• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.3. Industri

2.3.1. Pengertian Industri

Industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi manusia yang sangat penting. Melalui kegiatan industri akan dihasilkan berbagai kebutuhan manusia, mulai dari alat-alat sederhana sampai peralatan modern. Dengan demikian, pada dasarnya kegiatan industri lahir untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pada awalnya kegiatan industri masih sangat sederhana dan terbatas, yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan lingkup yang terbatas, namun seiring berjalannya waktu kegiatan industri semakin berkembang bahkan berkembang pesat.

Pengertian industri dalam istilah ekonomi dapat dibedakan berdasarkan lingkup sempit dan luas. Dalam pengertian secara sempit, industri hanyalah mencakup industri pengolahan, yaitu suatu kegiatan ekonomi yang melakukan

kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis kimia atau dengan tangan sehingga menjadi barang setengah jadi atau menjadi barang jadi, kemudian barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih nilainya dan sifatnya lebih kepada pemakai akhir. Termasuk dalam kegiatan ini adalah perusahaan yang melakukan kegiatan jasa industri dan pekerja praktisan (assembling). Sedangkan dalam arti luas, industri mencakup semua usaha dan kegiatan bidang ekonomi yang bersifar produktif. ( BPS tahun 2005).

Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1984, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi atau barang jadi dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya termasuk rancang bangunan dengan rekayasa industri.

Dikemukakan Dumairy (1996), industri mempunyai dua pengertian. Pertama, industri merupakan himpunan perusahaan-perusahaan kertas. Kedua, industri adalah sektor ekonomi yang didalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau setengah jadi.

Menurut G. Kartasapoetra (1997), yang dimaksud dengan industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, dan bahan setengah jadi menjadi barang yang nilainya lebih tinggi.

2.3.2. Klasifikasi Industri

Jumlah dan kemajemukan jenis industri berbeda antara yang satu dengan daerah yang lainnya. Kemajemukan jumlah dan jenis tersebut sangat ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah ketersediaan bahan mentah, jumlah tenaga kerja, pangsa pasar, jenis teknologi yang dipakai serta ketersediaan tenaga kerja.

Perkembangan ekonomi masing-masing daerah tentu saja akan turut mewarnai kemajemukan yang dimaksud diatas.

Industri dapat diklasifikasikan dalam tipe-tipe tertentu berdasarkan SK Menteri Perindustrian No. 19/M/1986 :

A. Menurut lokasinya, industri dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Industri Perkotaan, merupakan industri yang terletak dalam jarak yang dekat dengan daerah metropolitan atau kota besar. Sehingga dengan adanya kepadatan penduduk yang cukup tinggi di kota metropolitan atau kota besar dapat dimanfaatkan sebagai sumber tenaga kerja bagi industri tersebut.

2. Industri semi perkotaan, merupakan industri yang terletak di ibukota kabupaten, jadi diantara daerah perkotaan dan kecamatan.

3. Industri pedesaan, merupakan kawasan industri yang terletak di ibukota kecamatan yang penduduknya dapat dikatakan cukup besar.

B. Fungsi atau aktivitas di dalamnya

Menurut fungsinya, indutri dapat dikelompokkan dengan mengingat kegiatan yang dilakukan industri yang menggunakan kawasan tersebut menurut fungsinya, industri dapat dikelompokkan atas :

1. Industri majemuk, yakni industri yang melakukan berbagai macam kegiatan industri.

2. Industri permodalan, yaitu industri atau perusahaan yang umumnya kecil- kecil yang keseluruhannya merupakan pendukung dari perusahaan- perusahaan besar tertentu.

3. Industri khusus, yaitu perusahaan yang bergerak dalam satu kegiatan yang sejenis atau menghasilkan produk yang sama.

C. Golongan/macam industri berdasarkan jumlah modal :

1. Industri padat modal, yaitu industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya. 2. Industri padat karya, yaitu industri yang lebih dititikberatkan pada

sejumlah tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta pengoperasiannya.

D. Jenis industri berdasarkan jumlah tenaga kerja :

1. Industri rumah tangga, yaitu industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang.

2. Industri kecil, yaitu industri yang jumlah karyawan /tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang.

3. Industri sedang atau menengah, yaitu indstri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah antara 20—99 orang.

4. Industri besar, yaitu industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja antara 100 orang atau lebih.

E. Jenis industri berdasarkan produktifitas perorangan :

1. Industri primer, yaitu industri yang barang-barang produksinya bukan hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahulu. Contohnya adalah hasil produksi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan sebagainya.

