• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inflasi Bulanan

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 29-0)

BAB II  INFLASI DAERAH

2.1   P ERKEMBANGAN  I NFLASI

2.1.1   Inflasi Bulanan

Pergerakan harga dari bulan ke bulan tercermin pada inflasi bulanan. Pada triwulan III-2012, Kota Ambon mengalami inflasi bulanan sebesar -1,87% (m.t.m), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,40% (m.t.m) maupun tahun sebelumnya sebesar -0,40% (m.t.m).

Deflasi Kota Ambon pada triwulan laporan disebabkan oleh kelompok bahan makanan, kelompok transport, komunikasi, & jasa keuangan, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

20

Kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar -6,34% (m.t.m) pada triwulan laporan, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 7,08% (m.t.m).

Inflasi bulanan pada triwulan laporan ini jauh lebih lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya di mana inflasi kelompak bahan makanan berada pada level -2,46%

(m.t.m). Penurunan harga bulanan yang signifikan sebagian besar terjadi pada komoditas sayur-mayur yaitu kangkung, sawi hijau, bayam, terong panjang, ketimun, daun singkong, labu siam, dan kacang panjang. Sedangkan penurunan harga juga terjadi pada ikan kembung/gembung, ikan campur, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Musim panas sangat mendukung produksi sayur-mayur dan beberapa jenis ikan serta mulai pertengahan triwulan III-2012. Selain itu, kondisi laut yang tenang memberikan kelancaran proses pengiriman bahan makanan dari Surabaya seperti daging ayam ras dan telur ayam ras sehingga pasokan pada triwulan laporan cukup memadai.

Sementara itu kelompok transport, komunikasi & jasa keuangan mengalami inflasi sebesar -0,96% (m.t.m), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,73% (m.t.m) maupun tahun sebelumnya sebesar 0,00% (m.t.m). Penurunan harga tiket pesawat sebesar 2,10% (m.t.m) disebabkan turunnya permintaan tiket pesawat setelah Idul Fitri pada Agustus 2012 memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada terjadinya deflasi kelompok ini.

Tabel II.1 Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m)

Sementara itu kelompok perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar mengalami inflasi sebesar -0,06% (m.t.m) pada triwulan laporan, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,10% (m.t.m) maupun tahun sebelumnya sebesar 0,00% (m.t.m). Penurunan harga terjadi pada seng, papan, semen, dan besi beton terkait dengan penurunan permintaan komoditas tersebut dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sebagai informasi pada bulan Agustus 2012 terjadi banjir bandang di Ambon yang menyebabkan banyak rumah rusak sehingga membutuhkan renovasi. Imbasnya permintaan bahan bangunan sempat mengalami kenaikan pada Agustus 2012, namun telah kembali normal pada bulan September 2012.

II III IV I II III IV I II III

Bahan makanan 2,92 6,24 (4,32) (2,26) 13,77 (2,46) (1,13) 5,33 7,08 (6,34)

Makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau (0,01) (0,08) 0,02 0,06 1,05 0,09 0,05 0,24 1,46 0,30 Perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar 0,42 0,01 0,03 0,18 0,05 0,00 0,15 0,47 0,10 (0,06)

Sandang 0,27 0,50 0,49 (0,04) (0,17) 2,09 0,28 0,21 0,07 0,57

Kesehatan 0,11 (0,95) 0,10 0,10 0,31 0,01 0,09 (0,00) 0,16 0,18

Pendidikan, rekreasi, & olahraga 0,00 2,64 (0,01) (0,04) (0,52) 0,00 (0,01) 0,01 0,21 0,20 Transport, komunikasi, & jasa keuangan 0,00 (3,88) 11,99 0,24 0,79 0,00 2,45 (0,38) 1,73 (0,96)

0,85 0,95 1,30 (0,46) 3,76 (0,40) 0,43 1,32 2,40 (1,87)

Sumber : BPS (diolah)

2011 2012

Kelompok Komoditas 2010

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

21 2.1.2 Inflasi Triwulanan

Pergerakan harga dari triwulan ke triwulan terefleksi pada angka inflasi triwulanan.

