• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA

1. Indikator Produktivitas

Produktivitas merupakan tidak hanya mengukur tingkat efisiensi tetapi juga mengukur efektivitas pelayanan. Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai rasio antara input dengan output, artinya perbandingan sejauh mana upaya yang dilakukan dengan hasil yang diperolehnya dalam periode tertentu. Hasil yang dicapai dapat berupa barang ataupun jasa tergantung organiasi yang menghasilkannya. Ukuran ini menunjukkan kemampuan organisasi untuk

menghasilkan keluaran yang dibutuhkan oleh masyarakat. produktivitas dijadikan ukuran untuk mengetahui bagaimana kinerja suatu organisasi.

Dalam penelitian ini indikator produktivitas dibahas mengenai sejauh mana kinerja pelayanan Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang dalam melaksanakan sertipikasi tanah Negara melalui Proyek Operasi Nasional Agraria, dapat dilihat dalam suatu proses berjalanannya sebuah kegiatan, yaitu Bagaimana proses penyuluhan atau sosialisasi, target yang dicapai, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Proyek Nasional Agrarian (PRONA).

Untuk mengetahui proses penyuluhan atau sosialisasi, maka peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, beliau merupakan Kordinator Pelaksana Teknis Kegiatan PRONA dan Penyuluh/Sosialisasi, berikut petikan wawancaranya :

“pada proses sosialisasi dilakukan satu kali pertemuan dan kami menerangkan serta menjelaskan tetang persyartan-persyaratan yang pemohon harus melengkapi beberapa persyaratan seperti melampirkan fotocopy KTP, bukti-bukti asli kepemilikan atau perolehan tanah, SPPT/PBB, dan menyerahkan bukti BPHTB dan PPh, kemudian saya menyakinkan kepada masyarakat bahwa PRONA sudah dibiayai oleh DIPA atau aggaran pemerintah kecuali pembiayaan atas materai, pajak, foto copy surat-surat yang berkenaan dengan kepemilikan tanah yang dibebani oleh pemohon” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1) selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan Penyuluh/Sosialisasi PRONA dikantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Gambar 4.4

Foto Saat Penyuluhan Atau Sosialisasi Pelaksanaan PRONA

(Sumber : Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang, 2016)

Pada tahap penyuluhan atau sosialisasi diketahui bahwa dilaksanakan secara langsung, dimana Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang turun langusng ke lokasi pelaksanaan dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat dengan menjelaskan secara rinci mengenai sertipikasi melalui PRONA supaya masyarakat mudah memahami sehingga mau mengikuti program ini.

Untuk mengetahui apakah masyarakat sudah memahami proses pelaksanaan sertipikasi PRONA, melalui tahapan yang dijelaskan pada penyuluhan atau sosialisasi kemasyarakat, maka peneliti juga melakukan denngan peserta PRONA berikut kutipan wawancaranya :

paham kok mba pada saat penyuluhan saya hadir, disana dijelasin cara pensertipikasian tanah, terus pembiayaannya ditanggung oleh BPN kecuali bayar pajak BPHTB, fotocopy surat-surat sama materai itu kita urus dan bayar sendiri, ngejelasin persyaratan apa saja yang harus dikumpulkan” (wawancara dengan Bapak Anton Hadi Prasetyo (I.3.1) selaku peserta PRONA di kediaman beliau di Kelurahan Sukabakti

Kecamatan Curug pada hari sabtu tanggal 28 Mei 2016 pukul 10.00 WIB).

Hal yang berbeda diutarakan peserta PRONA yang lain, berikut kutipan wawancaranya:

pada saat penyuluhan saya tidak hadir, karena penyuluhannya pada jam kerja mba lagi juga saya rasa penyuluhannya membahas garis besarnya saja prosedur dan mekanismenya pembuatan sertipikat” (wawancara dengan Bapak Jaya Kusuma (I.3.2) selaku peserta PRONA di kediaaman beliau di Sukabati Kecamatan Curug pada hari sabtu tanggal sabtu tanggal 28 Mei 2016 pukul 13.00 WIB).

Hal yang berbeda diutarakan peserta PRONA yang lain, berikut kutipan wawancaranya:

pada saat penyuluhan saya tidak hadir karena ada urusan pekerjaan, jadi saya tidak memahami apa saja yang dijelaskan” (wawancara dengan Bapak Dondi Suryandhono (I.2.1.3) selaku peserta PRONA di kediaaman beliau hari minggu tanggal minggu tanggal 29 Mei 2016 pukul 10.00 WIB).

