BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
5. Inflasi
a. Pengertian Inflasi
Secara umum inflasi berarti kenaikan tingkat harga secara umum dari barang/komoditas dan jasa selama satu periode waktu tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan moneter terhadap suatu komoditas. Definisi inflasi oleh para ekonom modern adalah kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit
jika yang terjadi adalah penurunan nilai unit penghitung moneter terhadap barang/komoditas dan jasa didefinisikan sebagai deflasi
(deflation).
Menurut Case dan Fair (2004:58) inflasi adalah kenaikan tingkat harga keseluruhan. Itu terjadi ketika harga naik secara serempak. Inflasi dapat diukur dengan melihat sejumlah besar barang dan jasa dan menghitung kenaikan harga rata-rata selama beberapa periode tertentu.
Menurut Boediono (1987:161) inflasi adalah kecendrungan dari harga-harga untuk menaikkan secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain
Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dan tingkat harga secara umum. Persamaannya adalah:
Umumnya, otoritas yang bertanggung jawab dalam mencatat statistik perekonomian suatu Negara menggunakan consumer price index dan producer price index sebagai pengukur tingkat inflasi (Karim,2010:136).
Tingkat harga t– tingkat harga t-1 Tingkat harga t-1
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai factor antara lain : konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihanya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang (www.wikipedia.com)
b. Macam-Macam Inflasi
1) Berdasarkan Tingkat/Laju Inflasi
Menurut Paul A. Samuelson, seperti sebuah penyakit macam inflasi berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu:
a) Moderate inflation, disebut juga “inflasi satu digit”, adalah
inflasi dengan karakteristik terjadinya kenaikan harga secara lambat. Pada umumnya, pada tingkat inflasi ini, orang masih mau memegang uang tunai dan menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang daripada dalam bentuk aset riil.
b) Galloping inflation, yaitu inflasi yang terjadi pada tingkatan 20% sampai 200% per tahun. Pada tingkatan inflasi ini, orang hanya mau memegang uang seperlunya, dan cenderung menyimpan kekayaan dalam bentuk aset-aset riil. Pasar uang akan mengalami penyusutan dan dana dialokasikan melalui cara-cara selain yang berorientasi pada tingkat bunga. Orang hanya bersedia memberikan pinjaman dengan tingkat bunga
yang sangat tinggi. Inflasi jenis ini mengakibatkan terjadinya gangguan serius pada perekonomian karena masyarakat cenderung menyalurkan dananya untuk berinvestasi di luar negeri daripada di dalam negeri (capital outflow).
c) Hyper inflation, yaitu inflasi dengan tingkat sangat tinggi, berkisar antara jutaan persen per tahun. Jika banyak pemerintahan masih sanggup bertahan menghadapi galloping inflation, maka tidak ada yang dapat bertahan menghadapi inflasi jenis ini. Contohnya adalah Weimar Republic di Jerman pada tahun 1920-an.
2) Berdasarkan Sumber atau Penyebab Inflasi
Inflasi berdasarkan sumber atau penyebab inflasi, inflasi dapat digolongkan sebagai berikut:
a) Natural Inflation dan Human Error Inflation. Sesuai dengan namanya natural Infaltion adalah inflasi yang terjadi karena sebab-sebab alamiah yang manusia tidak mempunyai kekuasaan dalam mencegahnya. Human error Inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri.
b) Actual /anticipated /expected inflation dan unanticipated /unexpected inflation. Pada expected inflation tingkat suku bunga pinjaman riil akan sama dengan suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi. Sedangkan pada unexpected
inflation tingkat suku bunga pinjaman nominal belum atau tidak merefleksikan kompensasi terhadap efek inflasi.
