25.063 HP. Lakitan Utara 4. PT. Bumi Sriwijaya Sejahtera SK. No. : 686/Menhut-II/2009 29.010 HPT. Meranti Hulu S. Kapas 5. PT. Persada Karya Kahuripan SK. No. : 606/Menhut-II/2009 48.347 HPT. Rawas Lakitan, HPT. Rawas Utara I dan II
Sumber data : Data Strategis Dinas Kehutanan Tahun 2010
b. Hasil Hutan
Hasil hutan Kabupaten Musi Rawas baik hasil non kayu maupun kayu dalam jangka waktu tiga tahun terakhir, kayu-kayu tersebut sebagian berasal dari luar kawasan hutan (hutan rakyat) dan dari hutan tanaman dengan perkembangan produksi kayu bulat seperti pada tabel 2.4 berikut ini.
Tabel 2.4. Perkembangan Produksi Kayu Bulat di Wilayah Kabupaten Musi Rawas
No. Tahun Kayu Bulat (m3) Kayu Lapis (m3) Kayu Gergajian (m3) Keterangan 1. 2. 3. 4. 5. 2006 2007 2008 2009 2010 683.363,99 393.889,63 162.847,85 798.898,65 792.420,22 - - - - - - - - - -
Sumber data : Data Strategis Dinas Kehutanan Tahun 2010
c. Penerimaan PSDH , DR, Retrbusi dan Sumbangan
Penerimaan Negara bukan pajak yang berasal dari Dana Reboisasi (DR) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) wilayah Kabupaten Musi Rawas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan perincian seperti terdapat pada Tabel .2.5.
Tabel 2.5. Penerimaan DR ,PSDH, Retribusi dan Sumbangan di Kabupaten Musi Rawas
Jenis Penerimaan Tahun Peneriman
2006 2007 2008 2009 2010 1. PS DH (Rp) 679.247.560,60 717.728.449,36 636.062.522,44 1.682.513.784,54 2.156.426.265,- 2. DR ( $ ) 2.618,50 0 0 0 61.739,42 3. Retr ibusi (Rp) 57.500.000,- 137.500.000,- 60.000.000,- 31.000.000,- 45.000.000,- 4. Su mbangan Pihak ketiga (Rp) 1.035.577.155,- 806.634.128,- 500.352.025,- 603.760.893,- 554.429.510,- 5. Lain -lain 0 0 0 0 11.327.500,- Sumber data: Bidang Bina Produksi Hasil Hutan
BAB III. ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS
DAN FUNGSI
3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten antara lain :
1. Penyelenggaraan inventarisasi hutan produksi dan hutan lindung dan skala DAS dalam wilayah kabupaten/kota;
2. Pengusulan penunjukan kawasan hutan produksi, hutan lindung, kawasan pelestarian alam, kawasan suaka alam dan taman buru
3. Pengusulan pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus untuk masyarakat hukum adat, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan kehutanan, lembaga sosial dan keagamaan untuk skala kabupaten/kota dengan pertimbangan gubernur.
4. Pengusulan perubahan status dan fungsi hutan dan perubahan status dari lahan milik menjadi kawasan hutan, dan penggunaan serta tukar menukar kawasan hutan;
5. Pertimbangan penyusunan rancang bangun dan pengusulan pembentukan wilayah pengelolaan hutan lindung dan hutan produksi, serta institusi wilayah pengelolaan hutan.
6. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan jangka panjang unit KPHP.
7. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan jangka menengah unit KPHP.
8. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan jangka pendek unit KPHP.
9. Pertimbangan teknis pengesahan rencana kerja usaha dua puluh tahunan unit usaha pemanfaatan hutan produksi
10. Pertimbangan teknis pengesahan rencana kerja lima tahunan unit pemanfaatan hutan produksi.
11. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan tahunan (jangka pendek) unit usaha pemanfaatan hutan produksi.
12. Pertimbangan teknis untuk pengesahan, dan pengawasan pelaksanaan penataan batas luar areal kerja unit pemanfaatan hutan produksi dalam kabupaten/kota
13. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaaan dua puluh tahunan (jangka panjang) unit KPHL.
14. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan lima tahunan (jangka menengah) unit KPHL
15. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan tahunan (jangka pendek) unit KPHL.
16. Pertimbangan teknis pengesahan rencana kerja usaha (dua puluh tahunan) unit usaha pemanfaatan hutan lindung
17. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan lima tahunan (jangka menengah) unit usaha pemanfaatan hutan lindung.
18. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan tahunan (jangka pendek) unit usaha pemanfaatan hutan lindung.
19. Pertimbangan teknis pengesahan penataan areal kerja unit usaha pemanfaatan hutan lindung kepada provinsi.
20. Pertimbangan teknis rencana pengelolaan dua puluh tahunan (jangka panjang) unit KPHK.
21. Pertimbangan teknis rencana pengelolaan lima tahunan (jangka menengah) unit KPHK.
22. Pertimbangan teknis rencana pengelolaan jangka pendek (tahunan) unit KPHK.
23. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan jangka panjang (dua puluh tahunan) untuk cagar alam, suaka margasatwa,
taman nasional, taman wisata alam dan taman buru skala kabupaten/kota
24. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan jangka menengah untuk cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam dan taman buru skala kabupaten/kota
25. Pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan jangka pendek untuk cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam dan taman buru skala kabupaten/kota
26. Pengelolaan taman hutan raya, penyusunan rencana pengelolaan dan penataan blok (zonasi) serta pemberian perizinan usaha pariwisata alam dan jasa lingkungan serta rehabilitasi di taman hutan raya skala kabupaten/kota.
27. Penyusunan rencana-rencana kehutanan tingkat kabupaten/kota. 28. Penyusunan sistem informasi kehutanan (numerik dan spasial) tingkat
kabupaten/kota.
29. Pertimbangan teknis kepada gubernur untuk pemberian dan perpanjangan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu serta pemberian perizinan usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu pada hutan produksi kecuali pada kawasan hutan negara pada wilayah kerja PERUM Perhutani.
30. Pemberian perizinan pemungutan hasil hutan kayu dan pemungutan hasil hutan bukan kayu pada hutan produksi skala kabupaten/kota kecuali pada kawasan hutan negara pada wilayah kerja PERUM Perhutani.
31. Pemberian izin usaha pemanfaatan kawasan hutan dan jasa lingkungan skala kabupaten/kota kecuali pada kawasan hutan negara pada wilayah kerja PERUM Perhutani.
32. Pertimbangan teknis pemberian izin industri primer hasil hutan kayu 33. Pengawasan dan pengendalian penatausahaan hasil hutan skala
kabupaten/kota.
34. Pemberian perizinan pemanfaatan kawasan hutan, pemungutan hasil hutan bukan kayu yang tidak dilindungi dan tidak termasuk ke dalam
Lampiran (Appendix) CITES, dan pemanfaatan jasa lingkungan skala kabupaten/kota kecuali pada kawasan hutan negara pada wilayah kerja PERUM Perhutani.
35. Pelaksanaan pemungutan penerimaan negara bukan pajak skala kabupaten/kota.
36. Penetapan lahan kritis skala kabupaten/kota.
37. Pertimbangan teknis rencana rehabilitasi hutan dan lahan DAS/Sub DAS.
38. Penetapan rencana pengelolaan, rencana tahunan dan rancangan rehabilitasi hutan pada hutan taman hutan raya skala kabupaten/kota. 39. Penetapan rencana pengelolaan, rencana tahunan dan rancangan
rehabilitasi hutan pada hutan produksi, hutan lindung yang tidak dibebani izin pemanfaatan/pengelolaan hutan dan lahan di luar kawasan hutan skala kabupaten/kota.
