BAB III METODE PENELITIAN
D. Informan Penelitian
Metode pengambilan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, artinya teknik penentuan sumber data mempertimbangkan terlebih dahulu, bukan diacak. Artinya menentukan informan sesuai dengan kreteria terpilih yang relevan dengan penomenah penelitian. Misalnya peneliti ingin mengetahui tentang Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan informan yang betul-betul dapat memberikan informasi sesuai dengan penelitian yang sedang dilaksanakan. Adapun informan penelitian berjumlah lima orang yang terdiri dari:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No Informan Pekerjaan/Jabatan
1. A. Mariani Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Makassar 2. Hadarti Razak Pengelola Pencegahan dan Pengendalian
HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar 3. Azis Lasabbi Pengelola Program KPA Kota Makassar 4. Muh. Akbar Anggota KPA Kota Makassar
5. Risaldi Penderita HIV/AIDS
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan peneliti secara langsung dilapangan untuk mengetahui dan memperoleh data mengenai Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar.
2. Wawancara
Peneliti akan melakukan wawancara langsung secara mendalam kepada informan yang menjadi obyek dari penelitian ini yaitu : Dinas Kesehtan, Komisi Penaggulanag AIDS beserta ODHA. Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan informasi penelitian Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dimana arsip-arsip yang dianggap menunjang dan penting dengan persoalan yang akan di teliti baik berupa buku-buku, laporan tahunan, jurnal, karya tulis ilmiah, dokumen peraturan pemerintah serta undang-undang yang telah ada pada
organisasi yang terkait dipelajari, disusun dan dikaji sedemikian rupa sehingga diperoleh data guna membagikan informasi berkaitan dengan observasi yang akan dilakukan.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sitematis yang didapat dari hasil wawancara, dokumentasi, catatan lapangan, dengan cara menyusun data kedalam kategori, menguraikan kedalam komponen-komponen, melakukan penggabungan, menyusun kedalam struktur, memilih mana yang dianggap penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah untuk dipahami baik untuk diri sendiri maupun orang lain. (Sugiyono, 2016).
Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan analisis data model interaktif Milles dan Huberman yaitu terdapat tiga proses yang berlangsung secara interaktif. (Pertama), Reduksi Data, yaitu cara memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan informasi dari berbagai sumber data misalnya dari catatan lapangan, dokumen, arsip dan sebagainya, sedangkan untuk proses mempertegas, mempersingkat, menghilangkan yang tidak perlu, memili fokus, dan menyusun data sehingga kesimpulan bisa dibuat. (Kedua), Penyajian Data, seperti menyusun data dan mempersentasikan data dengan baik agar lebih mudah untuk dipahami. Penyajian bisa berupa matrik, gambar, skema, jaringan kerja, tabel dan seterusnya. (Ketiga), Menarik Kesimpulan atau melakukan verifikasi, proses penarikan kesimpulan awal masi belum kuat, terbuka dan
skeptis. Kesimpulan akhir akan dilakukan setelah penghimpunan data berakhir.
Sugiyono, (2016).
G. Keabsahan Data
Semua data yang diperoleh dan yang ditemukan dalam penelitian ini akan diuji kredibilitasnya dengan cara triangulasi. Menurut Sugiyono (2016) Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Lebih lanjutnya Sugiyono membagi triangulasi kedalam tiga macam yaitu :
1. Triangulasi Sumber
Trangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik diartikan sebagai penguji kreadibilitas data yang dilakukan dengan cara mengontrol data pada sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh dari hasil wawancara, kemudian dicocokkan dengan hasil observasi dan dokumen.
Apabila dengan teknik pengujian kreadibilitas data tersebut masi menimbulkan hasil data yang berbeda-beda, maka peneliti akan melakukan diskusi yang lebih mendalam dengan sumber data yang berkaitan atau yang
lain guna memastikan data yang dianggap benar atau mungkin semua benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.
