• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM MEMINIMALISIR PENDERITA HIV/AIDS DI KOTA MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HASIL PENELITIAN COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM MEMINIMALISIR PENDERITA HIV/AIDS DI KOTA MAKASSAR"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

i

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diusulkan Oleh :

MALADY SUMAY

Nomor Induk Mahasiswa : 10564 01888 14

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2020

(2)
(3)
(4)
(5)

iv ABSTRAK

MALADY SUMAY. 2020. Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar. (dibimbing oleh Amir Muhiddin dan Ansyari Mone).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Collaborative Governance dalam Meminimalisir Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam melaksanakan tata kelola pemerintahan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Makassar yang masih terjadi permasalahan dan belum berjalan secara maksimal. Metode peneltifitian yang digunaka adalah metode deskriptf dengan pendekatan kualitaf, Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancaraa dan dokumentasi. Informan yang peneliti ambil berjumlah 5 orang dengan yaitu Pengelola Program KPA, Aparatur Dinas Kesehatan, dan Orang dengan lingkungan HIV/AIDS dengan menggunakan teknik purposive. Uji keabsahan data yang digunakan peneliti menggunakan teknik triangulasi data.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa secara Assessment Collaborative Governance Meminimalisir Orang dengan HIV/AIDS (ODHA di Kota Makassar sudah bertujuan kearah yang sama yaitu penanggulangan akan tetapi masih terdapat masih kurangnya kepercayaan antara stakeholder dalam penanggulangan HIV/AIDS. Initiation masih sangat minim sumber daya manusia, dan sumber dana untuk penanggulangan HIV/AIDS masih berasal dari donor. Deliberation penanggulangan Kasus HIV/AIDS belum berjalan dengan baik terdapat musyawarah untuk menentukan kesepakatan di dalam proses kolaborasi tersebut, namun akan tetapi dalam proses musyawarah sering terjadi perdebatan dana alokasi untuk penanggulangan HIV/AIDS. Implementation secara umum sudah berjalan dengan baik. Namun masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam proses sosialisasi yang dilakukan terkait penanggulangan HIV/AIDS.

Ketidak sinkronan jadwal dari masing-masing stakeholder tersebut menyebabkan proses sosialisasi yang dilakukan selalu berbenturan dengan jadwal lembaga mereka masing-masing.

Kata Kunci : Collaborative Governance, HIV/AIDS

(6)

v

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberi berbagai karunia dan nikmat yang tiada terhitung kepada seluruh makhluknya terutama manusia. Demikian pula salam dan shalawat kepada Nabi kita Muhammad SAW yang merupakan panutan dan contoh kita di akhir zaman.

Dengan keyakinan ini sehinga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang saya ajukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiayah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Dr. Amir Muhiddin, M.Si selaku Pembimbing I dan Bapak Drs. Ansyari Mone, M.Pd selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Secara khusus penulis sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta dan tersayang Ayahanda ………. dan Ibunda

………. yang sangat berjasa dalam membersarkan, merawat dan memberikan pendidikan sampai jenjang saat ini, yang tidak pernah bosan untuk mendoakan,

(7)

vi

menyemangati, memotivasi serta memberikan bantuan moril maupun materil. Dan tak lupa pula kasih sayang yang tak hentinya beliau berikan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan pada program S1 Universitas Muhammadiyah Makassar

2. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP.,M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberi ilmu kepada penulis selama menempuh perkuliahan.

5. Pihak Dinas Kesehatan Kota Makassar yang telah banyak memberikan informasi dan data yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung.

6. Saudara(i)ku anak Ilmu Pemerintahan angkatan 2014 seperjuangan dalam meraih cita-cita yang telah banyak memberikan saran, dukungan, motivasi dan selalu setia menemani saya dalam suka maupun duka, serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung terselesaikannya skripsi ini.

(8)

vii

7. Serta senior-senior yang telah membimbing dan memberikan nasehat- nasehat yang baik selama saya kuliah selalu mendukung dan mendoakanku agar bisa secepatnya menyelesaikan skripsi ini.

Dan seluruh rekan serta pihak yang penulis tidak sebutkan namanya satu persatu, penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan dan doanya.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini sangatlah jauh dari kata sempurna. Dan demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun penulis sangat diharapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 01 Juli 2020 Penulis,

Malady Sumay

(9)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Collaborative Governance ... 9

1. Pengertian Collaborative Governance ... 9

2. Hambata Collaborative Governance ... 14

B. Tinjauan Tentang HIV/AIDS ... 23

1. Pengertian HIV/AIDS ... 23

2. Pengertian ODHA ... 24

3. Penyebab Penularan HIV/AIDS dan Penanggulangnnya... 25

4. Dampak HIV/AIDS ... 30

C. Kerangka Pikir ... 33

D. Fokus Penelitian ... 34

E. Deskripsi Fokus Penelitian ... 35

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 37

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 37

C. Sumber Data... 38

D. Informan Penelitian ... 38

(10)

ix

E. Teknik Pengumpulan Data ... 39 F. Teknik Analisis Data... 40 G. Keabsahan Data ... 41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 43 B. Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita

HIV/AIDS di Kota Makassar ... 53 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 73 B. Saran ... 74 DAFTAR PUSTAKA

(11)

1

Kesehatan adalah salah satu bentuk hak asasi manusia yang diwujudkan melalui perlindungan hukum dan kebijakan pemerintah dengan upaya pemberian fasilitas pelayanan kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Berdasrkan UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 1 poin 1 bahwa kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Karena itu, kesehatan merupakan dasar dari diakuinya derajat kemanusiaan.

Tanpa kesehatan, seseorang menjadi tidak sederajat secara kondisional.

Rendahnya pemahaman seseorang akan pentingnya kesehatan bagi dirinya sendiri membuat mereka memandang sebelah mata akan adanya permasalahan kesehatan di lingkungan sekeliling mereka.

Penyakit AIDS merupakan salah satu penyakit yang mengkhawatirkan bagi masyarakat dunia karena belum ditemukan obat dan vaksin untuk menyembuhkannya. Kasus HIV & AIDS berkembang sangat cepat di seluruh dunia dan telah menjadi permasalahan global. Menurut WHO, situasi global dan tren yang terjadi saat ini, lebih dari 70 juta orang telah terinfeksi virus HIV dan sekitar 35 juta orang telah meninggal karena HIV. Sebagian besar penderita adalah orang-orang dengan usia produktif, yaitu 15-49 tahun. Human Immunodefficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi

(12)

dan penyakit. Acquired Immuno Defficiency Syndrome (AIDS) adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh ODHA (orang dengan HIV & AIDS) untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.

Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757). (Kemenkes, 2018)

Sedangkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Makassar, dilaporkan oleh Dinkes Kota Makassar dari Juni 2005 sampai Oktober 2017 mencapai 9.302. Sedangkan kasus HIV baru di Kota Makassar dari Januari-Juli 2018 mencapai 354 yang terdeteksi dari 21.725 warga yang datang ke layanan konseling dan tes HIV. (Dinkes Kota Makassar, 2017).

Tingginya jumlah sebaran kasus HIV & AIDS yang menyentuh hampir ke seluruh kalangan ini menunjukkan bahwa diperlukan adanya kerja sama dari banyak pihak. Penanggulangan HIV & AIDS di berbagai daerah di Indonesia sejauh ini masih mengalami berbagai kendala, baik di tingkat pemerintah maupun di tingkat masyarakat. Kendala yang ada di tingkat pemerintah terlihat

(13)

pada lemahnya koordinasi antara pemerintah dengan para stakeholder lainnya.

Sementara di tingkat masyarakat yaitu lemahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri untuk mengetahui apakah mengidap virus HIV atau tidak, dan juga perilaku masyarakat yang berisiko tertular virus HIV masih marak terjadi. Pelaksanaan penanggulangan HIV dan AIDS tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak saja, tetapi menjadi tanggung jawab dan dapat dilaksanakan oleh berbagai pihak (lintas sektoral).

