BAB III METODE PENELITIAN
3.3 Informan
3.3.2 Informan Kunci
Informan kunci adalah orang yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian (Suyatno & Sutinah, 2005: 171-172).
Informan kunci dalam penelitian ini adalahkoordinator PLKB Program UPPKS yang mendampingi masyarakat di kecamatan Medan Helvetia kota Medan yang berjumlah 1 orang dan 2 orang PLKB di tingkat kelurahan.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan untuk mendapatkan infornasi yang dibutuhkan sebagai berikut :
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber data pertama di lapangan. Data primer diperoleh dengan metode sebagai berikut:
a. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara.
2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui :
a. Studi kepustakaan, yaitu proses memperoleh data atau informasi yang menyangkut masalah yang akan diteliti melalui penelaah buku, jurnal dan karya tulis lainnya.
b. Studi lapangan adalah pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. (Siagian, 2011:206)
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deksriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan mengkaji data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber data
yang terkumpul, mempelajari data, menelaah, menyusun dalam satu kesatuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta mendefinisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moleong, 2004:247).
Setiap data dari informasi yang telah dikumpulkan dalam penelitian berupa catatan lapangan berupa data utama dari hasil wawancara maupun data penunjang lainnya dilakukan analisis data, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan suatu analisis data yang baik dan dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian ini.
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1 Deskripsi Wilayah
Kecamatan Medan Helvetia adalah salah satu dari 21 kecamatan yang berada di Wilayah Kota Medan memiliki luas ± 1.156.147 Ha dan merupakan pecahan dari Kecamatan Medan Sunggal.
Sebelum menjadi kecamatan defenitif terlebih dahulu melalui proses Kecamatan Perwakilan. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor : 138/402/K/1991 tanggal 05 Pebruari 1991 dan Keputusan Walikota Medan Nomor : 138/595/SK/1991 tanggal 20 Meret 1991 dirubah namanya menjadi Perwakilan Kecamatan Medan Helvetia dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor : 50 Tahun 1991 didevinitifkan menjadi kecamatan Medan Helvetia yang diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1991 yang terdiri atas 7 (tujuh) Kelurahan yaitu : Kelurahan Helvetia, Helvetia Tengah, Helvetia Timur, Dwi Kora, Cinta Damai, Tanjung Gusta dan Sei Sikambing C-II. Adapun Wilayah-wilayah yang berdekatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Helvetia adalah :
- Sebelah Utara : Kecamatan Sunggal Kab Deli Serdang - Sebelah Selatan : Kecamatan Medan Sunggal
- Sebelah Timur : Kecamatan Medan Barat dan Medan Petisah - Sebelah Barat : Kecamatan Sunggal Kab Deli Serdang
Kecamatan Medan Helvetia terbagi menjadi 7 (tujuh) Kelurahan dan 88 lingkungan dengan status Kelurahan Swasembada. Adapun luas wilayah Kecamatan Medan Helvetia adalah ± 1.156.147 Ha. Kelurahan yang terluas adalah Kelurahan
Tanjung Gusta dengan luas 220 Ha disusul Kelurahan Dwi Kora seluas 200 Ha, Helvetia Timur dengan luas 182,25 Ha, Kelurahan Cinta Damai 180 Ha, Helvetia Tengah 150 Ha, Kelurahan Helvetia dengan luas 125 Ha,dan sedangkan yang terkecil adalah Kelurahan Sei Sikambing C-II dengan luas 98.90 Ha.
4.2 Keadaan Demografi 4.2.1 Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk sesuai dengan hasil registrasi penduduk Kelurahan Tahun 2015 ada kenaikan jumlah penduduk di Kecamatan Medan Helvetia dari tahun – tahun sebelumnya. Pada bulan Desember tahun 215 jumlah penduduk yang teregritasi berjumlah 163.450 jiwa yang terdiri dari laki-laki 81.2403 jiwa dan perempuan 82.207 jiwa.