Hal serupa namun sedikit berbeda yang diutarakan oleh peserta PRONA, berikut kutipan wawancaranya:

saya tidak tahu kalau ada penyuluhan, tapi saya tau kalau ada pemutihan untuk pembuatan sertipikat” (wawancara dengan Bapak Suryadi (I.2.1.4) selaku peserta PRONA di kediaaman beliau hari sabtu tanggal minggu tanggal 29 Mei 2016 pukul 13.00 WIB).

Peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Mad Hassan, S.IP, berikut kutipan wawancara :

“saya rasa penyuluhan yang dilakukan BPN masih dirasakan kurang merata, masyarakat masih banyak bertanya kepada pihak desa apa saja persyatan yang harus dikumpulkan dan berapa lama penyelesaiannya” (wawancara dengan Bapak Mad Hassan, S.IP (I..2.2) selaku Staf

Kelurahan Sukabakti di Kantor Pertanahan pada saat mengantar berkas PRONA, pada senin tanggal 23 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Dari kutipan wawancara diatas dapat peneliti simpulkan bahwa adanya proses penyuluhan atau sosialisasi yang dilakukan Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang dalam pelaksanaan PRONA, Tujuan dari penyuluhan atau sosialisai PRONA ini yaitu sasarannya adalah peserta PRONA untuk memahami pelaksananaan kegiatan ini namun pada hasil wawancara kepada para peserta PRONA ada beberapa peserta yang hanya mengikuti saja tanpa memahami kegiatan ini dilihat dari peserta PRONA yang tidak dapat hadir, jadi peneliti simpulkan kurang meratanya penyuluhan dan sosialisasi.

Kemudian peneliti juga melakukan wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, mengenai target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan sertipikasi melalui PRONA, berikut petikan wawancaranya :

dalam sebuah kegiatan tentu saja ada target yang harus tercapai dalam pelaksanaan PRONA ini yaitu kami ingin menjadikan kegiatan ini menjadi pembuka atau gerbang tentang kepastian hukum bagi masyarakat yang ada di Kabupaten Tangerang dengan mendaftarkan tanahnya kepada Kantor Pertanahan, tapi dari target yang akan dicapai ada beberapa kendala dalam pelaksanaan PRONA ini yang mengahambat kinerja kami” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1) selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan Penyuluh/Sosialisasi PRONA di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Pada pencapaiannya pelaksana sertipikasi tanah Negara melalui PRONA, dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

Tabel 4.2

Target PRONA Tahun 2014-2015

No KEGIATAN TARGET REALISASI

1 PRONA 2014 720 570

2. PRONA 2015 131 55

(Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang, 2016)

Berdasarkan tabel diatas target yang ingin dicapai berdasarkan jumlah bidang tanah yang akan disertipikatkan melalui PRONA masih belum terealisasi, dan untuk mengetahui mengapa dari target tersebut belum teralisasi dikarenakan kendala, peneliti melakukan wawancara mengeani kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan PRONA, berikut petikan wawancaranya :

setiap kegiatan pasti ada hambatan dan kendala dalam pelaksanaan PRONA kendalanya adanya tanah yang overlap dan para peserta PRONA tidak bersedia membayar BPHTB kemudian mengundurkan diri” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1)

selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan

Penyuluh/Sosialisasi PRONA dikantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB). Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan yang disampaikan, oleh Bapak Wakima, berikut petikan wawancaranya :

“pada saat pengumpulan data dan pengelola data, kendalanya yaitu terjadinya overlap, tidak bisa memberikan SPP-BPHTB, karena mutlak kalau tanah negara pemohon berkewajiban harus membayar SPP-BPHTB walau nanti jumlahnya nol rupiah, terus penyerahan kekurangan persyataran yang lama” (wawancara dengan Bapak Wakima (I.1.2.2) selaku pengumpul dan pengelola data yuridis di Kantor

Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2016 pukul 13.00 WIB).

