IV. PERKEMBANGAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA
4.3 Struktur Ekonomi
jasa perusahaan dimana pada tahun 2014 meningkat sebesar 9,54 persen dibanding dengan tahun sebelumnya. Berikutnya kategori industri pengolahan sebesar 8,55 persen, kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 8,10 persen, kategori pendidikan sebesar 7,02 persen, transportasi dan pengudangan sebesar 6,94 persen, kategori keuangan dan asuransi 6,85 persen, serta kategori informasi dan komunikasi 6,67 persen. Selanjutnya pertanian, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian serta kategori pengadaan listrik dan gas merupakan kategori yang laju pertumbuhannya rendah yaitu masing-masing sebesar 2,99 persen, 1,75 persen dan sebesar 0,17 persen.
4.3. Struktur Ekonomi
Komposisi yang membentuk ekonomi suatu wilayah atau yang berperan dalam ekonomi dapat diartikan sebagai struktur ekonomi. Pada jangka pendek struktur ekonomi berguna untuk menggambarkan corak perekonomian suatu daerah, bila kategori primer yang dominan berarti daerah tersebut menganut tipe agraris, demikian pula apabila kategori sekunder yang dominan maka daerah tersebut dikatakan menganut tipe industri. Untuk jangka panjang struktur ekonomi dapat menunjukkan arah dan keberhasilan pembangunan ekonomi dengan melihat transformasi ekonomi yang terjadi.
Berdasarkan klasifikasinya, pembagian PDRB lapangan usaha dianalisis dengan membedakan tiga kategori yaitu kategori primer, kategori sekunder dan kategori tersier.
Dimana kategori primer mencakup kategori pertanian, kehutanan dan perikanan dan kategori pertambangan dan penggalian. Kategori sekunder meliputi kategori industri pengolahan, kategori listrik dan gas, pengadaan air, pengolahan sampah, limbah serta kategori bangunan. Sedangkan kategori tersier mencakup kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, kategori informasi dan komunikasi, kategori jasa keuangan dan asuransi, real estate, jasa perusahaan, administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib, jasa pendidikan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial serta kategori jasa lainnya.
Dari sisi penawaran, transformasi struktural dapat dideteksi dengan karakteristik turunnya pangsa kategori primer yang tradisional. Pada saat yang bersamaan kategori sekunder meningkat dan selanjutnya diikuti oleh peningkatan kategori tersier. Dalam proses ini, pergeseran pangsa tetap harus diikuti oleh pertumbuhan dari masing-masing kategori
meskipun dengan laju yang berbeda. Lebih lanjut, laju percepatan dari suatu proses transformasi akan berbeda untuk masing-masing daerah, tergantung dari karakteristik daerah yang bersangkutan. Untuk daerah yang kaya sumber daya alam seperti Kabupaten Malang, proses transformasinya cenderung lebih lambat dibandingkan dengan-daerah kawasan industri seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan daerah lainnya. Perbedaan ini karena untuk daerah-daerah yang kaya sumber daya alam cenderung masih membutuhkan pertumbuhan yang relatif tinggi pada kategori primer untuk mendukung percepatan pertumbuhan pada kategori lainnya.
Tabel 4.1
Peranan PDRB Menurut Lapangan Usaha (persen), 2010─2014
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
I. Primer I. 23.63 23.17 22.50 22.24 22.35
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 18,78 18,49 18,16 18,09 18,16
B Pertambangan dan Penggalian 2,43 2,34 2,17 2,07 2,10
II Sekunder 40.91 41.27 42.13 42.16 42.79
C Industri Pengolahan 29,29 29,66 29,91 29,55 29,98
D Pengadaan Listrik dan Gas 0,10 0,09 0,09 0,08 0,07
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10
F Konstruksi 11,01 11,42 12,03 12,43 12,64
II Tersier 35.47 35.56 35.36 35.61 34.88
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 19,27 19,37 18,99 19,00 18,50
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
Dari Tabel 4.1 di atas mengenai perubahan pangsa terhadap PDRB Kabupaten Malang terlihat pada tahun 2014, pangsa kategori sekunder yang dimotori oleh kategori industri pengolahan dan kategori konstruksi terus meningkat. Pada tahun 2010, pangsa kategori sekunder masih mencapai 40,91 persen dan secara konsisten naik hingga
mencapai 42,79 persen pada tahun 2014. Sebaliknya, pangsa kategori tersier justru mengalami penurunan yaitu dari 35,47 persen pada tahun 2010 menjadi 34,88 persen pada tahun 2014.