Pada triwulan laporan, laju inflasi Kota Ambon mencapai -0,01% (q.t.q), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,26% (q.t.q), namun masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya pada level -0,78% (q.t.q).

Berdasarkan kelompok komoditas, deflasi terjadi pada kelompok transport, komunikasi,

& jasa keuangan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok sandang.

Tabel II.2 Perkembangan Inflasi Triwulanan (q.t.q)

Kelompok transport, komunikasi, & jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 1,61%

(q.t.q), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 3,58%

(q.t.q), maupun tahun sebelumnya di mana inflasi mencapai 13,19% (q.t.q). Penurunan harga terjadi pada tiket pesawat udara. Pada Juni 2012, permintaan tiket meningkat sangat signifikan disebabkan pelaksanaan MTQ Nasional XXIV dan liburan sekolah. Sedangkan pada September 2012, permintaan tiket pesawat relatif lebih rendah dibandingkan dengan Juni 2012 sehingga harga tiket mengalami penurunan.

Sementara itu, kelompok sandang mengalami inflasi sebesar 1,63% (q.t.q), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar -0,10% (q.t.q), maupun tahun sebelumnya sebesar 4,31% (q.t.q). Peningkatan harga terjadi pada celana panjang bahan dril, blus, kerudung, kaos oblong, pampers, dan emas perhiasan.

2.1.3 Inflasi Tahunan

Pergerakan harga di Kota Ambon dari tahun ke tahun terangkum pada angka inflasi tahunan. Laju inflasi tahunan Kota Ambon pada triwulan III-2012 mencapai 7,07% (y.o.y).

Angka ini lebih tinggi dibandingkan laju inflasi tahunan triwulan sebelumnya yang mencapai 6,25% (y.o.y), maupun tahun sebelumnya yang sebesar 4,24% (y.o.y),.

II III IV I II III IV I II III

Bahan makanan 2,14 16,40 (8,41) (4,43) 19,03 (15,53) (6,82) 16,78 8,05 0,60

Makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau 0,20 0,82 2,71 (0,09) 1,11 1,04 0,06 1,81 1,97 0,79 Perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar 1,12 0,85 1,21 0,49 0,19 0,65 0,70 1,67 0,65 (0,17)

Sandang 0,48 0,95 1,86 0,62 1,16 4,31 0,71 0,20 (0,10) 1,63

Kesehatan 0,40 (0,71) 2,44 0,20 0,41 0,17 0,16 0,02 0,51 0,37

Pendidikan, rekreasi, & olahraga (0,01) 2,65 (0,04) (0,13) (0,58) 0,86 (0,03) (0,03) 0,13 0,43 Transport, komunikasi, & jasa keuangan (2,82) 0,46 11,24 (1,27) 2,87 13,19 3,19 0,02 3,58 (1,61)

UMUM 0,26 4,70 0,76 (1,25) 5,58 (0,78) (0,59) 4,32 3,26 (0,01)

Sumber : BPS (diolah)

Kelompok Komoditas 2010 2011 2012

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

22

Berdasarkan kelompok komoditas, tiga kelompok yang mengalami inflasi tahunan tertinggi pada triwulan III-2012 adalah kelompok bahan makanan, kelompok transport, komunikasi, & jasa keuangan, serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau.

Tabel II.3 Perkembangan Inflasi Tahunan (y.o.y)

Laju inflasi pada kelompok bahan makanan mencapai 18,29% (y.o.y) pada triwulan laporan, mengalami peningkatan dari triwulan sebelumnya yang sebesar -0,69% (y.o.y), maupun tahun sebelumnya pada level -11,99% (y.o.y). Kenaikan harga tertinggi terjadi pada komoditas sayur-mayur dan ikan segar seperti kacang panjang, bayam, buncis, terong muda, ketimun, tuna, dan cakalang. Meskipun musim panas pada triwulan laporan mendukung peningkatan produksi sayur-mayur dan ikan segar, namun ternyata hal tersebut belum mampu untuk menurunkan inflasi tahunan kelompok bahan makanan pada pada triwulan III-2012.