Kurangnya pemahaman keluarga dan masyarakat mengenai HIV dan AIDS menambah buruk situasi yang dialami pengidap. HIV dan AIDS masih dianggap sebagai momok menyeramkan, karena saat divonis sebagai ODHA, yang terbayang adalah kematian. Di masyarakat pengidap sering menerima perlakuan yang tidak adil atau bahkan mendapatkan diskriminasi dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Diskriminasi yang dialami ODHA membuat mereka menarik diri dari lingkungan sekitar, serta stigmatisasi yang berkembang dalam masyarakat mengenai HIV dan AIDS merupakan suatu vonis mati bagi mereka sehingga membatasi ruang gerak dalam menjalankan aktivitas mereka sebelumnya. Peristiwa yang dialami tersebut membuat mereka menutupi identitas mereka. Stigmatisasi merupakan tindakan mengucilkan seseorang karena melakukan sesuatu yang memalukan atau menyimpang dari norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat”. (Mudjahid, dkk; 2000).

Perkembangan HIV/AIDS sudah berlangsung selama 15 tahun dan didugan masih akan berkepanjangan masih terdapatnya faktor-faktor yang memudahkan penularan penyakit ini. Penyebaran HIV/AIDS bukan semata-

(14)

mata masalah kesehatan tetapi mempunyai implikasi sosial, ekonomi, politik, dan budaya bahkan dampak secara nyata, cepat atau lambat, menyetuh hampir semua aspek kehidupan manusia. Hal ini mengancam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan peran serta pemerintah dan juga masyarakat, dalam hal ini tergabung dalam LSM. Kolaborasi antara KPA, Dinas Kesehatan, Rumah sakit, LSM, dan Masyarakat dalam mengimplentasikan kebijakan/program penanggulangan HIV/AIDS memiliki peran yang penting dalam memerangi penyebaran virus HIV. Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian, namun perlu adanya bantuan dari LSM dan pihak swasta yang mendampingi atau bahkan menjadi alat kontrol pada kinerja pemerintah. Penanggulangan HIV/AIDS tidak hanya merupakan tanggung jawab sektor kesehatan untuk menanganinya, tetapi juga merupakan tanggung jawab berbagai sektor. Sebagai suatu bentuk reformasi maka kolaborasi biasa menjadi salah satu cara untuk melayani masyarakat.

Terkait KPA didukung dengan adanya usaha dan tidak terlepas dari beberapa instansi yaitu dengan Dinas Kesehatan, LSM-LSM, pihak swasta, dan masyarakat adanya usaha dari KPA dalam membantu masyarakat dalam mengatasi dan mengetahui bahaya dari HIV/AIDS. Dengan adanya koordinasi KPA dalam penanggulangan HIV/AIDS diharap Dinas Kesehatan, LSM-LSM, pihak swasta, dan masyarakat dapat membentuk kelompok kerja HIV/AIDS di semua lini.

(15)

Penelitian lain tentang Colaborrative Governance pada HIV/AIDS dan Colaborrative Governance pada bidang lain pernah dilakukan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan tersebut diantaranya ditulis oleh Sri Nuraini (2015) yang berjudul Collaborative Governance antar stakehoders dalam Pelaksanaan Program-Program Penanggulangan HIV/AIDS kolaborasi 3 pilar di Surakarta. Kasus HIV/AIDS di Kota Surakarta relatif tinggi, dengan jumlah kumulatif Surakarta menduduki peringkat ke tiga terbanyak Provinsi Jawa Tengah menurut data catatan KPA Surakarta tahun 2012. Melihat fenomena tersebut maka permasalahan AIDS tidak dapat diatasi oleh satu institusi lainnya. Kolaborasi merupakan proses kolektif melalui hubungan yang disepakati secara formal maupun informal untuk mencapai tujuan yang sama.

Pelaksanaan kolaborasi tiga pilar ini masih belum efektif dikarenakan distribusi pembagian tugas dan tanggung jawab yang belum merata, adanya keterbatasan sumber daya berupa data, sarana dan prasarana pengobatan HIV/AIDS.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi tiga pilar dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kota Surakarta belum berjalan efektif..

Untuk merespon permasalahan HIV & AIDS dalam rangka melindungi kelangsungan pengembangan sumber daya manusia dari bahaya akibat penularan HIV & AIDS yang terjadi di Indonesia, maka diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006 yaitu tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) merupakan salah satu lembaga non struktural (LNS) di Indonesia. KPAN dibentuk untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS yang dinyatakan

(16)

epidemic global sejak tahun 1987. Tujuan dibentuknya KPA Nasional yaitu untuk melakukan upaya pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS berdasarkan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku serta berperan aktif dalam pelaksanaan strategi global pencegahan dan penanggulangan AIDS yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Caranya dengan melakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga kelangsungan penanggulangan AIDS dan menghindari dampak yang lebih besar di bidang kesehatan, sosial, politik, ekonomi. Selain itu juga dalam rangka meningkatkan efektivitas koordinasi penanggulangan AIDS sehingga lebih intensif, menyeluruh, dan terpadu. Di samping itu juga meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya AIDS, serta meningkatkan pencegahan dan penanggulangan AIDS secara lintas sektor, menyeluruh, terencana, terpadu dan terkoordinasi.

HIV & AIDS dapat menjadi ancaman bagi suatu Negara jika tidak mendapatkan pencegahan dan penanggulangan secara komprehensif. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan tugas KPA Makassar dalam menanggulangi HIV & AIDS di Makassar, maka diperlukan kolaborasi antara KPA Makassar dengan stakeholder lain yang terkait. Dalam dunia modern seperti saat ini, kolaborasi sangat dibutuhkan dalam untuk mencapai tujuan. Kasus HIV-AIDS di Kota Makassar terbukti menyerang siapa saja dan tidak mengenal usia, status sosial, maupun jenis kelamin yang tidak mudah diprediksi. Hal ini banyak disebabkan tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai penularan dan dampak HIV/AIDS yang masih tergolong rendah. Penularan HIV dan AIDS perlu segera ditangani mengingat implikasi negatif tidak hanya

(17)

pada kesehatan masyarakat saja tetapi juga pada bidang sosial, ekonomi, dan politik sehingga ikut andil menjadi penghambat pembangunan yang kompleks di daerah ini.

Berdasarkan pemaparan pemikiran di atas dengan melihat fakta masih besarnya kasus HIV dan AIDS yang dipastikan berimplikasi terhadap hambatan pembangunan Kota Makassar, oleh karena itu penulis tertarik dan mengajukan judul penelitian yang berjudul “Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AID di Kota Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Collaborative Governance dalam meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti adalah Untuk mengetahui Collaborative Governance dalam meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Hasil yang nanti akan dicapai pada penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:

1. Secara teoritis, penelitian yang akan dilakukan ini dapat dijadikan suatu bahan studi perbandingan selanjutnya dan akan menjadi sumbangsi pemikiran ilmiah dalam melengkapi kajian-kajian yang mengarah pada

(18)

pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian ilmu pemerintahan.

2. Secara praktis, hasil dari penelitian yang akan dilakukan ini yaitu dapat menjadi suatu bahan masukan atau evaluasi bagi pemerintah daerah dalam pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Makassar.

3. Manfaat metodologis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi peneliti lain yang tertarik pada kajian kesehatan masyarakat pada fokus yang sama.

(19)

9 1. Pengertian Collaborative

Ansell dan Gash mengemukakan pengertian kolaborasi secara umum dapat dibedakan ke dalam dua pengertian, antara lain:

a. Kolaborasi dalam arti proses merupakan serangkaian proses atau cara mengatur/mengelola atau memerintah secara institusional.

Dalampengertian ini, sejumlah institusi, pemerintah maupun non pemerintahikut dilibatkan sesuai dengan porsi kepentingannya dan tujuannya.

b. Kolaborasi dalam arti normatif merupakan aspirasi atau tujuan- tujuanfisolofi bagi pemerintah untuk mencapai interaksi-interaksinya dengan para partner atau mitranya. (Sudarmo, 2009).

