BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Analisis
2. Informan II (Inisial S, 39)
Melihat paparan informan II (39), tindakan-tindakan kejahatan yang dilakukannya dapat disimak dari ketiga hal yang meliputi motif, lingkungan dan jenis tindakannya. Dinamika ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan atau dilihat sebagai bagian-bagian yang terpisah. Secara keseluruhan komponen di dalam pengalaman informan II (39) terdiri atas pengalaman psikologis (emosi, pikiran, dll) yang saling berkaitan. Peneliti akan mengkonstruksikan kembali agar mudah dipahami mengenai apa yang sudah diceritakan oleh informan II (39) seputar pengalaman kejahatannya dari awal melakukan aksi kejahatan hingga saat informan II (39) di wawancarai.
Informan II (39) adalah seorang laki-laki berumur 39 tahun yang berasal dari daerah Batang, Alas Roban. Ia sempat bermata pencaharian sebagai seorang supir mobil carteran, telah berkeluarga namun sudah bercerai sebanyak dua kali dan memiliki tiga orang anak. Ketika membangun keluarga dengan istri yang kedua, informan II (39) mengalami banyak konflik. Informan II (39) sudah beberapa kali melakukan aksi kejahatan hingga saat ia diwawancarai oleh peneliti. Kejahatan yang pernah dilakukannya meliputi perampokan dan pencurian secara berkelompok. Informan II (39) sebelumnya pernah nelakukan aksi kejahatan pencurian sebuah toko kelontong dan perampokan sebuah rumah secara berkelompok.
Di mulai dari keadaan hubungan interpersonal yang kurang harmonis antara informan II (39) dengan keluarga menjadi satu dari antara faktor
penyebab lainnya. Ia merasakan bahwa hubungan interpersonal dengan orang tuanya sejak kecil hingga sekarang kurang dekat, ia merasakan bahwa untuk berbicara pun hanya seperlunya saja. Informan II (39) juga merasa tidak dekat dengan ayahnya, adanya jarak diantara informan II (39) dengan ayahnya, hanya sesekali informan II (39) berkomunikasi dengan ibunya. Sejak kecil informan II (39) tidak tinggal dengan kedua orang tuanya namun ia tinggal dengan kakek dan neneknya. Hal yang sangat dirasakan oleh informan II (39) adalah ia merasa kurang mendapatkan arahan dan bimbingan dari kedua orang tuanya. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39) sebagai berikut :
“Saya sama nenek sama kakek dulu. Di situ hidup saya nggak pernah
ngejelekin orang tua saya enggak. Memang bapak saya jarang bisa dikatakan nggak pernah ngobrol bareng. Dari bujang dulu saya bujang sampe nikah nggak pernah memgarahkan. Kamu harus kesini. Kamu jalannya kesana.. bisa dikatakan nggak pernah. Saya nggak menjelekkan orang tua.. karena memang jauh saya sama orang tua. Sama bapak saya. Jadi jauh untuk komunikasi.. ngobrol pun palling seperlunya. ya klo komunikasi ya sama ibu.. Masih.. Iya masih baik. Kalau misalnya ada apa-apa.. “Nanti kamu jangan ini jangan itu”. Enggak beda rumah.. beda
rumah..beda kecamatan. Beda kecamatan cuma ditempuh dengan jalan kaki bisa. Nggak jauh. Cuma beda kecamatan.” (Informan II, 717-727, 728-732, 748-750, 735, 737-740, 744)
Kurangnya arahan dan bimbingan di dalam situasi lingkungan yang kurang positif membuat informan II (39) akhirnya masuk ke dalam dunia kejahatan. Batang, Alas Roban tempat tinggal asal informan II (39), kebetulan merupakan sebuah daerah yang banyak di antara masyarakatnya hidup dengan melakukan aksi kejahatan. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, aksi kejahatan perampokan, pencurian dan sebagainya bukan disebut sebagai
aksi kejahatan namun oleh masyarakatnya diberi sebuah sebutan sendiri
dengan istilah “bekerja” maka pelakunya disebut atau dianggap sebagai
“pemain”
“Oke.. awalnya sebenarnya bukan profesi saya untuk pekerjaan yang
kriminal. Jd awalnya itu.. ya memang daerah saya banyak orang yang pemain kaya gitu. Bisa dikatakan pemainlah mbak, bahasa kita kan pemain, kalau isitilahnya perampok atau apa itu pemain. Motif apa ya.. motif sebenarnya nggak ada. Mungkin dari unsur turun temurun, mungkin dari daerah saya ini, orang netral semua. Orang dijalan kaya
saya kerjaan kaya saya ini. Sudah pernah masuk semua.” (Informan II, 74-79, 81-84, 685-689, 678-680)