Atau dengan kata lain harga bahan makanan pada triwulan III-2012 masih lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kelompok transport, komunikasi, & jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 5,19% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 21,01% (y.o.y) dan tahun sebelumnya sebesar 27,87% (y.oy). Kenaikan harga tahunan masih terjadi pada tiket pesawat udara namun besarnya kenaikan terlihat makin mengecil.

Pada triwulan laporan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau mengalami inflasi sebesar 4,70% (y.o.y), mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,96% (y.o.y) maupun tahun sebelumnya sebesar 4,84% (y.o.y).

Peningkatan harga terjadi pada komoditas gula pasir, mesis, wafer, miunuman ringan, kopi susu, dan rokok.

2.1.4 Inflasi Tahun Berjalan

Sampai dengan triwulan III-2012, Kota Ambon mengalami inflasi tahun berjalan sebesar 7,70% (y.t.d). Angka ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,72% (y.t.d)

II III IV I II III IV I II III

Bahan makanan 24,29 37,22 11,82 4,07 21,29 (11,99) (10,46) 9,41 (0,69) 18,29

Makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau 5,67 3,70 6,14 3,66 4,61 4,84 2,14 4,08 4,96 4,70 Perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar 2,98 3,19 3,90 3,73 2,77 2,57 2,05 3,24 3,72 2,87

Sandang 2,66 2,69 3,44 3,95 4,66 8,14 6,93 6,48 5,16 2,46

Kesehatan 1,99 0,63 2,46 2,32 2,33 3,23 0,94 0,76 0,85 1,05

Pendidikan, rekreasi, & olahraga (0,42) 2,64 2,56 2,47 1,88 0,10 0,12 0,22 0,94 0,51 Transport, komunikasi, & jasa keuangan 14,09 14,59 17,70 7,21 13,49 27,87 18,63 20,18 21,01 5,19

UMUM 10,04 13,15 8,78 4,45 10,00 4,24 2,85 8,65 6,25 7,07

Sumber : BPS (diolah)

Kelompok Komoditas 2010 2011 2012

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

23

namun lebih tinggi dibandingkan inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,45% (y.t.d).

Berdasarkan kelompok komoditas, tiga kelompok yang mengalami inflasi tahun berjalan tertinggi pada triwulan laporan adalah kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar.

Tabel II.4 Perkembangan dan Sumbangan Inflasi Tahun Berjalan (y.t.d)

Kelompok bahan makanan mengalami peningkatan harga sebesar 26,94% (y.t.d) pada triwulan laporan, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 26,18%

(y.t.d) ataupun tahun sebelumnya sebesar -3,91% (y.t.d). Peningkatan harga terbesar terjadi pada sayur-mayur seperti kacang panjang, terong panjang, buncis, ketimun, sawi hijau, kangkung, dan bayam serta komoditas ikan segar yakni tuna, pepaya muda, pare, dan cakalang. Memang bila dibandingkan dengan harga bahan makanan pada triwulan IV-2011, telah terjadi kenaikan bahan makanan yang signifikan. Hal ini tidak terlepas dari rendahnya harga bahan makanan pada triwulan IV-2011 karena pasokan yang memadai mengacu pada musim panas yang mendukung.

Sementara itu inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau sebesar 4,63% (y.t.d), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 3,81% (y.t.d) maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,08% (y.t.d). Kenaikan harga yang cukup tinggi terjadi pada gula pasir, minuman ringan, dan rokok. Peningkatan harga ini rokok terjadi karena kenaikan harga dari produsen.

