• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP COMMUNITY DEVELOPMENT DALAM PELAKSANAAN PROGRAM USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP COMMUNITY DEVELOPMENT DALAM PELAKSANAAN PROGRAM USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP COMMUNITY DEVELOPMENT DALAM PELAKSANAAN PROGRAM USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN KELUARGA SEJAHTERA DI KECAMATAN MEDAN HELVETIA KOTA

MEDAN

Diajukan guna memenuhi salah satu syarat

untuk memperoleh gelar sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

OLEH :

SIMON J V SILAEN 120902037

DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh :

Nama :Simon J V Silaen Nim :120902037

Judul : Penerapan Prinsip-prinsip Community Development dalam Pelaksanaan Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan

Medan, 25 Juni 2016

DOSEN PEMBIMBING

NIP : 19720308 200501 1 001 Husni Thamrin S.Sos., M.S.P.

KETUA DEPARTEMEN

NIP : 19710927 1998101 20 001 Hairani Siregar, S.Sos, M.SP

DEKAN FISIP USU

NIP : 19680525 199203 1 002 Dr. Muriyanto Amin, S.sos.,M.Si

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL Nama : SIMON J V SILAEN

NIM : 120902037

ABSTRAK

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP COMMUNITY DEVELOPMENT DALAM PELAKSANAAN PROGRAM USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN KELUARGA SEJAHTERA DI KECAMATAN MEDAN HELVETIA KOTA

MEDAN

Skripsi ini berjudul “ Penerapan Prinsip-prinsip Community Development dalam Pelaksanaan Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan”. Skripsi ini terdiri dari enam bab,Masalah yang dibahas dalam skripsi ini adalah bagaimana penerapan prinsip-prinsip community development dalam pelaksanaan program usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera di kecamatan Medan Helvetia, yang dimana program usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera merupakan suatu program yang di lakukan oleh BKKBN untuk para akseptor KB atau keluarga pra sejahtera yang tujuannya untuk membuat para akseptor yang tergabung dalam kelompok-kelompok UPPKS dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan sebagai salah satu lokasi program yang dilakukan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana ( BKKBN ) . Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan objek dan fenomena yang diteliti. Untuk memperoleh data yang di butuhkan , maka penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data studi kepustakaan dan studi ke lapangan yang terdiri dari wawancara dan observasi.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kesejahteraan keluarga peserta program usaha peningkatan pendapatan keluarga berencana yang dimana dengan diterapakannya prinsip-prinsip community development dalam program tersebut sangat membantu mereka dalam mencapai tujuan dari keikutsertaan mereka sebagai peserta program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera ( UPPKS).

Kata kunci : Prinsip-prinsip community development, Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera.

(4)

UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA

FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE SCIENCE DEPARTEMENT OF SOCIAL WELFARE

NAME : SIMON J V SILAEN NIM : 120902037

ABSTRACT

THEAPPLICATIONOF THEPRINCIPLES OF COMMUNITY DEVELOPMENT INTHEPROGRAMIMPLEMENTATIONOFINCREASINGREVENUEPROSPER OUSFAMILYIN KECAMATANMEDAN HELVETIAOF THE CITY OF MEDAN

This thesis titled “ the application of the principles of community development program in increasing family income business prosperous in medan helvetic sub- district the city of medan “.Thesis it consists of six chapters , problems discussed in this thesis is how the application of the principles of community development program in increasing family income business prosperous in medan helvetic sub- district , that is where the increasing family income business prosperous is a program that in doing by bkkbn to the acceptors or pre prosperous family whose aim to make the acceptors joined in uppks groups can improve the welfare of his family .

The study is done in kecamatan medan helvetic of the city of medan as one of the program be done by the population and family planning ( BKKBN ).This research in a research descriptive with a qualitative approach aimed at depicting objects and its phenomena study.To obtain the data need, so this research using a technique data collection study literature and study to a fieldwork consisting of interviews and observation.

The results of the analysis data show that been an increase in family welfare participate in the program of increasing revenue of family planning that in which diterapakannya principles community development in the program are very helpful they in achieving its objectives the they to participate in the program of increasing revenue prosperous family (UPPKS ).

Key words :The principles community development, Program of increasing revenue prosperous family .

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR BAGAN ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB IPENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah………...………...……….1

1.2 Perumusan Masalah………..………...………...………..9

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian………...………..9

1.3.1 Tujuan Penelitian………..………...………..……...9

1.3.2 Manfaat Penelitian………...………..9

1.4SistematikaPenulisan………...…………..………10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Community Development (Pengembangan Masyarakat) 2.1.1 Pengertian Community Development (Pengembangan Masyarakat) ………...………...………..12

2.1.2 Prinsip-prinsip Community Development (Pengembangan Masyarakat)…………...………...…………..13

2.2 Kebijakan Publik………24

2.3 Pemberdayaan masyarakat…………..………...…27

2.4 Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)………....………..…..….31

2.4.1 Pengertian Kelompok UPPKS………...……31

2.4.2 Pokok-pokok kegiatan kelompok UPPKS………...…………...…32

2.5 Kemiskinan Menurut BKKBN.………..………...33

2.6 Kerangka Pemikiran….………...………...34

2.7 Defenisi Konsep……….37

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian………...……….39

3.2 Lokasi Penelitian………...……….39

3.3 Informan 3.3.1 Informan Utama………...………..40

3.3.2 Informan Kunci………..………40

3.4 Teknik Pengumpulan Data………...………..41

3.5 Teknik Analisis Data………...…………...42

BAB IV LOKASI PENELITIAN 4.1 Deskripsi Wilayah……….……...43

(6)

4.2 Keadaan Demografi...44

4.2.1 Jumlah Penduduk...44

4.2. 2 Tenaga Kerja...45

4. 2.3 Agama...46

4. 2.4 Suku...46

4.3 Prasarana dan Fasilitas...46

4.3.1 Sarana Pendidikan...46

4.3. 2 Sarana Kesehatan...47

4.3.3 Sarana Olahraga...47

4.3.4 Sarana Peribadatan...47

4.3.5 Sarana Jalan...47

4.4 Struktur Organisasi...48

4.5 Program Kegiatan Kecamatan...49

4.5.1 Bidang Pemerintahan...49

4.5.2 Bidang Pembangunan………...50

4.5.3 Bidang Kemasyarakatan………...51

BAB V ANALISIS DATA 5.1 Semangat lahirnya Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera Kecamatan Medan Helvetia………..………….55

5.2Penerapan Prinsip-Prinsip Community Development (Pengembangan Masyarakat) Dalam Mencapai Tujuan Program Usaha Peningkatan Pendapatan KeluargaSejahtera………58

5.2 1 Pemberdayaan Berbasis Kelompok Usaha………58

5.2.2 Kemandirian Dalam Menjalankan Usaha……….……….62

5.2.3 Proses dan hasil dalam kegiatan Kelompok……….….66

5.2.4Partisipasi Pelaksanaan Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera……….…69

5.2.5 Menentukan Kebutuhan Dalam Pelaksanaan Program………..72

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan………..75

6.2 Saran………76 DAFTAR PUSTAKA

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Helvetia Tabel 4.2 Keadaan Penduduk Kecamatan Medan Helvetia

(8)

DAFTAR BAGAN

Bagan Alir Pemikiran ………36

Struktur Organisasi Kecamatan Medan Helvetia………….………...48

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Pedoman Wawancara

Lampiran II : Dokumentasi

Lampiran III : Pengajuan dan Persetujuan Judul Skripsi

Lampiran IV : ACC Seminar Proposal

Lampiran V : Berita acara Seminar Proposal Penelitian

Lampiran VI : ACC Lapangan

Lampiran VII : Surat Pengantar Izin Penelitian dari FISIP

Lampiran VIII : Surat Izin Penelitian dari Balitbang Kota Medan

Lampiran IX : Surat Izin Penelitian dari kecamatan Medan Helvetia

Lampiran X : ACC Meja Hijau

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Masalah kemiskinan memang telah ada sejak dahulu kala.Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi.Dipandang dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan pelayanan kesehatan dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada zaman modern.

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang memiliki beban cukup berat dalam pembangunan yang ditandai dengan kerentanan,ketidakberdayaan, keterasingan serta ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi.

Pembangunan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah secara normatif bertujuan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.Tampaknya hanya angan-angan keberhasilan, karena penduduk miskin masih terdapat di pedesaan dan perkotaan.Orang-orang miskin terlihat berkelompok- kelompok di persimpangan jalan menjadi pengemis, pengamen, peminta sumbangan, tukang semir sepatu dan lain sebagainya.

