• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.3. Karakteristik Informan

4.3.2. Informan Biasa

4.3.2.1. Bapak Ruslan Hasibuan, Spd. (Ketua Bidang Pembangunan)

Informan adalah seorang pria yang telah berkeluarga. Penduduk Desa Aek Song-Songan biasa memanggilnya dengan nama Pak Ruslan. Pria yang berperawakan sedang ini telah berusia 40 tahun. Pak Ruslan merupakan lulusan dari salah satu Universitas Swasta yang terdapat di Kota Medan. Pekerjaan Pak Ruslan sehari-hari adalah guru mata pelajaran Sejarah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Kecamatan Aek Song-Songan.

Pak Ruslan mempunyai anak berjumlah 2 (dua) orang dari hasil pernikahannya. Kedua anaknya berjenis kelamin perempuan. Anak pertamannya berusia 10 tahun dan telah duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Sedangkan anak keduanya berusia 6 tahun dan sedang duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Isteri Pak Ruslan bernama Eni Ristiana dan juga bekerja sebagai guru. Isteri Pak Ruslan tersebut mengajarkan mata pelajaran Bahasa Perancis di lokasi sekolah yang sama dengannya. Ibu Eni merupakan lulusan dari Universitas Negeri Medan. Sepasang suami isteri ini merupakan Pegawai Negeri Sipil.

Pak Ruslan merupakan warga pendatang di Desa Aek Song-Songan. Beliau berasal dari suatu wilayah di Kota Tanjung Balai. Sebelum menikah, Pak Ruslan dan isterinya dipertemukan sebagai lajang di tempat mereka mengajar dan hingga pada akhirnya mereka berdua menikah. Pak Ruslan telah mengajar selama 12 Tahun lamanya di SMA Negeri 1 Kecamatan Aek Song-Songan. Sebelum menikah dengan Ibu Eni, Pak Ruslan mengontrak rumah di daerah Kecamatan Bandar Pulau. Berbeda dengan Pak Ruslan, Ibu Eni merupakan penduduk asli Desa Aek Song-Songan.

Beliau menamatkan sekolahnya hingga Sekolah Menengah Atas di Desa Aek Song- Songan. Pak Ruslan dan keluargnya ini bertempat tinggal di Dusun V yang tidak begitu jauh dari Kantor Kepala Desa.

Saat diwawancarai dirumahnya, peneliti menemui Pak Ruslan yang sedang duduk santai di teras rumahnya pada suatu sore. Dengan sikap ramah, Pak Ruslan mempersilahkan peneliti untuk masuk ke dalam rumahnya. Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan di sore hari itu. pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Selain mengajar di sekolah tersebut, untuk menambah penghasilan rumah tangganya bersama isteri beliau mengajar di SMA Yayasan Saniah yang terletak di Dusun VII Desa Aek Song-Songan.

Dalam struktur anggota pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Pak Ruslan menjabat sebagai Ketua Bidang Pembangunan. Meskipun iabukan merupakan penduduk asli Desa Aek Song-Songan, beliau dipilih langsung oleh penduduk Desa Aek Song-Songan berdasarkan suara terbanyak.

Melihat proses pembangunan yang berlangsung di Desa Aek Song-Songan, Pak Ruslan mengatakan bahwa telah banyak kemajuan pembangunan dari tahun ke tahun. Sebagai warga pendatang beliau dapat merasakan perubahan-perubahan yang terjadi di Desa Aek Song-Songan tersebut. Hal ini semakin dirasakan setelah diadakannya otonomi desa dan pemekaran wilayah Kecamatan Bandar Pulau. Pembangunan di Desa Aek Song-Songan berjalan cukup baik dengan dibantu oleh pelaksana program-program pembangunan, baik itu pihak Pemerintah Desa maupun lembaga-lembaga yang dibentuk di desa.