Dalam penelitian ini, kolaborasi yang di maksud adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan manfaat. Dimana nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah tujuan yang sama, kesamaan persepsi, kemauan untuk berproses, saling memberikan manfaat, kejujuran, kasih sayang serta berbasis masyarakat.

(20)

2. Governance

Sedarmayanti dalam bukunya yang berjudul Good Governance

“Kepemerintahan yang baik” mengemukakan mengenai istilah

“Kepemerintahan” atau dalam bahasa Inggris “Governance” yaitu berarti

‘’the act, fact, manner of governing”, yang berarti: “Tindakan, fakta, pola, dan kegiatan atau penyelenggara pemerintahan”. Dengan demikian governance adalah suatu kegiatan (proses), sebagaimana dikemukakan oleh Kooiman bahwa governance lebih merupakan “serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintahan dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan tersebut” (Sedarmayanti, 2012).

Kemudian United Nations Development Programme (UNDP) dalam dokumen kebijakannya yang berjudul “Governance Sustainable Human Development” mendefinisikan governance sebagai berikut:

“Governance is defined as the exercise economic, political, and administrative authority to manage a country’s affairs at all levels and means by which states promote social cohesion, integration, and ensure the well being of their population” (Sedarmayanti, 2012)

Dapat dijelaskan dari pengertian di atas bahwa pelaksanaan kewenangan atau kekuasaan dibidang ekonomi, politik dan administrasi dalame mengelola urasan Negara merupakan kebijakan nebara untuk mendorong terciptanya kondisi masyarakat yang sejahtera dalalm kehidupan sosial di masyarakat.

(21)

Selain itu, Dwiyanto dalam bukunya yang berjudul Mewujudkan Good Governance melalui Pelayanan Publik, mengemukakan bahwa:

“Governance menunjuk pada pengertian bahwa kekuasaan tidak lagi semata-mata dimiliki atau menjadi urusan pemerintah. Governance menekankan pada pelaksanaan fungsi governing secara bersama-sama oleh pemerintah dan institusi-institusi lain yakni lembaga swadaya masyarakat (LSM), perusahaan swasta maupun warga Negara. Meskipun prespektif governance mengimplikasikan terjadinya pengurangan peran pemerintah,pemerintah sebagai institusi tidak bisa ditinggalkan” (Dwiyanto, 2010).

Dengan demikian, pada dasarnya “unsur-unsur dalam kepemerintahan (governance stakeholders) meliputi tiga dominan yaitu Negara atau pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat yang saling berinteraksi dan menjalankan fungsinya masing-masing” (Sedarmayanti, 2012).

Ketiga dominan di atas tersebut berada dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sektor pemerintahan lebih banyak memainkan peranan sebagai pembuat kebijakan, pengendalian dan pengawasan. Sektor swasta lebih banyak berkecimpung dan menjadi penggerak aktifitas di bidang ekonomi.

Sedangkan masyarakat merupakan objek sekaligus subjek dari pemerintah maupun sector swasta, karena di dalam masyarakatlah terjadi interaksi di bidang politik, ekonomi maupun sosial dan budaya. Dwiyanto pun menjelaskan mengenai beberapa dimensi penting dari governance:

(22)

a. Dimensi kelembagaan, yang menjelaskan bahwa governance merupakan sebuah sistem yang melibatkan banyak pelaku (multistakeholders), baik dari pemerintah maupun dari luar pemerintah dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan untuk menanggapi masalah dan kebutuhan publik.

b. Dimensi nilai, dimensi ini menjadi dasar dalam penggunaan kekuasaan.

Nilai-nilai administrasi publik yang tradisional seperti efisiensi dan efektifitas telah bergeser menjadi nilai keadilan sosial, kebebasan dan kemanusiaan.

c. Dimensi proses, yang menjelaskan bagaimana berbagai unsur dan lembaga pemerintah memberi respon terhadap berbagai masalah publik yang muncul di lingkungannya. (Dwiyanto, 2010).

Dengan mengkaji governance dari ketiga dimensi itu, maka governance menjelaskan keterlibatan banyak pelaku dan jejaring pelaku dalam proses formulasi dan implementasi kebijakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan atau menyelesaikan masalah bersama. Kooiman mengemukakan sebagai berikut:

“Munculnya pemikiran baru mengarahkan kepada perubahan pola penyelenggaraan pemerintahan, yaitu dari pola tradisional atau konvensional menjadi pola baru penyelenggaraan pemerintahan yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah dengan swasta dan masyarakat. Atau lebih dikenal dengan pergeseran dari pemerintah (government) menjadi kepemerintahan (governance) sebagai wujud interaksi social politik antara pemerintah dengan masyarakat dalam menghadapi berbagai kontenporer

(23)

yang demikian kompleks, dinamis dan beraneka ragam” (Sedarmayanti, 2012).

3. Pengertian Collaborative Governance

Konsep Kolaborasi Pemerintah merupakan keterlibatan antar institusi- institusi yang tengah memulai usaha kerjasama, serta inisiatif dari masing- masing institusi (stakeholder) untuk menentukan atau mendefinisikan suatu tujuan, menilai hasil, dapat menyebabkan perubahan dan sebagainya. Dalam hal melakukan kolaborasi siapa yang memulai melakukan inisiatif dapat dilihat melalui tiga aspek. Pertama, inisiatif akan bermula dari pemain atau para pelaku yang memiliki tuntutan jelas untuk mencerminkan kepentingan public yang baik. Kedua, masing-masing stakeholder atau institusi yang berkolaborasi harus memiliki peran dalam menentukan tujuan-tujuan kolaborasi. Ketiga, hubungan diantara institusi-institusi yang terlibat harus bersifat strategis, artinya bahwa setiap institusi dalam melakukan tindakan selalu bisa dilihat secara transparan dan yang lainnya memberikan respon terhadap transparansi tersebut, (Donahue, 2011).

Collaborative governance merupakan langkah tatanan pemerintahan yang didalamnya terdapat keterlibatan semua pihak antara government, civil society, dan private sector dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan kerangka egalitariansime dan demokrasi melahirkan tata pemerintahan yang mengedepakan kepentingan society. Kolaborasi antara government, civil society, dan private sector merupakan langkah-langkah optimalisasi peran government dalam implementasi kebijakan publik dan penyelenggaraan

(24)

pelayanan publik. Secara umum dijelaskan bahwa “Collaborative Governance merupakan sebuah yang di dalamnya untuk mengusung kepentingan masing-masing instansi dalam mencapai tujuan bersama”

(Subarsono, 2016).

Collaborative disini menggambarkan sebagai upaya-upaya bersama sebagai jenis pemecahan masalah yang melibatkan instansi pemerintah dan non-pemerintah yang peduli. Definisi tersebut dapat dirumuskan ke beberapa kata kunci yang menekankan pada enam karakteristik, antara lain:

a. Forum tersebut di inisiasi atau dilaksanakan oleh lembaga publik maupun actor-aktor dalam lembaga publik;

b. Peserta di dalam forum tersebut juga termasuk aktor non-publik;

c. Peserta terlibat secara langsung dalam pembuatan dan pengambilan keputusan dan keputusan tidak harus merujuk pada aktor-aktor publik;

d. Forum terorganisir secara formal dan pertemuan di adakan secara bersama-sama;

e. Forum bertujuan untuk membuat keputusan atas kesepakatan bersama, dengan kata lain forum ini berorientasi pada konsensus; dan

f. Kolaborasi berfokus pada kebijakan publik maupun manajemen publik.

(Subarsono, 2016).

Berbeda halnya dengan definisi Collaborative Governance yang dijelaskan Agrawal dan Lemos bahwa: “Collaborative Governance tidak hanya berbatas pada stakeholder yang terdiri dari pemerintah dan non- pemerintah tetapi juga terbentuk atas adanya multipartner governance yang

(25)

meliputi sector privat, masyarakat dan komunitas sipil dan terbangun atas sinergi peran stakeholder dan penyusunan rencana yang bersifat hybrit seperti halnya kerjasama publik-privat dan privat-sosial” (dalam Subarsono, 2016).