Menyikapi banyaknya pengangguran yang terjadi adalah salah satu akibat dari Pemutusan Hubungan Kerja. Orang-orang/buruh-buruh yang tidak menentu pendapatannya menjadi korban yang harus dibantu oleh pemerintah baik dana, pendidikan, sarana atau fasilitas yang mengangkat merekadari garis kemiskinan.

Kemiskinan mereka bermula dari upah kerja yang minim dan tidak sesuai dengan

(11)

tingginya angka kebutuhan hidup sehari-hari. Gaji yang rendah yang tidak sesuai dengan upah minimum provinsi sudah pasti tidak cukup untuk membiayai kebutuhanhidup(Payana,2012).

Istilah besar pasak dari pada tiang “lebih besar pengeluaran dari pada pendapatan” sudah sering dialami oleh masyarakat.Sulitnya mencari pekerjaan bagi mereka yang pendidikannya rendah dan persaingan kerja mengakibatkan semakin sulitnya untuk mencapai kesejahteraan.Banyaknya pengangguran yang belum memperoleh pekerjaan, ditambah lagi persoalan kesejahteraan buruh juga menjadi perdebatan yang sampai hari ini belum terselesaikan.

Tarik-menarik antara pihak perusahaan dengan buruh pun terus terjadi.Persoalan yang sesungguhnya muncul berawal dari masalah ekonomi dan berubah menjadi masalah politik, karena kesejahteraan erat kaintannya dengan kebutuhan minimum buruh.Jika persoalan ini tidak cepat untuk diatasi, bisa jadi dipolitisir oleh orang-orang yang punya kepentingan. Berbicara kesejahteraan, maka kita akan sampai pada upah minimum regional atau yang saat ini lebih dikenal dengan upah minimum kabupaten/kota.

Munculnya Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Provinsi sebagai daerah otonom maka pemberlakuan upah minimum regional berubah menjadi upah minimum provinsi atau upah minimum kabupaten/kota. Kebijakan pemerintah tentang upah minimum kabupaten/kota merupakan angin segar bagi buruh, karena kehidupan buruh sebagai bagian terpentingdari sekian faktor produksi tidak kunjung membaik. Kebijakan upah minimum kabupaten/kota tersebut, kembali membuka harapan untuk memperbaiki

(12)

tingkat kesejahteraan masyarakat. Kebijakan satu provinsi dengan provinsi lain tidaklah sama, kondisi perekonomian yangrelatif baik dan tingkat kebutuhan hidup yang tinggi akan berpengaruh besar terhadap besar-kecilnya upah minimum kabupaten/kota(Mochtar,2013).Daerah-daerah yang dekat dengan ibu kota Jakarta secara kasat mata dipastikan upah minimun kabupaten/kotanya lebih tinggi dari daerah lain. Sebanding dengan biaya hidup yang tinggi pula.Daerah yang jauh dari ibu kota Jakarta atau kota-kota besar lainnya, barangkali memiliki upah minimum kabupaten/kota lebih kecil namun biaya kebutuhan hidup tidak terlalu tinggi seperti halnya ibu kota Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Tetapi, tidak untuk saat ini yang semuanya serba sulit dan serba mahal.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilaksanakan badan pusat statistik provinsi Sumatera Utara, pada bulan september 2011 menunjukan bahwa jumlah penduduk miskin di provinsi Sumut sebanyak 1.421.400 orang (10,83%) dari jumlah total penduduk Sumut. “Kondisi ini lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi pada bulan maret 2011 yang jumlah penduduk miskinnya sebanyak 1.481.300 orang (11,33%). Penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 59.900 orang serta penurunan persentase penduduk miskin sebesar 0,50 poin (BPS,2011).

Beberapa upaya pemerintah dalam mengentas kemiskinan telah dilakukan, tetapi hasilnya tidak begitu menunjukkan perubahan yang signifikan.Munculnya usaha bersama untuk tujuan produktif pada awalnya tidak selalu atas prakarsa masyarakat, bisa juga merupakan inisiatif dari pihak luar yang kemudian terinstitusionalisasi.Perkembangan terakhir banyak program pengentasan kemiskinan

(13)

yang merupakan program pemerintah tetapi dalam pelaksanaanya di kelola dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.

Sebagai contoh yaitu Program Pengentasan Kemiskinan Perkotaan dengan mengembangkan lembaga yang diberi nama Badan Keswadayaan Masyarakat yang dibentuk oleh masyarakat melalui Kelompok Swadaya Masyarakat. Masyarakat melakukan pengelolaan dan aktivitas sendiri guna pengentasan kemiskinan.Program ini dirancang bukan sebagai bagian dari tindakan karitatif atau tindakan darurat sebagai jaring pengaman sosial, melainkan program yang ingin menumbuhkan kapasitas masyarakat untuk mampu mengelola usaha produktif secara mandiri dan berkesinambungan (Soetomo, 2008: 270-271).

Masalah kemiskinan bukanlah masalah yang bisa dipandang sebelah mata.

Program-program yang ada tidak sepenuhnya bisa menuntaskan kemiskinan sampai benar-benar tuntas, pemerintah terus berusaha dengan berbagai upaya dalam proses mengurangi kemiskinantersebut. Program pemberdayaan ini bukanlah satu-satunya upaya dari pemerintah, tetapi program ini cukupberperan penting dalam pengentasan kemiskinan.Program tersebut adalah program pemberdayaan masyarakat dalam bentuk Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera/UPPKS yang berada di bawah naungan BKKBN.

Kepeloporan BKKBN dalam melakukan pengembangan ekonomi keluarga yang produktif melalui proses pemberdayaan keluarga dimaksudkan untuk dapat menarik dan mendorong berbagai sumberdaya ekonomi yang tersedia, agar dapat mendukung sasaran yang diperioritaskan BKKBN. Sasaran perioritas tersebut yaitu

(14)

pra keluarga sejahtera I yang pada akhirnya dapat melakukan wirausaha dan sekaligus menjadi akseptor KB secara mandiri.

BKKBN telah mempelopori dan mengembangkan upaya pemberdayaan melalui program usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera. Program tersebut merupakan integrasi dengan program keluarga berencana yang dicanangkan dalam bentuk kelompok KB dalam rangka pelembagaan dan pembudayaan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.Ditandai dengan diterbitkannya UU No. 10 tahun 1992, tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Dalam buku Subagus & Meirida, 2007: 1).Kegiatan peningkatan kesejahteraan keluarga bukan lagi sekedar program integrasi akan tetapi sudah menjadi satu besaran yang menyatu dengan program KB nasional yang pada awalnya program income generating activities(kegiatan peningkatan pendapatan), kemudian disempurnakan menjadi program pemberdayaan ekonomi keluarga yang dilaksanakan dalam kaedah kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera/UPPKS.

Peningkatan kesejahteraan melalui upaya pemberdayaan keluarga adalah suatu hal yang tidak dapat ditawar lagi. Pemberdayaan merupakan jalan terobosan yang akan mempercepat perubahan kegiatan sosial non ekonomi menjadi suatu usaha ekonomi. Pada prinsipnya pemberdayaan merupakan upaya untuk mendinamisasikan faktor-faktor penting yang ada pada keluarga, yang bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan keluarga yang dimulai dari aspek mengenali masalah, kebutuhan, aspirasi dan menghargai potensi yang dimiliki serta mempercayai tujuan yang ingin dicapainya.

(15)

Upaya pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat, semangat, serta keterampilan keluarga dalam bidang usaha ekonomi produktif.Melalui upaya ini keluarga khususnya keluarga pra sejahtera I, diharapkan mampu memanfaatkan peluang usaha yang ada dalam rangka pemberdayaan usaha ekonomi produktif pada skala rumah tangga.

Proses pemberdayaan ini, diharapkan akan menghasilkan perubahan perilaku yang produktif sehingga dapatberkembang menjadi pengusaha mikro, kecil dan koperasi.

Anggota kelompok yang belum bisa menjadi pengusaha akan menjadi tenaga terampil dengan spesialisasi tertentu. Peran UPPKS adalah sebagai wadah pembinaan dan pengembangan keluarga.Khususnya dalam pengembangan fungsi ekonomi keluarga. Kelompok UPPKS ini berfungsi sebagai wadah untuk mengembangkan semangat dan kemampuan berwirausaha, mengorganisasikan usaha-usaha ekonomi produktif, dan sebagai jalur penyaluran kredit yang meliputi Dana bergulir, dana BUMN, Kukesra, Kredit Pengembangan Kemitraan Usaha, Kukesra Mandiri, Dana Bantuan Sosial dari DIPA BKKBN serta kredit dari sumber-sumber yang terjangkau (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 2007: 3).

