• Tidak ada hasil yang ditemukan

Industri Ritel : Diantara Bayang Pelemahan Daya Beli

Dalam dokumen Perekonomian dan Perbankan. Oktober 2017 (Halaman 27-34)

Ahmad Subhan

Pelemahan bisnis ritel terjadi akibat bebarapa faktor antara lain; pelemahan daya beli konsumen, perubahan perilaku transaksi dan konsumsi serta tingkat kompetisi yang sangat ketat serta isu peningkatan biaya operasional.

Bagi perbankan perlambatan kinerja pada penjualan ritel juga memiliki dampak yang besar sebab portfolio pada sektor ini mencapai sekitar 19% dari total portfolio kredit nasional.

Dalam beberapa waktu terakhir, isu perlambatan kinerja penjualan yang dialami bisnis ritel kembali menjadi perbincangan. Hal ini menyusul rilisnya data pertumbuhan ekonomi kuartal III yang hanya mencapai 5,06% sehingga dinilai banyak pihak akan sulit mencapai target pertumbuhan pemerintah tahun 2017 sebesar 5,2%. Salah satu kekhawatiran yang paling mengemuka adalah perlambatan sektor konsumsi terus terjadi sementara sektor ini adalah penyokong utama pertumbuhan ekonomi. Perlambatan konsumsi tersebut secara jelas terefleksi dari penjualan ritel yang juga ikut melemah di berbagai daerah khususnya di Jawa. Beberapa hipotesa awal yang sering diungkapkan terkait pelemahan bisnis ritel ini antara lain adalah telah terjadinya pelemahan daya beli konsumen, perubahan perilaku transaksi dan konsumsi serta tingkat kompetisi yang sangat ketat hingga isu biaya operasional yang berdampak negatif pada margin banyak perusahaan ritel. Harus diakui bahwa membuktikan berbagai hipotesa tersebut tidaklah mudah apalagi jika kemudian menyimpulkan bahwa salah satu diantaranya adalah faktor tunggal penyebab pelemahan kinerja bisnis ritel.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melalui ketuanya mengungkapkan bahwa fenomena yang dialami industri ritel saat ini merupakan fenomenal anomali. Pasalnya, secara makro ekonomi kondisi Indonesia saat ini masih cukup baik. Anomali ini menurutnya sudah berlangsung selama 2,5 tahun terakhir dimulai ketika pertengahan 2013 lalu atau pasca booming komoditas. Kondisi saat ini menunjukkan industri ritel domestik mengalami tekanan dari dua sisi secara bersamaan yang pertama berasal dari perubahan pola konsumsi masyarakat dan disisi lain adalah kenaikan biaya operasi mencakup sewa tempat, tenaga kerja, dan energi. Kondisi tersebut diperburuk pula dengan adanya sinyal pelemahan daya beli. Sehingga dengan alasan untuk efisiensi banyak para peritel memilih menutup atau merelokasi gerai-gerai yang kinerjanya masih kurang baik, untuk tujuan menghemat pengeluaran dan memperbaiki kinerja keuangan.

Lebih jauh para pengusaha ritel juga mengungkapkan kondisi ini pernah dialami pada saat krisis moneter tahun 1997-1998, dimana saat itu peritel memang terpukul akibat penurunan daya beli yang drastis. Hal yang sangat membedakan dari kondisi saat itu terletak pada adanya fenomena baru perubahan pola konsumsi masyarakat terutama melalui lahirnya bisnis e-commerce dan perubahan preferensi terhadap lifestyle, leisure termasuk travelling. Perubahan pola konsumsi dari ritel ke online dan travelling serta leisure tergambar nyata dari pertumbuhan bisnis online yang pesat dan maraknya orang yang berlibur dan travelling ke luar negeri.