Definisi diatas menjelaskan bahwa Collaborative Governance merupakan sebuah proses dan struktur dalam manajemen dan perumusan keputusan kebijakan publik melibatkan actor-aktor yang secara konstruktif berasal dari berbagai level, baik dalam tataran pemerintahan atau instansi publik, instansi swasta dan masyarakat sipil dalam rangka mencapai tujuan publik yang tidak bias dicapai apabila dilaksanakan oleh satu pihak saja.

Collaborative governance antara institusi menjadi isu penting dalam ilmu pemerintahan mengingat banyak persoalan pemerintah yang memiliki impliaksi luas yang tidak bisa ditangani secara optimal dan dipecahkan secara tuntas jika hanyak mengandalkan pada suatu intitusi pemerintahan saja. Melalui kolaborasi ini diharapkan persoalan yang dihadapi bisa diatasi atau paling tidak bisa diminimalisir secara signifikan.

Collaborative governance muncul dan dikembangkan secara adaptif untuk merespom adanya kompleksitas dan konflik-konflik bernuansa politik atau persoalan-persoalan yang menuntut diadopsinya nilai-nilai demokrasi, namun konsep tersebut tidak atau belum diinspirasikan oleh filosofi politis teori tertentu. Kecenderungan bahwa dilakukannya collaborative governance didorong oleh adanya upaya pragmatisme dalam menyelesaikan masalah yang selama ini tidak kunjung teratasi melalui penerapan teori-teori

(26)

konvisional yang selama ini dipercaya mampu mengatasi masalah.

(Sudarmo,2010).

Collaborative governance dipandang sebagai respon organisasi terhadap perubahan-perubahan atau pergeseran-pergeseran lingkungan kebijakan. Pergeseran-pergeseran bisa dalam bentuk jumlah aktor kebijakan meningkat, isu-isu semakin meluar keluar batas-batas normal yang bisa dirasakan atau sulit terdeteksi karena, ketertutupannya, kapasitas pemerintah daerah, kota dan atau pemerintah pusat terbatas sedangkan institusi-institusi diluar pemerintah meningkat, dan inisiatif spontan masyarakat semakin meluas dan kritis. Ketika pergeseran-pergeseran tersebut terjadi, maka hal ini bisa dirasakamn bahwa pemerintah memiliki pilihan terbatas atau kecil dan bahkan seakan dipaksa untuk mengikuti segera menyelesaikan atau mengatasi apa yang tengah menjadi isu tersebut, namun demikian pemerintah tetap harus meneyseuaikan dan membuat dirinya tetap relevan dengan lingkungan yang tengah bergejolak atau berubah. collaborative governance dalam konteks ini merupakan cara merespon terhadap perubahan sehingga pemerintah tetap aktif dengan melibatkan para institusi- institusi lain yang relevan dengan tujuan yang diinginkan.

Collaborative governance sebagai gambaran tentang cara menangani sesuatu isu atau persoalan tertentu yang sifatnya kabur dan tidak jelas yang memiliki implikasi bahwa ukuran-ukuran (standar-standar) dan relevan dari wilayah isu yang satu ke wilayah isu lainnya secara berbeda-beda. Siapa atau institusi mana saja yang dilibatkan atau harus dilibatkan dalam

(27)

kolaborasi, dan bentuk dan proses kolaborasi dimungkinkan akan berbeda- beda dari sebuah wilayah isu tertentu ke isu lain dan dari satu sektor ke sektor lain. Ini untuk menggaris bawahi bahwa kolaborasi antara insitutusi pemerintahan dan insitusi swasta dalam penurukan angka penularan HIV atau pedagang kaki lima misalnya, tentu berbeda dengan institusi mana saja yang terlibat atau dilibatkan. Bentuk proses kolaborasinya dalam isu-isu kesejahteraan petani padi, perdagangan anak, dan isu ketenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri.

Proses collaborative governance yang simpulkan oleh Morse &

Stephens (2012), dalam jurnalnya yang berjudul Teaching Collaborative Governance: Phases, Competencies, and Case-Based Learning berikut empat tahap dalam proses collaborative governance dalam Morse &

Stephens, antara lain:

1) Assessment (Penilaian)

Tahap pertama dari collaborative governance adalah assessment.

Tahap ini berkaitan dengan kondisi awal yang sangat mempengaruhi keberhasilan dalam kemitraan antara stakeholder. Selain itu, tahap ini akan memberikan penilaian apakah kolaborasi diperlukan dan apakah kolaborasi memungkinkan untuk dilaksanakan. Tahap ini meliputi:

a) Faktor pemahaman kontekstual seperti sejarah kerjasama dan insentif kelembagaan atau kendala;

b) Mengidentifikasi pemangku kepentingan;

c) Kesepakatan umum tentang masalah, atau rasa tujuan bersama); dan

(28)

d) Rasa urgensi atau komitmen melaksanakan kolaborasi untuk menciptakan solusi.

2) Initiation (Inisiasi)

initiation dimana setelah jelas bahwa diperlukannya suatu kolaborasi, maka tahap ini akan dilaksanakan dengan melibatkan, antara lain: “mengidentifikasi convener dan peran sponsor yang mungkin akan menjadi sumber daya manusia dan sumber dana; dan mengumpulkan para pemangku kepentingan untuk mengembangkan kelompok kerja dalam process design”. Tahap initiation menekankan "soft skill" untuk mengadakan, membangun hubungan dan membangun sebuah tim.

3) Deliberation (Musyawarah)

tahap deliberation, yaitu: “menetapkan aturan dasar, musyawarah dan dialog antara stakeholder sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama yang bertujuan untuk menciptakan dan mengeksplorasi pilihan;

dan mencapai perjanjian kerjasama”.

4) Implementation (Implementasi)

tahap implementation diperlukan beberapa komponen yang akan mendukung, antara lain: “perancangan struktur pemerintahan;

mendukung daerah yang dipilih atau menemukan ‘’pemenangan’’

lainnya, monitoring perjanjian dan komitmen kerjasama, mengevaluasi hasil dan mengelola kemitraan” .

Melihat adanya tahap-tahap collaborative governance, peneliti dapat menyimpulkan bahwa dari setiap tahapan proses kolaboratif menekankan set

(29)

yang berbeda. Assessment membutuhkan kemampuan analisis, initiation adalah tentang jaringan dan persuasi, deliberation melibatkan dinamika kelompok dan keterampilan proses lainnya dan implementation melibatkan konstelasi "manajemen jaringan" kompetensi. .

4. Hambatan Collaborative Governance

Terdapat sejumlah faktor yang bisa menyebabkan gagalnya suatu kolaborasi termasuk partsipasi aktif dari berbagai stakeholder. Studi di Canada mengenai terhambatnya jalanya suatu kolaborasi (dan juga partisipasi) adalah karena disebabkan oleh banyak faktor, terutama faktor- faktor budaya, faktor-faktor institusi-institusi, dan faktor-faktor politik (Sudarmo, 2010).

Budaya, Untuk terciptanya kolaborasi yang efektif mensyaratkan para pelayan publik (dan dengan demikian para pemimpinnya) untuk memiliki skills (ketrampilan) dan kesediaan untuk masuk ke kemitraan secara pragmatik, yakni berorientasi pada hasil. Memang memungkinkan mengabaikan konvensi dan menjadikan segala sesuatu dilakukan dalam sebuah kolaborasi, namun melakukan hal seperti ini dalam pelayanan publik yang tergantung pada prosedur dan tidak bersedia mengambil resiko tidak mungkin akan menjadikan kolaborasi sebuah kenyataan. Ketergantungan terhadap prosedur secara berlebihan justru akan menghambat kolabor dan tidak menimbulkan kemajuan bagi peningkatan kualitas kolaborasi. Dengan kata lain, ketergantungan pada prosedur dan tidak berani mengambil resiko merupakaan salah satu hambatan bagi terselenggaranya efektivitas

(30)

kolaborasi. (Sudarmo,2010).