Sebagai contoh dalam kebijakan pembangunan ekonomi daerah Lombok Timur yaitu: masalah program peningkatan sumberdaya manusia dalam program yang disebut dengan “klinik tenaga kerja”. Program ini menganggarkan 1,5 milyar rupiah yang diperuntukkan untuk pembinaan keterampilan bagi keluarga-keluarga migran internasional yang diberikan melalui sistem pinjaman bergulir. Jika dilihat jumlahnya, dana ini cukup untuk menunjukkan perhatian pemerintah daerah pada persoalan-persoalan tenaga kerja. Secara substansial sesungguhnya jumlah tersebut

(16)

lebih tepat dipandangsebagai dana stimulan untuk memancing keterlibatan masyarakat lebih besar dalam proses pembangunan yang dilaksanakan pemerintah khusunya dalam bidang tenaga kerja (Haris, 2003: 49).

Pada era otonomi daerah saat ini, BKKBN tidak dapat lagi melakukan intervensi program kepada kabupaten/kota terkait kependudukan dan KB.Untuk itu perlu dilakukan inovasi program dalam bentuk kemitraan, apalagi dengan banyak berkurangnya petugas lapangan KB dan tidak ada lagi bantuan permodalan untuk kelompok UPPKS dari APBN.Pada rencana pembangunan jangka menengah nasional 2010–2014 khususnya di tahun 2011. Kemitraan lebih diarahkan pada penguatan mitra kerja yang telah terbentuk seperti dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Santoso,2011). Perguruan tinggi juga ikut berperan dalam proses pembangunan masyarakat dengan memberdayakan mahasiswa yang mengikuti praktek Kuliah Kerja Nyata. Hal ini direncanakan akan dikembangkan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Partisipasi LPPM perguruan tinggi memiliki daya ungkit yang sangat besar terhadap keberhasilan program di masa mendatang.

Lembaga pendidikan tidak terkena dampak dari diberlakukannya otonomi daerah dan telah membantu program KB umumnya dan program pemberdayaan ekonomi keluarga khususnya seperti yang dilakukan oleh LPPM Unimed(Humas unimed,2015).

Jumlah kelompok UPPKS yang ada dalam database kelompok UPPKS online sampai dengan Januari 2016 di Sumatera Utara terdapat 655 kelompok dengan jumlah anggota 7785 orang. Untuk Kota Medan sendiri terdapat 78 jumlah kelompok UPPKS yang beranggotakan 840 orang. Kelompok-kelompok tersebut terbagi dalam

(17)

beberapa jenis usaha di bidang pertanian, peternakan , industri , perdagangan dan di bidang jasa.Di Kecamatan Medan Helvetia terdapat 12 kelompok UPPKS (Database online UPPKS Provinsi Sumatera Utara).

Alasan peneliti tertarik meneliti di kecamatan Medan Helvetia Kota Medan adalah karena daerah ini merupakan salah satu pelaksana program UPPKS. Selain itu, banyak hal yang ingin penulis ungkapkan bagaimana penerapan prinsip-prinsip community development(pengembangan masyarakat) dan banyak nya kelompok- kelompok usaha yang terbentuk di daerah ini semakin menambah ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian di Kecamatan Medan Helvetia kota Medan.

Banyaknya kelompok yang terbentuk di Kecamatan Medan Helvetia dan tingginya partisipasi masyarakat dalam pengembangan masyarakat menjadikan program UPPKS ini terlaksana.Sementara itu berdasarkan data tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Medan Kecamatan Medan Helvetia merupakan kelompok terbanyak di daerah Kota Medan, akan tetapi kenyataan dilapangan program UPPKS di kecamatan Medan Helvetia tidak berkelanjutan dan hampir matisuri, Selanjutnya dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk pentingnya menerapkan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada latar belakang, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut masalah ini dalam bentuk skripsi dengan judul

“Penerapan Prinsip–Prinsip Community Development dalam Pelaksanaan

(18)

Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan”

1.2 Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Sejauh mana penerapan prinsip-prinsip community development dalam pelaksanaan program usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera di kecamatan Medan Helvetia Kota Medan?”

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penerapan prinsip-prinsip community development dalam peleksanaan program usaha pendapatan keluarga sejahtera di kecamatan Medan Helvetia Kota Medan.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai berikut ini:

1. Menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan permasalahan pemberdayaan masyarakat melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Sumatera Utara khususnya di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan.

2. Semoga dapat digunakan sebagai bahan masukan,pertimbangan,dan sebagai bahan evaluasi khususnya bagi kelompok UPPKS di kecamatan Medan

(19)

Helvetia Kota Medan,dan bagi daerah-daerah sekitar,pemerintah,maupun pihak-pihak luar secara umum guna meningkatkan program pemberdayaan masyarakat kedepannya.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah:

BAB I: PENDAHULUAN

Berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

Berisikan uraian teori-teori yang berkaitan dengan objek yang diteliti, kerangka penelitian, defenisi konsep dan defenisi operasional.

BAB III: METODE PENELITIAN

Berisikan teknik penelitian, sejarah singkat, populasi dan sampel serta teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

BAB IV: DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Berisikan gambaran umum lokasi penelitian yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti.

(20)

BAB V: ANALISIS DATA

Berisikan uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian beserta dengan analisisnya.

BAB VI: PENUTUP

Berisikan kesimpulan dan saran-saran yang bermanfaat sehubungandengan penelitian yang telah dilakukan.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Community Development

2.1.1 Pengertian Community Development (Pengembangan Mayarakat)

Community development (pengembangan masyarakat) adalah upaya mengembangkan sebuah kondisi masyarakat secara berkelanjutan dan aktif berdasarkan prinsip-prinsip keadilan sosial dan saling menghargai .Para pekerja kemasyarakatan berupaya memfasilitasi warga dalam proses tercipta nya keadilan sosial dan saling menghargai melalui program-program pembangunan secara luas yang menghubungkan seluruh komponen masyarakat. Pengembangan masyarakat menerjemahkan nilai-nilai keterbukaan, persamaan, pertanggunjawaban, kesempatan, pilihan, partisipasi saling menguntungkan saling timbal balik, dan pembelajaran terus menerus. Inti dari pengembangan masyarakat adalah mendidik, membuat anggota masyarakat mampu mengerjakan sesuatu dengan memberikan kekuatan atu saran yang diperlukan dan memberdayakan mereka(FDCL,2003:1).

Pengembangan masyarakat adalah komitmen dalam memberdayakan masyarakat lapis bawah sehingga mereka memiliki berbagai pilihan nyata menyangkut masa depan nya.Masyarakat lapis bawah umumnya terdiri atas orang- orang lemah,tidak berdaya dan miskin karena tidak memiliki sumber daya atau tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol sarana produksi.Mereka umumnya terdiri

(22)

atas buruh, petani penggarap, petani berlahan kecil, para nelayan, masyarakat hutan, kalangan pengangguran, orang cacat, dan orang-orang yang di buat marginal karena umur, keadaan gender ,ras, dan etnis.

Pengembangan masyarakat sering kali diimplementasikan dalam bentuk kegiatan.Pertama,program-program pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh daya dukung dan kekuatan dalam memenuhi kebutuhannya.

Kedua,kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan warga kurang mampu dapat di penuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggung jawab (Payne,199:165).Dengan demikian pengembangan masyarakat dapat didefenisikan sebagai metode yang memungkinkan individu-individu dapat meningkatkan kualitas hidup nya serta mampu memperbesar pengaruh terhadap proses-proses yang memengaruhi hidupnya.Menurut Twelvetress, pengembangan masyarakat adalah

“the process of assisting ordinary people to improve own communities by undertaking collective actions.”secara Khusus pengembangan masyarakat berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan orang –orang yang tidak beruntung atau tertindas ,baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun diskriminasi berdasarkan kelas sosial, suku, gender, jenis kelamin, usia dan kecacatan(Edi Suharto,2003:12).

2.1 2Prinsip-prinsip Community Development (Pengembangan Masyarakat) Pengembangan masyarakat dengan berpijak pada kerangka konseptual yang di kembangkan oleh teori-teori sosial kritis seperti Marxis dan teori feminis dalam

(23)

rangka mengkritisi praktik diskriminasi dan mengungkapkan struktur dan ideology yang mendasari praktik diskriminasi.

