BAB III METODE PENELITIAN
3.3 Informan Penelitian
Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel (Bagong Suyanto. 2005 :171). Subjek penelitian menjadi informasi yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian.
Informan dalam penelitian ini adalah Tim Monitoring dan Evaluasi Partisipatif, Sekretaris Lurah Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, Kepala Bidang Fisik dan Tata Ruang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Medan, Spesialis Governance USAID IUWASH PLUS Sumatera Utara, dan Masyarakat Kota Medan yang terlibat dan terdampak pengelolaan sanitasi.
Tabel 3.1 Matriks Informan Penelitian
No. Informan Jenis Informasi Alat
1 Ruth Helena
29
IUWASH PLUS 3.4 Data dan Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Jenis Data
31
Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari peninjauan langsung dilapangan pada objek penelitian, data tersebut diperoleh dari wawancara yang dilakukan peneliti terhadap pihak- pihak yang berkompeten dan akan di proses untuk tujuan penelitian.
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari pengumpulan data yang menunjang data primer. Data sekunder adalah data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai sumber lain yang terdiri dari laporan, cacatan, dokumen, dan studi pustaka yang diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya.
3.4.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena bertujuan untuk mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang diharapkan (Sugiyono, 2015:101). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah:
1. Teknik Pengumpulan Data Primer
Teknik pengumpulan data primer yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah melalui:
a. Wawancara
Menurut Hasan (1963) dalam Sunyoto (2013:36) wawancara dapat didefinisikan sebagai interaksi bahasa yang berlangsung antara dua orang dalam situasi saling berhadapan
dengan seseorang untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dengan secara terstruktur.
b. Observasi
Menurut Garayibah (1981) dalam Sunyoto (2013:36) adapun observasi ilmiah adalah perhatian terfokus terhadap gejala, kejadian atau sesuatu dengan maksud menafsirnya, mengungkapkan faktor-faktor penyebabnya dan menemukan kaidah-kaidah yang mengaturnya.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi terhadap sumber daya, infrastuktur, teknik sosialisasi, sikap pelaksana, serta kegiatan-kegiatan maupun instrumen nyata lainnya dari Collaborative Governance dalam Pengelolaan Sanitasi di Kota Medan
2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut:
a. Studi Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, diperoleh dengan mencari informasi berdasarkan dokumen – dokumen, foto, gambar, dan arsip perusahaan yang memiliki relevansi dengan penelitian yang ada di lokasi
33
penelitian atau sumber-sumber lain yang terkait dengan objek penelitian.
b. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku dan karya ilmiah yang memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.
3.5 Teknik Analisis Data
Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisis data yang digunakan penulisan dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif. Menurut Miles dan Huberman (1984) dalam Emzir (2016:129-135) ada tiga macam kegiatan dalam analisis data kualitatif, diantaranya adalah sebagai berikut, yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merujuk pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan pentransformasian data mentah yang terjadi dalam catatan – catatan lapangan tertulis. Reduksi data dilakukan secara terus – menerus selama proses penelitian berlangsung
2. Penyajian Data
Penyajian data dimaksudkan agar lebih mempermudah bagi peneliti untuk dapat melihat gambaran secara khusus atau bagian – bagian tertentu dari data penelitian. Bentuk yang paling sering dari model data kualitatif selama ini adalah teks naratif.
3. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan muncul dari data yang telah teruji kepercayaannya, kekuatannya, konfirmabilitasnya yaitu validitasnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Kota Medan
Kota Medan adalah ibu kota Provinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah admisnistrasi 26.510 hektare (265,10km2) atau 3,6 persen dari keseluruhan wilayah di Sumatera Utara. Secara geografis Kota Medan terletak antara 3º.27’ - 3º.47’ Lintang Utara dan 98º.35’ - 98º.44’ Bujur Timur dan sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli dengan ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut.
Secara administratif, wilayah Kota Medan hampir keseluruhan wilayahnya berbatasan dengan daerah Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebelah barat dengan Kecamatan Sunggal, sebelah timur Kecamatan Percut, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Deli Tua dan Pancur Batu. Sepanjang wilayah utaranya berbatasan langsung dengan Selat Malaka, yang merupakan salah satu jalur lalu lintas terpadat di dunia.
