• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1. ANALISIS INDIKATOR MAKRO EKONOMI

2.1.3. Inflasi

Tren inflasi Banten sejak triwulan IV-2020 hingga bulan Mei tahun 2021 yang tidak lagi deflasi menjadi harapan sebagai tanda pemulihan ekonomi Banten telah dimulai. Nilai inflasi bulanan lebih dari 0 (nol) persen menunjukkan harga barang/jasa yang dikonsumsi masyarakat mengalami kenaikan di banding periode sebelumnya. Kenaikan harga barang/jasa dapat diakibatkan peningkatan dari sisi permintaan karena daya beli masyarakat mengalami perbaikan.

Pergerakan inflasi month-to-month (m-t-m) sepanjang tahun 2021 sangat dipengaruhi oleh fluktuasi andil sektor Makanan, Minuman, dan Tembakau terhadap inflasi secara keseluruhan. Tahun 2021 di awali dengan catatan inflasi sebesar 0,34 persen di bulan Januari 2021, utamanya didorong oleh sisi permintaan. Inflasi bulan Januari 2021 di topang kenaikan harga beberapa komoditas Kelompok Makanan, di barengi kenaikan tarif cukai rokok yang berimbas harga rokok semakin mahal. Andil Sektor Makanan, Minuman, dan Tembakau setelah momen Idul Fitri mengalami kontraksi yang signifikan sebesar 0,01 persen dan/atau lebih di bulan Juni sampai dengan September 2021. Saat Idul Fitri yang jatuh di bulan Mei 2021 inflasi di Banten naik di angka 0,23 persen di banding bulan April 2021.

Kelompok Pakaian dan Alas Kaki mengalami inflasi paling tinggi sebesar 0,62 persen dengan andil 0,03 persen. Sub kelompok pakaian mengalami kenaikan indeks yang signifikan, dimana andil inflasi disumbangkan oleh komoditas jilbab dan pakaian muslim wanita.

17

Inflasi secara month-to-month (m-t-m) pada triwulan IV-2021 mencatat pergerakan di angka positif, puncaknya pada bulan Desember 2021 sebesar 0,69 persen yang merupakan tertinggi sejak tiga tahun terakhir. Peningkatan inflasi di periode akhir tahun sudah menjadi tren di Banten setidaknya selama lima tahun terakhir. Konsumsi Pemerintah pada triwulan IV-2021 sebesar 20,89 persen (q-to-q) yang di topang oleh realisasi belanja K/L di Banten beserta penyaluran bantuan program PEN yang terkonsentrasi pada akhir tahun turut berkontribusi dalam kenaikan inflasi di bulan Desember 2021.

Untuk realisasi belanja pemerintah melalui K/L selama triwulan IV-2021 di wilayah Banten mencapai lebih dari 37 persen dari pagu hampir Rp 15 triliun. Realisasi belanja pemerintah yang besar tersebut turut mendorong daya beli masyarakat sebagaimana terlihat dari angka Konsumsi Rumah Tangga di triwulan IV-2021 yang tumbuh 2,51 persen di banding triwulan sebelumnya. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur daya beli adalah inflasi, karena kenaikan harga atau inflasi terjadi akibat peningkatan permintaan sebagai dampak tumbuhnya tingkat konsumsi.

Gambar II.5. Andil Kelompok Pengeluran terhadap Inflasi Banten 2021 (%)

Sumber : BPS ( di olah)

18 2.1.4. Nilai Tukar

Nilai tukar dapat didefinisikan sebagai harga relatif mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya. Menurut Pilbeam (2006), kurs atau nilai tukar merupakan harga mata uang suatu

negara

terhadap mata uang negara lain.

Sedangkan Krugman (2000) mengartikan nilai tukar adalah harga sebuah mata uang negara yang di ukur

atau dinyatakan dalam mata uang negara lain. Keseimbangan nilai tukar atau kurs mata uang termasuk rupiah dalam jangka pendek tergantung dari interaksi supply and demand.

