• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.7 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Anak Balita

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada anak balita dari keluarga perokok di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan sebanyak 40 anak balita. Adapun kejadian Infeksi Saluran pernafasan Akut dalam 1 bulan terakhir pada anak balita dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.22 Distribusi Frekuensi Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dalam 1 Bulan Terakhir di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Tahun 2015

No. Kejadian ISPA n %

1 Ya 12 30

2 Tidak 28 70

Jumlah 40 100

Tabel 4.22 menunjukkan bahwa kejadian ISPA dalam 1 bulan terakhir pada anak balita di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan dimana yang menderita ISPA dalam 1 bulan terakhir sebanyak 12 (30%) dan yang tidak

46

Tabel 4.23 Distribusi Kejadian ISPA Dalam 1 Bulan Terakhir Pada Anak Balita Berdasarkan Status Merokok Keluarga di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Tahun 2015

No. Status merokok keluarga Kejadian ISPA n % Ya Tidak n % n % 1 Berat 2 66,7 1 33,3 3 100 2 Sedang 7 30,4 16 69,6 23 100 3 Ringan 3 21,4 11 78,6 14 100

Tabel 4.23 menunjukkan bahwa kejadian ISPA dalam 1 bulan terakhir pada anak balita berdasarkan status merokok keluarga di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan dari 3 anak balita yang memiliki keluarga perokok dengan kategori perokok berat terdapat 2 (66,7%) anak balita yang menderita ISPA dan 1 (33,3%) anak balita yang tidak menderita ISPA.

Tabel 4.24 Distribusi Kejadian ISPA dalam 1 Bulan Terakhir pada Anak Balita Berdasarkan Lokasi Merokok Keluarga di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Tahun 2015

No. Lokasi merokok Kejadian ISPA n %

Ya Tidak

n % n %

1 Dalam rumah 11 52,4% 10 47,6 21 100

2 Luar rumah 1 5,3 18 94,7 19 100

Tabel 4.24 menunjukkan bahwa kejadian ISPA dalam 1 bulan terakhir pada anak balita berdasarkan lokasi merokok keluarga di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan dari 21 anak balita yang memiliki keluarga perokok yang merokok didalam rumah terdapat 11(52,4%) anak balita yang menderita ISPA dalam 1 bulan terakhir dan 10 (47,6%) anak balita yang tidak menderita ISPA dalam 1 bulan terakhir.

Tabel 4.25 Distribusi Kejadian ISPA dalam 1 Bulan Terakhir pada Anak Balita Berdasarkan BB/U Anak Balita di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Tahun 2015

No. Kejadian ISPA Status Gizi n %

Kurang baik

n % n %

1 Ya 8 66,7 4 33,3 12 100

2 Tidak 4 14,3 24 85,7 28 100

Tabel 4.25 menunjukkan bahwa kejadian ISPA dalam 1 bulan terakhir pada anak balita berdasarkan status gizi BB/U anak balita di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan dari 12 anak balita yang menderita ISPA terdapat 8 (66,7%) anak balita yang memiliki status gizi kurang dan 4 (33,3%) anak balita yang memiliki status gizi normal.

Tabel 4.26 Distribusi Kejadian ISPA dalam 1 Bulan Terakhir pada Anak Balita Berdasarkan TB/U Anak Balita di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Tahun 2015

No. Kejadian ISPA Status Gizi n %

Pendek normal

n % n %

1 Ya 3 25,0 9 57,0 12 100

3 Tidak 4 14,3 24 85,7 28 100

Tabel 4.26 menunjukkan bahwa kejadian ISPA anak balita dalam 1 bulan terakhir berdasarkan status gizi TB/U anak balita di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan dari 12 anak balita yang menderita ISPA dalam 1 bulan terakhir terdapat 3 (25%) anak balita yang memiliki status gizi pendek dan 9 (57%) anak balita yang memiliki status gizi normal.