Sementara itu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar menorehkan angka inflasi sebesar 2,15% (y.t.d), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 2,33% (y.t.d) maupun tahun sebelumnya sebesar 1,34% (y.t.d). Kenaikan harga terjadi pada kontrak rumah, sewa rumah, tukang bukan mandor, upah pembantu RT.

II III IV I II III IV I II III

Bahan makanan 4,88 22,08 11,82 (4,43) 13,76 (3,91) (10,46) 16,78 26,18 26,94

Makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau 2,50 3,34 6,14 (0,09) 1,02 2,08 2,14 1,81 3,81 4,63 Perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar 1,78 2,65 3,90 0,49 0,68 1,34 2,05 1,67 2,33 2,15

Sandang 0,60 1,56 3,44 0,62 1,79 6,17 6,93 0,20 0,10 1,74

Kesehatan 0,73 0,02 2,46 0,20 0,61 0,78 0,94 0,02 0,52 0,89

Pendidikan, rekreasi, & olahraga (0,05) 2,61 2,56 (0,13) (0,71) 0,14 0,12 (0,03) 0,11 0,54 Transport, komunikasi, & jasa keuangan 5,32 5,81 17,70 (1,27) 1,56 14,96 18,63 0,02 3,60 1,93

UMUM 3,11 7,96 8,78 (1,25) 4,27 3,45 2,85 4,32 7,72 7,70

Sumber : BPS (diolah)

2011 2012

Kelompok Komoditas 2010

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

24 2.2 Disagregasi Inflasi

Disagregasi inflasi pada dasarnya mengurai inflasi menjadi inflasi inti, inflasi volatile food, dan inflasi administered price. Melalui disagregasi inflasi dapat dilihat penyebab gejolak inflasi pada tingkatan yang lebih spesifik.

Inflasi inti menggambarkan perkembangan harga yang bersifat permanen dan persisten yang dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi secara umum, antara lain ekspektasi inflasi, nilai tukar, serta keseimbangan permintaan dan penawaran.

Inflasi inti Kota Ambon pada triwulan III-2012 berada pada level 3,29% (y.o.y) atau 0,26% (q.t.q). Inflasi inti tahunan mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,65% (y.o.y), begitupula dengan inflasi inti triwulanan yang juga mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 0,96% (q.t.q).

Secara garis besar penyumbang inflasi inti yang cukup signifikan berasal dari gula pasir, tukang bukan mandor, kontrak rumah, sewa rumah, emas perhiasan, dan upah pembantu rumah tangga.

Inflasi volatile foods adalah inflasi yang berhubungan dengan pergerakan harga bahan makanan yang bergejolak. Faktor pemicu inflasi volatile food di Ambon dari sisi permintaan adalah shock berupa lonjakan permintaan akibat perayaan kegiatan atau acara tertentu.

Sedangkan dari sisi penawaran, shock yang muncul terkait dengan masalah produksi, pasokan, distribusi, dan struktur pasar.

-20

Inflasi Total (y.o.y) Inflasi Inti (y.o.y) Inflasi Volatile Food (y.o.y) Inflasi Administered Price (y.o.y)

%

Sumber : BPS (diolah)

-20

Inflasi Total (q.t.q) Inflasi Inti (q.t.q) Inflasi Volatile Food (q.t.q) Inflasi Administered Price (q.t.q)

%

Sumber : BPS (diolah)

Grafik II.1 Disagregasi Inflasi Tahunan Kota Ambon

Grafik II.2 Disagregasi Inflasi Triwulanan Kota Ambon

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

25  

   

Kondisi inflasi volatile food tahunan Kota Ambon pada triwulan laporan sebesar 17,63% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi volatile food triwulan sebelumnya yang sebesar -0,57% (y.o.y). Penyebab utama dari fenomena ini adalah tingginya basis IHK pada bulan Juni 2011 akibat cuaca ekstrem sehingga inflasi tahunan pada triwulan kedua bernilai negatif (deflasi). Sedangkan inflasi volatile food triwulanan jatuh pada level 0,93% (q.t.q), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,83% (q.t.q). Hal ini memperlihatkan adanya perlambatan kenaikan IHK dari triwulan kedua ke triwulan ketiga. Pada dasarnya harga volatile food triwulanan masih mengalami kenaikan terkait penurunan pasokan akibat cuaca buruk namun kenaikannya sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kontribusi inflasi volatile food terutama dari komoditas cakalang, layang, kembung, tuna, bayam, kangkung, dan beras.