2. Industri sekunder, yaitu industri yang bahan mentah diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali. Contohnya adalah pemintalan benang sutra, komponen elektornik, dan sebagainya.

3. Industri tersier, industri yang produk atau barangnya berupa layanan jasa. Contohnya seperti telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnnya.

Pengelompokan lain kegiatan industri dibuat berdasarakan jenis komoditi utama yang dihasilkan oleh masing-masing perusahaan. Disini secara garis besar kegiatan industri dikelompokkan menjadi :

a. Industri makanan, minuman dan tembakau b. Industri tekstil, pakaian jadi dan kulit

c. Industri kayu dan barang dari kayu termasuk alat-alat rumah tangga d. Industri kertas dan barang-barang dari kertas, percetakan dan penerbitan e. Industri kimia dan bahan-bahan dari kimia, minyak bumi, batu bara, karet

dan plastik

f. Industri barang galian bukan logam kecuali minyak bumi, batu bara dan logam

g. Industri barang dari logam, mesin dan peralatannya h. Industri pengolahan lainnya

Industri dapat digolongkan berdasarkan beberap sudut tinjauan atau beberapa pendekatan. Di Indonesia, industri digolongkan berdasarkan kelompok komoditas, skala usaha dan berdasarkan arus produknya. Penggolongan yang paling universal adalah berdasarkan International Standard of Industrial Classification (ISIC), yaitu berdasarkan pendekatan kelompok komoditas.

Tabel 2.

Penggolongan industri menurut ISIC

Kode

Kelompok Industri

31

Industri makanan, minuman, dan tembakau

32

Industri tekstil, pakaian jadi dan kulit

33

Industri kayu dan barang-barang dari kayu, temasuk perabotan rumah tangga

34

Industri kertas dan barang-barang dari kertas, percetakan dan penerbitan

35

Industri kimia dan barang-barang dari kimia, minyak bumi, batu bara, karet dan plastik

36

Industri barang galian bukan logam, kecuali minya bumi dan batu bara

37

Industri logam dasar

38

Industri barang dari logam, mesin, dan peralatan

39

Industri pengolahan lainnya

Sumber : Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Untuk keperluan perencanaan anggaran negara dan analisis pembangunan, pemerintah membagi sektor pengolahan menjadi tiga subsektor, yaitu :

1. Subsektor industri pengolahan non migas 2. Subsektor pengilangan minyal bumi 3. Subsektor pengolahan gas alam cair

Sedangkan untuk keperluan pengembangan sektor industri itu sendiri serta berkaitan dengan administrasi departemen perindustrian dan perdagangan, digolongkan atas hubungan arus produksi, yaitu :

1. Industri Hulu, yang terdiri dari

• Industri kimia dasar

• Industri mesin, logam dasar dan elektronika 2. Industri Hilir, yang tediri dari :

• Aneka industri

2.3.3. Hubungan Industri dengan Lingkungan Lidup

Kegiatan produksi baik disektor industri ataupun pabrik, di sektor pertanian, maupun di sektor jasa akan memberikan hasil atau output berupa barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Semakin banyak jumlah penduduk, lebih-lebih disertai dalam taraf hidup yang tercermin pada penigkatan pendapatan per kapita, akan dituntut banyak barang dan jasa yang harus disediakan. Kegiatan produksi di berbagai sektor akan semakin dalam menghasilkan dalam menghasilkan alat pemuas kebutuhan yang lebih banyak berupa barang dan jasa yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan per kapita suatu negara. (Suparmoko: 1997;46)

Namun perkembangan peradaban manusia yang ditunjang oleh kemajuan ilmu dan teknologi sekaligus juga merusak dan mencemari lingkungan hidup. (Eddy: 2003; 65). Perkembangan berbagai industri, seperti indusrti pupuk, semen, tekstil, kertas, minyak, besi baja, dan lain-lain, semuanya berpotensi memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Industri merusak dan mencemari lingkungan tidak hanya terjadi setelah berproduksi, teteapi juga dalam proses tahap pembangunannya atau konstruksi. Pada tahap ini perusakan dan pemcemaran lingkungan dapat terjadi pada kegiatan land clearing, mobilisasi peralatan berat, pengangkutan bahan bangunan dan kegiatan lainnya. Dalam proses produksinya, semua industri akan menghasilkan produk sampingan yang tidak atau kurang ekonomis. Produk sampingan ini disebut sebagai limbah, yang terdiri dari limbah padat, cair dan gas. Limbah ini akan mencemari lingkungan perairan, tanah dan udara yang pada akhirnya akan menggangu kehidupan mahkluk hidup termasuk manusia.

Dokumen terkait