Jika permintaan terhadap rupiah meningkat tanpa diimbangi dengan penawarannya, maka rupiah akan terapresiasi, dan sebaliknya. Kebijakan nilai tukar suatu negara pada umumnya di arahkan untuk membantu efektifitas kebijakan moneter dan mendukung neraca pembayaran yang mencatat transaksi ekspor-impor dan transaksi lainnya. Kaitan ekspor dan impor dengan nilai tukar antara lain ketika permintaan ekspor meningkat maka dalam jangka panjang akan menyebabkan mata uang terapresiasi, dan sebaliknya peningkatan permintaan impor akan menyebabkan mata uang terdepresiasi dalam jangka panjang.

Gambar II.6. Kurs Jual dan Kurs Beli USD terhadap IDR 2021

Sumber : BI

19

Pelemahan rupiah terhadap mata uang dominan seperti USD juga dapat mengakibatkan pelemahan kinerja ekspor dan neraca perdagangan. Kinerja neraca perdagangan Banten di tahun 2021 terlihat tidak

terlalu terdampak fluktuasi nilai tukar yang relatif stabil. Neraca perdagangan Banten selama tahun 2021 terindikasi tidak sehat (defisit) sepanjang tahun, hanya di bulan Agustus saja yang tercatat surplus.

Pengaruh perekonomian regional, nasional, dan global masih menjadi penyebab melemahnya kinerja neraca perdagangan Banten.

2.2. ANALISIS INDIKATOR KESEJAHTERAAN 2.2.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Menurut standar United Nation Development Program (UNDP), pembangunan manusia terdiri dari empat kriteria, antara lain :

2.2.1.1. Kategori Sangat Tinggi, IPM > 80;

2.2.1.2. Kategori Tinggi, IPM 70 sampai 79;

2.2.1.3. Kategori Sedang, IPM 60 sampai 69; dan 2.2.1.4. Kategori Rendah, IPM < 59;

Capaian pembangunan manusia di Banten yang diukur dengan IPM selama tiga tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan positif, artinya pembangunan manusia di Banten terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2021 IPM Banten masih berada pada kategori

“TINGGI” dengan indeks 72,72, tetapi disparitas IPM Kabupaten/Kota cenderung meningkat dan tinggi. Angka IPM Banten selama 2019 sampai dengan 2021 selalu berada di atas nasional, dan berada di peringkat tiga di antara enam provinsi di pulau Jawa setelah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. DKI Jakarta tercatat sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang memasuki status pembangunan manusia “SANGAT TINGGI”.

Tabel II.2. Kinerja Ekspor-Impor Banten 2021 (Juta US$)

Sumber : BPS

20

Terdapat tiga dimensi dasar untuk mengukur IPM yaitu Umur Panjang dan Hidup Layak, Pengetahuan, serta Standar Hidup Layak. Dimensi dasar pertama diukur dengan indikator Umur Harapan Hidup (UHH). Angka UHH di Banten tahun 2021 tercatat 70,02 tahun, dengan

rata- rata pertumbuhan selama 2019 - 2021 sebesar 0,13% per tahun. Indikator UHH ini dapat diartikan bahwa bayi yang lahir di Banten pada tahun 2021 diperkirakan dapat bertahan hidup sampai usia 70,02 tahun. Tiga daerah di Tangerang Raya tercatat sebagai wilayah dengan angka UHH tertinggi di Provinsi Banten, bahkan UHH Kota Tangerang Selatan, dan Kota Tangerang di atas rata-rata Provinsi Banten.

Dari dimensi dasar kedua yaitu pengetahuan, anak-anak Banten berusia tujuh tahun yang mulai bersekolah memiliki harapan menempuh pendidikan hingga Diploma I. BPS Banten mencatat Harapan Lama Sekolah (HLS) tahun 2021 meningkat 0,14 tahun di banding tahun 2019. Sedangkan penduduk Banten yang berusia 25 tahun ke atas rata-rata telah menyelesaikan 8,93 tahun masa sekolah atau telah menempuh pendidikan hingga kelas IX.

Rata-rata lama sekolah (RLS) Banten tahun 2021 meningkat 0,19 tahun di banding tahun2019.