Berikut ini tabel perkembangan penduduk Kecamatan Medan Helvetia dari Tahun 2012, 2013, 2014, dan 2015.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2012 - 2015
Tahun Jumlah Penduduk
2012 161755 jiwa
2013 162379 jiwa
2014 162871 jiwa
2014 163450 jiwa
Tabel 4. 2
Keadaan Penduduk Kecamatan Medan Helvetia Bulan Desember 2015
NO KELURAHAN
PRIBUMI KETURUNAN WNA
L+P
L P L P L P
1 Helvetia 7.737 8.483 52 74 0 0 16.346 2 Helvetia Tengah 18.412 18.745 64 79 0 0 37.300 3 Helvetia Timur 12.919 12.580 501 550 0 0 26.550 4 Tanjung Gusta 11.642 11.524 34 83 0 0 23.283 5 Cinta Damai 9.129 9.355 983 982 0 0 20.449 6 Dwi Kora 11.264 11.424 406 308 0 0 23.402 7 Sei Sikambing C-II 7.899 7.730 201 290 0 0 16.120 Jumlah 79.002 79.841 2.241 2.366 0 0 163.450
Sumber : data Kecamatan Medan Helvetia
Berdasarkan data yang tersaji dalam tabel penyebaran penduduk yang paling banyak itu terdapat di wilayah kelurahan helvetia tengah.
4.2.2 Tenaga Kerja
Berdasarkan hasil pendataan penduduk Tahun 2015 bahwa jumlah tenaga kerja (>10 Tahun) mencapai 163.450 orang sedangkan angkatan kerja untuk Kecamatan Medan Helvetia mencapai 152.761 orang dan bukan angkatan kerja 10.689 orang pada tahun 2015.
4.2.3 Agama
Mayoritas penduduk di Kecamatan Medan Helvetia ini pada tahun 2010 beragama Islam berjumlah 107.014 jiwa (65,47%), sedangkan Protestan 46.592 jiwa (28,51%), Katolik 5.653 jiwa (3,46%), Hindu 420 jiwa (0,26%), dan Budha 3.771 jiwa (2.31%).
4.2.4 Suku
Penduduk Kecamatan Medan Helvetia cukup heterogen, terbukti dengan banyaknya suku/etnis yang hidup dan tinggal di wilayah Kecamatan Medan Helvetia ini. Adapun suku bangsa yang terbesar adalah Suku Jawa dengan jumlah 56.267 jiwa (34.42 %), disusul Suku dari Tapanuli Utara 42952 jiwa (26,28 %),Mandailing 14813 jiwa (9,06 %), Melayu 12876 jiwa ( 7,88 %), Karo 10511 jiwa (6,43 %), Aceh 8899 jiwa (5,44 %), Minang 8745 jiwa (5,35 %), Dairi 3780 jiwa (2.31 %), dan suku lainnya sebesar 2.82 %.
4.3 Prasarana dan Fasilitas
Sarana dan prasarana merupakan hal yang sangat penting untuk pencapaian suatu kegiatan pembangunan. Suatu rencana yang di susun dengan baik tanpa di dukung sarana dan prasarana yang baik dan memadai, maka tujuan dari perencanaan suatu program atau kegiatan kemasyarakatan akan sulit tercapai.
4.3.1 Sarana Pendidikan
Untuk mendukung proses belajar masyarakat di kecamatan Medan Helvetia, maka disediakan sarana pendidikan berupa Taman kanak-kanak (TK) sebanyak 19 gedung ,36 gedung Sekolah Dasar ( SD ), sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 21 gedung, Sekolah lanjutan Tingkat atas (SLTA) sebanyak 17 gedung , Akademi 3 gedung dan Perguruan Tinggi 1 gedung.
4.3.2. Sarana Kesehatan
Untuk mendukung kesehatan masyarakat Kecamatan Medan Helvetia,maka di daerah ini terdapat 4 Puskesmas, 5 Poliklinik, dan 7 Rumah sakit.\
4.3.3 Sarana Olahraga
Kecamatan medan Helvetia didukung dengan sarana olahraga yang memungkinkan masyarakat untuk dapat menikmati fasilitas olahraga seperti : lapangan sepak bola, kolam renang, lapangan bulu tangkis , dan lapangan vooley.
4.3.4 Sarana Peribadatan
Dalam hal peribadatan, karena mayoritas penduduk Kecamatan Medan Helvetia memeluk agama Islam, maka terdapat sebanyak 51 mesjid, 20 musholla, dan 31 gereja.
4.3.5 Sarana Jalan
Untuk menyambung antar kelurahan ke kelurahan lain yang terdapat di kecamatan Medan Helvetia, maka sangatlah diperlukan sarana jalan yang baik sebab hal ini akan mempengaruhi kelancaran hubungan antar kelurahan lewat jalur darat.
Seluruh jalan umum yang ada di kecamatan Medan Helvetia ini telah diaspal dengan baik, namun jalan di gang-gang yang ada di setiap rumah penduduk belum diaspal dengan baik.