Dipihak lain, kategori primer mengalami penurunan peranannya. Pada tahun 2014, kontribusi kategori ini sebesar 22,35 persen atau menurun sebesar 1,28 poin dibandingkan tahun dasar. Berkurangnya luas lahan dan terlambatnya musim hujan pada penghujung tahun nampaknya berperan terhadap penurunan kategori ini. Baik kategori pertanian maupun kategori penggalian mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,62 poin dan 0,33 poin.
0 20 40 60 80 100
2010 2011 2012 2013 2014
Gambar 4.2 Perubahan Struktur Ekonomi Kabupaten Malang 2010-2014 (Dalam persen)
tertier sekunder primer
Ada tiga gejala menarik selama periode 2010-2014 mengenai pergeseran struktur ekonomi yang dapat diamati pada Tabel 4.1 di atas. Pertama, Memasuki tahun 2014, tren penurunan kategori primer dalam beberapa tahun terakhir tertahan. Kedua, kategori tersier yang diharapkan sebagai salah satu motor pengerak ekonomi dalam pembentukan PDRB Kabupaten Malang, ternyata peranannya tersendat. Ketiga, pergeseran perekonomian Kabupaten Malang dari kategori primer ke kategori sekunder dan tersier tengah berlangsung. Pergeseran adalah sesuatu yang wajar terjadi pada suatu pembangunan ekonomi. Namun, pergeseran yang terjadi di Kabupaten Malang nampaknya telah menyeret aset penting kategori pertanian ke dalamnya. Keadaan ini dengan mudah dapat dilihat dari berubahnya hamparan tanaman menjadi lahan bangunan baik pemukiman, pertokoan, perkantoran, perumahan maupun lainnya. Apabila keadaan ini terus dibiarkan berlangsung tanpa pengendalian yang jelas, maka bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti, Kabupaten Malang bukan lagi pemasok sayur-sayuran dan buah-buahan ke daerah lain.
tersier
4.4 Produk Domestik Regional Bruto Perkapita
Salah satu indikator ekonomi penting untuk mengetahui pertumbuhan pendapatan daerah dalam hubungannya dengan kemajuan kategori ekonomi tersebut adalah PDRB Perkapita yang biasanya dipakai sebagai indikator perkembangan kesejahteraan rakyat. Pada umumnya PDRB Perkapita disajikan berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku, karena PDRB Perkapita selain dipengaruhi faktor produksi juga dipengaruhi oleh harga barang/jasa.
Namun gambaran tersebut tidak dapat langsung dijadikan sebagai ukuran peningkatan ekonomi maupun penyebaran di setiap strata ekonomi karena pengaruh inflasi sangat dominan baik dalam pembentukan PDRB maupun pendapatan regional.
Selama lima tahun terakhir ini, PDRB Perkapita mengalami peningkatan yang cukup berarti. Pada tahun 2010, PDRB Perkapita sebesar Rp 16,89 juta dan kemudian meningkat menjadi Rp 26,11 juta pada tahun 2014 atau meningkat 54,52 persen. Peningkatan paling tinggi terjadi pada tahun 2011 yang meningkat sebesar 13,03 persen. Pada tahun 2014 ini perkembangan PDRB perkapita masih cukup tinggi karena masih meningkat sebesar 11,23 persen.