40. Pertimbangan teknis penyusunan rencana pengelolaan, penyelenggaraan pengelolaan DAS skala kabupaten/kota.
41. Pelaksanaan rehabilitasi hutan dan pemeliharaan hasil rehabilitasi hutan pada taman hutan raya skala kabupaten/kota.
42. Pelaksanaan rehabilitasi hutan dan pemeliharaan hasil rehabilitasi hutan pada hutan produksi, hutan lindung yang tidak dibebani izin pemanfaatan/pengelolaan hutan, dan lahan di luar kawasan hutan skala kabupaten/kota.
43. Pertimbangan teknis rencana reklamasi dan pemantauan pelaksanaan reklamasi hutan
44. Penyusunan rencana dan pelaksanaan reklamasi hutan pada areal bencana alam skala kabupaten/kota.
45. Bimbingan masyarakat, pengembangan kelembagaan dan usaha serta kemitraan masyarakat setempat di dalam dan di sekitar kawasan hutan.
46. Penyusunan rencana, pembinaan pengelolaan hutan hak dan aneka usaha kehutanan.
47. Pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan, pemanfaatan, perlindungan dan pengamanan hutan kota.
48. Inventarisasi dan identifikasi serta pengusulan calon areal sumberdaya genetik, pembinaan penggunaan benih/bibit, pelaksanaan sertifikasi sumber benih dan mutu benih/bibit tanaman hutan.
49. Pertimbangan teknis pengusahaan pariwisata alam dan taman buru serta pemberian perizinan pengusahaan kebun buru skala kabupaten/kota.
50. Pemberian perizinan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi dan tidak termasuk dalam Lampiran (Appendix) CITES. 51. Pertimbangan teknis izin kegiatan lembaga konservasi (antara lain
kebun binatang, taman safari) skala kabupaten/kota.
52. Pelaksanaan perlindungan hutan pada hutan produksi, hutan lindung yang tidak dibebani hak dan hutan adat serta taman hutan raya skala kabupaten/kota.
53. Pemberian fasilitasi, bimbingan dan pengawasan dalam kegiatan perlindungan hutan pada hutan yang dibebani hak dan hutan adat skala kabupaten/kota.
54. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kehutanan di tingkat kabupaten/kota dan pemberian perizinan penelitian pada hutan produksi serta hutan lindung yang tidak ditetapkan sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus skala kabupaten/kota
55. Bimbingan, supervisi, konsultasi, pemantauan dan evaluasi bidang kehutanan skala kabupaten/kota.
56. Pengawasan terhadap efektivitas pelaksanaan pembinaan penyelenggaraan oleh desa/masyarakat, kinerja penyelenggara kabupaten/kota dan penyelenggaraan oleh desa/masyarakat di bidang kehutanan.
Permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan berdasarkan kewenangan-kewenangan di atas antara lain :
1. Penyelenggaraan inventarisasi hutan belum pada semua kawasan dilaksanakan karena membutuhkan biaya yang relatif besar guna penyusunan Neraca Sumber Daya Hutan (NSDH);
2. Terdapat kawasan hutan yang tidak berhutan lagi dan telah berubah menjadi perkampungan bahkan telah menjadi desa definitif, kota kecamatan namun statusnya masih berupa kawasan hutan. Hal tersebut salah satu faktor bisa disebabkan karena pada saat penempatan masyarakat trans tidak dibarengi dengan proses pelepasan kawasan hutan;
3. Masih adanya lahan-lahan transmigrasi yang berada dalam kawasan hutan dan statusnya belum dilepaskan. Kasus tersebut relatif banyak terjadi tidak hanya di wilayah Kabupaten Musi Rawas, tetapi juga hampir diseluruh wilayah Indonesia;
4. Adanya Permenhut Nomor P.62/Menhut-II/2008 yang bertentangan dengan PP Nomor 38 Tahun 2007, yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten mempunyai kewenangan memberikan pertimbangan teknis pengesahan rencana pengelolaan tahunan (jangka pendek) unit usaha pemanfaatan hutan produksi, namun pada Unit Manajemen Hutan Tanaman PT. Musi Hutan Persada melaksanakan Self approval berupa pengesahan RKT sendiri tanpa melalui pertimbangan teknis baik dari Pemerintah Daerah Kabupaten maupun Pemerintah Daerah Provinsi;