Secara garis besar ada 4 prinsip pengembgan masyarakat( Kenny, Susan,1994: 17) :

Pertama,Pengembangan Masyarakat menolak pandangan yang tidak memihak pada sebuah kepentingan ( disinterest ).

Kedua, Mengubah dan terlibat pada konflik.

Ketiga, Membebaskan, membuka masyarakat dan menciptakan demokrasi parsipatori.

Keempat, Kemampuan mengakses terhadap program-program pelayanan kemasyarakatan.

Berdasarkan keempat prinsip diatas yang sifat nya sangat padat oleh karena itu penulis pada bagian ini memilih pembahasan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat secara lebih detail dan mendalam.Menurut Jim Ife,pengembangan masyarakat mempunyai 22 prinsip. Antara lain satu prinsip sama yang lain saling berkaitan dan saling melengkapi.Prinsip-prinsip ini diasumsikan menjadi pertimbangan bagi sukses atau tidak nya suatu kegiatan pengembangan masyarakat dan dianggap konsisten dengan semangat keadilan sosial dan sudut pandang ekologis(Ife,Jim,1997: 178-198).Prinsip-prinsip ini dimaksudkan sebagai seperangkat prinsip dasar yang akan mendasari pendekatan pengembangan masyarakat bagi semua praktik kerja masyarakat.

(24)

1.Pembangunan Menyeluruh

Pembangunan sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan, dan personal/spiritual dari kehidupan masyarakat.Program pengembangan masyarakat harus memperhatikan keenam aspek tersebut.Hal ini berarti bahwa keenam aspek berjalan bersama-sama dan mendapatkan porsi yang sama, tetapi mungkin salah satu diprioritaskan dengan tidak boleh meninggalkan yang lain. Contoh pembangunan ekonomi tidak boleh meninggalkan kelima aspek pembangunan yang lainnya.

Pembangunan masyarakat yang hanya mengkonsentrasikan pada satu aspek saja, akan menghasilkan pembangunan yang tidak lengkap.Oleh karena itu, hal yang penting bagi pekerjaan masyarakat adalah berjalannya keenam aspek tersebut bersama-sama.

2.Melawan Kesenjangan Struktural

Pengembangan masyarakat hendaknya peduli terhadap beraneka praktik penindasan kelas,gender, dan ras sebagai konsekuensinya,pengembangan masyarakat tidak akan menimbulkan penindasan struktural baru .Oleh karena itu, para aktivis sosial harus mencermati praktik-praktik penindasan yang kemungkinan terjadi dalam institusi media, sistem sosial, struktur organisasi, bahasa, ekonomi, pasar dan iklan.

Di luar hal itu, perlu juga dicemati adanya praktik penindasan karena umur,ketidakmampuan fisik dan keadaan gender. Struktur dan proses pengembangan masyarakat perlu mengarahkan kepada struktur penindasan yang dominan.Pengembangan masyarakat harus memfokuskan program nya kepada penanganan isu-isu kelas,gender,ras,umur,ketidakmampuan dan seksualitas untuk mencengah penindasan dimaksud.

(25)

3.Hak Asasi Manusia

Pengembangan masyarakat harus menjunjung tinggi penghargaan hak asasi manusia.Hak asasi manusia perlu memperoleh perhatian secara serius bagi pekerja masyarakat, baik dalam pandangan negatif (protection of human right) maupun positif (promotion of human right).Dalam pandangan negatif, hak asasi manusia adalah penting bagi pengembangan masyarakat.Oleh sebab itu, setiap program pengembangan masyarakat harus selaras dengan prinsip-prinsip hak asasi dasar umat manusia.Dalam pandangan positif, para aktivis pengembangan masyarakat menjadikan deklarasi universal dan hak-hak asasi manusia sebagai tujuan pengembangan masyarakat.

4.Berkelanjutan

Pengembangan Masyarakat merupakan bagian dari upaya untuk membangun tatanan sosial , ekonomi, dan politik baru, yang proses nya dan stukturnya secara berkelanjutan. Setiap kegiatan pengembangan masyarakat harus berjalan dalam kerangka berkelanjutan, bila tidak ia tidak akan dalam waktu yang lama.

Keistimewaan dari prinsip berkelanjutan adalah ia dapat membangun struktur,organisasi,bisnis,dan industri yang dapt tumbuh dan berkembang dalam berbagai tantangan.Jika pengembangan masyarakat berjalan dalam pola berkelanjutan diyakini akan dapat membawa sebuah masyarakat menjadi kuat, seimbang dan harmonis, serta concern terhadap keselamatan lingkungan.

5.Pemberdayaan

Pemberdayaan berarti menyediakan sumber daya, kesempatan, pengetahuaan dan keterampilan dalam rangka meningkatkan kemampuan warga miskin untuk

(26)

menentukan masa depan nya sendiri dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakatnya.

Strategi pemberdayaan yang lengkap menuntut bahwa hambatan-hambatan yang dihadapi oleh masyarakat dalam menggunakan kekuatannya dipahami , diperlihatkan, dan dipecahkan. Kendala-kendala ini berupa struktus yang menindas (kelas,ras/etnis), bahasa, pendidikan, mobilitaspribadi dan dominasi para elite dalam struktur kekuasaan masyarakat.Perlu dipahami oleh pekerja sosial bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu, energi, dan komitmen, serta hasilnya belum tentu memuaskan.

6. Personal dan Politik

Keterkaitan antara personal dan politik , individu dan struktural, atau masalah- masalah publik merupakan komponen yang paling penting dalam pembangunan sosial.

Keseluruhan pengalaman pribadi bisa dihubungkan dengan cara ini, setiap isu yang sifatnya pribadi bisa menjadi bagian sisi politik.Pengembangan masyarakat memiliki potensi untuk membangun antara kepentingan pribadi dengan kepentingan politik.Upaya ini menjadi penting untuk membangkitkan kesadaran, memberdayakan dan menggembangkan suatu program tindakan terhadap pemecahan masalah.

7. Kepemilikan Masyarakat

Dasar yang dipegangi dalam kegiatan pengembangan masyarakat adalah konsep kepemilikan bersama. Kepemilikan bisa di pahami dari dua tingkatan yaitu kepemilikan terhadap barang materialserta kepemilikan structural dan proses.

Kepemilikan barang material,seperti barang-barang komoditas,tanah,banguna,dan

(27)

sebagainya.Kepemilikan struktural dan proses seperti kontrol masyarakat, pelayanan kesehatan, menentukan kebijaksanaan keaktifan lokal,perumahan,pengembangan lokal, dan sebagainya.

8. Kemandiriaan

Masyarakat hendaknya mencoba memanfaatkan secara mandiri terhadap sumber daya yang dimiliki seperti: keuangan, teknis, alam dan manusia daripada menggantungkan diri terhadap bantuan dari luar. Melaui program pengembangan masyarakat diupayakan agar para warga mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber daya yang ada dalam masyarakat semaksimal mungkin. Kemandirian masyarakat secara total di era industri tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kepercayaan diri semaksimal mungkin.Kemandirian ini merupakan arah realistis yang perlu di wujudkan.

9.Kebebasan dari Negara

Prinsip Kemandirian memunculkan isu menyangkut hubungan antara masyarakat dengan negara.Negara mensponsori pengembangan masyarakat merupakan sebuah tradisi yang lama.Respon alamiah dari sebuah pemerintahan dalam merasakan kebutuhan pembangunan masyarakat adalah menciptakan berbagai program pembangunan masyarakat yang di dukung oleh negara.Hal ini bukan berarti dukungan dari pemerintah tidak harus diterima. Kadang-kadang , para aktivis pengembangan masyarakat tidak memiliki alternatif pendanaan yang realistik dan kadang-kadang dukungan pemerintah perlu untuk memulai proses pengembangan masyarakat.Namun,secara umum akan lebih baik kalau sebuah masyarakat bekerja tanpa pendanaan pemerintah.

(28)

10.Tujuan Langsung dan Visi yang Besar

Dalam pekerjaan masyarakat selalu ada pertentangan antara pencapaian tujuan langsung seperti penghematan sumber daya alam dan visi besar berupa penciptaan kondisi masyarakat yang lebih baik.Dalam pengembangan masyarakat, kedua elemen tersebut merupakan hal yang esensial untuk diwujudkan dalam rangka mempertahankan keseimbangan program jangka pendek dan jangka panjang.

Dalam hal ini, para aktivis pengembangan masyarakat dituntut menjawab sebuah tantangan berupa sejauh mana mereka bisa menghubungkan tujuan langsung dengan visi jangka panjang, menunjukkan bagaimana sebuah visi tidak hanya relevan dengan visi yang lain,tetapi tidak terpisah kan secara berkelanjutan dengan pencapaian tujuan yang lain.