4.3.2.2. Ibu Warsini (Bendahara Lembaga Pemberdayaan Masyarakat)

Informan peneliti ini adalah seorang ibu berumur 40 tahun. IbuWarsini, begitu biasanya ia dipanggil oleh penduduk Desa Aek Song-Songan. Ibu yang berkulit kuning langsat dengan wajah berbentuk oval ini bertempat tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun IV Desa Aek Song-Songan. Ibu Warsini merupakan penduduk asli Desa Aek Song-Songan. Ibu Warsini memiliki suami yang bernama Supriadi yang telah berusia 42 Tahun. Pekerjaan suami Ibu Warsini sehari-hari adalah berkebun. Suami Ibu Warsini bekerja di kebun karet milik mereka pribadi. Lokasi kebun karet miliki mereka berada di Desa Marjanji Aceh. Untuk mencapai lokasi kebun karet miliknya dari kediamannya tersebut diperlukan waktu kurang lebih 45 menit.

Selain kebun kelapa sawit, tidak sedikit masyarakat desa yang memiliki kebun karet sebagai sumber penghasilannya. Walaupun luas perkebunan karet di Desa Aek Song-Songan sekarang dalam jumlah yang sedikit dikarenakan banyak warga yang mengganti kebun karet miliknya menjadi kebun kelapa sawit yang dianggap lebih mempunyai nilai jual relatif tinggi. Dalam perjalanan berumah-tangga, Inu Warsini dikaruniai 2 orang anak laki-lakinya, anak pertama sudah duduk di kelas 1 SMA Negeri I Desa Aek Song-Songan dan 1 orang lagi bernama masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar Negeri 010133 Desa Aek Song-Songan.

Informan peneliti ini adalah seorang Ibu Rumah Tangga. Saat ditemui di tempat tinggalnya, Ibu Warsini sedang sibuk membersihkan rumah, hal ini merupakan rutinitas yang tiap hari dilakukannya. Setiap hari Kamis beliau aktif untuk mengikuti pengajian perempuan di wilayah dusun tempat tinggalnya. Pengajian

tersebut hanya dilakukan seminggu sekali dengan lokasi pengajian bergiliran dari rumah penduduk yang satu dengan penduduk yang lain. Ibu Warsini merupakan ketua dalam pengajian yang anggotanya kebanyakan ib-ibu yang telah berumah tangga tersebut.

Jabatan yang disandang Ibu Warsini dalam Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di Desa Aek Song-Songan adalah sebagai bendahara. Menurutnya pemilihan posisi bendahara pada kepengurusan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat adalah seorang perempuan didasarkan oleh anggapan penduduk desa bahwa perempuan lebih teliti dalam menggunakan dana yang akan dikeluarkan untuk membiayai pelaksanaan suatu kegiatan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Beliau menjelaskan tentang darimana saja dana untuk pembiayaan kegiatan tersebut berasal serta beberap kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di Desa Aek Song-Songan.

4.3.3.3. Bapak Subarno (Ketua Bidang Peningkatan SDM dan Ekonomi)

Informan yang satu ini biasa dipanggil dengan nama Pak Barno, memiliki nama lengkap Subarno. Informan yang telah berusia 60 tahun dan bertempat tinggal di Dusun VII Desa Aek Song-Songan ini dapat dikatakan sudah cukup tua. Dari raut wajahnya mengisyaratkan sudah banyak pengalaman hidup yang ia jalani. Informan ini telah berumah tangga di usianya yang ke 20 tahun dan hingga saat ini telah dikarunia 5 orang anak dan 2 orang cucu. Istri Pak Barno bernama Ibu Rutmini. Pak Subarno adalah penduduk asli desa Aek Song-Songan dan merupakan Kepala Dusun VII Desa Aek Song-Songan.

Dalam kehidupan sehari-hari beliau membuka usaha warung bakso yang dikelola bersama istrinya. Dari usaha berjualannya tersebut, Pak Barno dapat memperoleh penghasilan 2.000.000,- / perbulan. Usaha yang tepat berada di depan rumahnya tersebut dibuka dari pukul 10 pagi hingga jam 10 malam. Dari pengamatan peneliti, usaha bakso milik Pak Barno dapat dikatakan laris. Hampir setiap hari bakso dagangannya habis. Tiap hari warung bakso miliknya itu ramai dikunjungi pembeli, apalagi suasana warung yang dibuat kursi-kursi melingkar dengan tenda di atasnya. Banyak muda-mudi yang nongkrong berlama-lama sambil bercengkrama di warung baksonya sambil tersebut.