Dimensi dasar ketiga yang membangun IPM adalah standar hidup layak (decent standart of living) yang diukur dengan Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan (PKP). Terjaganya pertumbuhan IPM sejak 2019 sampai dengan 2021 ditopang oleh peningkatan kualitas

Gambar II.7. UHH Kab/Kota di Banten 2019-2021

Sumber : BPS Banten

Gambar II.7. IPM Dimensi Pengetahuan Kab/Kota di Banten 2019-2021

Sumber : BPS (di olah)

21

kesehatan yang ditunjukkan dengan kenaikan angka UHH, dan peningkatan pendidikan yang dibuktikan tren positif HLS dan RLS. Sedangkan daya beli yang ditunjukkan dari sisi pengeluaran per kapita mengalami penurunan di tahun 2020 sebesar Rp303 ribu dan tahun 2021 sebesar Rp234 ribu dibanding PKP tahun 2019 yang mencapai Rp12.267 ribu.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa disparitas IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Banten secara kewilayahan terdapat dua klater yang perlu menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan, antara lain Tangerang Raya yang lebih maju, dan isu Banten Utara yang relatif lebih berkembang di banding Banten Selatan yang terdiri dari Kab Lebak dan Kab Pandeglang.

2.2.2. Tingkat Kemiskinan

BPS mengukur kemiskinan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach), dimana kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan demikian penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

Pada tahun 2021, penurunan persentase kemiskinan di perdesaan terlihat lebih cepat meskipun selisih persentasenya di banding wilayah perkotaan masih lebih besar. Tingkat kemiskinan di Banten selama lima tahun terakhir masih lebih rendah di banding nasional, dan terendah kedua dari enam provinsi di Pulau Jawa setelah DKI Jakarta.

Juta Rupiah

Gambar II.8. PKP Kab/Kota di Banten 2019 - 2021

Sumber : BPS

22

Ukuran kemiskinan suatu daerah selain jumlah dan persentase penduduk miskin juga diukur indeks kedalaman kemiskinan (poverty gap index, P1) dan indeks keparahan kemiskinan (poverty severity index, P2).

Indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan keparahan kemiskinan (P2) di Banten selama Maret 2018 – September 2021 mengalami peningkatan di tiap tahunnya.

Peningkatan (P1) menggambarkan kondisi masyarakat miskin semakin memburuk dan semakin menjauh dari garis kemiskinan, sedangkan peningkatan P2 berarti ketimpangan pengeluaran antar orang miskin

cenderung tinggi. Indeks P1 di pedesaan yang lebih tinggi menggambarkan masih banyak masyarakat miskin di pedesaan yang kondisinya mengkhawatirkan, dan ketimpangan pengeluaran orang miskin di desa juga semakin tinggi.

Gambar II.9. Perkembangan Penduduk Miskin di Banten dan Nasional 2017 – 2021 (%)

Sumber : BPS

Tabel II.3. P1 dan P2 Banten Maret 2018 – September 2021

Sumber : BPS

23 2.2.3. Tingkat Ketimpangan (Gini Rasio)

Tolok ukur/kriteria yang dapat digunakan untuk menilai kepemerataan distribusi pendapatan adalah rasio gini. Standar penilaian ketimpangan rasio gini menggunakan kriteria sebagai berikut :

Kategori ketimpangan RENDAH : Rasio Gini < 0,3

Kategori ketimpangan SEDANG : 0,3 ≤ Rasio Gini ≤ 0,5

Kategori ketimpangan TINGGI : Rasio Gini ≥ 0,5

Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Banten selama Maret 2019 sampai dengan September 2021 relatif tidak mengalami perbaikan yang berarti, hanya turun 0,002 poin dan masih tetap dalam kategori “SEDANG”.