Hasil Survei Penjualan Eceran yang dilakukan BI di bulan Oktober 2017 mengindikasikan penurunan penjualan ritel masih akan terus terjadi, indikasi lain bahwa perlambatan masih akan berlangsung juga ditunjukkan dari hasil survei indeks keyakinan konsumen untuk periode 3 dan 6

27

bulan mendatang. Berdasarkan hasil survei, Indeks Penjualan Ritel (IPR) Oktober hanya tumbuh 1,3% y/y. Pertumbuhan itu melambat dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 1,8% y/y. Sementara jika ditinjau ke kebelakang IPR September juga telah mengalami melambat dibanding bulan sebelumnya yang masih tumbuh 2,2% y/y. Penyebab utama perlambatan penjualan ritel pada bulan Oktober terjadi karena adanya kontraksi pada kelompok non makanan sebesar 9,4% y/y, lebih tajam dibandingkan kontraksi September yang sebesar 6,2% y/y, penurunan terbesar terjadi pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi. Meski demikian disaat yang sama penjualan ritel kelompok makanan masih mencatat pertumbuhan sebesar 9,3% y/y, lebih baik dibanding pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 7,6% y/y. Peningkatan terutama terjadi pada penjualan produk bahan makanan, makanan jadi, dan tembakau.

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 16. Survey Indeks Penjualan Ritel (Makanan dan Non Makanan)

Tercatat sejak awal tahun hingga Oktober 2017, pertumbuhan IPR secara tahunan cenderung melambat. Begitu juga dengan pertumbuhan IPR secara bulanan yang cenderung terkontraksi. Kecuali, bulan Juni yang pertumbuhannya secara tahunan lebih tinggi dan secara bulanan tumbuh positif disebabkan faktor puasa dan Lebaran. Responden juga memperkirakan, penjualan ritel akan meningkat di Desember 2017 dan menurun di Maret 2018. Hal itu terindikasi dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) tiga bulan ke depan sebesar 153,1, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 141. Dan IEP enam bulan ke depan sebesar 136, turun dari bulan sebelumnya sebesar 141,4.

Sementara itu survei indeks keyakinan konsumen pada bulan Oktober 2017 memperkirakan konsumen akan cenderung menahan konsumsi dan menambah tabungan. Hal tersebut sejalan dengan melemahnya optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi. Hal ini terindikasi dari penurunan rasio konsumsi terhadap total pendapatan, dari 66,4% pada September 2017, menjadi 65,7% di bulan Oktober. Penurunan juga terjadi pada porsi pendapatan yang digunakan untuk cicilan pinjaman, dari 14,4% menjadi 14,1%, sebaliknya porsi tabungan konsumen terhadap pendapatan meningkat 19,2% menjadi 20,2%. Pada Oktober 2017, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini melemah dari bulan sebelumnya. IKE Oktober 2017 tercatat sebesar 107,6, turun 2,7 poin

28

dari September 2017. Penurunan terjadi pada seluruh komponen pembentuk indeks mencakup indeks ketersediaan lapangan kerja menurun 5,8 poin menjadi 98,2 Sementara itu, indeks penghasilan konsumen turun 0,1 poin dari bulan sebelumnya menjadi 114,5.

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 17. Survei Keyakinan Konsumen

Data realisasi kinerja penjualan ritel khususnya produk FMCG di lapangan yang berhasil dikumpulkan melalui survei AC Nielsen menunjukkan bahwa hingga akhir 3Q-17, angka penjualan ritel hanya tumbuh sebesar 2,7% secara YTD. Kondisi ini jauh menurun dibandingkan kinerja rata-rata tahunan yang mencapai sekitar 11%, meskipun disaat yang sama angka inflasi mampu dikendalikan dibawah 4% jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan meskipun tingkat kenaikan harga yang terjadi tidak setinggi pada periode-periode sebelumnya. Bahkan hasil yang cukup mengejutkan adalah pertumbuhan pada periode lebaran tahun 2017 hanya mencapai sekitar 5%, jauh dibawah pertumbuhan pada periode lebaran yang umumnya setiap tahun naik antara 13-38%. Fakta yang lalu menjadi dasar munculnya hipotesis bahwa telah terjadi penurunan daya beli di masyarakat namun apakah penyebab utama penurunan daya beli tersebut dan apakah penurunan daya beli tersebut terjadi pada semua lapisan konsumen atau sebaliknya hanya terjadi pada sebagian kelompok saja.