4.4 Stuktur Organisasi
Dalam mendukung jalannya pemerintahan perlu struktur organisasi baik secara internal maupun eksternal. Berikut struktur organisasi yang terdapat di Kecamatan medan Helvetia Kota Medan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut di atas, tidak terlepas dari unsur Muspika serta instansi vertikal dan lintas sektoral sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah,dalam hal ini meliputi :
KASI KESSOS KASI TRANTIB KASI PMK
LURAH
• Koramil 07/MT
• Kapolsekta Medan Helvetia
• Kacabdiknas
• Puskesmas/Puskesmas Pembantu
• Kantor Urusan Agama
• Pengawas PLKB
• Mantri Statistik
• PPL Pertanian
Dalam pendampingan kelompok-kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Kecamatan Medan Helvetia di tangani langsung oleh pengawas PLKB di tingkat kecamatan dan Pengawas PLKB di tingkat Kelurahan.
4.5 Program Kegiatan Kecamatan 4.5.1 Bidang Pemerintahan
Dalam pelaksanaan tugas Camat sehari-hari yang sangat menonjol dihadapi adalah di bidang pemerintahan yang meliputi :
1. Pelayanan administrasi kependudukan
Dengan mengacu kepada Keputusan Walikota Medan No.22 Tahun 2002 tanggal 07 Mei 2002 tentang Pembebasan Retribusi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) di Kota Medan, Pemerintah Kecamatan. Medan Helvetia telah secara utuh melaksanakannya terhadap
warga masyarakat khususnya bagi yang telah terdaftar sebagai penduduk di Kecamatan.Medan Helvetia.
Sebagaimana diprogramkan bahwa pemrosessan KTP dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja namun Pemerintah Kecamatan.Medan Helvetia berupaya untuk mempersingkat waktu dengan mengupayakan dalam waktu 2 (dua) hari kerja dan khusus bagi warga masyarakat yang sangat mendesak membutuhkan KTP/KK dengan berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan Kota Medan dapat diselesaikan dalam waktu yang relative singkat.
Kunci keberhasilan Camat dalam menjalankan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Pemerintah Kota yang dalam hal ini Walikota Medan adalah dilihat dari keberhasilan di bidang Pemerintahan khususnya pelayanan, administrasi kependudukan.
Disamping pelayanan KTP dan KRT masih banyak lagi jenis pelayanan yang diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan antara lain :
• Surat Keterangan Pindah Keluar
• Surat Keterangan Pindah Datang
• Surat Keterangan Kelahiran
• Surat Keterangan Kematian
• Surat Keterangan Perubahan Status Kewarganegaraan (SKPSK)
• Dan Surat-surat keterangan lainnya
4.5.2 Bidang Pembangunan
Kecamatan Medan Helvetia dengan luas areal kurang lebih 1.156.147 Ha perlu dikelola dengan manajemen yang baik sehingga pemerataan pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat setempat. Hal ini telah diprogramkan oleh Pemerintah Kecamatan Medan Helvetia antara lain : pembangunan jalan secara berkelanjutan melalui usulan proyek pembangunan pada setiap tahun anggaran.
1. Proyek-proyek yang bersumber dari Anggaran Pemerintah Kota Pembinaan masyarakat di bidang usaha ekonomi kecil dan menengah, kebersihan lingkungan yang selalu mengacu kepada Program Pemerintah Kota Medan, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dengan meningkatkan pendapatan perkapita penduduk lebih dahulu, mengurangi angka pengangguran, meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat (SDM) melalui penyuluhan-penyuluhan, mengurangi kenakalan remaja dan lain-lain tujuannya adalah pembangunan masyarakat Kecamatan Medan Helvetia seutuhnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk lebih jelasnya pembangunan yang telah dilaksanakan selama Tahun 2010 yang merupakan realisasi usulan proyek pembangunan pada tahun 2009 sumber dana APBD Kota Medan serta partisipasi masyarakat Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2010.
2. Proyek-proyek yang bersumber dari swadaya masyarakat
Untuk tahun 2010 disamping proyek yang bersumber dari APBD juga terdapat proyek yang bersumber dari dana masyarakat di Kelurahan. Se-
Kecamatan Medan Helvetiayang tertuang dalam berbagai proyek/
pembangunan.