5. Belum dilaksanakannya tata batas luar areal kerja unit pemanfaatan hutan produksi terhadap izin-izin yang ada. Batas tersebut sebagai pegangan serta kepastian usaha bagi pemegang izin. Namun disebabkan oleh banyak faktor sehingga pemegang izin yang telah ada sejak tahun 1996 sampai saat ini belum bisa melaksanakan tata batas izin usaha dan sampai saat ini masih dalam proses;
6. Tidak dilaksanakannya prosedur pemberian dan perpanjangan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu serta pemberian perizinan usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu pada hutan produksi;
7. Belum ada prosedur tetap tentang pemberian perizinan pemungutan hasil hutan kayu dan pemungutan hasil hutan bukan kayu pada hutan produksi skala kabupaten;
8. Belum efektifnya pengawasan dan pengendalian penatausahaan hasil hutan skala kabupaten;
9. Pelaksanaan pemungutan penerimaan negara bukan pajak skala kabupaten/kota belum maksimal;
10. Penetapan lahan kritis skala kabupaten/kota terkendala pembiayaan dan tenaga teknis;
11. Reklamasi areal bekas tambang belum berjalan;
12. Pengembangan aneka usaha kehutanan belum maksimal;
13. Budaya pembukaan lahan secara pembakaran masih banyak dilakukan oleh masyarakat yang merupakan salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan. Pembukaan lahan melalui pembakaran dipandang sebagai metode yang paling mudah dan murah.
14. Minimnya sarana prasarana perpetaan sehingga berdampak terhadap ketidakteraturan penggunaan lahan di Wilayah Kabupaten Musi Rawas;
15. Minimnya pengetahuan aparat di kecamatan dan desa terhadap hutan dan kehutanan. Dinas Kehutanan telah melaksanakan sosialisasi tentang kawasan hutan kepada pra aparat kecamatan disertai pembagian peta kawasan yang ada di Wilayah Kabupaten Musi Rawas, namun seiring pergantian pejabat kecamatan tanpa adanya transfer pengetahuan tentang kawasan hutan kepada pejabat kecamatan yang lain, sehingga apabila ada pergantian pejabat kecamatan, informasi tentang kawasan hutan terputus.
16. Kelembagaan pengelolaan kawasan hutan pada saat ini belum berjalan secara efektif dan efisien. Beberapa permasalahan di bidang kehutanan timbul antara lain karena belum adanya lembaga pengelola kawasan hutan ini. Selain itu kawasan hutan juga tidak menjadi optimal produktivitasnya, karena belum dikelola secara intensif. Peranan Dinas Kehutanan Kabupaten, pada saat ini lebih bersifat
pengadministrasian kegiatan-kegiatan kehutanan. Lembaga pengelola hutan ini Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) perlu segera ditingkatkan kewenangannnya sebagai lembaga teknis bidang kehutanan. Dalam rangka persiapan pembentukan kelembagaan pengelolaan hutan tersebut telah dimulai dengan pembentukan UPT KPHP baik Lakitan maupun Rawas. Hal ini perlu dukungan dari semua pihak, baik di Pemerintah Daerah Kabupaten, Pemerintah Provinsi maupun pusat.
17. Kebakaran hutan dan lahan selama periode tahun 2005-2010 masih terjadi di wilayah Kabupaten Musi Rawas. Jumlah titik api (hot-spot) selama periode tersebut mencapai 729. titik api dengan luas areal terbakar 3.901hektar. Kejadian kebakaran hutan dan lahan meliputi areal kawasan hutan, perkebunan dan ladang budidaya milik masyarakat. Intensitas kebakaran dan luasan areal yang terbakar cenderung berfluktuatif terutama mengikuti kondisi iklim. Permasalahan kebakaran hutan dan lahan ini akan selalu terjadi, dikarenakan terkait dengan faktor iklim, pengelolaan lahan, kebiasaan masyarakat, serta keterbatasan sumberdaya untuk mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan tersebut. Melihat