11.Pembangunan Organik

Cara termudah untuk mempelajari konsep pembangunan organic sebagai lawan dari pembangunan mekanistik adalah mengamati perbedaan antara kerja sebuah mesin dan perkembangan sebuah tujuan.

Masyarakat secara esensial adalah organism (seperti tumbuhan), bukan mekanistik (seperti mesin). Oleh karena itu, pengembangan masyarakat tidak diarahkan oleh hukum teknis sebab akibat yang sederhana, namun merupakan suatu proses yang rumit dan dinamis. Memelihara dan mempertahankan program pengembangan masyarakat jauh rumit dibandingkan ilmu pengetahuan.

Pembangunan secara organic berarti bahwa seseorang menhormati dan menghargai sifat-sifat khusus masyarakat, membiarkan serta mendorongnya untuk

(29)

berkembang dengan caranya sendiri,melalui sebuah pemahaman terhadap kompleksitas hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya.

12.Laju Pembangunan

Konsekuensi pembangunan organik adalah bahwa masyarakat sendiri menentukan jalannya proses pembangunan.berusaha membangun masyarakat secara tergesa-gesa dapat mengakibatkan terjadinya kompromi secara fatal. Bisa jadi, masyarakat akan kehilangan rasa memiliki proses tersebut dan kehilangan komitmen untuk terlibat dalam proses pembangunan.

13.Kepakaran Eksternal

Keahlian yang dibawa oleh tenaga ahli dari luar belum tentu bisa menjamin mulusnya pelaksanaan proses pembangunan masyarakat dalam suatu lokasi.Prinsip keragaman ekologis menekankan bahwa tidak ada suatu cara yang paling benar untuk melakukan sesuatu dan tidak ada jawaban tunggal yang mesti cocok untuk setiap masyarakat. Apa yang berjalan pada suatu lingkungan belum tentu berjalan di lingkungan lain.Oleh karena itu,prinsip utama pembangunan masyarakat tidak harus selalu mempercayai adanya struktur ataupun solusi yang datang dari luar walaupun telah dianggap sangat baik. Hal ini bukan berarti bahwa sebuah proses pembangunan masyarakat tidak bisa mengambil keuntungan dari pihak luar. Yang jelas, keahlian yang telah dikembangkan di tempat lain akan lebih menguntungkan bila hal itu di teliti dahulu apakah hal itu cocok dengan situasi lokal.

14.Pembentukan Masyarakat

Semua pembangunan masyarakat harus bertujuan untuk membentuk sebuah masyarakat yang baru. Pembentukan masyarakat melibatkan upaya peningkatan

(30)

interaksi sosial dalam masyarakat,membangun kebersamaan dan membantu mereka untuk berkomunikasi dengan sesamanya dalam rangka menciptakan dialog, saling memahami, dan melahirkan tindakan sosial.

15.Proses dan Hasil

Pertentangan antara proses dan hasil telah menjadi isu besar dalam pekerjaan masyarakat. Pendekatan prgmatis cenderung menekankan kepada hasil. Dalam pendekatan ini, apa yang dipandang sangat penting adalah hasil yang sebenarnya dicapai (proses).Adapun,terhadap pertanyaan bagaimana sesuatu dicapai merupakan persoalan yang kurang penting.Proses harus merefleksikan tujuan,sebagaimana hasil akan merefleksikan proses tertentu. Persoalan etika dan moral dalam proses menjadi sangat penting.

16.Integritas Proses

Proses yang digunakan dalam pengembangan masyarakat sama pentingnya dengan hasil yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, proses yang digunakan untuk mencapai tujuan harus menyesuaikan dengan pengharapan dari hasil yang berkenan dengan isu kesinambungan,keadilan sosial dan lain-lain. Jika pengembangan masyarakat bisa menggunakan proses yang di dalam nya mencerminkan cita-cita ini, maka hal ini lebih memungkinkan untuk dapat mewujudkan tujuan-tujuan yang lebih berjangka panjang.

Oleh karena itu,proses pekerjaan masyarakat selalu membutuhkan penelitian secara lebih dekat untuk menjamin bahwa integritas proses tetap terpelihara. Mereka perlu menilai subjek yang menekankan prinsip-prinsip keadilan sosial dan lingkungan.

(31)

17.Tanpa Kekerasan

Proses tanpa kekerasan perlu digunakan dalam membangun sebuah masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip perdamaian. Tujuan-tujuan perdamaian tidak dapat dipenuhi dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Dari perspektif pengembangan masyarakat,penting dalam pengembangan masyarakat, penting dalam pengembangan masyarakat usaha untuk mengubah struktur-struktur kekerasan dan upaya mengatasi kekerasan melalui cara-cara damai.

Hal ini berarti bahwa proses harus diusahakan untuk memperkuat bukan untuk menyerang,memasukkan bukan mengesampingkan, bekerja did ala bukan bekerja menentang,dan memediasi bukan berkonfrontasi.

18.Keterbukaan

Penerapan prinsipketerbukaan dalam pengembangan masyarakat memerlukan proses yang selalu merangkul bukan menyisihkan,semua orang harus dihargai secara intrinsic walaupun mereka memiliki pandangan yang berlawanan dan orang harus diberi ruang untuk mengubah posisinya dalam sebuah isu tanpakehilangan muka.

19.Konsensus

Pendekatan non-kekerasan dan keterbukaan mensyaratkan pengembangan masyarakat harus di bangun di atas fondasi kesepakatan bersama dalam pengambilan keputusan harus dilakukan sebanyak mungkin.Pendekatan konsensus bekerja dalam mencapai kesepakatan dan bertujuan untuk mencapai sebuah solusi yang didukung seluruh anggota masyarakat.Bagaimana pun, konsensus dalam jangka panjang mewujudkan hasil yang lebih memuaskan dan memberikan sebuah dasar yang lebih kuat bagi pengembangan masyarakat.

(32)

20.Kooperatif

Pengembangan masyarakat akan berusaha menetang dominasi etika kompetisi dan menunjukkan semua ini didasarkan pada asumsi yang salah.Oleh karena itu, pengembangan masyarakat bertujuan dalam membangun struktur dan proses alternatif, didasarkan pada kerjasama bukan konflik.

Pada tingkat yang paling mendasar,pengembangan masyarakat akan berupaya membawa kerjasama dalam kegitan masyarakat,dengan membawa masyarakat bergabung dan menemukan cara-cara menghargai kerjasama individu-individu atau kelompok.

21.Partisipasi

Pembangunan masyarakat harus selalu mencoba memaksimalkan partisipasi,dengan tujuan agar setiap orang dalam masyarakat bisa terlibat aktif dalam proses dan kegiatan masyarakat. Lebih banyak anggota masyarakat yang berpartisipasi aktif, lebih banyak cita-cita yang dimiliki masyarakat dan proses yang melibatkan masyarakat akan dapat di realisasikan. Hal ini tidak menekankan bahwa setiap orang harus berpartisipasi dengan cara yang sama.Kerja kemasyarakatan yang baik akan memberikan kegiatan parsipatoriyang seluas mungkin dan akan membenarkan persamaan bagi semua anggota masyarakat yang terlibat secara aktif.

22.Menentukan Kebutuhan

Ada dua prinsip pekerjaan masyarakat yang penting berkaitan dengan kebutuhan.Pertama, pengembangan masyarakat harus berupaya membuat kesepakatan dengan berbagai pihak yang menentukan kebutuhan. Prinsip yang

(33)

keduaadalah meskipun para penentu kebutuhan yang lain penting,anngota masyarakat sendirilah yang memegang hak lebih tinggi dalam menentukan kebutuhan.

Pengembangan masyarakat sesungguhnya dapat didefenisikan sebagai bantuan kepada masyarakat untuk mengartikulasikan kebutuhan mereka dan bertindak sehingga kebutuha mereka bisa terpenuhi dan kemudian bertindak sehingga kebutuhan mereka bisa terpenuhi. Untuk ini, adalah benar bila dipandang dari perspektif keadilan sosial dan ekologis, masyarakat sendirilah yang harus memiliki dan mengontrol proses pengukuran dan penetuan kebutuhan.

2.2 Kebijakan Publik

H. Hugo Heglo menyatakan kebijakan adalah suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapai suatu tujuan-tujuan tertentu.Sedangkan Anderson mendefenisikan kebijakan sebagai suatuserangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang ikut dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu (Abidin, 2004: 21).