Peneliti juga melakukan wawancara dengan Bapak Mustar, berikut kutipan wawancaranya :

kendalanya tuh seperti tanah sudah dijual pada saat pembuatan sertipikat, tidak membayar SSP-BPHTB, luasnya tidak mau kurang misalnya uda diukur ternyata ada kurang luas terkadang pemohon tidak mau, AJB (akta jual beli) di Bank, dan penyerahan kekurangan persyataran yang lama” (wawancara dengan Bapak Mustar (I.1.2.1) selaku pengumpul dan pengelola data yuridis di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Peneliti juga melakukan wawancara dengan Bapak Tetetng Iriandi, berikut kutipan wawancaranya :

kendalanya saat memohon tanah yang dimohon ternyata sudah dijual kepihak yang lain, atau tanah sudah dijual tetapi tidak dibuatkan bukti penjualan untuk memohon prona memakai nama yang pemilik lama”” (wawancara dengan Bapak Teteng Iriandi (I.1.3) selaku Pemeriksa Tanah (Panitia A) di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2016 pukul 10.00 WIB).

Peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Mad Hassan, S.IP, berikut kutipan wawancara :

“kendalanya, seperti ini contohnya tanah yang didaftar adalah tanah perorangan, setelah di cek ternyata tanah tersebut sudah menjadi atas nama PT, kemudian pemohon yang mengundurkan diri karena tidak sanggup membayar BHTB dan penunjukan bukti riwayat tanahnya yang kurang jelas” (wawancara dengan Bapak Mad Hassan, S.IP (I..2.2) selaku Staf Kelurahan Sukabakti di Kantor Pertanahan pada saat mengantar berkas PRONA, pada senin tanggal 23 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Dari kutipan wawancara diatas dapat peneliti simpulkan banyaknya hambatan atau kendala yang dirasakan petugas pelaksana PRONA, yaitu selain kekurangan persyaratan yuridis yang lambat diserahkan kembali ke petugas, permasalah tumpang tidih kepemilikan tanah yang menjadi masalah serius dengan kendala-kendala seperti ini dapat memperlambat penyelesaian PRONA yang ditargetkan harus segera selesai.

Maka dapat tarik kesimpulan dari beberapa temuan fakta-fakta yang dikemukakan oleh para informan atau narasumber diatas, tentang pelaksanaan sertipikasi tanah Negara melalui PRONA berdasarkan indikator produktivitas belum terlaksana optimal, karena dalam Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 2015, tentang Program Nasional Agraria (PRONA), tidak menjelaskan standar operasional prosedur untuk pelaksanaan PRONA namun hanya menjelaskan tahap-tahap pelaksanaannya, jadi tidak ada ketentuan berapa kali harus diadakan penyuluhan atau sosialisasi, namun dilihat dari anggaran dan waktu penyelesaian yang dituntut cepat, Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang hanya melakukan satu kali pertemuan untuk penyuluhan atau sosialisasi, dan menganggap pada saat petemuan penyuluhan sudah terasa jelas dan masyarakat dapat memahami, namun pada hasil wawancara kepada peserta PRONA meraka masih kurang memahami pelaksanaan PRONA.

Kemudian Target yang dicapai dalam pelasksanaan sertipikasi melalui PRONA belum teralisasi karena adanya kendala seperti kurang meratanya penyuluhan yang mengakibatkan peserta kurang tahu persyaratan apa saja yang

dikumpulkan sehingga lambat diserahkan kepetugas pengelola data dan terdapat tanah yang bermasalah seperti tumpang tindih kepemilikan tanah, hal ini juga menjadi tangung jawab pengumpulan data yuridis sebagai quality control terhadap persyaratan peserta PRONA.

Tabel 4.3

Indikator Produktivitas Indikator Temuan Lapangan

Produktivitas - Kurang meratanya Penyuluhan atau

sosialiasi, dikarenakan sosialisasi hanya dilakukan satu kali pertemuan.

- Target yang belum terealisasikan.

- Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan PRONA kekurangan persyaratan yuridis yang lambat diserahkan kembali kepetugas pengelola data dan permasalah tumpang tidih kepemilikan atau tanah overlap

(Sumber : Peneliti 2016) 2. Indikator Kualitas Layanan

Isu mengenai kualitas layanan cenderung semakin menjadi penting dalam menjelaskan kinerja organisasi pelayanan publik. Banyak pandangan negatif yang terbentuk mengenai organisasi publik muncul karena ketidakpuasan masyarakat terhadap kualitas layanan yang diterima dari organisasi publik. Kepuasan masyarakat bisa menjadi parameter untuk menilai kinerja organisasi publik.

