• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. IDENTIFIKASI UMUM

5.1.3.2 Industri Tepung Tapioka Kasar / Aci

Jumlah pengrajin aci yang ada di Kelurahan Ciluar sampai dengan tahun 2004 berjumlah 41 orang. Tetapi sampai sekarang (Oktober 2004), jumlahnya menurun 17,07 % (tujuh pengrajin bangkrut), sehingga menjadi 34 pengrajin saja (Tabel 7). Hal itu disebabkan karena dalam kurun waktu empat bulan ini (Juni - Oktober 2005) terjadi kesulitan pasokan bahan baku (ubi kayu/singkong), karena sulitnya bahan baku sehingga harga bahan baku juga meningkat tajam, dan memerlukan biaya tambahan untuk mencari bahan baku dari daerah yang jauh. Selain hal itu, peningkatan harga BBM juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Dengan demikian biaya produksi sangat meningkat, sedangkan harga jual aci dan onggok sendiri tidak meningkat.

Meskipun jumlah pengrajin aci di Kelurahan Ciluar lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pengusaha tepung tapioka halus, namun mereka tidak bisa menentukan harga, dimana ditentukan oleh pengusaha-pengusaha tepung tapioka halus tersebut. Hal tersebut disebabkan karena bargaining position

117

pengusaha-pengusaha tersebut lebih kuat. Bargaining position yang kuat tersebut disebabkan karena mereka memiliki modal yang besar, akses pasar yang besar, dan segala keputusan diantara mereka selalu sama.

Tabel 7. Data Pengrajin/Penggilingan Singkong di Kelurahan Ciluar tahun 2004

No Nama Kampung Lokasi

1 Edy * Bubulak RT 01 / RW 03 2 Samsudin * Bubulak RT 01 / RW 03 3 Ugan Bubulak RT 01 / RW 03 4 Suminta Bubulak RT 01 / RW 03 5 Arsa * Bubulak RT 02 / RW 03 6 Sai Bubulak RT 02 / RW 03

7 Lili Dimyati Bubulak RT 02 / RW 03

8 Ahmad Satang * Bubulak RT 02 / RW 03

9 H. Dayat Bubulak RT 03 / RW 03

10 Adang * Bubulak RT 03 / RW 03

11 Ace Enang Bubulak RT 03 / RW 03

12 Uup Supendi Bubulak RT 03 / RW 03

13 Iyang Bubulak RT 03 / RW 03

14 Ma’mun Bubulak RT 03 / RW 03

15 Sata Bubulak RT 03 / RW 03

16 Nur Hadi Tarikolot RT 03 / RW 04

17 Ajum Tarikolot RT 03 / RW 04

18 Janur Tarikolot RT 03 / RW 04

19 H. Nasmin Tarikolot RT 03 / RW 04

20 Abdul Jais Tarikolot RT 03 / RW 04

21 Imar * Tarikolot RT 03 / RW 04 22 Marni Tarikolot RT 03 / RW 04 23 Uking Tarikolot RT 03 / RW 04 24 Dadi Tarikolot RT 01 / RW 04 25 Imar Tarikolot RT 01 / RW 04 26 Ajun Rambai RT 01 / RW 05 27 Dadih Rambai RT 02 / RW 05 28 H. Murgandi Rambai RT 01 / RW 05 29 H. Toha Rambai RT 01 / RW 05 30 Abas * Rambai RT 01 / RW 05 31 Mardi Rambai RT 01 / RW 05 32 Oib Rambai RT 01 / RW 05 33 Hasim Ramb ai RT 01 / RW 05 34 H. Encep Rambai RT 01 / RW 05 35 Pamaat Rambai RT 01 / RW 06 36 Opil Rambai RT 01 / RW 06 37 Ajum Rambai RT 01 / RW 06 38 Komarudin Rambai RT 02 / RW 06 39 Nurdin Rambai RT 02 / RW 06 40 Aing Rambai RT 04 / RW 06 41 Nju Rambai RT 04 / RW 06 Keterangan :