Chandler dan Plano (dalam, Tangkilisan 2003: 1) berpendapat bahwa kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumberdaya- sumberdaya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah.Selanjutnya dikatakan bahwa kebijakan publik merupakan suatu intervensi yang dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah demi kepentingan kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat agar mereka dapat hidup, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan secara luas.

(34)

Sedangkan menurut Woll (dalam Tangkilisan, 2003: 2) kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui berbagai lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pelaksanaan kebijakan publik terdapat tiga tingkat pengaruh sebagai implikasi dari tindakan pemerintah yaitu:

1. Adanya pilihan kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah atau lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengeruhi kehidup masyarakat.

2. Adanya outputkebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran, pembentukan personil dan membuatregulasi dalam bentukprogram yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

3 Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat (Tangkilisan, 2003: 2).

Menurut James Anderson sebagai pakar publik menetapkan proses kebijakan publik sebagai berikut:

1. Formulasi masalah (Problem formulation): apa masalahnya? Apa yang membuat hal tersebut menjadi masalah kebijakan? Bagaimana masalah tersebut dapat masuk dalam agenda pemerintah.

2. Formulasi kebijakan (Formulation): Bagaimana mengembangkan pilihan- pilihan atau alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah tersebut? Siapa saja yang berpartisipasi dalam formulasi kebijakan?

(35)

3. Penentuan Kebijakan (Adaption): Bagaimana alternatif ditetapkan? Persyaratan atau criteria seperti apa yang harus dipenuhi? Siapa yang akan melaksanakan kebijakan? Bagaimana proses atau strategi untuk melaksanakan kebijakan?

Apa isi dari kebijakan yang telah ditetapkan?

4. Implementasi (Implementation): Siapa yang terlibatdalam implementasi kebijakan? Apa yang mereka kerjakan? Ada dampak dari isi kebijakan?

5. Evaluasi (Evaluation): Bagaimana tingkat keberhasilan atau dampak kebijakan diukur? Siapa yang mengevaluasi kebijakan?Adakah tuntutan untuk melakukan perubahan atau pembatasan? (Subarsono, 2005: 12-13).

Beberapa pengertian kebijakan publik yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa banyak upaya-upaya pemerintah yang dilakukan untuk melakukan perubahan diberbagai bidang dengan berbagai macam kebijakan.Fungsi dari kebijakan tersebut adalah untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam masyarakat.Salah satu pihak yang dianggap memiliki tanggung jawab untuk melakukan perubahan dan perbaikan tersebut adalah negara.Sehingga kebijakan sosial dapat dilihat sebagai salah satu upaya yang direncanakan dan dilaksanankan negara untukmemecahkan masalah sosial tersebut, atau setidaknya merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi yang tidak diharapkan tadi (Soetomo, 2008: 207).

Untuk melihat implementasi kebijakan sosial sebagai salah satu bentuk respon terhadap masalah sosial, setidak-tidaknya pada level konsep perlu dilakukan elaborasi berbagai dimensi tentang kebijakan sosial itu sendiri, dan kebijakan sosial merupakan salah satu bentuk dari upaya pemecahan masalah-masalah sosial yang terdapat dinegara ini.

(36)

Terbentuknya kebijakan publik oleh pemerintah, maka lahirlah kebijakan sosial yang merupakan salah satu cara atau upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengentas kemiskinan diantaranya kebijakan sosial dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Meskipun program pemberdayaan ini bukan lah satu-satunya kebijakan sosial yang dibuat oleh pemerintah, tetapi kebijakan sosial ini cukup berperan penting dalam mengentas kemiskinan yang ada di negara ini.Program ini mengajarkan kemandirian kepadaanggota kelompok.Seperti kebijakan sosial yang di dampingi oleh BKKBN yaitu Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) di kecamatan Medan Helvetia Kota Medan.

2.3 Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan adalah sebuah proses dimana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam berbagai pengawasan dan mempengaruhi terhadap, kejadian- kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya (Parson dalam Suharto, 2009: 58).

Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat yang terpinggirkan, termasuk kaum perempuan. Demikian pula masyarakat lain yang terabaikan. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi orang lain untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pemberdayaan.Pemberdayaan masyarakat meningkatkan untuk menganalisis kondisi dan potensi serta masalah-masalah yang perlu diatasi.

Masyarakat berperan serta dalam proses pengambilan keputusan mulai dari tahap

(37)

perencanaan, pelaksanaan dan sampai tahap penilaian kegiatan yang dikembangkan oleh dan untuk mereka.

Dasar proses pemberdayaan adalah pengalaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaannya sangat luas dan berguna serta kemauan mereka untuk menjadi lebih baik. Proses pemberdayaan ini bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya, mengoptimalkan sumber daya setempat sebaik mungkin, baiksumberdaya alam maupun sumber daya manusia. Melalui proses pemberdayaan masyarakat diharapkan akan dikembangkan lebih jauh pola pikir yang kritis dan sistematis.

Proses pemberdayaan sangat bermanfaat untuk dinas dan instansi lain dalam peningkatan pelayanan yang lebih tanggap bagi kebutuhan pelanggan yang telah diidentifikasi oleh masyarakat sendiri. Proses pemberdayaan masyarakat akan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menyampaikan kebutuhannya kepada instansi-instansi dapat menyesuaikan serta memperbaiki pelayanannya.

Tim pemberdayaan masyarakat di dukung oleh lembaga pelaksana. Peran utama tim pemberdayaan masyarakat adalah mendampingi masyarakat dalam melaksanakan proses pemberdayaan masyarakat. Peran tim pemberdayaan pada awal proses sangat aktif tetapi akan berkurang selama proses berjalan sampai masyarakat sudah mampu melanjutkan kegiatannya secara mandiri.

Pemberdayaan masyarakat dilaksanakan melalui beberapa tahapan seperti diuraikan berikut ini. Proses ini harus sesuai dengan kondisi dan dinamika yang ada di wilayah pelaksanaan.

Tahap 1. Seleksi lokasi

(38)

Tahap 2. Sosialisasi pemberdayaan masyarakat

Tahap 3. Proses pemberdayaan masyarakat, yang terdiri dari:

a.Kajian keadaan pedesaaan partisipatif b.Pengembangan kelompok

c.Penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan d.Monitoring dan evaluasi partisipasi

Tahap 4.Pemandirian masyarakat (Departemen Sosial, 2007: 1-6).

Waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pemberdayaan masyarakat tidak tentu.

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses yang akan berjalan terus-menerus.

Masyarakatakan mengkaji keadaannya dan mengembangkan rencana kegiatan perbaikan serta melakukannya secara berkelanjutan.

BKKBN telah memulai program pemberdayaan ekonomi pada tahun 80’an.

Dalam periode waktu 1980 sampai dengan tahun 1994 telah dilaksanakan berbagai program “The Family Planning –Income Generating Activities”(FP-IGA) yang telah dilaksanakan. Pada awalnya program rintisan ini dikembangkan untuk penjagaan kebutuhan terhadap program pemberdayaan ekonomi keluarga, sehinggadisajikan berbagai alternatif model yang dapat dikembangkan di daerah.Keberlangsungan program pemberdayaan ekonomi ini sangat tergantung pada sumber daya manusia, sumber daya ekonomi, teknis produksi, pemasaran, dan yang lebih utama adalah permodalan. Berikut ini adalah contoh dari model–model pemberdayaan ekonomi keluarga antara lain :

(39)

A.Program Rintisan

1.Proyek Bantuan Bank Dunia 300 IDN, merupakan paket program berupa:

bantuan pengadaan air bersih, peningkatan pendapatan akseptor, dan penyedian kebutuhan.

2.Proyek ASEAN untuk Women in Development, salah satu kegiatannya adalah Income Generating.

3.Program KB-GIZI melalui bantuan USAID, dengan kegiatan KB- pedesaan/kumuh yang salah satu kegiatannya adalah Income Generating.

4.Program Women in Developmentmelalui bantuan UNFPA, dengan kegiatan IncomeGenerating ProgramWID ini sudah lebih lengkap dengan adanya studi banding,pembuatan bukupedoman MIS.

5.Melalui bantuan Belanda (IGGA), dilaksanakan program Income Generating denganberbagai kegiatan pengembangan antara lain :

a.Model-model pelatihan

b.Latihan pengembangan produk c.Latihan pemasaran

d.Studi banding

6.Dukungan APBN-DIP melui berbagai proyek untuk kecamatan miskin dan KB keluarga transmigran, yang bentuk kegitannya adalah Income Generatingdengan penyediaan bantuan modal yang dilaksanakan secara bergulir.