Dalam hal ini kualitas layanan yang diberikan Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang kepada masyarakat dengan melaksanakan PRONA, sehingga masyarakat mendapat pelayanan untuk memproses pesertipikatan tanah

secara masal, dan dapat kejelasan ketepatan waktu. Untuk melihat kulitas layanan yang diberikan petugas pelaksana PRONA, peneliti melihatnya dari Apakah penyelesaian sudah tepat waktu.

Untuk mengetahui apakah penyelesaian pelaksanaan sertipikasi tanah Negara melalui PRONA sudah tepat waktu, maka peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, berikut petikan wawancaranya :

“kegiatan PRONA di Kabupaten Tangerang ini target pengerjaan dan waktu penyelesaiannya yang ditentukan dari pusat dan dipilih per kecamatan oleh pihak kanwil, kemudian dibagi-bagi lagi oleh kantor pertanahan kota atau kabupaten perdesa atau kelurahan, dan target penyelesaiannya satu tahun anggaran, untuk kabupaten tangerang sendiri untuk tanah Negara tahun yaitu 2014 yaitu 720 bidang hanya di Kelurahan Sukabakti, sedangkan untuk tahun 2015 yaitu 131bidang teridiri dari Desa Babakan, Kelurahan Sukabati dan Desa Munjul dan dari jumlah bidang tanah tersebut ada beberapa yang belum terselesaikan dikarenakan adanya kendala yang tadi saya utarakan” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1) selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan Penyuluh/Sosialisasi PRONA dikantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Mustar, untuk mengetahui ketepatan waktu dalam penyelesaian sertipikasi melalui PRONA, berikut kutipan wawancara :

“bisa dikatakan kurang tepat waktu ya, karena untuk tahun 2014 data yuridis yang didaftarkan calon peserta prona target yang ditetapkan kepada saya ada 240 bidang dan yang diolah datanya hingga jadi sk penetapan pemberian hanya 237orang/bidang, untuk sisanya 8 orang dipending dulu karena masih kurang persyaratannya, kemudian sk pemberian haknya itu di daftarkan untuk penerbitan sertipikat namun saat proses penerbitan 3bidang yang belum jadi karena masih tersendat di subsi pengukuran untuk cetak gambar dan surat ukurnya, dan 231

sertipikat sudah dibagikan namun tidak secara berbarengan, karena ketentuan tanah Negara kan harus bayar BPHTB” (wawancara dengan Bapak Mustar (I.1.2.1) selaku pengumpul dan pengelola data yuridis di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Kemudian peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Johan, SH berikut kutipan wawancara :

“setelah terbit surat keputusan penetapan pembarian hak maka langkah selanjutnya menyiapkan blangko sertipikat untuk penerbitan, untuk PRONA tahun 2014 di Kelurahan Sukabakti sebanyak 579 bidang data

yang saya terima dari pengelola data, hingga saat ini untuk 9 bidang penyelesaian sertipikatnya karena kekurangan administrasi

dan beberapa terindikasi adanya overlap” (wawancara dengan Bapak Johan, SH (I.1.4) selaku Penerbitan Sertipkan dengan Menyiapkan Blangko sertipikat di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2016 pukul 14.00 WIB).

Kemudian peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Dondi Suryandhono, berikut kutipan wawancara :

“saya ikut PRONA dari 2015 sampe sekarang belum diserahkan sertipikatnya, katanya masih dalam pencetakan sertipakat” (wawancara dengan Bapak Dondi Suryandhono (I.3.3) selaku peserta PRONA di kediaman beliau pada sabtu tanggal 16 Juli 2016 pukul 10.00 WIB). Dari kutipan wawancara diatas dapat peneliti simpulkan bahwa pelaksanaan PRONA belum tepat waktu, dilihat dari target awal kemudian penyelesaian dan penyerahan yang lamban, dikarenakan ketidak sinkronananya pengerjaan PRONA, yang mana seharusnya pengerjaan PRONA setelah pengumpulan data yuridis, kemudian adanya pengukuran tanah kemudian terbitnya peta bidang tanah maka harusnya langsung dikerjakan pembuatan Risalah Panitia Pemeriksaan Tanah “ A” sampai pembuatan surat keputusan

pemberian haknya, namun pada pengerjaannya semua terlihat sudah selesai hingga kepenerbitan sertikpikat untuk bahan laporan ke Kantor Pertanahan Provinsi Banten, bahwa sertipikat telah mencapai target, namun pada kenyataan pengerjaanya fisiknya banyak yang belum selesai sehingga belum sampainya sertipkat kepeserta PRONA. Seharusnya pengerjaan PRONA diikuti dengan penyerahan fisik berupa sertipikat kepada masyarakat, sehingga dapat dilihat kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat atau peserta PRONA tidak berjalan optimal.

