BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Dinamika Pengalaman
3. Informan III (37)
Pengalaman kurang menyenangkan semasa remaja menjadi akar yang melatarbelakangi informan III (37) mulai melakukan kejahatan. Pengalaman mendapatkan perlakuan yang tidak adil memberikan ketidaknyamanan tersendiri bagi informan III (37), perasaan tertindas membuat informan III (37) kehilangan kesabarannya. Terus menerus dituduh membuat informan III (37) merasa kesal, tidak terima, dan jenuh, serta hilang kesabaran, atau singkat kata ia merasa frustasi akibat perlakuan tidak adil yang diterimanya, sehingga mendorong informan III (37) memunculkan sisi agresif yang selama ini
berusaha dikontrolnya. Sebuah frustasi mampu mempengaruhi tindak kekerasan di sekolah dan kampus, sejumlah siswa yang melakukan kejahatan dahulunya merupakan seseorang yang pernah menjadi objek ejekan dan bullying atau menganggap dirinya diperlakukan tidak adil (Sears, Peplau, Taylor, 2009). Terjadilah penganiayaan yang menjadi pengalaman pertama informan III (37) melakukan tindakan kejahatan dan menjadi narapidana. Menjadi narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan membuatnya mengenal berbagai macam orang dengan latar belakang kejahatan yang berbeda-beda, secara tidak disadari informan III (37) mulai tertarik masuk ke dalam dunia kejahatan.
Setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan, informan III (37) masih bergaul dengan teman-teman sesama narapidana, pergaulan menjadi salah satu sebab informan III (37) mulai intens melakukan aksi kejahatan. Tawaran untuk melakukan aksi kejahatan datang dari teman-temannya silih berganti, belum ada rancangan yang akan ia lakukan untuk kehidupan di masa depan karena bagi informan III (37) menjalani kehidupan saat ini dengan sebaik-baiknya adalah satu hal yang dipikirkannya saat itu, sehingga ia memilih untuk menerima ajakan temannya. Selain itu informan III (37) memiliki perasaan sungkan untuk dapat menolak tawaran dari temannya, ia akan semakin sungkan untuk menolak tawaran dari temannya ketika kata-kata
“tolong” terucap dari mulut temannya. Terdapat kemungkinan lain informan III (37) merupakan seseorang yang tidak suka jika ditolak dan sebagai
seseorang yang menyandang predikat pelaku kriminal dengan kemampuan yang baik serta selalu diandalkan membuat informan III (37) merasa memiliki harga diri yang tinggi dan merasa diri sebagai tokoh heroik sehingga sulit baginya untuk menolak.
Kemampuan ekonomi informan III (37) kurang mendukung untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, pengalaman kesulitan mendapatkan bantuan uang dan situasi-situasi mendesak lainnya memberikan tekanan kepada informan III (37). Mulai setelah informan III (37) melakukan kejahatan dan mudah mendapatkan uang, secara tidak benar-benar disadari ia menjadi seperti merasa ketagihan untuk menghasilkan uang dengan melakukan kejahatan, perasaan ketagihan menghasilkan uang dengan melakukan kejahatan semakin diperkuat dengan perasaan putus asa dan stress, ia idak ada pilihan lain selain menerima tawaran melakukan aksi kejahatan dari teman-temannya, sebab Informan III (37) mendapatkan stereotip sebagai mantan narapidana dari masyarakat yang membuatnya kesulitan dalam mencari pekerjaan, beberapa kali ia mendapatkan judgment negatif karena stereotipnya sebagai seorang mantan narapidana. Keputusasaan pun mulai dirasakan oleh informan III (37), keputusasaan dalam dirinya semakin bertambah menguat ketika aparat masih terus menjadikan informan III (37) sebagai target operasi meskipun ia sudah tidak lagi melakukan tindakan kejahatan. Kesal, tidak terima diperlakukan tidak adil, dan jenuh dirasakan olehnya berujung pada pendapat pribadi bahwa menjadi orang baik sangat sulit, kesimpulan yang
didapatkan dari pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut membuat informan III (37) berpikir lebih baik terus menjadi orang jahat daripada sudah berusaha menjadi baik namun tetap mendapatkan label dan stereotip. Tidak memiliki keberanian untuk melangkah (membangun suatu usaha) juga memperkuat informan III (37) mencari uang dengan melakukan kejahatan, terdapat kemungkinan informan III (37) malas untuk berusaha.
Seperti yang pernah dipaparkan di atas hal lain yang membuat informan III (37) menjadi sulit untuk keluar dari dunia kejahatan dan terus menerus terlibat dalam aksi kejahatan adalah karena ia dianggap memiliki keahlian dan track reccord yang bagus di dunia kejahatan, sistem orang kepercayaan yang dianut oleh para pelaku kejahatan membuat informan III (37) terus menerus dikejar oleh teman-temannya.
Keadaan ekonomi yang menghimpit, lingkungan yang kurang mendukung, serta pengalaman ketika kesulitan mendapatkan pinjaman uang membuat informan III (37) membenarkan perbuatannya. Ia sadar dan paham bahwa perbuatannya salah namun tetap ia ambil. Bandura mengatakan meskipun seseorang memiliki prinsip moral yang kuat, ada bebeapa mekanisme yang dapat dipakai untuk memisahkan tindakan tercela dengan pencelaan diri. Mekanisme ini memungkinkan seseorang melanggar prinsip moral yang dimilikinya tanpa perlu ia merasa perlu mencela diri atau tanpa merasa bersalah (dalam Hergenhahn dan Olson, 2010). Mementingkan kebutuhan keluarga menjadi prioritas baginya untuk kemudian mengambil
jalan apapun ia pun melakukan justifikasi moral. Informan III (37) menjadikan tindakan yang tercela tersebut menjadi cara untuk mencapai tujuan yang lebih luhur sehingga perbuatannya dibenarkan olehnya. Di dalam hati ia berharap memiliki pekerjaan yang baik karena khawatir kepada anakya anaknya mengikuti jejak menjadi seorang pelaku kejahatan dan ia pun juga merasa malu telah memilih keputusan sebagai pelaku kejahatan.
Sudah sejak lama informan III (37) ingin mengakhiri hidupnya di dunia kejahatan namun sulit baginya untuk keluar dari lingkungan tersebut, sebab bukan kenyamanan yang ia rasakan. Informan III (37) sudah merasa jenuh, lelah, dan bosan, serta pengalaman kekerasan dan ketidakadilan yang ia terima. Beberapa usaha sudah ditempuh namun masih terus belum membuahkan hasil. Usaha untuk menjauh dari duna kejahatan pun gagal, ia merasa kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Perlahan informan III (37) mulai merefleksikan seluruh pengalaman pribadinya terkait pengalaman kejahatan dan juga pengalaman di sekelilingnya dan ia sadar bahwa semua keputusan kembali lagi ke diri sendiri dalam menyikapi sebuah keadaan, bagaimana hati nurani manusia memiliki peran dalam menentukan sebuah keputusan.