Gini rasio di wilayah perkotaan pada September 2021 sebesar 0,365, turun 0,004 poin dibanding Maret 2021, tetapi lebih tinggi 0,004 poin dari September 2020. Sedangkan ketimpangan pengeluaran di daerah perdesaan tergolong “RENDAH” dengan capaian selama Maret 2019 – September 2021 di bawah 0,3. Penyebab gini rasio di perdesaan lebih rendah dibanding

perkotaan menurut BPS karena sumber pendapatan penduduk perdesaan relatif sama, umumnya dari Pertanian.

a. Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran

Suatu wilayah dianggap sudah mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) atau kesempatan kerja penuh apabila dalam perekonomian tingkat penganggurannya mencapai persentase tertentu. OECD memberi angka antara 4 sampai 6,4 persen, sedangkan William T. Dickens memperkirakan suatu perekonomian full employment apabila angka pengangguran sebesar ≤ 5 persen. Penduduk usia kerja menurut konsep BPS adalah yang berusia di atas 15 tahun dan lebih, dan termasuk angkatan kerja apabila sudah bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.

Gambar II.10. Gini Rasio

Sumber : BPS

24

Tingkat pengangguran di Banten sejak periode Februari 2019 sampai dengan Agustus 2021 lebih dari 7,5 persen, di atas standar OECD dan ekonom William T. Dickens. Selama periode

tersebut, tingkat pengangguran di Banten meningkat 1,40 poin, dengan peningkatan signifikan terjadi pada Februari 2020 dari semula 8,01 persen menjadi 10,64 persen.

Kenaikan signifikan ini akibat kebijakan pembatasan kegiatan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 sehingga aktivitas ekonomi melambat dan permintaan tenaga kerja menurun. Tingkat pengangguran di daerah Perdesaan relatif lebih tinggi dibanding Perkotaan karena ketersediaan pekerjaan di perkotaan lebih bervariasi, mulai pegawai pemerintahan sampai aktivitas ekonomi perdagangan. Sementara jenis pekerjaan di perdesaan terbatas pemanfaatan sumber daya alam seperti pertanian.

2.2.4. Nilai Tukar Petani (NTP)

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kesejahteraan petani adalah NTP (Nilai Tukar Petani) karena NTP membandingkan indeks harga yang diterima atas produk (komoditas) yang dihasilkan / di jual oleh petani dengan indeks harga yang di bayar atas produk yang dibutuhkan oleh petani.

Capain NTP Tanpa Perikanan di Banten tahun 2021 di angka 98,36, turun 4,03 poin di banding NTP tahun 2020 dan berada di urutan ketiga setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

NTP < 100 memiliki arti kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsi. Dengan demikian pendapatan petani turun dan lebih kecil dari pengeluarannya sehingga tingkat kesejahteraan petani menurun. Penurunan terjadia akibat indeks yang di terima (It) turun 1,20 persen dan indeks yang dibayar naik 2,85 persen.

Tabel II.3. TPT Banten (%)

Sumber : BPS Banten

25

Pada triwulan I-2021 Petani di Banten merupakan petani paling sejahtera di banding petani lain di pulau Jawa, namun berangsur-angsur menurun sampai berakhirnya tahun 2021.

Indeks yang diterima petani yang mengalami kenaikan di tahun 2021 antara lain sub sektor

Perkebunan Rakyat di tahun 2021 sebesar11,92 persen, dan Peternakan sebesar 2,75 persen, kemudian sub sektor holtikultura naik 0,19 persen. Sedang sub sektor yang mengalami penurunan adalah Tanaman Pangan sebesar 3,4 persen. Sementara itu indeks yang dibayar petani semua sub sektor mengalami kenaikan, antara lain Tanaman Pangan naik 2,94 persen, Tanaman Holtikultura 2,51 persen, Perkebunan Rakyat 2,47 persen, dan Peternakan naik 2,94 persen.

Gambar II.11. NTP Tanpa Perikanan di Pulau Jawa 2021

Sumber : BPS

26 2.2.5. Nilai Tukar Nelayan (NTN)

Indeks Nilai Tukar Nelayan (NTN) Banten tahun 2021 naik 2,70 persen di banding tahun 2020, karena indeks yang diterima mengalami kenaikan lebih besar di banding kenaikan indeks yang dibayar nelayan.