Selain relasi dengan kedua orang tuanya yang kurang baik, kurangnya mendapat arahan dan bimbingan, serta keadaan lingkungan tempat tinggal yang kurang mendukung, informan II (39) memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus SD, informan II (39) justru lebih memilih untuk mencari uang daripada harus melanjutkan sekolah. Ia lebih memilih unutk mendengarkan suara hati dan keingiannya untuk mencari uang daripada mendengarkan dan mengindahkan nasihat kakeknya untuk melanjutkan sekolah.Informan II (39) tetap kuat pada pendiriannya untuk tidak melanjutkan sekolah dengan alasan ingin bantu-bantu (secara ekonomi). Ada kesenangan tersendiri yang dirasakan informan II (39) ketika dapat menghasilkan uang dengan usaha sendiri di umur belia. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39), dalam kutipan sebagai berikut :
“Karena saya itu dari dulu nggak pernah berantem nggak pernah apa.
Tapi saya disuruh sekolah SD, nggak pernah mau. Saya disuruh sekolah saya nggak mau. Sama kakek saya. Mungkin kalau dari nem saya
goblok. Terus pendidikannya sampe pendidikan cuma sampe SD. Iya lulus, nem lulus saya cuma 26, berapa.... Saya dibilang bodoh..Sebenarnya nem dibawah saya ada yang lebih jelek, cuma saya nggak nglanjut. Kalau sekolah saya nggak mau. Dari kecil saya sudah megang duit. Orang-orang masih pada sekolah saya sudah megang duit.
Pingin bantu dulu itu.” (Informan II, 750-756, 770-773, 775-779, 756-760, 781)
Memiiki beberapa kebutuhan namun tidak dapat ia penuhi sendiri mulai dirasakan oleh informan II (39), untuk pertama kalinya ia menerima tawaran dari saudaranya untuk melakukan aksi kejahatan karena berkeinginan memiliki sebuah motor. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39), dalam kutipan sebagai berikut :
“Paman saya yang punya kerja terus “Saya tak ikut kerjo pingin punya motor”. Itu jaman tahun 90an.” (Informan II, 398-402)
Saat membangun keluarga dengan istri yang kedua, informan II (39) memiliki konflik dengan istri keduanya. Akibat dari konflik-konflik tersebut, informan II (39) merasa kesal dan jengah, Keputusan reaktif diputuskan langsung oleh informan II (39), ia berusaha mencari uang yang banyak untuk melampiaskan emosi dengan cara menerima tawaran teman-temannya untuk ikut melakukan aksi kejahatan. Dihasut pun ia merasa,namun hal yang lebih mendorongnya untuk menerima tawaran adalah kebutuhannya untuk melampiaskan emosi. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39), dalam kutipan sebagai berikut :
“Ada unsur tersendiri mbak.. mungkin karena saya lagi ada masalah
sama istri saya. Ada masalah sama istri. Saya pun jarang pulang. Terus dihasut sama kawan.. ya bukan dihasut.. diajaklah wong saya juga mau kok. Iya mau. Saya dapet duit tak pake buat seneng-seneng. Jadi
motifnya buat seneng -seneng sama pelampiasan. Bisa karena waktu itu saya memang ya.. waktu itu pas kejadian itu saya dikhianati oleh istri, jadi pemikiran saya kacau. Ada konflik dr istri yang kedua. Terus akhirnya nyuri di toko itu. bagaimana ya kalau ada masalah, diselingkuhin sama pasangan kita, ah gimana caranya saya punya duit saya mau senang-senang, jadi balas dendam.” (Informan II, 265-272, 274-277, 284-287, 415-417, 418-422)
Informan II (39) merasa sangat kurang mendapatkan arahan dan bimbingan dari kedua orang tua dirinya terjerumus ke dalam dunia kejahatan. Satu sisi informan II (39) menyadari bahwa bukan semata-mata karena kurangnya arahan dan bimbingan dari kedua orang tuanya yang membuat ia kemudian masuk ke dalam dunia kejahatan tetapi memang dari dalam dirinya sendiri secara sadar memutuskan masuk ke dunia kejahatan. Keinginan untuk untuk bisa hidup bebas sesuai dengan pilihannya Hal ini diungkapkan oleh informan II (39) dalam kutipan sebagai berikut :
“Emang dari pendirian saya sendiri. Saya kadang ..gimana yaa.. jadi
karena jarang pengarahan dari orang tua.. atau gimana.. ya saya nggak nyalahin orang tua.. karena juga kemauan saya.. saya mencari yang
lebih bebas.. bisa ngrokok.” (Informan II, 806-807, 807-813)
Melancarkan aksi kejahatannya, informan II (39) bekerjasama dengan teman-temannya dari satu daerah asal, namun kota yang menjadi sasaran atau lahan menurut mereka bukan di dalam daerah sendiri namun kota lain. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39) dalam kutipannya sebagai berikut :
“Enggak.. kita berangkatpun dari rumah dari kampung saya sendiri.