* sudah tidak berproduksi

219

5.1.3.2.2 Proses Produksi

Industri pengolahan tepung tapioka kasar/aci merupakan industri dengan skala usaha kecil dan industri dengan orientasi bahan baku. Industri ini harus terletak tidak jauh dari sentra produksi tanaman ubi kayu sebagai bahan bakunya. Apabila ubi kayu tidak tersedia, maka industri ini tidak berproduksi. Bahan baku ubi kayu yang digunakan pada industri ini dapat diperoleh dari pasar bebas atau dari perkebunan sendiri. Terdapat dua cara dalam pembelian bahan baku, yaitu pembeli datang langsung ke tempat penjual atau penjual yang mengantar barang langsung ke tempat pembeli. Sedangkan sistem pembelian yang paling banyak dilakukan oleh pengrajin aci di Kelurahan Ciluar adalah sistem yang kedua. Hal ini dilakukan karena para pengrajin acitidak memiliki kendaraan pengangkut, dan akan lebih efisien bagi pemasok bahan baku, karena satu orang tidak hanya menerima order tersebut dari satu pengrajin saja, tetapi ada yang menerima order

dari beberapa pengrajin.

Hal terpenting lainnya adalah industri ini harus berada dekat dengan sumber air, karena dalam proses produksinya banyak memerlukan air. Industri aci yang berada di Kelurahan Ciluar keberadaannya di bagian dalam kelurahan. Hal ini dikarenakan sumber air di daerah tersebut masih tersedia dengan baik, dan membutuhkan lahan yang luas untuk proses produksi, terutama untuk tempat menjemur tepung.

Industri aci yang berada di Kelurahan Ciluar memerlukan waktu kira-kira satu sampai dua hari (pada musim kemarau), atau dua sampai tiga hari (pada musim penghujan) untuk menghasilkan aci. Proses pengolahan ubi kayu menjadi aci. Dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap pengolahan pendahuluan yang

220

meliputi pengupasan, pencucian, dan penggilingan. Ekstraksi pati, meliputi penyaringan, pengendapan, dan pemurnian. Tahap terakhir adalah tahap penyelesaian, meliputi pemarutan, pengeringan, dan pengepakan. Melalui tahapan-tahapan tersebut akan dihasilkan aci.

Pengolahan ubi kayu menjadi aci, digunakan alat-alat yang sederhana, seperti tampih 12, bak pengendapan, parutan yang terbuat dari bambu, saringan dari kain atau kawat kecil (kawat nyamuk). Hanya ada satu alat yang digunakan dengan menggunakan teknologi (listrik), yaitu mesin penggiling ubi kayu (bentuknya seperti mesin pemarut kelapa).

Pengolahan Awal

Ubi kayu yang sudah dibeli oleh pengrajin dikumpulkan dalan satu tempat yang terbuka dan agak luas. Biasanya ubi kayu tersebut berasal dari daerah Ciluar, Ciampea, Ciheleut, Jampang Surade, dan tempat-tempat lainnya. Ubi kayu tersebut harus segera dikupas untuk diolah agar kualitasnya tidak menurun, karena jika terlalu lama disimpan maka akan menghasilkan tepung yang berwarna keruh. Ubi kayu dikupas dengan menggunakan cara manual, yaitu dengan menggunakan pisau yang tajam, dimana pekerja yang melakukannya adalah buruh pikul yang jumlahnya tiga sampai empat orang. Para buruh pikul tersebut, selain bekerja untuk memikul ubi kayu dari mobil pengangkut juga ke tempat produksi (pabrik), tetapi juga harus mengupas ubi kayu sebelum tiba di tempat produksi (pabrik). Dalam pekerjaan mengupas ubi kayu, para buruh pikul tersebut dibantu oleh anggota keluarganya, agar pengupasan lebih cepat sehingga tidak me nurunkan

12

Anyaman bambu yang berbentuk lingkaran, diameternya kira -kira 60 cm, digunakan untuk menaruh aci basah yang telah digerus dan siap untuk dijemur. Setiap penggilingan singkong di Kelurahan Ciluar mempunyai tampih 100-300 buah.

221

kualitas ubi kayu. Selain itu mereka juga dapat memanfaatkan kulit ari ubi kayu yang sudah dibersihkan dari tanah untuk pakan ternak kambing.

Setelah ubi kayu dikupas, ubi kayu yang telah bersih dibawa oleh buruh pikul ke tempat pencucian yang ada di pabrik. Satu pikul beratnya kira-kira 72 kg. Ubi kayu tersebut kemudian dibersihkan di dalam bak pencucian. Bak pencucian tersebut dilengkapi dengan pipa saluran yang mengalirkan air bersih dari bak penampungan mata air/sumur.