4.5.3 Bidang Kemasyarakatan
Adapun program pembinaan kemasyarakatan yang dilakukan pihak Pemerintah Kecamatan Medan Helvetia adalah sebagai berikut :
1.Kesehatan
a. Bekerjasama dengan pimpinan puskesmas untuk mengaktifkan posyandu-posyandu yang ada di lingkungan
b. Kemudian melakukan pelatihan terhadap siswa-siswi sekolah dari berbagai tingkatan untuk menjadi dokter kecil dan dokter remaja serta meningkatkan pembinaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
c. Pengobatan gratis di puskesmas-puskesmas bagi masyarakat yang kurang mampu hanya dengan menunjukkan Kartu Keluarga atau KTP Medan Helvetia dan juga Kartu Sehat yang telah diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan dan diketahui oleh Lurah dan Camat.
d. Mendorong masyarakat untuk berpartisipasi memfasilitasi pengobatan-pengobatan gratis dan khitanan massal baik melalui individu maupun lembaga-lembaga kesehatan seperti klinik, praktek-praktek dokter dan lain-lain.
e. Mengadakan sosialisasi pencegahan terhadap penyakit HIV – AIDS, Demam Berdarah Dengue dan Penyakit Menular lainnya.
f. Dalam rangka mengantisipasi berjangkitnya penyakit menular, diare, munmen yang diakibatkan oleh banjir yang melanda beberapa wilayah di
Kecamatan Medan Helvetia pada bulan September-Desember 2004, telah dibentuk Posko Banjir mulai dari tingkat lingkungan, kelurahan dan kecamatan, yang melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Medan dan disiagakannya satu unit ambulans agar dapat segera melakukan langkah-langkah pertolongan lebih cepat di lapangan. Akibat dari timbulnya banjir ini telah disalurkan bantuan berupa beras, telur, mie instan dan uang.
Khusus untuk menghadapi wabah demam berdarah, melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan dalam hal ini Puskesmas yang ada di Kecamatan Medan Helvetia, Muspika Medan Helvetia dan bekerjasama dengan masyarakat dan instansi lainnya melalui Gerakan Kebersihan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh lingkungan dan di kantor-kantor pemerintah serta sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Medan Helvetia yang dilaksanakan secara bergiliran seperti kegiatan pemogingan/penyemprotan serta gotong royong khususnya di setiap lokasi endemik
2. Keagamaan
Suksesnya pelaksanaan MTQ Nasional ke 43 Tahun 2010 Tingkat Kota Medan adalah berkat peran serta masyarakat Instansi Pemerintah/
Swasta serta lembaga pengembangan Tilawatil Qur’an Kecamatan Medan Helvetia.
Guna lebih mendekatkan diri ke tengah-tengah masyarakat selalu menghadiri setiap kegiatan keagamaan yang diadakan oleh masyarakat dengan menyampaikan program-program Pemerintah Kota Medan dan pesan-pesan yang menyejukkan hati, demi tercapainya masyarakat yang harmonis dan dinamis dalam pembangunan.
3. Pendidikan
Dalam bidang pendidikan secara intern Camat Medan Helvetia selalu memacu setiap pegawai kecamatan dan kelurahan untuk terus meningkatkan pengetahuan baik formal maupun informal, serta mendorong untuk mengikuti kursus maupun pelatihan yang diadakan Pemerintah Kota Medan guna peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia.
Fungsi pengawasan terhadap penyaluran bantuan BP3 Terarah dilaksanakan dengan menghadiri upacara bendera hari Senin di sekolah secara bergiliran, seklaigus melakukan pendekatan agar sekolah-sekolah turut berperan aktif dalam menjaga kebersihan.
4. Kebersihan dan Gotong Royong
Program kebersihan di Kecamatan Medan Helvetia diarahkan untuk menyadarkan masyarakat berperan serta aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan/halaman masing-masing, yang dilakukan melalui penyuluhan, spanduk dan brosur.
Gotong royong juga tetap dilakukan secara berkala di setiap lingkungan guna mengantisipasi penyebaran penyakit, banjir dengan membersihkan parit yang tersumbatnya got dan mengadakan penyuluhan tentang pentingnya kebersihan bekerjasama dengan instansi terkait dan Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya.
BAB V ANALISI DATA
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan melalui teknik wawancara mendalam dengan informan.Peneliti berhasil mengumpulkan informan sebanyak 8 informan. Dari wawancara tersebut diperoleh latar belakang, data umum tentang latar belakang informan melalui nama, jenis usaha yang ditekuni, beserta pandangan ataupun pendapat informan mengenai perumusan masalah yang diteliti.
Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara mendalam dan observasi langsung ke lapangan itu juga diperoleh berbagai data-data untuk dapat dianalisi melalui pendekatan kualitatif.Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari data yang telah terkumpul, penulis coba membagi dalam beberapa bagian point-point terkait isu yang ingin diuraikan dengan memasukkan petikan wawancara dari informan serta narasi penulis tentang data-data tersebut.
5.1 Semangat lahirnya Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera Kecamatan Medan Helvetia
Kelahiran program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera Kecamatan Medan Helvetia yang resmi terbentuk pada 1 Januri 2010, pada dasarnya berawal dari respon para masyarakat pemilik usaha kecil dan beberapa masyarakat yang berkeinginan membuat usaha rumah tangga di Kecamatan Medan Helvetia untuk menjawab persoalan-persoalan yang sangat kompleks didalam hal meningkatkan mutu dan kualitas usaha serta modal usaha. Hal ini tercermin dari
masih banyaknya masyarakat kecil yang kekurangan modal usaha untuk mempertahankan usaha atau meningkatkan usaha yang sudah ada untuk dapat bersaing dengan usaha-usaha yang lebih besar yang memiliki modal lebih besar, baik dalam hal tenaga kerja, hasil produksi serta peralatan yang lebih memadai dan canggih.
Kondisi masyarakat yang khususnya bertempat tinggal didaerah Kecamatan Medan Helvetia yang masi banyak terdapat warga dengan perekonomian dibawah berkecukupan serta memiliki banyak jumlah penduduk karena merupakan daerah padat penduduk dan berada pada usia produktif untuk bekerja. Maka Kartika Eka Sari yang pada saat ini menjadi ketua kelompok UPPKS Kartika, dahulu melakukan pengorganisiran masyarakat sekitar Kecamatan Medan Helvetia yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap dan modal usaha untuk meningkatkan usaha rumahan ataupun yang ingin membuat usaha rumahan. Seperti juga yang disampaikan oleh Kartika Eka Sari ( Ketua Kelompok UPPKS Kartika medan Helvetia ), yaitu :
“Kelompok UPPKS Kartika 5 Maret 2010. Pada awalnya kelompok ini kita bentuk atas dasar kesulitan ekonomi yang kami rasakan warga Kecamatan Medan Helvetia Kelurahan Helvetia dalam hal modal usaha, Maka dengan ada nya program pemerintah melalui Badan Pemberdayaan Wanita dan Keluarga Berencana Kota Medan yang disosialisasikan oleh Kecamatan Medan Helvetia mengenai bantuan modal usaha dengan tidak memiliki bunga pinjaman , dengan itu kami sepakat membentuk kelompok UPPKS Kartika dengan haraopan
mendapatkan bantuan modal usaha untuk mengembangkan usaha rumah tangga yang kami geluti. Kami sepakat mengajak teman-teman kami untuk gabung dan membentuk pengurus kelompok UPPKS Kartika.”
Atas dasar kesamaan permasalahan dalam mengembangkan usaha atau pun membuat usaha baru dimasyarakat Kecamatan Medan Helvetia, maka membawa tujuan yang sama oleh para masyarakat di Kecamatan Medan Helvetia lainnya untuk membuat kelompok-kelompok UPPKS lainnya . Hal ini menjelaskan bahwa telah terjadi proses pengorganisasian masyarakat atau sering juga disebut dengan Community Organizing didalam proses terbentuknya kelompok UPPKS Di Kecamatan Medan Helvetia. Selain itu, tujuan bersama yang lahir tersebut merupakan buah kesadaran baru yang terlahir atas dasar pentingnya memiliki informasi tentang usaha yang digeluti, baik dari cara meningkatkan produksi, tempat pemasaran hasil usaha serta mengetahui alternafif usaha yang lebih menjanjikan hasil yang maksimal.
Berdasarkan kesadaran baru tersebut juga yang membawa beberapa rumah tangga yang tergabung dalam kelompok UPPKS di Kecamatan Medan Helvetia, dengan begitu banyak anggota kelompok UPPKS yang mencoba mengembangkan usaha yang sudah ada ataupun membuat usaha baru dalam rangka meningkat pendapat ekonomi keluarga, seperti apa yang disampaikan oleh Hairina ( Ketua kelompok UPPKS Mawar VI ), yaitu :
“ Sebelum saya bergabung dengan program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera dan membentuk kelompok UPPKS
Mawar VI, usaha saya tidak berkembang karena kesulitan modal dan informasi mengenai cara meningkatkan produksi serta pemasaran yang lebih menguntungkan . Setelah saya mendapatkan sosialisasi dari Kecamatan dengan adanya bantuan untuk usaha kecil saya tertarik dan ingin ikut serta , oleh karena itu saya membentuk kelompok yang beranggotakan tetangga sekitar lingkungan tempat tinggal saya dengan harapan mendapat bantuan dari pemerintah. Sekarang saya telah merasakan manfaat dari program UPPKS dengan majunya usaha yang saya geluti, demikian juga dengan teman satu kelompok saya juga merasakan perkembangan yang lebih baik dari sebelum mengikuti program UPPKS ini”.