Sumber: AC Nielsen

29

Penjelasan awal mengenai penurunan daya beli dapat dilihat dari laju pertumbuhan pendapatan pekerja formal (UMR-Upah Minimum Regional) yang terjadi sepanjang 3 tahun terakhir. Meskipun setiap tahun mengalami kenaikan namun lajunya semakin rendah sejalan dengan pertumbuhan dan laju inflasi. Keluarnya aturan pemerintah yang menggunakan pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi sebagai basis kenaikan upah menyebabkan peningkatan penghasilan pekerja di kelas menengah bawah menjadi terbatas. Disisi lain perlambatan ekonomi yang sudah mulai berlangsung sejak berakhirnya era harga komoditas tinggi menyebabkan produksi berkurang sehingga sumber pendapatan lain di luar upah seperti hasil kerja lembur, insentif, komisi produksi dan lainnya ikut mengalami penurunan, akibatnya secara riil take home pay karyawan secara rata-rata sebenarnya mengalami penurunan. Langkah pemerintah yang menaikkan beberapa harga komoditas seperti listrik dan gas juga ikut berkontribusi terhadap kondisi diatas. Keputusan menaikkan tarif listrik kelompok 900 watt sebanyak 3 kali sepanjang tahun ini diyakini berdampak cukup singnifikan pada pola pengeluaran dan konsumsi kelompok masyarakat bawah.

Sumber: BPS

Gambar 19. Pertumbuhan Rata- Rata UMR Nasional

Hasil survei terbaru yang dilakukan AC Nielsen terkait perubahan pola konsumsi rumah tangga menunjukkan pula bahwa secara umum pengeluaran rumah tangga masih menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu rata-rata 10-12% pada semua kelompok status ekonomi. Meski demikian jika dibuka lebih detail berdasarkan kelompok pengeluaran dan alokasinya maka terjadi perubahan yang cukup signifikan. Tiga jenis pengeluaran yang naik pesat sepanjang 2017 adalah pengeluaran untuk lifestyle, pendidikan dan makanan (produk segar dan kebutuhan pokok). Kelompok status ekonomi atas adalah kelompok yang paling menahan konsumsi dengan pertimbangan penghematan dan investasi untuk keperluan masa datang.

30

Sumber: AC Nielsen

Gambar 20. Pola dan Pertumbuhan Pengeluaran Rumah Tangga Indonesia

Fakta lain yang terungkap dari pola konsumsi di kelompok FMCG sebagai basis utama bisnis ritel menunjukkan bahwa kelompok status ekonomi atas adalah kelompok yang paling rasional dalam hal pengeluaran. Selain itu kelompok ini adalah yang paling minim terkena dampak dari kenaikan harga karena mampu secara efisien memanfaatkan promosi dan diskon yang diberikan. Disisi lain kelompok status ekonomi menengah sejauh ini masih mampu menyerap kenaikan harga sehingga masih mencatatkan pertumbuhan positif pada konsumsi. Kondisi yang lebih berat justru dihadapi kelompok ekonomi terbawah akibat keterbatasan pendapatan dan leverage kas sehingga secara terpaksa mengurangi konsumsi secara intensitas dan volume meskipun secara nominal masih tumbuh. Fakta diatas semakin memperkuat argumen bahwa kalangan rumah tangga ekonomi menengah ke atas cenderung menahan pembelian produk konsumsi agar dapat memenuhi kebutuhan lifestyle, leisure dan sebagian tentunya untuk investasi, sementara masyarakat menengah ke bawah yang produktivitasnya cenderung rendah tidak banyak memiliki pilihan lain akibat daya beli yang tergerus.

Sumber: AC Nielsen

31

Mencermati kondisi diatas tentu pilihan bagi pelaku bisnis ritel yang paling rasional adalah melakukan efisiensi dan inovasi diantaranya melalui penutupan bisnis/outlet yang kurang produktif dan fokus pada outlet yang paling paling profitable. Selain itu itu pelaku bisnis ritel juga terus berusaha melakukan efisiensi tenaga kerja dan mendorong produktivitas, termasuk pula melakukan inovasi di model penjualan misalnya dengan joint tenant, refreshment outlet hingga beralih ke konsep mini convenience store yang lebih menarik semuanya langkah tersebut dilakukan untuk satu tujuan menjaga kinerja penjualan dan tentunya keuangan perusahaan.