Karena itu yang tau dapet pertama itu dulu kan personel itu orang daerah saya sendiri. Mungkin untuk lahan... mungkin untuk lahan
Suatu ketika informan II (39) mendapat ajakan dari temannya untuk ikut melakukan aksi kejahatan, ia sudah berusaha menolak ajakan tersebut, namun didesak terus menerus oleh teman-temannya, tidak lagi mampu menolakakhirnya informan II (39) menerima ajakan tersebut. Sistem orang kepercayaan digunakan oleh mereka mencari teman untuk melakukan tindakan kriminal tersebut bukan asal pilih sembarang orang, teman-teman informan II (39) paham keahlian dan track record yang ia miliki selama menjalani kehidupan di dunia kejahatan. Hanya orang-orang yang dipercaya dan memegang kepercayaan saja yang akan diajak melakukan tindakan kriminal. Ketika melaksanakan aksi kejahatan informan II (39) berperan
sebagai sopir atau dalam bahasa mereka adalah “pilot”. Hal ini diungkapkan
oleh informan II (39) dalam kutipannya sebagai berikut :
“Pas malam kebetulan itu saya ditawarin sama kawan saya. Ya di situ
rombongan ada 4 orang jadi 1 rombongan pemain ada 4 orang. Jadi salah satu personel ada yang istirahat. Mau ada hajatan keluarganya.. nah salah satu orang di antara mereka bertiga nawari saya. Ayo tak ajak mangkat kerjo.. udah tak tolak.. udah tak tolak.. dia masih ngejar lagi besoknya. Terus kita berangkat. Ya dia nawari nggak sembarang orang, dia nawarin orang kerja kaya gitu kan.. dulu pernah saya kena masalah di Jakarta. Tapi tahun dulu tahun 97. Ya mungkin dia kan terus tau kalau pak slamet kan pernah kerja kaya gini kaya gini, tak ajak mau. Akhirnya saya mau diajak kerja. Ini ya bekerja bahasa kita.. kalau bahasa kita bukan merampok. memegang keeprcayaan ya.. biasanya 4 orang. Bukan bisa ganti ganti. Misal kalau saya capek saya ganti. Waktu itu status saya sebagai sopir, pilot. Dipercaya temen-temen untuk jadi pilot.
Milotin mobil itu. Saya nggak turun.. Intinya saya statusnya di mobil.”
