• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia Economic Condition Resulting from Global Economic Crisis

Krisis keuangan global yang dimulai dari Amerika Serikat telah mempengaruhi pasar modal dan pasar keuangan di Indonesia, ditandai antara lain dengan melemahnya nilai tukar mata uang Rupiah, penurunan permintaan dan nilai pasar komoditas ekspor, penurunan nilai pasar saham dan surat berharga, serta kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut telah mengakibatkan berkurangnya likuiditas, terbatasnya penyediaan kredit serta menurunnya pertumbuhan ekonomi. Memburuknya kondisi ekonomi tersebut diperkirakan akan berdampak lebih jauh di berbagai sektor industri dan sektor riil pada tahun 2009.

Global financial crisis that originated from the United Stated has affected the capital and financial markets in Indonesia as evidenced by weakening of Indonesia Rupiah, decreasing demand and export commodity prices, declining market values of stocks and securities, increasing interest rate, among others. These conditions have resulted to tightened liquidity conditions, decline in available credits, thus, hampering economic growth. The worsening economic condition is expected to affect various industries and to have further impact in 2009.

Meskipun pada saat ini Perusahaan tidak terkena dampak krisis ekonomi secara signifikan, memburuknya kondisi ekonomi berpotensi meningkatkan jumlah kredit bermasalah Perusahaan karena debitur tidak dapat memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi jumlah pendapatan dan laba bersih Perusahaan di masa mendatang.

Although at this point, the Company has not been significantly affected by the economic crisis, the worsening economic condition could result in an increase in amount of non-performing loans of the Company that might result from the inability of the debtors to pay their maturing obligations to the Company. These factors will eventually have an impact on future revenues and net income of the Company.

Untuk menghadapi kondisi ekonomi yang mungkin semakin memburuk pada tahun 2009, Perusahaan telah melakukan dan akan meneruskan rencana dan tindakan sebagai berikut:

To deal with the adverse economic situation that potentially could become worst in 2009, the Company has taken and will continue to implement the following measures:

• Peningkatan kualitas kredit dengan melakukan pengawasan atas pembayaran kredit dan menerapkan prinsip kehati-hatian atas kebijakan kredit.

• Improving the quality of loan by enhancing the monitoring of receivable collection and management and by applying a prudent credit policy.

• Peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga melalui upaya promosi yang lebih gencar serta menambahkan produk-produk baru yang menarik.

• Increasing third parties fund through extensive promotion and additional interesting new bank’s products.

• Peningkatan efisiensi dan pengetatan biaya operasional.

• Improving efficiency and tightening operational costs.

• Peningkatan pangsa pasar khususnya perkreditan yang akan lebih diutamakan pada nasabah ritel yang sudah ada (kecil sampai dengan menengah) atau nasabah yang sudah di kenal termasuk relasi-relasinya.

• Expanding market especially in loan which will focus on current retail customers (low to middle class) or known-customers and their relations.

Perbaikan dan pemulihan ekonomi tergantung pada beberapa faktor, antara lain kebijakan fiskal dan moneter yang diupayakan oleh Pemerintah, suatu tindakan yang berada di luar kendali Perusahaan, untuk mencapai pemulihan ekonomi. Dampak masa depan yang berasal dari kondisi ekonomi pada saat ini atas likuiditas serta pendapatan Perusahaan, termasuk dampak masa depan terhadap investor dan nasabah, tidak dapat ditentukan.

Recovery of the economy to a sound and stable condition is dependent on the fiscal and monetary measures being undertaken by the Government, actions that are beyond the control of the Company, to achieve economic recovery. It is not possible to determine the future effect the current economic condition may have on the Company’s liquidity and earnings, including the effects on its investors and customers.

Tidak terdapat kejadian setelah tanggal neraca sampai dengan tanggal laporan keuangan ini yang terjadi akibat memburuknya kondisi ekonomi di Indonesia, yang menimbulkan ketidakpastian tentang kemampuan Perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

There are no events subsequent to balance sheet date until the date of this report that occur as a result of the worsening economic in Indonesia which raise uncertainty as to Company’s ability to continue as a going concern.

a. Undang-Undang Republik Indonesia No. 36/2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan diterbitkan pada tanggal 23 September 2008 dan akan berlaku efektif tanggal 1 Januari 2009. Kebijakan baru dalam Undang-Undang ini mencakup antara lain perubahan ketentuan mengenai definisi subyek pajak, definisi obyek pajak, perhitungan penghasilan kena pajak, serta tarif pajak penghasilan atas penghasilan kena pajak bagi wajib pajak perorangan maupun badan.

a. The Law of the Republic of Indonesia No. 36/2008 The Fourth Change of Law No. 7 Year 1983 regarding Income Taxes was issued on September 23, 2008 and is to be applied effective January 1 2009. The new Law amends, among others, the definition of tax subjects and objects, computation of taxable income and the applicable income tax rates on taxable income, both for individual and corporate taxpayers

b. Pada tanggal 27 Januari 2009, Bank Indonesia menerbitkan Surat Edaran No. 11/4/DPNP berkaitan dengan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. PAPI ini berisi penjelasan secara teknis mengenai PSAK No. 50 (Revisi 2006) “Instrumen Keuangan : Penyajian dan Pengungkapan” serta PSAK No. 55 (Revisi 2006) “Instrumen Keuangan : Pengakuan dan Pengukuran”, yang semula berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2009, namun ditunda sampai dengan 1 Januari 2010.

b. On January 27, 2009, Bank Indonesia issued Circular Letter No. 11/4/DPNP regarding Implementation Guidance on Accounting for Banking (PAPI). This PAPI technically covers explanation on PSAK No. 50 (Revised 2006) regarding Financial Instruments : Presentation and Disclosure and PSAK No. 55 (Revised 2006) regarding Financial Instruments: Recognition and Measurement, which was planned to be effective on January 1, 2009 but postponed to January 1, 2010. c. Pada tanggal 29 Januari 2009, Bank

Indonesia menerbitkan Peraturan No. 11/2/PBI/2009 yang merupakan revisi ketiga atas PBI No. 7/2/PBI/2005 mengenai Penilaian Kualitas Aset Bank Umum. Peraturan ini mencakup antara lain peningkatan plafon kredit dan penyediaan dana yang penetapan kolektibilitasnya hanya dinilai berdasarkan jumlah hari keterlambatan, serta perpanjangan waktu atas penilaian kembali agunan tertentu yang dapat digunakan dalam perhitungan penyisihan penghapusan.

c. On January 29, 2009, Bank Indonesia issued regulation No. 11/2/PBI/2009 regarding the Third Amendments on PBI No. 7/2/PBI/2005 regarding Asset Quality of Bank. This regulation covers, among others increase of limit for loans and other placements for which the collectibility is determined only by days-past-due and extension of time for re-appraisal of eligible collateral to be included in the calculation of allowance for possible losses.

********