7.Bantuan modal dari BUMN/dari saldo laba perusahaan negara juga dialokasikan untuk kegiatan Income Generatingdengan paket modal lebih

(40)

besar dari bantuan modal APBN (BadanKoodinasi Keluarga Berencana Nasional, 2007:28).

Kelompok-kelompok yang mendapatkan bantuan modal tersebut adalah kelompok UPPKA (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor), yang para anggotanya sebagian besar para akseptor KB untuk mendorong peningkatan kesejahteraan akseptor KB sebagai suatu nilai tambahan bagi yang menjadi anggota KB, dan bagi lingkungannya merupakan salah satu teknik motivasi untuk mengajak masyarakat untuk ikut serta menjadi akseptor KB.

2.4 Program Usaha Peningkatan PendapatanKeluarga Sejahtera 2.4.1 Pengertian Kelompok UPPKS

Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga sejahtera (UPPKS) adalah kelompok yang melakukan kegiatan ekonomi produktif untuk meningkatkan pendapatan keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera yang beranggotakan, baik ibu/ibu wanita dari keluarga prasejahtera, keluarga sejahtera I, maupun keluarga lain yang tahap kesejahteraannya lebih tinggi, baik yang belum, sedang, maupun purna peserta KB.

Tujuan umum dari kelompok UPPKS adalah untuk memberdayakan ibu- ibu/wanita di bidang ekonomi sebagai upaya peningkatan penanggulangan kemiskinan dalam rangka membangun kemandirian dan ketahanan keluarga serta mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera. Secara khusus tujuan kelompok UPPKS adalah:

(41)

1)Meningkatkan pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi

2)Melatih keluarga, khususnya wanita untuk melakukan kegiatan wirausaha 3)Meningkatkan dinamika kehidupan keluarga

4)Meningkatkan peran serta keluarga dalam pelaksanaan pembangunan Dilingkungannya.

5)Meningkatkan kemandirian dan ketahanan keluarga

6).Meningkatkan upaya penanggulangan kemiskinan (Badan Koodinasi Keluarga Berencana Nasional, 2007: 1-2)

Sasaran langsung yang dituju pada program ini adalah kaum wanita yang termasuk kategori keluarga pra keluarga sejahtera, sejahtera I, dan keluarga lain yang tingkat kesejahteraannya sudah lebih tinggi dari pada yang sedang melakukan kegiatan usaha ekonomi produktif. Sasaran tidak langsung dari kegiatan ini antara lain adalah kader pembangunan di tingkat desa, tokoh masyarakat, PLKB, dan pemberi pinjaman modal.

2.4.2 Pokok-pokok Kegiatan Kelompok UPPKS

Pengembangan kegiatan UPPKS dan pokok-pokok kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Komunikasi, Informasi, dan Edukasi. Kegiatan ini ditujukan untuk menumbuhkan kepedulian dan komitmen dari berbagai unsur pembangunan di setiap lingkungan sehingga berkembang partisipasi dalam pelaksanaan pembangunan keluarga sejahtera.

(42)

2) Pendataan keluarga sejahtera. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun bersama masyarakat untuk memperoleh data yang lengkap tentang tingkat kesejahteraan keluarga sehingga mereka yang tergolong keluarga pra-keluarga sejahtera dan keluarga sejahtera I segera dapat ditingkatkan kesejahteraannya melalui kelompok UPPKS.

3) Bimbingan pengembangan usaha ekonomi produktif. Bimbingan ini dilakukan melalui kel

ompok UPPKS dengan jenis usaha (1) pelaju keluarga (petik, olah, jual, dan untung oleh keluarga), (2) pemaju keluarga (proses, kemas, jual, dan untung oleh keluarga), (3) jasa, seperti usaha salon kecantikan, tukang banten, tukang pijat/mesinggul, dan tukang jahit.

4) Kemitraan usaha. Pokjanal di tingkat desa yang lebih tinggi berusaha mencarikan mitra usaha bagi kelompok UPPKS dalam pengembangan usahanya.Pola kemitraan dapat berupa pola inti plasma, subkontrak, keagenan, waralaba, dagang umum, dan usaha bersama.

2.5 Kriteria Kemiskinan dari BKKBN 2.5.1 Kemiskinan Menurut BKKBN

Kemiskinan adalah suatu fakta dimana seseorang atau sekelompok orang hidup di bawah atau lebih rendah dari kondisi hidup layak sebagai manusia disebabkan ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Siagian, 2012:

2). Suatu proses kemiskinan merupakan proses menurunnya daya dukung terhadap hidup seseorang atau sekelompok orang sehingga pada gilirannya ia atau kelompok

(43)

tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Dalam pelaksanaan program UPPKS yang dimotori oleh BKKBN kriteria yang digunakan untuk menentukan keluarga yang akan memperoleh bantuan pada program ini adalah kriteria yang dikeluarkan oleh BKKBN. Indikator yang digunakan adalah indikator yang terdapat pada tahapan-tahapan keluarga sejahtera. Indikator tahapan keluarga sejahtera diuraikan secara terperinci berikut ini:

Keluarga sejahtera tahap I sebuah keluarga akan digolongkan sebagai keluarga dengan kategori keluarga sejahtera I jika sesuai dengan kriteria berikut:

1. Keluarga melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama yang dianut masing-masing.

2. Pada umumnya seluruh keluarga makan dua kali/lebih sehari.

3. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian berbeda.

4. Bagian terluas lantai rumah bukan dari tanah.

5. Bila anak sakit dan PUS ingin menjadi akseptor KB, dibawa ke sarana pengobatan modern (Badan Koodinasi Keluarga Berencana Nasional, 2007: 10)

Apabila salah satu atau lebih dari indikator tersebut tidak terpenuhi, maka keluarga tersebut digolongkan kedalamkeluarga prasejahtera.Kriteria BKKBN untuk mereka yang tergolong miskin adalah keluarga yang berada dalam kategori keluarga sejahtera I dan pra-keluarga sejahtera.

(44)

2.6Kerangka Pemikiran

Pengembangan masyarakat diarahkan untuk membentuk sebuah struktur masyarakat yang mencerminkan tumbuhnya semangat swadaya dan partisipasi.

Pengembangan masyarakat meliputi usaha memperkukuh interaksi sosial dalam masyarakat, menciptakan semangat kebersamaan,meningkatkan sosial ekonomi masyarakat, solidaritas antara anggota masyarakat dan membantu mereka untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak lain.Pengembangan masyarakat sering kali diimplementasikan dalam bentuk kegiatan yang difokuskan pada upaya menolong orang-orang lemah yang memiliki minat untuk bekerja sama dalam kelompok, melakukan identifikasi terhadap kebutuhan dan melakukan kegiatan bersama untruk memenuhi kebutuhan mereka.

Permasalahan kemiskinan pada dewasa ini masih menjadi prioritas untuk penangananya, banyak nya program-program yang dilakukan sampai dengan saat ini merupakan bukti bahwa kemiskinan merupakan masalah sosial yang sangat mendapatkan perhatian dari pemerintah.Salah satu program yang dilakukakan dalam mengurangi angka kemiskinan ini adalah dengan program pemberdayaan ekonomi keluarga atau dalam hal ini di sebut Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera, program UPPKS sendiri dikelola oleh BKKBN.

Di dalam pelaksanaannya program UPPKS yang juga merupakan salah satu program pemberdayan keluarga yang sasaran utmanya adalah keluarga Pra sejahtera dan Keluaraga sejahtera I untuk itu lah perlu diterapkan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat yang diharapkan dapat membantu anggota kelompok

(45)

UPPKS dalam menjalankan program guna meningkatkan kesejahteraan keluarganya dan menjalankan fungsi sosialnya dengan baik.

(46)

Bagan Alir Pemikiran

Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera(UPPKS) di Kecamatan Medan

Helvetia Kota Medan

Anggota kelompok UPPKS

-Meningkatkan pemberdayaan keluarga dibidang ekonomi

-Melatih keluarga, khususnya wanita untuk melakukan kegiatan wirausaha

-Meningkatkan dinamika kehidupan keluarga

-Meningkatkan peran serta keluarga dalam pelaksanaan pembangunan

dilingkungannya

-Meningkatkan kemandirian dan ketahanan keluarga -Meningkatkan upaya penanggulangan kemiskinan.