Dalam pelayanan publik, “risk-reward calculus” (perhitungan imbalan beresiko) tidak berlaku sebab pegawai (juga pemimpin) yang berinovasi dan mereka yang beresiko gagal melalui kolaborasi dalam rangka mencapai hasil yang lebih baik, jarang dihargai ketika mencapai keberhasilan, dan sering harus menanggung resiko sendiri ketika inovasinya gagal.

Lingkungan seperti ini justru menciptakan penolakan untukmelakukan pengorganisasian/penyusunan cara-cara kerja yang fleksibel dan praktis yang sebenarnya bisa dilakukan melalui kolaborasi, namun dalam kenyataannya justru menimbulkan ketergantungan terhadap pihak lain.

Sebaliknya, sebuah budaya yang mencakup kegagalan sebagai bagian dari

“pembelajaran organisasi” secara inovatif, justru sangat tepat bagi usaha- usaha kolaborasi (Sudarmo,2010).

Disamping itu, mengapa kolaborasi gagal adalah masih dipertahankanya pendekatan “top down” oleh pihak pemerintah ketika menjalin kolaborasi dengan pihak lain, masih adanya dominasi dari pihak pemerintah dan tidak menjalankan kesepakatan berdasarkan mentalitas kerjasama dan egalitarian sebagaimana yang dipersyaratkan bagi berjalannya sebuah kolaborasi, juga kolaborasi gagal karena partisipasi dari kelompok kepentingan atau stakeholder lainnya selama ini sering kali masih dipandang bukan hal utama dan tidak diperlukan, tidak penting dan didominasi oleh kelompok dominan/pihak pemerintah melalui pendekatan top down. Kolaborasi juga bisa gagal karena kooptasi dan strategi pecah

(31)

belah dengan cara mengakomodasi kepentingan kelompok-kelompok yang pro kebijakan pemerintah dan mengabaikan kelompok yang anti kebijakan pemerintah (Sudarmo,2010).

Institusi-intsitusi yang masih terlalu ketat mengadopsi struktur vertical, yang dengan demikian akuntabilitas institusi dan arah kebijakannya juga bersifat vertical, tidak cocok untuk kolaborasi karena kolaborasi mensyaratkan cara-cara kerja atau pengorganisasian secara horizontal antara pemerintah dan non-pemerintah. Bahkan betapapun sebuah pemerintahan mengadopsi sistem pemerintahaan demokrasi yang biasanya bersifat

“representative democracy” belum tentu cocok bagi kolaborasi karena demokrasi mensyaratkan tingkat proses dan derajat formalisme yang begitu besar dibanding dengan kemitraaan horisontal. Dengan kata lain, kolaborasi yang cenderung memiliki sifat spontanitas (yang kadang tidak memerlukan aturan ketat secara formal dan kadang juga tidak perlu mengikuti proses tradisional yang biasa dilakukan dalam keseharian atau sesuai standard operating procedure yang biasa terjadi dalam organisasi public yang mekanistik), tidak bisa menggantikan tujuan-tujuan yang ditentukan secara terpusat dan kebutuhan-kebutuhan negara demokratis pada umumnya (Sudarmo,2010).

Akuntabilitas institusi-institusi publik (organisasi-organisasi milik pemerintah) cenderung kaku, yakni hanya mengacu pada akuntabilitas pada organisasi atau atasan saja, atau aturan yang berlaku saja, sehingga akuntabilitas dalam konteks ini lebih menekankan pada responsibilitas.

(32)

Padahal isu akuntabilitas sangat kompleks. Pada era dimana peran media semakin meningkat dan pengawasan dari publik semakin gencar dan muncul bersama-sama dari berbagai pihak, sulit dibayangkan para pembuat kebijakan hanya akan menghadapi sedikit persyaratan dalam hal pengkatalogan, arah, dan rasionalisasi belanja-belanja publik. Padalah kolaborasi menghendaki persyaratan flesibilitas ketika sampai pada penggunaan/belanja sumberdaya milik bersama/publik.

Hambatan lainnya bagi kolaborasi adalah terjadinya dan kakunya

“batasan definisi” dan “kondisi” yang ditentukan pihak pemerintah. Sering terjadi bahwa dalam organisasi-organisasi pemerintah (public), rencana- rencana dan inisiatif-inisiatif terikat oleh harapan, prosedur, ketersediaan dan sumbardaya yang melimpah dan duplikatif, sehingga sulit dibayangkan menyelenggarakan bentuk kolaborasi dengan para aktor di luar organisasi untuk memperoleh pemahaman yang sama (Sudarmo,2010).

Disamping itu, masih ada kemungkinan hambatan lainnya adalah tidak terlihatnya atau belum dikembangkannya strategi-strategi inovatif; dan kalaupun ada inovasi-inovasi yang dilakukan, tidak mencerminkan investasi dana publik secara substansial; bahkan dana-dana tersebut kemungkinan ada di luar pengamatan, terutama jika dana-dana tersebut membuahkan hasil- hasil positif. Bahkan segera setelah program semakin besar atau menjadi bagian dari filosofi yang lebih luas yang memandu semua jenis rencana, atau jika proyek-proyek kolaborasi memburuk (gagal), pemerintah kemungkinan akan mengintervensi dan mengatur inisitif diluar yang kita

(33)

ketahui. Proses seperti itu mungkin dikuti dengan ukuran-ukuran akuntabilitas yang sangat ketat dan kaku, dan pada akhirnya meninjau kembali budaya resiko dan kegagalan yang muncul dari kolaborasi.

Politik, Kepemimpinan yang inovatif (forward-looking) adalah pemimpin yang bisa memperkenalkan berbagai macam nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang bisa menjadikan sebagai inti pemerintahan yang kolaboratif, dan memberikaan inspirasi terhadap agenda yang ditentukan di atas tetapi bisa mengarahkan pada pencapaian hasil-hasil positif melalui kemitraaan. Ini untuk menggarisbahwahi bahwa kolaborasi bisa saja terhambat, jika para pemimpin dari kelompok-kelompok yang berkolaborasi kurang atau tidak inovatif.

Demikian pula, collaborative governance bisa gagal karena adanya perubahan kesepakatan yang telah disetujui diawal kesepakatan kerjasama dan munculnya kepentingan baru yang berbeda-beda diantara stakeholder termasuk para pemimpin masing-masing kelompok dalam menjalankan collaborative governance (Sudarmo,2010).

B. Tinjauan Tentang HIV/AIDS 1. Pengertian HIV/AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejaa dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang

(34)

memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi opotunistik ataupun mudah terkan tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan vrus, namun penyakti ini belum benar-benar bisa disembuhkan (Aritohang,2014).

HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang mengancam hidup manusia saat ini tidak ada negara yang terbebas dari HIV/AIDS. Epidemi HIV pertama kali didefinisikan pada tahun 1983. Derajat kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh HIV dan dampak globl dari infeksi HIV terhadap sumber daya penyedia kesehatan dan ekonomi sudah meluas dan terus berkembang.

HIV teleh menginfeksi 50-60 juta orang yang menyebabkan kematian pada orang dewasa dan anak-anak lebih dari 22 juta orang/ lebih dari 42 juta orang hidup dengan infeksi HIV dan AIDS, kurangnya pemahaman keluarga dan masyarakat menegnai HIV/AIDS menambah buruh situasi yang dialami penderita. HIV dan AIDS masih dianggap sebagai momok menyeramkan, karena saat divonis sebagai ODHA, yang terbayang adalah kematian. Di masyarakat penderita sering menerima perlakukan yang tidak adil atau bahkan mendapatkan diskriminasi dari lingkungan keluarga dan masyarakat (Aritohang,2014).

