• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Pendidikan

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. RPJMD KAB. SIDENRENG RAPPANG i (Halaman 151-156)

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN

A. Indikator Pendidikan

Terkait dengan aspek daya saing sumber daya manusia, angka kependidikan yang terdiri atas angka melek huruf, angka pendidikan yang ditamatkan penduduk dan angka partisipasi menurut kelompok umur adalah instrumen untuk menilai aspek daya saing suatu daerah, seperti yang ditampilkan pada tabel berikut ini :

Tabel 2. 127 Tabel Indikator Pendidikan Tahun 2009 – 2012

No NO URAIAN 2009 2010 2011 2012

1 Angka Melek huruf : 85,71 88,32 88,81 89,64

 Laki-laki 89,35 91,29

 Perempuan 82,07 85,35

2 Pendidikan yang ditamatkan

penduduk usia di atas 10 tahun :

 Tidak/belum tamat SD 35,93 29,57 35,39 21,48

 Tamat SD 28,41 31,59 28,79 35,21

 Tamat SMU/SMA Kejuruan 15,00 16,78 15,29 16,51

 Tamat Diploma I/II 0,41 0,39 0,09 0,36

 Tamat Diploma III/Sarjana Muda

0,73 0,88 0,80 0,73

 Tamat Diploma IV/S1/S2/S3 2,72 3,42 3,83 4,99

3 Angka Partisipasi Sekolah :

 7 – 12 tahun 95,50 95,57 96,49 98,40

 13 – 15 tahun 77,23 76,58 84,68 91,60

 16 – 18 tahun 57,63 48,12 51,03 58,85

 19 – 24 tahun 23,61

Sumber Data : Susenas BPS Tahun 2011 dan 2012

Data menunjukkan bahwa untuk angka melek huruf mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 kenaikan sebesar 0,83, tahun 2011 sebesar 0,49 dan pada tahun 2012 kenaikannya cukup besar yaitu 2,61. Apabila dirata-ratakan sebesar 1,31 pertahunnya. Untuk potensi sumber daya manusia menurut pendidikan yang ditamatkan penduduk diatas 10 tahun masih didominasi oleh penduduk yang tidak tamat sekolah dasar, lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah baik pertama dan atas. Lulusan sekolah menengah kejuruan yang merupakan tenaga kerja siap pakai keluarannya masih sekitar 30,6 persen daripada keluaran sekolah menengah tingkat atas yang tidak dipersiapkan secara maksimal untuk siap pakai diberbagai lapangan pekerjaan.

Hal ini juga menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk terus menerus melalui sosialisai dan upaya lain oleh SKPD terkait lebih memotivasi dan mengarahkan lulusan sekolah menengah pertama sederajat untuk lebih condong melanjutkan pendidikan pada sekolah-sekolah kejuruan. Disamping melaksanakan dan menindaklanjuti program nasional untuk memaksimalkan lulusan sekolah kejuruan juga selaras dengan program pendidikan gratis pemerintah propinsi Sulawesi Selatan dan pemerintah kabupaten Sidenreng Rappang serta menekan jumlah pengangguran dengan ketersediaan tenaga kerja lulusan sekolah kejuruan yang memiliki daya saing.

Selain itu, lulusan diploma I dan II juga terlihat minim jumlah, sementara kita ketahui bersama bahwa keluaran diploma I dan II juga dipersiapkan menurut sistem akademik sebagai tenaga siap pakai. Hal ini telah ditangkap oleh pemerintah daerah sebagai

tantangan dan peluang dengan berusaha menghadirkan akademi komunitas ilmu-ilmu pertanian setingkat diploma II dikabupaten Sidenreng Rappang tahun 2014 ini.

Pengelompokan umur angka partisipasi sekolah tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 mengalami peningkatan setiap tahun. Untuk kelompok umur 16-18 tahun atau usia sekolah menengah tingkat atas pada tahun 2010 dan 2011 data menunjukkan penurunan dan pada tahun 2012 kembali meningkat menjadi 58,85 lebih besar daripada tahun 2009 yang lalu. Pada tahun 2009 sampai 2011 belum tersedia data untuk kelompok umur 19-24 atau untuk usia pendidikan tinggi, barulah pada tahun 2012 telah tersedia data sebesar 23,61 persen.

Untuk melengkapi keadaan SDM menurut jenjang pendidikan, berikut ini juga disajikan table persentase penduduk yang bekerja menurut pendidikan sebagai berikut :

Tabel 2. 128 Persentase penduduk yang bekerja menurut jenjang pendidikan Tahun 2013

Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenjang Pendidikan ( % ) SD Sederajat SMP Sederajat SMU Sederajat SMK Diploma Sarjana 51 17 15 5 2 7

Sumber Data : Dinas Pendidikan Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2014

Terlihat bahwa sebagian besar penduduk kabupaten Sidenreng Rappang yang bekerja masih didominasi oleh lulusan sekolah dasar sederajat yaitu 51 persen atau separuh dari jumlah penduduk yang berkerja. Menyusul lulusan sekolah menengah pertama sederajat sebesar 17 persen, lulusan sekolah menengah atas 15 persen. Selebihnya adalah lulusan SMK sebesar 5 persen, lulusan diploma akademi atau perguruan tinggi sebesar 2 persen atau terkecil jumlahnya dan untuk sarjana dalam hal termasuk S1, S2 dan S3 sekitar 7 persen.