Di sekitar tempat tinggal Pak Subarno, terdapat beberapa keluarga lain yang membuka usaha bakso di depan rumah mereka masing-masing sebagai mata pencaharian. Selain memperoleh penghasilan dari usahanya tersebut ia juga memperoleh penghasilan dari kebun karet miliknya. Semasa mudanya Pak Barno hanya menggantungkan diri dari penghasilan kebun karet miliknya, namun setelah usianya sudah beranjak tua beliau memilih berwiraswasta dengan cara membuka warung bakso untuk menambah sumber penghasilannya.

Walaupun memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, dimana ia hanya mampu menempuh pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama saja, namun begitu ia tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Hal ini terbukti 2 orang dari anak-anaknya mampu menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Dalam wawancara yang peneliti lakukan di kediamannya, Bapak ini terlihat sangat ramah. Ia termasuk salah satu masyarakat yang aktif mengikuti setiap kegiatan

yang dilaksanakan di Desa Aek Song-Songan. Seperti saat ini, beliau masih aktif di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Dalam struktur anggota pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di Desa Aek Song-Songan, Pak Barno terpilih menjabat sebagai Ketua Bidang Peningkatan SDM dan Ekonomi. Pak Barno dipilih berdasarkan hasil musyawarah yang dilaksanakan oleh penduduk.

4.3.3.4. Bapak Anto Sirait (Ketua Bidang Pemuda, Olah Raga dan Seni)

Pria paruh baya yang memiliki 2 orang putra ini terlahir dengan nama Anto Sirait, tetapi masyarakat Desa Aek Song-Songan akrab memanggilnya dengan nama Anto Warung. Hal ini dikarenakan ia merupakan salah satu cucu dari seorang nenek yang berama Nek Warung. Saat ini ia berusia 48 tahun. Pak Anto tinggal dan menetap di daerah ini sejak ia lahir, dalam kesehariannya pria ini dikenal sebagai seorang pengusaha grosir yang sukses di desa tersebut. Ia telah memulai usahanya tersebut sejak 17 tahun silam. Hampir semua kebutuhan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya dijual olehnya. Pak Anto menjalankan usaha sehari-hari didampingi oleh sang Istri yang bernama Elly.

Dalam menggerakkan usahanya tersebut, beliau dibantu oleh tiga orang pekerja. Pak Harun tidak hanya dikenal oleh penduduk Desa Aek Song-Songan saja, banyak penduduk desa lain yang berbelanja di warung miliknya. Walaupun hanya memiliki latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) lulusan dari Yayasan Triyadhikayasa. Sebagai seorang pengusaha ia terkenal cukup cermat dan ulet dalam menjalankan usaha warung miliknya. Ini terbukti hingga saat ini usahanya tetap bertahan dan semakin berkembang.

Informan ini bertempat tinggal di Dusun VII Aek Songsongan. Lokasi rumahnya juga bersebelahan dengan rumah orang tua dan rumah adiknya yang paling kecil. Ditemui di lokasi usahanya tersebut, peneliti disambut dengan baik olehnya. Pak Anto mempersilahkan peneliti masuk ke dalam rumahnya yang berada tepat di samping warung miliknya. Rumah yang dimiliki Pak Anto tersebut untuk ukuran masyarakat desa dapat dikatakan mewah.

Berbicara mengenai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat beliau menjelaskan bagaimana tugas yang diberikan kepadanya dalam bidang Pemuda, Olah Raga, dan Seni dalam struktur kepengurusan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Dalam kegiatan yang berhubungan dengan kepemudaan Pak Anto sering menghadiri pertandingan antar desa, sebagai contoh: pertandingan bola volly dan pertandingan bola kaki.