Tabel 4.2
PDRB Per Kapita Menurut Lapangan Usaha 2010 – 2014 (Dalam Juta Rp)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 3.17 3.53 3.88 4.25 4.74
B Pertambangan dan Penggalian 0.41 0.45 0.46 0.49 0.55
C Industri Pengolahan 5.02 5.66 6.38 6.93 7.83
D Pengadaan Listrik dan Gas 0.02 0.02 0.02 0.02 0.02
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur
Ulang 0.02 0.02 0.02 0.02 0.03
F Konstruksi 1.86 2.18 2.57 2.92 3.30
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor 3.26 3.70 4.05 4.46 4.83
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
Sosial Wajib 0.36 0.40 0.44 0.48 0.51
P Jasa Pendidikan 0.38 0.43 0.50 0.56 0.63
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0.08 0.10 0.11 0.13 0.15
R,S,T,U Jasa lainnya 0.37 0.40 0.42 0.45 0.49
Produk Domestik Regional Bruto 16.89 19.10 21.34 23.47 26.11
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
BAB V
PERTUMBUHAN DAN PERANAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA
Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah tingkat pertumbuhan ekonominya. Dengan asumsi bahwa dengan pertumbuhan yang tinggi akan menyerap tenaga kerja yang tinggi pula, yang pada hakekatnya meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. Sehingga pertumbuhan yang tinggi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemakmuran penduduk.
Pertumbuhan ekonomi dapat diukur dari PDRB atas dasar harga konstan 2010.
Sehingga pertumbuhan ini sudah tidak dipengaruhi faktor harga atau dengan kata lain benar-benar murni disebabkan oleh kenaikan produksi kategori pendukungnya.
Pada sisi produksi, pertumbuhan kategori non-tradables yang terdiri dari Kategori Listrik dan Gas, Kategori Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, Kategori Konstruksi, Kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Kategori Transpotasi dan Pergudangan, Kategori Penyediaan Akomodasi Makan Minum, Kategori Informasi dan Komunikasi, Kategori Keuangan dan Asuransi, Kategori Real Estate, Kategori Jasa Perusahaan, Kategori Pemerintahan, Kategori Jasa Pendidikan, Kategori Jasa Kesehatan serta Kategori-Jasa lainnya mengalami pertumbuhan yang melambat, sementara pertumbuhan kategori tradables yang terdiri dari pertanian, penggalian dan industri pengolahan relatif lebih tinggi di level 6 persen.
Pada tahun 2014, rata-rata pertumbuhan kategori non-tradables mencapai 5,22 persen, melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai sebesar 7,50 persen. Sementara itu, pertumbuhan kategori tradables tumbuh mencapai 6,20 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2013. Akselerasi pertumbuhan kategori tradables terutama ditopang oleh kategori industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan tetap tinggi yaitu mencapai sebesar 8,55 persen. Sementara tingkat pertumbuhan yang dicapai kategori non-tradable terutama disumbang oleh Kategori Jasa Perusahaan, Kategori Transportasi dan Pergudangan, Keuangan dan Asuransi serta Kategori
Informasi dan Komunikasi yang mencapai pertumbuhan yang relatif tinggi pada tahun 2014, yaitu masing-masing tercatat sebesar 9,54 persen, 6,94 persen, 6,85 persen dan 6,67 persen.
5.1 PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN PERIKANAN
Lapangan usaha ini mencakup Sub lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang terdiri dari : tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan dan jasa pertanian dan perburuan, Sub lapangan usaha kehutanan dan penebangan kayu, serta sub lapangan usaha Perikanan. Lapangan usaha ini masih menjadi tumpuan dan harapan dalam penyerapan tenaga kerja.