3. Triangulasi Waktu
Waktu juga seringkali mempengaruhi kreadibilitas data. Data yang dikumpulkan dari hasil wawancara di pagi hari pada saat narasumber masi segar, belum banyak masalah akan memberi data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kreadibilitas data dapat dibuat dengan cara melakukan pemeriksaan dengan wawancara, observasi, atau cara lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji memunculkan data yang berbeda, maka akan dilakukan tes secara berulang-ulang sehingga didaptkan kepastian datanya.
43 1. Gambaran Umum Kota Makassar
Kota Makassar merupakan salah satu pemerintahan kota dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, sebagaimana yang tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1822.
Kota Makassar menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1965, (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 94), dan kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1965 Daerah Tingkat II Kotapraja Makassar diubah menjadi Daerah Tingkat II Kotamadya Makassar.
Kota Makassar yang pada tanggal 31 Agustus 1971 berubah nama menjadi Ujung Pandang, wilayahnya dimekarkan dari 21 km2 menjadi 175,77 km2 dengan mengadopsi sebagian wilayah kabupaten lain yaitu Gowa, Maros, dan Pangkajene Kepulauan, hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1971 tentang Perubahan batas-batas daerah Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa, Maros dan Pangkajene dan Kepulauan, lingkup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Pada perkembangan, nama Kota Makassar dikembalikan lagi berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 86 Tahun 1999 tentang Perubahan Nama Kotamadya Ujung Pandang menjadi Kota Makassar, hal ini atas keinginan masyarakat yang didukung DPRD Tk. II Ujung Pandang saat itu, serta masukan dari kalangan budayawan, seniman, sejarawan, pemerhati hukum dan pelaku bisnis.
Hingga Tahun 2013 Kota Makassar telah berusia 406 tahun sesuai Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2000 yang menetapkan hari jadi Kota Makassar tanggal 9 Nopember 1607, terus berbenah diri menjadi sebuah Kota Dunia yang berperan tidak hanya sebagai pusat perdagangan dan jasa tetapi juga sebagai pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, pusat kegiatan edu-entertainment, pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut maupun udara.
Secara administratif Kota Makassar memiliki 15 kecamatan, yaitu Kecamatan Mariso, Kecamatan Mamajang, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Rappocini, Kecamatan Makassar, Kecamatan Ujung Pandang, Kecamatan Wajo, Kecamatan Bontoala, Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Tallo, Kecamatan Panakkukang, Kecamatan Manggala, Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalanrea, dan Kecamatan Kepulauan Sangkarrang. Adapun untuk administratif lainnya, Kota 50 Makassar tercatat memiliki 153 kelurahan, 996 RW dan 4.964 RT (BPS, 2017). Untuk pembagian administratif, Kota Makassar dengan luas wilayah 175,77 km2 terbagi atas 15 wilayah kecamatan.
Wilayah yang terluas adalah Kecamatan Biringkanaya dengan 48,22 km2 dan 27,43% luas keseluruhan Kota Makassar. Wilayah terkecil adalah
Kecamatan Kepulauan Sangkarrang dengan 1,54 km2 dan 0,88% luas keseluruhan Kota Makassar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel 8 berikut.Rincian luas masing-masing kecamatan, diperbandingkan dengan persentase luas wilayah Kota Makassar sebagai berikut :
Tabel.4.1.
Luas Wilayah dan Presentase terhadap Luas Wilayah Menurut Kecamatan Di Kota Makassar tahun 2017 Sumber : Makassar Dalam Angka 2017, BPS 2017
Kondisi Fisik Wilayah
Kota Makassar secara topografi berada pada dataran rendah dengan ketinggian bervariasi antara 1-22 meter di atas permukaan laut (BPS, 2017).