Kota Medan terdiri dari 21 Kecamatan dengan 151 kelurahan yang terbagi dalam 2.000 lingkungan. Kecamatan Medan Labuhan memiliki luas wilayah terbesar yaitu 3.667 Ha (13,83 % dari total wilayah Kota Medan). Kecamatan Medan Belawan merupakan daerah yang memiliki luas terbesar kedua yaitu
35
sekitar 2.625 Ha. Kecamatan Medan Maimun memiliki luas wilayah terkecil yaitu 298 Ha (1,12% dari total luas keseluruhan).
Gambar 4.1: Peta Administrasi Kota Medan
(Sumber: RTRW Kota Medan 2010-2030)
Secara demografis, karena Kota Medan merupakan dataran alluvial, sebuah daerah yang ideal untuk pertanian intensif dan tanaman industri yang memiliki nilai jual tinggi seperti tembakau. Sehingga Kota Medan tempo dulu sudah menjadi wilayah hunian yang padat karena merupakan sentra pertanian
37
yang berada di kota pelabuhan. Artinya permasalahan yang muncul akibat kepadatan penduduk sudah melekat kepada Kota Medan dari waktu ke waktu.
Kota Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang lebih besar. Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2019, penduduk Medan berjumlah 2,279,894 jiwa, dengan luas 26.510 hektare, artinya kepadatan penduduk mencapai 8.600 jiwa/km2. Kepadatan rata-rata penduduk ini meningkat dari tahun 2014 yaitu 7.123 jiwa/km2. Seperti halnya penduduk kota-kota besar lainnya di Indonesia, etnis penduduk Kota Medan sangat heterogen, dan laju pertumbuhan penduduk Kota Medan sangat dipengaruhi oleh faktor urbanisasi. Tekanan tambahan penduduk akibat pendatang baru diperlukan melihat munculnya permukiman liar baru yang didirikan para pendatang.
Ketidakterarutan ini merupakan salah satu dari sekian dampak negatif urbanisasi di Kota Medan dan erat kaitannya dengan tingkat kemiskinan.
Kota Medan belum terbebas dari masalah kemiskinan. Berdasarkan hasil Susenas 2018, sekitar 8,25 persen atau 192,45 ribu jiwa penduduk berada di bawah garis kemiskinan. Besarnya jumlah penduduk miskin tersebut berpotensi menciptakan permasalahan sosial yang rumit, seperti menurunnya kualitas sumber daya manusia akibat tak terpenuhi kebutuhan dasarnya. Hak warga miskin diatur dalam Pasal 9 Peraturan Daerah Kota Medan No. 5 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan:
a. hak atas kebutuhan pangan;
b. hak atas pelayanan kesehatan;
c. hak atas pelayanan pendidikan;
d. hak atas pekerjaan dan berusaha;
e. hak atas modal usaha;
f. hak atas perumahan;
g. hak atas air bersih dan sanitasi yang baik;
h. hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat;
i. hak atas rasa aman dari perlakuan atau ancaman dan tindak kekerasan; dan j. hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial ekonomi dan politk.
Hak warga miskin ini dibiayai dan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) serta sumber lain yang tidak mengikat, dan program penanggulangan kemiskinan mendapat paling sedikit sepuluh persen dari total Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pemerintah Kota (Pemko) Medan memeiliki visi “Menjadi Kota Masa Depan yang Multikultural, Berdaya Saing, Humanis, Sejahtera dan Religius”.
Dalam rangka mewujudkan visi, misi Pemko Medan yaitu:
3. Kerjasama
Menumbuhkembangkan stabilitas, kemitraan, partisipasi dan kebersamaan dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan kota.
4. Kreatifitas dan Inovasi
Meningkatkan efisiensi melalui deregulasi dan debirokratisasi sekaligus penciptaan iklim investasi yang semakin kondusif termasuk pengembangan kreatifitas dan inovasi daerah guna meningkatkan kemampuan kompetitif serta komparatif daerah.
5. Kebhinekaan
Mengembangkan kepribadian masyarakat kota bersarakan etika dan moralitas keberagaman agama dalam bingkai kebhinekaan.
39 6. Penanggulangan Kemiskinan
Meningkatkan percepatan dan perluasan program penanggulangan kemiskinan.
7. Multikulturalisme
Menumbuhkembangkan harmonisasi, kerukunan, solidaritas, perstuan dan kesatuan serta keutuhan sosial, berdasarkan kebudayaan daerah dan identitas lokal multikulturalisme.