2. Pengertian ODHA

ODHA adalah sebuah sebutan untuk orang-orang yang telah mengidap HIV/AIDS. ODHA merupakan kepanajngan dari “Orang Dengan

(35)

HIV/AIDS” adapun gejala-gejala seseorang kemungkinan terjangkit HIV diantarana adalah sebagai berikut :

1. Rasa lelah berkepanjangan

2. Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan 3. Berat badan turun secara menyolok

4. Pembesaran kelenjar (dileher, ketiak, lipatan paha) tanpa sebab yang jelas 5. Bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kulit)

6. Sering demam (lebih dari 38 derajat Celcius) disertai keringat malam tanpa sebab yang jelas

7. Diari lebih dari satu bulan tanpa sebab yang jelas

Pada awal-awal kasus terjangkitnya HIV, kebanyakan orang tersebut cenderung menunjukan reaksi-reaksi keras seperti menolak tes, menangis, menyesali dan memarahi diri sendiri, bahkan mengucilkan diri sendiri. Saat- saat seperti itu merupakan gejala psikologi yang justru dapat membuat orang tersebut semakin terpuruk. Pembinaan terhadap ODHA diperlukan agar selanjutnya ODHA kembali melanjutkan hidup. ODHA bukan berarti akhir. ODHA masih dapat bertahan hidup selama 5-10 tahun. Sekarang tinggal bagaimana ODHA itu sendiri mengisi hidupnya yang lebih berguna bagi diri sendiri (Ellya, 2012).

3. Penyebab Penularan HIV/AIDS dan Penanggulangnnya

Penularan Virus HIV/AIDS dapat melalui berbagai macam cara, yaitu:

a. Seks Bebas serta seks yang kurang sehat dan aman

Berhubungan intim yang tidak sehat dan tidak menggunakan

(36)

pengaman adlaah peringkat pertama terbesar penyebab menularnya virus HIV/AIDS, transmisi atau penularan HIV dalam hubungan seksual peluang terjadinya sangat besar, karena pada saat terjadi kontak antara sekriasi pdada cairan vagina pada alat kelamin.

Hubungan seksual kurang aman dan tanpa dilengkapi pelindung (kondom) akan lebih sangat berisiko dibandingkan hubungan seksual yagn tanpa dilengkapi pelindung (kondom) dan risiko hubungan seks anal lebih besar dibanding hubungan seks biasa dan oral seks, meskipun tidak berarti bahwa kedua jenis seks tersebut beresiko

b. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril

Penggunaan jarum suntik yang tidak steril sangat mampu mendorong seseorang terkena penyakit AIDs, para pengguna Narkoba yang terkadang saling bertukar jarum suntik sangat rentan tertular penyakit ini, karena penularan HIV/AIDS sangat besar presentasinya terjadi karena cairan pada tubuh penderita yang terkena HIV dan AIDS berpindah ke tubuh normal (sehat).

c. Penyakit menurun

Seseorang ibu yang terkena AIDS akan dapat menurukan penyakitnya pada janin yang dikandungnya, transmisi atau penularan HIV melalui rahim pada masa parinatal terjadi pada saat minggu terakhir pada kehamilan dan persalinan yaitu sebesar 25%. Penyakit ini tergolong penyakit yang dapat diruntunkan oleh sang ibu terhadap anaknya, menyusui juga dapat meningkatkan resiko penularan sebesar 4%.

(37)

d. Transfusi darah yang tidak steril

Cairan didalm tubuh penderita AIDS sangat rentan menular sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang telti dalam hal transfusi darah pemilihan dan penyeleksian donor merupakan tahap awal untuk mencegah penularan penyakit AIDS, resiko penularan HIV/AIDS di sangat kecil presentasimnya di negara-negara maju, hal ini disebabkan karena dinegara maju keamanan dalam tranfusi darah lebih terjamin karena proses seleksi yang lebih ketat. (Ellya, 2012).

Cara Penanggulangan AIDS upaya cara penanggulangan AIDS upaya pencegahan program cara Penanggulangan AIDS pencegahan HIV/AIDS hanya dapat efektif bila dilakukan dengan komitmen masyarakat dan komitmen politik yang tinggi untuk mencegah dan atau mengurangi perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV. Upaya pencegahan meliputi :

1. Pemberian penyuluhan kesehatan di sekolah dan di masyarakat harus menekan bahwa mempunyai pasangan seks yang berganti-ganti serta penggunaan obat suntik bergantian dapat meningkatkan risiko terkena infeksi HIV. Pelajaran juga harus dibekali pengetahuan bagaimana untuk menghindari atau mengurangi kebiasaan yang mendatangkan risiko terkena infeksi HIV. Program untuk anak sekolah harus dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan mental serta kebutuhan mereka, begitu juga bagi mereka yang tidak sekeloh. Kebutuhan kelompok minoritas, orang-orang dengan bahasa yang berbeda dan bagi penderita tubna netra serta tuna rungu harus dipikirkan.

(38)

2. Satu-satunya jalan aghar tidak terinfeksi adalah dengan tidak melakukan hubungan seks atau hanya berhubungan seks deengan satu orang diketahui tidak mengidap infeksi. Pada situasi lain, kondom lateks harus digunakan dengan benar setiap kali seseorang melakukan hubungan seks secara vaginal, anal atau oral. Kondom lateks dengan pelumas berbahan dasar air dapat menurukan risiko penularan melalui hubungan seks.

3. Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan mengurangi penularan HIV. Begitu pula program “Harm reduction” yang mengajurkan para pengguna jarum suntik untuk menggunakan metode dekontaminasi dan menghentikan penggunaan jarum bersama telah terbukti efektif.

4. Menyediakan fasilitas Konseling HIV dimana identitas penderita dirahasiakan atau dilakukan secara anonimus serta menyediakan tempat- tempat untuk melakukan pemeriksaan darah. Faslitas tersebut saat ini telah tersedia di seluruh negara bagian di AS. Konseling, tes HIV secara sukarela dan rujukan medis dianjurkan dilakukan secara rutin pada klinik keluarga berencana dan klinik bersalin, klinik bagi kaum homo dan terhadap komunitas dimana seroprevalens HIV tinggi. Orang yang aktivitas seksualnya tinggi disarankan untuk mencari pengobatan yang tepat bila menderita Penyakit Menular Seksual (PMS).

5. Setiap wanita hamil sebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk dilakukan tes HIV sebagai kegiatan rutin dari standar perawatan kehamilan. Ibu dengan HIV positif harus dievaluasi untuk

(39)

memperkirakan kebutuhan mereka terhadap terapi zidovudine (ZDV) untuk mencegah penularan HIV melalui uterus dan perinatal.

6. Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh USFDA, untuk mencegah kontaminasi HIV pada plasma dan darah. Semua darah donor harus diuji antibodi HIV nya. Hanya darah dengan hasil tes negatif yang digunakan. Orang yang mempunyai kebiasaan risiko tinggi terkena HIV sebaiknya tidak mendonorkan plasma, darah, organ-organ untuk transplantasi, sel atau jaringan (termasuk cairan semen untuk inseminasi buatan). Institusi (termasuk bank sperma, bank susu atau bank tulang) yang mengumpulkan plasma, darah atau organ harus menginformasikan tentang peraturan dan kebijakan ini kepada donor potensial dan tes HIV harus dilakukan terhadap semua donor. Apabila mungkin, donasi sperma, susu atau tulang harus dibekukan dan disimpan selama 3 – 6 bulan.

Donor yang tetap negatif setelah masa itu dapat di asumsikan tidak terinfeksi pada waktu menjadi donor.

7. Jika hendak melakukan transfusi Dokter harus melihat kondisi pasien dengan teliti apakah ada indikasi medis untuk transfusi. Transfusi otologus sangat dianjurkan.

8. Hanya produk faktor pembekuan darah yang sudah di seleksi dan yang telah diperlakukan dengan semestinya untuk menonaktifkan HIV yang bisa digunakan.

9. Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penanganan, pemakaian dan pembuangan jarum suntik atau semua jenis alat-alat yang berujung tajam

(40)

lainnya agar tidak tertusuk. Petugas kesehatan harus menggunakan sarung tangan lateks, pelindung mata dan alat pelindung lainnya untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan yang mengandung darah.