Tabel 4.4

Indikator Kualitas Layanan

Indikator Temuan Lapangan

Kualitas Layanan - Belum tepat waktunya penyelesaian

karena tidak ada kesinkronan pengerjaan dan penyerahan, dilihat dari sisi penyerahan sertipikat yang belum semua sertipikat diserahkan kepada masyarakat atau peserta PRONA.

(Sumber : Peneliti 2016) 3. Indikator Responsivitas

Responsivitas merupakan kemampuan birokrasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, dan mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Responsivitas dimaksudkan sebagai salah satu indikator kinerja karena responsivitas secara langsung menggambarkan kemampuan birokrasi publik dalam menjalankan misi dan tujuannya, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Responsivitas suatu hal yang penting dalam sebuah organisasi publik, dimana oraganisasi publik yang baik jika mempunyai responsivitas (daya tanggap) yang tinggi mampu mengatasi terhadap permasalahan dan keluhan masyarakat. Untuk mengetahui apakah petugas pelaksana mampu menganggapi segala permasalahan dan keluhan, dapat dilihat dari wawancara peneliti dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, berikut petikan wawancaranya :

“kalau ada keluhan, kita tampung dulu apa saja keluhannya, nanti saat rapat kordinasi PRONA keluhan tersebut dibicarakan dan dicari jalan keluarnya” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1) selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan Penyuluh/Sosialisasi PRONA dikantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Dapat peneliti simpulkan, jika ada keluhan dari masyarakat peserta PRONA, Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang sebagai pelaksana PRONA sangat merespon keluhan – keluhan masyarakat. Masyarakat atau peserta PRONA juga merespon baik atas kegiatan PRONA ini, berikut wawancara peneliti dengan Peserta PRONA, berikut kutipan wawancaranya :“kegiatan PRONA ini sangat bagus saya gak usah mahal-mahal sama gak usah cape-cape ngurus sertipikat, dan terbilang lumayan cepet ya soalnya biasanya yang saya tahu ngurus sertipikat itu lama sampe bertahun-tahun” (wawancara dengan Bapak Anton Hadi Prasetyo (I.3.1) selaku peserta PRONA di kediaman beliau di Kelurahan Sukabakti Kecamatan Curug pada hari sabtu tanggal 28 Mei 2016 pukul 10.00 WIB).

Untuk menyelesaikan permasalahan atau kendala-kendala yang terjadi pada saat pelaksanaan PRONA, maka peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, berikut petikan wawancaranya :

kendalanya apa dulu kalau serperti yang saya utarkan adanya overlap, dari pihak BPN harus mencari tahu siapakah pemilik tanah yang benar, kalau tanah tersebut sudah atas nama PT, kita pending dulu sertipikat tidak dilanjutkan sementara, kalau permasalahannya tidak mau membayar BPHTB mau tidak mau kita tukar pemohon yang mau dan bersedia dan calon pemohon baru itu harus ngumpulin data yuridis kembali, pokoknya kalau ada permasalahan sertipikat sudah jadi tapi terjadi hal-hal seperti itu sertipikatnya tidak diserahkan” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1) selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan Penyuluh/Sosialisasi PRONA dikantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB)

Peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Wakima berikut kutipan wawancara :

“biasanya kalau ada kendala kaya operlap pekerjaannya di tunda dulu, nanti kalau uda jelas pemiliknya yang benar yang mana baru dilajut, kalau belum bayar BPHTB sertipikat yang sudah jadi tidak diserahkan, karena mutlak harus melampirkan BPHTB” (wawancara dengan Bapak Wakima (I.1.2.2) selaku pengumpul dan pengelola data yuridis di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari Jum’at tanggal 27 Juni 2016 pukul 12.30 WIB).