Ubi kayu yang telah bersih kemudian dimasukkan dalam mesin penggiling/pemarut ubi kayu untuk dihancurkan. Mesin penggiling/pemarut tersebut terdiri dari sebuah silinder kayu yang pada sisi luarnya terdapat kawat- kawat kecil dari baja yang berfungsi untuk menggiling ubi kayu. Silinder tersebut digerakkan oleh motor diesel.

Ekstraksi Pati

Hasil parutan ubi kayu (berbentuk seperti bubur/pulp) yang keluar dari mesin kemudian ditampung dalam bak yang terbuat dari semen atau kayu. Setelah itu bubur itu diambil sedikit demi sedikit untuk disaring. Penyaringan dan penggilingan ubi kayu dilakukan oleh para buruh giling, yang berjumlah tiga sampai empat orang. Satu orang melakukan penggilingan duduk di depan mesin giling, sedangkan tiga orang lainnya melakukan proses pemerasan di bak-bak penyaringan.

Penyaringan dilakukan dengan cara meremas-remas bubur ubi kayu tersebut yang pada saat bersamaan dialiri oleh air bersih. Air perasan tersebut kemudian dialirkan melalui pipa-pipa paralon ke dalam bak-bak pengendapan (ukuran 0,5m x 2m), untuk diendapkan lima sampai tujuh jam. Hal itu dilakukan

222

agar pati bersama air akan keluar menembus dinding saringan, sedangkan serat dan sebagian pati yang tersisa (ampas) ditempatkan dalam bak penampungan ampas, yang selanjutnya akan menghasilkan onggok. Ada beberapa pengrajin yang telah melapisi bak-bak pengendapan dengan keramik. Hal itu dilakukan agar bak-bak tersebut tahan dari kadar keasaman larutan air perasan, sehingga tahan lama. Rata-rata setiap pengrajin yang ada di Kelurahan Ciluar memilki enam dampai delapan bak pengendapan.

Setelah dilakukan proses pengendapan, maka cairan jernih (air dan zat-zat lain yang terkandung di dalamnya) dikeluarkan dari dalam bak pengendapan sampai mencapai lapisan tipis di atas edapan pati. Setelah lapisan tersebut dibuang semuanya, maka pati yang tersisa (tapioka kasar/aci) diangkat dan ditaruh pada bodak 13.

Kedua tahap tersebut dilakukan dari pagi hari sampai malam atau mulai dari sore hari sampai menjelang pagi. Hal ini dimaksudkan agar proses penjemuran dapat dilakukan keesokan harinya sehingga tidak terjadi penyimpanan tapioka basah yang terlalu lama. Apabila hal itu terjadi maka akan menimbulkan bau pada tepung dan warna tepung akan keruh.

Penyelesaian

Tapioka basah yang telah dikeluarkan dari bak-bak pengendapan ditempatkan pada bodak agar keesokan harinya buruh perempuan (buruh jemur) dapat melakukan proses pengeringan. Pengeringan dilakukan secara alami dan manual, yaitu dijemur di bawah terik matahari sampai kering. Buruh jemur yang dipekerjakan untuk proses ini berjumlah tiga sampai empat orang.

13

Keranjang yang terbuat dari rotan untuk menempatkan aci basah. Satu bodak berisi kurang lebih satu kuintal acibasah.

223

Pada penjemuran ini, tapioka basah diambil dari bodak kemudian dihaluskan agar menjadi butiran-butiran kecil dengan menggunakan alat penghalus. Buruh jemur menyandarkan alat penghalus tersebut pada dinding, kemudian hasilnya keluar dari bawah alat penghalus tersebut. Buruh jemur lainnya mengambil hasil gerusan tersebut dan ditepatkan di atas tempat penjemuran (tampih) di halaman terbuka. Tampih-tampih tersebut diberi alat penopang sehingga letaknya mencapai ketinggian satu meter di atas permukaan tanah.

Lamanya waktu pengeringan tergantuing adari cuaca, tetapi rata-rata berkisar antara tujuh sampai delapan jam dalam satu hari. Setelah tepung kering, para buruh jemur tidak langsung menempatkan tepung tersebut ke dalam bak penampungan tepung, tetapi tampih-tampih itu ditumpuk untuk dibiarkan selama semalam (diinapkan). Tepung kering yang telah diinapkan ditempatkan di dalam bak penampungan, yang selanjutnya akan dimasukkan ke dalam karung-karung yang terbuat dari kain blacu atau plastik. Setelah semuanya selesai maka acisiap untuk dipasarkan.