Daerah pesisir di sebelah timur yang cenderung datar antara 1-4 meter di 51 atas permukaan laut, sedangkan pada sebelah utara dan barat wilayah cenderung variatif antara 1-22 meter di atas permukaan laut. Kondisi iklim Kota Makassarsecara umum ditandai dengan hari hujan dan curah hujan
relatif tinggi, dan dipengaruhi oleh angin musim dan wilayahnya berbatasan langsung dengan Selat Makassar.
Gambar.4.1
Peta Administrasi Kota Makassar
Sumber : RTRW Kota Makassar tahun 2010-2030 Letak dan Kondisi Geografis
Kota Makassar yang merupakan Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan terletak di Pantai Barat pulau Sulawesi berada dalam titik koordinat 119°
18’ 30,18" sampai dengan 119°32'31,03" BT dan 5°00' 30,18" sampai dengan 5°14’ 6,49" LS. Sesuai dengan karakteristik fisik dan perkembangannya.
Kecamatan Biringkanaya merupakan kecamatan terluas diantara kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kota Makassar, luasnya 48,22 km2 atau sekitar 27,43% dari luas keseluruhan Kota Makassar dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros. Topografi wilayah kecamatan ini mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian elevasi 1-19 m di atas permukaan laut. Potensi sumberdaya alam yang ada di kecamatan ini antara lain di sector pertanian dan perikanan.
Berdasarkan data BPS (2013), di subsektor pertanian, luas lahan peruntukannya sebagai lahan sawah yakni 657 ha dan lahan tegalan 284 ha.
Subsektor perikanan darat, luas lahan peruntukan sebagai tambak 479 ha dengan produksi 149,80 ton. Secara umum, Pantai Kecamatan Biringkanaya sebagian besar merupakan pantai berlumpur dan bervegetasi mangrove serta merupakan pantai yang landai.Hanya sebagian kecil pantai ini tergolong cadas.Dilihat dari segi stabilitas pantai, maka pantai ini dapat dikatakan relative stabil dan tenang, namun cenderung maju ke arah laut akibat sedimentasi dari Sungai Mandai. Di samping itu juga tampak adanya gejala abrasi sepanjang sekitar 30 m di perkampungan nelayan Kelurahan Untia.
Kecamatan Tamalanrea adalah Kecamatan terluas kedua sesudah Kecamatan Biringkanaya, dengan luas 31,84 km2 . Jumlah penduduk 89.143 jiwa. Topografi wilayah kecamatan dimulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian elevasi 1-22 m di atas permukaan laut. Penggunaan lahan di kecamatan ini sangat bervariasi mulai permukiman, perkantoran, pertokoan hingga gedung pendidikan. Salah satunya adalah Universitas sebagai universitas terbesar di Kawasan Indonesia Timur. Ke arah selatan kecamatan ini mengalir Sungai Tallo sehingga masyarakat yang bermukim di sekitar tepi sungai memiliki tambak. Selain di tepi Sungai Tallo, kawasan tambak juga ditemukan di sisi utara kecamatan yang berbatasan langsung dengan laut. Pantai Kecamatan Tamalanrea merupakan pantai yang berbatasan dengan laut dan bagian muara Sungai Tallo. Sebagian besar tipe pantai di lokasi ini merupakan
pantai berlumpur dan bervegetasi mangrove serta merupakan pantai yang landai. Namun demikian terdapat pula pantai cadas di sebelah selatan Lantebung (Kelurahan ParangLoe).
2. Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kota Makassar
Dinas Kesehatan Kota Makassar terletak di ibu kota provinsi Sulawesi Selatan yaitu kota Makassar. Lokasi gedung Dinas Kesehatan Kota Makassar bertempat di kecamatan Rappocini tepatnya berada dibagian timur Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, bagian selatan Jl. Teduh Bersinar, bagian utara rumah penduduk dan bagian barat Jl. Teduh Bersinar, Makassar. Kode pos: 900222.
a. Tugas Pokok dan Fungsi
Dinas Kesehatan mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di Bidang Kesehatan bedasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi,dan tugas pembantuan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Dinas Kesehatan menyelenggarakan fungsi:
1) Penyusunan rumusan kebijaksanaan teknis di bidang kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.