Sumber: AC Nielsen & E-Market

Gambar 22. Profil Kunjungan Konsumen (dalam kali per bulan) dan Pertumbuhan Penjualan E-Commerce Indonesia(USD Bn)

Bagi kalangan perbankan terjadinya perlambatan kinerja pada penjualan ritel juga memiliki dampak yang besar sebab sektor ritel yang direpresentasikan dengan portfolio pada sektor perdagangan (wholesale & ritail) memiliki proporsi cukup besar sekitar 19% dari total portfolio kredit nasional yang mencapai Rp 4.500 triliun lebih. Data terbaru dari beberapa bank besar bahkan memperlihatkan penyaluran kredit komersial khususnya ke sektor perdagangan telah menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Kredit segmen ini menjadi penyumbang terbesar kenaikan kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) perbankan. Ini tercermin dari sejumlah bank besar yang mengalami kenaikan rasio NPL. Saat ini tercatat ada dua bank yang rasio NPL di kredit komersial tinggi. Yakni, PT Bank Mandiri Tbk memiliki rasio NPL kredit komersial sebesar 10,16% per September 2017. Angka ini naik 382 basis poin (bps) dari posisi NPL 6,34% per September 2016. Lalu, PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat rasio NPL komersial sebesar 8% per September 2017. Rasio kredit bermasalah ini mulai membaik dibandingkan posisi 8,3% di September 2016.

Hal yang sama juga dialami bank PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang mengalami kenaikan rasio NPL sektor menengah komersial. Adapun, NPL menengah komersial ini terbagi menjadi dua. Yakni, sektor kecil komersial mempunyai NPL 3,49% dan sektor menengah mencatat NPL 6,06% per September 2017. Secara terbuka pihak BRI mengungkapkan NPL sektor menengah komersial BRI utamanya berasal dari sektor perdagangan. Hal ini diduga terjadi karena toko tradisional kalah bersaing dengan ritel modern dan perdagangan online atau e-commerce. Secara

32

khusus BRI menganjurkan debitur masuk ke sektor produktif dan memanfaatkan pasar online untuk memasarkan produk. Problem NPL komersial dari sektor perdangangan juga dihadapi Bank BNI yang menyebutkan bahwa sektor yang menyumbang NPL komersial terbesar adalah perdagangan, restoran dan hotel. BNI mencatat NPL ketiga sektor tersebut sebesar 3,9% per kuartal ketiga ini. Untuk menjaga NPL sektor komersial secara khusus BNI akan lebih menjaga proses pemberian kredit secara terjaga atau prudent.

Lalu bagaimana sebenarnya prospek sektor perdagangan ritel ini ke depan khususnya hingga akhir tahun 2017. Beberapa pihak masih meyakini bahwa tingkat penjualan ritel dalam jangka pendek masih berpotensi meningkat. Alasannya, dari sisi permintaan masih ada kemungkinan pertumbuhan asalkan tidak ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, tarif listrik dan gas elpiji 3 kg hingga tahun depan. Kalangan bisnis bahkan berharap fenomena perlambatan ini lebih ke kearah penundaan pembelian akibat adanya penyesuaian konsumsi pasca pencabutan subsidi listrik. Selain itu, tanda-tanda kenaikan daya beli juga terlihat dari sisi eksternal. Harga komoditas non migas, seperti minyak kelapa sawit mulai naik sehingga hal ini dapat mendorong kenaikan pendapatan di daerah basis komoditas, selain tentunya adalah efek peningkatkan penjualan karena perayaan Natal dan Tahun Baru. Meskipun disisi lain diyakini pula bahwa kenaikan penjualan ritel menjelang akhir tahun ini tidak akan lebih besar dibandingkan tahun lalu.

Indeks Stabilitas

Dalam dokumen Perekonomian dan Perbankan. Oktober 2017 (Halaman 27-34)

Dokumen terkait