III. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN
3.17 Jasa Lainnya
Data diperoleh dari Realisasi APBN/APBD; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan; Kementerian Agama; Berbagai Survei Khusus yang dilakukan oleh Direktorat Neraca Produksi dan Pengeluaran BPS; Subdirektorat Statistik Harga Konsumen BPS.
3.16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
Kategori ini mencakup kegiatan penyediaan jasa kesehatan dan kegiatan sosialyang cukup luas cakupannya, dimulai dari pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga profesional terlatih di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain sampai kegiatan perawatan di rumah yang melibatkan tingkatan kegiatan pelayanan kesehatan sampai kegiatan sosial yang tidak melibatkan tenaga kesehatan profesional. Kegiatan penyediaan jasa kesehatan dan kegiatan sosialmencakup: Jasa Rumah Sakit; Jasa Klinik; Jasa Rumah Sakit Lainnya; Praktik Dokter; Jasa Pelayanan Kesehatan yang dilakukan oleh Paramedis; Jasa Pelayanan Kesehatan Tradisional; Jasa Pelayanan Penunjang Kesehatan; Jasa Angkutan Khusus Pengangkutan Orang Sakit (Medical Evacuation); Jasa Kesehatan Hewan; Jasa Kegiatan Sosial.
Metode penghitungan untuk jasa pemerintahatas dasar harga berlaku menggunakan pendekatan pengeluaran, sedangkan swasta menggunakan pendekatan produksi.NTB jasa kesehatan dan kegiatan sosial pemerintah atas dasar harga konstan 2010 menggunakan pendekatan deflasi, sedangkan jasa kesehatan dan kegiatan sosialswasta menggunakan pendekatan revaluasi.
Data diperoleh dari Realisasi APBN/APBD; Kementerian Kesehatan;Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas); Berbagai Survei Khusus yang dilakukan Direktorat Neraca Produksi dan Direktorat Neraca Pengeluaran BPS; Subdirektorat Statistik Harga Konsumen.
3.17 Jasa Lainnya
Kategori Jasa Lainnya merupakan gabungan 4 kategori pada KBLI 2009. Kategori ini mempunyai kegiatan yang cukup luas yang meliputi: Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi; Jasa Reparasi Komputer Dan Barang Keperluan Pribadi Dan Perlengkapan Rumah Tangga; Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga; Kegiatan Yang Menghasilkan Barang dan Jasa Oleh Rumah Tangga Yang Digunakan Sendiri untuk memenuhi kebutuhan; Jasa Swasta Lainnya termasuk Kegiatan Badan Internasional, seperti PBB dan perwakilan PBB, Badan Regional, IMF, OECD, dan lain-lain.
Kesenian, Hiburan dan Rekreasi
Jasa Kesenian, Hiburan dan Rekreasi berkategori R meliputi kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat umum akan hiburan, kesenian, dan kreativitas, termasuk perpustakaan, arsip, museum, kegiatan kebudayaan lainnya, kegiatan perjudian dan pertaruhan, serta kegiatan olahraga dan rekreasi lainnya.
Output atas dasar harga berlaku diperoleh dengan menggunakan metode pendekatan produksi, yaitu output diperoleh dari hasil perkalian antara indikator produksi dengan indikator harga. Output panggung hiburan/kesenian dihitung berdasarkan pajak tontonan yang diterima pemerintah. Output untuk jasa hiburan dan rekreasi lainnya pada umumnya didasarkan pada hasil perkalian antara jumlah perusahaan dan jumlah tenaga kerja masing-masing dengan rata-rata output per indikatornya. NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan output. Sedangkan output dan NTB atas dasar harga konstan menggunakan metode deflasi/ ekstrapolasi dengan deflator/ekstrapolatornya adalah IHK rekreasi dan olahraga/indeks indikator produksi yang sesuai.
