• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA

4.5. Profil Informan

4.5.1. Informan Kunci

1. Gr. J. H Manik

Gr. J. H Manik adalah seorang pria beruasia 71 tahun dengan mempunyai istri setelah istri pertamanya meninggal dunia. Rumah yang kerap dipanggil Pak JH (jeha) ini tepat berada di ibu kota Kabupaten Pakpak bharat yaitu di Salak, sekaligus dirumah beliau dijadikan tempat salah satu loket angkutan umum yaitu Stasiun PO. Sempurna sehinggga tidak heran jika beliau dikenal masyarakat dimana-mana baik di Pakpak Bharat bahkan diluar Pakpak Bharat. Bapak yang mempunyai 7 orang anak ini adalah seorang pensiunan guru Sekolah Menegah Atas (sada arih) yang saat ini SMA N 1 Unggulan di Pakpak Bharat. Selain berpropesi sebagai guru pendidik, beliau juga berperan aktif di kegerejaan dan juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Kepedulian terhadap suku, daerah adalah menjadi salah satu tanggung jawab beliau untuk memajukan dari ketertinggalan dan sudah mendarah danging seperti seorang nasionalis. Setelah bapak ini pensiun pada tahun 1980, beliau sangat aktif dibidang keorganisasian baik organisasi kedaerahan sampai pada organisasi politik.

Beliau juga adalah salah satu penggagas untuk memekarkan pakpak menjadi sebuah kabupaten sehingga pada tahun 2003 berkat dari perjuangan dan perjalanan panjang yang dilakukan telah terwujud yaitu Kabupaten Pakpak Bharat pada saat ini. Permasalahan-permasalahan yang mungkin terjadi ditengah-tengah masyarakat atau bahkan ide-ide dan gagasan beliau selalu ikut campur didalamnya untuk mengurusinya. Seperti contoh pada tahun 1992 terjadi pertentangan antar suku yaitu suku batak toba dan pakpak melalaui gereja HKBP dimana pada waktu itu adanya larangan bahwa pakpak tidak biasa beribadah dan bahkan sampai terjadi penculikan para jemaat-jemaat gereja. Ketika adanya suatu ide atau perencanaan untuk

mendirikaan gereja suku pakpak, namun dari gereja tersebut mengambil alih dengan maksud tetap berada digereja HKBP. Pada masa itu masih gereja inilah yang dipakai masyarakat pakpak sebelum terjadi perkembangan baik dari SDM, ekonomi, politik, hukum. Beliau adalah salah satu menjadi target utama untuk diculik. Namun berkat dari usaha dan perjuangan beliau dan masyarakat lainnya telah berusaha meredam permasalahan itu. Sehingga pada tahun itu juga terbentuklah gereja suku pakpak yang di setujui oleh menteri agama yang diberi nama GKPPD (Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi). Dari profil yang telah dikemukakan diatas, informan ini dijadikan sebagai informan kunci dengan kriteria informan kunci dari tokoh agama.

2. St. Asahan Banurea

St. Asahan Banurea yang kerap dipanggil Pak Banurea dilingkungan masyarakat luas. Bapak yang berumur 65 tahun ini adalah asli keturunan suku pakpak yang dimulai dari nenek moyang hingga anak-anaknya. Bapak yang bepostur tubuh tegap ini sangat mengerti dan tahu jelas bagaimana sistem kebudayaan dan bagaimana sebenarnya budaya pakpak itu. Karena dibidang kebudayaan beliau sangat peduli akan hal itu. Selain aktif di bidang kebudayaan, Bapak ini juga sangat berperan aktif dikepengurusan organisasi kedaerahan baik dibidang kebudayaan maupun organisasi nasionalis.

Walaupun bapak ini sudah tampak tua, jiwa kepemudaan dalam dirinya masih tetap tertanam. Beranjak dari keorganisasian yang beliau geluti, beliau juga salah satu penyambung tangan dan suara masyarakat dalam pembentukan daerah pakpak dijadikan menjadi suatu kabupaten seperti bagaimana kabupaten lainnya deberi

kebebasan untuk memajukan daerah. Sumbangsih berupa ide dan gagasan yang cemerlang dari beliau sering dilontarkan kepada pemerintah seperti pihak Legislatif dan Eksecutif dengan cara beraudiensi dengan maksud adalah tujuan bersama dan masyarakat luas sekalipun. Seperti yang di utarakan Bapak St. Asahan Banurea (lk. 65 tahun)

“ Bila anda menyediakan sedikit saja waktu untuk merenung bagaimana setiap budaya itu terbentuk,

maka anda akan kagum dan berupaya untuk melestarikannya…”

Bapak yang salah satu orang yang berpengaruh dan juga tuan tanah didaerah ini nampaknya betul-betul peduli terhadap daerahnya berbagai sisi. Karena kondisi yang saat ini sudah merasa tidak kuat lagi dipengaruhi umur semakin tua, kesehariannya hanya dihabiskan dirumah dan kadang berpergian ke tempat sanak saudaranya baik yang ada di Medan yang masih kuliah maupun di Sidikalang.