Inflasi administered price Kota Ambon pada triwulan III-2012 berada pada level 5,06%

(y.o.y) atau -1,45% (q.t.q), mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 19,91% (y.o.y) dan 3,43% (q.t.q). Kelompok komoditas yang digolongkan administered price pada prinsipnya bergantung pada pengaturan harga dari pemerintah meliputi bahan bakar minyak (bensin, solar, minyak tanah), rokok, tarif listrik, tarif telepon, air

500

Jan Feb Mar Apr Mei Juni

2012

SAWI HIJAU BAYAM KANGKUNG KACANG PANJANG

Sumber : SPH KPw BI Provinsi Maluku

5,000

Jan Feb Mar Apr Mei Juni

2012

IKAN LEMA IKAN MOMAR IKAN CAKALANG

Sumber : SPH KPw BI Provinsi Maluku

1,000

Jan Feb Mar Apr Mei Juni

2012

CABE MERAH CABE RAWIT

BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

Sumber : SPH KPw BI Provinsi Maluku

5,000

Jan Feb Mar Apr Mei Juni

2012

Beras Kualitas Medium I Beras Kualitas Medium II Beras Kualitas Super I Beras Kualitas Super II Sumber : SPH KPw BI Provinsi Maluku

Grafik II.5 Pergerakan Harga Bumbu-Bumbuan

Grafik II.6 Pergerakan Harga Beras Grafik II.3 Pergerakan Harga

Sayur-Sayuran

Grafik II.4 Pergerakan Harga Ikan Segar

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

26

bersih (PDAM), dan tarif angkutan. Pada triwulan III-2012, perlambatan inflasi administered price disebabkan penurunan harga tiket pesawat pada September 2012 dibandingkan bulan Juni 2012.

2.3 Ekspektasi Inflasi Triwulan Mendatang

Ekspektasi inflasi pengusaha untuk triwulan IV-2012 sebesar 6,22% (y.o.y). Melihat inflasi pada triwulan III-2012 yang sebesar 7,07% (y.o.y), maka kalangan pengusaha masih optimis bahwa level inflasi akan terus turun pada akhir tahun karena membaiknya kondisi perekonomian pasca terjadinya banjir dan tanah longsor pada triwulan laporan.

Sementara itu ekspektasi inflasi masyarakat umum (konsumen rumah tangga) untuk periode tiga bulan mendatang menunjukkan tren meningkat tercermin dari Indeks perubahan harga umum 3 bln yad yang meningkat dari 183,3 menjadi 184,80. Rendahnya ekspektasi inflasi masyarakat tersebut ditengarai karena kondisi perekonomian yang membaik seiring dengan datangnya musim panas yang mendukung pasokan ikan segar dan sayur-mayur serta distribusi barang.

Ekspektasi inflasi pengusaha 3 bulan mendatang

-6%

2009 2010 2011 2012 2013

Inflasi (y.o.y)-sumbu kanan Perubahan harga umum 6 Bln yad Perubahan harga umum 3 Bln yad

Sumber : Survei Konsumen KPw BI Provinsi Maluku BPS (diolah)

Grafik II.7 Ekspektasi Inflasi Pengusaha Grafik II.8 Ekspektasi Inflasi Masyarakat

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

27

Boks 1 PIHPS DIBUTUHKAN UNTUK REDAM INFLASI

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) merupakan suatu sistem informasi harga pangan yang bertujuan untuk mendiseminasikan harga pangan strategis kepada masyarakat.