Sumber data produksi Jasa Kesenian, Hiburan dan Rekreasi diperoleh dari beberapa sumber, yaitu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), dan data penunjang intern BPS (Ketenagakerjaan, Susenas, Sensus Ekonomi, Statistik Harga Konsumen, dan Survei-survei Khusus yang dilakukan oleh Direktorat Neraca Produksi dan Direktorat Neraca Pengeluaran).
Kegiatan Jasa Lainnya
Kegiatan ini berkategori S yang mencakup kegiatan dari keanggotaan organisasi, jasa reparasi komputer dan barang keperluan pribadi dan perlengkapan rumah tangga, serta berbagai kegiatan jasa perorangan lainnya.
Output atas dasar harga berlaku diperoleh dari perkalian antara masing-masing jumlah tenaga kerja dengan rata-rata output per tenaga kerja. NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan output. Sedangkan untuk memperoleh output dan NTB atas dasar harga konstan menggunakan metode deflasi dimana deflatornya adalah IHK Umum.
Data diperoleh dari internal BPS (Sensus Ekonomi, Subdit Statistik Demografi, Susenas, and Subdirektorat Statistik Harga Konsumen).
Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga; Kegiatan yang Menghasilkan Barang dan Jasa oleh Rumah Tangga yang Digunakan Sendiri untuk Memenuhi Kebutuhan
Kegiatan ini berkategori T mencakup kegiatan yang memanfaatkan jasa perorangan untuk melayani rumah tangga yang didalamnya termasuk jasa pekerja domestik (pembantu rumah tangga, satpam, tukang kebun, supir, dan sejenisnya), dan Kegiatan Yang Menghasilkan Barang Dan Jasa Oleh Rumah Tangga Yang Digunakan Sendiri Untuk Memenuhi Kebutuhan (didalamnya termasuk kegiatan pertanian, industri, penggalian, konstruksi, dan pengadaan air).
Output atas dasar harga berlaku untuk jasa perorangan yang melayani rumah tangga/
jasa pekerja domestik (pembantu rumah tangga, satpam, tukang kebun, supir, dan sejenisnya) diperoleh dari perkalian antara pengeluaran perkapita untuk jasa pekerja domestik dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, sedangkan NTB-nya sama dengan output yang dihasilkan karena konsumsi antara pekerja jasa domestik merupakan pengeluaran konsumsi rumah tangga majikan. Output dan NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dengan hasil survei intern BPS (SKTIR). Sedangkan output pengadaan air diperoleh dengan pendekatan rumah tangga yang menggunakan pompa dan sumur, baik sumur terlindung maupun tidak terlindung. Sementara itu, output dan NTB atas dasar harga konstan, baik untuk kegiatan pekerja domestik maupun kegiatan menghasilkan barang dan jasa untuk digunakan sendiri oleh rumah tangga diperoleh dengan menggunakan metode deflasi dengan deflatornya laju IHK umum.
Sumber data kategori ini diperoleh dari intern BPS, yaitu, Susenas, Sensus Penduduk, Subdirektorat Pertambangan, Energi dan Konstruksi (Publikasi Statistik Air Bersih), dan Survei Khusus yang dilakukan oleh Direktorat Neraca Pengeluaran.
Kegiatan Badan Internasional dan Ekstra Internasional Lainnya
Kategori U yang mencakup kegiatan badan internasional, seperti PBB dan perwakilannya, Badan Regional dan lain-lain, termasuk The Internasional Moneter Fund, The
World Bank, The World Health Organization(WHO), the Organization for Economic
Co-operation and Development (OECD), the Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan lain-lain.
Output dan NTB berlaku diperoleh dengan pendekatan biaya yang didapatkan dari laporan keuangan badan internasional dan ekstra internasional lainnya. Sementara, untuk output konstan diperoleh dengan metode deflasi dengan deflator laju IHK umum.
Sumber data diperoleh dari laporan keuangan badan internasional dan ekstra internasional lainnya yang berkantor pusat di Indonesia dan Subdirektorat Statistik Harga Konsumen.