Tabel 5.1
Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Tahun 2010-2014 (Dalam Persen)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
I Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa
Pertanian 90.69 90.45 89.48 88.65 88.21
a. Tanaman Pangan 22.44 21.89 21.53 21.48 21.23 b. Tanaman Hortikultura 27.50 27.00 25.44 24.20 24.12
c. Tanaman Perkebunan 0.10 0.11 0.12 0.11 0.11
d. Peternakan 29.17 29.35 29.33 30.19 30.32
e. Jasa Pertanian dan Perburuan 1.47 1.43 1.40 1.35 1.36 2 Kehutanan dan Penebangan Kayu 1.32 1.35 1.52 1.52 1.50
3 Perikanan 7.98 8.20 9.01 9.83 10.29
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
Kinerja Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih terbatas terutama karena permasalahan di sub kategori tanaman pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian serta sub lapangan usaha kehutanan dan penebangan kayu. Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan tumbuh melambat dikisaran 2,99 persen, di bawah rata-rata lima tahun terakhir 3,80 persen. Kinerja sub kategori tanaman pangan masih mengalami permasalahan produksi yang berada dalam tren melambat akibat berkurangnya luas lahan, terlambatnya musim hujan pada penghujung tahun serta adanya kemarau panjang pada akhir tahun. Sementara itu, kinerja sub kategori perikanan masih tumbuh cukup tinggi sepanjang tahun yaitu sebesar 8,92 persen.
Gambar 5.1
Laju Pertumbuhan PDRB Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
Pada Tahun 2014, lapangan usaha Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberi kontribusi terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 18,26 persen.
Lapangan usaha sub kategori tanaman pangan merupakan penyumbang terbesar terhadap lapangan usaha kategori ini yaitu tercatat sebesar 88,21 persen dari seluruh nilai tambah kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan. Berikutnya sub kategori perikanan yang menyumbang sebesar 10,29 persen, serta kehutanan yang hanya menyumbang 1,50 persen.
Dari Gambar 5.1 di atas terlihat, bahwa secara keseluruhan dalam kinerja lapangan usaha kategori pertanian, kehutanan dan perikanan cenderung melambat. Kondisi tersebut terjadi pada semua sub kategori, utamanya sub kategori kehutanan dan penebangan kayu.
Dengan kenyataan yang demikian, kategori pertanian sebagai pendukung utama kategori primer mengalami pertumbuhan sebesar 2,99 persen yang berarti sedikit lebih lambat dari pertumbuhan pada tahun 2013 yang sebesar 3,06 persen.
5.2 Pertambangan dan Penggalian
Kinerja sektor penggalian tumbuh melambat akibat penyusutan alamiah, gangguan produksi, dan cuaca. Sektor penggalian tumbuh melambat dari 1,90 persen pada tahun 2013 menjadi 1,75 persen pada tahun 2014, bahkan masih lebih rendah dari rata-rata 5 tahun terakhir yang sebesar 2,95 persen. Penurunan kinerja tersebut berasal dari melambatnya kinerja penggalian pasir, kerikil, batu dan tanah urug. Penyusutan alamiah penggalian lama, beberapa gangguan produksi dan tidak banyaknya eksplorasi penggalian baru menjadi faktor yang menyebabkan rendahnya produksi.
Tabel 5.2
Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pertambangan dan Penggalian Tahun 2010-2014 (Dalam Persen)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi - - - - -
2 Pertambangan Batubara dan Lignit - - - - -
3 Pertambangan Bijih Logam - - - - -
4 Pertambangan dan Penggalian Lainnya 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
5.3 Industri Pengolahan
Peran kategori industri pengolahan sangat penting dalam perekonomian Kabupaten Malang. Dilihat dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi, sumbangan kategori ini menempati urutan pertama dalam pembentukan PDRB. Apabila dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor, peran kategori ini lebih besar dibandingkan dengan ekspor kategori pertanian. Jika dilihat kontribusinya terhadap tenaga kerja, kategori ini rata-rata menyerap sekitar 12 persen dari total tenaga kerja. Kategori industri memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan (backward dan forward linkage) yang besar sehingga peningkatan kinerja industri pengolahan dapat berefek pada kategori industri lainnya.