48

Tabel 4.27 Distribusi Kejadian ISPA dalam 1 Bulan Terakhir pada Anak Balita Berdasarkan BB/TB Anak Balita di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Tahun 2015

No. Kejadian ISPA Status gizi n %

kurus normal gemuk

n % n % n %

1 Ya 6 50,0 6 50,0 0 0 12 100

3 Tidak 3 10,7 24 85,7 1 3,6 28 100

Tabel 2.27 menunjukkan bahwa kejadian ISPA pada anak balita dalam 1 bulan terakhir berdasarakan status gizi BB/TB anak balita di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan dari 12 anak balita yang menderita ISPA dalam 1 bulan terakhir terdapat 6 (50%) anak balita yang memiliki status gizi kurus dan 6 (50%) anak balita memiliki status gizi normal.

Table 4.28 Distribusi Imunisasi Anak Balita Berdasarkan Kejadian ISPA Anak Balita dalam 1 Bulan Terakhir di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Tahun 2015

No. Imunisasi Kejadian ISPA n %

Ya Tidak

n % n %

1 Lengkap 5 20 20 80 25 100

2 Tidak lengkap 7 46,7 8 53,3 15 100

Tabel 4.28 menunjukkan bahwa imunisasi anak balita berdasarkan kejadian ISPA di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan dari 15 anak balita yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap terdapat 7 (46,7%) anak balita yang menderita ISPA dalam 1 bulan terakhir dan 8 (53,3%) anak balita yang tidak menderita ISPA dalam 1 bulan terakhir.

Padang Bulan Kecamatan Kotanopan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan, status gizi BB/U, TB/U dan BB/TB anak balita yang memiliki keluarga perokok, dimana status gizi BB/U terdapat 70% anak balita yang memiliki status gizi baik dan 30% anak balita yang mengalami status gizi kurang. Status gizi TB/U anak balita terdapat 82,5% anak balita yang memiliki status gizi normal dan 17,5% anak balita yang memiliki status gizi pendek. Status gizi BB/TB anak balita terdapat 75% anak balita yang memiliki status gizi normal dan 22,5% anak balita yang memiliki status gizi kurus.

Hasil penelitian BB/U anak balita berdasarkan Status merokok keluarga dimana anak balita yang memiliki keluarga perokok dengan kategori berat terdapat 100% anak balita gizi kurang. Hal ini di karenakan Semakin tinggi konsumsi rokok orang tua dapat mempengaruhi status gizi anak balita, hal ini terjadi karena anak balita terlalu sering terpapar oleh asap rokok yang dihisap oleh orang tuanya sehingga beresiko menderita penyakit infeksi seperti ISPA, penyakit infeksi dapat mengganggu metabolisme tubuh sehingga asupan gizi tidak terserap orang tubuh dengan baik dan juga terjadi menurunan nafsu makan anak sehingga status gizi anak balita menurun.

Hasil penelitian TB/U anak balita berdasarkan Status merokok keluarga dimana anak balita yang memiliki keluarga perokok dengan kategori perokok

50

dikarenakan status gizi TB/U dilihat dari status gizi masalalu anak balita, jika gizi masalalunya baik maka TB/U anak balita normal dan sebaliknya jika gizi masalalunya tidak baik maka TB/U anak balita pendek.

Hasil penelitian BB/TB anak balita berdasarkan status merokok keluarga dimana anak balita yang memiliki keluarga perokok dengan kategori perokok berat terdapat 66,7 % anak balita yang memiliki status gizi kurus dan 33,3% anak balita yang memiliki status gizi normal. Hal ini dikarenakan anak balita terlalu sering terpapar oleh asap rokok sehingga dapat menurunkan nafsu makan anak balita dan menyebabkan asupan makan anak balita tidak terpenuhi.

Hasil penelitian status gizi anak balita berdasarkan pendapatan orang tua dimana anak balita yang memiliki status gizi kurang terdapat 75% anak balita yang memiliki orang tua dengan pendapatan <1.500.000, untuk status gizi pendek terdapat 57,1 % anak balita yang memiliki orang tua dengan pendapatan <1.500.000 dan status gizi kurus terdapat 66,7% anak balita yang memiliki orang tua dengan pendapatan <1.500.000. Jadi dapat disimpulkan bahwa golongan ekonomi rendah cenderung lebih banyak menderita gizi kurang dibandingkan menengah keatas dikarenakan orang tua dengan pendapatan rendah akan berdampak pada kebutuhan pangan keluarga, dimana seharusnya cukup untuk kebutuhan makanan sehari-hari tetapi akibat kebiasaan merokok, kebutuhan makan pada keluarga tersebut menjadi berkurang karena membeli rokok.