BAB IV
PERKEMBANGAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA
Tahun 2014 adalah tahun yang sangat menarik dan penuh makna.
Tahun 2014 ternyata kembali menjadi tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian kabupaten Malang, dimana kondisi ekonomi global umumnya dan
Indonesia khususnya tidak secerah perkiraan semula.
Di sisi kehidupan berpolitik, tahun 2014 adalah tahun puncak proses transisi politik dimana kita berhasil melaksanakan pemilu yang sangat demokratis.
Proses pemilu yang berlangsung damai dan tentram menjadi bagian terbesar dari latar kehidupan masyarakat.
Tahun 2014 adalah tahun awal penemuan kembali jati diri bangsa yang berniat untuk bisa mandiri.
4.1 Gambaran Umum
Kondisi ekonomi global yang kurang menguntungkan dan struktur ekonomi Indonesia yang masih rentan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang pada tahun 2014. Ekonomi Kabupaten Malang pada 2014 tumbuh 5,70 persen,
sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,60 persen, namun masih dibawah perkiraan pemerintahan Kabupaten Malang pada awal
tahun yang menargetkan di atas 6 persen.
Berdasarkan lapangan usaha, perlambatan ekonomi terjadi baik pada lapangan usaha tradables dan non tradables. Dari kelompok tradable, pelemahan terutama terjadi di lapangan usaha pertanian sejalan dengan adanya kemarau yang panjang. Melemahnya permintaan domestik dan melambatnya kinerja ekspor berdampak pada melemahnya pertumbuhan pada lapangan usaha non tradables, antara lain lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, konstruksi, real estate, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, serta jasa keuangan dan asuransi. Sejalan dengan angka pertumbuhan tersebut, angka pengangguran sedikit mengalami penurunan dan kondisi kemiskinan mengalami sedikit perbaikan sebagai dampak dari perkembangan inflasi yang rendah sampai dengan Desember 2014.
Di tengah kinerja pertumbuhan yang belum sesuai harapan ini, konsumsi rumah tangga masih tumbuh cukup kuat sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga antara lain didorong oleh kontribusi positif pelaksanaan pemilihan legislatif dan diakhiri dengan pemilihan presiden.
Ketahanan konsumsi rumah tangga juga didukung keuntungan demografi. Struktur penduduk Kabupaten Malang yang berada pada kondisi yang menguntungkan yaitu relatif tingginya rasio penduduk usia produktif terhadap usia non produktif. Struktur penduduk yang didominasi usia produktif sangat mendukung pembangunan ekonomi. Dari sisi pola konsumsi, penduduk usia produktif cenderung berkonsumsi lebih besar dari usia non produktif. Fenomena demografis inilah yang oleh para pakar kependudukan disebut “bonus demografi” (demographic dividend) yang akan terjadi hanya satu kali dalam sejarah kependudukan sebuah bangsa. Bonus demografi tentu saja merupakan suatu berkah karena melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi.
Namun demikian, kategori-kategori ekonomi yang banyak menyerap tenaga kerja di Kabupaten Malang seperti kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor menunjukkan kecenderungan pertumbuhan yang melambat. Kondisi ini makin berat menyusul langkah pemerintah untuk mengurangi beban subsidi BBM melalui kenaikan harga BBM bersubsidi pada bulan November 2014. Akibatnya jelas, kegiatan ekspor dan kategori-kategori pendukungnya mengalami perlambatan pada tahun berjalan.
Kendati demikian, tahun 2014 merupakan tahun penuh makna, sekaligus tantangan baru. Perekonomian Kabupaten Malang masih mampu tumbuh lebih baik dibanding periode sebelumnya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Malang masih mampu tumbuh sebesar 5,70 persen pada tahun 2014. Besaran pertumbuhan ekonomi yang terjaga tersebut akan menjadi basis bagi akselerasi peningkatan besaran Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Malang di tahun-tahun mendatang.