5.2 Penerapan Prinsip-Prinsip Community Development (Pengembangan Masyarakat) Dalam Mencapai Tujuan Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera
5.2 1 Pemberdayaan Berbasis Kelompok Usaha.
Pada era kekinian, modal merupakan faktor yang sangat menentukan dalam menjalankan suatu usaha serta dibarengi dengan memiliki keterampilan dan pengetahuan dan kekuasaaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya ( Parson dalam Suharto, 2009:58 ).
Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat yang terpinggirkan, termasuk kaum perempuan, demikian pula masyarakat lain yang terabaikan. Hal ini
tidak menutupi kemungkinan bagi orang lain untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat meningkatkan untuk menganalisis kondisi dan potensi serta masalah-masalah yang perlu diatasi dalam menjalankan suatu usaha.
Masyarakat berperan serta dalam proses pengambilan proses keputusan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan sampai tahap penilaian kegiatan yang dikembangkan oleh dan untuk mereka. Seperti apa yang disampaikan oleh Lister Pasaribu ( Kordinator Pendamping Lapangan Keluarga Berencana UPPKS Kecamatan Medan Helvetia ), yaitu :
“Kecamatan Medan Helvetia merupakan kawasan padat penduduk dan memiliki sumber daya manusia yang berada pada usia produktif untuk bekerja, oleh karena itu perlu kiranya masyarakat mendapat arahan dan bantuan dari pemerintah untuk mengembangkat usaha rumah tangga dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga.Hal ini tentu kiranya perlu bantuan semua pihak terkait untuk mewujutkan pengembangan masyarakat yang berorientasi pada peningkatan perekonomian dengan usaha-usaha yang digeluti masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu, energi dan komitmen serta hasilnya belum tentu memuaskan, oleh karena itu tidak bisa dalam waktu yang singkat , akan tetapi diperlukan koordinasi dari pihak yang terlibat aktif dalam proses perdayaan itu sendiri. Sejauh ini kelompok UPPKS di Kecamatan Helvetia mengalami peningkatan dari tahun ketahun, hal ini ditandai dengan perekonomian
mereka yang semangkin baik serta usaha mereka semangkin berkembang , hal ini tidak lepas dari hasil pantauan dari kami selaku pendamping mereka yang dengan sabar membimbing dan mendengarkan keluh kesah yang mereka hadapi dalam meningkatkan usaha mereka, akan tetapi ada juga anggota dari beberapa kelompok yang usahanya tidak berkembang , hal ini disebabkan oleh kesalahan dalam mengelola usaha seperti menggunakan modal untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak memiliki pandangan yang maju untuk meningkatkan usaha yang digeluti”.
Dasar proses pemberdayaan adalah pengalaman dan pengetahuan tentang keberadaan nya sangat luas dan berguna serta kemauan mereka untuk menjadi lebih baik. Proses pemberdayaan ini bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya, mengoptimalkan sumber daya setempat sebaik mungkin, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Melalui proses pemberdayaan masyarakat diharapkan akan dikembangkan lebih jauh pola pikir yang kritis dan sistematis.
Pemberdayaan dalam aspek ekonomi dimaksutkan untuk memperkuat akses dan pengendalian atas pendapatan bagi perempuan, upaya ini perlu dilakukan mengingat akses dan pengendalian atas pendapatan bagi perempuan merupakan hal yang sangat penting.Sebagai ungkapan Friedmannyang dikutip Onny S Priyono (1996:2011) bahwa seseorang yang mendapat gaji memiliki kewenangan, keistimewaan lebih besar dan kebebasan untuk bertindak lebih besar.Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan hingga kini masi belum berjalan sesuai dengan yang
diharapkan.Hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi, pertama, perempuan dalam bekerja sering terganggu karena mengalami masalah kehamilan atau
diharapkan.Hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi, pertama, perempuan dalam bekerja sering terganggu karena mengalami masalah kehamilan atau