8. Tata Ruang Kota yang Konsisten
Menyelenggarakan tata ruang kota yang konsisten serta didukung oleh ketersediaan infrastruktur dan utilitas kota yang semakin modern dan berkelanjutan.
9. Peningkatan Kesempatan Kerja
Mendorong peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat melalui peningkatan taraf pendidikan dan kesehatan masyarakat secara merata dan berkeadilan.
10. Smart City
Mengembangkan Medan sebagai Smart City.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Medan 2016-2021, visi Kota Medan adalah menjadi kota masa depan yang multikultural, berdaya saing, humanis, sejahtera, dan religius. Kota Masa Depan yang dimaksudkan adalah gambaran masyarakat kota tentang Kota Medan, baik secara fisik tata ruang, ekonomi maupun sosial budaya. Untuk mencapai visi tersebut diperlukan misi, misi Kota Medan yaitu menumbuhkembangkan stabilitas, kemitraan, partisipasi, dan kebersamaan dari seluruh pemangku
kepentingan pembangunan kota. Misi pertama dalam pokok-pokok misi RPJMD Kota Medan 2016-2021 menerangkan bahwa tujuan pembangunan kota pada hakekatnya merupakan tujuan bersama, oleh karena itu harus direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan secara bersama-sama oleh seluruh stakeholder kota.
4.2 Collaborative Governance dalam Pengelolaan Sanitasi di Kota Medan Kebijakan pengelolaan sanitasi di Kota Medan merupakan program yang melibatkan berbagai tingkatan pemerintahan, organisasi berbasis masyarakat, hingga sektor swasta. Sanitasi merupakan salah satu faktor krusial dalam mewujudkan layanan yang terkait dengan masalah kemiskinan. Pengembangan kebijakan, perencanaan hingga penganggaran merupakan komponen-komponen penting dalam melaksanakan kegiatan pembangunan sektor sanitasi.
Pemko Medan sendiri sampai saat ini sudah memiliki peraturan daerah (Perda) untuk mengarahkan pola tindak seluruh stakeholder baik itu pemerintah, masyarakat maupun swasta dalam hal pola pengelolaan sanitasi yang baik dan benar (Wawancara 6 Desember 2020). Seluruh regulasi terkait sanitasi mengacu pada kebijakan nasional. Collaborative governance terdapat dalam kebijakan daerah di Kota Medan berisi peraturan daerah yang terkait dengan sub-sektor sanitasi.
Tabel 4.1 Kebijakan terkait sanaitasi di Kota Medan
Peraturan Daerah Nomor 14 tahun 2016 Pengelolaan air limbah domestik di Kota Medan
Peraturan Wali Kota Medan Nomor 63 Penyelenggaraan Kota Sehat
41 Tahun 2018
Peraturan Wali Kota Medan Nomor 69 Tahun 2018
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Percepatan Pencapaian Akses Air Limbah Domestik Kota Medan
Dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik (PALD) instansi yang membidangi perancanaan kota dan instansi yang membidangi prasarana sanitasi membuat rencana induk pengelolaan air limbah domestik untuk dua puluh tahun, dan tahapan pengembangan dibagi per lima tahun yang tergambar dalam rencana strategis SKPD terkait. Sasaran PALD adalah (Peraturan Daerah Nomor 14 tahun 2016):
a. terbangunnya intalasi PALD baik pada bangunan baru maupun bangunan lama, sesuai dengan tipologi tata letak bangunan, jenis penggunaan bangunan dan klasifikasi volume air limbah;
b. terbangunnya prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. terpenuhinya baku mutu air limbah domestic secara bertahap; dan
d. berkurangnya air limbah domestik sebagai bahan pencemaran air yang masuk ke dalam saluran umum dan/atau merersap ke dalam tanah.
Dalam Perda ini Pemko Medan bertugas meningkatkan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat dan lingkungan bersih, melakukan penelitian dan pengembangan teknologi pengendalian penanganan dan pemanfaatan air limbah. Mendorong, memfasilitasi, mengembangkan dan melaksanakan upaya pengendalian, penanganan, dan pemanfaatan air limbah.