Dari uraian di atas, maka perlu untuk mengetahui kinerja Pemerintah Kabupaten Malang selama periode 2010-2014 yang didekati melalui besaran PDRB. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, dalam bab ini akan dijabarkan secara lengkap tinjauan ekonomi Kabupaten Malang dengan mendeskripsikan angka-angka hasil penghitungan PDRB Kabupaten Malang tahun 2014 dengan membandingkan PDRB tahun sebelumnya.
Selanjutnya dijelaskan pula angka Pendapatan Regional Kabupaten Malang yang merupakan salah satu turunan dari angka penghitungan PDRB Kabupaten Malang beserta nilai perkapitanya.
4.2 PDRB Kabupaten Malang
Untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang kegiatan ekonomi suatu daerah dapat dilihat melalui neraca ekonomi yang terintegrasi dalam 4 neraca pokok yaitu Neraca Produksi, Neraca Konsumsi, Neraca Akumulasi dan Neraca Transaksi Luar Negeri.
Gambaran ekonomi yang sampai saat ini dapat dihitung pada tingkat wilayah Kabupaten Malang adalah sebagian dari neraca produksi yaitu gambaran mengenai besaran produksi barang dan jasa, yang biasa disebut dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dihitung baik atas dasar harga berlaku (ADHB) maupun atas dasar harga konstan (ADHK).
Ditinjau dari pendekatan produksi, PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kabupaten Malang pada tahun berjalan mencapai 65.972,65 milyar. Dengan perhitungan menggunakan SNA 2008 struktur perekonomian mengalami sedikit perubahan. Kategori industri pengolahan yang menduduki posisi ketiga pada penghitungan SNA yang lama, ternyata mampu menjadi pendukung utama PDRB ADHB Kabupaten Malang tahun 2014 dengan kontribusi sebesar 19.775,34 milyar. Berikutnya kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, kategori pertanian, kehutanan dan perikanan, serta kategori konstruksi yang masing-masing mencapai 12.203,55 milyar, 11.982,65 milyar dan 6.319,59 milyar.
Berdasarkan harga konstan 2010, laju pertumbuhan PDRB pada Tahun 2014 digerakkan oleh semua kategori. Laju pertumbuhan kategori PDRB tertinggi pada kategori
0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000
2010 2011 2012 2013 2014
Milyar
Gambar 4.1: Produk Domestik Regional Bruto ADHB dan ADHB Tahun 2010-2014 (Dalam Juta)
PDRB ADHB PDRB ADHK
jasa perusahaan dimana pada tahun 2014 meningkat sebesar 9,54 persen dibanding dengan tahun sebelumnya. Berikutnya kategori industri pengolahan sebesar 8,55 persen, kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 8,10 persen, kategori pendidikan sebesar 7,02 persen, transportasi dan pengudangan sebesar 6,94 persen, kategori keuangan dan asuransi 6,85 persen, serta kategori informasi dan komunikasi 6,67 persen. Selanjutnya pertanian, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian serta kategori pengadaan listrik dan gas merupakan kategori yang laju pertumbuhannya rendah yaitu masing-masing sebesar 2,99 persen, 1,75 persen dan sebesar 0,17 persen.
4.3. Struktur Ekonomi
Komposisi yang membentuk ekonomi suatu wilayah atau yang berperan dalam ekonomi dapat diartikan sebagai struktur ekonomi. Pada jangka pendek struktur ekonomi berguna untuk menggambarkan corak perekonomian suatu daerah, bila kategori primer yang dominan berarti daerah tersebut menganut tipe agraris, demikian pula apabila kategori sekunder yang dominan maka daerah tersebut dikatakan menganut tipe industri. Untuk jangka panjang struktur ekonomi dapat menunjukkan arah dan keberhasilan pembangunan ekonomi dengan melihat transformasi ekonomi yang terjadi.
Berdasarkan klasifikasinya, pembagian PDRB lapangan usaha dianalisis dengan membedakan tiga kategori yaitu kategori primer, kategori sekunder dan kategori tersier.
