BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
2. Pembiayaan Bermasalah atau Non Performing Financing
Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor. 9/24/DPbs tahun 2007 tentang system penilaian kesehatan bank berdasarkan prinsip syariah, Non Performing Financing adalah “Pembiayaan yang
dapat memenuhi kewajiban untuk mengembalikan dana pembiayaan (pinjaman).
Menurut Wiraatmadja (dalam Mukromah, 2012:18) pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang tidak dapat atau berpotensi untuk tidak mampu mengembalikan pembiayaan berdasarkan syarat-syarat yang telah disetujui dan ditetapkan bersama secara tiba-tiba tanpa menunjukan tanda-tanda terlebih dahulu.
Non Performing Financing (NPF) adalah rasio antara
pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan yang disalurkan oleh Bank Syariah. (Ihsan 2010:22). Menurut Rahmawulan (2008:24) suatu kredit dinyatakan bermasalah jika bank benar-benar tidak mampu menghaapi resiko yang ditimbulkan oleh kredit tersebut. Resiko kredit didefinisikan sebagai resiko kerugian sehubungan dengan pihak peminjam (counterparty) tidak dapat dan tidak mau memenuhi kewajiban untuk membayar kembali dana yang dipinjamnya secara penuh pada saat jatuh tempo atau sesudahnya.
Pembiayaan menurut kualitasnya pada hakikatnya didasarkan atas risiko kemungkinan terhadap kondisi dan kepatuhan nasabah pembiayaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya untuk membayar bagi hasil, serta melunasi pembiayaannya. Jadi unsur utama dalam menetukan kualitas tersebut adalah waktu pembayaran bagi hasil, pembayaran angsuran maupun pelunasan pokok pembiayaan dan diperinci atas:
No Kualitas Pembiayaan
Kriteria
1 Pembiayaan Lancar a. Pembayaran angsuran pokok dan/atau bagi hasil tepat waktu
b. Memiliki rekening yang aktif; atau c. Bagian dari pembiayaan yang
dijamin dengan agunan tunai (cash colateral).
2 Perhatian Khusus a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi hasil yang belum melampui Sembilan puluh hari: atau b. Kadang-kadang terjadi cerukan; atau c. Mutasi rekening relative aktif; atau d. Jarang terjadi pelanggaran terhadap
kontrak yang diperjanjikan; atau e. Didukung oleh pinjaman baru
3 Kurang Lancar a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi hasil; atau
b. Sering terjadi cerukan; atau
c. Frekuensi mutasi rekeningrelatif rendah
d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikanlebih dari
Sembilan puluh hari;atau
e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur; atau
f. Dokumentasi pinjaman yang lemah 4 Diragukan a. Terdapat tunggakan angsuran pokok
dan/atau bagi hasil; atau
b. Terdapat cerukan yang bersifat permanen; atau
c. Terdapat wanprestasi lebih dari 180 hari atau
d. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian pembiayaan maupun pengikatan jaminan.
5 Macet a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi hasil; atau
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; atau
c. Dari segi hukummaupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar
b. Perhitungan Non Performing Financing (NPF)
Besarnya NPF yang diperbolehkan Bank Indonesia adalah maksimal 5%, jika melebihi 5% akan mempengaruhi penilaian tingkat kesehatan bank yang bersangkutan yaitu akan mengurangi nilai skor yang diperoleh. Variabel ini mempunyai bobot nilai 20%, skor nilai NPF ditentukan sebagai berikut :
Lebih dari 8%, skor nilai = 0 Antara 5% - 8%, skor nilai = 80 Antara 3% - 5%, skor nilai = 90 Kurang dari 3%, skor nilai = 100
Bila resiko pembiayaan meningkat, margin/bunga kredit akan meningkat pula. Sementara itu, dalam ekonomi Islam sektor perbankan tidak mengenal instrumen bunga, sistem keuangan Islam menerapkan sistem pembagian keuntungan dan kerugian, bukan kepada tingkat bunga yang telah menetapkan tingkat keuntungan di muka.