Selain bekerja untuk menjemur tapioka basah, buruh-buruh jemur tersebur juga melakukan pekerjaan, mengolah ampas perasan menjadi onggok. Ampas perasan tersebut dibentuk menjadi bantala n yang berbentuk bulatan agak lonjong sebesar kepalan dua telapak tangan. Setelah dibentuk, kemudian dijemur agar kering. Penjemuran ampasa ini memerlukan waktu satu sampai dengan dua hari, agar benar-benar kering sampai ke bagian dalam bantalan. Setelah kering seluruhnya, maka ampas perasan itu dinamakan onggok. Onggok dapat ditempatkan dalam kotak kayu untuk disimpan (onggok dapat tahan dua minggu),

224

dan dijual jika aci yang dihasilkan sedikit atau bahkan tidak berproduksi. Hal itu dilakukan agar pengrajin tetap dapat menghasilkan uang setiap harinya meskipun proses produksi berhenti beberapa hari. Berhentinya proses produksid apat disebabkan karena tidak tersedianya bahan baku atau pada saat libur hari raya.

Pemasaran

Karung-karung berisi tepung tapioka kasar tersebut kemudian dipasarkan ke pabrik-pabrik tapioka halus yang berada di bagian luar Kelurahan Ciluar. Harga aci yang ditawarkan oleh pabrik tapioka halus berbeda-beda. Untuk tapioka kasar/aci yang kualitasnya rendah saat ini (Oktober 2005) harganya berkisar Rp 2.500,00 – Rp 3.000,00 per kg. Sedangkan untuk kualitas paling bagus harganya saat ini (Oktober 2005) berkisar antara Rp 3.500,00 - Rp 4.500,00 per kg.

Komoditi yang dijual oleh pengrajin aci tidak hanya tepung tapioka kasar saja, melainkan juga onggok (ampas perasan yang sudah mengering dan keras). Onggok tersebut dijual ke pabri-pabrk tepung tapioka halus atau kepada peternak, yang nantinya dapat digunakan sebagai pakan ternak, dan bahan asar obat nyamuk (onggok kualitas rendah/warnanya keruh), bahan dasar saos, dan bahan dasae roti gambang.

5.1.3.2.3 Pengelolaan Limbah

Limbah yang diahsailkan oleh industri aci adalah limbah cair, yang merupakan air buangan dari proses pembuatan aci. Limbah ini dibuang oleh pengrajin ke badan air yang terdekat. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa pengrajin aci memilih tempat usahanya di tempat yang berdekatan dengan badan air.

225

Limbah cair ini tidak dikelola terlebih dahulu sebelum dibuang, sehingga semakin lama menimbulkan bau busuk dan bau asam. Para pengrajin aci di Kelurahan Ciluar tidak melakukan pengelolaan limbah disebabkan karena mereka tidak memiliki modal untuk membuat IPAL atau melakukan pengolahan limbah. Selain itu mereka juga tidak mengetahui cara-cara atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengelola limbah yang dihasilkan.

Pada tahun 2002 Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Irigasi dan pengairan melakukan proyek pengolahan limbah (IPAL) aci untuk 5 pabrik aci di Kampung Babakan, tepatnya berada di lahan Bapak Lili Dimyati. IPAL tersebut dibangun dari dana kesehatan Pemerintah Kota Bogor sebesar Rp 5 juta rupiah, dan setelah pembangunan selesai, eluruh kegiatan perawatan diserahkan kepada pabrik-pabrik yang berkaitan dengan IPAL tersebut. Namun saat ini (Oktober 2005) IPAL tersebut masih berjalan, tetapi tidak terawat sehingga kinerja dari IPAL tidak optimal. Hal tersebut disebabkan karena pabrik-pabrik tersebut tidak memiliki kesadaran, dan menyerahkan tanggung jawab kepada pemilik lahan untuk merawatnya, selain itu dari lima pabrik yang menggunakan IPAL tersebut, saat ini (Oktober 2005) hanya tinggal tiga pabrik yang masih berjalan, dimana dua pabrik tersebut dimiliki hanya oleh seorang pengrajin dan satu pabrik lainnya dimiliki oleh seorang pengrajin.

Dokumen terkait