Dimana kategori primer mencakup kategori pertanian, kehutanan dan perikanan dan kategori pertambangan dan penggalian. Kategori sekunder meliputi kategori industri pengolahan, kategori listrik dan gas, pengadaan air, pengolahan sampah, limbah serta kategori bangunan. Sedangkan kategori tersier mencakup kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, kategori informasi dan komunikasi, kategori jasa keuangan dan asuransi, real estate, jasa perusahaan, administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib, jasa pendidikan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial serta kategori jasa lainnya.
Dari sisi penawaran, transformasi struktural dapat dideteksi dengan karakteristik turunnya pangsa kategori primer yang tradisional. Pada saat yang bersamaan kategori sekunder meningkat dan selanjutnya diikuti oleh peningkatan kategori tersier. Dalam proses ini, pergeseran pangsa tetap harus diikuti oleh pertumbuhan dari masing-masing kategori
meskipun dengan laju yang berbeda. Lebih lanjut, laju percepatan dari suatu proses transformasi akan berbeda untuk masing-masing daerah, tergantung dari karakteristik daerah yang bersangkutan. Untuk daerah yang kaya sumber daya alam seperti Kabupaten Malang, proses transformasinya cenderung lebih lambat dibandingkan dengan-daerah kawasan industri seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan daerah lainnya. Perbedaan ini karena untuk daerah-daerah yang kaya sumber daya alam cenderung masih membutuhkan pertumbuhan yang relatif tinggi pada kategori primer untuk mendukung percepatan pertumbuhan pada kategori lainnya.
Tabel 4.1
Peranan PDRB Menurut Lapangan Usaha (persen), 2010─2014
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
I. Primer I. 23.63 23.17 22.50 22.24 22.35
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 18,78 18,49 18,16 18,09 18,16
B Pertambangan dan Penggalian 2,43 2,34 2,17 2,07 2,10
II Sekunder 40.91 41.27 42.13 42.16 42.79
C Industri Pengolahan 29,29 29,66 29,91 29,55 29,98
D Pengadaan Listrik dan Gas 0,10 0,09 0,09 0,08 0,07
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10
F Konstruksi 11,01 11,42 12,03 12,43 12,64
II Tersier 35.47 35.56 35.36 35.61 34.88
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 19,27 19,37 18,99 19,00 18,50
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
Dari Tabel 4.1 di atas mengenai perubahan pangsa terhadap PDRB Kabupaten Malang terlihat pada tahun 2014, pangsa kategori sekunder yang dimotori oleh kategori industri pengolahan dan kategori konstruksi terus meningkat. Pada tahun 2010, pangsa kategori sekunder masih mencapai 40,91 persen dan secara konsisten naik hingga
mencapai 42,79 persen pada tahun 2014. Sebaliknya, pangsa kategori tersier justru mengalami penurunan yaitu dari 35,47 persen pada tahun 2010 menjadi 34,88 persen pada tahun 2014.
Dipihak lain, kategori primer mengalami penurunan peranannya. Pada tahun 2014, kontribusi kategori ini sebesar 22,35 persen atau menurun sebesar 1,28 poin dibandingkan tahun dasar. Berkurangnya luas lahan dan terlambatnya musim hujan pada penghujung tahun nampaknya berperan terhadap penurunan kategori ini. Baik kategori pertanian maupun kategori penggalian mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,62 poin dan 0,33 poin.