1) Non Performing Financing (Penyedia Dana Bermasalah) Gross
NPF Gross adalah perbandingan antara jumlah pembiayaan yang diberikan dengan tingkat kolektabilitas 3 sampai dengan 5 dibandingkan dengan total pembiayaan yang diberikan oleh bank. Terdapat 5 kategori tingkat kolektabilitas pembiayaan yaitu: lancar (currrent), dalam perhatian khusus (special
mention), kurang lancar (sub-standar), diragukan (doubtful), dan macet (loss). Berikut ini adalah rumusnya:
Penyediaan Dana Bermasalah NPF Gross =
Total Penyediaan Dana
Keterangan :
a. Penyediaan/penyaluran dana berupa piutang dan ijarah. b. Pembiayaan merupakan pembiayaan yang diberikan kepada
pihak ketiga (tidak termasuk pembiayaan kepada bank lain). c. Penyediaan dana bermasalah adalah penyediaan dana denga
kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
d. Penyediaan dana bermasalah dihitung secara gross tidak dikurangi PPAP.
e. Angka dihitung perposisi (tidak disetahunkan).
2) Non Performing Financing (Penyaluran Dana Bermasalah) Net
Penyaluran Dana Bermasalah – PPAP NPF Net =
Total Penyediaan Dana Keterangan:
PPAP adalah Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif sesuai ketentuan tentang PPAP yang berlaku bagi bank syariah.
c. Faktor Penyebab Pembiayaan Bermasalah
Faktor Penyebab Pembiayaan Bermasalah adalah sebagai berikut (www.shariaeconomic.com) :
1) Faktor internal
a. Kelemahan Bank dalam analisis pembiayaan
Analisis pembiayaan tidak berdasarkan data akurat atau kualitas data
Rendah Informasi, pembiayaan tidak lengkap atau kuantitas data rendah
Analisis tidak cermat
Kurangnya akuntabilitas putusan pembiayaan b. Kelemahan Bank dalam dokumen pembiayaan
Data mengenai pembiayaan nasabah tidak didokumentasi dengan baik
Pengawasan atas fisik dokumen tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
c. Kelemahan Bank dalam supervisi Pembiayaan
Kurang pengawasan dan pemantauan atas performance nasabah secara kontinyu dan teratur
Terbatasnya data dan informasi yang berkaitan dengan penyelamatan dan penyelesaian pembiayaan
Tindakan perbaikan tidak diterapkan secara dini dan tepat waktu
Jumlah nasabah terlalu banyak Nasabah terpencar
d. Kecerobohan petugas Bank
Bank terlalu bernafsu memperoleh laba Bank terlalu kompromi
Bank tidak mempunyai kebijakan pembiayaan yang sehat Bank tidak mampu menyaring risiko bisnis
Pengambilan keputusan yang tidak tepat waktu
Terus memberikan pembiayaan pada bisnis yang siklusnya menurun
Menetapkan standar risiko yang terlalu rendah e. Kelemahan bidang agunan
Jaminan tidak dipantau dan diawasi secara baik Terlalu collateral oriented
Pengikatan agunan lemah f. Kelemahan kebijakan pembiayaan
Prosedur terlalu berbelit, hingga putusan pembiayaan tidak tepat waktu
Tidak ada prosedur baku/standar
Tak ada funish dan Reward bagi petugas g. Kelemahan sumber daya manusia
Terbatasnya tenaga ahli di bidang penyelematan dan penyelesaian pembiayaan
Pendidikan dan pengalaman pejabat pembiayaan sangat terbatas
Kurangnya tenaga ahli hukum untuk mendukung pelaksanaan penyelesaian dan penyelamatan pembiayaan Terbatasnya tenaga ahli untuk recovery pembiayaan yang
potensi
2) Faktor internal nasabah
a) Kelemahan Karakter nasabah
Nasabah tidak mau atau memang beritikad tidak baik Nasabah menghilang
b) Kecerobohan nasabah
Penyimpangan penggunaan pembiayaan
Perusahaan dikelola oleh keluarga yang tidak professional c) Kelemahan kemampuan nasabah
Tidak mampu mengembalikan pembiayaan karena terganggunya kelancaran usaha
Kemampuan manajemen yang kurang Pengetahuan terbatas atau kurang memadai Pengalaman terbatas atau kurang memadai d) Musibah yang dialami nasabah
Ada berbagai musibah yanbisa saja dialami nasabah dan berdapmpak pada terjadinya pembiayaan macet diantaranya :Musibah penipuan, Musibah kecelakaan, Musibah tindak pidana, Musibah rumah tangga ,Musibah penyakit,Musibah kematian.
3) Faktor eksternal
a) Globalisasi ekonomi yang berakibat negatif b) Perubahan kurs mata uang;
c) Faktor alam yang berakibat negatif d) Inflasi dalam negeri
3. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)