Indeks It tahun 2021 di banding 2020 naik sebesar 4,90 persen, sedangkan indeks yang harus di bayar nelayan naik 1,36 persen. Dengan menggunakan indikator indeks NTP dan NTN, dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan nelayan

di Banten lebih baik di banding para petani. Indeks nilai tukar nelayan Banten sejak lima tahun terakhir memperlihatkan tren pertumbuhan, hanya turun di tahun 2020 saja. PPandemi Covid-19 disinyalir menjadi penyebab turunnya kesejahteraan nelayan di tahun 2020.

Gambar II.12. Indeks Nilai Tukar Nelayan (NTN) di Banten 2021

Sumber : BPS

27

Tabel II.4. Reviu Capaian Kinerja Makro Kesra Regional

No Sasaran

Makro Kesra Target 2021 Realisasi 2021 Target 2022 Hasil Reviu 1 Pertumbuhan

28

BAB III

ANALISIS FISKAL REGIONAL

3.1. PELAKSANAAN APBN TINGKAT PROVINSI

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan pendapatan di Provinsi Banten naik 44,56 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan terjadi baik untuk penerimaan perpajakan maupun penerimaan bukan pajak. Sama halnya dengan pendapatan, belanja negara pun mengalami peningkatan 2,18 persen atau sebesar Rp573,90 miliar. Peningkatan belanja terjadi pada belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD). Secara keseluruhan apabila jumlah pendapatan dikurangi oleh belanja, maka kinerja APBN Provinsi Banten masih mengalami surplus sebesar Rp33.155,83 miliar yang artinya

Sumber : Aplikasi OMSPAN, Kanwil DJP, Kanwil DJBC

Tabel III.1. LRA Face APBN Tahun 2019 - 2021

PAGU REALISASI PAGU REALISASI PAGU REALISASI

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 67.313,71 46.957,11 53.133,59 41.550,36 57.953,18 60.066,18 44,56%

Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA)36.816,32 18.351,28 25.754,47 15.213,92 30.375,76 33.155,83 117,93%

2021 % Growth

2021-2021

i-Account (Miliar Rupiah) 2019 2020

29

bahwa Provinsi Banten masih dapat membiayai pengeluarannya dan bahkan digunakan untuk membantu daerah lain yang mengalami defisit.

3.2. PENDAPATAN NEGARA

Realisasi pendapatan negara pada tahun 2021 sebesar Rp60.066,18 miliar, yang terdiri atas penerimaan perpajakan Rp57.874,95 miliar dan

Selama tiga tahun terakhir penerimaan perpajakan di Provinsi Banten mengalami fluktuatif sebagai akibat dari adanya pandemi Covid-19. Pada tahun 2020 dimana pandemi bermula jumlah pendapatan APBN di Provinsi Banten

Peningkatan pendapatan perpajakan di Provinsi Banten di dorong oleh meningkatnya seluruh komponenen penerimaan. Dimana semua komponen mengalami pertumbuhan positif, dengan pertumbuhan tertinggi ada pada penerimaan bea keluar dan PPN.

Peningkatan pada penerimaan pajak perdagangan internasional (bea masuk dan bea keluar) serta PPN dapat menjadi indikasi bahwa kinerja ekspor impor di wilayah Banten meningkat di 2021.

30

Berdasarkan berita yang kutip dari https://banten.antaranews.com/berita/203713/realisasi-penerimaan-bea-cukai-banten-2021-lebihi-target, kontributor bea masuk terbesar pada tahun 2021 di Banten adalah PT Pertamina (Persero) dengan nilai bea masuk sebesar Rp1.318,54 miliar, sementara itu kontributor cukai terbesar adalah PT Multi Bintang Indonesia dengan nilai cukai sebesar Rp852,86 miliar.

Bila dilihat dari sisi penyumbang pendapatan terbesar, maka kontributor utama pendapatan perpajakan adalah penerimaan PPN, dengan total pendapatan Rp30.640,70 miliar, kontribusi PPN terhadap total pendapatan perpajakan di Banten mencapai 52,94 persen.

