C. FORUM KERJA SAMA BILATERAL
9. Indonesia – Jepang
Pada tahun 2010 telah diselenggarakan 2 (dua) forum yang membahas perkembangan IJ-EPA yaitu:
a. Pertemuan The 2nd Sub Committee IJEPA yang diselenggarakan pada tanggal 5-6 Agustus 2010 di Jakarta. Sub Committee yang dibahas adalah Sub Committee on Trade in Goods, Sub Committee on Rules of Origin dan Sub Committee on Movement of Natural Persons. Hasil pertemuan antara lain adalah:
1) Sub Committee on Trade in Goods a) Implementasi USDFS
Dalam pertemuan ini, Indonesia memberikan presentasi mengenai kurang optimalnya pemanfaatan USDFS dalam 2 (dua) tahun implementasi IJ-EPA. Perusahaan yang memanfaatkan USDFS masih sedikit, sebagian besar bergerak dalam sektor otomotif, konstruksi dan peralatan berat, sedangkan sektor energi dan elektronik belum memanfaatkan fasilitas tersebut. Dalam hal pos tariff, dari sejumlah 203 total pos tariff, hanya 55 atau 20% yang sudah menggunakan skema USDFS.
54 Laporan Tahunan | Ditjen. Kerja Sama Perdagangan Internasional 2010
Terkait dengan hal ini, Jepang menanyakan mengenai peraturan SNI Indonesia terkait dengan Cold Rolled Steel (CRS) dan Cold Rolled Coil (CRC). Indonesia menjelaskan bahwa Peraturan Menteri Perindustrian No. 01 dan 02/2009 telah dinotifikasikan kepada WTO. Indonesia juga menjelaskan bahwa prosedur untuk CRS dan CRC adalah sama dengan Hot Rolled Steel.
c) Pre-shipment Inspection for Steel Products (Permendag No. 08 dan 21/2009)
Terkait dengan pres-shipment inspection untuk besi dan baja (Permendag 08 dan 21/2009), Jepang menanyakan perkembangan daftar barang yang akan diperiksa dan kepastian pemerintah Indonesia mengenai perpanjangan peraturan tersebut. Indonesia menjelaskan bahwa tidak terdapat perubahan mengenai daftar barang yang harus menjalani preshipment inspection maupun mengenai kepastian perpanjangan Permendag tersebut.
Jepang mengusulkan bahwa impor baja yang dilakukan oleh trading company sebagai perusahaan mediator untuk perusahaan yang berhak mendapatkan fasilitas USDFS dapat dikecualikan dari pemeriksaan tersebut. Indonesia menjelaskan bahwa impor melalui perdagangan secara umum tidak akan diberikan pengecualian, sedangkan impor besi dalam skema USDFS tidak dicantumkan dalam Article 5, Paragraf 5 a, dikarenakan produk tersebut sudah bebas dari pemeriksaan.
d) Release Before Permission System
Jepang menanyakan kemungkinan adanya “release before permission system” terkait dengan isu retroaktif dari SKA IJEPA. Permintaan Jepang berdasar pada pemikiran adanya beberapa barang yang tidak tahan lama, termasuk dengan impor hewan hidup. Indonesia menjelaskan bahwa Indonesia maupun skema FTA lainnya tidak mengenal penggunaan sistem tersebut.
e) Tariff Rate Errors
Terkait dengan adanya beberapa kesalahan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) no. 95/2008, pihak Jepang menanyakan mengenai perkembangan terakhir dari isu tersebut. Saat ini ada 18 pos tarif tercantum dalam PMK tersebut yang tidak sesuai dengan IJEPA. Indonesia menyatakan bahwa amandemen peraturan tersebut akan segera dikeluarkan.
f) Labeling Regulations
Pada Desember 2009, Indonesia telah mengeluarkan Permendag No. 62/2009 mengenai pengaturan label. Peraturan tersebut akan dimulai pada September 2010, akan tetapi petunjuk teknis yang lebih detil mengenai peraturan tersebut belum dikeluarkan. Oleh karena itu, Jepang mengharapkan Indonesia dapat mengeluarkan petunjuk teknis tersebut.
Laporan Tahunan | Ditjen. Kerja Sama Perdagangan Internasional 2010 55
Indonesia akan mempertimbangkan permintaan pihak Jepang. Selain itu Indonesia juga menjelaskan bahwa barang-barang impor yang digunakan untuk bahan baku ataupun bahan pendukung terkait dengan produksi yang tidak mencapai konsumen akhir, dapat dikecualikan dari peraturan tersebut seperti tercantum dalam Pasal 11, Paragraf 1 (b).