Dari profil yang dipaparkan informan, beliau diajdikan sebagai informan kunci dengan kriteria dari tokoh adat.

3. Mansehat Manik, S.pd

Mansehat manik, S.pd adalah ke IV dari 8 bersaudara, lahir dari pasangan St. Gr. A.S Manik dan N. Br Boang Manalu. Kelahiran pada tanggal 26 juli1964 di Sigelanggang Aornakan, Desa Aornakan II, Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat propinsi Sumatera Utara. Lulus SD di Kecupak pada tahun 1977, lulus SMP di Salak dan lulus SMA dari 1 Sidikalang.

Kemudian melanjut ke Perguruan Tinggi IKIP Medan dengan jurusan Sejarah pada tahun1984. Pada tahun 1986-1988 beliau sempat megajar di SMA swasta di

Salak kemudian melanjut mengajar di SMA Negeri 1 Salak pada tahun 1988. Setelah megaajar, pada tahun 1992 juga bekerja di PT. Gruti Aceh Sumut bagian TPTI. Dengan pengalaman yang sudah banyak kemudian beliau menikah dengan pasangan E. Br Bancin dan dikaruniai 3 (tiga) anak putra dan putri. Tahun 1992-1995 melanjut sebagai tenaga pengajar di SLTP N 1 Salak lalu berhenti untuk pembangunan trasnmigrasi di Pagindar. Pada tahun 1998-2003 mengajar kembali di SMP N 1 Salak sebagai guru kontrak daerah sambil melanjutkan kuliah di STKIP Teladan Medan dan selesai studi dan memperoleh gelar S.pd (Sarjana Pnedidikan).

Kemudian tahun 2003, terpilih menjadi ketua DPD Partai Golkar untuk Kabupaten Pakpak Bharat dan pada pemilu 2004 mengantarkan sebagai anggota DPRD dan terpilih menjadi ketua DPRD Kabupaten Pakpak Bharat periode 2004-2009. Saat ini masih sebagai dosen Bahasa Indonesia pada STKIP Teladan Medan dan menjadi mahasiswa pacasarjana (S2) jurusan Bahasa Indonesia untuk tahun 2007-2009. Bapak ini adalah anggota Majelis Pusat GKPPD dan ketua SOKSI cabang Kabupaten Pakpak Bharat 2006-2012.

Dari profil yang dipaparkan informan, beliau diajdikan sebagai informan kunci dengan kriteria dari DPRD Kabupaten Pakpak Bharat.

4. Organisasi Masyarakat yang meliputi :

a. Hotman Hasugian

Hotman Hasugian adalah seorang peria yang beumur 25 tahun menganut agama kristen protestan dan merupakan alumni dari Perguruan Tinggi Unimed Medan dan tamat pada tahun 2008 mengambil jurusan keolahragaan. Semasa masih kuliah pria yang bersuku pakpak ini sangat aktif di keorganisasian kampus dan keorganisasian kedaerahan. Berkat usaha dan cita-cita yang tinggi, pada tahun 2008 telah diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil sebagai guru olah raga di salah satu SMA di Kabupaten Pakpak Bharat. Laki-laki yang belum berkeluarga ini sangat banyak membantu orang tua dan keluarganya karena pada saat ini masih tinggal dirumah orang tuannya. Kadang gaji bulanannya diberi sebagian kepada orang tua dan sebagian dipergunakan untuk kebutuhan pribadinya.

Dari profil yang dipaparkan informan, beliau diajdikan sebagai informan kunci dengan kriteria sebagai salah satu yang ikut diorganisasi HIMPAK.

2. FPMPRP (Front Pemuda dan Mahasiswa Peduli Rakyat Pakpak Bharat) a. Lambas Seru Manik

Lambas adalah seorang pria berumur 20 tahun yang masih kuliah di Perguruan Tinggi di USU Medan. Pria yang masih duduk di smester 3 (tiga) ini megambil jurusan Tehnik Industri di Fakultas Tehnik. Pada tahun 2008 beliau sudah bergabung kesalah satu organisasi daerah yaitu FPMPRP ( Front Pemuda dan Mahasisawa Peduli Rakyat Pakpak Bharat ) bersekretariat di Jalan Luku P. Bulan Simalingkar B. Didalam wadah yang di ikutinya ia hanya sebagai anggota dan sudah ditabalkan sejak pertama masuk dan mendaftar ke panitia penerimaan anggota baru.