Seringnya keluar masuk lembaga pemasyarakatan membuat informan II (39) harus mengeluarkan biaya yang jumlahnya tidak sedikit. Informan II bahkan harus menjual salah satunya warisan yang berupa ladang dan sawah untuk membayar semua keperluan saat ia masuk ke lembaga pemasyarakatan dan membayar rumah sakit saat kakinya ditembak dan patah. Hal ini membuat informan II (39) merasa harus dan bertanggung jawab untuk mengembalikan lagi semua yang sudah ia ambil, karena seharusnya warisan tersebut dapat dinikmati oleh anak-anaknya. Keinginan untuk bisa mengembalikan semua yang sudah ia ambil membuat dirinya mau menerima sebuah gambaran untuk merampok sebuah rumah yang ia dapatkan dari temannya sesama narapidana. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39) dengan kutipan sebagai berikut :
“Terus saya bebas, waktu saya bebas kemarin itu saya mikir gini mbak, banyak yang dikeluarkan untuk ke kepolisian, pengadilan. Masuk lapas ini kan lumayan. Saya berpikir bagaiamana cara untuk mengembalikan barang yang hilang kemarin. Terus saya dikasih gambaran sama kawan, ya uda dah kerja. Siapa tau dapet rejeki, buat nambal yg kemarin sudah hilang itu. Ee besoknya dapat rejeki malah masuk sini. Apa ya? Sawah rata-rata jadinya punya orng lama. Peninggalan orang lama, peninggalan mbah-mbah tu kan ada. Kaya sawah terus ladang. Tapi akhirnya habis juga mba. Nggak sampai anak saya. Dihabisin saya.” (Informan II, 548-560, 603-609)
Hal lain yang kemudian mendorong informan II (39) untuk memilih masuk ke dunia kejahatan adalah karena ia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39) dalam kutipannya sebagai berikut :
“Eehm yang pertama itu untuk kebutuhan.. jujur ya untuk kebutuhan.
Kepingin bangun bisnis, pingin bikinn rumah anak. Yang pertama dulu
untuk diri sendiri, unsurnya dendam sama istri saya”. (Informan II, 835-838, 842-844)
Mendapatkan sebuah gambaran dari seorang teman saat sama-sama sedang menjalani hukuman pidana penjara, kemudian diberi gambaran sebuah rumah dan kondisinya untuk nantinya dilaksanakan aksi merampok. Tawaranpun diterima oleh informan II (39) dengan kondisi pada saat itu, ia sedang banyak masalah. Setelah aksi perampokan tersebut dilaksanakan dan informan II (39) tertangkap, ia mendapat kabar bahwa ternyata ia hanya dimanfaatkan oleh teman yang memberi gambaran tersebut. Informan II (39) merasa dirinya telah dihasut, sebab temannya memberikan gambaran adalah karena adanya motif balas dendam dari temannya kepada orang yang menjadi sasaran perampokan. Hal ini diungkapkan oleh informan II (39) dalam kutipannya sebagai berikut :
“Lumayannya beda kasus. Oo beda kasus. Jadi dulu saya kanal kawan disini.. udah lama disini. Waktu pas sek itar tahun 2012. Awal-awal saya masuk ada orang bareng 1 kamar sama saya. Cerita ini itu.. intinya menceritakan dia ngasih gambaran saya punya tetangga, tetangga saya
orang kaya.. silakan kalau mau dirampok. Bener…habis saya bebas saya
punya kawan disini.. bukan kawan saya yang dulu yang tak ajak kerja.. nggak.. bahkan malah orang sini.. daerah sini. Tak ajak berangkat kerja ini itu.. sekarang kasusnya masukya 65 perampokan.. korbannya tak iket. Saya pun jarang pulang. Terus dihasut sama kawan.. ya bukan
dihasut.. diajaklah wong saya juga mau kok.” (Informan II, 225-243, 269-272)
Adanya harapan-harapan dari informan II (39) setelah nantinya ia keluar dari lembaga pemasyarakatan. Informan II (39) memiliki keinginan untuk bisa
menyenangkan anak dan cucunya dengan cara yang lebih baik, karena selama ini informan II (39) sadar bahwa ia mencari rejeki dengan cara yang salah. Dengan satu-satunya keahlian yang ia miliki, informan II (39) akan melanjutkan bekerja menjadi sopir setelah nanti keluar dari lembaga pemasyarakatan. Selain itu informan berharap bahwa perbuatan kejahatan kali ini, menjadi yang terakhir. Hal ini diungkapkann oleh informan II (39) dalam kutipannya sebagai berikut :
“Mudah-mudahan ini yang terakhir. Pingin nyenengin anak cucu. Ya pinginnya yang namanya orang tua buat anak sama cucu.. pingin buatin rumah buat anak. Saya punya tujuan itu. Cuma cara saya nyari rejekinya yang salah. Saya ada kepikiran habis bebas ini saya tetep mungkin melakukan pekerjaan sebagai sopir, yang pernah dijalani dulu, taun-taun ini, saya mau nyopir kayanya, Mungkin cuma itu salah satu kepanjangan
saya. Saya nggak punya kepanjangan lain.”
(Informan II, 335-336, 343, 348-352, 635-642)