Indonesia juga menjelaskan bahwa Permendag 62/2009 tersebut telah direvisi dengan dikeluarkannya Permendag 22/2010. Permendag tersebut dikeluarkan dengan tujuan untuk menjamin diperolehnya hak konsumen atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang yang akan dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen.
g) Market Access on Trade in Goods
Berkenaan dengan market access, pemanfaatan fasilitas IJ-EPA dianggap masih belum maksimal. Hal ini terlihat dari rendahnya penggunaan fasilitas IJEPA yang hanya mencapai kurang lebih 20 persen. Jauh di bawah AKFTA dan ACFTA yang mencapai kurang lebih 40%. Indonesia juga memiliki concern mengenai akses pasar bagi produk perikanan unggulan dan buah-buahan Indonesia.
2)Diskusi MIDEC
Kedua pihak sepakat agar diskusi MIDEC dapat terus dilanjutkan secara lebih detail ditingkat teknis untuk mendapatkan pengertian bersama dalam hal mempercepat pelaksanaan implementasinya. Kedua belah pihak sepakat untuk memiliki rencana jangka menengah yang akan digunakan sebagai acuan bagi perencanaan dan implementasi kegiatan-kegiatan MIDEC. Mid-term plan tersebut akan meliputi roadmaps, kegiatan dan tujuan masing-masing sektor MIDEC sampai 2012.
Dalam dua tahun implementasinya, 11 (sebelas) bidang kerja sama MIDEC telah berjalan yaitu: Metal working; Mold and Dies; Welding; SME; NAFED; Automotive; Electronic; Steel; Textile; Food and Beverages; dan Non Ferrous. Namun, masih terdapat 2 (dua) sektor kerja sama MIDEC yang belum berjalan yaitu: Energy Conservation dan Petrochemical & Oleo-chemical.
Mempertimbangkan suksesnya dua pelaksanaan seminar MIDEC, Kementerian Perindustrian RI dan Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan telah sepakat untuk mengadakan seminar secara berkala, yaitu 2 (dua) kali setahun.
3) Sub Committee on Rules of Origin
1) PSR Transposition from HS 2002 and HS 2007
Perbedaan yang timbul akibat adanya transposisi dari HS 2002 ke 2007 menyebabkan kebingungan di pihak Jepang. Sebagaimana diusulkan oleh pihak Jepang pada pertemuan Sub Komite pada Juni 2009, pihak Jepang meminta Indonesia untuk mentransposisi HS
56 Laporan Tahunan | Ditjen. Kerja Sama Perdagangan Internasional 2010
2002 ke HS 2007. Pihak Jepang juga meminta konfirmasi atas tabel yang telah direvisi.
Sehubungan dengan isu ini, pihak Indonesia meminta pihak Jepang untuk menyediakan contoh kasus sehingga Indonesia mendapat gambaran yang lebih jelas atas permasalahan yang timbul. Pihak Indonesia juga meminta pihak Jepang untuk menyediakan penjelasan dan latar belakang permasalahan untuk menekankan kepentingan isu dimaksud.
Kedua pihak sepakat untuk mendiskusikan lebih lanjut atas permasalahan ini pada tingkat Kelompok Kerja yang terdiri dari para ahli mengingat isu ini bersifat sangat teknis.
2) Certificate of Origin (COO) before shipment
Pihak Bea Cukai Indonesia telah mengeluarkan SE No. 05 pada bulan Maret 2010 sehubungan dengan isu COO sebelum pengiriman barang. Kedua pihak sepakat atas definisi “by the time” atas Rule 3 of Section 1. Part 2 of the Operational Customs Procedures (OCP) adalah “sebelum dan pada” saat pengiriman pengiriman barang.
3) Sub Committee on Movement of Natural Persons
Sedangkan terkait dengan Movement of Natural Persons (MNP), dalam hal ini nurses and caregivers, terdapat beberapa permasalahan antara lain adalah penguasaan bahasa Jepang yang kurang yang ditandai dengan rendahnya tingkat kelulusan (baru 2 orang nurses yang lulus ujian kemampuan bahasa Jepang). Hal ini disebabkan karena pelatihan bahasa yang sesuai perjanjian berjalan selama 6 bulan di Jepang menjadi hanya 2 bulan di Indonesia dan 4 bulan di Jepang. Untuk meningkatkan tingkat kelulusan nurses Indonesia, kedua negara sepakat untuk memberikan pelatihan bahasa tambahan selama 6 (enam) bulan di Indonesia, di luar pelatihan bahasa yang selama ini telah ada. Pelatihan bahasa tambahan tersebut dimulai pada tahun 2011. Sebagai catatan, untuk tahun 2010, Jepang menyatakannya komitmennya untuk menerima sejumlah maksimum 500 orang yang terdiri dari 200 nurses dan 300 caregivers. Saat ini, terdapat 117 nurses dan 78 caregivers.