Setiap tetes darah pasien yang mengenai tubuh petugas kesehatan harus dicuci dengan air dan sabun sesegera mungkin. Kehati-hatian ini harus di lakukan pada semua pasien dan semua prosedur laboratorium (tindakan kewaspadaan universal).

10. WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa gejala dengan vaksin-vaksin EPI (Expanded Programme On Immunization); anak-anak yang menunjukkan gejala sebaiknya tidak mendapat vaksin BCG. Di AS, BCG dan vaksin oral polio tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada anak-anak yang terinfeksi HIV tidak perduli terhadap ada tidaknya gejala, sedangkan vaksin MMR (measles-mumps-rubella) dapat diberikan kepada anak dengan infeksi HIV (Ellya, 2012).

4. Dampak HIV/AIDS

Fenomena orang-orang dengan HIV positif masih dianggap sebagai sesuatu yang asing tidak menarik bagi kebanyaka masyarakat. Kita sering dengar bahwa orang dengan HIV/AIDS menghadadapi banyak maslaah sosial. Di perlakukan berbeda dengan orang lain. Dalam pergaulan dikucilkan oleh teman-temannya, bahkah oleh keluarganya sendiri.

Ketakutan akan perlakuan yabng dibedakan ini pun membuat orang HIV/AIDS susah menjembatani diri dengan orang lain. Takut untuk

(41)

membagi penglamannya. Bahkan untuk menyatakan bahwa dirinya sakit dan perlu pertolongan kepada orng lain. Ia senantiasa khawatir akan reaksi dan penerima orang lain atas dirinya. Sebaiknya, orang lain pun menjaga ajarak. Lebih dari itu, mereka membuat pagar. Orang HIV/AIDS menyebabkan keresahan. Baik dalam kelompok kecil, maupun dalam skala yang amat besar. (Ellya, 2012).

Hidup dengan HIV/AIDS memang pada kenyataannya sulit dan menyedihkan. Menerima kenyataan bahwa kita mengidap suatu virus yang tidak bisa disembuhkan bukan hal bisa dianggap biasa-biasa saja, terutama secara psikologi. Selain itu, ODHA seringkali harus menutup-nutupi status HIV jika mau aman. Ada resiko diskriminasi di lingkungan di tempat kerja, dalam mendapatkan pelayanan, bahkan di rumah dan di tempat perawatan kesehatan, belum lagi pandangan masyarakat yang merendahkan dan penuh ketakutan yang masih kuat di sekeliling ODHA. Selain itu, ingin menjaga kesehatan fisikpun sulit. Obat-obatan tidak tersedia ataupun tidak terjangkau harganya, fasilitas tes kesehatan dan perawatan juga minim dan terbatas, dan jaminan kerahasiaan yang meragukan adlaah beberapa contohnya.

Beberapa dampak sosial dari penderita HIV/AIDS dilingkungannya antara lain:

1. Menurunnnya produktivitas masyarakat salah satu masalah sosial yang di hadapi ODHA adalah menurunya produktivitas mereka. Daya tahan tubuh yang melemah, dan angka harapan hidup yang menurun, membuat daya produktivitas ODHA tidak lagi sama seperti orang pada umumnya. Hal ini

(42)

menyebabkan kebanyakan dari mereka kehilangan kesempatan kerja ataupun pekerjaan tetapnya semula. Hal ini juga berpengaruh terhadap permasalahan dalam aspek ekonomi yang mereka hadapi.

2. Mengganggu terhadap rogram pengetasan kemiskinan berkaitan dengan yang pertama, ketika ODHA mengalami penurunan produktivitas, mereka akan kehilangan pekerjaan mereka dan mulai menggantungkan hidupnya kepada keluarganya ataupun orang lain. Tanpa disadari hal ini akan mengganggu terhadap program pemerintah dalam menuruntkan angka kemiskinan.

3. Meningkatnya angka pengangguran ini juga merupakan salah satu dampak sosial yang ditimbulkan HIV/AIDS. Daya tahan tubuh yang melemah, antibody yagn rentan dan ketergantungan kepada obat ODHA merasa di diskriminasikan dalam hal pekerjaan, sehingga mereka susah untuk mencari pekerjaan yang sesuai.

4. Mempengaruhi pola hubungan sosial di masyarakat akan berbuha ketika masyarakat memberikan stigma negatif kepada ODHA dan mulai mengucilkan ODHA. Hal ini bukan saja terjadi pada diri ODHA namun berdampak juga pada kelurga ODHA yang terkandang ikut dikucilkan oleh masyarakat sekitar.

5. Meningkatnya kesenjangan pendapatan/kesenjangan sosial dapat terjadi ketika masyarakat disekitar tempat ODHA tinggal mulai memperlukan beda atau mendiskriminasi, memberi stigma negatif dan mengkucilkan ODHA.

(43)

6. Munculnya reaksi negatif dalam bentuk deportasi, stigmatiasi, diskriminasi dan isolasi, tindakan kekerasan terhadap para pengidap HIV dan penderita HIV. (Ellya, 2012).

C. Kerangka Pemikiran

Mengacu kepada konsep collaborative governance, bahwa collaborative governance, suatu upaya untuk menggabungkan semua sektor baik pemerintahan maupun non-pemerintah untuk mengelola, menata dan mengatur suatu urusan bersama guna mencapai hasil yang lebih efektif dan efisien.

collaborative governance, terus berkembang dalam pemerintahan karena adanya kompleksitas dan saling ketergantungan antar institusi, dimana penanganan suatu masalah publik sangat sulit untuk dilakukan oleh satu institusi pemerintah, maka sangat diperlukan kolaborasi agar masalah publik tersebut dapat teratasi dengan jauh lebih baik. Menurut pendendapat Morse &

Stephens (2012), Collaborative Governance: terdiri dari Assessment, Initiation, Deliberation, dan Implementation.

Untuk memudahkan pemahaman dari penjelasan diatas maka penulis merumuskan dalam bentuk kerangka pikir sebagai berikut :

(44)

Bagan Kerangka Pikir

D. Fokus Penelitian

Fokus dalam penelitian ini mengenai Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar yaitu dengan melihat Assessment (Penilaian), Initiation (Inisiasi), Deliberation (Musyawarah), dan Implementation (Implementasi).

Keberhasilan Collaborative Governance dalam meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota

Makassar

Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar

Collaborative Governance (Morse & Stephens, 2012) 1. Assessment (Penilaian) 2. Initiation (Inisiasi)

3. Deliberation (Musyawarah) 4. Implementation (Implementasi)

(45)

E. Deskripsi Fokus Penelitian

Adapun deskripsi fokus penelitian penulis yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, mencakup :

1. Assesment (Penilaian) sejauhmana proses kerjasama dapat memberikan dampak dalam meminimalisir orang dengan HIV/AIDS di Kota Makassar.

2. Initiation (Inisiasi) bagaimana Pemerintah membentuk hubungan antara stakeholder untuk untuk mengadakan, membangun hubungan dan membangun sebuah tim dalam melaksanakan kolaborasi dalam meminimalisir orang dengan HIV/AIDS di Kota Makassar.

3. Deliberation (Musyawarah) bagaimana bentuk musyawarah pemerintah untuk menetapkan dasar, musyawarah, dan dialog antara stkaehoder yang bertujuan untuk menciptakan dan mengekspolarsi pilihan dan mencapai perjanjian kersajama dalam meminimalisir orang dengan HIV/AIDS di Kota Makassar.

4. Implementation (implementasi) bagaimana bentuk implementasi pemerintah untuk memutuskan hasil dan strategi, dalam meminimalisir ODHA di Kota Makassar untuk menekan angka penderita yang semakin akan terus bertambah.