Penerapan prinsip-prinsip community development (pengembangan masyarakat)

1. Pembangunan Menyeluruh 12. Laju pembangunan

2. Melawan kesenjangan struktural 13. Kepakaran eksternal

3. Hak asasi manusia 14. Pembentukan masyarakat

4. Berkelanjutan 15. Proses dan hasil

5. Pemberdayaan 16. Integritas proses

6. Personal dan politik 17. Tanpa kekerasan

7 .Kepemilikan masyarakat 18. Keterbukaan

8. Kemandirian 19. Konsensus

9. Kebebasan dari negara 20. Kooperatif 10. Tujuan langsung dan visi yang besar21. Partisipasi 11.Pembangunan Organik 22 Menentukan

Kebutuhan

(47)

2.7 Defenisi Konsep

Konsep merupakan sejumlah pengertian atau ciri-ciri yang berkaitan dengan peristiwa, objek, kondisi, situasi, dan hal-hal sejenisnya. Konsep diciptakan dengan mengelompokkan objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang mempunyai cirri-ciri yang sama. Defenisi konsep bertujuan untuk merumuskan sejumlah pengertian yang digunakan secara mendasar dan menyamakan persepsi tentang apa yang akan diteliti serta menhindari salah pengertian yang dapat mengaburkan tujuan penelitian (Silalahi, 2009: 112).

Adapun untuk lebih mengetahui pengrtian yang jelas mengenai konsep- konsep yang akan diteliti, maka peneliti memberikan batasan konsep yang akan di gunakan dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:

1.Penerapan adalah peraturan /kebijakan berupa petujuk pelaksanaan dan petunjuk teknis berjalan sesuai dengan ketentuan ketentuan yang berlaku.

2.Prinsip-prinsip Community development (pengembangan masyarakat) adalah hal-hal yang harus dipenuhi dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat.

3.Kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, baik secara langsung maupun dengan berbagai lembaga yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

4.Program atau pemberdayaan masyarakat dalam penelitian ini adalah suatu upaya yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun non pemerintah untuk membantu masyarakat yang rentan dan lemah supaya mampu membantu dirinya sendiri dalam menghadapi masalah yang dihadapi.

(48)

5.Usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera adalah upaya untuk mendinamisasikan faktor-faktor penting yang ada pada keluarga, yang bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan keluarga.

6.Kelompok UPPKS dalam penelitian ini adalah beberapa kelompok yang ada di kecamatan yang anggotanya terdiri dari perempuan yang menjadi akseptor KB dan aktif dalam kegiatan pelaksanaan UPPKS.

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian

Penelitian ini tergolong tipe penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan objek dan fenomena yang diteliti. Termasuk di dalamnya bagaimana unsur-unsur yang ada dalam variabel penelitian itu berinteraksi satu sama lain dan apa pula produk interaksi yang berlangsung (Siagian, 2011: 52).Melalui penelitian penulis ingin membuat gambaran menyeluruh tentang bagaimanapenerapan prinsip-prinsip community development (pengembangan masyarakat) dalam pelaksanaan program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan

3.2 Lokasi penelitian

Penelitian dilakukan di lakukan di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan.

Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah karena Kecamatan Medan Helvetia merupakan salah satu daerah peserta program UPPKS yang masyarakatnya turut aktif dalam pelaksanaan program tersebut khususnya kaum perempuan akseptor KB sekaligus sebagai anggota dalam kegiatan pemberdayaan.Kecamatan Medan Helvetia juga merupakan salah satu kecamatan dengan peserta terbanyak untuk pelaksanaan program UPPKS di Kota Medan dan lokasinya yang mudah di jangkau sehingga peneliti tertarik untuk mendapatkan secara langsung penerapan prinsip-prinsip community development (pengembangan masyarakat) dalam peleksanaan program usaha peningkatan keluarga sejahtera di kecamatan Medan Helvetia Kota Medan.

3.3 Informan

(50)

Informan adalah orang-orang yang dipilih untuk diobservasi dan diwawancarai sesuai dengan tujuan peneliti untuk memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian (Suyanto & Sutinah, 2005: 171-172).

Orang-orang yang dapat dijadikan sebagai informan adalah orang-orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian.Adapun informan dalam penelitian ini meliputi informan utama, informan kunci.

3.3.1 Informan Utama

Informan utama adalah orang yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial dengan memberikan dampak terhadap permasalahan tersebut (Suyatno & Sutinah, 2005: 171-172). Informan utama dalam penelitian ini adalah 5orang yangmenjadi peserta/anggota kelompok UPPKS di kecamatan Medan Helvetia kota Medan.

3.3.2 Informan Kunci

Informan kunci adalah orang yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian (Suyatno & Sutinah, 2005: 171-172).

Informan kunci dalam penelitian ini adalahkoordinator PLKB Program UPPKS yang mendampingi masyarakat di kecamatan Medan Helvetia kota Medan yang berjumlah 1 orang dan 2 orang PLKB di tingkat kelurahan.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

(51)

Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan untuk mendapatkan infornasi yang dibutuhkan sebagai berikut :

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber data pertama di lapangan. Data primer diperoleh dengan metode sebagai berikut:

a. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui :

a. Studi kepustakaan, yaitu proses memperoleh data atau informasi yang menyangkut masalah yang akan diteliti melalui penelaah buku, jurnal dan karya tulis lainnya.

b. Studi lapangan adalah pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. (Siagian, 2011:206)

3.4 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deksriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan mengkaji data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber data

(52)

yang terkumpul, mempelajari data, menelaah, menyusun dalam satu kesatuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta mendefinisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moleong, 2004:247).

Setiap data dari informasi yang telah dikumpulkan dalam penelitian berupa catatan lapangan berupa data utama dari hasil wawancara maupun data penunjang lainnya dilakukan analisis data, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan suatu analisis data yang baik dan dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian ini.

BAB IV

(53)

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1 Deskripsi Wilayah

Kecamatan Medan Helvetia adalah salah satu dari 21 kecamatan yang berada di Wilayah Kota Medan memiliki luas ± 1.156.147 Ha dan merupakan pecahan dari Kecamatan Medan Sunggal.

Sebelum menjadi kecamatan defenitif terlebih dahulu melalui proses Kecamatan Perwakilan. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor : 138/402/K/1991 tanggal 05 Pebruari 1991 dan Keputusan Walikota Medan Nomor : 138/595/SK/1991 tanggal 20 Meret 1991 dirubah namanya menjadi Perwakilan Kecamatan Medan Helvetia dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor : 50 Tahun 1991 didevinitifkan menjadi kecamatan Medan Helvetia yang diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1991 yang terdiri atas 7 (tujuh) Kelurahan yaitu : Kelurahan Helvetia, Helvetia Tengah, Helvetia Timur, Dwi Kora, Cinta Damai, Tanjung Gusta dan Sei Sikambing C-II. Adapun Wilayah-wilayah yang berdekatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Helvetia adalah :

- Sebelah Utara : Kecamatan Sunggal Kab Deli Serdang - Sebelah Selatan : Kecamatan Medan Sunggal

- Sebelah Timur : Kecamatan Medan Barat dan Medan Petisah - Sebelah Barat : Kecamatan Sunggal Kab Deli Serdang

Kecamatan Medan Helvetia terbagi menjadi 7 (tujuh) Kelurahan dan 88 lingkungan dengan status Kelurahan Swasembada. Adapun luas wilayah Kecamatan Medan Helvetia adalah ± 1.156.147 Ha. Kelurahan yang terluas adalah Kelurahan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Alasan memilih lokasi tersebut adalah karena Kelurahan Aur merupakan wilayah yang ikut aktif dalam pelaksanaan Program Kesejahteraan Sosial Anak yang di selenggarakan Pemerintah yang

menjadi anggota kelompok UPPKS terdapat 23 reponden (76,6%) yang tidak bekerja, hal ini dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan dan sulitnya mencari lapangan

Alasan peneliti memilih lokasi penelitian ini karena Linkungan III Kelurahan Namo Gajah ini merupakan wilayah yang ikut aktif dalam pelaksanaan pemberdayaan

Masalah yang dibahas di sini adalah sejauh manakah efektivitas pelaksanaan program usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera di desa Medan Krio kecamatan Sunggal kabupaten

“Efektivitas Pelaksanaan Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Desa Medan Krio Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang”.. 1.2

Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga sejahtera (UPPKS) adalah kelompok yang melakukan kegiatan ekonomi produktif untuk meningkatkan5. pendapatan keluarga dalam rangka

1.. Efektivitas Pelaksanaan Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera di Desa Medan Krio Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang. Dari mana Saudara pertama

Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi program Kampung KB dalam meningkatkan pemberdayaan keluarga melalui Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) di Kelurahan Bantan Kecamatan Medan