b. Pertemuan Indonesia-Japan Joint Economic Forum (IJ-JEF) ke-2
Hasil Pertemuan Kedua IJ-JEF yang telah dilaksanakan di Tokyo, Jepang, pada tanggal 14-15 Oktober 2010 di bidang perdagangan adalah:
1) Pada sesi ministerial dialogue, Menteri Perdagangan menyampaikan beberapa hal antara lain:
a) Menteri Perdagangan dalam pembukaan menyampaikan bahwa Perjanjian Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) memiliki makna strategis bagi kedua negara karena merupakan: - pilar ekonomi dari Comprehensive Partnership antara kedua
Laporan Tahunan | Ditjen. Kerja Sama Perdagangan Internasional 2010 57
- perjanjian bilateral pertama bagi Indonesia; dan
- EPA pertama bagi Jepang yang memasukkan Movement of Natural Persons (MNP), kerjasama teknis, dan capacity building yang sangat komprehensif.
Oleh karena itu, sangat penting untuk kedua negara bersama-sama menjamin IJEPA berhasil dan berjalan efektif, tepat dan saling menguntungkan.
b) Selanjutnya Mendag menyampaikan beberapa isu prioritas yaitu: - Movement of Natural Persons (MNP) dalam hal ini nurses and
caregivers. Permasalahan utama yaitu penguasaan bahasa Jepang yang kurang dan rendahnya tingkat kelulusan. Hal ini disebabkan karena pelatihan bahasa yang sesuai perjanjian berjalan selama 6 bulan di Jepang menjadi hanya 4 bulan. Pada kesempatan ini, Menteri Perdagangan mengemukakan permintaan Indonesia sebagai berikut:
agar Jepang bisa mengoptimalkan tingkat keberhasilan kelulusan ujian bahasa bagi nurses dan caregivers Indonesia yang sudah berada di Jepang, karena MNP adalah simbol penting dalam IJEPA. Salah satu caranya adalah dengan memberikan kelonggaran standar kelulusan ujian dan memperpanjang kesempatan ujian;
agar Jepang memberikan pelatihan bahasa selama 6 bulan di Jepang bagi nurses dan caregivers Indonesia yang akan datang. c) Market access on Trade in Goods. Menteri Perdagangan
menyampaikan bahwa kedua negara belum memaksimalkan IJEPA. Hal ini terlihat dari rendahnya penggunaan fasilitas IJEPA yang hanya mencapai kurang lebih 20 persen. Jauh di bawah AKFTA dan ACFTA yang mencapai kurang lebih 40%. Menteri Perdagangan mengharapkan agar dapat kiranya diketahui penyebab rendahnya tingkat utilisasi IJEPA: apakah ada permasalahan diimplementasi ataupun kurangnya sosialisasi kepada pelaku bisnis. Pada kesempatan ini Menteri Perdagangan juga menyampaikan concern Indonesia mengenai akses pasar bagi produk perikanan unggulan dan buah-buahan Indonesia;
d) Menteri Perdagangan juga menyampaikan perlunya diintensifkan pertemuan teknis di tingkat sub-committe untuk membahas penyempurnaan dalam implementasi IJEPA dan perlunya mekanisme pelaporan hasil pertemuan tersebut sampai pada tingkat menteri. 2)Jepang menanggapi dengan menyatakan bahwa:
a) berkenaan dengan concern Indonesia mengenai produk perikanan dan buah-buahan, Jepang menyampaikan bahwa sesuai dengan kesepakatan IJEPA hal tersebut tidak akan direnegosiasikan hingga proses review ditahun ke-4 dan ke-5 implementasi;
58 Laporan Tahunan | Ditjen. Kerja Sama Perdagangan Internasional 2010
b) terkait dengan MNP Jepang menyampaikan beberapa tanggapan positif antara lain:
- Jepang akan meningkatkan anggaran pelatihan bahasa sebanyak 10 kali lipat;
- Jepang akan membantu memaksimalkan proses kelulusan nurses dan caregivers Indonesia antara lain melalui permudahan soal ujian nasional khususnya penggunaan huruf Kanji yang lebih sederhana; dan
- Ministry of Labor, Health and Welfare of Japan menyampaikan pada saat ini sedang dilakukan penghitungan kebutuhan nurses dan caregivers di Jepang untuk tahun 2011.