(46)

37

Waktu penelitian ini di laksanakan pada tanggal 1 februari 2020 – 1 April 2020 setelah seminar proposal penelitian. Sedangkan lokasi penelitian ini akan dilaksankan di Dinas Kesehatan di Kota Makassar dalam rangka mengamati Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang akan dipergunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu metode penelitian yang menghasilkan deskripsi dari orang-orang atau perilaku dalam bentuk kata-kata baik lisan maupun tulisan. Metode penelitian kualitatif ini juga sering disebut metode penelitian naturalistik, karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (naturalsetting).

2. Tipe penelitian

Tipe penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan suatu metode atau sistem untuk mempelajari suatu kejadian atau memberikan gambaran mengenai objek penelitian. Dengan peneliti ikut berpartisipasi dalam lingkungan penelitian.

(47)

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dijaring dari sumber data primer dan data sekunder dengan proposisi sesuai dengan tujuan penelitian ini.

1. Data primer, adalah data yang diperoleh dari pengamatan langsung (observasi), dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada informan yang betul-betul mengetahuai tentang bagaimana Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar.

2. Data sekunder, adalah sumber data pendukung yang diperlukan untuk melengkapi data primer yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyesuaian dengan kebutuhan data lapangan yang terkait dengan objek yang dikaji, data sekunder terutama diperoleh melalui dokumentasi.

D. Informan Penelitian

Metode pengambilan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, artinya teknik penentuan sumber data mempertimbangkan terlebih dahulu, bukan diacak. Artinya menentukan informan sesuai dengan kreteria terpilih yang relevan dengan penomenah penelitian. Misalnya peneliti ingin mengetahui tentang Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan informan yang betul-betul dapat memberikan informasi sesuai dengan penelitian yang sedang dilaksanakan. Adapun informan penelitian berjumlah lima orang yang terdiri dari:

(48)

Tabel 3.1 Informan Penelitian

No Informan Pekerjaan/Jabatan

1. A. Mariani Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Makassar 2. Hadarti Razak Pengelola Pencegahan dan Pengendalian

HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar 3. Azis Lasabbi Pengelola Program KPA Kota Makassar 4. Muh. Akbar Anggota KPA Kota Makassar

5. Risaldi Penderita HIV/AIDS

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan peneliti secara langsung dilapangan untuk mengetahui dan memperoleh data mengenai Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar.

2. Wawancara

Peneliti akan melakukan wawancara langsung secara mendalam kepada informan yang menjadi obyek dari penelitian ini yaitu : Dinas Kesehtan, Komisi Penaggulanag AIDS beserta ODHA. Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan informasi penelitian Collaborative Governance dalam Meminimalisir Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dimana arsip-arsip yang dianggap menunjang dan penting dengan persoalan yang akan di teliti baik berupa buku-buku, laporan tahunan, jurnal, karya tulis ilmiah, dokumen peraturan pemerintah serta undang-undang yang telah ada pada

(49)

organisasi yang terkait dipelajari, disusun dan dikaji sedemikian rupa sehingga diperoleh data guna membagikan informasi berkaitan dengan observasi yang akan dilakukan.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sitematis yang didapat dari hasil wawancara, dokumentasi, catatan lapangan, dengan cara menyusun data kedalam kategori, menguraikan kedalam komponen- komponen, melakukan penggabungan, menyusun kedalam struktur, memilih mana yang dianggap penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah untuk dipahami baik untuk diri sendiri maupun orang lain. (Sugiyono, 2016).

Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan analisis data model interaktif Milles dan Huberman yaitu terdapat tiga proses yang berlangsung secara interaktif. (Pertama), Reduksi Data, yaitu cara memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan informasi dari berbagai sumber data misalnya dari catatan lapangan, dokumen, arsip dan sebagainya, sedangkan untuk proses mempertegas, mempersingkat, menghilangkan yang tidak perlu, memili fokus, dan menyusun data sehingga kesimpulan bisa dibuat. (Kedua), Penyajian Data, seperti menyusun data dan mempersentasikan data dengan baik agar lebih mudah untuk dipahami. Penyajian bisa berupa matrik, gambar, skema, jaringan kerja, tabel dan seterusnya. (Ketiga), Menarik Kesimpulan atau melakukan verifikasi, proses penarikan kesimpulan awal masi belum kuat, terbuka dan

(50)

skeptis. Kesimpulan akhir akan dilakukan setelah penghimpunan data berakhir.

Sugiyono, (2016).

G. Keabsahan Data

Semua data yang diperoleh dan yang ditemukan dalam penelitian ini akan diuji kredibilitasnya dengan cara triangulasi. Menurut Sugiyono (2016) Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Lebih lanjutnya Sugiyono membagi triangulasi kedalam tiga macam yaitu :

1. Triangulasi Sumber

Trangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik diartikan sebagai penguji kreadibilitas data yang dilakukan dengan cara mengontrol data pada sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh dari hasil wawancara, kemudian dicocokkan dengan hasil observasi dan dokumen.

Apabila dengan teknik pengujian kreadibilitas data tersebut masi menimbulkan hasil data yang berbeda-beda, maka peneliti akan melakukan diskusi yang lebih mendalam dengan sumber data yang berkaitan atau yang

(51)

lain guna memastikan data yang dianggap benar atau mungkin semua benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

3. Triangulasi Waktu

Waktu juga seringkali mempengaruhi kreadibilitas data. Data yang dikumpulkan dari hasil wawancara di pagi hari pada saat narasumber masi segar, belum banyak masalah akan memberi data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kreadibilitas data dapat dibuat dengan cara melakukan pemeriksaan dengan wawancara, observasi, atau cara lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji memunculkan data yang berbeda, maka akan dilakukan tes secara berulang- ulang sehingga didaptkan kepastian datanya.

(52)

43 1. Gambaran Umum Kota Makassar

Kota Makassar merupakan salah satu pemerintahan kota dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang terbentuk berdasarkan Undang- Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, sebagaimana yang tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1822.

Kota Makassar menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1965, (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 94), dan kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1965 Daerah Tingkat II Kotapraja Makassar diubah menjadi Daerah Tingkat II Kotamadya Makassar.

Kota Makassar yang pada tanggal 31 Agustus 1971 berubah nama menjadi Ujung Pandang, wilayahnya dimekarkan dari 21 km2 menjadi 175,77 km2 dengan mengadopsi sebagian wilayah kabupaten lain yaitu Gowa, Maros, dan Pangkajene Kepulauan, hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1971 tentang Perubahan batas-batas daerah Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa, Maros dan Pangkajene dan Kepulauan, lingkup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Pada perkembangan, nama Kota Makassar dikembalikan lagi berdasarkan Peraturan Pemerintah

Gambar

Tabel 3.1 Informan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

medium, sehingga laju disolusi meningkat. Faktor yang berkaitan dengan formulasi sediaan. Faktor yang berkaitan dengan sediaan meliputi :.. 1) Efek formulasi. Laju disolusi

Tujuan skripsi ini adalah mengetahui perhitungan tarif kamar hotel dengan menggunakan metode activity based costing dan untuk mengetahui keakuratan biaya pada

Demikian diterangkan untuk digunakan melengkapi syarat pendaftaran Ujian Meja Hijau Tugas Akhir Mahasiswa bersangkutan di Departemen Matematika FMIPA

Pendaft aran dan pengambilan Dokumen Pengadaan dilakukan langsung di t empat pendaft aran per Paket Pekerjaan.. Pendaft ar membaw a surat t ugas dari Perusahaan

Kerusakan hasil tidak terjadi pada alat pengering rotary yang di rekayasa, kemungkinan hanya terikut/terbawa dalam pengadaan/pembelian bahan baku biji jagung

Sementara itu resolusi konflik yang dicapai dalam konflik sumber daya alam di Kabupaten Batanghari khususnya mengenai konflik Suku Anak Dalam dengan PT Asiatic Persada

Ditinjau dari pandangan hukum Islam pengelolaan dan pengawasan tanah wakaf di wilayah Kecamatan Curio sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan syariat Islam, walaupum belum

Gaharu adalah salah satu hasil hutan non kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, memiliki kandungan kadar damar wangi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.