Di tengah perannya yang penting dalam perekonomian Kabupaten Malang, kinerja kategori industri pengolahan mengalami tren peningkatan pada Tahun 2014. Sepanjang Tahun 2014 tumbuh membaik menjadi 8,85 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 4,23 persen. Kinerja industri pengolahan yang membaik antara lain ditopang oleh sub lapangan usaha pengolahan tembakau dan industri makanan dan minuman yang meningkat sejalan kegitan pemilu, kegiatan olahraga dan budaya masih menunjukkan kinerja yang positif.
Pada Kategori Industri Pengolahan, lapangan usaha yang menyumbang peranan terbesar adalah sub kategori Industri Pengolahan Tembakau sebesar 45,96 persen dan subkategori Industri Makanan dan Minuman sebesar 30,61 persen. Berikutnya subkategori Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya sebesar 4,24 persen; sub kategori Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik
dan Sejenisnya sebesar 4,12 persen. Sedangkan subkategori yang lain memiliki kontribusi di bawah empat persen.
Pembangunan industri pengolahan sebagai motor pertumbuhan ekonomi sangat penting untuk menjamin pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dalam struktur ekonomi Kabupaten Malang, lapangan usaha ini merupakan kategori terbesar di dalam pembentukan PDRB Kabupaten Malang. Selain itu, pentingnya kategori ini juga terlihat dari perannya terhadap ekspor, penyerapan tenaga kerja dan juga keterkaitannya yang cukup luas dengan sektor-sektor lainnya di dalam perekonomian. Untuk itu, perkembangan sektor ini menjadi sangat menentukan gerak dinamika perekonomian ke depan. Salah satu tantangan utama yang saat ini dihadapi oleh industri pengolahan yakni perlunya peningkatan nilai tambah dari produk-produk berbasis SDA. Pada saat ini beberapa sub kategori yang menjadi andalan kategori industri pengolahan lebih banyak berbasis SDA seperti sub kategori makanan dan minuman dan industri pengolahan tembakau. Selama tahun 2014, kedua sub kategori ini
masih tumbuh positif, bahkan industri pengolahan tembakau masih tumbuh di atas 10 persen.
Selain itu, pembangunan sektor industri ke depan juga perlu memerhatikan aspek daerah yaitu lebih mengandalkan basis ekonomi lokal. Pembangunan industri berbasis ekonomi lokal merupakan suatu langkah penting untuk membangun ekonomi lokal. Ekonomi lokal diharapkan dapat mengembangkan industri pendukung yang menyediakan bahan baku dan penolong bagi industri lainnya. Dengan demikian, industri pengolahan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku dan penolong. Dengan semakin tersebarnya industri di berbagai wilayah, diharapkan akan meningkatkan aspek pemerataan antar wilayah. Untuk itu, daerah harus diberi kesempatan, dorongan, dan insentif agar dapat mengembangkan inisiatif untuk membangun sektor riil berbasis potensi lokal dan mengaitkannya pada kebutuhan pasar nasional dan global. Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang perlu mengupayakan peningkatan produktivitas sektoral di daerahnya dengan beberapa kebijakan yang dapat mendukung pencapaian produktivitas yang tinggi. Salah satu upaya penting yaitu peningkatan kemampuan pendidikan terutama di daerah-daerah. Dengan modal sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan yang lebih baik, maka tingkat produktivitas dapat ditingkatkan Dengan basis industri yang kuat di daerah, pada akhirnya akan teragregasi menjadi industri pengolahan yang kokoh.
Pembangunan industri perlu memerhatikan keunggulan ekonomi daerah terkait dengan struktur ekonomi daerah.