2) Penyusunan rencana dan program di bidang pelayanan kesehatan, pembinaanrumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.
3) Pelaksanaan Pengendalian danpenanganan teknis operasional pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.
4) Pemberian perizinan dan pelayanan umum di bidang kesehatan meliputi pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.
5) Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
Dalam melaksanakan tugas tersebut Kepala Dinas di dukung oleh unsur organisasi yang terdiri dari:
1) Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris yang mempunyai tugas melakukan urusan perencanaan umum dan program, penyediaan data dan informasi kesehatan, monitoring dan evaluasi program, kepegawaian, keuangan, perlengkapan surat-menyurat, humas dan protocol, perpustakaan serta hukum kesehatan.
2) Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas melaksanakan pengaturan, pembinaan, dan pengawasan kegiatan pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan, dan pelayanan kesehatan pengembangan dan penunjang.
3) Bidang Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dipimpinoleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas melaksanakan pengaturan, pembinaan dan pengawasan pengendalian penyakit dan kejadian luar biasa, pengamatan penyakit menular dan tidak menular, penanganan korban bencana dan situasi khusus kegiatan penyehatan lingkungan.
4) Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas melaksanakan pengaturan, pembinaan dan pengawasan upaya pelayanan gizi masyarakat serta pelaksanaan promosi kesehatandan pemberdayaan masyarakat (individu dan kelompok).
5) Bidang Bina Pengembangan Sumber Daya Kesehatan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengaturan, pembinaan dan pengawasan upaya pembiayaan dan jamnian kesehatan, upaya pengembangan tenaga kesehatan dan pelaksanaan upaya farmasi dan pembekalan kesehatan.
b. Struktur Organisasi
Bedasarkan Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 20 Tahun 2005 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Kota Makassar dalam daerah kota Makassar, Mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian kewenangan yang dilimpahkan oleh Walikota yaitu merumuskan, membina dan mengendalikan kebijakan di bidang kesehatan meliputi pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit
dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Dinas Kesehatan didukung oleh organisasi dengan tugas Pembinaan Unit Pelaksana Teknis. Dalam melaksanakan tugas dan fungisnya, makasesuai dengan Peraturan pemerintah 41 Tahun 2007 yang dituangkan dalam Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor: 03 Tahun 2009, Dinas Kesehatan Kota Makassar mempunyai struktur organisasi sebagaiberikut:
a) Kepala Dinas b) Sekretariat
1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 2. Sub Bagian Keuangan
3. Sub Bagian Perlengkapan c) Bidang Pelayanan Kesehatan:
1. Seksi Kesehatan danRujukan 2. Seksi Kesehatan Khusus
3. Seksi Farmasi, Perbekalan Kesehatan dan Pengawasan Obat danMakanan
d) Bidang Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan:
1. Seksi Pengendalian Penyakit
2. Seksi Pengamatan Penyakit, Imunisasi dan Kesehatan Mata 3. Seksi Penyehatan Lingkungan
e) Bidang Bina Pengembangan Sumber Daya Kesehatan:
1. Seksi Perencanaan dan Pendayagunaan Program
2. Seksi Pengembangan Sarana, Tenaga Kesehatan dan Jaminan Kesehatan
3. Seksi Registrasi dan Akreditasi f) Bidang Bina Kesehatan Masyarakat:
1. SeksiKesehatan Keluarga 2. Seksi Gizi Masyarakat
3. Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat g) Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
c. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Makassar
Pembangunan kesehatan di kota Makassar diselenggarakan dalam upaya mencapai Visi “Makassar Kota Dunia Berlandas Kearifan Lokal”.
