Michael Banar Prasetya SMK Tamansiswa Nanggulan
Apa arti kataindependent? Mungkin kita sering mendengar atau melihat di judul-judul film luar negeri ataupun pada saat kita mendengar pidato kepresidenan internasional. Sebenarnya, kataindependentberarti ‘merdeka atau bebas’ danabsoluteberarti ‘mutlak, sesungguhnya, hal yang pasti’.
Penjajahan pada saat ini berbeda dengan penjajahan di era
kolonialismeJepang dan Belanda. Kita ketahui bahwa pada saat ini negara kita sedang dijajah ideologinya yang kian hari ideologi negara kita makin ditinggalkan dan diabaikan sehingga negeri ini berjalan keluar dari garis yang telah ditetapkan. Sekitar 71 tahun yang lalu negeri kita merdeka, namun perang melawan negeri sendiri masih terus terjadi sehingga negara ini belum layak dikatakan merdeka seutuhnya.
Apakah Indonesia sudah merdeka? Jawabnya beragam, banyak rakyat Indonesia melontarkan jawaban yang mungkin tak sama satu sama lain. Ada yang beranggapan bahwa negeri kita ini sudah merdeka seutuhnya, tetapi tak sedikit pula yang beranggapan bahwa negeri kita ini belum layak disebut merdeka. Dari berbagai pendapat tadi kita bisa mengetahui bahwa warga Indonesia belum yakin akan kemerdekaan negaranya sendiri. Saya beranggapan bahwa negeri kita tersebut belum seutuhnya merdeka, sebab di Indonesia masih jauh untuk bisa dikatakan seutuhnya sebab masih banyak sekali polemik ataupun per-masalahan-permasalahan serius di berbagai bidang, di
antara-nya di bidang pendidikan, politik (kurupsi), sumber daya manu-sia, masalah krisis ideologi.
Di antara masalah-masalah yang bisa dikatakan serius untuk kelangsungan kemerdekaan yang sebenarnya sudah kita peroleh lebih dari 71 tahun lamanya. Untuk itu, kita perlu prihatin dengan kondisi negara kita saat ini yang mengalami kritis ideologi. Perlahan-lahan bangsa kita melupakan ideologi pokok kita yakni ideologi bangsa yang berdasar Pancasila. Ideologi itu menjadi pokok fundamental bangsa kita yang telah sekian lama kita miliki, tetapi saat ini sudah mulai dilupakan dan seakan-akan tersisihkan dengan ideologi-ideologi baru yang masuk ke negara kita dikarenakan era modernisasi dan globalisasi. Saat ini dapat dirasakan makin mudah masuknya ideologi-ideologi baru, yang tentu saja sangat bertolak belakang dengan ideologi bangsa kita. Dari situlah akan muncul permasalahan yang baru dan ber-pengaruh besar bagi perubahan bangsa kita. Perubahan tersebut menuju ke arah yang berlawanan dengan ideologi kita yang merupakan pusaka dari para pendahulu kita.
Dari beberapa permasalahan yang menyebabkan bangsa kita ini belum dapat merdeka secara utuh. Kita akan mencoba meng-upas sedikit masalah yang ada di negara kita ini, salah satunya di bidang pendidikan. Kita mengetahui bahwa negara kita adalah negara yang besar dan memiliki jumlah penduduk pering-kat ke-4 terbanyak di dunia setelah Amerika Seripering-kat. Sementara itu, rata-rata orang akan berpikir, jika suatu negara memiliki penduduk yang banyak dan sumber daya alam yang melimpah, pasti negara tersebut akan maju dalam berbagai bidang, baik itu bidang ekonomi, politik, pendidikan, maupun sosial, dan juga sumber daya manusianya.