Pak Anto ini termasuk orang yang disukai pemuda di desanya karena sikap ramah yang dimilikinya. Disamping itu juga Pak Anto termasuk pria yang aktif di beberapa organisasi kepemudaan seperti Pemuda Pancasila (PP) serta dibeberapa organisasi yang bersifat keagamaan, seperti Serikat Tolong Menolong (STM) di dusun tempat tinggalnya.

4.3.3.5. Bapak H. Harun Syah (Ketua Bidang Keamanan, Ketakwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa)

Informan yang satu ini telah berusia 64 tahun. Oleh penduduk Desa Aek Song-Songan dikenal dengan panggilan akrab Pak KUA, hal ini dikarenakan saat masih aktif sebagai Pegawai negeri Sipil Pak Harun pernah menjabat sebagai Ketua

Kantor Urusan Agama untuk wilayah Kecamatan Bandar Pulau dalam periode yang cukup lama. Ditemui saat berada di kediamannya di Dusun V saat Pak Harun selesai melaksanakan Sholat Dzuhur di mesjid yang tidak jauh dari rumahnya, peneliti mengutarakan maksud dan kedatangannya.

Pensiunan PNS ini telah lama tinggal di Desa Aek Song-Songan, ia telah menghabiskan waktu sekitar kurang lebih 40 tahun untuk tinggal dan menetap di desa ini. Dari hasil perkawinannya ia telah dikarunia dengan 5 orang anak dan beberapa orang cucu. Salah satu dari anak Pak Harun adalah seorang Dokter Spesialis Anak dan telah membuka praktek Dokter di daerah Dusun IV Desa Aek Song-Songan.

Dalam kesehariannya informan ini terkenal sebagai pribadi yang paham dengan agama dan seringkali di undang untuk ceramah di mesjid-mesjid dan acara- acara keagamaan, seperti kegiatan pengajian di dusun-dusun. Sehari-hari ia menghabiskan waktunya di sekolah yayasan yang telah lama didirikannya. Yayasan tersebut terdiri dari: Raudhatul Atfhal (RA) Daerah, Madrasah Tsanawiyah Swasta Daerah dan Madrasah Aliyah Swasta Daerah. Lokasi yayasan yang didirikannya terletak di Jalan Bakti Nomor 1 Desa Aek Song-Songan, lebih tepatnya di wilayah Dusun III.

Dibantu oleh anak-anak dan istrinya, ia menjabat sebagai ketua yayasan di sekolah tersebut. Selain itu beliau juga banyak menyerap tenaga pengajar dari masyarakat Desa Aek Song-Songan untuk mendidik di yayasan miliknya tersebut. Sekolah ini telah banyak menghasilkan pribadi-pribadi yang santun dan sholeh, oleh karenanya Pak Harun termasuk orang yang cukup disegani di desa Desa Aek Song- Songan. Berdasarkan dari alasan itu semuanya, maka tidak salah penduduk Desa Aek

Song-Songan memilihnya dan menetapkan Pak Harun ini untuk menjadi Ketua di bidang Keamanan, Ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berbicara tentang lembaga-lembaga yang ada di Desa Aek Song-Songan, Pak Harun sangat memahami tugas semua bidang dengan sangat baik. Sudah cukup lama Pak Harun aktif dalam kepengurusan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat untuk bidang yang sama. Selain aktif dan terpilih menjadi Ketua di bidang tersebut, Pak Harun juga merupakan Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia cabang Aek Songsongan untuk wilayah Kecamatan Aek Song-Songan.

4.3.3.6. Bapak Drs. Mansur Marpaung, MM. (Penduduk Desa Aek Song-Songan) Informan berusia 45 tahun ini akrab dipanggil dengan nama Ucok oleh penduduk desa tempat Ia tinggal. Lelaki yang merupakan penduduk asli Desa Aek Song-Songan ini bertempat tinggal di Dusun V, tepatnya bersebelahan dengan Mesjid utama yang berada di Dusun V tersebut. Rumah yang cukup luas tersebut Ia tempati bersama keluarganya. Bapak Mansur memiliki seorang Istri yang bernama Risti Mariana dan 3 Orang anak dari perjalanan hidup berumah tangganya. Anak-anaknya tersebut terdiri dari dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Rumah yang Ia tempati merupakan rumah warisan dari kedua orang tuanya.