Sebagai salah satu pelaku pembangunan kesehatan, maka dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar mengacu kepada dasar-dasar pembangunan kesehatan yaitu:
(1)Perikemanusiaan; (2) Pemberdayaan dan Kemandirian; (3) Adil dan Merata; (4) Pengutamaan dan Manfaat, maka ditetapkan Visi Dinas Kesehatan Kota Makassar yaitu “Makassar Sehat Menuju Kota Dunia”.
Masyarakat Sehat Menuju Kota Dunia adalah suatu kondisi dimana masyarakat Kota Makassar menyadari, mau dan mampu untuk mengenali, mencegahdan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas darigangguan kesehatan, baik yang disebabkan oleh penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana,
maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
Misi Dinas Kesehatan Kota Makassar adalah “Mewujudkan Warga Kota Yang Sehat”. Dimana Dinas Kesehatan Kota Makassar harus mampu sebagai penggerakdan fasilitator pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah bersama masyarakat termasuk swasta, untuk mewujudkan rakyat sehat, baik fisik, sosial, maupun mental/jasmaninya.
B. Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar
Penerapan sebuah kebijakan dan pelaksanaan program, pemerintah tidak hanya mengandalkan pada kapasitas internal yang dimilikinya, dengan adanya keterbatasan kemampuan, sumberdaya maupun jaringan yang menjadi faktor pendukung terlaksananya suatu program atau kebijakan, mendorong pemerintah untuk melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, baik dengan sesama pemerintah, pihak swasta maupun masyarakat dan komunitas masyarakat sipil sehingga dapat terjalin kerjasama kolaboratif dalam mencapai tujuan program atau kebijakan. Hal tersebut dilakukan dalam kerangka Collaborative Governance yang dilaksanakan melalui beberapa tahapan antara lain “assessment, initiation, deliberation dan implementation” yang akan dibahas pada sub pembahasan di bawah ini.
1. Assessment (Penilaian).
Assessment adalah penilaian terhadap kondisi awal yang sangat mempengaruhi keberhasilan dalam kemitraan kolaborasi antar stakeholder.
Assessment dalam collaboraive governance melibatkan penilaian, berkaitan dengan kondisi awal yang sangat mempengaruhi kemungkinan keberhasilaan kemitraan dan penilaian apakah kolaborasi perlu dan mungkin dilakukan pada tujuan untuk memecahkan permasalahan yang sama atau visi dan misi bersama. Melibatkan stakeholder didalamnya antara KPA, Dinas Kesehatan, dan masyarakat untuk kasus HIV/AIDS di Kota Makassar.
Kolaborasi yang bertujuan untuk memecahkan permasalahan yang sama antara KPA, Dinas Kesehatan, dan masyarakat untuk mengurangi ODHA, hal ini dikarenakan HIV/AIDS merupakan virus yang selama ini sulit untuk dikendalikan dan semakin bertambahanya angka kematian, untuk sebab itu kolaborasi yang harus dijalankan dengan baik sehingga tidak ada permasalahan diantara lembaga tersebut.
KPA dan Dinas Kesehatan, memiliki visi dan misi yang sama, walaupun ditulius dalam bahasa yang berbeda, namun pada umumnya memiliki kesamaa dalam misi, Dinas Kesehatan, dan masyarakat merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dan juga saling melengkapi dalam penanggulangan HIV/AIDS.
KPA dan Dinas Kesehatan sama-sama berkomitmen untuk mencapai tujuan bersama. Dinas kesehatan disini bertugas untuk mengumpulkan dan mengkoordinir seluruh LSM dan Rumah Sakit di Kota Makassar yang berkonstrasi pada penanggulangan HIV/AIDS. Dinas Kesehatan yang
mengkoordinir LSM dan Rumah Sakit yang mengimplemntasikan program-program bersama.