Namun, pada kenyataannya, tidak dengan negara kita ini yang masih carut marut dalam berbagai bidang, di antaranya bidang pendidikan. Dapat kita lihat bahwa di negara ini banyak sekolah-sekolah besar maupun universitas-universitas yang besar. Namun, ironisnya belum semua anak-anak bangsa ini bisa
mendapatkan pendidikan yang layak. Sebanyak lebih dari 2,5 juta anak yang seharusnya mendapat fasilitas pendidikan yang layak tidak dapat melanjutkan dan mengenyam pendidikan formal. Hal itu sebagian besar dikarenakan faktor ekonomi yang masih terfokus membantu untuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan keluarga mereka yang berkekurangan. Pemerintah seakan-akan tidak peka jika masih banyak anak-anak yang tidak berkecukupan yang tidak mampu melanjutkan sekolah, tidak ada beasiswa khusus bagi anak-anak yang putus sekolah akibat kekurangan biaya untuk melanjutkan sekolah. Mereka hanya berangan-angan untuk sekolah ataupun kembali bersekolah. Se-bagai contoh, anak-anak yang berada di kota-kota besar, seperti di Jakarta, yang kurang mampu dan hidup miskin cenderung akan memfokuskan diri untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Lalu, mereka mengesampingkan kegiatan pokok mereka yakni sekolah dan belajar. Hal-hal seperti ini yang akan membuat generasi muda kita yang akan datang akan makin bertambah buruk. Padahal masa depan kita selanjut-nya ada pada mereka-mereka yang masih muda. Apa yang akan terjadi bila generasi muda kita yang sedang belajar saat ini ter-pengaruh oleh arus modernisasi seperti yang terjadi pada saat ini? Akankah mereka sadar bahwa pendidikan itu merupakan kebutuhan primer mereka untuk masa depan? Bagaimana jika pada saat ini generasi muda banyak yang menggadaikan masa depan mereka dengan tidak serius dalam menuntut ilmu, seperti bolos sekolah, tawuran antarpelajar, narkoba, dan minum-minuman keras? Apakah masa depan bangsa kita akan dipegang oleh anak-anak yang seperti itu tadi?
Solusinya, pemerintah dan pihak yang terkait dengan pen-didikan harus dapat berperan aktif untuk mengajak dan memoti-vasi siswa-siswi yang berhenti bersekolah karena keterbatasan biaya. Selain itu, siswa-siswi yang putus sekolah ditangani agar jangan terkena pergaulan bebas. Kita harus ingat bahwa negara ini sebagai negara yang besar, kita mempunyai tokoh-tokoh yang
sudah mendahului kita. Namun, mereka meninggalkan semangat yang sampai kapan pun tak akan hilang.
Kita mempunyai dwitunggal proklamator yakni Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka dan tokoh-tokoh serta pahlawan yang bersusah payah mengusir penjajah dan mempersembahkan kemerdekaan yang amat penting sebagai pintu gerbang menuju kesejahteraan yang jauh dari kata tangis dan penderitaan. Mereka tak mengenal kata “takut mati”. Mereka tak memikirkan sebe-rapa berharganya nyawa mereka. Semua itu mereka lakukan demi satu tujuan yaitu “kemerdekaan”. Bung Karno pernah berpesan, “Bermimpilah setinggi langit jika engkau jatuh engkau akan terjatuh di antara bintang-bintang”. Dari kata tersebut para pela-jar Indonesia harus merenungkan dan memahaminya dari kata mutiara itu. Bung Karno ingin menyampaikan kepada kita bah-wa kita harus berjuang mati-matian untuk mencapai kesukses-an. Bila kita gagal, kita akan gagal di dalam kesuksesan dan tidak akan mengalami kegagalan yang amat berat. Maka dari itu, ayo-lah pelajar Indonesia, kita bangun negara kita tercinta ini menuju ke kemerdekaan yang sesungguhnya.
Setelah membahas masalah pendidikan, kita akan beralih membahas tentang masalah klasik negeri ini, yakni masalah ko-rupsi. Indonesia merupakan negara dengan angka korupsi yang tinggi menurutLembaga Transparency International(TI) Indonesia menempati peringkat ke-88 dengan skor CPI 36. Skor tersebut meningkat dua poin dari tahun 2014 yang berada di peringkat ke 107. Hal ini menunjukan bahwa Indonesia masih termasuk dalam negara dengan angka tindak pidana korupsi yang tinggi. Dengan begitu, dapat dikatakan juga bahwa penyalahgunaan we-wenang para pemimpin untuk kepentingan pribadi yang men-cakup sektor publik, adminitrasi pemerintahan, dan politik.
Selain penyalahgunaan wewenang ataupun kekuasaan oleh para pejabat korupsi. Korupsi juga dapat disebabkan oleh per-kembangan sektor ekonomi dan politik, yaitu semakin majunya usaha-usaha pembangunan dengan pembukaan sumber alam
yang baru. Akibatnya, timbullah dorongan-dorongan pribadi untuk melakukan praktik korupsi. Selain itu, pada saat ini pihak-pihak atau lembaga-lembaga menginginkan jalan pintas dan cara instan, yaitu dengan cara melakukan penyuapan. Cara ini sudah menjadi budaya di Indonesia sampai muncul istilah “bila ada uang masalah selesai” memang mengenaskan dan sekaligus memprihatinkan mendengar kata seperti itu namun kata-kata seperti itu sudah biasa di telinga para pejabat yang menyalah-gunakan wewenang mereka untuk kepentingan pribadi. Mereka tanpa memikirkan imbas dari perbuatan tersebut. Dengan begitu, rakyat Indonesia juga kebanyakan melakukan praktik penyuapan dengan mudah karena pejabat-pejabat dengan mudah menerima uang suap. Hal seperti inilah yang menghancurkan idiologi bangsa kita. Bila budaya suap dan korupsi makin marak, rakyat kecil yang tak mempunyai uang akankah mendapat pelayanan dan perlindungan yang sama dengan mereka yang mempunyai banyak uang dan kedudukan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan bermunculan bila kasus suap akan makin berkembang di negara kita.