0 20 40 60 80 100
2010 2011 2012 2013 2014
Gambar 4.2 Perubahan Struktur Ekonomi Kabupaten Malang 2010-2014 (Dalam persen)
tertier sekunder primer
Ada tiga gejala menarik selama periode 2010-2014 mengenai pergeseran struktur ekonomi yang dapat diamati pada Tabel 4.1 di atas. Pertama, Memasuki tahun 2014, tren penurunan kategori primer dalam beberapa tahun terakhir tertahan. Kedua, kategori tersier yang diharapkan sebagai salah satu motor pengerak ekonomi dalam pembentukan PDRB Kabupaten Malang, ternyata peranannya tersendat. Ketiga, pergeseran perekonomian Kabupaten Malang dari kategori primer ke kategori sekunder dan tersier tengah berlangsung. Pergeseran adalah sesuatu yang wajar terjadi pada suatu pembangunan ekonomi. Namun, pergeseran yang terjadi di Kabupaten Malang nampaknya telah menyeret aset penting kategori pertanian ke dalamnya. Keadaan ini dengan mudah dapat dilihat dari berubahnya hamparan tanaman menjadi lahan bangunan baik pemukiman, pertokoan, perkantoran, perumahan maupun lainnya. Apabila keadaan ini terus dibiarkan berlangsung tanpa pengendalian yang jelas, maka bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti, Kabupaten Malang bukan lagi pemasok sayur-sayuran dan buah-buahan ke daerah lain.
tersier
4.4 Produk Domestik Regional Bruto Perkapita
Salah satu indikator ekonomi penting untuk mengetahui pertumbuhan pendapatan daerah dalam hubungannya dengan kemajuan kategori ekonomi tersebut adalah PDRB Perkapita yang biasanya dipakai sebagai indikator perkembangan kesejahteraan rakyat. Pada umumnya PDRB Perkapita disajikan berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku, karena PDRB Perkapita selain dipengaruhi faktor produksi juga dipengaruhi oleh harga barang/jasa.
Namun gambaran tersebut tidak dapat langsung dijadikan sebagai ukuran peningkatan ekonomi maupun penyebaran di setiap strata ekonomi karena pengaruh inflasi sangat dominan baik dalam pembentukan PDRB maupun pendapatan regional.
Selama lima tahun terakhir ini, PDRB Perkapita mengalami peningkatan yang cukup berarti. Pada tahun 2010, PDRB Perkapita sebesar Rp 16,89 juta dan kemudian meningkat menjadi Rp 26,11 juta pada tahun 2014 atau meningkat 54,52 persen. Peningkatan paling tinggi terjadi pada tahun 2011 yang meningkat sebesar 13,03 persen. Pada tahun 2014 ini perkembangan PDRB perkapita masih cukup tinggi karena masih meningkat sebesar 11,23 persen.
Tabel 4.2
PDRB Per Kapita Menurut Lapangan Usaha 2010 – 2014 (Dalam Juta Rp)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 3.17 3.53 3.88 4.25 4.74
B Pertambangan dan Penggalian 0.41 0.45 0.46 0.49 0.55
C Industri Pengolahan 5.02 5.66 6.38 6.93 7.83
D Pengadaan Listrik dan Gas 0.02 0.02 0.02 0.02 0.02
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur
Ulang 0.02 0.02 0.02 0.02 0.03
F Konstruksi 1.86 2.18 2.57 2.92 3.30
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor 3.26 3.70 4.05 4.46 4.83
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
Sosial Wajib 0.36 0.40 0.44 0.48 0.51
P Jasa Pendidikan 0.38 0.43 0.50 0.56 0.63
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0.08 0.10 0.11 0.13 0.15
R,S,T,U Jasa lainnya 0.37 0.40 0.42 0.45 0.49
Produk Domestik Regional Bruto 16.89 19.10 21.34 23.47 26.11
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
BAB V
PERTUMBUHAN DAN PERANAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA
Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah tingkat pertumbuhan ekonominya. Dengan asumsi bahwa dengan pertumbuhan yang tinggi akan menyerap tenaga kerja yang tinggi pula, yang pada hakekatnya meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. Sehingga pertumbuhan yang tinggi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemakmuran penduduk.
Pertumbuhan ekonomi dapat diukur dari PDRB atas dasar harga konstan 2010.