Penelitian manurung (2014), bahwa kebiasaan merokok ayah dapat meningkatkan resiko gizi buruk dan gizi kurang akibat belanja tembakau yang sangat menguras ketahanan pangan rumah tangga. Ketergantungan terhadap rokok

pada keluarga miskin terbukti meningkatkan kejadian kurang gizi pada anak balita jika tidak segera ditanggulangi maka kondisi ini mengancam hilangnya sebuah generasi. Balita gizi kurang akan beresiko lebih tinggi mengalami keterlambatan perkembangan mental. Selain itu akan meningkatkan angka mortalita dan morbalita akibat kerentanan terhadap penyakit.

Status gizi BB/U dan BB/TB balita menggambarkan kekurangan giziakut yang terjadi dalam waktu yang singkat dan mempengaruhi keadaan status gizi seseorang. Misalnya jika terserang penyakit infeksi, tentu saja akan mempengaruhi status gizi anak, atau mungkin kekurangan asupan makanan, yang dipengaruhi oleh status ekonomi, pengetahuan ibu yang kurang dan pola asuh yang keliru mengakibatkan balita BBLR maupun yang normal tumbuh menjadi balita yang kurus. Sedangkan TB/U menggambarkan keadaan kronis balita, memunjukkan keadaan yang sudah terjadi sejak lama atau dengan kata lain status gizi anak sejak lahir hingga sekarang.Berdasarkan penelitian status gizi anak balita keluarga perokok di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan terdapat 30% dan 22,5% anak balita yang mengalami gizi akut dan 17,5% anak balita yang mengalami gizi kronis. Jadi dapat disimpulkan bahwa masalah gizi yang ada di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan cenderung menderita masalah gizi akut dibandingkan dengan masalah gizi kronis.

Anggota keluarga yang merokok dapat mempengaruhi status gizi anak yang tinggal serumah. Konsumsi energi anak yang rumahnya ada orang yang merokok lebih rendah daripada yang di rumahnya tidak ada yang merokok. Sebagai akibatnya, status gizi anak tersebut lebih rendah (Damayanti, 2009).

52

Hasil penelitian Oktaviasari, (2012) menunjukkan bahwa 100% dari keluarga yang diteliti terdapat satu keluarga yang merokok, yaitu keluarga kepala keluarga atau bapak. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya anggota keluarga yang perokok aktif, maka jumlah alokasi pengeluaran yang digunakan untuk makan berkurang untuk membeli rokok. Dengan demikian, maka jumlah pengeluaran yang digunakan untuk kebutuhan lainnya, termasuk dalam pemenuhan pangan keluarga akan berkurang dan berdampak.

Kebiasaan merokok yang didukung oleh lingkungan bahkan adat istiadat akan sangat sulit untuk diubah, sehingga Dinas Kesehatan perlu melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat atau tokoh agama untuk bekerja sama mencarai solusi guna menurunkan kebiasaan merokok masyarakat di Desa Padang Bulan Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal. Karena tokoh masyarakat dan tokoh agama merupakan figur yang dihormati dan diteladani oleh masyrakat. Oleh sebab itu diharapkan bahwa dengan melibatkan mereka, masyarakat akan lebih mudah untuk menerima dan melakukan hal-hal yang perlu mereka lakukan guna mengurangi kebiasaan merokok tersebut. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memberikan penyuluhan rokok dengan di sertai gambar-gambar yang menunjukkan akibat dari konsumsi rokok dalam waktu yang cukup lama dan memberikan gambaran mengenai gizi kurang atau gizi buruk yang bisa dialami oleh anak balita akibat dari kekurangan pangan.

5.2 Gambaran kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Keluarga

Dokumen terkait