Peran selanjutnya adalah peran kolaborasi, yaitu melakukan koordinasi antar lembaga, masyarakat, dan pelaku usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan air limbah. Untuk PALD ini dapat dilakukan melalui hubungan kerja sama antara pemerintah daerah dengan pihak ketiga, meliputi:
penyedian/pembanguna; sarana dan prasarana; dan pengelolaan.
Peraturan Wali Kota Medan No. 63 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Kota Sehat adalah berbagai kegiatan untuk mewujudkan tatanan kota yang sehat melalui pemberdayaan masyarakat dengan forum yang difasilitasi oleh pemerintah. Tatanan yang dimaksud di sini adalah sasaran yang disesuaikan dengan potensi dan permasalahan pada masing-masing kecamatan. Dalam hal ini Pemko Medan menyadari masalah yang dihadapi setiap kecamatan berbeda dan perlu penanganan yang berbeda pula, begitu pun dengan potensi masing-masing kecamatan pastilah berbeda-beda.
Penyelenggaraan Kota Sehat mengharuskan adanya forum masyarakat mulai dari tingkat kelurahan hingga kota sebagai wadah bagi masyarakat untuk meyalurkan aspirasi dan berpartisipasi dalam kegiatan terintegrasi yang disepakati masyarakat dan perangkat daerah. Sinkronisasi kebutuhan masyarakat dan program Penyelenggaran Kota Sehat melaui pemberdayaan forum akan berpengaruh terhadapa hasil akhir program dan menjadi Langkah untuk Menyusun program-program selanjutnya.
Peraturan Wali Kota Medan No. 69 Tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat adalah peraturan yang dibuat untuk menjadi dasar program yang berkaitan dengan sanitasi selanjutnya. Pada dasarnya program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah kegiatan
43
yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan dalam melakukan untuk mengubah perilaku hygiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan.
Pemicuan yang dimaksud adalah perubahan perilaku masyarakat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, kader, motivator, relawan dan/atau masyarakat yang terlatih dan berhasil mengembangkan STBM. Dalam perwal No. 69 Tahun 20018 ini, STBM dilaksanakan dengan membentuk Tim Verifikasi STMB yang terdiri dari unsur pemerintah, swasta, dan tokoh masyarakat.
Peraturan Wali Kota Medan No. 29 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Layanan Lumpur Tinja mengatur kelembagaan dalam pengelolaan lumpur tinja, yaitu Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang (PKP2R) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Medan sebagai regulator, sebagai operator yaitu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi, badan usaha, dan masyarakat. Dalam Perwal ini juga mengatur tarif bagi masyarakat yang mendapat layanan lumpur tinja terjadwal dan tidak terjadwal atau berdasarkan permintaan masyarakat. Artinya layanan lumpur tinja dijadikan kegiatan usaha oleh pelaksana atau operator layanan lumpur tinja dengan ketentuan dan standarisasi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah berdasarkan aturan yang ditetapkan dari pemerintah pusat secara nasional untuk program percepatan akses sanitasi.
Dalam Peraturan Wali Kota Medan No. 40 Tahun 2020 tentang Percepatan Pencapaian Akses Air Limbah Domestik Kota Medan mengatur kerja sama pemerintah daerah dengan lembaga donor dan badan usaha dan khususnya peran serta masyarakat untuk percepatan peningkatan akses air limbah domestik. Kerja
sama yang dimaksud ditujukan untuk bantuan teknis, bantuan pemasaran, dan bantuan pendanaan.
Bantuan teknis meliputi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pengembangan sistem pengelolaan PALD. Bantuan pemasaran meliputi pendataan, pemetaan dan segmentasi pasar, menyusun rencana usaha/bisnis, menyediakan saluran promosi dan pemasaran, dan peningkatan akses. Bantuan pendanaan yang dimaksud berasal dari pinjaman atau hibah.
Pemko Medan dalam memastikan penyedian sarana dan prasarana sanitasi pun mempunyai wewenang mengintervensi dunia usaha lewat identifikasi pelaku dunia usaha dalam rangkaian layanan air limbah domestik, seperti:
a. Perusahaan penyedotan lumpur tinja
b. Toko penyedia bahan bangunan dan material pembangunan sarana layanan air limbah domestik
c. Perusahaan konstruksi d. Kontraktor perseorangan e. Tukang terlatih
f. Penyedia tangka septik fabrikasi
g. Lembaga keuangan mikro non bank, koperasi, CSR, dan sumber pendanaan lain yang potensial untuk mendukung pembiayaan layanan air limbah domestik berbasis pasar.