3.2.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak

Penerimaan PNBP di wilayah Banten didominasi oleh pendapatan Badan Layanan Umum, 74,32 persen dari total pendapatan PNBP sebesar Rp2.191,23 miliar.

Sama halnya dengan pendapatan perpajakan, untuk penerimaan PNBP tahun 2019-2021 mengalami penurunan di tahun 2020 dan kembali meningkat di 2021. Adapun pendapatan BLU tumbuh positif 10,06 persen, dan untuk PNBP Lainnya juga tumbuh positif 8,41 persen dari Rp519,09. Pertumbuhan pendapatan BLU terbesar berasal dari Pendapatan dari Alokasi APBN baik yang berasal dari Entitas Pemerintah dalam satu K/L maupun dari luar K/L, pertumbuhannya mencapai 2069,12 persen dari Rp5,75 miliar menjadi Rp124,79 miliar.

Sementara untuk PNBP Lainnya penerimaan tertinggi berasal dari pendapatan bunga, pengelolaan rekening perbankan, dan pengelolaan keuangan yang tumbuh positif 97,75 persen dari semula Rp24,71 miliar di 2020 menjadi Rp48,86 miliar di tahun 2021.

3.2.3. Penerimaan Hibah

Tidak terdapat belanja hibah untuk wilayah Provinsi Banten, sehingga tidak terdapat pembahasan pada bagian ini.

Sumber : Aplikasi OMSPAN, diolah

Gambar III.3. Pendapatan PNBP di Provinsi Banten Tahun 2021

31 miliar di 2020, maka pertumbuhan realisasinya adalah negatif 0,49 persen. Apabila dilihat

rasionya, rasio BPP terhadap total belanja di Provinsi Banten adalah sebesar 39,64 persen.

a. Berdasarkan Jenis Belanja

Berdasarkan jenis belanjanya, pagu belanja APBN di wilayah Banten sejak tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 mengalami penurunan kecuali untuk jenis belanja modal.

Adapun kenaikan pagu belanja modal di tahun 2021 adalah sebagai upaya untuk menjaga akselerasi belanja modal sebagai akibat dari adanya pandemi Covid-19, agar pandemi tidak menyebabkan proyek yang telah direncanakan menjadi tidak terlaksana. Untuk belanja modal yang pada tahun 2020 mengalami refocusing maka di tahun 2021 kembali memperoleh tambahan alokasi dana untuk melanjutkan kegiatannya. Akan tetapi tidak semua belanja modal, hanya untuk belanja modal yang bersifat strategis, seperti pembangunan jalan, jembatan dan irigasi.

Sejalan dengan meningkatnya pagu anggaran, pertumbuhan realisasi anggaran untuk belanja modal juga mengalami pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan realisasi anggaran

Sumber : Aplikasi OMSPAN

32

belanja modal tahun 2021 sebesar 17,23 persen. Sementara jenis belanja yang lain mengalami pertumbuhan negatif, dengan negatif terbesar di jenis belanja bantuan sosial.

Meskipun secara pertumbuhan mengalami peningkatan, akan tetapi secara persentase realisasi belanja modal sebesar 89,88 persen tidak mencapai target penyerapan nasional di angka 90 persen. Adapun belanja modal yang paling banyak tidak terserap dengan rasio mencapai 53,88 persen atau Rp53,32 miliar dari total pagu belanja modal tidak terserap (Rp98,95 miliar) ada pada Satker SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Cidanau-Ciujung-Cidurian (498022). Alasan dari banyaknya pagu tidak terserap berdasarkan hasil Evaluasi Pelaksanaan Anggaran (EPA) yang dilaksanakan secara one on one meeting disebabkan karena adanya sisa lelang yang sumber dananya SBSN dan juga karena adanya paket pekerjaan yang terhambat.