Untuk itu, pemerintah tidak boleh membiarkan korupsi di Indonesia makin berekembang dengan bebas. Pemerintah harus memberikan contoh untuk bertindak bersih dalam setiap tindak-an politik, publik, maupun sosial. Selain itu, pemerintah juga mem-pertegas undang-undang yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi menurut Pasal 3 UU No. 31 tahun 1999, yang berbunyi “orang yang melakukan tindak pidana korupsi adalah setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, sempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau ke-dudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau pereko-nomian negara”.
Saat ini sering kita dengar pembahasan wacana hukuman mati bagi mereka yang melakukan tindak pidana korupsi, seperti yang dilangsir olehdetik.com. Wacana pemberian hukuman mati
bagi koruptor kembali muncul, misalnya, dari eks-penasihat KPK Abdullah Hehamahua. Sebetulnya, hukuman pencabutan nyawa untuk terpidana korupsi sudah diatur dalam UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang sekarang, namun hanya berlaku untuk korupsi yang “luar biasa”, Hukuman mati diatur dalam Pasal 2 ayat 2 UU 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi. Hukuman tersebut menjadi bagian dari Pasal 2 ayat 1 yang mengatur tentang perbuatan memperkaya diri dan orang lain yang dapat merugikan keuangan negara. Dengan dibuatnya wa-cana undang-undang baru ini, korupsi di Indonesia dapat dimini-malisasi. Dengan berkurangnya koruptor di negeri kita, makin mudah juga negara kita ini berkembang lebih maju lagi. Dengan begitu, Indonesia lebih steril dari “parasit berdasi”untuk semua kalangan rakyat tidak pandang “Si Miskin dan Si Kaya”.
Solusi yang dapat saya kemukakan untuk penanganan ma-salah korupsi di negeri kita bukan hanya perhatian bagi peme-rintah dan lembaga penanggulangan korupsi saja, melainkan menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat. Dengan demi-kian, praktik korupsi akan makin kecil sebab masyarakat sadar akan imbas dari korupsi dan tindakan memperkaya diri bagi sesama. Bukan hanya itu saja, penjegahan praktik korupsi juga dapat dilakukan dengan pendekatan ajaran budi pekerti dan pendekatan agama. Setiap agama pasti mengajarkan kebaikan dan kejujuran, dosa bagi yang merugikan sesama, tidak boleh berbuat curang dan berbohong. Bila pendekatan agama dilaku-kan sejak dini, pastinya generasi muda adilaku-kan terbiasa untuk me-lakukan hal-hal yang diajarkan sejak kecil termasuk berbuat jujur dan tidak mengambil yang bukan haknya. Dengan begitu, korupsi juga dapat diminimalisasi.
Selain itu, pendidikan akhlak dan budi pekerti juga harus menyangkut tentang perbuatan yang merugikan sesama dan akibat dari hal-hal tadi. Itu sedikit saran saya sebagi penulis artikel ini.
merdeka, yaitu sebagai berikut.
i. Rakyat dapat memperoleh kesejahteraan,pendidikan,dan pekerjaan yang layak.
ii. Rakyat bebas dari kemiskinan.
iii. Masalah korupsi, nepotisme, narkoba, dan ketidakadilan dapat teratasi.
iv. Ideologi bangsa kembali menjadi tuntunan dalam tata negara.
v. Para pemimpin melepas jas dan turun melayani rakyat-rakyat yang membutuhkan pertolongan dan pertolongan.
Dengan begitu tercapailah perjuangan para pahlawan ter-dahulu, perjuangan sejuta nyawa, dengan tangis darah, dan beri-bu jeritan orang tak berdosa yang diberondong senjata. Untuk itu ayo Indonesia bangunlah dari tidur panjangmu, sadarlah dari khayalmu, lihatlah pertiwi sedang menangis pilu meratapi masa depan bangsamu.
Michael Banar Prasetya.Remaja yang lahir di Boro, 24 Desember 1998 ini tinggal Boro, Banjarsari, Kalibawang, Kulon Progo. Saat ini Banar bersekolah di SMK Tamansiswa Nang-gulan dengan alamat NangNang-gulan, Jatisarono, Kulon Progo. Jika ingin berkorespondensi dapat menghubungi telepon selulernya 085643637526. Prestasi yang pernah diraih yaitu karya tulis dimuat di Warta Kampus Sekolah sebanyak dua kali.