Kemudian peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Teteng Iriandi berikut kutipan wawancara :

“kalau overlap biasanya tidak diteruskan, kalau lamanya pengumpulan data kekeurangan saya samperin ke desa, kalau belum bayar BHTTB sertipikatnya tidak diserahkan, kesepakatan kami dalam rapat juga seperti itu” (wawancara dengan Bapak Teteng Iriandi (I.1.3) selaku Pemeriksa Tanah (Paniti A) di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 2016 pukul 10.00 WIB)..

Peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Madyani. P berikut kutipan wawancara :

“kalau kendalanya tidak lengkapnya pada pemberkasan, selalu dikordinasikan kepada pemohon atau kekordinator pengumpul data di desa, nah kalau kelamaan gak diserahkan biasanya kami akan mengganti pemohon soalnya masih banyak yang mau ikut PRONA ini” (wawancara dengan Bapak Madyani. P (I.2.1) selaku Kepala Desa Munjul di kediaman beliau pada sabtu tanggal 16 Juli 2016 pukul 12.00 WIB). Dari kutipan wawancara dari beberapa narasumber diatas dapat peneliti simpulkan bahwa petugas pelaksana PRONA memberikan tanggapan atas kendala-kendala yang sering terjadi dalam pelaksanaan PRONA, namun petugas pelaksana prona dan perangkat desa hanya menanggapi tidak ada kejelas atas tanah tentang yang overlap kapan harus diselesaikan dan kapan harus diindentifikasikan permasalahannya.

Tabel 4.5

Indikator Responsivitas

Indikator Temuan Lapangan

Responsivitas - Pelaksana PRONA hanya menanggapi

tidak ada kejelas atas tentang tanah yang overlap kapan harus diselesaikan dan kapan harus diindentifikasikan permasalahannya.

(Sumber : Peneliti 2016) 3. Indikator Responsibilitas

Responsibilitas merupakan kemampuan organisasi untuk mengatur sejauhmana pemberian layanan telah berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang diberlakukan atau prosedur yang telah di atur. Responsibilitas mengukur tingkat

pastisipasi pemberi layanan melaksanakan tugasnya. Responsibilitas adalah ukuran yang menunjukkan sejauh mana proses pemberian pelayanan publik dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip atau ketentuan-ketentuan administrasi dan organisasi yang benar telah ditetapkan.

Untuk mengetahui apakah petugas pelaksana PRONA mampu mendungkung berjalannya PRONA, dapat dilihat dari wawancara peneliti dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, berikut petikan wawancaranya :

“saya rasa sudah ya, kalau belum tidak mungkin PRONA dikerjakan, adanya kendala itu kan hanya bagian kecil dari pekerjaan saja, tidak menunda pekerjaan yang besarnya” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1) selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan Penyuluh/Sosialisasi PRONA dikantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Kemudian peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Mad Hasan, S.I.P berikut kutipan wawancara :

“sudah kok mba, karena setiap petugas mengerjakan bagiannya masing-masing” (wawancara dengan Bapak Mad Hassan, S.IP (I.2.2) selaku Staf Kelurahan Sukabakti pada sabtu tanggal 23 Mei 2016 pukul 12.00 WIB). Hal yang serupa namun sedikit berbeda diungkapkan oleh Bapak Bror, berikut petikan wawancaranya :

“Saya rasa sudah mba, meraka juga komperatif banget buat bareng-bareng ngumpulin data” (wawancara dengan Bapak Bror (I.2.3) selaku RT Sukabakti di Kantor Pertanahan saat mengantar salah satu pemohon untuk mengambil sertipikat pada hari senin tanggal 25 Juli 2016 pukul 11.30 WIB).

Untuk mengetahui apakah pelaksaan PRONA dapat mengganggu pelasanaan pekerjaan yang lain, dapat dilihat dari wawancara peneliti dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, berikut petikan wawancaranya :

selama ini berjalan dengan baik antara tugas pokok dengan program-program yang dijalankan kantor” (wawancara dengan Bapak Wismar Sawirudin, BA, SH, (I.1.1) selaku Koordinator Pelaksana Teknis Kegiatan dan Penyuluh/Sosialisasi PRONA dikantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada hari kamis tanggal 26 Mei 2016 pukul 12.00 WIB).

Kemudian peneliti juga melakukan wawancaran dengan Bapak Mustar berikut

Dokumen terkait