Pengelolaan sanitasi di Kota Medan dibagi berdasarkan fungsi masing-masing organsasi perangkat daerah (OPD) dengan melakukan kerja sama dengan pihak ketiga baik dalam hal kebutuhan tenaga ahli maupun sumber daya lainnya.
Dalam rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah organisasi,
45
program dan kegiatan tahun anggaran 2020 Dinas Kesehatan Kota Medan dalam program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Rp. 55.450.000,00.
Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang Kota Medan dalam program Lingkungan Sehat Perumahan untuk sosialisasi sanitasi Rp. 296.500.000,00, Pengembangan Jaringan Sambungan Rumah Sanitasi Masyarakat Rp. 1.000.000.000,00. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Medan dalam program Perencanaan Prasarana Wilayah dan Sumber Daya Alam untuk kegiaatan koordinasi program Hibah Australia-Indonesia untuk Pembangunan Sanitasi Rp. 99.999.600,00
Tentang kebijakan Pemko Medan terkait pengelolaan sanitasi seluruhnya memuat keterlibatan multi stakeholder dalam konsep collaborative governance dikatakan oleh Kepala Bidang Fisik dan Tata Ruang Kota Medan Ruth Helena Marpaung bahwa:
“Collaborative governance berarti keterlibatan antar multi sektor dan jenjang pemerintahan dengan pihak ketiga kan di dalamnya berarti swasta, LSM, sama masyarakat ikut juga biar masalah sanitasi ini dikelola berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dikelola langsung juga bersama masyarakat dengan bantuan baik itu pihak pemerintah atau pihak lain tadi.” (Wawancara 26 November 2020)
Sama halnya dengan Ruth, Spesialis Governance USAID IUWASH PLUS Zulfa Ermiza terkait dengan collaborative governance dalam pengelolaan sanitasi di Kota Medan, menyatakan bahwa:
“Sektor sanitasi di Kota Medan dalam tugas dan fungsi pemerintah daerah itu sendiri ada Dinas PKP2R dan Dinas PU, kalau sambungan ke rumah masyarakat itu Dinas PKP2R kalau dari sisi yang lebih besarnya itu Dinas PU dan mitranya adalah PDAM Tirtanadi yang merupakan milik provinsi. Di masyarakat ada orang-orang yang kita latih menjadi kader-kader yang mampu mendata kebutuhan mansyarakat di lingkungannya masing-masing.”
(Wawancara 18 November 2020)
Hal tersebut dikonfirmasi kepada kader USAID IUWASH PLUS yang juga adalah warga Lingkungan II Kelurahan Tanjung Gusta dan tim monitoring dan evaluasi partisipatif Asia.
“Sejak 2016 kami ada pelatihan, aku perwakilan lingkungan sini ditunjuk Kepala Lingkungan, terus sekitar tahun 2017 itu kami sudah mulai ke lapangan mendata kebutuhan masyarakat sini. Sampai sekarang kader ini masih rapat-rapat dan jadi enumerator juga kadang-kadang ke tempat-tempat lain.” (Wawancara 24 November 2020)
Penulis mewawancarai masyarakat yang merupakan target dari kebijakan ini dan mendapatkan keterangan:
“Kami sebelumnya sudah punya tangki pembuangan, tapi pas ditengok sama Kak Asia rupanya bukan tangki yang kedap itu, jadi itulah diganti jadi kayak gini.” (Wawancara 24 November 2020)
“Sebelumnya dibuang ke sungai, lahan juga enggak ada kan. Hari itu lah pas didata dapatlah kami satu dari enam puluh rumah yang dapat sambungan pipa tangki komunal itu.” (Wawancara 25 November 2020)
Penguatan partisipasi masyarakat diimplementasikan menjadi tim monitoring dan evaluasi partisipatif yang dibentuk USAID IUWASH PLUS. Tim ini bertugas mengevaluasi perkembangan akses air minum dan sanitasi masyarakat untuk di mana hasilnya akan dibahas bersama warga, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Program pengelolaan sanitasi di Kota Medan sebenarnya sudah cukup baik dari segi keterlibatan pihak di luar pemerintahan dalam ranah collaborative governance, melihat bagaimana kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, keterlibatan swasta dalam hal dana Corporate Social Responsibility (CSR), kegiatan mandiri Islamic Development Bank (IsDB) di Lingkungan I Kelurahan
47
Tanjung Gusta yang melibatkan Badan Keswadayaan Masyaraakat (BKM) Maju Jaya yang juga terlibat dalam program Kota Tanpa Kumuh (KotaKu). USAID IUWASH PLUS sebagai lembaga yang terlibat dalam pengelolaan sanitasi di Kota Medan juga menggandeng Development Alternative Inc. (DAI) Global LLC.
Keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seperti PDAM Tirtanadi dan CSR Bank Sumut juga merupakan gambaran collaborative governance dalam pengelolaan sanitasi di Kota Medan.
Pada bagian pembahasan ini, penulis menggunakan teori collaborative governance dari Emerson, Nabatchi, dan Balogh mengenai proses kolaborasi yang akan mempengaruhi tujuan kolaborasi. Proses kolaborasi yang bersifat dinamis dan bersiklus, dengan menghasilkan Tindakan-tindakan dan dampak sementara, sebelum mengarah pada dampak utama, serta adaptasi dari dampak sementara.
Penelitian Collaborative Governance dalam Pengelolaan Sanitasi di Kota Medan ini dianalisis menggunakan proses kolaborasi dari teori collaborative governance Emerson, Nabatchi, dan Balogh yang disebut dengan Collaborative Governance Regime (CGR) yang terdiri dari beberapa variable, yaitu:
A. Dinamika Kolaborasi (Collaborative Dynamics)
1. Penggerakan prinsip bersama (Principled engagement) 1) Pengungkapan (Discovery)
2) Definisi (Definition) 3) Deliberasi (deliberation) 4) Determinasi (determintaions) 2. Motivasi bersama (shared motivation)
1) Kepercayaan bersama (mutual trust)
2) Pemahaman bersama (Mutual understanding) 3) Legitimasi internal (Internal legitimitation)
4) Komitmen (Commitment)
3. Kapasitas untuk melakukan tindakan bersama (Capacity for joint action) 1) Prosedur dan kesepakatan insitusi (Procedural and insitutional
arrangements)
2) Kepemimpinan (Leadership) 3) Pengetahuan (Knowledge) 4) Sumber daya (Resources)
B. Tindakan-tindakan dalam Kolaborasi (Actions)
C. Dampak dan Adaptasi Hasil Tindakan pada Dinamika Kolaborasi (Impacts and Adaptation for Collaboration Dynamics)
4.2.1 Dinamika Kolaborasi (Collaborative Dynamics) dalam Pengelolaan Sanitasi di Kota Medan
Dinamika kolaborasi yang dimaksud dalam teori Emerson, Nabatchi, dan Balogh pada penelitian ini terbagi atas tiga komponen interaksi dari dinamika kolaborasi yang terdapat di bawah ini.
4.2.1.1 Penggerakan prinsip bersama (Principled engagement)
Penggerakan prinsip bersama merupakan hal yang terjadi terus-menerus dalam kolaborasi. Beberapa hal seperti dialog tatap-muka, atau melalui perantara teknologi adalah cara untuk mengerakkan prinsip bersama.
Di dalam komponen ini terdapat penegasan kembali tujuan bersama, pembentukan dan pengembangan prinsip-prinsip bersama, yang sering diungkap dalam berbagai perspektif aktor yang terlibat. Oleh karena itu,
49
penyatuan prinsip merupakan inti arah pergerakan prinsip seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan sanitasi di Kota Medan.
Karakteristik masing-masing aktor, merupakan elemen kunci yang mempengaruhi seberapa baik prinsip bersama berjalan. Langkah awalnya adalah bagaimana pemerintah memilih aktor yang akan terlibat dalam kolaborasi. Selanjutnya, setelah kolaborasi berkembang, penambahan aktor pun dimungkinkan. Kemudian barulah kegiatan penggerakan prinsip bersama terwujud, yang dapat dijelaskan dalam empat elemen berikut:
a) Pengungkapan (Discovery)
Yang menjadi penekanan di sini adalah pengungkapan pada level individu dan aktor, utamanya guna membangun pembentukan
Yang menjadi penekanan di sini adalah pengungkapan pada level individu dan aktor, utamanya guna membangun pembentukan