Tabel 5.3
Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Tahun 2010-2014 (Dalam Persen)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 6 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang
Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya 5.61 5.12 4.57 4.44 4.24
7 Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan
Reproduksi Media Rekaman 2.08 2.01 1.85 1.77 1.66
8 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 3.27 3.18 3.08 3.04 3.06 9 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik 4.76 4.68 4.63 4.31 4.12
10 Industri Barang Galian bukan Logam 2.21 2.19 2.08 1.97 1.88
11 Industri Logam Dasar - - - - -
12 Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik,
Optik; dan Peralatan Listrik 1.59 1.53 1.55 1.61 1.54
13 Industri Mesin dan Perlengkapan 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03
14 Industri Alat Angkutan 0.66 0.65 0.64 0.67 0.63
15 Industri Furnitur 3.59 3.17 2.97 2.94 2.87
16 Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan
Pemasangan Mesin dan Peralatan 1.55 1.43 1.32 1.23 1.23
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
Permasalahan lain yang dihadapi kategori industri adalah mengalirnya barang-barang substitusi yang berasal dari impor semenjak pemerintah melonggarkan masuknya barang impor. Banyaknya barang impor dengan harga yang bersaing telah mengurangi peluang produsen lokal dalam mengakomodasi kenaikan permintaan. Selain permasalahan di atas, dunia usaha pada tahun ini masih terbebani dengan masih tingginya angka inflasi pada triwulan keempat sebagai akibat dari kenaikan harga BBM pada Bulan Nopember, kenaikan tarif dasar elpiji serta kenaikan upah buruh yang pada gilirannya berpengaruh pada daya saing produk Kabupaten Malang.
5.4 Pengadaan Listrik dan Gas
Kategori Pengadaan Listrik dan Gas berkontribusi sebesar 0,07 persen terhadap total PDRB pada tahun 2014. Dari kontribusi tersebut, seluruhnya disumbangkan oleh lapangan usaha
Ketenagalistrikan. Kecilnya sumbangan kategori Pengadaan Listrik ini disebabkan dikeluarkan nilai tambah subsidi pemerintah dalam penghitungan dengan SNA 2008.
Tabel 5.4
Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Pengadaan Listrik dan Gas Tahun 2010-2014 (Dalam Persen)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Ketenagalistrikan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
2 Pengadaan Gas dan Produksi Es - - - - -
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
Sejak ada kenaikan BBM pada pertenghan Tahun 2014, PLN menerapkan giliran pemadaman listrik di berbagai lokasi. Terjadi pengurangan pasokan listrik pada pembangkit listrik yang ada baik yang dimiliki PLN ataupun bukan. Pengurangan ini terjadi akibat permintaan meningkat terhadap listrik sejak terjadinya kenaikan harga BBM. Kenaikan permintaan ini salah satunya disebabkan oleh meningkatnya permintaan industri, dikarenakan biaya produksi yang lebih murah bila menggunakan listrik dibandingkan harga BBM. Terjadinya pemadaman listrik secara bergiliran tentunya akan berdampak ekonomi yang cukup luas. Secara keseluruhan, tingkat pertumbuhan kategori Pengadaan Listrik dan Gas di Kabupaten Malang mengalami perlambatan pertumbuhan akibat kendala pasokan dan kendala infrastruktur. Pada tahun 2014, energi listrik yang terjual dan hilang dalam transmisi masing-masing mencapai 1.056,31 juta Kwh dan 93,67 juta Kwh. Dengan demikian, kategori ini tumbuh melambat yaitu dari 5,05 persen pada tahun 2013 menjadi 0,17 persen pada tahun 2014.
5.5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
Kategori ini mencakup kegiatan ekonomi pengumpulan, pengolahan dan penditribusian air melalui berbagai saluran pipa untuk kebutuhan rumah tangga dan industri. Termasuk juga kegiatan pengumpulan, penjernihan dan pengolahan air dan sungai, danau, mata air, hujan dan sebagainya. Tidak termasuk pengoperasian peralatan irigasi untuk keperluan pertanian. Peranan kategori ini terhadap perekonomian di Kabupaten
Malang tahun 2014 hanya 0.10 persen. Sedangkan laju pertumbuhannya sebesar
1,85 persen, melambat dibanding tahun 2013 yang mengalami pertumbuhan sebesar 6,56 persen.