Hal tersebut dituturkan oleh salah satu informan Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Kota Makassar :
“Bersama dengan Dinas Kesehatan, KPA melakukan tujuan bersama yaitu penanggulangan HIV/AIDS dengan bentuk seminar, pembagian alat kontrasepsi dll. di Kota Makassar akan tetapi masih adanya kurangnya kepercayaan diantara LSM-LSM dalam penanggulangan kasus HIV/AIDS di Kota Makassar” (Hasil wawancara dengan AL pada tanggal 2 Maret 2020).
Berdasarkan uraian tersebut KPA Kota Makassar melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dalam hal penanggulangan HIV/AIDS seperti seminar dan pembagian alat kontrasepsi di Kota Makassar menurut salah satu Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS di Kota Makassar masih kurangnya kepercayaan diantara LSM-LSM dalam penanggulagnan kasus ini.
Telah dilakukan bersama bahwa HIV/AIDS seperti sebuah fenomena gunung es, jadi yang terlihat hanya puncaknya saja sedangkan dibawanya banyak kasus-kasus HIV/AIDS yang belum terpecahkan. Secara keseluruhan KPA dan Dinas Kesehatan berusaha berkomitmen untuk melayani dan juga berusaha mencegah dan menekan agar virus HIV tidak menjadi AIDS sehingga dapat menekan kasus kematian akibat AIDS.
Hal tersebut dituturkan oleh salah satu informan Pengelola Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar :
“bersama dengan berbagai LSM, pihak swasta dan lembaga lain yang penting prinsip kita melayani orang terinfeksi dan terdampak HIV/AIDS” (Hasil wawancara dengan HR pada tanggal 1 Maret 2020).
Berdasarkan uraian yang di sampaikan oleh Pengelola Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar pada kolaborasi bersama dengan berbagai LSM, pihak swasta yang penting prinsip dari Dinas Kesehatan sendiri melayani orang terinfeksi dan terdamak HIV/AIDS.
Hal tersebut dituturkan oleh salah satu informan Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Kota Makassar :
“kami memetakan program-program yang relevan masing-masing lembaga yang saling berhubungan dan mendukung ke arah visi misi besama, masing-masing lembaga menjabarkan renca kerjanya didepan lembaga KPA Kota Makassar dan hasil dari program tersebut akan diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kota Bandung. (Hasil wawancara dengan AL pada tanggal 2 Maret 2020).
KPA dan Dinas Kesehatan serta LSM memiliki visi dan misi yang sama, dalam menjalankan suatu kolaborasi, koordinasi dan juga kepercayaan antara setiap anggota sangatlah penting. Membina hubungan dan juga proses komunikasi yang baik antara mitra satu dengan yang lain dapat membawa dampak baik juga keberhasilan suatu kolaborasi.
Hal tersebut dituturkan oleh salah satu informan Pengelola Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar:
“kami percaya pada LSM begitu juga pihak swasta, maka dari itu kami mau menggandeng dan kolaborasi sama LSM dan pihak swasta ini karena kita percaya LSM dan pihak swasta memiliki visi dan misi yang sama denga kami, dan tidak juga berusaha untuk mengkoordinasikan dengan baik, karena semua tidak berjalan lancar kalau bersama mitra saja kita tidak saling percaya” (Hasil wawancara dengan HR pada tanggal 1 Maret 2020).
Berdasarkan pendapat aparatur di atas terkait kepercayaan pada LSM dan juga pihak swasta maka dari itu kolaborasi sangatlah perlu karena kepercayaan
di dalam kolaborasi ini sangatlah perlu untuk tujuan bersama penanggulangan HIV/AIDS di Kota Makassar.
Demikian pula dituturkan oleh salah satu informan Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Kota Makassar :
“ya kita percaya karena visi dan misi kita sejalan yaitu menekan angka kematian akibat HIV, sosialisai, pencegahan, dan sebagainya” (Hasil
“ya kita percaya karena visi dan misi kita sejalan yaitu menekan angka kematian akibat HIV, sosialisai, pencegahan, dan sebagainya” (Hasil