Hal ini menjadin tantangan bagi pemerintah daerah melalui program dan kegiatan peningkatan derajat pendidikan masyarakat yang menjadi prioritas pemerintah daerah dalam rangka mencerdaskan masyarakat dan mempersiapkan masyarakat dengan ilmu dan keterampilan sebagai modal mencari lapangan pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja.

Terkait dengan kemampuan baca tulis juga menjadi aspek yang berhubungan dengan kedua tabel diatas serta dilengkapi dengan data angkatan kerja yang bekerja dan tidak bekerja serta data bukan angkatan kerja berikut ini :

Tabel 2. 129 Tabel Keadaan Penduduk berdasarkan Kemampuan Baca Tulis,,Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja Tahun 2013

Tingkat kepandaian Membaca & menulis

Angkatan kerja Bukan angkatan kerja

Dapat Membaca &

Menulis

Buta Huruf Bekerja Tidak Bekerja Bersekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya 248.343 4.514 101.589 7.347 12.038 52.218 17.037

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2014.

Dari jumlah penduduk tahun 2012 sebesar 277.451 jiwa sebanyak 248.343 jiwa telah dapat membaca dan menulis artinya telah bebas buta huruf latin sebanyak 89,5 persen, tersisa 4.514 jiwa atau 10,5 persen yang belum dapat membaca dan menulis yang umumnya adalah golongan lanjut usia. Untuk angkatan kerja sebanyak 101.589 jiwa yang bekerja atau sebesar 92,77 persen dan sebanyak 7.347 jiwa angkatan kerja yang tidak bekerja atau 7,23 persen dari keseluruhan angkatan kerja tahun 2012. Sementara untuk penduduk bukan angkatan kerja dikelompokkan dalam penduduk yang masih bersekolah atau usia sekolah sebanya 12.038 jiwa, yang mengurus rumah tangga sebanyak 52.218 jiwa dan kelompok lainnya sebanyak 17.037 jiwa.

B. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)

Selain indikator kependidikan, aspek daya saing daerah lainnya adalah rasio ketergantungan

atau dependency ratio suatu daerah. Angka dependency ratio menunjukkan rasio antara penduduk usia tidak produktif (usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun). Berikut ini tersaji angka rasio ketergantungan tahun 2008 sampai 2012.

Tabel 2. 130 Tabel Rasio Ketergantungan Tahun 2008 – 2012

NO. KELOMPOK UMUR TAHUN 2008 2009 2010 2011 2012 1 0-14 Tahun 75,544 76,092 79,832 81,974 81,465 2 15-64 Tahun 161,631 162,802 174,550 177,188 178,103 3 65 Tahun Ke Atas 13,491 13,491 17,514 15,490 17,883 Rasio Ketergantungan 55.09 55.03 55.77 55.01 55.78

Sumber data : SP 2010 dan Susenas BPS Tahun 2011 dan 2012.

Untuk mengetahui ratio ketergantungan suatu daerah maka jumlah penduduknya dibagi atas tiga kelompok umur, yaitu kelompok umur 0-14 tahun sebagai kelompok pertama. Berikutnya kelompok umur 15-64 tahun sebagai kelompok kedua dan ketiga adalah kelompok umur 65 tahun keatas. Jumlah kelompok umur paling besar adalah

kelompok umur 15 sampai 64 tahun atau kelompok umur usia produktif yaitu mulai 161.631 sampai 178.103 jiwa. Selanjutnya kelompok umur 0 sampai 14 tahun sebagai kelompok tidak produktif pada angka 75.544 sampai 81.465 jiwa atau kurang lebih 45 persen dari kelompok umur usia produktif. Dan yang terakhir adalah kelompok umur 65 tahun keatas yang juga digolongkan sebagai kelompok usia tidak produktif sebanyak 13.491 sampai 17.883 jiwa atau kurang lebih 10 persen dari jumlah penduduk usia produktif. Jumlah ketiga kelompok umur tersebut menunjukkan kenaikan setiap tahunnya.

Ratio ketergantungan tahun 2008 sampai 2012 menunjukkan angka yang fluktuatif atau naik turun. Pada tahun 2008 rasio ketergantungan 55,09. Tahun 2009 turun 0.06 menjadi 55,03. Tahun 2010 kembali naik menjadi 55,77 atau naik 0,74 dari tahun 2009. Pada tahun 2011 kembali turun menjadi 55,01 atau turun 0,76. Untuk tahun 2012 kembali naik menjadi 55,78 atau naik 0,77 dari angka tahun 2011.

Angka dependency ratio atau rasio ketergantungan 55,09 pada tahun 2008 memiliki arti bahwa dari setiap 100 orang penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) menanggung sekitar 55,09 penduduk usia tidak produktif (usia 0-15 dan 65 tahun keatas). Tahun 2009 setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung 55,03 penduduk usia tidak produktif. Tahun 2010 dari setiap 100 orang penduduk produktif menanggung 55,77 penduduk tidak produktif. Selanjutnya pada tahun 2011 ditanggung 55,01 penduduk tidak produktif atau rasio terendah untuk lima tahun dan pada tahun 2012 ditanggung 55,78 penduduk tidak produktif atau menjadi rasio ketergantungan penduduk tertinggi tahun 2008 sampai tahun 2012

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. RPJMD KAB. SIDENRENG RAPPANG i (Halaman 151-156)

Dokumen terkait