Bila dilihat secara rasio, belanja barang dengan pagu Rp4.243,89 miliar merupakan jenis belanja dengan rasio tertinggi di dalam BPP, yaitu sebesar 40,04 persen, diikuti oleh belanja pegawai 34,81 persen, belanja modal 25,04 persen dan belanja bantuan sosial 0,11 persen.

b. Berdasarkan Kementerian Negara/Lembaga

Lima belas Kementerian/Lembaga di wilayah Provinsi Banten selama tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan pagu dan realisasi. Adapun pertumbuhan tertinggi adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang tumbuh positif sebesar 74,17 persen semula realisasinya Rp.1.297,85 miliar di 2020 menjadi Rp2.260,52 miliar pada tahun 2021. Pertumbuhan tertinggi kedua adalah Kementerian Pertanian sebesar 61,83 persen dari Rp164,27 miliar menjadi Rp265,84 miliar.

Gambar III.6. Belanja Negara Berdasarkan K/L Dengan Pagu Besar Tahun 2019-2021

Sumber : Aplikasi MEBE

Gambar III.7. Pertumbuhan Realisasi Anggaran K/L dengan Pagu Besar Tahun 2019-2021

Sumber : Aplikasi MEBE

33

Tingginya pertumbuhan Kementerian Pupera pada tahun 2021 ada di jenis belanja pegawai yang mencapai 464,65 persen dari semula Rp2,99 miliar menjadi Rp16,89 miliar.

Pertumbuhan di 2021 ini dikarenakan adanya penambahan Satuan Kerja yang baru yaitu Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Banten (420128). Sementara untuk Kementerian Pertanian, pertumbuhan tertinggi ada di jenis belanja modal yang tumbuh 956,79 persen dari semula Rp9,22 miliar menjadi Rp97,56 miliar. Adapun peningkatan belanja modal ini ada pada Satker Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (412005) berupa belanja modal gedung dan bangunan sebesar Rp74,98 miliar.

c. Berdasarkan Fungsi

Apabila dilihat secara fungsinya, pagu terbesar di tahun 2021 adalah fungsi Pelayanan Umum sebesar Rp4.727,61 miliar diikuti oleh fungsi Pendidikan sebesar Rp3.780,28 miliar. Akan tetapi bila dilihat dari pertumbuhannya baik dari sisi pagu maupun realisasi tahun 2020 dan 2021, maka fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum merupakan fungsi dengan tingkat pertumbuhan tertinggi. Pagu tumbuh 231,66

persen dari Rp258,77 miliar menjadi Rp858,24 miliar, dengan realisasi tumbuh 223,69 persen dari Rp252,78 miliar menjadi Rp818,22 miliar. Pada buku II Nota Keuangan beserta APBN TA 2021 disebutkan bahwa fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum merupakan salah satu Proyek Prioritas Nasional yang mendapatkan perhatian Pemerintah.

34

Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Banten (631121) yang melaksanakan kegiatan Penyelenggaraan Sanitasi yang Layak, dan kegiatan Penyelenggaraan Air Minum yang Layak. Besaran pagu yang digunakan untuk kegiatan ini yaitu kegiatan pembangunan yang diserahkan kepada masyarakat mencapai Rp420,03 miliar atau 48,94 persen dari total pagu fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum.

3.3.2. Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) Pada tahun 2021 pagu TKDD mengalami peningkatan dila dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan pagu ini tidak dibarengi dengan tingkat penyerapan yang menurun dari sebelumnya 99,15 persen menjadi 98,92 persen. Belanja TKDD memiliki porsi sebesar 60,36 persen

dan penerimaan negara sehingga berdampak pada penyesuaian pagu DTU. Total belanja DTU Rp10.218,12 miliar memiliki porsi sebesar 60,18 persen dari total belanja TKDD Banten.

b. Dana Transfer Khusus (DTK)

Dana Transfer Khusus (DTK) terbagi menjadi 2 bagian, yaitu DAK Fisik dan DAK Nonfisik.

Pada tahun 2021 pagu DTK di wilayah Banten mengalami peningkatan 5,32 persen. Dengan pagu Rp5.256,93 miliar, belanja DTK memiliki porsi 30,96 persen dari total belanja TKDD di

Pada tahun 2021 pagu DTK di wilayah Banten mengalami peningkatan 5,32 persen. Dengan pagu Rp5.256,93 miliar, belanja DTK memiliki porsi 30,96 persen dari total belanja TKDD di

Dokumen terkait