Pak Mansur termasuk orang yang cukup di segani di Desa Aek Song-Songan. Hal tersebut disebabkan Pak Mansur merupakan mantan anggota DPRD Asahan dari Fraksi PDI Perjuangan pada dua periode terakhir. Dalam kesehariannya Pak Mansur menjalani beberapa bidang usaha, diantaranya yakni penyewaan alat-alat keyboard yang sering disewakan untuk hajatan tertentu oleh penduduk desa, memiliki

pangkalan minyak tanah yang dapat membantu penduduk desa untuk lebih mudah memperoleh minyak tanah di dalam kebutuhan sehari-hari serta memiliki beberapa hektar kebun kelapa sawit dan kebun karet. Isteri Pak Mansur dikenal sebagai

pemborong, yakni orang yang sering mengikutsertakan dirinya sebagai tim pelaksana

proyek-proyek Pekerjaan Umum di wilayah kerja Kabupaten Asahan melakui CV yang ia miliki. Istri Paka Mansur juga merupakan penduduk asli Desa Aek Song- Songan. Kedua pasangan suami isteri ini adalah orang yang cukup dikenal di desa ini.

Pak Mansur sering diundang penduduk desa serta Pemerintah Desa untuk menghadiri beberapa kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan desa dan pelaksanaan suatu perayaan tertent. Sejak muda pria ini dikenal sebagai figur yang aktif diberbagai organisasi dan seringkali menduduki berbagai jabatan penting baik organisasi yang bersifat keagamaan , politik dan organisasi kepemudaan. Ia termasuk orang yang ikut memperhatikan perkembangan desanya dari tahun ke tahun. Tidak jarang Ia menjadi donatur langsung untuk kegiatan atau perayaan tertentu di Desa Aek Song-Songan.

4.3.3.7. Ibu Hj. Siti Maryam (Penduduk Desa Aek Song-Songan)

Informan yang satu ini telah berusia 65 tahun. Oleh penduduk Desa Aek Song-Songan Ia sering disapa dengan panggilan Nek Haji. Hal tersebut dikarenakan informan ini telah menunaikan ibadah haji beberapa kali. Ibu Siti telah lama bertempat tinggal di Desa Aek Song-Songan. Ia telah menghabiskan setengah usianya untuk tinggal dan menetap di desa ini. Ibu Siti bertempat tinggal di dusun V Aek Songsongan. Ia tinggal di rumah miliknya pribadi bersama 2 orang cucunya. Sekitar

20 tahun yang lalu Ibu Siti tinggal di daerah Dusun VII Desa Aek Song-Songan, namun sekarang rumah tersebut Ia jadikan sebagai tempat usaha yang didirikannya bersama 2 orang cucunya.

Dalam kehidupannya sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti makan dan minum, biasanya ibu ini memperoleh penghasilan dari gaji pensiunan PNS almarhum suaminya sebesar Rp. 1.200.000,- / bulan dan penghasilan lainnya dari usaha digital printing miliknya, usaha sewa rumah serta usaha perkebunan kelapa sawit miliknya. Almarhumah suami Ibu Siti dahulunya merupakan Kepala Sekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri yang ada di desa tersebut.

Hingga saat ini ibu Siti telah dikarunia dengan 19 orang cucu dari 7 orang anaknya, informasi yang diperoleh dari para tetangga Ibu Siti terkenal cukup bermasyarakat. Para tetangga sering berkomuniksi dan bertukar pikiran dengan Ibu yang satu ini. Selain itu ia juga terkenal aktif diberbagai organisasi kemasyarakatan. Jika dilihat dari latar belakang pendidikannya Ibu Siti hanya menempuh pendidikan sampai dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di usia yang senja Ia masih diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Sekretaris di organisasi Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia cabang Aek Songsongan dan Ketua Umum perwiritan perempuan Desa Aek Song-Songan.

Dokumen terkait