Lambas menganut agama Kristen Protestan dan bersuku pakpak asli beralamat di Jalan Bahagia P. Bulan Medan dengan menyewa kamar pertahun/kos sebagaimana para mahasiswa yang ada disekitaran Padang Bulan Medan. Sejak mengecap pendidikan, beliau menyelesaikan study dari tingkat SD sampai dengan SMA di daerah pakpak bharat dan stelah tamat barulah ia melanjut kuliah ke Medan.

3. KNPI ( Komite Nasional Pemuda Indonesia ) meliputi : 1. Pemuda Pancasila (PP)

a. Risto Berutu

Risto adalah seorang pria berumur 30 tahun. Beliau berasal dari suku Pakpak beragama Islam. Pria ini mempunyai perawakan pendek sekitar 155 cm, rambut kriting belah tengah, berkumis, kulit hitam manis, dan cukup ramah dalam berinteraksi didalam keorganisasian maupun dimasyarakat. Beliau tinggal di Desa Singgabur kecamatan Sitellu Talu Urang Julu setelah sekian lama mengadu nasip diperatauan.

Pekerjaan yang beliau geluti beragam dan tidak menetu, mulai dari sopir bus dalam propinsi Salak-Medan oleh PO. BTN (Bintang Tani Jaya ) yang beralamat Jl. Jamin Ginting P. Bulan ( Pajak Sore ) Medan hampir 4 tahun menjalani pekerjaan yang identik taruhannya adalah nyawa. Setelah merasa tidak kuat lagi untuk mengemudi, beliau berhenti menjadi sopir dan beralih kepertanian untuk menanam tanaman muda. Disamping dari pekerjaan lainnya juga bergabung kedalam keorganisasian Pemuda Pancasila (PP) dengan jabatan sebagai anggota. Kemudian saat sekarang telah bekerja disalah satu angutan umum di pakpak bharat sebagai agen

tiket (Tukang Tulis)dimana angkutan angkutan umum yang beliau tangani adalah PO. Sempurna tepat di kota salak rumah Bapak Gr J.H Manik. Uang yang didapat dari tempat beliau bekerja dipergunakan untuk membiayai anak yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar dan kebutuhan rumah tangga.

2. Ikatan Pemuda Karya ( IPK ) a. Pak Tumangger

Pak Tumangger adalah nama julukan yang kerap dipanggil dilingkukngan masyarakat stelah beliau menggantikan dan bergabung kesuku pakpak dari suku jawa dan menjadi marga tumangger. Pergantian marga terjadi ketika pacaran sama orang pakpak borru Padang dan setelah dijadikan sebagai istri disitulah beliau dinobatkan/disahkan menjadi suku pakpak dan bertempat tinggal di Desa P. Binanga Boang Kecamatan salak Kabupaten Pakpak Bharat.

Asal asli Pak Tumangger sebenarnya dari Medan. Bapak yang mempunyai dua orang anak ini datang ke Pakpak kerana pekerjaan. Pada tahun 1997 beliau salah satu karyawan dalam pembangunan jembatan beton di Desa P. Binanga Boang yang ditangani oleh salah satu CV terkemuka dari Medan. Jadi tidak heran jika mendengar Pak Tumangger ketikan berbahasa pakpak tidak tepat dan sebagian kurang.

Badan yang memiliki penuh dengan tato ini tidak membuatnya berlagak preman namun ditengah-tengah masyarakat sanagt sopan, ramah dan sekali-kali melucu ketika kita berbicara dengannya. Pekerjaan beliau adalah seorang wiraswasta dan memiliki 2 orang anak dan juga Ketua DPC IPK di Desa P. Binanga Boang.

4. IKPPI ( Ikatan Keluarga Pemuda Pakpak Indonesia ) a. Mariani Br Boang Manalu

M. Br Boang Manalu adalah istri dari Bapak P. Banurea. Ibu ini berumur sekitar 37 tahun. Ibu ini memiliki perawakan tinggi sekitar 157 cm, warna kulit sawo matang, rambut panjang bergelombang. Ibu ini mengaku mengecap pendidikan hanya tamatan SMA. Dalam kesehariannya, ibu ini bertugas sebagai ibu rumah tangga dari ketiga orang anak ini.

Selain mengurus rumah tangga dan ketiga orang anaknya, ibu ini juga memiliki sampingan berjualan di kantin salah satu sekolah didekat rumahnya. Pendapatan tambahan diperolehnya adalah untuk membiayai uang sekolah anaknya yang sedang kuliah di Medan. Pekerjaan suami Ibu Mariani ini adalah sebagai tata usaha sekolah SD.

Dokumen terkait