Sehingga pertumbuhan ini sudah tidak dipengaruhi faktor harga atau dengan kata lain benar-benar murni disebabkan oleh kenaikan produksi kategori pendukungnya.
Pada sisi produksi, pertumbuhan kategori non-tradables yang terdiri dari Kategori Listrik dan Gas, Kategori Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, Kategori Konstruksi, Kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Kategori Transpotasi dan Pergudangan, Kategori Penyediaan Akomodasi Makan Minum, Kategori Informasi dan Komunikasi, Kategori Keuangan dan Asuransi, Kategori Real Estate, Kategori Jasa Perusahaan, Kategori Pemerintahan, Kategori Jasa Pendidikan, Kategori Jasa Kesehatan serta Kategori-Jasa lainnya mengalami pertumbuhan yang melambat, sementara pertumbuhan kategori tradables yang terdiri dari pertanian, penggalian dan industri pengolahan relatif lebih tinggi di level 6 persen.
Pada tahun 2014, rata-rata pertumbuhan kategori non-tradables mencapai 5,22 persen, melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai sebesar 7,50 persen. Sementara itu, pertumbuhan kategori tradables tumbuh mencapai 6,20 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2013. Akselerasi pertumbuhan kategori tradables terutama ditopang oleh kategori industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan tetap tinggi yaitu mencapai sebesar 8,55 persen. Sementara tingkat pertumbuhan yang dicapai kategori non-tradable terutama disumbang oleh Kategori Jasa Perusahaan, Kategori Transportasi dan Pergudangan, Keuangan dan Asuransi serta Kategori
Informasi dan Komunikasi yang mencapai pertumbuhan yang relatif tinggi pada tahun 2014, yaitu masing-masing tercatat sebesar 9,54 persen, 6,94 persen, 6,85 persen dan 6,67 persen.
5.1 PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN PERIKANAN
Lapangan usaha ini mencakup Sub lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang terdiri dari : tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan dan jasa pertanian dan perburuan, Sub lapangan usaha kehutanan dan penebangan kayu, serta sub lapangan usaha Perikanan. Lapangan usaha ini masih menjadi tumpuan dan harapan dalam penyerapan tenaga kerja.
Tabel 5.1
Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Tahun 2010-2014 (Dalam Persen)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
I Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa
Pertanian 90.69 90.45 89.48 88.65 88.21
a. Tanaman Pangan 22.44 21.89 21.53 21.48 21.23 b. Tanaman Hortikultura 27.50 27.00 25.44 24.20 24.12
c. Tanaman Perkebunan 0.10 0.11 0.12 0.11 0.11
d. Peternakan 29.17 29.35 29.33 30.19 30.32
e. Jasa Pertanian dan Perburuan 1.47 1.43 1.40 1.35 1.36 2 Kehutanan dan Penebangan Kayu 1.32 1.35 1.52 1.52 1.50
3 Perikanan 7.98 8.20 9.01 9.83 10.29
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
Kinerja Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih terbatas terutama karena permasalahan di sub kategori tanaman pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian serta sub lapangan usaha kehutanan dan penebangan kayu. Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan tumbuh melambat dikisaran 2,99 persen, di bawah rata-rata lima tahun terakhir 3,80 persen. Kinerja sub kategori tanaman pangan masih mengalami permasalahan produksi yang berada dalam tren melambat akibat berkurangnya luas lahan, terlambatnya musim hujan pada penghujung tahun serta adanya kemarau panjang pada
Kinerja Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih terbatas terutama karena permasalahan di sub kategori tanaman pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian serta sub lapangan usaha kehutanan dan penebangan kayu. Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan tumbuh melambat dikisaran 2,99 persen, di bawah rata-rata lima tahun terakhir 3,80 persen. Kinerja sub kategori tanaman pangan masih mengalami permasalahan produksi yang berada dalam tren melambat akibat berkurangnya luas lahan, terlambatnya musim hujan pada penghujung tahun serta adanya kemarau panjang pada