Tujuan dari diseminasi harga ini yaitu memperkecil ruang gerak spekulan untuk mempermainkan harga karena informasi harga telah tersebar secara sempurna. Selain itu, diharapkan ekspektasi positif masyarakat terhadap harga akan semakin kuat sehingga fluktuasi harga dapat diminimalkan.

Untuk mengetahui pendapat masyarakat mengenai PIHPS maka Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Maluku melakukan survei kepada 330 responden di Kota Ambon dan sebagian Kabupaten Maluku Tengah untuk mengetahui opini masyarakat mengenai PIHPS.

Hasil survei menyatakan masyarakat merasakan bahwa harga bahan pangan selalu berfluktuasi dari hari ke hari, terbukti dari 94,9% responden yang menyatakan hal tersebut.

Sedangkan sisanya sebesar 5,1% tidak merasakan fluktuasi bahan pangan. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat merasakan bahwa harga bahan pangan berfluktuasi dari hari ke hari.

Untuk mendapatkan masukan mengenai penyebab fluktuasi harga bahan pangan maka ditanyakan faktor-faktor yang menyebabkan fluktuasi tersebut. Hasil survei menunjukkan 52,4% responden menyatakan bahwa ketidakpastian produksi akibat cuaca ekstrem menjadi penyebab utama dari fluktuasi harga. Sedangkan 19,5% responden menyatakan bahwa kendala pada jalur distribusi merupakan penyebab fluktuasi harga. Di sisi lain, 17,0%

responden berpendapat bahwa dinamika permintaan-lah yang membuat harga naik turun.

94,9%

5,1%

Ya Tidak Apakah harga bahan pangan selalu berfluktuasi dari hari ke

hari?

Sumber : Survei KPw BI Provinsi Maluku

52,4%

17,0%

10,7%

19,5% 0,5% Ketidakpastian produksi 

akibat cuaca ekstrem Dinamika permintaan  masyarakat  Maluku  Permainan para spekulan  dan pedagang  Kendala jalur distribusi

Lain‐lain

Faktor apa yang membuat harga pangan strategis sering berfluktuasi?

Sumber : Survei KPw BI Provinsi Maluku

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

28

Lebih jauh lagi, untuk mengetahui apakah Pemerintah Daerah perlu memiliki PIHPS, maka disisipkan pertanyaan mengenai hal tersebut. Ternyata sebanyak 92,8% responden mendukung Pemerintah Daerah untuk memiliki PIHPS. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat mendukung Pemda untuk memiliki PIHPS. Dukungan masyarakat terhadap PIHPS juga ditunjukkan dengan 71,6% responden yang yakin bahwa PIHPS mampu meredam fluktuasi harga.

Dalam rangka menyampaikan PIHPS ke masyarakat maka perlu diketahui media yang efektif dari sudut pandang masyarakat sebagai pengguna. Hasil survei memperlihatkan bahwa 53,2% responden setuju bahwa siaran televisi (running text) merupakan media yang efektif bagi PIHPS. Selanjutnya 25,7% responden memilih koran dan majalah. Dan sekitar 8,0%

resonden memilih radio sebagai media PIHPS.

Akhirnya untuk menggali periode penyampaian PIHPS maka ditanyakan juga jangka waktu ideal penyampaian PIHPS. Sebanyak 41,4% responden menginginkan PIHPS muncul setiap hari. Sedangkan 38,6% responden lainnya menyatakan PIHPS ada tiap seminggu sekali.

Kesimpulan dari hasil survei PIHPS adalah bahwa masyarakat membutuhkan PIHPS yang diyakini mampu meredam fluktuasi harga.

92,8%

7,2%

Perlu Tidak Perlu Apakah pemerintah perlu memiliki PIHPS?

Sumber : Survei KPw BI Provinsi Maluku

71,6% Apakah PIHPS dapat meredam fluktuasi harga?

Sumber : Survei KPw BI Provinsi Maluku

25,7%

Media mana yang paling efektif untuk PIHPS?

Sumber : Survei KPw BI Provinsi Maluku

41,4% Berapakah jangka waktu ideal penyampaian PIHPS?