c) Demand pull inflation, inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian sedang berkembang pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan tinggi, dan selanjutnya daya beli masyarakat bisa tinggi. Daya beli tinggi mendorong permintaan melebihi total produk yang tersedia. Permintaan aggregate meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian, akibatnya timbul inflasi. Hal ini dapat ditunjukkan oleh grafik berikut:
Gambar 2.1 Demand Pull Inflation P AS P2 P1 AD2 AD1 0 Q1 Q2 Q
Kondisi ini mendatangkan uang yang lebih di dalam negeri, sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat naik
AD
, atau pada grafik dilukiskan sebagai kurva AD yang bergeser ke kanan, mengakibatkan naiknya tingkat harga secara keseluruhan P.d) Cosh push inflation, inflasi ini terjadi bila biaya produksi mengalami kenaikan secara terus menerus. Kenaikan biaya
produksi dapat berawal dari kenaikan harga input seperti kenaikan upah minimum, kenaikan BBM, kenaikan bahan baku dan kenaikan input yang lainnya. Hal ini dapat digrafikkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Cost Push Inflation P AS2 P2 AS1 P1 AD 0 Q2 Q1 Q
Dengan adanya kenaikan biaya produksi
P , selanjutnya menurunkan tingkat produksi
AS
. Sehingga dalam pasar jumlah quantitas atas produksi tersebut mengalami penurunan (Q2 ke Q1).e) Spiralling Inflation. Inflasi jenis ini adalah inflasi yang diakibatkan oleh inflasi akibat dari inflasi yang terjadi sebelumnya lagi dan begitu seterusnya.
f) Imported Inflation dan Domestic Inflation. Imported Inflation
bisa dikatakan adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh suatu negara karena harus menjadi price taker dalam
pasar perdagangan internasional. Domestic Inflation bisa dikatakan inflasi yang hanya terjadi di dalam negeri suatu negara yang tidak begitu mempengaruhi negara lainnya (Karim,2010:138).
c. Indikator Inflasi
Ada beberapa indikator yang dapat menggambarkan terjadinya inflasi antara lain Indeks Biaya Hidup (cost of living), Indeks Harga Konsumen (consumen price index), Indeks Implisit Produk Nsional (GNP Deflator) atau Indeks Harga Perdagangan Besar (whole sale prices index).Masing-masing pengukuran tersebut memiliki kelemahan dan kelebihannya.Jika pengukuran dimaksud untuk menetapkan upah buruh riil maka lebih tepat digunakan Indeks Biaya Hidup (IBH) atau Indeks Harga Konsumen (IHK).Sementara GNP Deflator yang cakupannya lebih luas dibandingkan dengan indeks yang lainnya lebih mencerminkan perkembangan tingkat harga umum.
a) Indeks Harga Konsumen
Indeks Harga Konsumen adalah indeks yang mengukur rata-rata perubahan harga antarwaktu dari suatu paket jenis barang atau jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat dengan dasar suatu periode tertentu
Inflasi = x 100 b) Indeks Harga Perdagangan
barang pada tingkat perdagangan besar.Termasuk didalamnya harga bahan mentah, bahan baku atau setengah jadi.Indeks ini sejalan atau searah dengan indeks harga konsumen.
Inflasi =
c) GNP Deflator
GNP Deflator mencakup jumlah barang dan jasa yang masuk dalam perhitungan GNP dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan dua indeks lainnya.GNP Deflator diperoleh dengan membagi GNP Nominal (atas dasar harga yang berlaku) dengan GNP Riil (atas dasar harga konstan) atau :
GNP Deflator = x 100
d. Inflasi dalam Pandangan Islam
Menurut para ekonom Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena :
1) Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan, fungsi dari pembayaran di muka, dan fungsi dari unit perhitungan.
2) Melemahkan semangat menabung dan sikap terhadap menabung dari masyarakat.
3) Meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja terutama untuk non- primer dan barang-barang mewah.
penumpukkan kekayaan seperti : tanah, bangunan, logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi kearah produktif seperti : pertanian, industrial, perdagangan, transportasi, dan lainnya.
Ekonom Islam Taqiuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (1364 M – 1441 M), menggolongkan inflasi dalam dua golongan, yaitu :
a) Natural Inflation
Inflasi jenis ini diakibatkan oleh sebab-sebab alamiah, di mana orang tidak mempunyai kendali. Ibn al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi ini adalah inflasi yang diakibatkan oleh turunnya Penawaran Agregatif (AS) atau naiknya Permintaan Agregatif (AD).
Jika memakai perangkat analisis konvensional yaitu persamaan : dimana : M = jumlah uang beredar
V = kecepatan peredaran uang P = tingkat harga
T = jumlah barang dan jasa
Y = tingkat pendapatan nasional (GDP) maka Natural Inflation dapat diartikan sebagai :
Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian (T). Misalnya T sedangkan M dan ↑ tetap, maka konsekuensinya P . Maksudnya, jika barang dan jasa yang dihasilkan sedikit tetapi uang yang ada di masyarakat banyak, maka untuk memperoleh barang dan jasa tersebut masyarakat harus membayar dengan harga lebih karena keterbatasan barang dan jasa
tersebut.
Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya nilai ekspor lebih besar dari pada nilai impor, sehingga secara netto terjadi impor uang yang mengakibatkan M sehingga jika ↑ dan T tetap maka P .
b) Human Error Inflation
Human Error Inflation dikatakan sebagai inflasi yang diakibatkan oleh kesalahan dari manusia itu sendiri. Human
Error Inflation dapat dikelompokkan menurut penyebab-
penyebabnya sebagai berikut:
1) Korupsi dan administrasi yang buruk (corruption and Bad Administration)
Jika kita merunjuk pada persamaan MV = PT, maka korupsi akan mengganggu tingkat harga (P ) karena para produsen akan menaikkan harga jual produksinya untuk menutupi biaya-biaya yang telah mereka keluarkan. Harga yang terjadi terdistorsi oleh komponen yang seharusnya tidak ada sehingga akan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Pada akhirnya, akan terjadi inefisiensi alokasi sumber daya yang akan merugikan masyarakat secara keseluruhan.
Jika merujuk pada persamaan AS-AD maka akan terlihat bahwa korupsi dan administrasi pemerintahan yang buruk akan menyebabkan kontraksi pada kurva Penawaran Agregatif (AS ).
2) Pajak yang berlebihan (Excessive Tax);
Efek yang ditimbulkan oleh pajak yang berlebihan pada perekonomian hampir sama dengan efek yang ditimbulkan oleh korupsi dan administrasi yang buruk yaitu kontraksi pada kurva Penawaran Agregatif (AS ).
3) Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan (Excessive Seignorage).
Seignorage arti tradisionalnya adalah keuntungan dari pencetakan koin yang didapat oleh percetakannya di mana biasanya percetakan tersebut dimiliki oleh pihak penguasa atau kerajaan. Para otoritas moneter di negara-negara Barat umumnya meyakini bahwa pencetakan uang akan menghasilkan keuntungan bagi pemerintah.
Di lain pihak, ekonom Islam Ibn al-Maqrizi berpendapat bahwa pencetakan uang yang berlebihan jelas-jelas akan mengakibatkan naiknya tingkat harga (P ) secara keseluruhan (inflasi). Ibn al-Maqrizi berpendapat bahwa uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk bertransaksi (jual-beli) dan dalam pecahan yang mempunyai nilai nominal kecil.
e. Hubungan Inflasi dengan Pembiayaan Bermasalah
Menurut Kamus Bank Indonesia, inflasi adalah keadaan perekonomian yang ditandai oleh kenaikan harga secara cepat
sehingga berdampak pada menurunnya daya beli, sering pula diikuti menurunnya tingkat tabungan dan atau investasi karena meningkatnya konsumsi masyarakat dan hanya sedikit untuk tabungan jangka panjang.Inflasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.
Inflasi akan mempengaruhi kegiatan ekonomi baik secara makro maupun mikro termasuk kegiatan investasi. Inflasi juga menyebabkan penurunan daya beli masyarakat yang berakibat pada penurunan penjualan.Penurunan penjualan yang terjadi dapat menurunkan return perusahaan. Penurunan return yang terjadi akan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam membayar angsuran kredit. Pembayaran angsuran yang semakin tidak tepat menimbulkan kualitas kredit semakin buruk bahkan terjadi kredit macet sehingga meningkatkan Non-Performing Loan.(Indrawan,2011:71)
Inflasi yang tinggi juga menyebabkan menurunkan pendapatan rill masyarakat sehingga standar hidup masyarakat juga turun. Dengan meningkatnya inflasi maka akan mengakibatkan kemampuan nasabah dalam membayar cicilan kreditnya menjadi berkurang karena hampir seluruh penghasilan yang dimiliki telah dipergunakan untuk keperluan konsumsi sehari-hari.
Menurut penelitian Rahmawulan (2008), Inflasi berpengaruh positif signifikan.Hal ini mengindikasikan bahwa ketika terjadi inflasi dimana terjadi kenaikkan harga secara terus-menerus, daya beli
masyarakat akan menurun karena nilai uang terus tergerus inflasi. Hal ini menyebabkan turunnya penjualan dan kondisi dunia usaha atau bisnispun melemah.Kondisim tersebut menyebabkan nasabah perbankan mengalami kesulitan untuk mengembalikan kreditnya pada perbankan, sehingga kredit macet akan mengalami peningkatan.