5.6 Konstruksi
Salah satu kategori yang paling merasakan dampak kebijakan untuk mengurangi beban subsidi BBM melalui kenaikan harga BBM bersubsidi adalah kategori bangunan.
Selama Tahun 2014, pembangunan infrastruktur dan prasarana wilayah seperti pembangunan perkantoran, pembangunan jalan, pembangunan sarana hiburan, serta pembangunan properti baik residential maupun komersial cenderung melambat.
Pada Tahun 2014, lapangan usaha kategori konstruksi menyumbang sebesar 12,64 persen terhadap total perekonomian Kabupaten Malang. Apabila diikuti perkembangannya selama lima tahun terakhir peranan lapangan usaha kategori ini cenderung meningkat. Pada Tahun 2010 konstribusi kategori ini masih sebesar 11,01 persen dan meningkat menjadi 12,64 persen pada tahun 2014. Sedangkan laju pertumbuhannya melambat dibandingkan periode sebelumnya yaitu dari sebesar 9,40 persen menjadi hanya sebesar 5,92 persen.
5.7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
Sejalan dengan pertumbuhan pada periode berjalan, nilai tambah kategori-kategori yang berkaitan dengan kategori non-tradables pada tahun 2014 mencatat pertumbuhan yang cenderung menurun dibanding sektor-sektor lainnya, kecuali penyediaan akomodasi makanan dan minuman, serta jasa perusahaan. Ditinjau dari sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi, kategori perdagangan besar eceran, reparasi mobil dan sepeda motor merupakan kategori non-tradables dengan sumbangan tertinggi. Kontribusi terbesar pada pertumbuhan sektor ini berasal dari sub kategori perdagangan besar dan eceran yang tumbuh 4,40 persen. Ini berarti melambat dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang mencapai sebesar 5,88 persen. Aktivitas sub kategori ini ditandai dengan dibukanya gerai-gerai perdagangan, serta sejalan dengan meningkatnya produk industri makanan dan minuman.
Tabel 5.5
Peranan Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kategori Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Tahun 2010-2014 (Dalam Persen)
Lapangan Usaha/Industry 2010 2011 2012 2013* 2014**
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan
Reparasinya 24.35 24.36 24.55 25.49 25.41
2 Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan
Sepeda Motor 75.65 75.64 75.45 74.51 74.59
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara
** Angka sangat sementara
Gambar 5.2
Laju Pertumbuhan PDRB Kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor(persen), 2010-2014
Selama 5 tahun terakhir, Kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menyumbang di atas 18 persen. Pada tahun 2014, kontribusi kategori ini sebesar 18,50 persen terhadap total nilai PDRB Kabupaten Malang. Apabila dilihat peranannya pada masing-masing sub kategori, Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasi menyumbang 25,41 persen dan sub kategori Perdagangan Besar dan Eceran Bukan Mobil dan Sepeda Motor sebesar 74,59 persen terhadap lapangan usaha kategori ini.
5.8 Transportasi dan Pergudangan
Kategori Transportasi dan Pergudangan di Kabupaten Malang terdiri dari 4 sub kategori lapangan usaha, yaitu Angkutan Rel, Angkutan Darat, , Angkutan Udara, serta Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir. Sebagai kategori yang paling
merasakan dampak kenaikan harga BBM, pertumbuhan kategori pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2014 masih tumbuh tetap tinggi dengan laju pertumbuhan yang mencapai sebesar 6,94 persen. Lapangan usaha Sub Kategori Angkutan Darat dan Sub
merasakan dampak kenaikan harga BBM, pertumbuhan kategori pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2014 masih tumbuh tetap tinggi dengan laju pertumbuhan yang mencapai sebesar 6,94 persen. Lapangan usaha Sub Kategori Angkutan Darat dan Sub