Sumber : Survei KPw BI Provinsi Maluku

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

29

Boks 2 HAMBATAN KONSUMSI KOMODITAS PANGAN STRATEGIS DI

AMBON

Ketahanan pangan merupakan isu yang mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan nasional. Bila penduduk suatu negara mengalami kekurangan pangan maka dapat dipastikan akan terdapat banyak permasalah lain yang timbul dari segi sosial, politik, ekonomi, pertahanan, dan keamanan. Oleh sebab itu, ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas yang memadai merupakan hal yang sangat penting termasuk kemudahan masyarakat untuk mengakses pangan tersebut. Hal ini disebabkan ketersediaan pangan akan menjadi sia-sia bila masyarakat sulit untuk mendapatkannya.

Dalam rangka mengetahui pola konsumsi pangan di Maluku, maka KPw Bank Indonesia Provinsi Maluku melakukan survei pola konsumsi lima komoditas strategis utama yaitu beras, cabe merah, bawang merah, gula pasir, dan minyak goreng kepada 210 responden rumah tangga di Ambon. Salah satu informasi yang didapat melalui survei ini adalah mengenai hambatan mendapatkan bahan pangan.

Survei membuktikan bahwa hambatan utama untuk mendapatkan beras adalah lokasi jauh/sulit (44,7%). Hambatan lainnya adalah jenis/kualitas komoditas yang tidak sesuai dengan selera (28,9%).

Sementara itu, untuk komoditas cabe merah ternyata masyarakat menyatakan bahwa hambatan terbesar untuk mengaksesnya adalah terkait dengan harga yang seringkali lebih mahal dari biasanya (48,2%), diikuti oleh jenis/kualitas komoditas yang tidak sesuai dengan selera (28,6%).

Hambatan mendapatkan beras

Komoditas tidak tersedia secara rutin

Lokasi jauh/sulit ditempuh

Jenis/kualitas komoditas tidak sesuai selera Harga lebih mahal dari biasanya Lainnya

Sumber : Survei KPw Bank Indonesia Provinsi Maluku

10,7%

7,1%

28,6%

48,2%

5,4%

Hambatan mendapatkan cabe merah

Komoditas tidak tersedia secara rutin

Lokasi jauh/sulit ditempuh

Jenis/kualitas komoditas tidak sesuai selera Harga lebih mahal dari biasanya Lainnya

Sumber : Survei KPw Bank Indonesia Provinsi Maluku

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

30

Di sisi lain, didapatkan informasi bahwa masyarakat memilih harga lebih mahal dari biasanya (68,7%) sebagai hambatan mengakses bawang merah. Sedangkan hambatan yang juga dirasakan masyarakat adalah bahwa bawang merah tidak tersedia secara rutin (11,9%).

Untuk komoditas gula pasir, masyarakat berpendapat bahwa hambatan utama adalah jenis/kualitas yang tidak sesuai dengan selera (76,7%) serta harga lebih mahal dari biasanya (16,7%).

Sedangkan untuk komoditas minyak goreng, masyarakat merasakan bahwa harga lebih mahal dari biasanya-lah yang menjadi hambatan (58,3%). Hambatan yang juga menjadi perhatian adalah jenis/kualitas komoditas yang tidak sesuai dengan selera (33,3%).

Dari berbagai hambatan yang dirasakan oleh masyarakat ternyata

komoditas hortikultura seperti cabe merah dan bawang merah dirasakan fluktuatif harganya.

Oleh sebab itu Pemda perlu menjaga ketersediaan pasokan melalui kerjasama dengan sentra-sentra penghasil cabe merah dan bawang merah di luar Maluku serta meningkatkan produksi cabe merah dan bawang merah di Maluku. Sedangkan untuk komoditas beras, Pemda sebaiknya memperbanyak pusat pertokoan atau pasar yang lebih dekat ke pemukiman masyarakat sehingga masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan beras. Terkait dengan komoditas gula pasir maka ada baiknya Pemda melakukan survei untuk mengetahui jenis gula pasir yang paling digemari oleh masyarakat. Akhirnya untuk komoditas minyak goreng, kenaikan harga yang seringkali terjadi disebabkan oleh fluktuasi harga kelapa sawit. Terkait itu, Pemda bisa menghimbau masyarakat untuk mendiversifikasi proses memasak dari menggoreng dengan minyak menjadi metode lain seperti membakar, mengukus, atau merebus yang secara klinis sudah terbukti memiliki nilai tambah terhadap kesehatan.

11,9% 6,0%

9,0%

68,7%

4,5%

Hambatan mendapatkan bawang merah

Komoditas tidak tersedia secara rutin

Lokasi jauh/sulit ditempuh

Jenis/kualitas komoditas tidak sesuai selera Harga lebih mahal dari biasanya Lainnya

Sumber : Survei KPw Bank Indonesia Provinsi Maluku

3,3% 3,3%

76,7%

16,7%

0,0%

Hambatan mendapatkan gula pasir

Komoditas tidak tersedia secara rutin

Lokasi jauh/sulit ditempuh

Jenis/kualitas komoditas tidak sesuai selera Harga lebih mahal dari biasanya Lainnya

Sumber : Survei KPw Bank Indonesia Provinsi Maluku

8,3% 0,0%

33,3%

58,3%

0,0%

Hambatan mendapatkan minyak goreng

Komoditas tidak tersedia secara rutin

Lokasi jauh/sulit ditempuh

Jenis/kualitas komoditas tidak sesuai selera Harga lebih mahal dari biasanya Lainnya

Sumber : Survei KPw Bank Indonesia Provinsi Maluku

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Maluku Triwulan III-2012

31

BAB III P ERBANKAN D AERAH

Kinerja perbankan Provinsi Maluku pada triwulan III-2012 menunjukkan peningkatan yang tercermin dari peningkatan aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan kredit. Aset perbankan daerah di Maluku mencapai Rp14,88 triliun atau mengalami pertumbuhan 66,88% (y.o.y) pada triwulan laporan. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat mencapai Rp8,09 triliun atau tumbuh sebesar 24,42% (y.o.y). Sedangkan Kredit mencapai angka Rp5,91 triliun dengan pertumbuhan 23,89% (y.o.y). Loan to Deposit Ratio (LDR) hingga level 73,01%. Sementara itu Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,71%. Dari sisi kelembagaan, terdapat penambahan satu kantor cabang BPR di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, pada triwulan III-2012.

3.1 Struktur Perbankan Daerah di Maluku

Struktur perbankan daerah Maluku pada triwulan III-2012 masih dikuasai oleh bank pemerintah di urutan teratas (72,36%), diikuti oleh bank swasta (22,09%), dan Bank Perkreditan Rakyat (5,56%).

Industri perbankan Maluku masih didominasi oleh bank pemerintah yang memiliki keunggulan modal dan jaringan kantor. Bank pemerintah yang sudah sejak lama hadir di Maluku sehingga memiliki akumulasi aset yang besar sejalan dengan ekspansi yang menjangkau hampir seluruh wilayah Maluku. Sedangkan bank swasta dan BPR terkonsentrasi pada Kota Ambon dan Kota Tual dengan jaringan kantor yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan bank pemerintah.

3.2 Aset Perbankan Daerah Maluku

Aset perbankan daerah di Maluku mencapai Rp14,88 triliun pada triwulan III-2012. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tahunan aset perbankan Maluku mengalami peningkatan dari 64,17% (y.o.y) pada triwulan II-2012 menjadi 66,88% (y.o.y) pada triwulan laporan.

Bank Pemerintah 72,36%

Bank Swasta 22,09%

BPR 5,56%

Sumber : Bank Indonesia

Grafik III.1 Struktur Perbankan Daerah

Grafik III.1 Struktur Perbankan Daerah

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 29-0)

Dokumen terkait